AKU MENGHINA WANITA YANG AKU CINTAI DI DEPAN KELUARGANYA SENDIRI. AKU TUDUH DIA WANITA MALAM… DAN MEMBATALKAN PERNIKAHAN KAMI. TAPI BEBERAPA HARI KEMUDIAN… AKU BARU TAU KALAU DIA SELAMA INI MENYEMBUNYIKAN SESUATU DEMI MENJAGA AKU.


Nama gue Kurniawan.
Umur 28.
Kerja di perusahaan swasta di Bekasi. Gaji cukup. Nggak kaya, tapi kalau mau makan di luar tanpa lihat harga, masih bisa.
Hidup gue… biasa aja.
Bangun pagi, berangkat kerja, pulang malam, kadang nongkrong sama temen, kadang rebahan sambil scroll TikTok sampai ketiduran.
Sampai gue kenal Rani.

Dia kasir supermarket.
Pertama kali ketemu, gue lagi buru-buru. Sabun sama mie instan. Antrian panjang. Dia berdiri di balik meja kasir, rambut diikat, wajah agak capek tapi tetap senyum.
“Totalnya dua puluh tiga ribu, Mas.”
Gue masih inget suara itu.
Nggak terlalu lembut. Nggak juga galak.
Pas.
Sejak itu, gue sering sengaja belanja di situ. Padahal rumah gue lebih dekat ke minimarket lain.
Alasan klasik yang semua orang pura-pura nggak ngerti.

Tiga bulan buat berani ngajak ngobrol lebih dari sekadar “pakai kantong?”
Lama-lama jadi chat.
Lalu jadi kebiasaan.
Tiga tahun gue jalan sama Rani.
Nyokap gue suka sama dia.
“Rani itu anaknya sabar,” katanya.
Dan gue setuju.
Dia jarang marah. Jarang nuntut.
Kalau gue telat jemput, dia cuma bilang, “hati-hati di jalan.”
Kalau gue lagi banyak kerjaan, dia nggak maksa ketemu.
Semua terasa… gampang.
Dan gue pikir — ini dia.
Ini perempuan yang bakal gue nikahin.

Hari lamaran.
Ruang tamu rumah Rani penuh.
Piring kue kering. Teh manis. Suara sendok beradu sama gelas.
Gue duduk di samping bokap. Tangan dingin.
Rani keluar dari kamar.
Pakai baju warna krem. Rambutnya digerai.
Dia nggak banyak senyum hari itu.
Tapi matanya… tenang.
Sampai akhirnya bokap gue ngomong. Bokapnya Rani jawab.
“InsyaAllah kita sepakati, dua bulan lagi akad.”
Tepuk tangan kecil.
Nyokap gue langsung nangis.
Rani menunduk.
Gue lihat tangannya.
Gemetar.
Gue pikir dia gugup.
Gue juga.
Tapi ternyata…
Gemetar itu bukan karena bahagia.

Persiapan pernikahan itu melelahkan tapi menyenangkan.
Milih gedung. Catering. Undangan. Baju.
Rani suka banget warna putih.
“Biar bersih,” katanya.
Gue cuma ngikut.
Dan setiap kali gue lihat dia ngomong soal masa depan…
Ada sesuatu yang bikin gue yakin.
Ini benar.
Ini rumah gue nanti.

Sampai satu malam.
Satu malam yang ngerusak semuanya.

Gue lagi nongkrong sama temen lama, Dimas.
Warung kopi pinggir jalan. Plastik biru jadi atap. Lampu kuning redup.
Dimas tiba-tiba diam.
Nggak biasanya. Biasanya dia paling berisik.
“Wan,” katanya pelan.
“Hm?”
Dia lihat ke arah jalan. Bukan ke gue.
“Gue mau ngomong sesuatu… tapi lo jangan langsung marah.”
Gue ketawa kecil. “Apaan sih. Lo utang gue lagi?”
Dia nggak ikut ketawa.
Perut gue langsung nggak enak.
“Rani…”
Gue langsung nengok. “Apa?”
Dimas tarik napas panjang.
“Gue beberapa kali lihat Rani… malam-malam. Sekitar dua minggu sekali.”
Tangan gue berhenti di gelas.
“Terus?”
“Dia keluar dari tempat karaoke, Wan. Jam satu malam.”
Sunyi.
Suara kipas angin berderit.
“Lo yakin itu dia?”
“Yakin. Gue bahkan sempet panggil namanya. Dia nengok.”
Dunia kayak mendadak sempit.
“Penampilannya gimana?” suara gue mulai berat.
Dimas ragu.
“Lebih… dandan.”
Gue ketawa kecil.
Palsu.
“Ya wajar lah. Orang keluar.”
Dimas nggak ikut ketawa.
“Wan. Gue temen lo. Gue nggak bakal ngomong kalau gue nggak yakin.”

Malam itu gue pulang dengan kepala penuh suara.
Gue buka WhatsApp.
Chat terakhir Rani jam 20:13.
“Udah makan belum?”
Sekarang jam 23:48.
Gue ketik.
“Hari ini ngapain aja?”
Centang satu.
Dua.
Nggak dibalas.
Gue tunggu satu jam.
Dua jam.
Jam 01:12.
Baru dibalas.
“Maaf ketiduran tadi.”
Jantung gue kayak ditarik.
Ketiduran.
Jam satu malam.
Gue hampir ngetik: Rani, lo di mana tadi sebenernya?
Tapi jari gue berhenti.
Gue takut jawabannya.
Jadi gue nggak jadi nanya.
Dan keputusan untuk diam itu…
Ternyata yang paling mahal harganya.

Besoknya gue ke supermarket.
Dia ada di kasir. Seperti biasa.
Senyum.
“Mas.”
Seolah nggak ada apa-apa.
Totalnya tiga puluh lima ribu.
Tangannya nyentuh tangan gue sedikit.
Dingin.
“Pulang jam berapa?” gue tanya pelan.
“Seperti biasa. Jam sembilan.”
Gue lihat matanya.
Tenang.
Terlalu tenang.
Dan ketenangan itu yang bikin gue semakin nggak bisa diam.

Malam itu.
Jam 20:45.
Gue sudah parkir di ujung jalan dekat supermarket.
Lampu motor dimatikan.
Jam 21:10 — Rani keluar.
Pakai jaket. Lihat sekeliling.
Gue tahan napas.
Dia jalan.
Tapi bukan ke arah rumah.
Dia naik ojek online.
Gue nyalakan motor. Jaga jarak.
Hujan mulai turun.
Lampu jalan memantul di aspal basah.
Ojek itu berhenti.
Di depan tempat karaoke.
Lampu neon. Musik samar dari dalam.
Rani turun.
Berdiri sebentar.
Tarik napas.
Lalu masuk.

Dunia gue runtuh di situ.
Tanpa suara.

Tiga hari gue nggak hubungi dia.
Dia chat. Telepon.
Gue nggak angkat.
Bukan karena gue nggak sayang.
Tapi karena gue takut kalau gue dengar suaranya…
Gue bakal percaya apapun yang dia bilang.

Hari keempat.
Gue ke rumahnya.
Semua keluarga ada di situ. Lagi bahas persiapan nikahan.
Nyokapnya senyum lihat gue.
“Eh, Kurniawan.”
Rani keluar dari kamar.
Matanya merah.
“Kamu kenapa nggak bisa dihubungi?”
Gue lihat dia lama.
“Rani.”
“Iya?”
Gue tarik napas.
“Pernikahan kita… batal.”
Ruangan langsung sunyi.
Sendok jatuh dari tangan seseorang.
“Lho, maksudnya apa?” nyokapnya berdiri.
Rani kaku.
“Apa?”
Gue nggak lihat siapa-siapa. Cuma dia.
“Gue nggak bisa lanjut.”
Air mata langsung jatuh dari matanya.
“Kenapa?”
Gue diam.
“Ngomong, Wan.” Bokapnya tegas.
Dan gue akhirnya ngomong.
Pelan. Tapi cukup jelas.
“Gue tahu kamu ke karaoke malam-malam.”
Sunyi.
Lebih sunyi dari sebelumnya.
Rani nggak langsung jawab.
Nggak langsung bantah.
Nggak langsung marah.
Dia cuma…
Diam.
Dan diam itu…
Lebih menyakitkan dari kata-kata apapun.
“Jawab!” nyokapnya mulai panik.
Rani akhirnya buka mulut.
“…aku bisa jelasin.”
Gue langsung geleng.
“Udah cukup.”

Gue pergi hari itu.
Tanpa lihat ke belakang.

Seminggu sebelum hari H.
Semua dibatalkan.
Uang hangus.
Nama gue jadi bahan omongan.
Ada yang bilang gue kejam.
Ada yang bilang gue selingkuh.
Ada yang bilang gue takut nikah.
Gue biarin.
Karena yang paling menyiksa bukan omongan orang.
Tapi satu kalimat yang terus muter di kepala gue.
“Aku bisa jelasin.”
Kenapa gue nggak dengerin?

Gue nggak masuk kerja.
HP gue mati.
Gue cuma naik motor.
Tanpa tujuan.
Sampai gue nyasar ke sebuah desa.
Jalan kecil. Sawah di kanan kiri.
Dan hujan turun deras.

Gue berhenti di sebuah warung kosong.
Atap seng bunyi keras kena air.
Baju gue setengah basah.
Gue duduk.
Ngusap muka.
Dan saat itu gue sadar — gue nggak sendiri.

Ada perempuan di ujung warung.
Jilbab sederhana. Tas kecil di tangan.
Wajahnya tenang.
Dia menoleh.
Mata kami bertemu sebentar.
“Mas kehujanan juga?” dia tanya.
“Iya.”
Dia senyum kecil. “Kayaknya hujannya lama.”
Sunyi.
Suara hujan mendominasi.
“Nama saya Kurniawan.”
Dia diam sebentar.
“Aisyah.”

Gue nggak tahu kenapa nama itu nempel.
Mungkin karena di tengah semua yang berantakan…
Suaranya terdengar… biasa aja.
Nggak kasihan. Nggak menghakimi.
Cuma… ada.

Hujan belum berhenti.
Kami masih duduk di situ.
Dan gue nggak tahu kenapa…
Gue akhirnya cerita.
Sedikit.
Tentang perempuan yang gue batalkan pernikahannya.
Aisyah mendengarkan.
Nggak motong.
Nggak komentar.
Sampai gue selesai.
Lalu dia tanya satu hal.
Satu pertanyaan yang bikin gue diam lama.
“Mas pernah tanya langsung ke dia… kenapa?”

Gue nggak bisa jawab.

Karena jawabannya adalah…
Tidak.
Gue nggak pernah tanya.

Dan hujan terus turun.
Tapi kali ini…
Yang paling deras bukan di luar.

Hujan belum reda.

Air masih jatuh keras di atap seng. Bunyinya rapat, kayak nggak kasih ruang buat mikir.

Tapi justru di tengah suara itu…

Kepala gue jadi makin jelas.

“Mas yakin… dia kayak gitu?”

Suara Aisyah pelan.

Nggak menghakimi.

Cuma nanya.

Gue nggak langsung jawab.

Tangan gue masih nempel di wajah. Basah. Entah hujan, entah keringat.

“Atau…” Aisyah lanjut, “Mas cuma lihat satu potongan… terus langsung ambil kesimpulan?”

Gue nengok ke dia.

Tatapannya tenang.

Terlalu tenang.

“Gue lihat sendiri,” jawab gue akhirnya.

“Dia masuk ke tempat karaoke.”

Aisyah mengangguk pelan.

“Jam berapa?”

“Sekitar jam sembilan lebih… terus katanya dia pulang jam sembilan.”

Aisyah diam sebentar.

Seolah lagi nyusun sesuatu di kepalanya.

“Mas tahu dia keluar jam berapa dari sana?”

Gue langsung jawab.

“Nggak.”

Sunyi.

Hanya suara hujan.

“Mas tahu dia kerja apa di sana?”

“Nggak.”

Aisyah tarik napas pelan.

“Mas tahu dia ke sana sendiri atau sama siapa?”

Gue makin kesal.

“Nggak juga.”

Dia mengangguk lagi.

Nggak nge-judge.

Tapi setiap anggukan itu…

Kayak mukul gue pelan-pelan.

“Mas tahu… kenapa dia nggak langsung bantah waktu dituduh?”

Gue langsung jawab.

“Karena dia salah.”

Cepat.

Keras.

Seolah gue lagi meyakinkan diri sendiri.

Aisyah nggak langsung jawab.

Dia cuma lihat hujan.

Lama.

“Kadang,” katanya pelan, “orang itu diam bukan karena salah.”

Gue nengok.

“Tapi karena capek… harus jelasin sesuatu yang dia tahu… nggak akan dipercaya.”

Kata-kata itu…

Nempel.

Nggak enak.

Gue langsung berdiri.

“Udah. Gue pulang.”

Aisyah juga berdiri.

“Mas…”

Gue berhenti.

“Kalau memang Mas sudah yakin… ya nggak apa-apa.”

Dia jeda.

“Tapi kalau belum… jangan bawa penyesalan terlalu lama.”

Gue nggak jawab.

Gue langsung jalan ke motor.

Mesin gue nyalakan.

Dan gue pergi.

Sepanjang jalan…

Kata-kata itu muter terus.

“Mas tahu dia keluar jam berapa?”

“Mas tahu dia kerja apa?”

“Mas tahu dia sama siapa?”

Semua jawabannya sama.

Nggak.

Dan untuk pertama kalinya…

Gue ngerasa…

Gue mungkin terlalu cepat.

Malam itu gue pulang.

Rumah gelap.

Nyokap belum pulang dari rumah tante.

Gue duduk di ruang tamu.

Sepatu masih nempel di kaki.

Motor masih panas di luar.

Gue ambil HP.

Nyalain.

Puluhan notifikasi masuk.

Chat Rani.

Banyak.

“Wan tolong angkat…”

“Aku bisa jelasin…”

“Kamu salah paham…”

“Please jangan kayak gini…”

Tangan gue gemetar.

Gue scroll.

Scroll.

Scroll.

Ada satu chat.

Yang beda.

Dari nomor nggak dikenal.

“Mas Kurniawan?”

Gue buka.

“Saya ibu dari Rani. Bisa kita bicara?”

Jantung gue langsung kencang.

Gue lihat jam.

23:47.

Gue balas.

“Iya, Bu.”

Typing…

“Besok pagi bisa ke rumah?”

Gue diem.

Lama.

Jempol gue di layar.

Ragu.

Tapi akhirnya…

Gue ketik.

“Bisa.”

Gue nggak tidur malam itu.

Pagi.

Udara masih dingin.

Jalanan basah.

Gue berdiri di depan rumah Rani lagi.

Rumah yang harusnya minggu depan jadi tempat gue datang sebagai suami.

Sekarang…

Gue datang sebagai orang yang menghancurkan semuanya.

Gue ketuk pintu.

Ibunya yang buka.

Wajahnya sembab.

Tapi nggak marah.

“Masuk, Wan.”

Gue masuk.

Ruang tamu sepi.

Nggak ada siapa-siapa.

“Rani di mana, Bu?”

Ibunya duduk.

“Nanti dulu.”

Gue ikut duduk.

Tangan gue di paha.

Kering.

Tegang.

Ibunya tarik napas panjang.

“Kamu pikir… Rani kerja apa malam-malam itu?”

Gue langsung jawab.

“Karaoke.”

Ibunya mengangguk pelan.

“Iya.”

Jantung gue berhenti satu detik.

“Tapi kamu tahu dia ngapain di sana?”

Gue diam.

Ibunya berdiri.

Masuk ke kamar.

Gue nunggu.

Suara lemari dibuka.

Barang digeser.

Dia keluar.

Bawa sesuatu.

Sebuah map coklat.

Dia kasih ke gue.

“Tolong dibuka.”

Tangan gue pelan buka map itu.

Di dalamnya…

Ada beberapa lembar kertas.

Gue lihat satu per satu.

Struk pembayaran.

Tanggalnya…

Setiap dua minggu.

Nominalnya besar.

Rumah sakit.

Gue mengernyit.

“Apa ini, Bu?”

Ibunya duduk lagi.

Matanya mulai basah.

“Itu… biaya berobat.”

“Siapa?”

Ibunya nggak langsung jawab.

Dia lihat gue.

Dalam.

“Buat kamu.”

Dunia gue langsung berhenti.

“…apa?”

Ibunya lanjut.

Suara mulai pecah.

“Rani nggak pernah cerita ya?”

Gue nggak bisa jawab.

“Tiga bulan lalu… kamu pernah pingsan di tempat kerja, kan?”

Gue langsung kaku.

Iya.

Gue inget.

Tiba-tiba pusing.

Jatuh.

Dibawa ke klinik.

Dokter bilang…

Harus cek lebih lanjut.

Tapi gue nggak pernah lanjut.

“Rani yang lanjut,” kata ibunya.

Gue langsung angkat kepala.

“Apa maksudnya?”

Ibunya ngeluarin satu kertas lagi.

Hasil lab.

Nama gue.

Dan satu kata…

Yang bikin dada gue sesak.

“Gagal ginjal tahap awal.”

Gue langsung berdiri.

“Kok bisa—?”

“Rani yang ambil hasilnya,” ibunya potong.

“Dia nggak mau kamu tahu dulu.”

Gue mundur satu langkah.

“Dia bilang… kamu lagi stres kerja. Takut kamu drop.”

Suara gue mulai pecah.

“Terus… karaoke itu…?”

Ibunya nangis sekarang.

“Itu bukan kerja seperti yang kamu pikir.”

Gue menatap dia.

“Dia nyanyi… buat cari tambahan.”

Sunyi.

“Semua uangnya… dia kumpulin.”

“Buat biaya pengobatan kamu.”

Kaki gue lemas.

“Dia nggak mau kamu tahu… karena dia takut…”

Ibunya nggak bisa lanjut.

Gue hampir jatuh.

Semua potongan…

Langsung nyambung.

Kenapa dia pulang malam.

Kenapa dia sering capek.

Kenapa dia nggak banyak senyum di hari lamaran.

Dan kenapa…

Dia diam.

Bukan karena dia salah.

Tapi karena dia tahu…

Gue nggak akan percaya.

Dan sekarang…

Gue yang nggak bisa bernapas.

“Rani di mana, Bu?”

Ibunya nangis.

“Dia pergi.”

Jantung gue langsung jatuh.

“Ke mana?!”

Ibunya geleng.

“Dia cuma bilang… dia nggak mau jadi beban lagi.”

Dunia gue runtuh untuk kedua kalinya.

Dan kali ini…

Bukan karena dia.

Tapi karena gue.

“Dia pergi.”

Kalimat itu masih menggantung di kepala gue.

Berat.

Kayak nggak mau turun.

“Ke mana, Bu? Dia pergi ke mana?!”

Suara gue naik.

Nggak bisa ditahan.

Ibunya cuma geleng.

“Aku nggak tahu pasti… dia cuma bilang mau pergi sebentar.”

Sebentar.

Kata yang nggak ada artinya kalau orangnya hilang.

“Kapan dia pergi?”

“Tadi subuh.”

Gue langsung keluar rumah.

Nggak pamit.

Nggak mikir.

Motor gue nyala kasar.

Ban nyiprat air.

Jalan masih basah.

Kepala gue cuma satu:

RANI.

Gue buka HP.

Chat dia.

Terakhir online: semalam.

Gue telepon.

“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.”

Sekali.

Dua kali.

Sepuluh kali.

Sama.

Tangan gue gemetar di setang.

Gue berhenti di pinggir jalan.

Napas gue nggak beraturan.

Gue baru sadar…

Gue nggak tahu harus nyari dia ke mana.

Tiga tahun.

Tiga tahun bareng.

Tapi ternyata…

Gue nggak benar-benar kenal hidupnya.

Dan itu yang paling nyakitin.

Gue langsung inget satu tempat.

Supermarket.

Mungkin dia ke sana.

Gue gas motor.

Sampai di sana…

Pintu masih setengah buka.

Karyawan baru masuk.

Gue langsung ke dalam.

“Mas, Rani masuk hari ini?” gue tanya ke salah satu kasir.

Cewek itu nengok.

Mikir sebentar.

“Rani? Nggak, Mas. Dia izin beberapa hari.”

Jantung gue makin turun.

“Izin ke mana?”

Dia geleng.

“Kurang tahu.”

Gue berdiri di situ.

Kosong.

Tempat ini…

Tempat pertama gue lihat dia.

Tempat gue jatuh cinta.

Dan sekarang…

Nggak ada dia.

Gue keluar lagi.

Hujan sudah berhenti.

Tapi langit masih abu-abu.

Gue duduk di motor.

Lama.

Sampai tiba-tiba…

HP gue bunyi.

WhatsApp.

Nomor baru.

Jantung gue langsung naik.

Gue buka.

“Mas Kurniawan?”

Gue langsung ketik.

“Rani?!”

Balasan datang cepat.

“Bukan.”

Jantung gue turun lagi.

“Saya Siska.”

Gue mikir.

Siska…

Teman Rani.

Yang pernah beberapa kali ketemu.

“Rani di mana?!” gue langsung ketik.

Typing…

“Mas… kita bisa ketemu?”

“Di mana?”

Dia kirim lokasi.

Sebuah rumah kecil.

Di pinggir kota.

Tanpa mikir panjang…

Gue langsung jalan.

Perjalanan 40 menit.

Tapi rasanya kayak berjam-jam.

Gue sampai.

Rumah sederhana.

Pintu kayu.

Cat mulai pudar.

Gue ketuk.

Siska yang buka.

Wajahnya tegang.

“Mas Kurniawan…”

“Rani di mana?” gue langsung potong.

Dia nggak langsung jawab.

“Mas masuk dulu.”

Gue masuk.

Ruang tamu kecil.

Kipas angin muter pelan.

Bau minyak kayu putih.

Ada satu tas di sudut.

Tas yang gue kenal.

Tas Rani.

Jantung gue langsung berisik.

“Dia di mana, Sis?”

Siska duduk.

Tangan saling menggenggam.

“Mas… sebelum saya jawab…”

Gue nggak sabar.

“Dia di mana?!”

Siska kaget.

Dia tarik napas.

“Rani semalam ke sini.”

“Terus?!”

“Dia nangis.”

Dada gue langsung sesak.

“Dia bilang… dia sudah hancurin semuanya.”

Gue mundur satu langkah.

“Dia bilang… dia nggak mau lagi ganggu hidup Mas.”

“Terus dia ke mana sekarang?!”

Siska menunduk.

“Dia pergi lagi subuh tadi.”

“Ke mana?!”

“Ke pesantren.”

Gue langsung diam.

“Pesantren?”

Siska mengangguk.

“Di desa.”

Jantung gue langsung nyambung.

Desa.

Hujan.

Warung.

Aisyah.

Semua langsung klik.

“Namanya… Aisyah?” gue tanya pelan.

Siska kaget.

“Iya… Mas kenal?”

Gue nggak jawab.

Gue langsung keluar.

Motor gue nyala lagi.

Dan kali ini…

Gue tahu harus ke mana.

Sepanjang jalan…

Semua memori muter.

Rani diam.

Rani capek.

Rani sering nolak dijemput malam.

Dan gue…

Nggak pernah benar-benar tanya.

Gue cuma menilai.

Dan menghancurkan semuanya.

Jalan desa mulai terlihat.

Sawah di kanan kiri.

Udara dingin.

Gue ngebut.

Sampai akhirnya…

Gue lihat itu lagi.

Warung kecil.

Atap seng.

Tempat gue ketemu Aisyah.

Gue berhenti.

Turun.

Langkah gue cepat.

Dan di sana…

Di ujung warung…

Ada Aisyah.

Dan…

Ada satu orang lagi di sampingnya.

Perempuan.

Duduk.

Menunduk.

Pakai jaket.

Gue kenal itu jaket.

Jaket Rani.

Jantung gue berhenti.

“Rani…”

Suara gue pelan.

Dia pelan angkat kepala.

Mata kami bertemu.

Dan di detik itu…

Gue lihat sesuatu yang belum pernah gue lihat sebelumnya.

Bukan marah.

Bukan benci.

Tapi…

Hilang.

Seolah…

Gue sudah bukan siapa-siapa lagi buat dia.

Dan itu…

Lebih menyakitkan dari apapun.

“Rani…”

Suara gue pecah.

Kecil.

Nggak seperti biasanya.

Dia lihat gue.

Tapi nggak bangkit.

Nggak lari.

Nggak nangis.

Cuma… diam.

Aisyah berdiri pelan.

Ngasih ruang.

“Mas… saya tunggu di dalam,” katanya.

Lalu dia masuk ke warung.

Tinggal gue.

Dan Rani.

Dan hujan yang sudah berhenti.

Tapi tanah masih basah.

Langkah gue mendekat.

Pelan.

Kayak takut dia hilang kalau gue terlalu cepat.

“Rani…”

Dia tetap duduk.

Tangannya saling menggenggam.

“Aku udah tahu semuanya.”

Nggak ada reaksi.

“Maaf…”

Kata itu keluar.

Tapi terasa… kecil.

Murah.

Nggak sebanding sama apa yang gue lakuin.

“Aku salah.”

Rani akhirnya bicara.

Pelan.

Tanpa lihat gue.

“Udah, Wan.”

Dada gue langsung sesak.

“Udah nggak usah dibahas.”

Gue langsung jongkok di depannya.

“Nggak bisa, Ran.”

Dia geleng.

Pelan.

“Bisa.”

Akhirnya dia lihat gue.

Matanya bengkak.

Merah.

“Aku capek.”

Kalimat itu…

Lebih berat dari marah.

“Capek harus jelasin sesuatu yang kamu bahkan nggak mau denger.”

Gue langsung diam.

“Capek harus pura-pura kuat.”

Tangannya makin erat.

“Capek harus sembunyi-sembunyi…”

Suaranya mulai pecah.

“…demi orang yang malah ninggalin aku di depan semua orang.”

Gue nggak bisa jawab.

Semua yang dia bilang…

Bener.

Gue tarik napas.

“Aku takut, Ran.”

Dia langsung ketawa kecil.

Pahit.

“Takut?”

“Iya.”

Gue lihat matanya.

“Aku takut kehilangan kamu… tapi aku malah kehilangan kamu karena aku nggak percaya sama kamu.”

Sunyi.

Angin lewat pelan.

“Aku nggak tahu kamu sakit,” gue lanjut.

Dia langsung potong.

“Bukan kamu yang sakit.”

Gue kaget.

“Terus…?”

Dia diam sebentar.

“Aku.”

Dunia gue langsung berhenti.

“Apa?”

Dia tersenyum kecil.

Lelah.

“Aku yang sakit, Wan.”

Gue langsung berdiri.

“Apa maksud kamu?!”

“Ginjal.”

Kaki gue lemas lagi.

“Sudah dari sebelum kita lamaran.”

Gue mundur satu langkah.

“Kenapa kamu nggak bilang?!”

Dia langsung jawab.

Cepat.

“Karena aku tahu kamu.”

Gue diam.

“Kamu pasti bakal batalin semuanya.”

Gue langsung geleng.

“Nggak! Aku—”

“Kamu bahkan batalin pernikahan cuma karena kamu lihat aku masuk karaoke.”

Kata-kata itu…

Nusuk.

Gue nggak bisa lanjut.

“Aku cuma pengen… sebelum semuanya terlambat…”

Dia tarik napas.

“…aku punya cukup uang buat berobat. Tanpa nyusahin kamu.”

Gue lihat dia.

Tangannya kurus.

Wajahnya pucat.

Dan gue…

Baru sadar.

Selama ini…

Gue nggak pernah benar-benar lihat dia.

“Aku nyanyi di karaoke itu…”

Dia lanjut.

“…bukan buat gaya hidup. Bukan buat senang-senang.”

Air matanya jatuh.

“Buat hidup.”

Gue langsung tutup muka.

Semua potongan…

Sekarang lengkap.

Kenapa dia capek.

Kenapa dia sering diam.

Kenapa dia nggak bantah.

Dan kenapa…

Dia siap kehilangan gue.

“Aku nggak mau kamu nikahin aku… terus kamu harus tanggung semuanya,” katanya pelan.

“Aku nggak mau jadi beban.”

Gue langsung jongkok lagi.

“Kamu bukan beban.”

Dia nggak jawab.

“Kamu itu… alasan.”

Dia lihat gue.

“Alasan aku harus berubah. Alasan aku harus jadi lebih baik.”

Sunyi.

“Rani…”

Gue genggam tangannya.

Dingin.

“Kita nikah.”

Dia langsung geleng.

“Nggak.”

“Kita nikah. Kita jalanin bareng.”

Dia tarik tangannya.

“Nggak bisa.”

“Kenapa?!”

Dia nangis sekarang.

“Karena aku nggak mau kamu nikah sama orang yang mungkin… nggak lama lagi ada.”

Dunia gue langsung hancur.

“Jangan ngomong gitu!”

“Ini kenyataan, Wan.”

Gue geleng keras.

“Belum tentu!”

“Aku sudah cek.”

Sunyi.

Gue nggak tahu harus ngomong apa.

Semua ini…

Terlalu banyak.

Gue berdiri.

“Aisyah!”

Dia keluar dari dalam.

“Iya, Mas?”

“Pesantren ini… ada dokter?”

Aisyah mengangguk.

“Ada relawan. Tapi terbatas.”

Gue langsung ambil HP.

Jari gue cepat.

Gue buka kontak.

Rumah sakit.

Nomor lama.

Yang dulu gue abaikan.

Gue telepon.

Rani langsung berdiri.

“Kamu mau apa?!”

Gue lihat dia.

“Kali ini… aku nggak mau salah lagi.”

Telepon nyambung.

Dan di detik itu…

Untuk pertama kalinya sejak semuanya hancur…

Gue tahu satu hal.

Gue belum terlambat.

“Selamat siang, dengan bagian pendaftaran.”

Suara di seberang telepon terdengar biasa.

Sementara tangan gue gemetar.

“Saya mau daftar pemeriksaan ginjal. Hari ini. Sekarang.”

“Untuk siapa, Pak?”

Gue lihat Rani.

Dia berdiri kaku.

Mata merah.

“Istri saya.”

Dia langsung geleng keras.

“Nggak, Wan—”

Gue tutup mic.

Lihat dia.

“Kali ini… dengerin aku.”

Sunyi.

Dia berhenti.

Nggak ngomong lagi.

Gue lanjut bicara.

“Iya, Bu. Nama Rani. Kami jalan sekarang.”

Telepon ditutup.

Gue langsung jalan ke motor.

“Wan… jangan.”

Suara Rani pelan.

Lemah.

Gue berhenti.

Noleh.

“Naik.”

Dia tetap di tempat.

“Aku nggak mau kamu repot.”

Gue tarik napas.

Pelan.

“Rani…”

Gue jalan balik.

Dekat.

“Dulu kamu sembunyiin semuanya… karena kamu takut nyusahin aku.”

Dia diam.

“Sekarang aku tahu semuanya… dan aku tetap di sini.”

Mata dia mulai basah lagi.

“Kalau kamu tetap nolak… itu berarti kamu nggak percaya sama aku.”

Dia langsung lihat gue.

Kena.

Beberapa detik…

Nggak ada suara.

Lalu pelan…

Dia jalan.

Naik ke motor.

Dan itu…

Langkah pertama kita buat benerin semuanya.

Perjalanan ke rumah sakit sepi.

Nggak ada obrolan.

Cuma suara angin dan mesin.

Tapi kali ini…

Sunyinya beda.

Bukan karena jauh.

Tapi karena lagi sama-sama kuat.

Sampai di rumah sakit.

Bau khas langsung nyambut.

Obat.

Antiseptik.

Lantai putih dingin.

Gue urus pendaftaran.

Cepat.

Rani duduk di kursi.

Diam.

Tangannya di pangkuan.

Gue duduk di sampingnya.

Gue pegang tangannya.

Dia nggak nolak.

“Maaf,” gue bilang pelan.

Dia nggak jawab.

Tapi tangannya…

Balas genggam.

Itu cukup.

Panggilan masuk.

“Rani.”

Kita berdiri.

Masuk.

Dokter cek.

Tanya.

Periksa.

Gue nggak banyak ngerti istilahnya.

Tapi gue lihat wajah dokter.

Serius.

“Masih tahap awal,” katanya akhirnya.

Gue langsung tahan napas.

“Masih bisa ditangani. Tapi harus rutin kontrol.”

Rani langsung nangis.

Gue langsung pegang tangannya lebih erat.

“Bisa sembuh, Dok?” suara gue pelan.

Dokter angguk.

“InsyaAllah, kalau disiplin.”

Kata itu…

Kayak napas pertama setelah tenggelam.

Keluar dari ruangan.

Rani masih nangis.

Tapi kali ini…

Bukan sedih.

Lega.

Gue peluk dia.

Di lorong rumah sakit.

Orang lewat.

Gue nggak peduli.

“Maaf aku bodoh banget,” gue bisik.

Dia ketawa kecil di tengah nangis.

“Iya.”

Jawaban itu…

Bikin gue hampir ketawa juga.

“Masih mau nikah sama orang bodoh kayak aku?”

Dia diem.

Beberapa detik.

Lalu…

Dia angguk.

“Asal kamu nggak lari lagi.”

Gue senyum.

“Nggak akan.”

Dan kali ini…

Gue serius.

Beberapa minggu kemudian.

Rumah Rani.

Ruang tamu yang sama.

Yang dulu jadi tempat gue menghancurkan semuanya.

Sekarang…

Jadi tempat gue memperbaikinya.

Keluarga duduk lagi.

Suasana tegang.

Gue berdiri.

Di depan.

“Om… Tante…”

Suara gue agak serak.

“Saya minta maaf.”

Gue tunduk.

Dalam.

“Saya sudah mempermalukan Rani… di depan semua orang.”

Sunyi.

“Saya salah.”

Gue angkat kepala.

“Tapi saya datang lagi… bukan cuma buat minta maaf.”

Gue lihat Rani.

“Tapi buat minta kesempatan.”

Ibunya Rani nangis.

Bokapnya diam.

Lama.

Lalu…

Dia berdiri.

Jalan ke arah gue.

Gue siap.

Kalau dia marah.

Kalau dia usir gue.

Tapi…

Dia tepuk bahu gue.

“Jangan diulang lagi.”

Dada gue langsung ringan.

“Iya, Om.”

Hari akad.

Nggak mewah.

Nggak besar.

Tapi hangat.

Rani pakai baju putih.

Seperti yang dia mau.

Wajahnya tenang.

Kali ini…

Bukan pura-pura.

Gue duduk.

Di depan penghulu.

Tangan gue dingin.

Tapi hati gue… penuh.

Ijab kabul.

Sekali napas.

“Sah.”

Suara itu…

Bikin semuanya berhenti sebentar.

Lalu…

Tangis.

Senyum.

Gue lihat Rani.

Dia nangis.

Gue juga.

Dan untuk pertama kalinya…

Gue benar-benar ngerti.

Cinta itu bukan soal percaya saat semuanya baik-baik aja.

Tapi saat semuanya hancur…

Dan lo tetap milih buat bertahan.

Gue genggam tangannya.

Kali ini…

Nggak akan gue lepas lagi.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *