GUE DIPECAT HARI ITU.DAN YANG NAIK JABATAN MALAH ISTRI GUE.RUMAH YANG HARUSNYA TENANG, TIBA-TIBA JADI MEDAN PERANG DI DALAM KEPALA GUE SENDIRI.

GUE DIPECAT HARI ITU.

DAN YANG NAIK JABATAN MALAH ISTRI GUE.

RUMAH YANG HARUSNYA TENANG, TIBA-TIBA JADI MEDAN PERANG DI DALAM KEPALA GUE SENDIRI.

Jam 10 pagi.

HR manggil gue ke ruangan kaca.

AC dingin. Bau karpet.

Map coklat di meja.

“Maaf ya, Dan. Efisiensi.”

Kalimat klasik.

Senyum basa-basi.

Nama gue Danu.

Dan hari itu, nama itu terasa kecil banget.

Satu jam kemudian gue keluar bawa kardus isi mug kantor, foto keluarga, sama mouse wireless yang entah kenapa ikut kebawa.

Di parkiran, motor gue sendirian.

Matahari panas banget sampai aspal berkilau.

HP gue bunyi.

Notifikasi WhatsApp.

Dari istri gue.

“Aku dipanggil direksi. Doain ya.”

Gue cuma balas, “iya.”

Dua jam kemudian dia kirim voice note.

Napasnya kedengeran cepat.

“Aku naik jabatan.”

Gue berhenti di lampu merah.

Lampunya lama banget.

Motor di belakang klakson.

Gue baru sadar lampunya udah hijau.

Malamnya kita makan ayam bakar di meja kecil dapur.

Anak gue ketawa-ketawa nonton kartun.

Rani, baby sitter kita, lagi suapin dia.

Istri gue cerita panjang.

Tentang ruangan baru.

Tentang tanggung jawab baru.

Tentang target baru.

Gue senyum.

Angguk-angguk.

“Gimana kantor kamu, Dan?” dia nanya santai.

Gue minum air dulu.

Tenggorokan gue kering.

“Biasa.”

Gue belum bilang.

Dua hari kemudian baru gue jujur.

Di ruang tamu.

TV mati.

Kipas angin bunyinya krek… krek…

“Aku di-PHK,” gue bilang pelan.

Dia diam lama.

Tatap gue.

“Kamu nggak cerita dari awal?”

Gue angkat bahu.

Sejak itu ritme rumah berubah.

Istri gue berangkat lebih pagi.

Pulang lebih malam.

Tas kerjanya makin berat.

HP-nya makin sering bunyi.

Gue?

Lebih sering di rumah.

Awalnya canggung.

Bangun pagi tanpa buru-buru mandi.

Tanpa kemeja disetrika.

Tanpa alasan keluar rumah.

Gue mulai beres-beres.

Nyapu.

Ngepel.

Masak mie instan kreatif versi gagal.

Rani bantu urus anak.

Dia masih 23 tahun.

Lulusan SMA.

Orangnya cekatan.

“Mas Danu, gelasnya di sini ya biasanya,” katanya suatu siang.

Gue cuma ngangguk.

Awalnya biasa aja.

Tapi lama-lama…

Gue mulai ngerasa kayak figuran di rumah sendiri.

Istri gue makin sibuk.

Kalau pulang, capek.

Langsung mandi.

Kadang langsung buka laptop lagi.

Kalau gue ngajak ngobrol, jawabnya singkat.

“Besok aja ya, Dan. Aku pusing.”

Suatu malam gue lagi lipat baju di kamar.

HP istri gue bunyi di meja.

Notifikasi email.

Subjeknya: “Strategic Meeting with Director.”

Gue liat nama pengirimnya.

Direktur cowok.

Gue tutup lagi.

Entah kenapa dada gue panas.

Besoknya, Rani lagi jemur pakaian di belakang.

Matahari siang terik.

Baju anak kecil warna-warni digoyang angin.

“Mas sekarang full di rumah ya?” dia nanya.

“Iya.”

“Enak sih. Nggak capek.”

Gue ketawa kecil.

