AKU PERNAH MEMBENCI ABANG IPAR KU.
BUKAN KARENA DIA JAHAT.
TAPI KARENA DIA TERLALU SEMPURNA DI MATA ISTRIKU.
Dan tanpa sadar…
aku selalu dibandingkan dengannya.
Pagi itu kipas ruang tamu berderit pelan.
Kriet… kriet…
Suara yang sama tiap hari sejak kami pindah ke rumah kontrakan kecil ini tiga tahun lalu.
Rumahnya sederhana.
Dindingnya masih setengah dicat.
Kalau hujan deras, kadang ada air masuk dari sela jendela.
Di meja makan ada dua piring nasi goreng.
Istriku duduk di depan HP.
Jempolnya gesit scroll WhatsApp.
Tiba-tiba dia tersenyum.
“Bang… lihat ini.”
Dia memutar layar ke arahku.
Foto keluarga.
Abangnya.
Istrinya.
Dua anak mereka.
Di belakang mereka ada tulisan besar:
“Dufan Ancol”
Topi Mickey Mouse.
Balon warna-warni.
Anaknya ketawa sambil pegang es krim.
Istriku tertawa kecil.
“Abangku ini ya… tiap bulan ada aja jalan-jalannya.”
Aku mengangguk sambil makan.
Nasi goreng terasa agak hambar.
“Bagus lah,” kataku pendek.
Dia menatap foto itu lagi.
“Anak-anaknya juga sekolahnya bagus ya.”
Aku diam.
Sendokku berhenti di udara.
Dia melanjutkan dengan nada ringan.
“Sekolah swasta mahal tapi katanya kualitasnya bagus.”
Aku masih diam.
Di luar rumah, suara motor lewat gang.
Bruuumm…
Lalu suara ibu-ibu lewat depan pagar.
“Sayurrr… sayurrr…”
Istriku tiba-tiba berkata lagi.
“Nanti kalau kita punya anak…”
Dia berhenti sebentar.
“…aku pengen sekolahin di tempat yang bagus juga.”
Kalimatnya pelan.
Tapi rasanya seperti batu jatuh ke dada.
Aku menelan nasi.
“Ya nanti kita lihat rezekinya,” kataku.
Dia mengangguk.
Tapi aku tahu tatapannya.
Tatapan orang yang sudah punya standar.
Standar itu… bukan dari hidup kami.
Standar itu dari abangnya.
Abang iparku namanya Rudi.
Orangnya baik.
Sopan.
Rajin kerja.
Masalahnya cuma satu.
Dia terlalu berhasil.
Dia kerja di perusahaan besar.
Mobilnya dua.
Rumahnya dua lantai.
Kalau lebaran, keluarganya datang dengan mobil bersih, anak-anak pakai baju baru dari mall.
Sementara aku?
Masih naik motor.
Kalau hujan deras, celana sering basah sampai lutut.
Lebaran tahun pertama setelah kami menikah…
Aku masih ingat jelas.
Ruang tamu rumah mertua penuh.
Aroma opor ayam.
Suara sendok beradu dengan piring.
Anak-anak Rudi lari-larian.
“Papa… aku mau es krim!”
Rudi ketawa.
“Nanti kita beli di mall ya.”
Istriku duduk di sebelahku.
Dia melihat ke arah anak-anak itu.
Lalu berkata pelan.
“Lucu ya…”
Aku hanya mengangguk.
Beberapa menit kemudian…
Mertuaku berkata ke Rudi.
“Liburan kemana lagi bulan depan?”
Rudi santai menjawab.
“Mungkin Bandung lagi. Anak-anak suka di sana.”
Istriku menoleh ke arahku.
Tatapannya tidak marah.
Tidak kecewa.
Tapi ada sesuatu di sana.
Seperti pertanyaan yang tidak diucapkan.
Sejak hari itu…
Aku mulai merasakan sesuatu.
Bukan karena istriku jahat.
Bukan.
Dia tetap baik.
Dia tetap sayang.
Dia tetap memasak setiap pagi.
Tapi…
standar hidup di kepalanya
bukan lagi dari hidup kami.
Standar itu…
selalu kembali ke satu orang.
Abangnya.
Suatu malam.
Jam hampir sebelas.
Aku baru pulang kerja.
Motor berhenti di depan rumah.
Mesin mati.
Gang sudah sepi.
