UANG 200 JUTA MASUK KE REKENING GUE JAM 2 PAGI. GUE KIRA REZEKI NOMPLOK. SAMPAI ADA YANG NELPON DAN BILANG: “ITU BUKAN PUNYA LU.”
Suara kipas angin di kamar berdecit pelan. Kayak orang lagi ngeluh capek.
Saya kebangun gara-gara haus. Tenggorokan kering. Badan lengket. Habis ketiduran depan TV sambil nonton ulang pertandingan bola yang sebenarnya sudah saya tahu hasilnya.
Saya bangun setengah sadar. Jalan pelan ke dapur. Lantai keramik dingin nempel di telapak kaki.
Pas lagi minum air dari gelas plastik warna biru, HP saya bunyi.
“TING.”
Notifikasi.
Saya nggak langsung ngecek. Jam segini biasanya cuma grup WA bapak-bapak RT kirim video nggak jelas atau promo pinjol yang nyasar.
Saya taruh gelas.
Ambil HP.
Layar nyala.
Ada tulisan dari aplikasi bank.
“Dana masuk Rp200.000.000.”
Saya diam.
Lama.
Saya pikir ini mimpi.
Saya kedip beberapa kali.
Geser layar.
Buka aplikasinya.
Loading sebentar.
Angka saldo muncul.
Rp203.482.500.
Tangan saya langsung dingin.
Saya duduk di kursi dapur.
Kipas angin dari ruang tengah masih bunyi… “krek… krek…”
Saya scroll mutasi.
Masuk: Rp200.000.000.
Keterangan: Transfer.
Nama pengirim… asing.
Saya ulang lagi.
Tutup aplikasi.
Buka lagi.
Masih sama.
Saya ketawa kecil.
Refleks.
“Ini siapa sih…”
Suara saya pelan, kayak takut ada yang denger.
Padahal rumah cuma ada saya sama istri dan anak saya yang lagi tidur di kamar.
Saya jalan balik ke kamar.
Pelan.
Saya lihat istri saya, Dina, lagi tidur miring. Rambutnya nutup setengah muka. Nafasnya teratur.
Anak saya, Sean, tidur sambil meluk bantal kecil warna kuning.
Saya duduk di ujung kasur.
HP masih di tangan.
Jantung saya mulai berasa aneh.
Bukan senang.
Bukan juga takut.
Kayak bingung yang kebangetan.
200 juta itu bukan angka kecil.
Buat saya yang sehari-hari jualan gitar di toko kecil, angka segitu tuh bukan main.
Saya langsung kepikiran banyak hal.
Motor baru.
Renov rumah.
Tambahan stok gitar.
Utang lama yang belum lunas.
Semua kayak lewat cepat di kepala saya.
Tapi anehnya… ada rasa nggak enak.
Kayak ini bukan hak saya.
Saya bangun lagi.
Keluar kamar.
Duduk di ruang tengah.
Lampu saya nyalain.
Saya buka lagi aplikasinya.
Masih ada.
200 juta.
Saya buka WhatsApp.
Nggak ada pesan aneh.
Nggak ada orang yang nanya.
Nggak ada nomor asing.
Saya buka SMS.
Kosong.
Saya buka email.
Promosi semua.
Saya sandarin kepala ke sofa.
Narik napas panjang.
“Ini duit nyasar… atau…”
Kalimat saya gantung.
Saya bangun lagi.
Ambil charger.
Cas HP.
Saya duduk lagi.
Kali ini saya lebih fokus.
Saya screenshot semua.
Mutasi.
Saldo.
Detail transaksi.
Saya kirim ke email saya sendiri.
Entah kenapa.
Kayak takut tiba-tiba hilang.
Jam sudah 02.30.
Saya nggak bisa tidur lagi.
Saya kepikiran satu hal.
Bank.
Saya harus telepon bank.
Saya cari nomor call center.
Saya tekan.
Nada sambung.
Beberapa detik.
Lalu suara perempuan muncul.
“Selamat malam, dengan layanan nasabah, ada yang bisa kami bantu?”
Saya telan ludah.
“Iya mbak… saya mau tanya… ini saya barusan dapet transfer 200 juta. Tapi saya nggak tahu ini dari siapa.”
Hening sebentar.
“Baik, bisa disebutkan nama dan nomor rekening Bapak?”
