AKU TERLALU SERING MENGINAP DI RUMAHNYA…SAMPAI AKHIRNYA SEMUA TERBONGKAR.

Halaman rumah Pak Bambang selalu bau jagung kering dan kayu basah setiap sore.
Kandang merpati berjajar di samping rumah. Suara kepakan sayap bercampur dengan suara motor lewat gang sempit. Toa masjid azan magrib terdengar dari kejauhan.
Aku awalnya cuma datang buat beli sepasang merpati balap.
Tapi obrolan kami panjang.
Soal lomba. Soal arah angin. Soal burung yang pulang kalau merasa “punya rumah”.
“Merpati itu setia,” kata Pak Bambang sambil menepuk bahuku. “Kalau sudah cocok, dia tahu jalan pulang.”
Sejak itu aku sering datang.
Kadang sampai malam.
Kadang sampai menginap.
Istrinya sudah meninggal lama. Rumah itu besar, tapi sunyi. Katanya dia senang ada yang menemani ngobrol.
Aku merasa diterima.
Diperlakukan seperti anak sendiri.
Yang tidak pernah dia bilang di awal…
Dia punya dua anak perempuan.
Ratih.
Dan Vina.
Aku pertama kali lihat Ratih waktu dia keluar membawa teh panas. Rambutnya diikat sederhana. Kaos rumah dan celana panjang longgar. Tatapannya tenang.
“Temannya Bapak?” tanyanya singkat.
Aku mengangguk.
Beberapa hari kemudian Vina pulang dari kampus. Jaket denim, sepatu putih, wangi parfum tipis lewat di sampingku.
“Mas yang sering main merpati itu ya?” katanya sambil tersenyum.
Sejak hari itu, suasana rumah berubah.
Kami sering makan malam bersama. Sendok beradu piring. Kipas angin berderit pelan. Ratih lebih banyak diam. Vina lebih sering bercanda.
Aku mulai terlalu sering memperhatikan.
Cara Ratih menyiram tanaman pagi hari.
Cara Vina tertawa keras sambil lihat layar HP.
Pak Bambang selalu bangga kalau cerita tentang mereka.
“Ratih itu paling setia di rumah. Vina paling lincah cari uang.”
Aku hanya tersenyum.
Lalu listrik pernah mati satu malam.
Hujan deras menghantam atap seng kandang. Rumah gelap, cuma cahaya senter HP yang menyala.
Pak Bambang sudah tidur.
Kami bertiga di ruang tamu.
Dekat.
Terlalu dekat.
“Mas sering banget di sini ya,” suara Vina pelan.
Ratih menoleh ke arahku. Lama.
Sejak malam itu, pesan mulai masuk.
Dari Ratih:
“Sudah makan?”
Dari Vina:
“Besok ke kopi yuk.”
Aku membalas keduanya.
Awalnya biasa.
Lama-lama, kalimatnya mirip.
Perhatiannya mirip.
Aku tidak pernah menjelaskan apa pun.
Aku pikir selama tidak ada yang bertanya, semuanya aman.
Sampai sore tadi.
Langit mendung. Angin kencang.
Pak Bambang mengajakku ke kandang belakang.
Beberapa merpati baru dilepas latihan.
“Mas,” katanya tanpa menatapku, “kalau kamu serius sama salah satu anak saya, bilang.”
Jantungku berhenti.
“Jangan main dua kaki.”
Aku belum sempat menjawab.
Pintu teras belakang terbuka keras.
Ratih berdiri di sana.
Di belakangnya, Vina.
Ratih memegang HP. Tangannya gemetar.
“Pak… kami sudah lihat semuanya.”
Pak Bambang menoleh.
Vina melangkah maju. Menunjukkan layar.
Dua chat.
Dari aku.
Ke Ratih.
Dan ke Vina.
Dengan kalimat yang hampir sama.
Angin berhenti.
Merpati yang tadi terbang, satu per satu turun.
Pak Bambang membaca lama.
Wajahnya tidak marah.
Itu yang membuat kakiku lemas.
Beliau mendekat.
Suaranya rendah.
“Mas… kamu mau jadi merpati atau pemburu?”
Aku tidak bisa menjawab.
Ratih menangis tanpa suara.
Vina menatapku seperti orang asing.
Pak Bambang menunjuk kandang paling besar di sudut.
“Sekarang kamu pilih.”
Aku menoleh.
Di dalam kandang itu… ada sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Angin sore berhenti. Kandang paling besar di sudut halaman berdiri sendiri. Kayunya lebih baru. Gemboknya mengkilap. Aku belum pernah lihat kandang itu dipakai.
Pak Bambang berjalan ke sana. Langkahnya pelan, tapi pasti. Ratih dan Vina berdiri di belakangku. Aku bisa dengar napas Ratih tersendat.
Pak Bambang membuka gembok. Bunyi “klik”-nya kecil, tapi terasa seperti palu. Pintu kayu dibuka perlahan.
Di dalamnya… bukan burung. Ada satu bangku plastik. Dan dua sangkar kecil kosong. Di atas bangku itu, tergeletak dua cincin perak sederhana.
Aku menoleh ke Pak Bambang. Beliau tidak menatapku. “Mas tahu ini apa?” Aku menggeleng.
“Ini kandang pilihan.” Sunyi. Merpati di atas atap berputar sekali, lalu mendarat. Pak Bambang mengambil satu cincin. Lalu satu lagi.
“Saya sudah lama lihat kamu dekat sama dua-duanya,” katanya tanpa nada tinggi. “Saya bukan orang bodoh.” Ratih terisak pelan. Vina menatap lurus ke arahku.
Pak Bambang melanjutkan, “Saya cuma mau tahu… kamu ini serius atau cuma singgah.” Tanganku gemetar. “Aku nggak pernah bermaksud—”
“Chat kamu bilang beda,” potong Vina. Ratih mengangkat wajahnya. Matanya merah. “Mas bilang aku beda,” suaranya pelan. “Ke Vina juga begitu?”
Aku tidak bisa menjawab. Karena memang iya. Pak Bambang menaruh dua cincin itu di tanganku. Dingin.
“Sekarang,” katanya pelan, “kamu pilih satu. Di depan saya.” Dadaku sesak. “Kalau kamu nggak bisa pilih…” beliau menarik napas panjang, “berarti kamu memang bukan merpati. Kamu pemburu.”
Vina tertawa kecil. Bukan tawa senang. Ratih memalingkan wajah. Aku melihat dua cincin itu di telapak tanganku. Terlalu ringan. Tapi rasanya berat sekali.
“Mas,” suara Vina tiba-tiba berubah lebih pelan, “sebelum kamu pilih… ada satu hal lagi yang harus kamu tahu.” Aku menoleh. Tatapan Vina tajam. Ratih menutup mulutnya sendiri, seperti ingin menghentikan sesuatu.
Dan Vina berkata, “Semua ini bukan cuma soal chat kamu.” Aku membeku. Pak Bambang ikut menoleh ke arah Vina. “Apa maksudmu?”
Vina menarik napas. “Sudah waktunya kita bilang yang sebenarnya, Kak.” Ratih menggeleng cepat. Tapi sudah terlambat. Karena Vina mulai membuka sesuatu yang bahkan tidak pernah aku duga.
Vina mengeluarkan satu map cokelat dari tasnya. Ujungnya sudah kusut, seperti sering dibuka-tutup. Tangannya tidak gemetar. Justru terlalu tenang. “Mas pikir Bapak cuma peternak merpati?” suaranya datar.
Pak Bambang berdiri diam. Tidak membantah. Tidak juga mengiyakan.
Map itu dibuka. Beberapa lembar kertas jatuh ke lantai kandang. Fotokopi rekening. Foto. Dan satu lembar surat dengan kop notaris. Namaku ada di sana. Tercetak jelas. Tanggalnya tiga minggu lalu.
Jantungku seperti ditarik keluar.
“Itu… apa?” suaraku serak.
Ratih menunduk. “Mas tanda tangan apa waktu bantu Bapak ke bank?”
Ingatan itu datang cepat. Siang panas. Aku diajak ke kota. Katanya cuma saksi administrasi. Aku tanda tangan tanpa baca panjang. Pak Bambang bilang cuma formalitas lomba merpati antar daerah.
“Bapak…?” Aku menoleh. Wajahnya masih sama. Tenang. Terlalu tenang.
“Mas sekarang tercatat sebagai penjamin,” kata Vina pelan. “Utang dua ratus juta.”
Dunia seperti mengecil. Suara merpati mendadak jauh. “Utang apa?”
Pak Bambang akhirnya bicara. “Modal kandang baru. Pakan. Perawatan.” Nada suaranya stabil. “Saya pikir kamu sudah anggap rumah ini seperti rumah sendiri.”
Aku mundur setengah langkah. Tanah terasa goyah. “Tapi saya nggak pernah—”
“Mas sering menginap,” potong Ratih pelan. Air matanya jatuh lagi. “Mas bilang nyaman di sini.”
Ada sesuatu di wajahnya. Bukan cuma sedih. Ada rasa bersalah.
Vina melangkah lebih dekat. “Kalau Mas pilih salah satu dari kami… utang itu dianggap keluarga. Kita tanggung sama-sama.”
Tanganku masih menggenggam dua cincin itu. Sekarang rasanya seperti borgol.
“Dan kalau nggak?” tanyaku.
Sunyi.
Pak Bambang menatap lurus ke mataku untuk pertama kali sejak tadi. “Saya lapor ke bank kalau kamu menghilang dari tanggung jawab.”
Darahku dingin. “Saya nggak pernah setuju jadi penjamin!”
“Mas tanda tangan,” jawab Vina cepat. “Ada CCTV bank.”
Aku mencoba mengingat detail hari itu. Senyum pegawai bank. Map biru. Air mineral di meja. Pak Bambang menepuk pundakku. “Cuma formalitas.” Suaranya waktu itu hangat.
Ratih tiba-tiba bersuara, pelan tapi tegas. “Ini salah Bapak.”
Semua menoleh ke arahnya.
Ratih mengusap air mata dengan punggung tangan. “Mas nggak tahu apa-apa.”
Pak Bambang menghela napas panjang. “Saya cuma mau pastikan orang yang dekat dengan anak-anak saya benar-benar serius.”
“Dengan cara jebak?” suara Ratih bergetar.
Aku menatap Ratih. Lalu Vina. Lalu dua cincin di tanganku. Tiba-tiba semuanya terasa bukan soal cinta. Ini soal jerat.
Vina memejamkan mata sebentar. Ketika membukanya lagi, ada sesuatu yang berubah. “Mas pikir aku nggak tahu Mas chat Ratih duluan sebelum aku?”
Aku menoleh cepat. Ratih membeku.
“Mas pikir aku yang mulai semua ini?” Vina tertawa kecil, pahit. “Aku cuma ikut rencana.”
Rencana.
Kata itu menggema di kepalaku.
Ratih menatap Vina dengan mata membesar. “Vin, jangan—”
“Tiga bulan lalu,” lanjut Vina tanpa melihat kakaknya, “Bapak bilang butuh orang luar yang bisa dipercaya. Orang yang kelihatan tulus. Mas kandidatnya.”
Napas Ratih semakin cepat. “Aku nggak mau, tapi Bapak bilang ini satu-satunya cara selamatin rumah.”
Rumah besar. Kandang baru. Bau kayu basah. Semua tiba-tiba terasa seperti set panggung.
“Jadi… dari awal?” suaraku hampir tidak keluar.
Ratih menutup mata. Satu anggukan kecil.
Plot itu terasa seperti pisau pelan-pelan masuk ke dada. Semua makan malam. Semua teh panas. Semua tawa Vina. Semua pesan “Sudah makan?” bukan spontan.
Pak Bambang bersuara lagi, rendah. “Saya hanya mau orang yang tidak lari.”
Aku menatapnya. “Kalau saya kabur sekarang?”
Beliau tersenyum tipis. Bukan senyum ramah. “KTP kamu saya foto waktu pertama kali menginap.”
Aku benar-benar tidak ingat kapan itu terjadi.
Merpati tiba-tiba mengepak keras di atas kepala kami. Suara sayapnya membuatku tersentak. Ratih maju satu langkah ke arahku. Tangannya hampir menyentuh lenganku, lalu berhenti.
“Mas,” suaranya hancur, “aku nggak pernah pura-pura soal perasaan.”
Vina menoleh tajam. “Kak—”
“Aku nggak pernah,” ulang Ratih. Air matanya jatuh lagi.
Aku menatapnya lama. Ada sesuatu yang tidak bisa dipalsukan di matanya.
Dan untuk pertama kalinya sejak kandang itu dibuka, aku sadar satu hal yang lebih mengerikan dari utang dua ratus juta.
Kalau semua ini memang rencana…
Kenapa Ratih terlihat benar-benar takut kehilangan aku?
Pak Bambang melangkah mendekat. Sangat dekat. “Waktu habis, Mas. Cincin itu tidak bisa kamu pegang selamanya.”
Tanganku gemetar. Keringat dingin mengalir di punggung.
Aku harus memilih.
Atau keluar dari kandang ini sebagai orang yang benar-benar diburu.
Dan saat aku mengangkat satu cincin perlahan…
Vina berkata dengan suara hampir berbisik,
“Ada satu hal lagi yang belum Mas tahu soal utang itu.”
Cincin itu berhenti di antara dua jariku.
Vina masih menatapku. Ratih menahan napas. Pak Bambang tidak bergerak.
“Ada satu hal lagi yang belum Mas tahu soal utang itu,” ulang Vina pelan.
Tanganku turun perlahan. “Apa lagi?”
Vina menelan ludah. Kali ini bukan nada percaya diri. Ada retak di suaranya. “Utangnya sudah lunas.”
Sunyi.
Aku mengerjap. “Apa?”
Ratih menoleh cepat ke arah adiknya. “Vin…”
Vina mengangguk kecil. “Dua minggu lalu. Rumah ini nggak pernah benar-benar terancam disita.” Ia menatap ayahnya. “Bapak cuma mau lihat Mas bakal lari atau nggak.”
Darahku mendidih. “Jadi ini semua cuma tes?”
Pak Bambang akhirnya berbicara. Suaranya lebih berat dari sebelumnya. “Bukan cuma tes.” Ia menarik napas panjang. “Saya kehilangan istri saya karena terlalu percaya orang. Partner bisnis yang kabur. Hutang yang saya tanggung sendiri. Saya nggak mau anak-anak saya jatuh ke orang yang salah.”
Aku masih menggenggam cincin itu. Tapi sekarang rasanya berbeda. Bukan borgol. Lebih seperti keputusan.
“Dan cara Bapak untuk tahu itu… jebak saya?” tanyaku pelan.
Beliau menunduk sebentar. Itu pertama kalinya aku melihatnya tidak setegap biasanya. “Saya salah.”
Ratih melangkah maju. Kali ini tangannya benar-benar menyentuh lenganku. Hangat. Nyata. “Mas, aku nggak pernah anggap ini permainan. Dari awal aku bilang ke Bapak aku nggak setuju.”
Aku menatapnya. “Tapi kamu tetap ikut.”
Air matanya jatuh lagi. “Karena aku takut kalau Mas pergi, berarti memang Mas nggak pernah serius.”
Kata-kata itu tidak menusuk. Justru membuka sesuatu yang selama ini kututup rapat.
Aku ingat semua pesan yang kubalas setengah hati. Semua perhatian yang kubagi dua. Semua rasa nyaman yang kupelihara tanpa keberanian memilih.
Aku bukan korban sepenuhnya.
Aku juga penakut.
Vina menghela napas panjang. “Aku capek pura-pura santai. Aku tahu Mas lebih sering lihat Kak Ratih waktu makan. Aku tahu Mas hafal jam dia siram tanaman.” Ia tersenyum tipis, pahit tapi tulus. “Aku cuma nggak mau kalah sebelum mulai.”
Angin sore bergerak lagi. Merpati di atap mengepak pelan.
Aku melihat dua cincin itu sekali lagi. Lalu aku berjalan ke arah Ratih.
Tidak dramatis. Tidak cepat. Pelan saja.
Aku berhenti di depannya. “Aku salah,” kataku jujur. “Aku terlalu nyaman diperhatiin dua orang sekaligus. Aku pikir selama nggak ada yang tahu, semuanya aman.”
Ratih diam. Menunggu.
“Tapi kalau harus jujur sekarang… dari awal yang bikin aku betah datang ke sini bukan lomba merpati.”
Aku mengangkat satu cincin. Tanganku masih gemetar, tapi bukan karena takut.
“Yang bikin aku pulang terus ke rumah ini… kamu.”
Ratih menutup mulutnya. Tangisnya pecah, tapi kali ini bukan karena terluka.
Aku memasangkan cincin itu ke jarinya. Pas.
Sunyi beberapa detik.
Lalu suara merpati terbang bersamaan memenuhi langit halaman. Seolah dilepas bersamaan.
Vina memalingkan wajah, tapi aku lihat senyum kecil di sudut bibirnya. Ia menghapus air matanya cepat-cepat. “Ya sudah,” katanya setengah bercanda. “Berarti aku nggak perlu pura-pura chat Mas lagi.”
Aku mendekat sedikit ke arahnya. “Maaf.”
Ia mengangguk. “Jangan sakitin Kak Ratih. Itu saja.”
Pak Bambang berdiri lama. Tatapannya berpindah dari aku ke Ratih. Ke cincin di jari anaknya.
Ia melangkah mendekat. Jarak kami tinggal satu langkah.
“Mas,” katanya pelan, “saya memang keras. Tapi saya tidak pernah main-main soal keluarga.”
Aku mengangguk. “Saya juga nggak mau main-main lagi.”
Beliau mengulurkan tangan.
Untuk pertama kalinya sejak sore itu, tangannya terasa hangat, bukan mengintimidasi.
Aku menjabatnya.
Kencang.
“Mulai besok,” lanjutnya, “kamu bantu saya di kandang pagi-pagi. Bukan sebagai tamu. Tapi sebagai calon menantu.”
Aku tertawa kecil. Tegang di dada perlahan hilang.
Ratih menoleh ke arah kandang besar yang tadi terasa seperti penjara. Sekarang hanya kayu dan besi biasa.
“Mas,” katanya pelan, “merpati itu setia karena dia tahu di mana rumahnya.”
Aku menatapnya. “Sekarang aku tahu.”
Sore berubah jadi magrib. Azan terdengar lagi dari kejauhan, sama seperti hari pertama aku datang ke sini.
Bedanya, kali ini aku tidak merasa seperti tamu.
Dan untuk pertama kalinya, kandang itu bukan tempat memilih siapa yang akan kulukai.
Tapi tempat aku akhirnya memilih pulang.
Azan magrib masih menggantung di udara ketika Pak Bambang melepas beberapa merpati ke langit yang mulai gelap. Sayap-sayap putih itu berputar sekali di atas rumah, lalu membentuk lingkaran kecil sebelum turun lagi. Aku berdiri di samping Ratih. Tangannya masih ada di tanganku. Hangat. Nyata. Bukan rencana. Bukan jebakan.
Vina sudah masuk ke dalam rumah lebih dulu. Pintu kayu berderit pelan saat ditutup. Ada jeda aneh yang belum sepenuhnya hilang.
Pak Bambang memandang ke arah langit. “Merpati yang sudah dilepas, kalau dia benar merasa punya rumah, dia nggak akan kabur,” katanya pelan. Kali ini tidak terdengar seperti ancaman. Lebih seperti nasihat.
Aku mengangguk. “Saya nggak ke mana-mana, Pak.”
Beliau menatapku lama, seolah memastikan kata-kataku punya berat. Lalu ia menepuk bahuku. Tidak keras. Tidak menguji. Hanya menepuk.
Malam itu kami makan bersama. Meja kayu yang biasanya terasa canggung kini sunyi tapi tenang. Sendok beradu piring. Kipas angin berderit seperti biasa. Ratih beberapa kali mencuri pandang ke arah cincin di jarinya, seperti memastikan itu bukan mimpi.
Vina duduk di seberangku. Ia tidak banyak bicara, tapi juga tidak menghindar. Saat aku mengangkat gelas, matanya sempat bertemu denganku. Tidak ada lagi tajam. Hanya sisa lelah dan penerimaan.
“Besok pagi jam lima,” kata Pak Bambang tiba-tiba, “kita bersihin kandang yang belakang.”
Aku tersenyum kecil. “Siap, Pak.”
Ratih menyikut lenganku pelan di bawah meja. “Mas kuat bangun pagi?”
“Kalau buat calon istri, kuat.”
Ratih memerah. Vina menggeleng sambil tersenyum tipis. Suasana itu sederhana, tapi terasa berbeda. Tidak ada lagi rahasia yang menggantung di antara kami.
Setelah makan, aku berdiri di teras. Bau jagung kering dan kayu basah masih sama. Langit hitam pekat, hanya lampu gang yang menyala kuning redup. Ratih keluar menyusulku.
“Kamu marah sama Bapak?” tanyanya pelan.
Aku berpikir sejenak. “Tadi iya. Sekarang… mungkin aku lebih marah sama diri sendiri.”
Ratih menatapku.
“Aku terlalu lama menikmati perhatian tanpa berani tegas. Kalau dari awal aku jujur, mungkin nggak akan serumit ini.”
Ratih mendekat sedikit. “Yang penting kamu nggak lari.”
Aku tersenyum. “Ternyata jadi merpati lebih susah dari yang kupikir.”
Ia tertawa kecil. Suara yang pertama kali membuatku betah datang ke rumah ini.
Di dalam, terdengar suara Vina berbicara dengan ayahnya. Tidak jelas apa yang dibahas. Tapi tidak ada nada tinggi. Tidak ada benturan.
Beberapa menit kemudian, Vina keluar membawa dua gelas teh hangat. Ia menyerahkannya pada kami tanpa banyak kata. Saat tangannya menyentuh tanganku sebentar, ia berkata pelan, “Jaga dia baik-baik.”
“Aku akan,” jawabku.
Ia mengangguk, lalu kembali masuk.
Malam semakin dalam. Aku tidak pulang. Bukan karena terbiasa menginap, tapi karena kali ini aku diminta tinggal. Bukan sebagai tamu. Sebagai bagian dari rumah.
Jam lima pagi, suara ayam tetangga membangunkanku. Udara dingin menyentuh wajah saat aku keluar ke halaman. Pak Bambang sudah di kandang belakang, menyapu sisa pakan.
Tanpa banyak kata, aku mengambil sapu lain.
Kami bekerja berdampingan. Sunyi. Hanya suara gesekan sapu dan kepakan sayap sesekali. Setelah beberapa menit, beliau berkata pelan, “Semalam kamu bisa saja pergi.”
“Sempat terpikir,” jawabku jujur.
“Kenapa nggak jadi?”
Aku berhenti menyapu. Menatap deretan kandang yang basah oleh embun pagi. “Karena kalau saya pergi, saya bukan cuma lari dari utang yang ternyata nggak ada. Saya lari dari perasaan sendiri.”
Pak Bambang diam. Lalu mengangguk kecil.
Ratih keluar membawa termos air panas. Rambutnya masih sedikit berantakan. Ia tersenyum melihat kami berdua berdiri berdampingan.
Merpati dilepas lagi pagi itu. Kali ini aku yang membuka pintu kandang. Burung-burung itu melesat ke langit yang mulai memerah oleh matahari terbit.
Aku berdiri di tengah halaman. Di antara bau kayu basah, suara sayap, dan cahaya pagi yang pelan-pelan masuk.
Dulu aku datang ke rumah ini cuma untuk beli merpati balap.
Aku tidak tahu kalau yang akan kupelajari justru tentang pulang.
Dan untuk pertama kalinya, ketika seekor merpati kembali mendarat tepat di atas kandang yang sama…
Aku tidak lagi merasa seperti pemburu.
Aku benar-benar merasa punya rumah.
Dua minggu setelah pagi itu, rumah Pak Bambang mulai terasa seperti rutinitas baru yang tidak lagi canggung. Aku hafal suara engsel kandang yang mana yang seret. Hafal merpati mana yang paling bandel waktu dilepas. Ratih mulai terbiasa berdiri di sampingku tanpa rasa kikuk, seolah sejak awal memang begitu posisinya.
Tapi satu hal belum pernah benar-benar dibahas.
Vina.
Pagi itu, saat aku sedang menimbang pakan di gudang kecil belakang rumah, Vina masuk tanpa suara. Jaket denimnya masih sama seperti pertama kali aku lihat. Tapi tatapannya sudah berbeda. Lebih tenang.
“Mas ada waktu sebentar?” tanyanya.
Aku mengangguk.
Ia bersandar di dinding kayu. “Aku daftar kerja di Surabaya.”
Tanganku berhenti menakar jagung. “Kapan?”
“Minggu depan.”
Angin dari sela papan kayu meniup pelan ujung rambutnya. Tidak ada drama. Tidak ada air mata. Justru itu yang membuat dadaku terasa berat.
“Karena aku?” tanyaku pelan.
Vina tersenyum kecil. “Sebagian.” Ia menghela napas. “Sebagian lagi karena memang sudah waktunya aku cari hidupku sendiri.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Semua yang pernah terjadi di antara kami terasa seperti sisa hujan yang belum benar-benar kering.
“Aku nggak pernah benci kamu,” lanjutnya. “Aku cuma nggak mau terus tinggal di rumah yang setiap sudutnya ngingetin aku kalau aku kalah.”
Kata “kalah” itu tidak terdengar pahit. Lebih seperti pengakuan.
“Vin…”
Ia mengangkat tangan, menghentikanku. “Santai. Aku baik-baik saja. Dan jujur… aku lebih tenang lihat kamu sama Kak Ratih jelas arahnya.”
Aku mengangguk pelan. “Terima kasih.”
“Jangan sakiti dia. Kalau sampai Kak Ratih nangis lagi gara-gara kamu…” Ia menyipitkan mata sedikit. “Aku pulang cuma buat marahin kamu.”
Aku tertawa kecil. “Siap.”
Malam sebelum keberangkatannya, kami makan bersama lagi. Tidak ada ketegangan. Ratih beberapa kali membantu Vina menyiapkan barang. Pak Bambang diam lebih banyak dari biasanya.
Setelah makan, Vina berdiri di tengah ruang tamu. “Bapak, aku nggak kabur ya,” katanya pelan.
Pak Bambang menatap anak bungsunya lama. “Saya tahu.”
“Aku cuma… mau pastikan aku nggak cuma jadi bagian dari rencana orang lain.”
Kalimat itu menggantung. Aku melihat bahu Pak Bambang turun sedikit, seperti beban yang selama ini ia pikul perlahan dilepas.
“Kamu nggak pernah jadi bagian rencana,” katanya akhirnya. “Kamu anak saya.”
Vina memeluk ayahnya. Lama. Ratih ikut mendekat. Aku berdiri sedikit di belakang, memberi ruang.
Besok paginya, aku yang mengantar Vina ke terminal. Jalanan masih setengah sepi. Bus antar kota sudah berjejer, mesin menyala berat.
Sebelum naik, Vina menatapku sekali lagi. “Mas tahu nggak,” katanya pelan, “aku dulu benar-benar berharap kamu pilih aku.”
Aku tidak mengalihkan pandangan. “Aku tahu.”
“Tapi kalau kamu waktu itu pilih aku cuma karena takut, aku pasti lebih sakit.”
Angin terminal membawa bau solar dan asap tipis. Aku mengangguk. “Kamu pantas dapat orang yang pilih kamu tanpa ragu.”
Ia tersenyum. Kali ini benar-benar tulus. “Semoga kamu juga.”
Bus mulai bergerak. Ia melambaikan tangan dari jendela. Tidak ada air mata. Hanya perpisahan yang dewasa.
Saat aku kembali ke rumah, Ratih berdiri di teras. Seperti pertama kali aku datang dulu, membawa teh hangat.
“Sudah jalan?” tanyanya.
“Sudah.”
Ia mengangguk pelan. Ada rasa kehilangan, tapi juga lega.
Aku berdiri di sampingnya. Melihat kandang-kandang yang berjejer. Suara merpati memenuhi pagi.
“Mas nyesel?” Ratih bertanya tiba-tiba.
Aku menoleh padanya. “Nyesel pernah bikin kamu ragu? Iya.”
“Maksudku… nyesel pilih aku?”
Aku tersenyum. Tidak ragu kali ini. “Kalau nyesel, aku sudah pergi waktu kandang itu dibuka.”
Ratih tertawa kecil. Lalu bersandar ringan di bahuku.
Di halaman rumah yang dulu penuh ketegangan, kini hanya ada suara sayap dan cahaya matahari yang jatuh pelan di kayu basah.
Pak Bambang keluar membawa ember. Ia menatap kami sebentar, lalu berkata, “Jangan cuma berdiri. Merpati jam sembilan dilepas lagi.”
Aku mengangguk. Ratih tersenyum.
Aku melangkah ke kandang, membuka pintu, dan merpati-merpati itu terbang tinggi, membentuk lingkaran sebelum kembali.
Kali ini, tidak ada yang perlu diuji.
Tidak ada yang perlu dijebak.
Yang tersisa hanya pilihan yang sudah dibuat dengan sadar.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan itu dimulai…
Tidak ada lagi yang harus kusembunyikan.