Aku masuk rumah.
Lampu ruang tamu masih nyala.
Istriku duduk di lantai.
Di depannya ada brosur sekolah.
Aku langsung tahu.
Sekolah swasta.
Aku duduk di depannya.
Dia menunjuk brosur itu.
“Ini bagus loh.”
Aku melihat harga di pojok.
Dadaku langsung terasa berat.
“Biayanya lumayan ya,” kataku.
Dia tersenyum kecil.
“Anak abangku juga di sini.”
Kalimat itu lagi.
Aku menghela napas.
Pelan.
“Kalau nanti kita mampu, ya kita usahakan.”
Dia tidak menjawab.
Hanya menutup brosur itu.
Lalu berkata satu kalimat yang sampai hari ini masih aku ingat.
“Kadang aku cuma pengen hidup kita… sedikit lebih maju.”
Kalimat itu tidak kasar.
Tidak marah.
Tapi malam itu…
aku tidak bisa tidur.
Kipas masih berderit di atas kepala.
Kriet… kriet…
Aku menatap plafon.
Di kepalaku cuma ada satu pikiran.
Aku selalu berada satu langkah di belakang abang iparku.
Dan aku mulai bertanya pada diri sendiri.
Apakah aku harus mengejar dia?
Atau…
aku harus berhenti peduli?
Tiga bulan setelah malam itu…
sesuatu terjadi.
Sesuatu yang tidak pernah aku rencanakan.
Sesuatu yang akhirnya mengubah semuanya.
Bukan cuma hidupku.
Tapi juga cara istriku melihat dunia.
Dan cara aku melihat…
abang iparku sendiri.
Semua dimulai dari satu telepon
yang masuk jam 02.17 dini hari.
Di layar HP tertulis satu nama.
Rudi.
Abang iparku.
Dan ketika aku mengangkat telepon itu…
suara di seberang sana membuatku langsung duduk tegak.
“Dik… aku butuh bantuanmu.”
Suara Rudi…
bergetar.
PART 2
Telepon masih menempel di telingaku.
Jam di layar HP menunjukkan 02.17.
Rumah sunyi.
Hanya suara kipas yang berderit.
Kriet… kriet…
Di sebelahku, istriku masih tidur.
Aku duduk di pinggir kasur.
“Dik… aku butuh bantuanmu.”
Suara abang iparku terdengar aneh.
Serak.
Seperti orang yang sudah lama menahan sesuatu.
“Kenapa bang?” tanyaku.
Beberapa detik hening.
Lalu dia berkata pelan.
“Aku lagi di depan rumahmu.”
Aku langsung berdiri.
“Di depan rumah?”
“Iya.”
Aku membuka jendela.
Lampu jalan kuning redup.
Di bawahnya ada mobil hitam.
Mesinnya mati.
Lampu kabin menyala samar.
Itu mobil Rudi.
Aku keluar rumah.
Sendal jepit berbunyi di lantai semen.
Ceklek.
Pintu mobilnya terbuka.
Rudi duduk di kursi kemudi.
Biasanya dia selalu rapi.
Kemeja.
Rambut disisir.
Malam itu…
rambutnya berantakan.
Matanya merah.
Seperti orang yang tidak tidur semalaman.
Aku berdiri di samping pintu.
“Kenapa bang?”
Dia tidak langsung menjawab.
Tangannya masih memegang setir.
Kencang.
Sampai buku-buku jarinya putih.
Lalu dia berkata pelan.
“Aku lagi kacau.”
Angin malam masuk lewat jendela mobil.
Dari kejauhan terdengar suara anjing menggonggong.
Aku membuka pintu penumpang.
Masuk.
Pintu tertutup.
Suasana mobil langsung sunyi.
Hanya suara napas kami berdua.
“Ada apa bang?”
Dia menatap ke depan.
Tidak menoleh.
“Perusahaanku…”
Dia berhenti.
Menelan ludah.
“…bangkrut.”
Aku tidak langsung mengerti.
“Bangkrut?”
Dia mengangguk.
Pelan.
“Proyek besar gagal. Investor mundur. Semua berantakan.”
Aku masih diam.
Dia melanjutkan.
“Rumah yang kamu lihat selama ini…”
Dia menarik napas panjang.
“…masih kredit.”
Aku menoleh.
Dia tertawa kecil.
Tertawa yang terasa pahit.
“Mobil ini juga.”
Angin malam masuk lagi.
Aku tidak tahu harus berkata apa.
Selama ini…
di kepalaku Rudi adalah orang yang selalu berhasil.
Selalu stabil.
Selalu lebih tinggi dari aku.
Ternyata malam ini…
dia duduk di mobil dengan wajah seperti orang yang baru kehilangan sesuatu yang besar.
“Kenapa abang ke sini?” tanyaku.
Dia akhirnya menoleh.
Matanya merah.
“Aku gak tahu harus cerita ke siapa.”
Aku terdiam.
Dia melanjutkan.
“Istrimu… adik aku…”
Dia menghela napas.
“Aku gak mau dia tahu dulu.”
Aku mengangguk pelan.
“Kenapa?”
Rudi menatap ke arah rumahku.
Lampu ruang tamu masih menyala.
Di dalam sana…
istriku tidur dengan tenang.
Rudi berkata pelan.
“Karena selama ini…”
dia berhenti sebentar.
“…kalian semua melihat aku seperti orang yang selalu berhasil.”
Kalimat itu menusuk aneh di dadaku.
Dia tertawa kecil lagi.
“Padahal kenyataannya… aku cuma pandai kelihatan berhasil.”
Mobil kami sunyi.
Lalu dia berkata satu kalimat yang membuatku benar-benar terkejut.
“Dik… aku mau jual rumah.”
Aku langsung menoleh.
“Serius?”
Dia mengangguk.
“Kalau enggak, utangku gak ketutup.”
Angin malam terasa lebih dingin.
Aku menatap dashboard mobil.
Lampu indikator menyala redup.
Rudi mengusap wajahnya.
“Aku cuma butuh satu orang yang tahu duluan.”
Dia menatapku.
“Dan entah kenapa… yang terlintas di kepalaku cuma kamu.”
Beberapa menit kami hanya duduk diam.
Lalu Rudi berkata lagi.
“Selama ini…”
dia menunjuk ke arah rumahku.
“…aku selalu merasa kamu yang tertinggal.”
Aku tertawa kecil.
“Memang begitu kan bang.”
Dia menggeleng.
“Tidak.”
Dia menatap lurus ke mataku.
“Aku iri sama kamu.”
Aku benar-benar tidak mengerti sekarang.
“Iri?”
Dia mengangguk.
“Istrimu selalu bangga sama kamu.”
Aku hampir tertawa.
Kalau saja dia tahu…
berapa kali aku dibandingkan dengannya.
Tapi aku tidak berkata apa-apa.
Rudi melanjutkan.
“Sementara aku…”
dia menatap dashboard.
“…selalu takut suatu hari semua ini runtuh.”
Sunyi lagi.
Lalu dia menyalakan mesin mobil.
Brummm…
Lampu dashboard terang.
Dia memegang setir lagi.
“Aku cuma butuh satu orang yang tahu malam ini.”
Aku mengangguk.
“Tenang bang.”
Dia tersenyum tipis.
“Terima kasih.”
Mobil perlahan mundur.
Keluar dari gang.
Lampu belakangnya makin kecil.
Lalu hilang di tikungan.
Aku berdiri di depan rumah.
Angin malam lewat pelan.
Kipas di ruang tamu masih berderit.
Kriet… kriet…
Aku masuk rumah.
Istriku masih tidur.
Wajahnya tenang.
Aku menatapnya beberapa detik.
Di kepalaku hanya satu pikiran.
Kalau dia tahu semua ini…
standar yang selama ini dia pakai untuk menilai hidup kami…
akan runtuh.
Tapi aku tidak tahu…
bahwa hanya dua minggu setelah malam itu
istriku akan menemukan sesuatu.
Sesuatu yang membuat dia menatapku dengan wajah bingung.
Di tangannya ada satu foto dari Facebook.
Foto yang baru saja diposting oleh seseorang.
Orang itu…
abangnya sendiri.
Dan di bawah foto itu ada satu kalimat yang membuat istriku berkata pelan:
“Bang… ini maksudnya apa?”
Aku melihat layar HP itu.
Dan detik itu juga…
aku tahu.
Rudi belum menceritakan semuanya kepadaku malam itu.
PART 3
“Bang… ini maksudnya apa?”
Istriku berdiri di dapur.
Pagi itu matahari baru masuk lewat jendela kecil.
Aroma kopi hitam masih mengepul di meja.
Di tangannya ada HP.
Layarnya menghadap ke arahku.
Aku mendekat.
Foto Facebook.
Foto keluarga abang iparku.
Rudi.
Istrinya.
Dua anak mereka.
Mereka berdiri di depan rumah besar mereka.
Rumah dua lantai yang selama ini selalu menjadi standar hidup di kepala istriku.
Tapi yang membuatku berhenti bernapas bukan fotonya.
Melainkan tulisannya.
Di bawah foto itu tertulis:
“Kadang Tuhan mengajarkan kita sesuatu… dengan cara yang tidak pernah kita rencanakan.”
Aku menatap layar itu beberapa detik.
Jantungku berdetak pelan.
Aku tahu.
Dua minggu lalu…
Rudi duduk di mobil depan rumahku.
Dengan mata merah.
Dengan suara bergetar.
Dan berkata:
“Perusahaanku bangkrut.”
Tapi istriku belum tahu apa-apa.
Dia menatapku bingung.
“Ini maksudnya apa ya?”
Aku mengangkat bahu.
Berusaha terlihat biasa.
“Mungkin cuma tulisan motivasi.”
Istriku masih menatap layar.
“Abangku jarang bikin status kayak gini.”
Aku tidak menjawab.
Hanya menyeruput kopi.
Hangatnya kopi terasa aneh di tenggorokan.
Siang itu…
notifikasi WhatsApp masuk.
Nama yang muncul:
Rudi
Pesannya pendek.
“Dik, kamu di rumah?”
Aku langsung membalas.
“Iya bang.”
Beberapa detik kemudian muncul lagi.
“Aku lewat.”
Setengah jam kemudian…
mobil hitam itu berhenti lagi di depan rumah.
Kali ini siang.
Anak-anak tetangga lagi main sepeda di gang.
“Permisi bang…”
kata salah satu anak sambil lewat.
Aku keluar rumah.
Rudi turun dari mobil.
Kemeja putih.
Tapi wajahnya masih terlihat lelah.
Istriku keluar dari dalam rumah.
“Abang!”
Dia langsung tersenyum.
“Masuk dulu bang.”
Rudi tersenyum.
Senyum yang dipaksakan.
Kami masuk ke ruang tamu.
Kipas masih berderit.
Kriet… kriet…
Istriku mengambilkan minum.
“Bang… aku lihat status abang tadi.”
Rudi mengangguk.
“Cuma lagi kepikiran aja.”
Istriku duduk di kursi.
“Kerjaan abang gimana?”
Rudi menatap gelas air di tangannya.
“Lagi banyak perubahan.”
Jawabannya pendek.
Tapi aku tahu itu bukan jawaban sebenarnya.
Beberapa menit kemudian istriku masuk dapur.
Mungkin ambil gorengan.
Rudi langsung menoleh ke arahku.
Tatapannya serius.
“Dia belum tahu kan?”
Aku menggeleng.
“Belum.”
Dia menghela napas panjang.
“Bagus.”
Aku menatapnya.
“Bang… sampai kapan mau disembunyikan?”
Rudi diam.
Tangannya memutar gelas air.
“Sebentar lagi juga semua orang tahu.”
Aku mengernyit.
“Maksudnya?”
Dia menatapku.
Lalu berkata pelan.
“Rumahku sudah aku jual.”
Aku terdiam.
“Cepat sekali bang?”
Dia tertawa kecil.
“Kalau tidak cepat… aku bisa tenggelam lebih dalam.”
Aku bersandar di kursi.
“Sekarang tinggal di mana?”
Dia menjawab santai.
“Kontrak rumah kecil dulu.”
Kalimat itu terdengar biasa.
Tapi aku tahu…
itu bukan hal kecil bagi orang yang selama ini terlihat sempurna.
Istriku kembali dari dapur.
Di tangannya ada piring pisang goreng.
“Ini bang.”
Dia meletakkannya di meja.
“Anak-anak abang mana?”
Rudi tersenyum.
“Di rumah sama mamanya.”
Istriku masih ceria.
“Kalau weekend kita main bareng yuk.”
Rudi hanya mengangguk.
Aku melihat ke arah wajahnya.
Dia menatap piring.
Seperti sedang menahan sesuatu.