“Nggak juga.”

Dia senyum.

Sejak itu obrolan kecil sering kejadian.

Di dapur.

Di teras.

Kadang cuma soal harga cabe.

Kadang soal drama TV.

Suatu siang hujan deras.

Atap seng bunyi berisik.

Anak gue tidur.

Istri gue belum pulang.

Lampu ruang tengah agak redup.

Rani lagi duduk di sofa.

HP di tangan.

“Mas Danu, boleh nanya nggak?”

“Nanya apa?”

“Mas nggak kepikiran kerja lagi?”

Pertanyaannya polos.

Tapi nusuk.

Gue ketawa hambar.

“Lagi cari.”

Dia angguk pelan.

“Mas itu sebenernya kelihatan beda sekarang.”

“Beda gimana?”

“Kayak… bukan mas yang dulu.”

Hujan makin deras.

Gue nggak jawab.

Beberapa minggu berlalu.

Gue makin sering di rumah.

Istri makin jarang ada.

Kadang makan malam cuma bertiga.

Gue, anak gue, Rani.

Suatu malam listrik sempat mati.

Cuma beberapa menit.

Gelap.

Anak gue nangis.

Rani panik nyari lilin.

Gue pegang senter HP.

Di ruang gelap itu, tangan kita sempat bersentuhan.

Cuma sebentar.

Tapi anehnya, gue nggak langsung narik tangan.

Listrik nyala lagi.

Kita pura-pura normal.

Malam itu gue susah tidur.

Kipas angin muter pelan.

Suara motor lewat gang.

Gue liat istri gue tidur pulas.

Capek.

HP-nya masih di samping bantal.

Besok siangnya, istri gue izin pulang lebih malam lagi.

“Ada dinner sama klien.”

Gue cuma balas, “oke.”

Rani lagi main sama anak gue di lantai.

Ketawanya lepas.

Gue duduk di meja makan.

Tatap mereka.

Entah sejak kapan, rumah ini terasa lebih hidup saat istri gue nggak ada.

Dan itu bikin gue takut sama pikiran gue sendiri.

Sore itu, Rani salah ambil gelas.

Tangan dia gemetar sedikit.

“Mas Danu, aku mau jujur.”

Gue nengok.

“Apa?”

Dia tarik napas.

“Aku ngerasa mas sering ngeliatin aku.”

Jantung gue langsung kenceng.

Gue berdiri.

“Maksud kamu apa?”

Dia nggak mundur.

Tatapannya lurus.

“Kalau mas kesepian… aku juga sering sendirian di sini.”

Di luar, suara toa masjid mulai adzan magrib.

Langit oranye.

Anak gue lagi tidur di kamar.

Rumah sunyi.

Dan untuk pertama kalinya, gue sadar…

Petaka itu nggak datang tiba-tiba.

Dia tumbuh pelan-pelan.

Di sela sepi.

Di sela harga diri yang jatuh.

Di sela rasa kalah yang nggak pernah gue akui.

Rani melangkah satu langkah lebih dekat.

“Mas…”

HP gue tiba-tiba bunyi.

Nama istri gue muncul di layar.

Dan Rani masih berdiri tepat di depan gue.

Lanjut di komentar.

Ketik “lanjut” kalau lo siap masuk lebih dalam.

HP Danu terus bergetar di tangannya. Nama istrinya nyala terang di layar, sementara Rani masih berdiri cuma satu langkah dari dia, napasnya terdengar jelas di ruang tamu yang sunyi. Danu angkat telepon itu tanpa mengalihkan pandangan dari Rani. “Halo?” Suara istrinya terdengar agak berisik, seperti ada suara piring dan orang ngobrol di belakangnya.

“Kamu lagi di mana?” tanya Danu pelan. “Masih di kantor. Kenapa suaranya aneh?” jawab istrinya cepat. Lalu ada jeda singkat sebelum dia bertanya, “Rani ada di rumah kan?” Pertanyaan itu bikin tenggorokan Danu seret. “Ada,” jawabnya pendek. “Titip anak ya. Aku mungkin pulang agak malam.” Telepon langsung mati.