Saya sebutkan.
Dia cek.
Terdengar suara ketikan di seberang.
Beberapa detik.
“Baik Pak, transaksi tersebut memang masuk ke rekening Bapak.”
Saya bengong.
“Iya… saya tahu masuk. Maksud saya… ini siapa yang kirim?”
“Untuk detail pengirim, kami hanya bisa melihat nama rekening pengirim. Saat ini tertera… atas nama perusahaan.”
“Perusahaan apa, mbak?”
Dia sebutkan.
Saya nggak kenal.
Sama sekali.
“Ini aman nggak ya mbak?”
Saya mulai ngerasa nggak enak.
“Selama transaksi tersebut tercatat resmi, dana tersebut ada di rekening Bapak. Namun jika Bapak merasa bukan milik Bapak, kami sarankan tidak digunakan dan menunggu konfirmasi lebih lanjut.”
Kalimat itu bikin saya makin nggak tenang.
“Kalau misalnya saya pakai…?”
Saya tanya pelan.
Dia diam sebentar.
“Lebih baik tidak, Pak. Untuk menghindari masalah di kemudian hari.”
Saya tutup telepon.
Saya taruh HP di meja.
Saya jalan ke depan rumah.
Buka pintu.
Udara malam masuk.
Dingin.
Sepi.
Cuma suara motor jauh.
Saya duduk di teras.
Ngelihat jalan kosong.
Pikiran saya muter terus.
Ini duit siapa?
Kenapa bisa masuk ke saya?
Kenapa jumlahnya segitu?
Kenapa jam segitu?
Dan yang paling ganggu…
Kenapa nggak ada yang hubungi saya?
—
Pagi datang terlalu cepat.
Saya nggak tidur sama sekali.
Dina bangun.
Dia lihat saya duduk di meja makan, mata merah, HP di tangan.
“Kenapa kamu?”
Saya kasih HP ke dia.
Dia baca.
Dia langsung bengong.
“Ini serius?”
Saya angguk.
Dia duduk pelan.
“Ini rezeki kali…”
Dia ngomong setengah bercanda.
Saya geleng.
“Bukan. Ini pasti ada masalah.”
Dia lihat saya.
“Udah tanya bank?”
“Udah.”
“Terus?”
“Mereka bilang jangan dipakai.”
Dia diam.
Beberapa detik.
Lalu dia bilang pelan.
“Kalau nggak ada yang ngaku…?”
Kalimat itu gantung.
Saya langsung potong.
“Jangan mikir ke situ dulu.”
Dia angguk.
Tapi saya tahu… dia juga kepikiran hal yang sama.
200 juta itu bukan angka kecil.
Bisa bikin orang berubah pikiran.
—
Siang hari saya tetap buka toko.
Tapi saya nggak fokus.
Saya pegang gitar, tapi pikiran saya ke saldo.
Abdul, karyawan saya, ngelihat saya dari tadi.
“Bang… lu kenapa sih? Kayak habis ditinggal nikah.”
Saya cuma senyum tipis.
“Lagi mikir aja.”
Dia duduk di depan saya.
“Nggak biasa lu mikir sampai segitu serius.”
Saya tarik napas.
Saya nggak cerita.
Entah kenapa.
Kayak ini hal yang nggak boleh sembarangan dibagi.
Tiba-tiba HP saya bunyi lagi.
Notifikasi.
Saya langsung buka.
Bukan dari bank.
Dari Shopee.
“Login berhasil dari perangkat baru.”
Saya langsung kaku.
Saya buka detailnya.
Lokasi… bukan kota saya.
Perangkat… nggak dikenal.
Jantung saya langsung kencang.
Saya buka aplikasi Shopee.
Masuk.
Bisa.
Tapi…
Ada yang beda.
Saya buka Shopee PayLater.
Limit saya…
Naik.
Jauh.
Dan yang bikin saya langsung dingin…
Tagihan.
Rp198.700.000.
Saya berdiri.
Kursi saya jatuh ke belakang.
Abdul kaget.
“Bang?!”
Saya nggak jawab.
Saya scroll.
Transaksi.
Banyak.
Cepat.
Semua dalam waktu yang hampir bersamaan.
Barang-barang mahal.
Elektronik.
Handphone.
Laptop.
Dan satu transaksi besar.
Transfer.
Ke rekening… yang sama dengan yang tadi.
Tangan saya gemetar.
Saya duduk lagi.
Pelan.
“Bang… kenapa?”
Suara Abdul pelan sekarang.
Saya kasih HP ke dia.
Dia baca.
Muka dia langsung berubah.
“Anjir…”
Saya cuma bisa napas pendek.
Kepala saya mulai pusing.
Jadi ini bukan rezeki.
Ini bukan uang nyasar.
Ini…
Utang.
Dan lebih parahnya lagi…
Saya baru sadar satu hal yang bikin perut saya langsung mual.
Semua transaksi itu…
Dilakukan dari akun saya sendiri.
Nama saya.
Data saya.
Dan yang paling bikin saya hampir nggak bisa berdiri—
Nomor HP verifikasi yang dipakai…
Masih nomor saya.
—
Saya langsung tutup toko.
Saya nggak bilang apa-apa ke Abdul.
Saya pulang.
Cepat.
Dina buka pintu.
Dia langsung tahu ada yang nggak beres.
“Kenapa?”
Saya kasih HP.
Dia baca.
Matanya langsung berkaca-kaca.
“Ini gimana maksudnya…?”
Saya duduk di lantai.
Saya pegang kepala.
“Shopee gue dibobol.”
Suara saya pelan.
Hampir nggak keluar.
“Ini semua… utang atas nama gue.”
Dina duduk di depan saya.
Tangannya gemetar.
“Terus… uang yang masuk itu…?”
Saya angkat kepala.
Lihat dia.
Dan untuk pertama kalinya sejak pagi…
Saya benar-benar takut.
“Uang itu bukan rezeki.”
Saya telan ludah.
“Itu hasil dari pembobolan.”
Hening.
Rumah terasa sempit.
Kipas angin muter.
Tapi udara terasa berat.
Dina pegang tangan saya.
“Kita lapor polisi.”
Saya angguk pelan.
Tapi sebelum saya sempat berdiri—
HP saya bunyi lagi.
Kali ini bukan notifikasi.
Telepon.
Nomor tidak dikenal.
Saya lihat layar.
Lama.
Dina bilang pelan,
“Angkat…”
Saya tarik napas.
Saya tekan tombol hijau.
“Hallo…”
Beberapa detik nggak ada suara.
Lalu…
Suara laki-laki.
Pelan.
Tenang.
“Mas… uangnya sudah masuk ya?”
Darah saya langsung dingin.
Saya nggak jawab.
Dia lanjut.
“Jangan panik. Ikutin aja apa yang saya bilang… semua akan aman.”
Saya berdiri.
Tangan saya gemetar.
“Siapa ini?!”
Dia ketawa kecil.
Pendek.
“Nggak penting siapa saya.”
Hening.
Lalu dia ngomong lagi.
Dan kalimat itu…
Langsung bikin lutut saya lemas.
“Yang penting… saya tahu rumah Mas di mana.”
—
Saya masih pegang HP.
Tangan dingin.
Dina berdiri di samping saya, mukanya pucat.
“Mas… itu siapa?”
Saya nggak jawab.
Mata saya fokus ke lantai.
Suara laki-laki di telepon itu… tenang banget.
Nggak ada emosi.
Justru itu yang bikin makin serem.
“Mas, dengerin saya baik-baik,” katanya lagi.
Saya telan ludah.
“Apa maunya lu?”
Suara saya serak.
Dia nggak langsung jawab.
Ada suara gesekan di sana. Kayak lagi jalan.
Lalu dia ngomong pelan.
“Uang itu jangan disentuh. Itu bukan buat Mas.”
Saya langsung emosi.
“Ya jelas bukan! Itu lu yang bikin semua ini kan?!”
Dia ketawa kecil lagi.
Pendek.
“Mas cepat juga nangkepnya.”
Dina langsung nutup mulutnya.
Saya jalan ke teras.
Menjauh dari dia.
Saya nggak mau Dina denger semuanya.
“Lu siapa?!”
Saya hampir teriak.
“Tenang, Mas. Kalau saya jahat, saya nggak bakal nelpon.”
Kalimat itu bikin saya makin kesel.
“Lu bobol akun gue, bikin utang 200 juta, terus lu bilang nggak jahat?!”
Dia diam sebentar.
Lalu…
“Justru saya yang lagi bantu Mas.”
Saya langsung berhenti jalan.
Angin pagi kena muka saya.
Tapi badan saya panas.
“Maksud lu apa?”
Nada suara saya lebih pelan sekarang.
Lebih hati-hati.
Dia tarik napas.
Kedengeran jelas.
“Mas… dari semua transaksi semalam, satu aja yang penting.”
Saya langsung kebayang semua transaksi di Shopee tadi.
“Yang mana?”
Saya tanya cepat.
“Transfer.”
Jantung saya langsung jedag.
Transfer itu.
Yang masuk ke rekening saya.
“Uang itu… harus Mas keluarin lagi.”
Saya bengong.
“Apa?”
“Dalam waktu 24 jam.”
Suara dia berubah sedikit.
Lebih tegas.
“Kalau nggak… semua utang itu tetap atas nama Mas.”
Saya pegang kepala.
“Memang sekarang juga atas nama gue, goblok!”
Saya mulai hilang sabar.
Dia nggak marah.
Tetap tenang.
“Betul. Tapi sekarang masih bisa dibalikin.”
Saya diem.
Otak saya muter.
“Balikin gimana?”
Dia langsung jawab.
“Nanti saya kirim nomor rekening.”
Saya langsung potong.
“Lu kira gue bego?!”
Saya jalan mondar-mandir di teras.
“Ini modus penipuan kan?! Lu suruh gue transfer, habis itu ilang?!”
Dia diam.
Lama.
Lalu dia ngomong lagi.
Pelan.
“Mas… saya tahu anak Mas sekolah di mana.”
Langkah saya langsung berhenti.
Jantung saya kayak jatuh.
Suara ayam tetangga tiba-tiba keras banget.
Semua jadi terasa pelan.
“Lu… jangan bawa-bawa anak gue.”
Suara saya rendah.
Tapi bergetar.
“Makanya dengerin saya.”
Dia nggak teriak.
Tapi tiap kata dia… nusuk.
“Saya cuma mau Mas aman.”
Saya tutup mata sebentar.
Tarik napas.
Buang pelan.
Saya harus mikir.
Saya nggak boleh panik.
“Kalau gue ikutin lu… masalah selesai?”
Saya tanya pelan.
“Semua transaksi itu… hilang dari sistem.”
Jawaban dia cepat.
Seolah dia udah siap.
“Dan akun Mas… bersih lagi.”
Saya buka mata.
Lihat jalan kosong.
“Kenapa gue harus percaya sama lu?”
Dia nggak langsung jawab.
Beberapa detik.
Lalu dia bilang sesuatu yang bikin tengkuk saya dingin.
“Karena saya yang masuk ke akun Mas semalam.”
Saya langsung merinding.
Dia lanjut.
“Dan saya tahu semua data Mas.”
Saya nggak bisa ngomong.
Mulut saya kering.
“Mas punya dua pilihan,” katanya.
“Percaya sama saya… atau hancur sendirian.”
Klik.
Telepon mati.
—
Saya berdiri lama di teras.
HP masih nempel di telinga.
Sampai Dina keluar.
“Mas…”
Dia pegang lengan saya.
Pelan.
“Apa katanya?”
Saya nggak langsung jawab.
Saya masuk ke dalam.
Duduk di kursi.
Saya ceritain semuanya.
Dari awal sampai akhir.
Dina diem.
Nggak nyela.
Wajahnya makin pucat.
“Jadi… dia nyuruh kita transfer lagi?”
Saya angguk pelan.
“Katanya biar semua transaksi ilang.”
Dina langsung geleng.
“Itu penipuan.”
Cepat.
Yakin.
“Tapi dia tahu sekolah Sean.”
Kalimat itu keluar pelan.
Tapi cukup bikin Dina langsung diam.
Dia duduk.
Pelan.
Pegang kepalanya.
“Mas…”
Suaranya kecil.
“Kalau dia beneran…?”
Kalimatnya nggak selesai.
Tapi saya tahu maksudnya.
Saya bangun.
Jalan ke kamar.
Ambil tas.
“Mas mau ke mana?”
“Ke kantor polisi.”
Jawaban saya cepat.
Saya nggak mau ambil risiko.
Saya nggak mau ikut permainan dia.
Saya pakai jaket.
Ambil kunci motor.
Dina berdiri.
“Nanti aku ikut.”
Saya geleng.
“Jaga Sean.”
Dia diam.
Lalu angguk.
—
Di jalan, kepala saya penuh.
Motor lewat gang sempit.
Anak-anak sekolah mulai keluar.
Suara ibu-ibu nyapu halaman.
Semua terasa normal.
Padahal hidup saya… nggak.
Saya sampai di kantor polisi.
Parkir.
Masuk.
Bau rokok dan kopi campur jadi satu.
Saya duduk.
Nunggu.
Beberapa menit.
Lalu dipanggil.
Saya jelasin semuanya.
Detail.
Petugasnya dengerin.
Serius.
Nggak motong.
Setelah saya selesai…
Dia cuma bilang satu kalimat.
“Ini kasus pembobolan akun dan penipuan digital, Pak.”
Saya angguk.
“Terus… gimana solusinya?”
Saya tanya.
Dia sandar di kursi.
“Nanti kita bantu proses laporan. Tapi…”
Dia berhenti.
Lihat saya.
“Untuk dana yang sudah masuk dan keluar… biasanya sulit kembali.”
Kalimat itu kayak nabrak dada saya.
“Terus utangnya?”
Suara saya pelan.
Dia tarik napas.
“Kalau itu atas nama Bapak… tetap jadi tanggung jawab sementara.”
Saya langsung lemes.
“Jadi… saya harus bayar 200 juta?”
Dia nggak jawab langsung.
Tapi ekspresi dia… cukup jelas.
Saya duduk diam.
Kepala kosong.
Semua suara di ruangan itu kayak jauh.
Saya keluar kantor polisi.
Langkah saya berat.
HP saya bunyi lagi.
Pesan masuk.
Nomor yang tadi.
Saya buka.
Cuma satu pesan.
“Mas masih punya waktu 18 jam.”
Di bawahnya…
Ada nomor rekening.
Dan satu kalimat lagi.
“Kalau Mas ke polisi… saya sudah tahu.”
Saya langsung berhenti jalan.
Napas saya tercekat.
Saya pelan-pelan nengok ke belakang.
Orang-orang lalu lalang.
Biasa.
Nggak ada yang aneh.
Tapi perasaan saya…
Kayak lagi diawasi.
—
Saya pulang.
Dina langsung nyamperin.
“Gimana?”
Saya kasih HP.
Dia baca.
Tangannya langsung gemetar.
“Dia tahu kamu ke polisi…”
Saya duduk.
Pelan.
“Iya.”
Hening.
Lama.
Sean keluar dari kamar.
Masih pakai baju tidur.
“Papa…”
Dia lari ke saya.
Peluk.
Saya angkat dia.
Peluk erat.
Dan di situ…
Ada satu hal yang tiba-tiba muncul di kepala saya.
Satu detail kecil.
Yang tadi pagi saya anggap sepele.
Tapi sekarang…
Rasanya janggal.
Saya langsung lepas pelukan Sean.
Saya lihat Dina.
“Din…”
Dia angkat kepala.
“Semalam… kamu ada pegang HP aku nggak?”
Dia langsung kaku.
Sedetik.
Dua detik.
Dan itu…
Cukup buat bikin jantung saya berhenti sesaat.
“Kenapa tanya gitu?” katanya pelan.
Saya nggak jawab.
Saya cuma lihat dia.
Dan untuk pertama kalinya…
Ada sesuatu di wajah Dina…
Yang bikin saya takut.
Dina nggak langsung jawab.
Dia berdiri di depan saya.
Tangannya saling genggam.
Matanya nggak lepas dari lantai.
“Jawab, Din.”
Suara saya pelan.
Tapi keras.
Dia angkat kepala.
Matanya sudah basah.
“Aku… cuma buka sebentar.”
Dada saya langsung sesak.
“Buka apa?”
“HP kamu.”
Saya tarik napas panjang.
Pelan.
“Kenapa?”
Dia diem.
Beberapa detik.
Lalu duduk di kursi.
“Karena… ada yang chat aku.”
Saya langsung mendekat.
“Siapa?”
Dia geleng.
“Aku nggak kenal.”
Saya mulai nggak sabar.
“Terus?”
Dia ngelap air matanya.
“Dia bilang… dia dari Shopee. Katanya akun kamu lagi bermasalah.”
Saya langsung ketawa pendek.
Pahit.
“Dan kamu percaya?”
Dia langsung nangis.
“Dia tahu data kamu, Mas! Dia sebut nama lengkap kamu, tanggal lahir kamu… bahkan alamat toko kamu!”
Saya langsung diam.
Otak saya mulai nyambung.
Pelan-pelan.
“Terus kamu ngapain?”
Suara saya lebih dingin sekarang.
Dia narik napas.
“Dia suruh aku bantu verifikasi. Dia bilang kalau nggak, akun kamu bakal diblokir.”
Saya merem sebentar.
“Verifikasi apa?”
Dia nggak langsung jawab.
Tapi saya sudah tahu jawabannya.
“OTP, ya?”
Dia langsung nangis lebih keras.
“Iya…”
Saya mundur selangkah.
Kayak ditampar.
Semua mulai jelas.
Semua transaksi.
Semua akses.
Semua…
Masuk dari situ.
Saya jalan ke belakang.
Duduk di lantai.
Kepala saya berat.
“Berapa kali kamu kasih OTP?”
Dia pelan banget jawabnya.
“Tiga kali…”
Saya ketawa.
Tapi nggak ada lucunya.
“Cukup buat mereka ambil semuanya.”
Dina langsung mendekat.
“Mas, aku nggak tahu… aku kira itu resmi…”
Saya angkat tangan.
Minta dia berhenti.
Saya butuh mikir.
Bukan marah.
Bukan sekarang.
—
Tiba-tiba HP saya bunyi.
Pesan lagi.
Dari nomor itu.
“Saya bilang kan… saya tahu semuanya.”
Saya baca keras-keras.
Dina langsung diam.
“Termasuk siapa yang kasih akses ke akun Mas.”
Jantung saya langsung kencang lagi.
Pesan berikutnya masuk.
“Sekarang Mas sudah tahu kan… masalahnya dari mana?”
Saya lihat Dina.
Dia langsung nunduk.
Pesan ketiga masuk.
“Jadi jangan salahkan saya kalau semua ini terjadi.”
Saya langsung balas.
Jari saya gemetar.
“Lu siapa sebenarnya?”
Nggak lama.
Balasan masuk.
“Orang yang menyelamatkan Mas dari kesalahan yang lebih besar.”
Saya langsung emosi.
“Lu yang bikin semua ini!”
Balasan cepat.
“Bukan saya yang kasih OTP, Mas.”
Saya langsung diam.
Dina nangis di samping saya.
Dan untuk pertama kalinya…
Saya nggak bisa nyalahin dia sepenuhnya.
Karena kalau saya di posisi dia…
Mungkin saya juga bakal panik.
—
Pesan lagi masuk.
“Sekarang fokus aja ke solusi.”
Saya ketik cepat.
“Apa jaminannya kalau gue transfer, semua selesai?”
Dia langsung jawab.
“Tidak ada jaminan.”
Saya langsung emosi.
“Terus kenapa gue harus percaya?!”
Beberapa detik.
Lalu balasan masuk.
“Tapi itu satu-satunya jalan yang Mas punya.”
Saya lempar HP ke sofa.
Kesel.
Frustrasi.
Buntu.
—
Dina pegang tangan saya.
Pelan.
“Mas… kita gimana?”
Saya lihat dia.
Matanya merah.
Wajahnya penuh rasa bersalah.
Saya tarik napas panjang.
Pelan.
“Kita cari cara lain.”
—
Saya ambil HP lagi.
Saya buka lagi semua transaksi.
Saya perhatiin satu per satu.
Tanggal.
Jam.
Nominal.
Barang.
Semua cepat.
Terlalu cepat.
Kayak sudah direncanakan.
Lalu mata saya berhenti di satu hal.
Alamat pengiriman.
Semua barang…
Dikirim ke satu alamat.
Saya zoom.
Baca pelan.
Bukan alamat saya.
Bukan kota saya.
Tapi…
Nama penerimanya.
Saya langsung kaku.
Nama itu…
Saya kenal.
Sangat kenal.
Saya berdiri.
Pelan.
“Din…”
Dia angkat kepala.
Saya kasih HP.
Dia baca.
Dan dalam satu detik…
Mukanya langsung pucat.
“Itu…”
Saya lanjutkan.
“Abdul.”
—
Nama itu kayak ngebelah kepala saya.
Abdul.
Karyawan saya sendiri.
Yang tiap hari duduk di depan toko.
Yang ketawa-ketawa nggak jelas.
Yang bantu jualan.
Yang saya percaya.
Saya langsung ambil jaket.
“Mas mau ke mana?!”
Dina berdiri.
Panik.
“Saya ke toko.”
Suara saya pendek.
Tegas.
Dina ikut ambil tas.
“Aku ikut.”
Saya nggak nolak.
—
Perjalanan terasa lama.
Padahal cuma beberapa menit.
Saya nggak banyak ngomong.
Dina juga.
Motor berhenti di depan toko.
Pintu masih setengah terbuka.
Lampu nyala.
Saya langsung masuk.
Abdul ada di dalam.
Lagi duduk.
Main HP.
Dia ngangkat kepala.
“Bang—”
Belum selesai dia ngomong.
Saya langsung lempar HP ke meja.
“Ini apa?!”
Dia kaget.
Beneran kaget.
Atau pura-pura.
Saya nggak tahu.
Dia lihat layar.
Beberapa detik.
Mukanya berubah.
Tapi bukan kaget.
Lebih ke…
Ketahuan.
“Bang… gue jelasin dulu—”
“JELASIN APA?!”
Saya nggak bisa nahan.
Suara saya keras.
Gema di toko.
Dina di belakang saya.
Diam.
Abdul berdiri.
Pelan.
“Bang… ini bukan kayak yang abang pikir.”
Saya maju selangkah.
“Nama lu ada di sini! Semua barang dikirim ke lu!”
Dia angkat tangan.
Kayak minta tenang.
“Dengerin gue dulu, bang.”
Saya nggak mau.
Tapi saya tahan.
Sedikit.
Dia tarik napas.
“Gue… nggak beli itu barang.”
Saya ketawa.
Sinis.
“Terus siapa? Hantu?”
Dia geleng cepat.
“Ada yang pake nama gue.”
Saya langsung potong.
“Alamat lu juga?!”
Dia diem.
Sebentar.
Lalu…
“Iya.”
Saya bengong.
“Gimana caranya orang bisa kirim barang ke alamat lu tanpa lu tahu?!”
Dia ngelirik Dina.
Sebentar.
Lalu balik ke saya.
“Karena… gue pernah hampir kena juga, bang.”
Saya langsung diam.
“Gue pernah dikontak orang yang sama.”
Jantung saya langsung pelan.
“Dia pura-pura jadi customer toko kita.”
Saya mulai inget.
Beberapa minggu lalu…
Ada yang nanya-nanya gitar mahal.
Detail banget.
Saya pikir cuma iseng.
Abdul lanjut.
“Dia minta nomor gue, bang. Katanya mau COD.”
Saya langsung nyadar.
Waktu itu…
Saya yang kasih nomor Abdul.
“Terus?” saya tanya pelan.
“Dia mulai gali data. Pelan-pelan. Dari gue.”
Abdul duduk.
Lemas.
“Nama abang… alamat toko… kebiasaan kita…”
Saya langsung duduk.
Di kursi.
Semua mulai nyambung.
“Jadi… ini targetnya dari awal gue?”
Abdul angguk.
“Iya, bang.”
Dina di belakang saya langsung nangis lagi.
Saya tutup muka.
Tangan saya dingin.
—
Abdul lanjut.
“Dan yang paling parah…”
Saya angkat kepala.
“Dia tahu siapa yang paling gampang dipancing.”
Saya langsung lihat Dina.
Dia langsung nangis lebih keras.
Saya nggak bisa marah lagi.
Karena sekarang…
Semuanya jelas.
Ini bukan kebetulan.
Ini direncanakan.
Pelan.
Rapi.
—
HP saya bunyi lagi.
Pesan.
“Sampai di toko ya, Mas?”
Saya langsung merinding.
Dia tahu.
Dia benar-benar tahu.
Pesan berikutnya masuk.
“Sekarang Mas sudah tahu semua kan?”
Saya genggam HP.
Kuat.
Pesan terakhir masuk.
“Jadi… kita lanjut ke tahap terakhir.”
Saya langsung berdiri.
“Cukup.”
Dina dan Abdul lihat saya.
Saya tarik napas panjang.
Pelan.
“Gue nggak akan transfer.”
Dina kaget.
“Mas—”
Saya angkat tangan.
“Selesai.”
Saya lihat Abdul.
“Lu bantu gue sekarang.”
Dia langsung angguk.
“Siap, bang.”
Saya buka HP.
Saya ketik balasan.
Pelan.
Tapi pasti.
“Gue setuju. Kirim detailnya.”
Dina langsung tarik lengan saya.
“Mas?!”
Saya bisikin pelan.
“Kita jebak dia.”
—
Malam itu terasa panjang.
Lebih panjang dari kemarin.
Saya, Dina, dan Abdul duduk di toko.
Lampu terang.
Tapi suasana tegang.
HP saya di meja.
Chat terbuka.
Nomor itu langsung balas.
Cepat.
Nomor rekening.
Instruksi.
Detail.
Semua rapi.
Kayak dia sudah biasa.
Saya kirim semua itu ke polisi.
Yang tadi saya temui.
Dia balas cepat.
“Jangan transfer dulu. Kita pantau.”
Saya angguk.
Walaupun dia nggak lihat.
—
Beberapa menit kemudian.
Telepon masuk lagi.
Nomor itu.
Saya angkat.
“Mas… siap ya?”
Suara dia santai.
Kayak nggak ada apa-apa.
Saya tahan napas.
“Iya.”
“Bagus.”
Dia ketawa kecil.
“Transfer sekarang.”
Saya lihat Dina.
Dia pegang tangan saya.
Kuat.
Saya pencet-pencet HP.
Pura-pura.
“Udah.”
Saya bilang.
Dia diam sebentar.
Lalu…
“Mas bohong.”
Jantung saya langsung jatuh.
“Saldo Mas nggak berkurang.”
Saya langsung berdiri.
Keringat dingin keluar.
Dia lanjut.
“Mas pikir saya bodoh?”
Suara dia berubah.
Lebih dingin.
Lebih tajam.
“Saya lihat semuanya.”
Saya langsung panik.
Tapi sebelum saya jawab—
Suara lain masuk.
Dari HP.
Speaker.
Suara polisi.
“Sudah cukup.”
Hening.
Beberapa detik.
Lalu suara laki-laki itu berubah.
Panik.
“Anjing—”
Klik.
Telepon mati.
—
Beberapa hari setelah itu.
Semua berjalan cepat.
Polisi berhasil lacak.
Dari rekening.
Dari alamat.
Dari pengiriman.
Orangnya ketangkep.
Bukan satu.
Tiga orang.
Satu di antaranya…
Yang nelpon saya.
—
Kasusnya diproses.
Semua bukti lengkap.
Transaksi.
Chat.
Rekaman.
Semua.
Dan yang paling bikin saya lega…
Semua tagihan PayLater saya…
Dibatalkan.
Resmi.
Karena terbukti pembobolan.
Saya nggak harus bayar 200 juta itu.
—
Beberapa minggu kemudian.
Saya duduk di teras.
Sore.
Angin pelan.
Sean main sepeda kecil di depan.
Ketawa.
Dina duduk di samping saya.
Diam.
Tapi tenang.
Saya lihat dia.
Dia lihat saya.
“Kamu masih marah?”
Dia tanya pelan.
Saya geleng.
“Nggak.”
Saya pegang tangannya.
“Cuma… kita harus lebih hati-hati.”
Dia angguk.
Matanya berkaca-kaca.
“Maaf ya, Mas.”
Saya senyum.
“Udah lewat.”
—
Abdul datang.
Bawa es teh.
Duduk di depan.
“Bang… kita jadi restock gitar nggak?”
Saya ketawa kecil.
“Jadi.”
Dia senyum.
Lega.
—
Saya lihat jalan.
Orang lewat.
Motor lewat.
Semua terasa normal lagi.
Tapi sekarang…
Saya lebih ngerti satu hal.
Kadang…
Masalah besar nggak datang dari orang jauh.
Tapi dari celah kecil…
Yang kita anggap sepele.
Saya tarik napas.
Dalam.
Lepas pelan.
Dan untuk pertama kalinya sejak malam itu…
Saya benar-benar ngerasa…
Aman.
Selesai.