Beberapa menit kemudian Rudi pamit.
Mobilnya keluar dari gang lagi.
Debu sedikit terangkat dari jalan.
Istriku berdiri di sampingku.
“Abangku kelihatan capek ya.”
Aku hanya menjawab.
“Mungkin lagi banyak kerjaan.”
Dia mengangguk.
Lalu berkata pelan.
“Tapi abangku hebat sih.”
Aku menoleh.
“Kenapa?”
Dia tersenyum.
“Dia selalu bisa menjaga keluarganya hidup nyaman.”
Kalimat itu menusuk lagi.
Aku hanya tersenyum kecil.
Malamnya aku duduk sendirian di ruang tamu.
Lampu redup.
Kipas masih berderit.
Kriet… kriet…
HP di tanganku.
Aku membuka Facebook Rudi lagi.
Foto yang sama.
Tapi sekarang komentar di bawahnya sudah banyak.
Teman-temannya menulis:
“Semangat bro.”
“Kuat ya.”
“Tuhan pasti kasih jalan.”
Aku mulai merasa sesuatu.
Status itu bukan sekadar motivasi.
Itu seperti… sinyal.
Seperti seseorang yang sedang bersiap memberi tahu dunia.
Bahwa hidupnya…
tidak lagi seperti yang semua orang kira.
Tiga hari setelah itu…
telepon rumah berbunyi.
Istriku yang mengangkat.
“Hallo?”
Beberapa detik dia hanya diam.
Lalu wajahnya berubah.
“HAH?”
Aku langsung menoleh.
Dia menutup mulutnya dengan tangan.
Matanya membesar.
“Apa…? Rumah abang…?”
Sunyi.
Aku tahu.
Akhirnya…
kabar itu sampai juga.
Istriku menutup telepon perlahan.
Lalu menatapku.
Wajahnya pucat.
“Bang…”
suaranya pelan.
“…rumah abangku katanya dijual.”
Aku menarik napas.
Pelan.
Dan untuk pertama kalinya…
aku berkata jujur.
“Iya.”
Dia langsung menatapku.
“Kamu tahu?”
Aku mengangguk.
“Iya.”
Matanya semakin besar.
“Dari kapan?”
Aku menelan ludah.
“Dari malam… dia datang ke rumah kita.”
Istriku terdiam.
Beberapa detik.
Lalu dia duduk perlahan di kursi.
Seperti orang yang baru menyadari sesuatu yang besar.
Dan kalimat pertama yang keluar dari mulutnya membuatku benar-benar tidak siap.
Dia berkata pelan:
“…jadi selama ini…”
dia berhenti sebentar.
“…hidup abangku tidak seperti yang aku kira?”
Aku tidak langsung menjawab.
Karena saat itu…
HP-ku tiba-tiba berbunyi.
Pesan WhatsApp masuk.
Dari Rudi.
Aku membuka pesan itu.
Isinya hanya satu kalimat.
“Dik… aku butuh bantuanmu sekali lagi.”
PART 4
HP masih di tanganku.
Pesan dari Rudi terbuka di layar.
“Dik… aku butuh bantuanmu sekali lagi.”
Aku menatap pesan itu beberapa detik.
Di depanku, istriku masih duduk di kursi ruang tamu.
Wajahnya belum pulih dari kaget.
Kipas di atas kepala berderit lagi.
Kriet… kriet…
Aku mengetik balasan.
“Ada apa bang?”
Tiga detik.
Lima detik.
Lalu pesan baru muncul.
“Aku di luar.”
Aku langsung berdiri.
Di depan rumah…
mobil hitam itu lagi.
Lampu senja mulai turun.
Anak-anak tetangga sudah pulang.
Gang mulai sepi.
Aku mendekat.
Rudi keluar dari mobil.
Kali ini wajahnya tidak setegang sebelumnya.
Tapi tetap terlihat lelah.
Aku langsung bertanya.
“Ada apa bang?”
Dia menatapku sebentar.
Lalu berkata pelan.
“Aku butuh bantuan kerja.”
Aku mengernyit.
“Kerja?”
Dia mengangguk.
“Apa saja.”
Angin sore lewat pelan.
Suara azan maghrib mulai terdengar dari masjid ujung gang.
“Allahu akbar… Allahu akbar…”
Rudi menunduk sebentar.
Lalu berkata lagi.
“Aku lagi mulai dari nol sekarang.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi rasanya berat keluar dari mulutnya.
Aku menatapnya.
Di kepalaku langsung terlintas satu hal.
Tokoku.
Toko gitar kecil yang selama ini jalan pelan.
Kadang ramai.
Kadang sepi.
Aku berkata pelan.
“Kalau abang gak keberatan…”
Rudi menoleh.
“…abang bantu aku di toko saja dulu.”
Dia terlihat kaget.
“Toko gitar?”
Aku mengangguk.
“Lumayan banyak kerjaan kecil.”
Dia tertawa kecil.
“Dari kantor besar… jadi toko gitar.”
Aku ikut tersenyum.
“Yang penting halal.”
Rudi diam sebentar.
Lalu mengangguk.
“Oke.”
Hari pertama Rudi datang ke toko…
aku sengaja datang lebih awal.
Pintu rolling door kubuka.
Krek… krek…
Bau kayu gitar langsung keluar.
Di dalam toko sudah ada Abdul.
Karyawan Gen Z yang selalu absurd itu.
Dia lagi duduk di kursi sambil scroll HP.
Begitu melihatku dia berkata:
“Bang, pagi.”
Aku mengangguk.
“Nanti ada orang baru.”
Abdul mengangkat alis.
“Siapa bang?”
Aku menjawab santai.
“Abang iparku.”
Abdul langsung berdiri.
“Wah… senior.”
Aku hampir tertawa.
Kalau saja Abdul tahu…
si “senior” itu dulunya bos perusahaan.
Jam sembilan pagi…
Rudi datang.
Tidak pakai mobil.
Dia datang naik ojek online.
Helm masih di tangan.
Aku menyambutnya di depan toko.
“Masuk bang.”
Dia melihat sekeliling.
Puluhan gitar tergantung di dinding.
Akustik.
Elektrik.
Bass.
Rudi tersenyum kecil.
“Sudah lama aku gak masuk toko musik.”
Abdul mendekat.
“Bang ini yang baru?”
Aku mengangguk.
“Ini Rudi.”
Abdul langsung menyalami.
“Halo bang, saya Abdul. Jabatan saya di sini… kadang karyawan, kadang komedian.”
Rudi tertawa kecil.
“Senang kenal.”
Hari pertama kerjanya sederhana.
Menyapu toko.
Mengelap gitar.
Mengangkat kardus.
Hal-hal kecil.
Tapi aku melihat sesuatu.
Rudi tidak mengeluh.
Tidak sedikit pun.
Bahkan ketika Abdul bercanda:
“Bang, gitar ini mahal. Jangan sampai jatuh, nanti saya yang dimarahi.”
Rudi menjawab santai.
“Tenang. Aku dulu pernah pegang proyek ratusan miliar. Masa pegang gitar takut.”
Kami semua tertawa.
Siang hari…
seorang bapak datang.
“Mau beli gitar buat anak saya.”
Abdul langsung berkata.
“Cocok pak, di sini spesialis gitar anak-anak yang bisa bikin anak lupa main HP.”
Bapak itu tertawa.
Rudi memperhatikan dari samping.
Lalu pelan-pelan ikut membantu menjelaskan.
Cara memegang gitar.
Ukuran gitar anak.
Nada senar.
Aku melihat dari belakang kasir.
Dan untuk pertama kalinya…
aku melihat abang iparku yang dulu selalu terlihat “di atas” sekarang berdiri di toko kecilku…
dengan wajah yang lebih tenang.
Malamnya…
setelah toko tutup…
kami duduk di depan toko.
Minum kopi sachet.
Motor lewat sesekali.
Rudi berkata pelan.
“Terima kasih ya.”
Aku menggeleng.
“Biasa saja bang.”
Dia menatap jalan.
“Lucu ya hidup.”
Aku menoleh.
“Kenapa?”
Dia tersenyum kecil.
“Dulu aku pikir aku yang selalu lebih depan dari kamu.”
Aku tertawa kecil.
“Memang begitu kan.”
Dia menggeleng.
“Tidak juga.”
Dia menunjuk toko kecil itu.
“Sekarang aku kerja sama kamu.”
Aku tidak tahu harus jawab apa.
Beberapa minggu berlalu.
Dan sesuatu mulai terjadi.
Aneh tapi nyata.
Toko gitar itu…
mulai ramai.