Rani belum bergerak. Tangannya meremas ujung kaosnya sendiri sampai kusut. Danu menaruh HP di meja dengan pelan. “Kamu tadi ngomong apa?” suaranya lebih berat sekarang. Rani menelan ludah. “Aku cuma bilang kalau mas sering liatin aku.” Hening beberapa detik. Dari kamar, terdengar anak Danu batuk kecil disusul suara kasur berderit. Rani refleks menoleh ke arah kamar, tapi dia tetap di tempatnya.

“Mas pikir aku nggak sadar?” lanjutnya pelan. Nada suaranya bukan menggoda. Lebih ke tegang. Danu mundur satu langkah. “Kamu jangan salah paham.” Kalimat itu keluar cepat. Rani tersenyum tipis, tapi matanya serius. “Aku nggak salah paham, mas.” Dia berjalan ke meja makan dan membuka tas kecilnya. Dari dalam, dia mengeluarkan benda kecil warna hitam dan meletakkannya di atas meja.

Lampu indikator merah kecil menyala. Voice recorder mini.

Dada Danu langsung sesak. “Itu apa?” tanyanya serak. Rani tidak langsung menjawab. Dia menekan satu tombol. Suara rekaman keluar pelan. Suara Danu sendiri terdengar jelas. “Rumah sepi ya kalau istri lagi nggak ada.” Lalu suara Rani tertawa kecil. Kemudian suara Danu lagi, lebih pelan, “Kadang sepi bikin orang mikir aneh-aneh.”

Danu langsung mematikan alat itu. Tangannya gemetar saat menekan tombol. “Kamu ngerekam aku?” Rani menatapnya lurus. “Bukan aku yang suruh.” Udara terasa makin berat. “Maksud kamu?” tanya Danu.

Rani menarik napas panjang. “Mbak yang suruh.”

Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa nada tinggi, tanpa dramatis. Tapi efeknya seperti dipukul dari dalam. Suara kipas angin mendadak terdengar keras di telinga Danu. “Ngaco kamu.” Rani menggeleng pelan. “Mbak curiga dari awal mas di rumah terus. Dia bilang aku cuma perlu rekam kalau mas mulai ngomong aneh atau macem-macem.”

Danu menelan ludah. Semua dinner klien. Semua pulang malam. Semua tatapan lelah istrinya. Jangan-jangan itu bukan cuma soal kerja. “Kamu udah kasih rekamannya?” tanya Danu pelan. Rani menggeleng. “Belum.” Dia mendorong alat itu ke arah Danu. “Aku nggak mau jadi alat buat hancurin rumah orang.”

Angin sore masuk dari jendela yang setengah terbuka. Tirai bergerak pelan. Cahaya oranye jatuh miring ke lantai. Danu duduk perlahan di kursi, lututnya lemas. “Kenapa kamu bilang sekarang?” tanyanya lagi. Rani menatap pintu kamar anak Danu sebelum menjawab. “Karena aku takut mas makin jauh.”

Belum sempat Danu merespons, suara pagar depan berderit pelan. Lalu suara mesin mobil berhenti tepat di depan rumah. Danu dan Rani sama-sama menoleh ke arah pintu. “Dia bilang pulang malam,” bisik Danu hampir tak terdengar. Lampu teras menyala otomatis. Bayangan seseorang bergerak di balik kaca buram pintu depan.

Gagang pintu diputar pelan dari luar.

Dan voice recorder itu masih tergeletak di atas meja.

Kita lanjut Part Selanjutnya?

HP Danu terus bergetar di tangannya. Nama istrinya nyala terang di layar, sementara Rani masih berdiri cuma satu langkah dari dia, napasnya terdengar jelas di ruang tamu yang sunyi. Danu angkat telepon itu tanpa mengalihkan pandangan dari Rani. “Halo?” Suara istrinya terdengar agak berisik, seperti ada suara piring dan orang ngobrol di belakangnya. “Kamu lagi di mana?” tanya Danu pelan. “Masih di kantor. Kenapa suaranya aneh?” jawab istrinya cepat. Lalu ada jeda singkat sebelum dia bertanya, “Rani ada di rumah kan?” Pertanyaan itu bikin tenggorokan Danu seret. “Ada,” jawabnya pendek. “Titip anak ya. Aku mungkin pulang agak malam.” Telepon langsung mati.

Rani belum bergerak. Tangannya meremas ujung kaosnya sendiri sampai kusut. Danu menaruh HP di meja dengan pelan. “Kamu tadi ngomong apa?” suaranya lebih berat sekarang. Rani menelan ludah. “Aku cuma bilang kalau mas sering liatin aku.” Hening beberapa detik. Dari kamar, terdengar anak Danu batuk kecil disusul suara kasur berderit. Rani refleks menoleh ke arah kamar, tapi dia tetap di tempatnya. “Mas pikir aku nggak sadar?” lanjutnya pelan. Nada suaranya bukan menggoda. Lebih ke tegang. Danu mundur satu langkah. “Kamu jangan salah paham.” Kalimat itu keluar cepat. Rani tersenyum tipis, tapi matanya serius. “Aku nggak salah paham, mas.”

Dia berjalan ke meja makan dan membuka tas kecilnya. Dari dalam, dia mengeluarkan benda kecil warna hitam dan meletakkannya di atas meja. Lampu indikator merah kecil menyala. Voice recorder mini. Dada Danu langsung sesak. “Itu apa?” tanyanya serak. Rani tidak langsung menjawab. Dia menekan satu tombol. Suara rekaman keluar pelan. Suara Danu sendiri terdengar jelas. “Rumah sepi ya kalau istri lagi nggak ada.” Lalu suara Rani tertawa kecil. Kemudian suara Danu lagi, lebih pelan, “Kadang sepi bikin orang mikir aneh-aneh.” Danu langsung mematikan alat itu. Tangannya gemetar saat menekan tombol. “Kamu ngerekam aku?”

Rani menatapnya lurus. “Bukan aku yang suruh.” Udara terasa makin berat. “Maksud kamu?” tanya Danu. Rani menarik napas panjang. “Mbak yang suruh.” Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa nada tinggi, tanpa dramatis. Tapi efeknya seperti dipukul dari dalam. Suara kipas angin mendadak terdengar keras di telinga Danu. “Ngaco kamu.” Rani menggeleng pelan. “Mbak curiga dari awal mas di rumah terus. Dia bilang aku cuma perlu rekam kalau mas mulai ngomong aneh atau macem-macem.” Danu menelan ludah. Semua dinner klien. Semua pulang malam. Semua tatapan lelah istrinya. Jangan-jangan itu bukan cuma soal kerja.

“Kamu udah kasih rekamannya?” tanya Danu pelan. Rani menggeleng. “Belum.” Dia mendorong alat itu ke arah Danu. “Aku nggak mau jadi alat buat hancurin rumah orang.” Angin sore masuk dari jendela yang setengah terbuka. Tirai bergerak pelan. Cahaya oranye jatuh miring ke lantai. Danu duduk perlahan di kursi, lututnya lemas. “Kenapa kamu bilang sekarang?” tanyanya lagi. Rani menatap pintu kamar anak Danu sebelum menjawab. “Karena aku takut mas makin jauh.”

Belum sempat Danu merespons, suara pagar depan berderit pelan. Lalu suara mesin mobil berhenti tepat di depan rumah. Danu dan Rani sama-sama menoleh ke arah pintu. “Dia bilang pulang malam,” bisik Danu hampir tak terdengar. Lampu teras menyala otomatis. Bayangan seseorang bergerak di balik kaca buram pintu depan. Gagang pintu diputar pelan dari luar. Dan voice recorder itu masih tergeletak di atas meja.

Kita lanjut Part Selanjutnya?

Pintu terbuka pelan. Istrinya berdiri di ambang, masih pakai blazer kerja, rambutnya sedikit berantakan, lipstik sudah pudar. Dia tidak terlihat kaget. Tidak marah. Tatapannya justru terlalu tenang. Matanya langsung turun ke meja. Ke voice recorder hitam itu. Lalu naik lagi ke wajah Danu. “Belum dikasih ya?” katanya pelan. Suaranya datar.

Rani langsung mundur dua langkah. “Mbak, aku—” “Masuk kamar,” potong istrinya tanpa menoleh. Nada suaranya lembut tapi tegas. Rani ragu sedetik, lalu berjalan cepat ke arah kamar anak. Pintu tertutup pelan. Tinggal Danu dan istrinya di ruang tengah yang terasa sempit mendadak.

Istrinya melepas tas kerja dan meletakkannya di kursi. Tangannya rapi. Terlalu rapi. “Kamu buka?” tanyanya sambil menunjuk recorder itu. Danu tidak langsung jawab. Jantungnya masih belum stabil. “Kamu suruh dia ngerekam aku?” akhirnya keluar juga. Istrinya tidak menyangkal. Dia justru duduk di seberang Danu. Menatap lurus. “Aku cuma mau bukti.”

“Bukti apa?” suara Danu naik sedikit. “Bukti kalau yang aku rasain itu bukan cuma perasaan.” Ada getar tipis di suara istrinya sekarang. “Kamu berubah, Dan. Cara kamu liat aku beda. Cara kamu diem itu beda.” Danu tertawa pendek, hambar. “Yang berubah itu hidup kita.” “Enggak,” jawab istrinya cepat. “Yang berubah itu kamu.”

Hening turun di antara mereka. Dari kamar terdengar suara anak mereka bergumam setengah tidur. Istrinya melirik ke arah suara itu sebentar, lalu kembali menatap Danu. “Kamu pikir aku nggak takut?” katanya pelan. “Naik jabatan itu bukan cuma soal gaji. Itu politik. Itu tekanan. Itu tatapan orang-orang yang nunggu aku jatuh.” Tangannya mengepal di atas paha. “Dan di rumah… aku ngerasa kamu juga nunggu aku jatuh.”

Kalimat itu seperti pisau kecil. Pelan tapi dalam. Danu membuka mulut, tapi tidak ada kalimat yang benar-benar siap keluar. Semua terasa defensif. Semua terdengar seperti pembelaan kosong. Istrinya menggeser recorder itu ke tengah meja. “Kalau kamu memang nggak salah, harusnya kamu nggak takut.”

“Ini nggak adil,” gumam Danu. “Naruh babysitter buat jebak suami sendiri?” Istrinya tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata. “Kamu pikir aku yang mulai?”

Danu membeku. “Maksud kamu apa?” Istrinya berdiri perlahan, berjalan ke rak TV. Dari laci kecil, dia mengambil sesuatu. Sebuah map bening. Dia meletakkannya di meja dengan gerakan terukur. Di dalamnya ada beberapa lembar kertas. Print out chat. Screenshot.

Nama pengirimnya jelas. Rani.

Isi chat itu bukan rayuan. Bukan juga jebakan murahan. Itu laporan. Tanggal, jam, situasi. “Mas Danu hari ini banyak diam.” “Mas Danu tanya mbak pulang jam berapa.” “Mas Danu bilang rumah terasa beda.” Semua dicatat. Sistematis.

“Dia kerja buat kamu?” suara Danu serak. Istrinya menggeleng pelan. “Dia kerja buat aku.”

Udara terasa makin tipis. “Kamu percaya dia lebih dari kamu percaya aku?” tanya Danu. Ada campuran marah dan terluka di sana. Istrinya tidak langsung jawab. Dia justru menatap Danu lama sekali. Seolah menimbang sesuatu yang berat. “Aku percaya data,” katanya akhirnya.

Kalimat itu menghantam lebih keras dari teriakan.

Tiba-tiba HP istrinya berbunyi. Nama yang muncul di layar membuat Danu menegang. Direktur. Istrinya melihat layar itu beberapa detik. Tidak diangkat. Tidak dimatikan. Hanya dibiarkan berdering sampai berhenti sendiri.

“Kamu mau tau kenapa aku sering pulang malam?” tanyanya pelan. Danu tidak menjawab. Istrinya menarik napas dalam. “Karena ada yang bilang ke direksi kalau suamiku lagi nggak stabil. Lagi nggak kerja. Lagi sering di rumah sama babysitter muda.”

Danu merasa lantai seperti bergeser. “Siapa yang bilang?” bisiknya.

Istrinya menatap lurus. “Surat anonim. Dua minggu lalu.” Dia berhenti sebentar. “Isinya detail. Detail banget.”

Detail yang hanya bisa ditulis orang dalam rumah itu sendiri.

Mata Danu pelan-pelan bergerak ke arah pintu kamar. Ke tempat Rani tadi masuk. Jantungnya kembali berdebar keras. Istrinya mengikuti arah pandang itu. “Kamu pikir cuma kamu yang lagi diuji?” katanya pelan.

Dari balik pintu kamar, terdengar suara kunci diputar. Pelan. Sangat pelan.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, Danu sadar… mungkin bukan dia yang sedang dijebak.

Mungkin dia yang sedang diadu.

Langkah kaki terdengar mendekat dari dalam kamar.

Dan pegangan pintu itu mulai bergerak turun.

Pegangan pintu itu turun perlahan. Bunyi klik kecil terdengar jelas di ruang tamu yang sunyi. Pintu kamar terbuka sedikit, lalu Rani keluar dengan wajah pucat. Tangannya tidak lagi gemetar. Justru terlalu tenang. Tatapannya berpindah dari Danu ke istrinya. Tidak ada air mata. Tidak ada panik. Hanya sesuatu yang lebih dingin.

“Sudah selesai ngobrolnya?” tanyanya pelan.

Istri Danu berdiri tegak. “Masuk lagi ke kamar.”

Rani menggeleng kecil. “Kayaknya sekarang bukan waktunya aku disuruh masuk.” Kalimatnya halus, tapi ada lapisan lain di bawahnya. Danu berdiri refleks. “Rani, cukup.”

Rani tersenyum tipis. “Mas takut?”

Suasana menegang seperti kabel yang ditarik terlalu kencang. Istri Danu melangkah mendekat. “Kamu cuma babysitter di rumah ini.”

Rani tertawa kecil. “Cuma?”

Dia melangkah ke meja, mengambil voice recorder itu, lalu memutarnya lagi. Tapi kali ini bukan rekaman Danu. Suara yang keluar membuat darah Danu seperti berhenti mengalir.

Suara istrinya sendiri.

“Tolong perhatiin suamiku. Kalau dia mulai aneh-aneh, rekam.”

Rekaman itu berhenti. Sunyi.

Rani menatap istrinya lurus. “Itu awalnya.”

Istri Danu tidak terlihat kaget. “Dan?”

Rani menekan tombol lagi. Rekaman kedua keluar. Suara yang berbeda. Lebih pelan. Lebih dekat.

“Kalau dia kepancing, aku punya alasan buat pisah. Hak asuh anak aman. Karier aman.”

Kali ini tangan istrinya yang mengepal. Danu merasa kepalanya berdengung. “Apa maksudnya ini?” suaranya serak.

Istrinya menoleh cepat ke Rani. “Kamu janji cuma rekam kalau dia mulai.”

“Aku rekam semuanya,” potong Rani tenang. “Karena aku nggak bodoh.”

Udara terasa berat. Seperti sebelum hujan besar turun.

Danu mundur selangkah. Tatapannya ke istrinya sekarang bukan marah. Tapi bingung. Terluka. “Kamu mau cerai?”

Istrinya menatap Danu lama sekali. Di matanya ada sesuatu yang tidak pernah Danu lihat sebelumnya. Campuran lelah dan perhitungan. “Aku mau aman,” katanya akhirnya.

Kalimat itu lebih tajam dari pengakuan selingkuh.

“Jadi semua ini… jebakan?” Danu hampir berbisik.

Istrinya tidak langsung menjawab. Rani yang menjawab lebih dulu. “Mbak takut mas jatuh. Dan kalau mas jatuh, mbak nggak mau ikut jatuh.”

“Diam kamu,” bentak istrinya akhirnya. Untuk pertama kalinya emosinya retak.

Anak mereka menangis dari dalam kamar. Tangisan kecil yang bingung.

Tiga orang dewasa berdiri dalam ruang yang sama, tapi seperti berada di medan perang berbeda.

Danu menatap istrinya. “Kamu nggak pernah ngomong kalau kamu takut.”

“Aku nggak punya waktu buat takut!” balasnya cepat. “Aku kerja mati-matian, Dan! Aku bertahan di kantor yang penuh laki-laki yang nunggu aku salah. Dan di rumah, aku lihat kamu pelan-pelan hilang.”

Suara itu bukan cuma marah. Itu panik yang lama ditahan.

Rani berdiri diam, tapi sorot matanya berubah. “Mas hilang bukan karena aku.”

Semua mata beralih padanya.

Rani menatap Danu. “Mas hilang sejak hari itu. Sejak mas di-PHK.”

Kalimat itu sederhana. Tapi menghancurkan.

Danu tidak bisa membantah. Karena di sudut hatinya, dia tahu itu benar.

HP di meja tiba-tiba berbunyi lagi. Bukan milik istrinya. Milik Danu. Nomor tidak dikenal.

Tidak ada yang bergerak.

Derit kecil terdengar saat layar menyala. Satu pesan masuk.

“Rekaman sudah saya terima. Terima kasih.”

Wajah Danu langsung pucat. “Apa?”

Istrinya menoleh cepat ke Rani. “Kamu kirim?”

Rani terlihat benar-benar kaget sekarang. “Aku belum kirim apa-apa.”

Sunyi.

Angin dari jendela meniup tirai lebih keras. Lampu ruang tamu berkedip sebentar.

Danu membuka pesan itu dengan tangan gemetar. Tidak ada nama. Tidak ada foto profil. Hanya satu file audio terlampir. Nama filenya: _rumah_01.mp3.

Dan di pojok layar, terlihat status kecil:

Forwarded many times.

Jantung Danu terasa seperti jatuh bebas.

Kalau bukan Rani.

Bukan istrinya.

Lalu siapa yang sudah merekam… dan menyebarkan?

Perlahan, mereka bertiga menoleh ke arah sudut ruang tamu.

Ke arah CCTV kecil yang sudah lama mati.

Lampu indikatornya menyala hijau.

Lampu hijau kecil di CCTV itu tetap menyala. Tidak berkedip. Stabil. Seolah dari awal memang tidak pernah mati. Danu berdiri paling dekat dengan dinding. Tangannya menyentuh bodi kamera yang terasa hangat. Bukan hangat karena cuaca. Hangat karena aktif. Istrinya masih berdiri di dekat meja, napasnya lebih berat dari tadi. Rani tidak bergerak, tapi wajahnya benar-benar pucat sekarang.

“Ini bukan recorder aku,” bisik Rani. “Sumpah.”

Danu tidak menjawab. Kepalanya justru terasa lebih jernih. Rasa cemburu, marah, dan malu yang tadi bercampur sekarang pelan-pelan bergeser jadi satu hal: sadar. Ada sesuatu yang lebih besar dari konflik mereka bertiga.

Istrinya mendekat ke router WiFi di sudut ruangan. Lampu indikatornya berkedip tidak biasa. “Ini diganti,” katanya pelan. “Yang lama bukan ini.”

Danu langsung teringat. Dua minggu lalu ada orang datang. Katanya dari vendor IT kantor istrinya. Dia cuma menyapa sekilas. Tidak curiga. Tidak peduli. Waktu itu dia masih sibuk menelan harga dirinya sendiri.

HP Danu berbunyi lagi. Nomor yang sama. Satu pesan masuk.

“Kalau mau file lengkapnya, kita bisa ngobrol.”

Tidak ada tanda tangan. Tidak ada ancaman terang-terangan. Justru itu yang bikin ngeri.

Istri Danu membaca pesan itu dari sampingnya. Wajahnya berubah. Bukan takut ketahuan. Tapi takut dipermainkan. “Ini bukan soal rumah,” katanya lirih. “Ini tekanan.”

Semua potongan kejadian beberapa minggu terakhir seperti dirangkai paksa di kepala Danu. Surat anonim ke direksi. Detail tentang kondisi rumah. Tuduhan halus soal stabilitas mentalnya. Jabatan istrinya yang baru.

“Ada yang mau kamu jatuh,” kata Danu pelan.

Istrinya mengangguk hampir tak terlihat. “Dan kalau aku jatuh, aku nggak bisa bantu kamu berdiri.”

Kalimat itu bukan sombong. Itu realita pahit.

Anak mereka menangis lagi dari kamar. Kali ini lebih keras. Danu refleks berjalan masuk, mengangkatnya. Tubuh kecil itu memeluk lehernya erat. Hangat. Percaya penuh. Tidak tahu apa-apa soal politik kantor, soal jebakan, soal harga diri orang dewasa.

Saat Danu kembali ke ruang tamu sambil menggendong anaknya, dia melihat istrinya duduk. Bahunya turun. Tidak lagi tegak seperti direktur muda yang penuh kontrol. Hanya seorang perempuan yang hampir kehilangan semuanya.

“Aku salah,” katanya pelan tanpa menatap Danu. “Aku curiga ke kamu sebelum aku percaya.”

Danu diam beberapa detik. Berat sekali rasanya mengakui ini. Tapi dia juga tidak bersih. “Aku juga salah,” jawabnya akhirnya. “Aku biarin diri aku tenggelam. Aku bikin rumah ini jadi tempat paling sunyi buat kamu.”

Rani berdiri perlahan. “Aku keluar aja ya.” Kali ini tidak ada dramatis. Tidak ada permainan. Hanya keputusan.

Istri Danu menatapnya. “Kamu nggak salah sepenuhnya. Tapi kamu juga nggak bisa lanjut di sini.”

Rani mengangguk. Matanya berkaca-kaca, tapi dia tidak menangis. Dia masuk kamar, mengemasi barangnya cepat. Lima belas menit kemudian dia keluar dengan tas kecil yang sama seperti pertama kali datang. Tanpa pelukan. Tanpa teriakan. Hanya anggukan pelan sebelum pintu tertutup.

Rumah itu mendadak benar-benar sepi. Tapi bukan sepi yang menggoda. Sepi yang jujur.

Danu duduk di sofa. Anaknya sudah tertidur lagi di pangkuannya. Istrinya duduk di sebelahnya. Tidak menyentuh. Tapi dekat.

“Kita hampir hancur cuma karena takut,” katanya pelan.

Danu mengangguk. “Takut kalah. Takut ditinggal. Takut nggak berguna.”

Istrinya menoleh. Untuk pertama kalinya sejak dia naik jabatan, tatapannya tidak penuh jarak. “Masih mau berjuang bareng?”

Pertanyaan itu sederhana. Tapi bukan romantis murahan. Itu pertanyaan dua orang yang tahu dunia nggak ramah.

Danu melihat anak mereka. Lalu melihat istrinya. Semua luka belum sembuh. Semua masalah belum selesai. CCTV masih menyala. Pesan ancaman masih ada. Karier istrinya masih di ujung tanduk. Dia sendiri masih belum punya pekerjaan.

Tapi untuk pertama kalinya, mereka berdiri di sisi yang sama.

“Mau,” jawab Danu pelan.

Istrinya mengangguk. Tidak ada pelukan besar. Tidak ada janji dramatis. Hanya dua tangan yang akhirnya saling menggenggam di atas lutut kecil anak mereka.

Di luar, suara adzan isya terdengar pelan dari masjid ujung gang. Angin malam masuk lewat jendela. Rumah itu belum sempurna. Tapi tidak lagi penuh kecurigaan.

Dan kadang, happy ending bukan berarti semua masalah hilang.

Kadang, itu cuma berarti dua orang memilih tetap tinggal… dan melawan bersama.

Tamat.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *