DIA BILANG MAU NIKAH SAMA AKU… SAAT UNDANGANNYA SUDAH DICETAK. DIA MENANGIS DI TELEPON… TAPI NAMANYA BUKAN NAMAKU.

Dan aku… cuma bisa diam, dengar suara orang yang selama ini aku tunggu… justru akan jadi milik orang lain.

Kipas angin di kamar berputar pelan. Bunyinya nyeret. Tek… tek… tek…

Aku duduk di lantai, bersandar ke kasur. HP di tangan. Layar terang, tapi mataku kosong.

Notifikasi WhatsApp masuk satu per satu. Grup kantor. Teman SMA. Promo diskon.

Aku nggak buka.

Yang aku tunggu cuma satu nama.

Rara.

Nama yang selama tiga tahun terakhir nggak pernah benar-benar hilang dari pikiranku.

Aku kenal Rara waktu SMA. Dia tipe yang nggak banyak bicara. Duduk di depan. Catat semua. Pulangnya langsung.

Kalau ada tugas kelompok, dia yang paling serius. Kalau ada yang main-main, dia yang pertama ngomel.

Bukan galak… tapi tegas.

Dan entah kenapa… itu yang bikin aku suka.

Bukan karena dia paling cantik. Tapi karena dia beda.

Waktu yang lain sibuk cari perhatian, dia sibuk cari masa depan.

Aku? Waktu itu cuma anak biasa. Nilai standar. Nongkrong jalan.

Tapi tiap lihat dia nunduk ngerjain tugas… aku jadi pengen berubah.

Kami mulai dekat pas kelas 3.

Awalnya cuma nanya PR.

“Ra, ini gimana sih nomor 5?”

Dia jelasin. Singkat. Jelas.

Besoknya aku tanya lagi.

Lama-lama… jadi sering.

Lulus SMA, kami beda jalan.

Dia kuliah. Jurusan yang serius. Aku kerja.

Tapi komunikasi nggak putus.

Malah makin sering.

Dia sering kirim foto tugas. Nanya.

“Aku stuck di sini… bisa bantu?”

Padahal jurusanku beda jauh.

Tapi aku belajar. Googling. Nanya temen.

Yang penting… aku bisa bantu dia.

Sampai suatu hari… dia cerita.

“Aku lagi deket sama seseorang.”

Dadaku sempat kosong.

Tapi aku jawab santai.

“Oh ya? Siapa?”

Dia cerita panjang.

Cowoknya kuliah juga. Katanya pintar. Tapi sibuk.

Jarang ada waktu buat dia.

Aku cuma bilang, “yang penting kamu bahagia.”

Padahal… tiap dia cerita, aku yang nemenin.

Tiap dia butuh, aku yang ada.

Hari-hari berlalu.

Statusnya jelas. Dia punya pacar.

Tapi anehnya… hampir semua hal penting di hidupnya… aku yang terlibat.

Tugas kuliah? Aku bantu.

Dia lagi stres? Aku dengerin.

Dia lagi sakit? Aku yang bawain obat.

Aku tahu jadwalnya. Aku tahu kebiasaannya.

Bahkan… aku tahu hal-hal kecil yang mungkin pacarnya sendiri nggak tahu.

Suatu malam, dia telpon.

Suaranya pelan.

“Aku capek…”

Aku diam. Dengerin.

Dia cerita panjang.

Pacarnya nggak ada waktu. Jarang respon. Kadang cuek.

“Aku ngerasa sendiri, padahal aku punya pacar.”

Tanganku menggenggam HP lebih kencang.

Aku pengen bilang sesuatu.

Tapi yang keluar cuma…

“Sabar ya…”

Beberapa minggu setelah itu… dia bilang sesuatu yang bikin aku nggak bisa tidur semalaman.

“Kalau aku nikah… aku pengennya sama kamu.”

Aku diam.

Jantungku kayak ditarik.

“Tapi kamu masih sama dia,” kataku pelan.

Dia nggak jawab.

Cuma nafas.

Sejak saat itu… aku makin bingung.

Dia bilang mau aku.

Tapi dia nggak pernah ninggalin dia.

Aku ada… tapi bukan yang dipilih.

Aku sempat coba mundur.

Aku cari cewek lain.

Aku pacaran.

Aku niat serius.

Dan setiap kali aku punya pacar… aku putus komunikasi sama Rara.

Aku jaga perasaan cewekku.

Tapi anehnya… selalu gagal.

Selalu ada sesuatu yang bikin hubungan itu selesai.

Dan entah kenapa… setelah itu aku balik lagi ke Rara.

Selalu begitu.

Seperti lingkaran.

Yang bikin sakit…

Rara pikir aku cuma datang kalau lagi kosong.

Dia pernah bilang…

“Kamu tuh kalau nggak punya siapa-siapa, baru ingat aku ya?”