Lebih ramai dari biasanya.
Bukan cuma pembeli.
Tapi orang-orang yang ingin nitip jual gitar.
Ampli.
Efek.
Bahkan gitar mahal.
Abdul sampai berkata:
“Bang… toko kita ini jadi kayak tempat penitipan gitar nasional.”
Aku hanya tertawa.
Tapi di dalam hati aku mulai sadar.
Ada sesuatu yang berubah.
Tiga bulan kemudian…
aku membuka laporan keuangan toko.
Angkanya membuatku diam cukup lama.
Pendapatan kami…
naik hampir tiga kali lipat.
Aku menatap Rudi.
Dia sedang membantu seorang anak kecil mencoba gitar.
Anak itu tertawa.
Ibunya tersenyum.
Aku tiba-tiba sadar sesuatu.
Selama ini aku mengira aku selalu mengejar abang iparku.
Padahal…
tanpa aku sadari…
hidupku sedang berjalan naik pelan-pelan.
Dan mungkin…
lebih stabil dari yang aku kira.
Malam itu aku pulang.
Istriku sedang duduk di ruang tamu.
Dia bertanya:
“Kerjaan abangmu gimana sekarang?”
Aku menjawab.
“Baik.”
Dia mengangguk.
Lalu berkata pelan:
“Bang…”
Aku menoleh.
Dia tersenyum kecil.
“…aku baru sadar sesuatu.”
Aku mengernyit.
“Apa?”
Dia menatapku beberapa detik.
Lalu berkata:
“Selama ini aku terlalu sering membandingkan hidup kita dengan hidup abangku.”
Aku diam.
Dia melanjutkan.
“Ternyata… hidup kita juga tidak buruk.”
Aku tersenyum kecil.
Tapi aku belum tahu…
bahwa enam bulan setelah malam itu
akan terjadi sesuatu yang bahkan lebih mengejutkan.
Sesuatu yang membuat abang iparku berkata kepadaku di depan toko:
“Dik… sekarang justru aku yang belajar banyak dari kamu.”
PART 5 (TERAKHIR)
Pagi itu toko belum buka.
Rolling door masih setengah.
Udara pagi masih dingin.
Di dalam toko hanya ada suara sapu.
Srak… srak…
Rudi sedang menyapu lantai.
Aku duduk di kursi kasir.
Laptop terbuka.
Laporan penjualan bulan ini masih di layar.
Aku menatap angka itu lagi.
Masih sulit dipercaya.
Pendapatan toko naik jauh.
Bukan naik sedikit.
Naik drastis.
Abdul datang sambil bawa kopi plastik.
“Bang… kopi.”
Dia meletakkan satu di mejaku.
Satu lagi di meja Rudi.
“Bang Rudi, ini kopi karyawan.”
Rudi tertawa.
“Terima kasih.”
Abdul duduk di kursi.
“Bang, serius tanya.”
Aku menoleh.
“Apa?”
“Kenapa toko kita makin rame ya?”
Aku belum sempat menjawab.
Rudi malah tertawa kecil.
Dia meletakkan sapu.
Lalu berkata santai.
“Mungkin karena kalian jujur.”
Abdul mengernyit.
“Maksudnya?”
Rudi menunjuk ke arah gitar-gitar di dinding.
“Orang yang masuk ke sini… tidak dipaksa beli.”
Dia menunjuk aku.
“Pemilik tokonya juga lebih sering ngobrol daripada jualan.”
Abdul langsung mengangguk.
“Betul juga.”
Lalu dia menunjuk dirinya sendiri.
“Dan saya… kadang bikin pembeli ketawa sampai lupa pulang.”
Kami semua tertawa.
Tapi sebenarnya…
ada satu hal lagi yang belum mereka tahu.
Aku menutup laptop.
Lalu berkata pelan.
“Ada satu kabar.”
Abdul langsung tegak.
“Wah ini biasanya serius.”
Rudi menatapku.
“Apa dik?”
Aku menarik napas sebentar.
“Investor masuk.”
Abdul langsung berdiri.
“Hah?!”
Rudi terlihat kaget.
“Investor?”
Aku mengangguk.
“Mau bantu kita buka cabang.”
Toko langsung sunyi beberapa detik.
Abdul menatap sekeliling.
Seperti baru sadar dia sedang berdiri di toko kecil.
Lalu dia berkata pelan:
“Bang… toko kita mau punya cabang?”
Aku tertawa kecil.
“Iya.”
Rudi masih diam.
Matanya melihat ke arah dinding gitar.
Lalu dia duduk pelan di kursi.
“Aku gak nyangka.”
Aku menoleh.
“Kenapa bang?”
Dia tersenyum kecil.
“Dulu aku pikir…”
Dia berhenti sebentar.
“…aku yang akan selalu lebih dulu berhasil.”
Aku tertawa.
“Sekarang juga abang masih berhasil.”
Dia menggeleng.
“Beda.”
Dia menunjuk ke arah toko.
“Ini dibangun pelan-pelan.”
Dia menatapku.
“Tanpa pamer.”
Kalimat itu membuat toko tiba-tiba terasa hening.
Sore hari…
kami menutup toko lebih cepat.
Ada satu tempat yang harus kami datangi.
Rumah kontrakan kecil milik Rudi.
Aku dan istriku datang.
Di ruang tamu ada Rudi, istrinya, dan dua anak mereka.
Suasananya sederhana.
Tidak ada sofa mahal.
Tidak ada TV besar.
Tapi suasananya hangat.
Anak-anak mereka lagi main gitar kecil.
“Om… lihat!”
Salah satu anak memetik gitar.
Bunyi senarnya fals.
Tapi semua orang tertawa.
Setelah makan malam…
istriku duduk di sampingku.
Dia melihat abangnya.
Yang sekarang duduk santai di kursi plastik.
Tanpa jas mahal.
Tanpa mobil mewah di garasi.
Tapi wajahnya terlihat jauh lebih tenang.
Istriku berkata pelan:
“Bang…”
Rudi menoleh.
“Iya?”
Istriku tersenyum kecil.
“Maaf ya.”
Rudi mengernyit.
“Maaf apa?”
Istriku menunduk sedikit.
“Dulu aku sering menjadikan abang sebagai standar hidup kami.”
Rudi terdiam.
Beberapa detik.
Lalu dia tertawa pelan.
“Padahal aku sendiri waktu itu lagi takut hidupku runtuh.”
Semua orang tersenyum.
Istriku menoleh ke arahku.
Matanya lembut.
Dia berkata pelan.
“Ternyata hidup tidak perlu mengejar standar orang lain ya.”
Aku mengangguk.
“Tidak perlu.”
Dia tersenyum.
“Yang penting kita jalan terus.”
Beberapa bulan setelah malam itu…
toko gitar kami benar-benar membuka cabang kedua.
Rolling door baru.
Rak gitar baru.
Abdul berdiri di tengah toko sambil berkata:
“Bang… kalau dulu orang band latihan di studio…”
“…sekarang orang latihan gitar di toko kita.”
Semua orang tertawa.
Rudi sekarang bekerja bersamaku setiap hari.
Bukan sebagai bos.
Bukan sebagai orang yang lebih tinggi.
Tapi sebagai partner.
Kadang dia yang membuka toko.
Kadang aku.
Kadang kami duduk berdua di depan toko sambil minum kopi sachet.
Melihat orang lewat di gang.
Suatu malam…
kami duduk berdua di kursi plastik depan toko.
Lampu jalan kuning.
Angin malam lewat pelan.
Rudi berkata santai.
“Dik…”
Aku menoleh.
“Iya bang?”
Dia tersenyum.
“Sekarang aku tahu sesuatu.”
“Apa?”
Dia menunjuk ke arah toko gitar.
“Ternyata… hidup bukan soal siapa yang lebih dulu terlihat berhasil.”
Dia menatapku.
“Tapi siapa yang tetap berdiri… ketika semuanya berubah.”
Aku tersenyum kecil.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku…
aku tidak lagi merasa berada di belakang abang iparku.
Karena akhirnya aku sadar sesuatu.
Selama ini…
aku tidak sedang tertinggal.
Aku hanya sedang berjalan
dengan ritme yang berbeda.
Dan anehnya…
ritme itu justru membawa kami semua
ke tempat yang lebih baik.
Akhirnya.
Kalau cerita ini terasa dekat dengan hidupmu…
tulis saja di komentar:
“Setiap orang punya waktunya sendiri.”
Biar yang membaca cerita ini setelah kamu
ingat satu hal penting:
hidup bukan lomba.