SAYA SEMPAT RAGU MENULIS CERITA INI.

BUKAN KARENA MALU.

TAPI KARENA SETIAP KALI MENGINGATNYA…

SAYA SELALU TERDIAM LAMA.

SEMUA INI BERMULA KETIKA SAYA MASIH KULIAH DI BANDUNG.

Bandung selalu dingin di pagi hari.

Kabut tipis sering turun di jalan Dipatiukur.

Motor lewat pelan.

Anak-anak kampus jalan sambil bawa kopi sachet.

Aku waktu itu mahasiswa semester tiga.

Hidupku sederhana.

Kuliah.

Ngopi di warung.

Nunggu kiriman uang dari rumah.

Kipas angin di kamar kosku bunyinya berderit tiap malam.

Kadang kalau lagi sepi…

aku cuma duduk di kasur sambil lihat lampu jalan dari jendela.

Hidupku biasa saja.

Sampai suatu malam di kantin kampus.

Temanku, Rian, duduk di depanku.

Dia bilang,

“Bro… pacarku punya temen. Cantik.”

Aku langsung ketawa.

“Lu tiap bulan juga bilang gitu.”

“Ini serius.”

Aku cuma angkat bahu.

Dalam hidupku waktu itu, hal seperti itu terdengar terlalu bagus untuk jadi kenyataan.

Tapi besoknya…

ternyata aku salah.

Kami ketemu di sebuah kafe kecil dekat kampus.

Lampunya redup.

Musik pelan.

Rian datang sama pacarnya.

Dan di belakang mereka…

ada satu perempuan.

Putih.

Bukan putih pucat.

Putih bersih.

Rambutnya lurus.

Senyumnya tenang.

“Kenalin,” kata pacarnya Rian.

“Ini Maya.”

Dia tersenyum sedikit.

“Hi.”

Aku cuma bisa jawab,

“Halo.”

Jujur saja…

dalam hati aku mikir satu hal.

Kenapa perempuan secantik ini mau dikenalin sama gue?

Sejak hari itu kami mulai sering ngobrol.

Awalnya cuma chat.

Lalu makan bareng.

Lalu jalan ke mall.

Lalu nonton.

Aneh.

Dia yang sering ngajak duluan.

Aku yang kadang malah bingung harus ngomong apa.

Suatu malam di Braga.

Kami duduk di trotoar.

Makan jagung bakar.

Lampu jalan kuning redup.

Orang-orang lewat sambil tertawa.

Tiba-tiba dia bilang,

“Aku nyaman sama kamu.”

Aku diam.

Dia lanjut.

“Aku suka kamu.”

Aku bengong.

Serius.

Di kepalaku cuma ada satu pertanyaan.

Apa gue sebenarnya ganteng tapi nggak sadar?

Dia ketawa lihat mukaku.

“Jawab dong.”

Aku akhirnya bilang,

“Ya… kalau kamu nggak salah pilih orang.”

Dia langsung senyum.

Malam itu kami resmi pacaran.

Sejak saat itu hidupku berubah.

Bandung terasa lebih indah.

Kami sering keliling kota.

Makan batagor.

Ngopi di Dago.

Naik motor malam-malam cuma buat beli susu murni di Lembang.

Kadang kami cuma duduk di pinggir jalan.

Ngobrol hal-hal kecil.

Hidup terasa ringan.

Aku bahkan sempat berpikir…

mungkin inilah yang orang sebut bahagia.

Tapi aku belum tahu waktu itu…

ada satu hal tentang Maya yang belum aku ketahui.

Dan hal itu nantinya akan membuatku tidak bisa tidur berhari-hari.

Tiga bulan pertama terasa sempurna.

Sampai suatu sore di musim hujan.

Langit Bandung tiba-tiba gelap.

Aku lagi mengantar Maya pulang ke kosannya.

Hujan turun deras.

Kami berhenti di depan gang kosnya.

Baju kami sudah basah.

Dia melihatku.

“Singgah dulu aja di kamar kosku.”

Aku ragu.

“Nanti masuk angin,” katanya.

Aku akhirnya ikut.

Kamar kosnya kecil.

Kasur.

Lemari plastik.

Kipas angin tua yang bunyinya berderit.

Aku minta izin ke kamar mandi.

Airnya dingin sekali.

Aku bersihin badan.

Keluar cuma pakai handuk.

Dia sudah ganti baju.

Kaos besar warna abu.

Rambutnya masih basah.

Kami duduk di kasur.

Menunggu hujan reda.

Di luar…

suara hujan memukul atap seng.

Kami ngobrol.

Ketawa.

Lalu…

entah siapa yang mulai.

Aku juga tidak tahu.

Yang jelas…

sore itu terjadi sesuatu yang tidak seharusnya terjadi.

Setelah itu kamar jadi sangat sunyi.

Hanya suara hujan.

Aku duduk diam.

Tanganku dingin.

Aku dibesarkan di keluarga yang sangat ketat.

Ayahku selalu bilang satu hal.

“Laki-laki harus bertanggung jawab atas perbuatannya.”

Kalimat itu terus terngiang di kepalaku.

Aku lihat Maya.

Dia terlihat biasa saja.

Dia bahkan tersenyum kecil.

“Kenapa bengong?”

Aku cuma bilang,

“Enggak apa-apa.”

Hari-hari setelah itu berjalan seperti biasa.

Kami tetap pacaran.

Tetap jalan.

Tetap tertawa.

Dan tanpa aku sadari…

aku semakin sayang sama dia.

Sampai lima bulan kemudian.

Suatu malam di parkiran kampus.

Lampu parkiran redup.

Motor lewat satu-satu.

Dia tiba-tiba bilang,

“Aku mau jujur sama kamu.”

Aku menoleh.

“Jujur apa?”

“Tapi kamu jangan marah.”

“Marah kenapa?”

“Janji dulu.”

Aku ketawa kecil.

“Iya, janji.”

Dia tarik napas panjang.

Lalu berkata pelan.

“Sebenarnya… aku seorang janda.”

Dunia terasa berhenti.

Suara motor lewat.

Tapi aku seperti tidak dengar apa-apa.

“Aku… pernah menikah,” katanya lagi.

Tanganku langsung dingin.

Seperti disambar petir.

Dia menunduk.

Lalu berkata pelan.

“Setelah kamu tahu… kamu masih mau sama aku?”

“Atau kamu akan meninggalkan aku?”

Aku tidak bisa menjawab.

Benar-benar tidak bisa.

Kepalaku kosong.

Aku cuma bilang,

“Kita… nggak usah bahas ini dulu.”

Dia mengangguk.

Malam itu kami pulang tanpa banyak bicara.

Tapi sejak malam itu…

hidupku tidak pernah sama lagi.

Karena ternyata…

rahasianya tidak berhenti di situ.

Ada satu hal lagi tentang Maya yang baru aku ketahui jauh setelahnya.

Dan saat aku tahu…

semuanya berubah.

PART KE 2 :

Beberapa bulan setelah malam itu…

Maya akhirnya mengatakan semuanya.

Kami sedang duduk di taman kecil dekat kampus.

Angin dingin Bandung terasa pelan.

Dia memegang tanganku.

Tangannya dingin.

Lalu dia berkata pelan,

“Aku harus jujur semuanya.”

Aku diam.

Lalu dia berkata,

“Aku memang janda…”

“Tapi aku juga punya anak.”

Aku langsung terdiam.

Benar-benar tidak siap mendengar itu.

Dia menangis.

“Aku takut kalau bilang dari awal kamu pergi.”

Anaknya tinggal bersama orang tuanya di luar kota.

Umurnya tiga tahun.

Malam itu aku pulang ke kos dengan kepala penuh pikiran.

Aku ingat wajah ayahku.

Aku ingat kata-katanya.

“Laki-laki harus bertanggung jawab atas perbuatannya.”

Aku tidak tidur malam itu.

Kipas angin di kamar kosku berderit pelan.

Jam dinding berdetak keras.

Aku tahu satu hal.

Aku sudah terlalu sayang pada Maya.

Dan entah kenapa…

aku juga ingin bertemu anak itu.

Beberapa minggu kemudian aku akhirnya bertemu anaknya.

Anak kecil itu berdiri di depan rumah orang tua Maya.

Memegang mobil-mobilan plastik.

Dia melihatku.

Lalu bertanya polos,

“Om siapa?”

Maya terdiam.

Aku jongkok di depan anak itu.

Lalu menjawab pelan.

“Teman mama.”

Anak itu tersenyum.

Senyumnya persis seperti Maya.

Dan anehnya…

hatiku langsung luluh.

Beberapa tahun kemudian…

aku membawa Maya pulang ke rumah orang tuaku.

Ayahku duduk di kursi kayu depan rumah.

Lampu ruang tamu redup.

Aku menceritakan semuanya.

Tentang Maya.

Tentang masa lalunya.

Tentang anaknya.

Ayahku diam lama.

Sangat lama.

Aku takut mendengar jawabannya.

Tapi akhirnya ayahku berkata pelan.

“Kalau kamu mencintai ibunya…”

Ayahku berhenti.

Lalu menatap anak kecil yang berdiri di belakang Maya.

“…anak ini juga cucu saya.”

Maya langsung menangis.

Aku juga.

Dan untuk pertama kalinya…

aku merasa benar-benar menjadi laki-laki.

Sekarang anak itu memanggilku satu kata.

“Pak.”

Dan setiap kali aku mendengarnya…

aku selalu ingat satu hal.

Cinta kadang datang bersama tanggung jawab.

Dan tidak semua orang berani memilihnya.

Kalau kamu membaca cerita ini sampai akhir,

coba tulis satu kata di komentar:

“Tanggung Jawab.”

Similar Posts