Aku pengen marah.

Tapi aku tahan.

Karena kenyataannya… aku justru nunggu dia.

Nunggu dia lepas dari orang yang jelas-jelas nggak bisa bahagiain dia.

Tahun demi tahun lewat.

Hubungan mereka masih ada.

Aku masih di posisi yang sama.

Sampai akhirnya… tahun baru kemarin.

Dia chat.

Singkat.

“Aku udah putus.”

Aku baca berkali-kali.

Dadaku bergetar.

Aku langsung telpon.

Dia angkat.

Kami ngobrol lama.

Dan untuk pertama kalinya… rasanya lega.

Akhirnya.

Tapi waktu itu… aku lagi punya pacar.

Baru.

Dan aku lagi coba serius.

Jadi aku tahan diri.

Aku nggak mau ulang kesalahan.

Aku jaga batas.

Lucunya…

kami berdua nggak pernah benar-benar tahu kondisi satu sama lain.

Aku kira dia masih punya seseorang.

Dia kira aku juga.

Kami jalan sendiri-sendiri… padahal sama-sama kosong.

Sampai lebaran datang.

Rumah ramai. Suara sendal di teras. Anak kecil lari-lari.

HP-ku bunyi.

Teman SMA kirim foto.

Captionnya singkat.

“Eh, si Rara dilamar.”

Tanganku langsung dingin.

Aku buka fotonya.

Rara duduk. Pakai baju rapi.

Di depannya… seorang laki-laki.

Bukan aku.

Aku telpon dia.

Beberapa kali.

Nggak diangkat.

Malamnya… dia baru balas.

“Maaf… aku lagi sibuk.”

Aku cuma baca.

Beberapa hari kemudian… aku dengar kabar lagi.

“Dia nerima.”

Kalimat itu pendek.

Tapi rasanya kayak ditimpa sesuatu berat.

Aku duduk di pinggir kasur.

Lampu kamar redup.

HP di tangan.

Aku ketik…

“Hai.”

Hapus.

Ketik lagi…

“Kamu serius?”

Hapus lagi.

Sampai akhirnya… HP-ku bergetar.

Nama itu muncul.

Rara.

Tanganku langsung gemetar.

Aku angkat.

“Hallo…”

Suara di seberang… pelan.

Dan… menangis.

“Aku… nggak tahu harus gimana…”

Aku diam.

Dia nangis.

Suara isaknya jelas.

“Aku sebenarnya… pengen sama kamu…”

Kalimat itu…

terlambat.

“Terus kenapa kamu terima lamaran dia?” suaraku pecah.

Dia nggak langsung jawab.

“Semua udah disiapin…”

“Orang tua aku udah setuju…”

“Berkas udah masuk…”

“Undangan lagi dicetak…”

Setiap kata… seperti pelan-pelan menutup semua kemungkinan.

“Aku pikir… kamu udah punya orang…”

Aku ketawa kecil.

Pahit.

“Aku juga mikir kamu masih sama dia.”

Hening.

Cuma suara nafas.

“Kalau waktu bisa diulang…” dia mulai lagi.

Aku langsung potong.

“Masalahnya… nggak bisa.”

Tanganku dingin.

Mataku panas.

“Sekarang gimana?” tanyaku.

Dia diam lama.

Lalu…

“Aku tetap pengen sama kamu…”

Jantungku berhenti sesaat.

“Tapi… aku nggak tahu caranya…”

Di luar… suara motor lewat gang.

Anak kecil ketawa.

Hidup jalan terus.

Tapi di dalam kamar ini…

semuanya berhenti.

“Aku udah terlalu jauh…” dia lanjut.

“Kalau aku mundur… semua orang bakal kecewa…”

Aku pegang kepala.

Pusing.

“Dan kamu?” tanyanya pelan.

Pertanyaan itu…

lebih berat dari semuanya.

Aku buka mulut.

Tapi nggak ada suara.

Karena jawabannya jelas.

Aku masih mau dia.

Dari dulu.

Sampai sekarang.

Tapi semuanya sudah terlambat.

“Akadnya… kapan?” tanyaku.

“Dua minggu lagi…”

Dua minggu.

Cuma dua minggu.

Tanganku gemetar.

Aku berdiri.

Jalan mondar-mandir.

“Rara…” suaraku pelan.

“Iya…”

Kalimat itu akhirnya keluar.

Yang selama ini aku tahan.

“Aku juga pengen sama kamu.”

Di seberang… dia menangis lebih keras.

Dan di detik itu…

aku sadar satu hal yang menghancurkan segalanya.

Dia tidak akan berhenti.

Aku tidak akan pergi.

Dan waktu… tidak akan menunggu kami.

“Kalau aku bilang… aku mau datang ke rumah kamu besok…” kataku pelan.

