SELAMA BERBULAN-BULAN AKU BAYAR TAGIHAN RUMAH TANPA MEREKA TAU. PAS MEREKA TAU AKU PUNYA UANG… MEREKA MALAH NUDUH AKU JUAL DIRI. DI SITU… AKU BARU SADAR, MEREKA GAK PERNAH BENAR-BENAR KENAL AKU.
—
Nama gue Safira.
Gue tinggal di rumah kecil di gang sempit. Dindingnya agak lembab. Catnya mulai pudar. Kalau hujan, bau tanah basah masuk sampai ruang tamu.
Di situ… ada studio kecil.
Lampu besar. Tripod. Background foto warna abu-abu yang udah mulai kusam.
Orang tua gue fotografer.
Harusnya keren.
Tapi kenyataannya… gak seindah itu.
—
Dulu rumah gue rame.
Setiap weekend ada suara orang ketawa.
Anak kecil nangis pas difoto.
Lampu studio panas.
Bokap sibuk ngatur pose.
Nyokap sibuk benerin rambut klien.
“Senyum dikit, Bu… iya, bagus…”
“Mas, bahunya agak miring…”
“Cekrek.”
Dulu suara itu sering banget kedengeran.
Sekarang?
Jarang.
—
Sekarang yang sering gue denger cuma kipas angin tua di ruang tamu.
Berderit.
Pelan.
Kadang berhenti sebentar.
Terus muter lagi.
Kayak maksa hidup.
—
Hari-hari gue ya di kamar.
Pintu setengah ketutup.
Lampu redup.
Laptop nyala.
Gue duduk di lantai.
Kadang sambil makan mie instan.
Kadang sambil minum air galon langsung dari gelas plastik.
Dunia gue ya di layar.
Game.
Forum.
Coding.
—
Gue gak pernah bener-bener ngobrol sama mereka.
Bukan karena berantem.
Tapi karena… gak pernah ada waktu.
—
Bokap sibuk cari klien.
Nyokap sibuk ngedit foto.
Kalau gak ada kerjaan… mereka diem.
Kayak lagi mikir sesuatu yang berat.
—
Suatu sore.
Gue lagi di kamar.
Laptop di pangkuan.
Tiba-tiba suara nyokap dari ruang tamu.
“Man… bulan ini sepi banget…”
Gue berhenti ngetik.
—
“Udah coba hubungi klien lama?” bokap nanya.
“Udah… banyak yang gak jawab.”
—
Sunyi.
—
Gue nahan napas.
Dengerin.
—
“Sekarang orang lebih pilih fotografer muda…” nyokap ngomong pelan.
“…yang editannya lebih kekinian.”
—
Bokap gak jawab.
—
Beberapa detik kemudian.
“Ya udah… nanti juga ada.”
Tapi nadanya… gak yakin.
—
Gue nengok layar laptop.
Code berantakan.
Game kecil yang gue bikin.
Karakter pixel lompat-lompat.
Nabrak tembok.
Reset.
—
Kayak hidup di rumah ini.
—
Hari itu gue kepikiran.
Kalau gue terus diem… ini bakal makin parah.
—
Awalnya gue cuma coba-coba.
Belajar dari YouTube.
Dari forum.
Dari orang asing yang gak pernah gue temui.
—
Gue bikin website kecil.
Jelek.
Tapi jalan.
—
Gue bikin game.
Sederhana.
Kadang error.
Kadang crash.
—
Gue upload.
Gue tunggu.
—
Gak ada apa-apa.
—
Tapi gue gak berhenti.
—
Malam-malam gue jadi panjang.
Jam 1.
Jam 2.
Jam 3.
Lampu kamar gue masih nyala.
—
Kadang nyokap lewat depan kamar.
Langkahnya pelan.
Sendalnya nyeret di lantai.
—
Dia berhenti sebentar.
Kayak mau ngomong.
Tapi gak jadi.
—
Langkahnya lanjut.
—
Dan gue… lanjut ngetik.
—
Sampai suatu hari.
—
Notifikasi masuk.
Email.
—
Gue buka.
—
“Payment received.”
—
Gue bengong.
—
Ada orang beli.
Game gue.
—
Cuma satu.
Tapi itu nyata.
—
Gue ketawa pelan.
Sendiri.
Di kamar.
Jam 2 pagi.
—
Sejak itu…
Gue mulai serius.
—
Gue belajar lebih dalam.
Bikin game yang lebih bagus.
Lebih rapi.
Lebih niat.
—
Uang mulai masuk.
Awalnya kecil.
—
Terus nambah.
—
Terus nambah lagi.
—
Gue buka rekening sendiri.
Gue simpan semua di situ.
—
Dan gue mulai bantu.
Diam-diam.
—
Bayar listrik.
Transfer ke rekening nyokap.
Tanpa nama.
—
Besoknya gue denger.
“Man… ada transfer masuk…”
—
“Dari siapa?”
—
“Gak tau…”
—
Bokap ketawa kecil.
“Rejeki.”
—
Gue di kamar.
Denger.
—
Gue senyum tipis.
—
Bulan berikutnya.
Air.
Internet.
—
Semua gue bantu.
Diam-diam.
—
Tapi lama-lama…
Mereka mulai curiga.
—
“Ini siapa sih, Man…”
“Takutnya…”
Kalimatnya gak selesai.
—
Gue hampir cerita.
Beberapa kali.
Udah berdiri di depan ruang tamu.
—
Tapi gak jadi.
—
Karena setiap gue coba…
Selalu berhenti di tengah.
—
Sampai satu malam.
—
Hujan deras.
Suara air jatuh di atap seng.
—
Bokap duduk di ruang tamu.
Sendiri.
Lampu redup.
—
Gue keluar kamar.
Jarang banget.
—
“Pak…”
—
Dia nengok.
Kaget dikit.
“Iya?”
—
Gue duduk di depan dia.
Canggung.
—
“Kalau… misalnya dapet uang dari internet…”
—
Belum selesai gue ngomong.
Dia langsung potong.
—
“Kamu jangan aneh-aneh ya.”
—
Nada suaranya langsung tegang.
—
“Sekarang banyak yang gak bener di internet.”
—
Gue diem.
—
“Papa gak mau kamu ikut-ikutan.”
—
Gue nelen ludah.
—
“Udah. Fokus sekolah aja.”
—
Selesai.
—
Gue balik ke kamar.
Pintu gue tutup.
—
Klik.
—
Sejak itu…
Gue gak pernah coba cerita lagi.
—
Waktu jalan terus.
—
Uang gue makin banyak.
—
Jauh lebih banyak dari yang gue kira.
—
Gue upgrade laptop.
Diam-diam.
—
Gue beli domain.
Server.
—
Semua gue urus sendiri.
—
Dan di luar kamar…
Rumah gue makin sepi.
—
Sampai akhirnya…
Hari itu datang.
—
Pagi.
Biasa.
—
Gue lagi di kamar.
Laptop nyala.
—
Gue sempet keluar bentar.
Ambil minum di dapur.
HP gue gue tinggal di meja makan.
—
Gue balik lagi ke kamar.
Lupa.
—
Beberapa menit kemudian…
—
BRAK.
—
Pintu kamar gue kebuka.
—
Nyokap berdiri di situ.
Nafasnya cepat.
Tangannya gemetar.
—
Di belakangnya… bokap.
Mukanya tegang.
—
“Safira.”
—
Gue langsung berdiri.
“Kenapa, Ma?”
—
Dia maju.
—
“Ini duit dari mana?”
—
Jantung gue langsung kenceng.
—
“Duit apa?”
—
Bokap maju.
Naruh sesuatu di depan muka gue.
—
HP gue.
—
Yang tadi gue tinggal di meja makan.
—
Layar banking masih kebuka.
—
Saldo.
—
Besar.
—
Gue beku.
—
“Kamu kira kami gak tau?”
Suara bokap berat.
—
“Tiap malam kamu pegang HP… uang masuk terus.”
—
Gue buka mulut.
Tapi gak keluar suara.
—
Nyokap nangis.
—
“Saf… kamu ngapain…”
—
Gue panik.
“Ma, ini bukan—”
—
“DARI MANA UANGNYA?!”
—
Suara bokap meledak.
—
Dia nafas berat.
—
“Papa udah liat sendiri di internet!”
—
Gue langsung nengok.
—
“Anak-anak sekarang banyak yang kayak gitu!”
—
Dia nunjuk gue.
—
“Dapet duit gede… gak jelas… dari internet!”
—
Nyokap nutup mulut.
Nangis.
—
“Papa gak mau kamu… ikut-ikutan begitu…”
—
Dan di situ…
Kalimat itu keluar.
—
Pelan.
—
Tapi paling nyakitin.
—
“Kamu jual diri ya?”
—
Semua langsung sunyi.
—
Gue cuma liat mereka.
—
Orang tua gue.
—
Yang… bahkan gak kenal gue.
—
Air mata gue jatuh.
—
“Mereka udah punya jawaban sendiri.”
—
Gue jalan ke meja.
Ambil laptop.
—
Tangan gue gemetar.
—
“Kalau kalian mau tau…”
—
Gue buka layar.
—
“Ini.”
—
Dan saat gue mulai nunjukin semuanya…
Di pojok layar…
Masih kebuka satu email.
—
Subjeknya:
“Regarding acquisition proposal…”
—
Gue belum sempat nutup itu.
—
Dan itu…
Hal pertama yang dilihat bokap.
—
Mukanya langsung berubah.
—
Bukan marah.
—
Bukan curiga.
—
Tapi…
Takut.
—
Bokap gak langsung ngomong.
Matanya nempel di layar laptop.
Di pojok kanan atas.
Email itu.
—
“Regarding acquisition proposal…”
—
Ruangan tiba-tiba sepi.
Cuma suara hujan yang masih jatuh di luar.
Dan suara kipas yang berderit pelan.
—
“Saf…”
Suara bokap berubah.
Lebih pelan.
Lebih hati-hati.
—
“Ini… apa lagi ini?”
—
Gue nengok layar.
Baru sadar.
Email itu masih kebuka.
—
Gue tarik napas.
“Pak… itu—”
—
“Acquisition itu apa?”
Dia potong.
—
Gue diem sebentar.
Nyari kata yang paling gampang.
—
“Orang… mau beli semua yang aku bikin.”
—
Sunyi.
—
Nyokap yang tadi nangis… sekarang berhenti.
Dia nengok ke layar.
—
“Beli… gimana maksudnya?”
—
Gue geser laptop ke tengah.
Biar mereka lihat lebih jelas.
—
“Website aku. Game aku. Sistemnya… semuanya.”
—
Bokap maju.
Bener-bener deket sekarang.
Matanya baca satu-satu.
Pelan.
—
Tangannya gemetar sedikit.
—
“Ini… beneran?”
—
“Iya, Pak.”
—
“Ini bukan… penipuan?”
—
Gue langsung buka email lain.
Balasan sebelumnya.
Nama perusahaan.
Alamat.
Website resmi.
—
“Ini mereka.”
—
Bokap masih liat.
Masih belum percaya sepenuhnya.
—
Nyokap duduk di kursi.
Pelan.
Kayak kakinya lemes.
—
“Saf…”
Dia ngomong pelan.
—
“Iya, Ma?”
—
“Kamu… selama ini… sendirian?”
—
Pertanyaan itu…
Lebih nyakitin dari tuduhan tadi.
—
Gue gak langsung jawab.
—
Gue cuma liat mereka.
—
“Iya.”
—
Sunyi lagi.
—
Bokap narik kursi.
Duduk.
Tatapannya turun.
—
Dia gak liat gue.
Gak liat laptop.
—
Dia liat lantai.
—
“Papa kira…”
Dia berhenti.
—
Tangannya nutup muka.
—
“Papa kira kamu…”
—
Kalimatnya gak selesai.
—
Nyokap nangis lagi.
Tapi kali ini beda.
Bukan panik.
Lebih ke… hancur.
—
“Maafin Mama, Saf…”
—
Gue genggam tangan dia.
Dingin.
—
“Udah, Ma…”
—
Tapi dalam kepala gue…
Masih berisik.
—
Semua yang tadi terjadi…
Masih muter.
—
Tuduhan.
Nada suara.
Tatapan mereka.
—
Gak hilang.
—
Bokap akhirnya angkat kepala.
Matanya merah.
—
“Angkanya… Saf…”
—
Dia nunjuk layar.
—
“Ini… nolnya bener?”
—
Gue nengok.
—
Angka itu masih di situ.
—
Gue ngangguk pelan.
—
“Iya, Pak.”
—
Dia ketawa kecil.
Aneh.
Kayak gak percaya.
—
“Segini… dari… ini?”
Dia nunjuk game gue.
—
“Iya.”
—
Sunyi lagi.
—
“Kenapa kamu gak pernah cerita?”
—
Pertanyaan itu balik lagi.
—
Gue tarik napas.
—
“Karena waktu aku mau cerita… Papa udah mutusin duluan.”
—
Bokap langsung diem.
—
Gue lanjut.
—
“Papa bilang aku jangan aneh-aneh.”
—
Gue senyum tipis.
—
“Ya udah… aku gak cerita lagi.”
—
Nyokap nutup muka.
—
Bokap nunduk.
—
Ruangan itu berat banget.
—
Beberapa detik… gak ada yang ngomong.
—
Sampai akhirnya…
—
“Terus sekarang gimana?”
—
Gue nengok.
—
“Gimana maksudnya, Pak?”
—
“Kalau mereka mau beli…”
Dia nunjuk layar.
—
“Kamu mau?”
—
Pertanyaan itu…
Bikin gue diem.
—
Jujur…
Gue belum kepikiran sejauh itu.
—
Gue cuma fokus bikin.
Fokus jalan.
—
Gue gak pernah mikir bakal sampai ditawar.
—
“Gue… belum tau, Pak.”
—
Bokap ngangguk pelan.
—
“Kalau kamu jual…”
Dia berhenti.
—
“Berarti… selesai?”
—
“Belum tentu.”
—
Gue jelasin pelan.
—
“Bisa aja aku tetap kerja sama mereka.”
—
Nyokap dengerin.
Serius.
—
“Terus… kamu gak di sini lagi?”
—
Gue nengok dia.
—
Pertanyaan itu…
Bikin dada gue sesek.
—
Gue belum jawab.
—
Karena jujur…
Gue juga gak tau.
—
Dan sebelum gue sempat ngomong…
—
HP gue bunyi.
—
Notifikasi.
—
Email baru.
—
Dari orang yang sama.
—
Gue buka.
—
Kalimat pertama…
Langsung bikin gue kaku.
—
“We would like to meet you in person…”
—
Gue baca lagi.
Pelan.
—
“Besok.”
—
Gue nengok bokap.
—
“Pak…”
—
Dia langsung liat gue.
—
“Mereka mau ketemu.”
—
Sunyi.
—
“Di Jakarta.”
—
Nyokap langsung pegang tangan gue.
—
“Besok?”
—
Gue ngangguk.
—
Ruangan itu tiba-tiba terasa berubah.
—
Bukan lagi soal tuduhan.
—
Bukan lagi soal uang.
—
Tapi soal…
Keputusan.
—
Dan yang bikin gue makin kaget…
—
Bokap tiba-tiba berdiri.
—
“Papa ikut.”
—
Gue langsung nengok.
—
“Pak?”
—
“Papa ikut kamu.”
—
Nada suaranya tegas.
—
Bukan marah.
—
Tapi…
Kayak orang yang baru sadar sesuatu.
—
Dan kali ini…
—
Dia gak mau ketinggalan lagi.
—
Tapi gue gak tau…
—
Keputusan itu…
—
Bakal bikin semuanya membaik…
—
Atau justru…
—
Membuka masalah yang lebih besar lagi.
Pagi itu…
Rumah gue lebih rame dari biasanya.
Bukan karena klien.
Tapi karena… tegang.
—
Jam 5 subuh.
Toa masjid baru aja selesai.
Suara ayam tetangga nyaut.
—
Gue udah bangun.
Duduk di lantai kamar.
Laptop di depan.
Tapi gak gue sentuh.
—
HP di tangan.
Email itu masih kebuka.
—
Meeting. Jakarta. Hari ini.
—
Pintu kamar diketuk.
Pelan.
—
“Saf… udah bangun?”
Suara nyokap.
—
“Iya, Ma.”
—
Dia masuk.
Bawa jaket.
—
“Ini dipake ya… nanti dingin di mobil.”
—
Gue ngangguk.
Ambil.
—
Tangannya masih dingin.
Tapi sekarang… beda.
Lebih hati-hati.
—
Di ruang tamu…
Bokap udah siap.
Kemeja lama yang jarang dipake.
Disetrika seadanya.
—
Sepatu hitamnya… masih yang dulu.
Yang sering dipake foto nikahan.
—
Dia keliatan gugup.
Banget.
—
“Kita berangkat sekarang aja ya.”
—
Gue ngangguk.
—
Perjalanan ke Jakarta…
Sepanjang tol.
Sepi.
—
Gak ada yang banyak ngomong.
—
Radio mobil nyala.
Lagu lama.
Pelan.
—
Nyokap di belakang.
Pegang tas.
—
Bokap fokus nyetir.
Tapi beberapa kali…
Dia nengok ke gue.
—
Kayak mau ngomong.
Tapi gak jadi.
—
Gue liat keluar jendela.
Gedung mulai banyak.
Jalan makin padat.
—
Jakarta.
—
Gedung kaca tinggi.
Parkiran basement.
AC dingin.
—
Kami masuk lobby.
Lantai mengkilap.
Sepatu bokap bunyi.
Tok. Tok.
—
Resepsionis senyum.
“Dengan Safira?”
—
Gue ngangguk.
—
“Silakan ke lantai 12.”
—
Lift.
Cermin.
—
Gue liat diri gue.
Kaos sederhana.
Jaket tipis.
—
Di samping gue…
Bokap.
Kemeja lama.
—
Kontras.
Banget.
—
Pintu lift kebuka.
—
Ruang meeting.
Besar.
Kaca semua.
—
Ada dua orang di dalam.
Satu pria.
Satu wanita.
Rapi.
Formal.
—
“Safira?”
—
Gue ngangguk.
—
Mereka salaman.
—
“I’m Daniel.”
“I’m Clara.”
—
Gue duduk.
Bokap di samping.
Nyokap di sebelah gue.
—
Laptop dibuka.
—
Presentasi.
—
Slide demi slide.
—
Mereka jelasin.
Tentang platform gue.
Tentang growth.
Tentang user.
—
“Ini luar biasa untuk ukuran individu.”
—
Gue diem.
Dengerin.
—
Bokap juga diem.
Tapi gue liat tangannya.
Genggam kursi.
—
“Dan kami serius ingin mengakuisisi ini.”
—
Angka muncul lagi.
Lebih jelas.
Lebih besar.
—
Nyokap narik napas pelan.
—
Bokap langsung nengok gue.
—
Kayak nunggu jawaban.
—
“Kenapa… saya?” gue akhirnya nanya.
—
Daniel senyum.
—
“Karena kamu udah bikin sesuatu yang kami butuh… tanpa tim.”
—
Clara nambahin.
—
“Dan kami tau kamu masih muda.”
—
Gue diem.
—
“Justru itu.”
—
Slide berubah.
—
Kontrak.
—
Detail.
—
Terms.
—
Dan di situ…
Gue mulai ngerasa…
Ada yang ganjil.
—
“Kalau saya setuju…”
Gue pelan.
—
“Saya harus pindah?”
—
Daniel langsung jawab.
—
“Yes.”
—
Sunyi.
—
“Full time. Di kantor kami.”
—
Gue nengok bokap.
—
Dia diem.
—
“Tapi… keluarga saya?”
—
Clara senyum tipis.
—
“We will take care of everything.”
—
Kalimat itu…
Harusnya meyakinkan.
—
Tapi entah kenapa…
Malah bikin gue gak nyaman.
—
Gue geser layar.
Baca lebih detail.
—
Ada satu bagian…
Yang bikin gue berhenti.
—
“Intellectual property transfer…”
—
Semua hak.
Pindah.
—
Total.
—
Gue angkat kepala.
—
“Jadi… ini bukan kerja sama.”
—
Daniel diem sebentar.
—
“Ini… jual total.”
—
Dia gak langsung jawab.
—
Clara yang jawab.
—
“Yes.”
—
Ruangan jadi berat.
—
Bokap tiba-tiba bersandar.
—
Tangannya pelan lepas dari kursi.
—
“Saf…”
—
Suaranya kecil.
—
Gue nengok.
—
Matanya… beda.
—
Bukan bangga.
—
Tapi… takut kehilangan.
—
Dan di situ…
Semuanya mulai berubah.
—
Gue bukan lagi cuma anak yang dituduh.
—
Gue sekarang…
Orang yang harus milih.
—
Antara masa depan gue…
Atau…
Rumah yang selama ini bahkan gak ngerti gue.
—
Daniel maju sedikit.
—
“Kami butuh jawaban hari ini.”
—
Sunyi.
—
Nyokap langsung nengok gue.
—
“Saf…”
—
Tangannya nyentuh lengan gue.
—
Gue liat kontrak lagi.
—
Angka besar.
—
Kesempatan besar.
—
Tapi…
Dengan harga…
Yang juga besar.
—
Dan sebelum gue sempat jawab…
—
Bokap tiba-tiba berdiri.
—
Semua orang kaget.
—
“Maaf.”
—
Suaranya berat.
—
“Boleh saya ngomong?”
—
Daniel dan Clara saling liat.
—
“Silakan.”
—
Bokap liat mereka.
—
Terus liat gue.
—
Dan kalimat berikutnya…
—
Bikin ruangan itu…
Bener-bener berubah.
—
“Anak saya… bukan untuk dibeli.”
—
Sunyi.
—
Dan di situ…
—
Gue sadar…
—
Masalah ini…
—
Baru mulai.
Ruangan itu langsung dingin.
Bukan karena AC.
Tapi karena kalimat bokap.
—
“Anak saya… bukan untuk dibeli.”
—
Daniel berhenti senyum.
Clara narik napas pelan.
—
Gue kaku di kursi.
—
“Pak…” gue pelan.
—
Bokap gak nengok gue.
Matanya ke mereka.
—
“Kami datang ke sini bukan buat jual anak.”
—
Nada suaranya tenang.
Tapi keras.
—
Daniel maju sedikit.
—
“Pak, mungkin ada salah paham…”
—
“Enggak.”
Bokap langsung potong.
—
“Dari awal saya dengar.”
—
Dia nunjuk laptop.
—
“Semua ini… kalian mau ambil semua.”
—
Clara coba tetap tenang.
—
“Kami menawarkan kesempatan besar untuk Safira.”
—
“Dengan ambil semuanya dari dia?”
—
Sunyi.
—
Gue liat kontrak lagi.
Kalimat-kalimat kecil.
Yang tadi gue baca… sekarang makin jelas.
—
Semua hak.
Semua sistem.
Semua.
—
Dan tiba-tiba…
Semua yang gue bangun…
Terasa seperti mau diambil begitu aja.
—
“Saf.”
—
Gue nengok.
—
Nyokap.
—
Matanya merah.
—
“Kamu mau ini?”
—
Pertanyaan itu…
Ngena.
—
Gue buka mulut.
—
Tapi gak langsung jawab.
—
Karena jujur…
Gue bingung.
—
Di satu sisi…
Ini kesempatan.
Besar.
—
Di sisi lain…
Kayak… kehilangan sesuatu.
—
Daniel bicara lagi.
—
“Safira, kamu harus lihat ini secara profesional.”
—
Gue nengok dia.
—
“Kami bukan mengambil. Kami mengembangkan.”
—
Kalimatnya rapi.
Masuk akal.
—
“Tapi kamu akan jadi bagian dari tim besar.”
—
Clara nambahin.
—
“Kamu gak akan sendirian lagi.”
—
Kalimat itu…
Harusnya enak didengar.
—
Tapi justru…
Nyentil sesuatu di dalam gue.
—
Sendirian.
—
Gue inget malam-malam gue.
Jam 2 pagi.
Sendiri.
—
Gue inget semua yang gue bangun…
Tanpa mereka.
—
Dan sekarang…
Mereka datang…
Mau ambil semuanya.
—
“Kalau saya gak mau?”
Gue akhirnya ngomong.
—
Sunyi.
—
Daniel senyum tipis.
—
“Itu pilihan kamu.”
—
“Tapi kesempatan seperti ini… jarang datang dua kali.”
—
Gue diem.
—
Bokap duduk lagi.
Pelan.
—
Tangannya gemetar.
—
“Saf…”
—
Gue nengok.
—
Dia kali ini liat gue.
Langsung.
—
“Papa salah tadi.”
—
Sunyi.
—
“Papa gak kenal kamu.”
—
Nyokap nangis lagi.
—
“Dan Papa hampir… kehilangan kamu.”
—
Gue kaku.
—
“Kalau hari ini… Papa diem…”
—
Dia tarik napas.
—
“Papa bisa kehilangan kamu beneran.”
—
Ruangan itu tiba-tiba jadi berat banget.
—
Gue gak bisa ngomong.
—
Karena untuk pertama kalinya…
Gue liat bokap…
Bener-bener takut.
—
Bukan soal uang.
—
Tapi soal gue.
—
“Papa gak ngerti dunia kamu.”
—
Dia ketawa kecil.
Pahit.
—
“Tapi Papa tau… kamu bikin ini bukan buat dijual murah.”
—
Kalimat itu…
Ngena.
—
Gue nengok laptop.
—
Semua code.
Semua kerjaan gue.
—
Semua malam gue.
—
Semua itu…
Bukan cuma soal uang.
—
Nyokap pegang tangan gue.
—
“Saf… kita gak butuh uang sebanyak itu.”
—
Gue nengok dia.
—
“Kita cuma butuh kamu.”
—
Air mata gue jatuh.
—
Pelan.
—
Untuk pertama kalinya…
Gue ngerasa…
Mereka beneran ngomong sama gue.
—
Bukan ke gue.
—
Tapi sama gue.
—
Daniel narik napas.
—
“Safira.”
—
Gue nengok.
—
“Kami gak memaksa.”
—
“Tapi kami serius.”
—
“Kalau kamu nolak sekarang…”
—
Dia berhenti.
—
“Kami akan cari yang lain.”
—
Ancaman halus.
—
Jelas.
—
Gue diem.
—
Semua mata ke gue.
—
Nyokap.
Bokap.
—
Daniel.
Clara.
—
Dan untuk pertama kalinya…
—
Gue harus milih.
—
Bukan mereka.
—
Gue.
—
Gue tarik napas.
Panjang.
—
Gue tutup laptop.
—
Klik.
—
Semua orang langsung nengok.
—
Dan kalimat yang keluar dari mulut gue…
—
Pelan.
—
Tapi jelas.
—
“Gue gak mau jual.”
—
Sunyi.
—
Nyokap langsung nangis.
—
Bokap nutup mata.
—
Daniel diem.
—
Clara cuma ngangguk kecil.
—
“Baik.”
—
Gak ada debat.
—
Gak ada marah.
—
Cuma… selesai.
—
Meeting itu berakhir.
—
Kami keluar ruangan.
—
Lift turun.
—
Gue berdiri di tengah.
—
Di kanan gue bokap.
—
Di kiri gue nyokap.
—
Dan untuk pertama kalinya…
—
Gue gak ngerasa sendirian.
—
Tapi…
Saat pintu lift hampir kebuka…
—
HP gue bunyi.
—
Notifikasi email.
—
Dari pengirim yang sama.
—
Gue buka.
—
Satu kalimat.
—
“We are still interested… but with a different proposal.”
—
Gue langsung kaku.
—
Gue nengok bokap.
—
“Pak…”
—
Dan kali ini…
—
Sepertinya…
—
Cerita ini…
—
Belum selesai.
Lift kebuka.
Suara “ting” kecil.
Orang keluar masuk.
Tapi gue gak gerak.
—
HP masih di tangan.
Email itu masih kebuka.
—
“We are still interested… but with a different proposal.”
—
Bokap nengok.
“Kenapa, Saf?”
—
Gue nunjuk layar.
—
Dia baca.
Pelan.
—
Nyokap ikut ngintip dari samping.
—
Sunyi beberapa detik.
—
“Bedanya apa?”
—
Gue scroll.
—
Emailnya lebih panjang.
Lebih jelas.
—
Gue baca keras-keras.
—
“Mereka gak mau beli lagi…”
—
Bokap langsung fokus.
—
“Tapi mau kerja sama.”
—
Gue lanjut.
—
“Mereka mau aku tetap pegang semuanya…”
—
Nyokap pelan duduk di kursi lobby.
—
“Dan… mereka bantu develop.”
—
Gue berhenti sebentar.
—
Ada satu kalimat terakhir.
—
Gue baca pelan.
—
“We realized this is not just a product. This is your work. We don’t want to take it away from you.”
—
Sunyi.
—
Bokap duduk.
Pelan.
—
Tangannya nutup wajah.
—
Bukan karena sedih.
—
Kayak… lega.
—
Nyokap pegang tangan gue.
—
“Jadi… kamu gak harus pergi?”
—
Gue ngangguk.
—
“Iya, Ma.”
—
Air mata dia langsung jatuh.
—
Tapi kali ini…
Bukan karena hancur.
—
Karena lega.
—
Gue tarik napas panjang.
—
Semua tegang dari tadi…
Pelan-pelan turun.
—
Bokap akhirnya ngomong.
—
“Kalau ini kerja sama…”
—
Dia nengok gue.
—
“Kamu masih pegang semuanya?”
—
“Iya.”
—
“Dan mereka bantu?”
—
“Iya.”
—
Dia ngangguk pelan.
—
“Ambil.”
—
Gue kaget.
—
“Pak?”
—
Dia senyum tipis.
—
“Sekarang Papa percaya kamu.”
—
Kalimat itu…
Sederhana.
—
Tapi berat.
—
Dan hangat.
—
Gue senyum.
Pelan.
—
“Ya udah… gue ambil.”
—
Gue langsung balas email.
—
Jari gue masih sedikit gemetar.
—
Tapi kali ini…
Bukan karena takut.
—
Tapi karena…
Akhirnya yakin.
—
—
Beberapa bulan kemudian.
—
Rumah gue masih sama.
—
Dindingnya masih lembab.
—
Kipas angin masih berderit.
—
Tapi…
Isinya beda.
—
Studio dibersihin.
—
Lampu-lampu dinyalain lagi.
—
Tripod gak berdebu lagi.
—
Dan yang paling beda…
—
Ada suara lagi.
—
“Mas, dagunya sedikit ke atas ya…”
—
Itu bokap.
—
“Bagus, Bu… senyumnya natural…”
—
Nyokap.
—
Dan di sudut ruangan…
—
Gue duduk.
—
Laptop di depan.
—
Sambil sesekali nengok mereka.
—
Sekarang…
Kita sering ngobrol.
—
Gak selalu panjang.
—
Tapi ada.
—
Dan itu cukup.
—
“Saf…”
Bokap manggil.
—
Gue nengok.
—
“Ini lighting udah oke belum?”
—
Gue ketawa kecil.
—
“Iya, Pak… udah kekinian.”
—
Dia ikut ketawa.
—
Gak kaku lagi.
—
Gak jauh lagi.
—
Nyokap nyamperin gue.
—
“Nanti kamu makan ya… jangan lupa.”
—
Gue ngangguk.
—
Hal kecil.
—
Tapi dulu…
Gak ada.
—
Sekarang ada.
—
Dan itu…
Lebih mahal dari semua angka di layar gue.
—
Malamnya…
Gue di kamar.
—
Laptop nyala.
—
Dashboard gue terbuka.
—
Angka naik.
User nambah.
—
Tapi gue gak terlalu fokus ke situ.
—
Gue liat pintu kamar.
—
Setengah kebuka.
—
Dari luar…
Suara mereka masih ngobrol.
—
Pelan.
—
Hangat.
—
Gue senyum.
—
Dulu…
Gue punya uang.
—
Tapi gak punya mereka.
—
Sekarang…
—
Gue punya dua-duanya.
—
Dan jujur…
—
Yang satu itu…
—
Lebih penting dari semuanya.