Dia langsung diam.

“Apa kamu berani batalkan semuanya?”

Hening.

Panjang.

Aku menunggu.

Detik terasa lama.

Lalu dia jawab.

Pelan.

Tapi jelas.

“…aku nggak tahu.”

Kalimat itu…

lebih menyakitkan dari penolakan.

Dan saat aku hampir menutup telepon…

dia bilang satu hal lagi.

“Undangannya… sudah ada di tangan mantan aku.”

Dunia seperti berhenti.

Mantan.

Yang dulu dia keluhkan.

Yang dulu dia bilang nggak pernah ada.

Sekarang…

jadi orang yang akan menikahinya.

Tanganku lepas dari HP.

Jatuh ke kasur.

Kipas angin masih berputar.

Tek… tek… tek…

Dan untuk pertama kalinya…

aku merasa…

aku bukan cuma kehilangan dia.

Tapi mungkin…

aku memang tidak pernah benar-benar punya dia.

Aku nggak tidur malam itu.

Lampu kamar mati. Tapi mataku tetap terbuka.

Kipas angin masih bunyi. Tek… tek… tek…

HP di samping bantal. Layar hitam. Tapi pikiranku berisik.

Kalimat terakhir dari dia muter terus.

“Aku nggak tahu.”

Bukan “nggak bisa”.

Bukan “nggak mau”.

Tapi… “nggak tahu”.

Artinya masih ada celah.

Kecil. Tapi ada.

Jam 03.17.

Aku duduk di pinggir kasur.

Ambil jaket.

Ambil kunci motor.

Aku nggak mikir panjang.

Kalau aku diam… aku bakal nyesel seumur hidup.

Udara subuh dingin.

Jalanan sepi.

Lampu jalan kuning redup.

Motor melaju pelan, tapi dadaku berisik.

Aku berhenti di depan rumahnya.

Gerbang masih tertutup.

Lampu teras nyala.

Sepi.

Aku turun dari motor.

Berdiri di depan pagar.

Narik napas panjang.

Aku belum pernah sejauh ini.

Selama ini aku cuma… nunggu.

Sekarang… aku datang.

Aku ketuk pagar.

Pelan.

Nggak ada respon.

Aku ketuk lagi.

Lebih keras.

Beberapa detik kemudian…

Lampu dalam rumah nyala.

Pintu terbuka.

Ibunya keluar.

Beliau lihat aku.

Kaget.

“Loh… kamu?”

Aku langsung kaku.

“Maaf bu… saya… mau ketemu Rara.”

Beliau diam sebentar.

Tatap aku dari atas sampai bawah.

Jam segini.

Subuh.

Anak laki-laki berdiri di depan rumah anaknya.

“Rara masih tidur.”

Aku telan ludah.

“Bisa dibangunin, bu? Penting…”

Beliau nggak langsung jawab.

Tatapannya berubah.

Seperti… menilai.

“Masuk dulu.”

Aku masuk.

Ruang tamu rapi.

Ada kursi plastik tambahan.

Di sudut… ada tumpukan kotak.

Kotak undangan.

Dadaku langsung sesak.

Ibunya duduk.

Aku ikut duduk.

“Kamu… yang sering bantu Rara ya?”

Aku kaget.

“Iya, bu…”

Beliau senyum tipis.

“Rara sering cerita.”

Jantungku berdetak lebih cepat.

“Tapi kamu datangnya… telat.”

Kalimat itu…

langsung kena.

Aku diam.

Beliau lanjut.

“Semua sudah disiapkan. Keluarga sudah tahu. Tetangga juga.”

Aku lihat kotak undangan lagi.

Seperti ditampar.

“Tapi…” beliau berhenti.

Tatap aku.

“Tadi malam Rara nangis.”

Aku langsung angkat kepala.

“Dia bilang… dia bingung.”

Tanganku mengepal.

“Kalau kamu datang cuma untuk bikin dia makin bingung… lebih baik pulang.”

Aku tarik napas.

Dalam.

“Saya datang bukan buat bikin dia bingung, bu.”

“Saya datang… karena saya nggak mau kehilangan dia tanpa berusaha.”

Hening.

Langkah kaki dari dalam.

Pelan.

Aku menoleh.

Rara berdiri di ujung lorong.

Rambutnya berantakan.

Matanya bengkak.

Dia lihat aku.

Kaget.

“Kamu…?”

Aku berdiri.

Nggak bisa diam.

“Aku ke sini bukan buat drama.”

Suaraku pelan.

“Tapi aku butuh jawaban jelas.”

Ibunya bangkit.

“Ngobrol di dalam aja.”

Kami masuk ke kamar tamu.

Pintu ditutup.

Hening.

Rara berdiri.

Aku juga.

Jarak kami… cuma beberapa langkah.

“Kenapa kamu datang?” suaranya pelan.

“Aku harus datang.”

Dia lihat lantai.

Tangannya gemetar.

“Kamu udah dengar semuanya…”

“Aku mau dengar dari kamu langsung.”

Dia diam.

Lama.

“Aku… terima lamaran dia.”

Aku tahan napas.

“Kenapa?”

“Karena… semuanya udah jalan.”

“Itu bukan jawaban.”

Dia mulai panik.

“Aku nggak bisa mundur tiba-tiba! Orang tua aku—”

“Aku nanya kamu. Bukan orang tua kamu.”

Hening.

Dia angkat kepala.

Matanya merah.

“Aku capek…”

Kalimat itu keluar lagi.

Sama seperti dulu.

“Aku capek nunggu sesuatu yang nggak jelas.”

Aku kaku.

“Aku pikir kamu nggak pernah benar-benar milih aku.”

Dadaku seperti ditarik.

“Aku selalu lihat kamu datang… pergi… datang lagi…”

Aku mau bantah.

Tapi… dia lanjut.

“Dan aku takut… kalau aku nunggu kamu… aku bakal sendirian terus.”

Tanganku lemas.

“Itu kenapa kamu pilih dia?”

Dia nggak langsung jawab.

“Dia datang ke rumah. Bicara sama orang tua aku. Jelas.”

Aku menutup mata sebentar.

Jadi ini bukan soal perasaan saja.

Tapi soal… keberanian.

“Aku juga bisa,” kataku pelan.

Dia langsung lihat aku.

“Sekarang?”

“Iya. Sekarang.”

Dia tertawa kecil.

Pahit.

“Sekarang… saat semuanya sudah hampir selesai?”

Aku maju satu langkah.

“Lebih baik telat… daripada nggak sama sekali.”

Dia mundur satu langkah.

“Kamu tahu risikonya nggak?”

“Tahu.”

Padahal… belum tentu.

“Keluarga aku bisa malu.”

“Tunangannya bisa marah.”

“Semua orang bakal ngomongin aku.”

Aku diam.

“Tapi…” aku pelan.

“Kamu bahagia nggak?”

Dia langsung diam.

Matanya berkaca-kaca lagi.

“Itu yang paling penting.”

Dia duduk di kasur.

Nunduk.

“Aku takut…”

Aku duduk di kursi.

“Takut apa?”

“Takut salah pilih lagi.”

Kalimat itu…

menusuk.

“Lagi?”

Dia angkat kepala.

“Selama ini… aku sama dia… aku juga nggak bahagia.”

Aku langsung kaku.

“Terus kenapa balik lagi ke dia?”

Dia nggak jawab.

Hening.

Aku perhatikan wajahnya.

Ada sesuatu yang… dia tahan.

“Rara…” suaraku pelan.

“Kamu nggak cerita semuanya.”

Dia diam.

Matanya bergerak.

Seperti mencari alasan.

“Apa yang kamu sembunyikan?”

Dia langsung berdiri.

Gelisah.

“Nggak ada…”

“Kamu nggak kayak gini biasanya.”

Dia jalan bolak-balik.

“Aku cuma… capek…”

Bohong.

Aku kenal dia.

Kalau dia begini… ada sesuatu yang besar.

Aku berdiri.

Dekatkan diri.

“Rara.”

Dia berhenti.

“Dia ngapain ke kamu?”

Dia langsung menegang.

Dan di detik itu…

aku tahu.

Ini bukan cuma soal cinta.

Ini soal sesuatu yang dia sembunyikan.

Dia pelan-pelan duduk lagi.

Tangannya gemetar.

“Aku nggak mau kamu terlibat…”

Jantungku makin kencang.

“Terlibat apa?”

Dia menutup wajahnya.

Menangis lagi.

“Aku… terpaksa…”

Kalimat itu…

membuat seluruh tubuhku dingin.

“Terpaksa apa?”

Dia angkat kepala.

Matanya penuh air.

Dan akhirnya…

dia bilang sesuatu yang mengubah semuanya.

“Dia pegang sesuatu tentang keluarga aku.”

Aku langsung diam.

“Apa maksud kamu?”

Dia menelan ludah.

“Kalau aku batalin… dia bakal hancurin semuanya.”

Ruangan terasa sempit.

“Kamu serius?”

Dia mengangguk.

Dan untuk pertama kalinya…

aku sadar…

ini bukan lagi soal memilih.

Ini soal…

ancaman.

Ruangan itu tiba-tiba terasa sempit.

Kipas angin di sudut kamar berputar cepat, tapi hawa di dalam… panas.

Aku berdiri. Diam.

Rara duduk di ujung kasur. Tangannya saling menggenggam. Putih.

“Ancaman apa?” suaraku pelan.

Dia nggak langsung jawab.

Matanya ke pintu. Seperti takut ada yang dengar.

“Aku nggak bisa jelasin di sini…”

Dadaku makin sesak.

“Rara. Ini udah terlalu jauh. Kamu harus jujur.”

Dia menggigit bibir.

Tangannya gemetar.

“Ada sesuatu tentang bapak aku…”

Aku langsung fokus.

“Apa?”

Dia menunduk.

Suaranya hampir nggak terdengar.

“Dulu… bapak aku pernah pinjam uang.”

Aku diam.

“Bukan ke bank.”

Jantungku langsung kencang.

“Ke siapa?”

Dia angkat kepala.

Matanya merah.

“…ke dia.”

Dunia seperti berhenti.

“Ke mantan kamu?”

Dia mengangguk pelan.

“Dari kapan?”

“Sejak aku masih kuliah awal…”

Aku mundur satu langkah.

Semua mulai nyambung.

Kenapa dia nggak bisa lepas.

Kenapa dia tetap bertahan.

“Berapa banyak?”

Dia diam.

“Rara.”

“Banyak…”

“Banyak itu berapa?”

Dia menutup mata.

“Lebih dari yang kita bayangin.”

Tanganku mengepal.

“Kenapa kamu nggak pernah cerita?”

“Aku malu…”

Aku tarik napas dalam.

“Terus sekarang?”

“Dia bilang… kalau aku nikah sama dia… semuanya dianggap lunas.”

Aku langsung marah.

“Gila!”

Dia langsung kaget.

“Ini bukan nikah… ini transaksi!”

Air mata Rara jatuh lagi.

“Aku tahu…”

“Terus kamu mau hidup kayak gitu?”

Dia diam.

“Aku cuma pengen keluarga aku aman…”

Kalimat itu pelan.

Tapi berat.

Aku jalan mundur. Pegang kepala.

Jadi selama ini…

semua yang aku kira tentang cinta…

ternyata cuma sebagian kecil.

Ini soal utang.

Soal tekanan.

Soal keluarga.

“Kenapa orang tua kamu setuju?”

Dia langsung jawab.

“Mereka nggak tahu semuanya.”

Aku langsung berhenti.

“Apa?”

“Mereka cuma tahu dia serius… punya kerjaan… mapan…”

“Terus soal utang?”

Dia geleng.

“Aku yang tanggung sendiri.”

Aku nggak bisa berkata apa-apa.

“Dia bilang… kalau aku buka semuanya… dia bakal datang ke rumah.”

Tanganku dingin.

“Datang buat apa?”

Dia menatapku.

“Bikin semua orang tahu… kalau keluarga aku… nggak mampu bayar.”

Aku menutup mata.

Ini bukan cuma ancaman.

Ini penghancuran.

“Dan kamu yakin dia bakal lakuin itu?”

Dia nggak jawab.

Tapi wajahnya… cukup jadi jawaban.

Aku duduk.

Pelan.

“Rara…”

Dia lihat aku.

“Kamu masih mau sama aku?”

Pertanyaan itu keluar tanpa aku rencanakan.

Dia langsung jawab.

“Iya.”

Cepat.

Tanpa ragu.

Dadaku langsung terasa aneh.

“Dari dulu… sampai sekarang…”

Tangannya gemetar lagi.

“Aku cuma… takut.”

Aku diam.

Takut.

Itu kata yang selama ini jadi alasan semua.

“Aku juga takut.”

Dia kaget.

“Tapi kalau kita terus takut… kita bakal kehilangan semuanya.”

Dia menatapku.

Lama.

“Tapi kamu nggak ngerti rasanya…”

“Coba jelasin.”

Dia berdiri.

“Kalau aku batalin… bukan cuma aku yang kena.”

“Aku tahu.”

“Bapak aku bisa jatuh.”

“Ibu aku bisa sakit.”

“Semua orang bisa tahu.”

Aku bangkit.

“Terus kalau kamu nikah sama dia?”

Dia diam.

“Kamu pikir kamu bakal bahagia?”

Dia langsung nangis lagi.

“Aku nggak tahu…”

“Jawab jujur.”

Dia geleng.

Pelan.

“Enggak.”

Hening.

Itu jawaban paling jujur malam ini.

Aku tarik napas panjang.

“Berarti sekarang kita punya dua pilihan.”

Dia lihat aku.

“Pertama… kamu nikah sama dia. Semua aman. Tapi kamu hancur pelan-pelan.”

Dia menelan ludah.

“Kedua… kita lawan ini. Risiko besar. Tapi kamu punya kesempatan buat hidup beneran.”

Dia gemetar.

“Dan kamu bakal bantu aku?”

Aku langsung jawab.

“Iya.”

Tanpa ragu.

Dia diam.

Lama.

“Aku nggak mau kamu ikut hancur…”

Aku tersenyum kecil.

“Udah dari dulu aku di sini.”

Hening.

Tiba-tiba…

suara pintu depan.

Kami berdua langsung kaku.

Langkah kaki.

Berat.

Suara laki-laki.

“Assalamu’alaikum…”

Rara langsung pucat.

“Dia…”

Jantungku langsung kencang.

“Dia siapa?”

Dia menatapku.

“…dia.”

Aku langsung berdiri.

Langkah kaki makin dekat.

Suara ibunya di luar.

“Oh, mas… masuk…”

Tanganku mengepal.

Rara berdiri di sampingku.

Gemetar.

Pintu kamar terbuka.

Seorang laki-laki berdiri di sana.

Rapi. Tenang.

Tatapannya langsung ke aku.

Dan dia tersenyum.

“Wah… ada tamu ya.”

Suasana langsung berubah.

Aku tahu satu hal di detik itu.

Ini bukan lagi tentang masa lalu.

Ini tentang…

pertempuran yang baru dimulai.

Ruangan itu langsung sunyi.

Bukan sunyi biasa.

Sunyi yang bikin dada sesak.

Laki-laki itu berdiri di ambang pintu.

Kemeja rapi. Wangi parfum tipis. Senyumnya tenang.

Terlalu tenang.

Tatapannya pindah dari aku… ke Rara.

Lalu balik lagi ke aku.

“Maaf ya… kayaknya aku ganggu.”

Suaranya halus.

Tapi dingin.

Aku nggak jawab.

Tanganku mengepal di samping.

Rara di sebelahku gemetar.

Aku bisa lihat dari ujung mataku.

Ibunya muncul di belakang.

“Mas, ini temennya Rara…”

“Teman lama,” potong laki-laki itu.

Cepat.

Seolah dia sudah tahu.

Aku langsung lihat dia.

Dia jalan masuk.

Santai.

Seperti rumah sendiri.

“Udah lama ya nggak ketemu,” katanya sambil duduk di kursi.

Aku tetap berdiri.

“Baru ketemu sekarang.”

Dia senyum tipis.

“Oh ya? Padahal aku sering dengar nama kamu.”

Rara langsung kaku.

Aku menoleh sedikit.

Dia menunduk.

Jadi dia tahu.

Dari dulu.

“Ngobrol di luar aja yuk,” katanya.

Masih santai.

Ibunya langsung mengerti.

“Ya, ngobrol di ruang tamu aja…”

Aku jalan duluan.

Dia ikut di belakang.

Langkahnya pelan.

Tapi terasa berat.

Kami duduk berhadapan.

Meja di tengah.

Di atasnya… kotak undangan.

Dia lihat aku.

Langsung ke mata.

“Jadi… kamu datang buat apa?”

Langsung.

Tanpa basa-basi.

Aku tarik napas.

“Aku mau minta Rara.”

Ibunya yang duduk di samping langsung kaget.

Rara di belakang… langsung menutup mulutnya.

Laki-laki itu diam.

Beberapa detik.

Lalu… dia tertawa kecil.

“Berani juga kamu.”

Aku nggak goyah.

“Aku serius.”

Dia bersandar.

Santai.

“Kamu tahu kamu ngomong sama siapa?”

Aku diam.

Dia ambil satu undangan di meja.

Dibuka.

“Semua ini… sudah jalan.”

Aku lihat undangan itu.

Nama Rara.

Dan namanya.

“Aku tahu.”

“Terus kamu masih datang?”

“Iya.”

Hening.

Dia menutup undangan.

Pelan.

“Rara…”

dia memanggil.

Rara keluar dari kamar.

Langkahnya pelan.

“Duduk.”

Rara duduk di sebelah ibunya.

Nunduk.

“Sekarang kita lurusin aja.”

Dia menatap kami satu-satu.

“Kamu mau dia?” tanyanya ke Rara.

Rara langsung menegang.

Aku lihat dia.

Ini momen yang menentukan semuanya.

Dia menelan ludah.

“Iya…”

Suaranya kecil.

Tapi jelas.

Ibunya langsung kaget.

Laki-laki itu diam.

Nggak marah.

Nggak teriak.

Cuma… diam.

Dan itu lebih menakutkan.

“Oke.”

Satu kata.

Tenang.

“Kalau gitu… kita ngomong jujur juga.”

Dia menatap Rara.

“Soal bapak kamu.”

Ibunya langsung menoleh.

“Kamu ngomong apa, mas?”

Rara langsung panik.

“Jangan—”

“Sudah waktunya.”

Suaranya tetap tenang.

Dia ambil HP.

Buka sesuatu.

Lalu… dia geser ke arah ibunya Rara.

“Ini bukti transfer.”

Ibunya melihat.

Wajahnya berubah.

“Ini…?”

“Uang yang bapak Rara pinjam.”

Ruangan langsung tegang.

Ibunya langsung berdiri.

“Rara! Ini apa maksudnya?!”

Rara nangis.

“Aku… aku mau jelasin—”

“Kamu tahu ini dari kapan?!”

“Aku… dari dulu…”

Tamparan.

Pelan.

Tapi terdengar jelas.

Aku langsung berdiri.

Ibunya gemetar.

“Kenapa kamu nggak bilang?!”

Rara menangis.

“Aku takut…”

Laki-laki itu masih duduk.

Tenang.

“Makanya saya datang baik-baik.”

Aku langsung lihat dia.

“Baik-baik?”

Dia menoleh.

“Saya nggak pernah maksa.”

Aku maju satu langkah.

“Kamu pakai ini buat nikahin dia.”

Dia tersenyum.

“Saya kasih solusi.”

“Solusi apa?”

“Utangnya lunas. Keluarga aman. Semua selesai.”

Aku ketawa kecil.

Pahit.

“Itu bukan solusi. Itu tekanan.”

Dia diam.

Lalu… dia berdiri.

Tinggi.

Lebih dekat.

“Kamu bisa bayar?”

Pertanyaan itu…

langsung menusuk.

Aku diam.

Dia lanjut.

“Kalau kamu bisa bayar sekarang… saya mundur.”

Hening.

Semua mata ke aku.

Jumlahnya aku bahkan belum tahu pasti.

Tapi dari cara dia bicara…

bukan angka kecil.

Aku menggenggam tangan.

“Kalau nggak bisa…”

dia mendekat sedikit.

“Jangan ganggu hidup orang.”

Kalimat itu…

tajam.

Rara menangis lebih keras.

Ibunya duduk lagi.

Lemah.

Aku berdiri di tengah ruangan.

Sendirian.

Untuk pertama kalinya…

aku benar-benar nggak punya jawaban.

Uang.

Bukan perasaan.

Bukan usaha.

Uang.

Aku lihat Rara.

Dia juga lihat aku.

Matanya penuh harap.

Dan takut.

“Aku…” suaraku serak.

Tapi kalimat itu nggak selesai.

Karena aku tahu.

Aku nggak punya itu.

Dan di detik itu…

aku sadar satu hal yang paling menyakitkan.

Cinta saja… tidak cukup.

Laki-laki itu merapikan bajunya.

“Akad dua minggu lagi.”

Dia jalan ke pintu.

Berhenti sebentar.

“Kalau kamu mau jadi pahlawan…”

dia menoleh sedikit.

“Buktikan.”

Pintu terbuka.

Dia keluar.

Sunyi.

Rara menangis.

Ibunya diam.

Aku berdiri.

Masih di tempat yang sama.

Dan untuk pertama kalinya…

aku merasa kalah.

Tapi saat aku hampir menyerah…

HP-ku bergetar di saku.

Nama yang muncul…

membuat jantungku berhenti.

“Pak Hadi.”

Orang yang… dulu pernah aku bantu.

Dan belum pernah aku hubungi lagi sejak itu.

Aku angkat.

“Jun… kamu lagi di mana?”

Suaranya panik.

“Ada sesuatu yang harus kamu tahu… soal keluarga Rara.”

Aku langsung diam.

Karena mungkin…

ini bukan akhir.

Aku keluar dari rumah Rara dengan langkah berat.

Udara pagi mulai terang.

Tapi kepalaku gelap.

HP masih di telinga.

“Pak… maksudnya apa?” suaraku pelan.

Di seberang, Pak Hadi tarik napas.

“Kamu masih ingat waktu kamu bantu saya dulu?”

Aku langsung ingat.

Beberapa tahun lalu.

Dia hampir bangkrut.

Aku bantu dia cari koneksi.

Tanpa mikir panjang.

“Iya, pak…”

“Utang bapaknya Rara… itu bukan utang biasa.”

Aku berhenti jalan.

“Maksudnya?”

“Itu utang lama. Dan… sebagian sebenarnya sudah dibayar.”

Jantungku langsung berdetak kencang.

“Apa?”

“Tapi ada yang nggak beres di pencatatannya.”

Aku langsung mutar arah.

Balik ke rumah Rara.

“Pak, bisa jelasin sekarang?”

“Saya dulu sempat bantu bapaknya Rara juga. Saya tahu sebagian transaksi itu.”

Langkahku makin cepat.

“Harusnya… sisa utangnya nggak sebesar yang sekarang ditagih.”

Darahku langsung panas.

“Jadi dia…?”

“Iya. Ada yang diperbesar.”

Aku langsung matiin telepon.

Nggak perlu penjelasan panjang lagi.

Aku sudah tahu.

Ini bukan sekadar tekanan.

Ini permainan.

Aku masuk lagi ke rumah Rara.

Nafasku ngos-ngosan.

Rara dan ibunya masih di ruang tamu.

Wajah mereka kosong.

“Ada yang harus kita lurusin sekarang.”

Mereka langsung lihat aku.

“Apa lagi?” suara ibunya lemah.

Aku keluarkan HP.

“Utangnya… nggak sebesar yang dia bilang.”

Rara langsung berdiri.

“Apa?”

“Saya punya orang yang tahu transaksi itu.”

Ibunya langsung mendekat.

“Bener ini?”

Aku mengangguk.

“Sebagian sudah dibayar. Tapi dia tahan data aslinya.”

Rara menutup mulutnya.

Air matanya jatuh lagi.

“Jadi selama ini…”

Aku mengangguk pelan.

Dia dipaksa… dengan angka yang tidak jujur.

Ibunya langsung duduk.

Pegang dada.

“Ya Allah…”

Aku langsung tegas.

“Kita nggak bisa diam.”

Rara menatapku.

“Dia bisa hancurin kita…”

“Aku juga bisa buka semuanya.”

Dia kaget.

“Aku punya saksi.”

Hening.

Beberapa menit kemudian…

aku telpon Pak Hadi lagi.

Speaker.

Beliau jelasin langsung.

Detail.

Nominal.

Tanggal.

Semua jelas.

Ibunya Rara menangis.

“Kenapa kita baru tahu sekarang…”

Rara duduk.

Tangannya gemetar.

“Aku takut dari awal…”

Aku duduk di depan dia.

“Sekarang bukan soal takut lagi.”

Dia lihat aku.

“Kamu mau percaya aku?”

Dia langsung mengangguk.

“Iya…”

Aku berdiri.

“Kalau gitu… kita selesaiin hari ini.”

Siang itu…

kami datang ke tempat laki-laki itu.

Sebuah kantor kecil.

Rapi.

AC dingin.

Dia duduk di belakang meja.

Tenang seperti biasa.

Sampai dia lihat kami bertiga datang.

“Wah… lengkap.”

Aku maju.

Letakkan HP di meja.

“Ini rekaman.”

Dia diam.

“Dan ini data.”

Aku geser file.

Wajahnya berubah sedikit.

Untuk pertama kalinya.

“Kamu dapat dari mana?”

Aku nggak jawab.

“Yang penting… ini cukup buat jelasin semuanya ke keluarga Rara. Dan… ke orang lain.”

Hening.

Dia menatapku lama.

Lalu… tersenyum kecil.

“Pintar juga kamu.”

Aku tetap diam.

“Jadi kamu mau apa?”

“Batalkan semuanya.”

Langsung.

Dia bersandar.

“Kalau saya nggak mau?”

Aku mendekat.

“Besok semua orang tahu.”

Sunyi.

Beberapa detik.

Yang terasa lama.

Dia akhirnya berdiri.

“Ambil aja dia.”

Satu kalimat.

Rara langsung nangis.

Ibunya langsung pegang dia.

“Dan utangnya?”

tanya ibunya.

Dia melirik.

“Yang asli… kita hitung ulang.”

Aku mengangguk.

Akhirnya.

Beberapa minggu kemudian…

Nggak ada pesta besar.

Nggak ada undangan ribuan.

Cuma rumah sederhana.

Beberapa kursi.

Keluarga dekat.

Aku duduk di depan penghulu.

Tangan dingin.

Rara di sebelah.

Pakai baju putih sederhana.

Matanya masih sembab.

Tapi… tenang.

Aku lihat dia.

Dia balas lihat aku.

Untuk pertama kalinya…

nggak ada ragu di matanya.

Ijab kabul selesai.

Sah.

Suara pelan.

Tapi terasa besar.

Ibunya menangis.

Peluk Rara.

Aku duduk.

Masih nggak percaya.

Rara mendekat.

Pelan.

“Kamu telat…”

Aku senyum kecil.

“Tapi masih keburu.”

Dia ketawa sambil nangis.

Tangannya genggam tanganku.

Erat.

Dan di detik itu…

semua yang dulu terasa rumit…

akhirnya sederhana.

Bukan soal siapa yang datang duluan.

Bukan soal siapa yang paling lama nunggu.

Tapi…

siapa yang berani bertahan…

dan nggak menyerah di saat terakhir.

Di luar…

suara motor lewat lagi.

Anak kecil ketawa.

Hidup tetap jalan.

Tapi sekarang…

aku nggak lagi sendiri.

Dan untuk pertama kalinya…

aku tahu pasti…

aku nggak kehilangan dia.

Karena ternyata…

aku memang harus memperjuangkan dia sampai detik terakhir.

Akhirnya.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *