ISTRINYA NGGAK BISA BAYAR KEKURANGAN SERIBU RUPIAH BUAT BELI MINYAK GORENG. TAPI 10 MENIT SEBELUMNYA, SUAMINYA BARU AJA TOP UP DANA 50 RIBU DI WARUNGKU. DAN YANG BIKIN AKU NGGAK BISA TIDUR MALAM ITU BUKAN SOAL UANGNYA. TAPI KENAPA SI SUAMI PERLU NANYA KE AKU, “TADI DIA BELI APA?“

Sore itu warung lagi sepi.

Kipas gantung muter pelan, bunyinya “tek… tek… tek…” tiap satu putaran. Di luar, suara motor lewat gang kecil kayak gesek-gesek aspal. Bau minyak goreng bekas gorengan siang tadi masih nyangkut di udara.

Aku duduk di kursi plastik biru, setengah rebahan, sambil scroll HP. Notifikasi WhatsApp numpuk, tapi males dibuka.

Sean lagi tidur di dalam. Istri lagi ke rumah tetangga.

Warung tinggal aku sendiri.

Jam di dinding nunjuk angka 16:47.

Aku ngelirik rak beras. Tinggal satu karung setengah.

“Besok harus kulakan lagi…” gumamku pelan.

Suara sendal jepit nyeret dari arah depan.

“Tok… tok…”

Aku nengok.

Seorang perempuan berdiri di depan warung.

Masih muda. Paling 20-an awal. Pakai kaos lusuh warna coklat muda, celana training hitam yang bagian lututnya mulai pudar. Rambutnya diikat asal, beberapa helai jatuh nempel di pipi.

Tangannya megang plastik kresek kosong.

Matanya langsung ke arah rak beras.

“Bang… beras setengah kilo ada?” suaranya pelan.

Aku bangkit.

“Ada.”

Aku ambil beras dari karung, timbang pakai timbangan gantung yang talinya udah agak kusam.

Jarumnya goyang-goyang.

Pas.

Aku tuang ke plastik.

“7.500 ya.”

Dia ngangguk.

Ngambil uang dari kantong celana. Dilipet kecil-kecil. Dibuka satu-satu.

Lima ribu.

Dua ribu.

Lima ratus.

Dia kasih ke aku.

Tangannya agak gemetar.

Aku nggak bilang apa-apa. Cuma nerima.

Dia langsung ambil plastik beras itu. Nggak basa-basi.

“Makasih ya, Bang.”

“Iya.”

Dia balik badan. Jalan cepet. Sendalnya bunyi “slap… slap…” di lantai semen.

Aku sempet ngelirik.

Langkahnya kayak orang yang lagi buru-buru tapi nahan sesuatu.

Entah apa.

Aku balik duduk lagi.

Scroll HP lagi.

Nggak sampai 10 menit.

Suara motor berhenti di depan warung.

“Bruk.”

Standar motor diturunin agak keras.

Aku nengok lagi.

Seorang laki-laki turun dari motor bebek tua. Catnya udah mulai kusam. Spion sebelah kiri retak.

Umurnya juga sekitar 20-an.

Kaosnya putih, tapi udah agak abu-abu. Ada noda hitam di bagian bawah. Celananya jeans sobek di lutut, tapi bukan gaya—lebih kayak udah lama dipakai.

Dia jalan masuk.

Langsung ke etalase rokok.

“Bang, rokok yang ini satu.” Dia nunjuk.

Aku ambil.

“38 ribu.”

Dia ngeluarin dompet.

Dompet tipis.

Dibuka.

Isinya ada beberapa lembar, tapi dia langsung ambil satu lembar lima puluh ribu.

Dikasih ke aku.

Aku kasih kembalian.

Belum selesai.

“Bang, bisa top up dana nggak?”

“Bisa.”

“Isi 50 ya.”

Aku ngangguk.

Nomornya dia sebut.

Aku input.

Proses.

“Udah masuk.”

Dia ngecek HP.

Ngangguk.

“Oke.”

Dia ambil rokoknya. Nggak buru-buru.

Bahkan sempet nyalain satu batang di depan warung.

Asapnya pelan keluar dari mulutnya.

Aku berdiri di balik etalase.

Diam.

Ada sesuatu yang aneh.

Tapi aku belum tahu apa.

Dia naik motor lagi.

Gas pelan.

Pergi.

Aku berdiri beberapa detik.

Masih ngeliatin arah dia pergi.

Terus…

Aku baru sadar.

Perempuan tadi.

Dan laki-laki ini.

Mereka pakai motor yang sama.

Stiker belakangnya—warna merah pudar, tulisan “Bismillah”.

Aku inget.

Baru aja lihat tadi.

Di motor yang sama.

Dadaku kayak ditekan pelan.

“Suami-istri…”

Aku gumam sendiri.

Aku duduk lagi.

Tapi kali ini HP nggak aku buka.

Mataku ke arah jalan.

Otakku muter.

Perempuan itu beli beras setengah kilo.

7.500.

Laki-laki itu beli rokok 38 ribu.

Top up dana 50 ribu.

Total dia keluarin hampir 90 ribu.

Jeda waktu mereka cuma sekitar… 7 atau 8 menit.

Aku nelen ludah.

Nyesek.

Aneh.

Bukan karena mereka miskin.

Bukan.

Aku sering lihat orang lebih susah dari itu.

Tapi…

Cara mereka.

Cara mereka belanja.

Ada sesuatu yang nggak beres.

Langit mulai agak gelap.

Suara toa masjid dari kejauhan mulai tes suara.

“Cek… cek… satu… dua…”

Aku masih duduk.

Masih mikir.

Sampai akhirnya…

Sekitar setengah jam kemudian.

Suara sendal itu lagi.

“Slap… slap…”

Aku nengok.

Perempuan itu lagi.

Dia berdiri di depan warung.

Nggak langsung ngomong.

Cuma berdiri.

Matanya ke arah dalam warung.

Kayak nyari sesuatu.

“Atau… nunggu sesuatu,” pikirku.

“Iya, Mbak?” aku buka suara.

Dia agak kaget.

“Oh… eh… Bang…”

Dia masuk sedikit.

Tangannya kosong.

“Minyak goreng ada yang paling kecil nggak?”

Aku ambil sachet kecil.

“Ini 3 ribu.”

Dia diem.

Masukin tangan ke kantong.

Lama.

Lama banget.

Akhirnya dia keluarin dua ribu.

Terus dia lihat ke arahku.

“Kurang ya, Bang…”

Aku diem.

Dia nelen ludah.

“Besok aku bayar sisanya ya…”

Kalimat itu keluar pelan banget.

Kayak berat.

Aku lihat matanya.

Nggak berani natap lama.

Aku tarik napas.

“Udah, nggak usah. Ambil aja.”

Dia langsung ngangkat kepala.

“Kok…”

“Ambil aja.”

Dia pegang sachet minyak itu.

Tangannya makin gemetar.

“Makasih ya, Bang…”

Aku cuma angguk.

Dia balik lagi.

Jalan.

Pelan.

Nggak secepet tadi.

Aku berdiri di tempat.

Ngelihat punggungnya.

Ada satu hal yang tiba-tiba keinget.

Dia tadi bayar beras pas.

7.500.

Nggak kurang.

Nggak lebih.

Tapi sekarang…

Kurang seribu aja dia nggak punya.

Dadaku makin berat.

Langit udah hampir maghrib.

Lampu warung aku nyalain.

Cahaya kuning redup.

Bayangan rak-rak jadi panjang di lantai.

Aku duduk lagi.

Tapi kali ini…

Aku nunggu.

Nunggu laki-laki itu datang lagi.

Entah kenapa.

Kayak ada sesuatu yang belum selesai.

Dan benar.

Nggak sampai 15 menit.

Suara motor itu lagi.

“Bruk.”

Dia turun.

Masuk lagi ke warung.

Aku langsung berdiri.

“Bang, ada kopi sachet?”

“Ada.”

Aku ambil.

“2 ribu.”

Dia ngeluarin uang lagi.

Tanpa mikir.

Kasih.

Ambil kopi.

Terus…

Dia lihat ke arah dalam warung.

“Bang, tadi ada cewek beli beras ya?”

Jantungku langsung berdegup lebih kencang.

Aku diem setengah detik.

“Iya.”

“Dia nanya apa aja?”

Aku langsung ngerasa… nggak nyaman.

“Ya… beli beras aja.”

Dia diem.

Ngangguk.

Tapi matanya… beda.

Kayak lagi mikir sesuatu.

Atau…

Curiga.

“Oke deh.”

Dia balik badan.

Mau keluar.

Tapi sebelum keluar—

Dia berhenti.

Noleh lagi ke aku.

“Kalau dia ke sini lagi… bilang ya, Bang.”

“Bilang apa?”

Dia senyum tipis.

Tapi nggak sampai ke mata.

“Bilang aja… aku udah tau.”

Lalu dia keluar.

Naik motor.

Pergi.

Aku berdiri.

Diam.

Kipas masih bunyi “tek… tek… tek…”

Toa masjid mulai adzan.

“Allahu akbar…”

Tapi aku nggak fokus.

Kepalaku cuma muter satu kalimat itu.

“Aku udah tau.”

Tau apa?

Apa yang dia tau?

Tentang istrinya?

Atau…

Tentang sesuatu yang lebih besar?

Aku duduk pelan.

Tanganku dingin.

Dan saat itu juga—

Aku sadar satu hal kecil.

Hal yang tadi aku anggap sepele.

Tapi sekarang…

Rasanya kayak petunjuk.

Perempuan itu.

Waktu beli beras.

Dia nggak bawa HP.

Sama sekali.

Tapi waktu laki-laki itu top up dana…

Dia jelas punya HP.

Dan…

Kalau mereka suami-istri—

Kenapa mereka nggak datang bareng?

Kenapa harus pisah?

Kenapa jedanya harus pas?

Dan yang paling bikin merinding—

Kenapa si laki-laki itu perlu nanya…

Apa istrinya beli di warungku?

Dan kenapa dia bilang…

“Aku udah tau.”

Aku langsung berdiri.

Ngelihat ke arah jalan.

Kosong.

Gelap.

Hanya lampu-lampu rumah yang mulai nyala satu-satu.

Di kejauhan, aku lihat…

Perempuan itu.

Jalan sendirian.

Bawa plastik kecil.

Masuk ke gang sempit di ujung.

Aku tanpa sadar melangkah keluar warung.

Ngeliatin dia sampai hilang di tikungan.

Dan tepat sebelum dia menghilang—

Dia berhenti sebentar.

Noleh ke belakang.

Ke arah warungku.

Ke arahku.

Matanya…

Bukan minta tolong.

Bukan takut.

Tapi…

Kayak orang yang lagi nyimpen sesuatu.

Sesuatu yang besar.

Dan dia tahu—

Aku mulai curiga.

Dadaku makin sesak.

Dan untuk pertama kalinya hari itu—

Aku ngerasa…

Ini bukan sekadar pasutri miskin.

Ada sesuatu di antara mereka.

Sesuatu yang belum aku lihat.

Dan mungkin…

Nggak seharusnya aku tahu

Aku nggak langsung masuk ke dalam.

Masih berdiri di depan warung.

Ngeliatin ujung gang tempat perempuan itu tadi masuk.

Lampu-lampu rumah udah nyala semua. Beberapa pintu kebuka, suara TV bocor sampai ke jalan.

Tapi gang itu…

Gelap.

Sepi.

Kayak nggak ada kehidupan.

Aku nelen ludah.

Langkahku maju sedikit.

Cuma sedikit.

Tapi berhenti.

“Ngapain sih gue…” gumamku pelan.

Nggak kenal.

Bukan urusan gue.

Tapi…

Kepala gue nggak bisa berhenti muter.

Perempuan itu.

Cara dia ngeluarin uang.

Cara dia minta ngutang seribu.

Cara dia nengok ke belakang.

Dan…

Kalimat si laki-laki itu.

“Aku udah tau.”

Tau apa?

Aku balik lagi ke dalam warung.

Ambil HP.

Buka WhatsApp.

Ngetik ke istri.

“Eh, tadi ada pasutri aneh ke warung.”

Belum aku kirim.

Aku hapus lagi.

Nggak penting.

Atau…

Mungkin terlalu penting.

Aku taruh HP.

Duduk.

Tapi cuma sebentar.

Karena lima menit kemudian—

Suara sendal lagi.

Cepet.

“Slap… slap… slap…”

Aku langsung nengok.

Perempuan itu.

Nafasnya agak ngos-ngosan.

Dia berhenti di depan warung.

Matanya langsung ke aku.

“Bang…”

Aku berdiri.

“Iya?”

Dia masuk setengah langkah.

Kayak takut ada yang lihat.

“Kalau… kalau nanti ada laki-laki ke sini lagi…”

Jantungku langsung kenceng.

“Iya…”

“Jangan bilang aku ke sini ya, Bang.”

Sunyi.

Kipas masih bunyi “tek… tek…”

Aku ngelihat dia.

Dia nggak bercanda.

Mukanya serius.

Tegang.

“Apa maksudnya?”

Dia langsung geleng cepat.

“Nggak… nggak apa-apa…”

Tangannya ngeremas ujung bajunya.

Kayak orang yang lagi nahan sesuatu.

“Pokoknya… jangan bilang ya, Bang.”

Aku belum sempet jawab.

Tiba-tiba—

Suara motor dari ujung jalan.

Kenceng.

Dia langsung noleh.

Panik.

Matanya langsung berubah.

“Dia…”

Dia mundur satu langkah.

Terus dua.

Terus langsung jalan cepet ke samping warung.

Ke arah tembok.

Dia berdiri di situ.

Nempel.

Kayak sembunyi.

Aku berdiri kaku.

Motor itu makin dekat.

Dan benar.

Itu motor yang sama.

“Bruk.”

Berhenti.

Langkah kaki masuk.

Aku masih berdiri di balik etalase.

Perempuan itu—

Di samping.

Nahan napas.

Aku bisa denger.

“Bang.”

Suara laki-laki itu lagi.

Aku nengok.

Dia masuk.

Kali ini mukanya beda.

Lebih tegang.

Matanya nyapu seluruh warung.

Seakan-akan nyari sesuatu.

Atau seseorang.

“Bang, tadi…”

Dia berhenti.

Ngeliat sekeliling.

Matanya sempet ke arah samping warung.

Ke arah perempuan itu sembunyi.

Jantungku kayak mau copot.

Tapi dia nggak lihat.

Atau…

Dia pura-pura nggak lihat.

Dia balik ke aku.

“Tadi dia ke sini lagi nggak?”

Detik itu…

Semua kayak melambat.

Aku bisa jawab jujur.

Atau…

Aku bisa bohong.

Aku lihat ke arah samping sedikit.

Perempuan itu nunduk.

Tangannya nutup mulut.

Aku tarik napas.

“Nggak.”

Jawabanku pendek.

Dia diem.

Nggak langsung respon.

Matanya ke aku.

Tajam.

Kayak lagi ngecek.

Kayak lagi nimbang.

Aku tahan.

Dia akhirnya ngangguk pelan.

“Oke.”

Dia jalan ke etalase.

“Rokok lagi satu.”

Aku ambil.

Tanganku agak kaku.

Dia bayar.

Tapi kali ini…

Dia nggak langsung pergi.

Dia berdiri.

Nyalain rokok.

Isap.

Buang asap pelan.

Matanya ke jalan.

“Bang…”

“Iya?”

“Kalau misalnya… istri lo tiba-tiba berubah… lo bakal gimana?”

Pertanyaan itu…

Nancep.

Aku nggak langsung jawab.

“Berubah gimana?”

Dia ketawa kecil.

Tapi aneh.

Nggak ada lucunya.

“Ya… berubah aja.”

Aku mikir.

“Istri gue ya… gue tanya dulu.”

Dia ngangguk.

“Kalau dia nggak jujur?”

Aku diem.

Dia senyum tipis lagi.

“Kadang… orang tuh nggak berubah, Bang.”

Dia ngelirik ke arah samping lagi.

Sekilas.

“Kadang… kita aja yang baru sadar.”

Jantungku makin kenceng.

Dia buang rokoknya.

Injek.

“Ya udah, Bang.”

Dia keluar.

Naik motor.

Pergi.

Suara mesinnya makin jauh.

Aku langsung nengok ke samping.

Perempuan itu masih di situ.

Tapi sekarang…

Dia duduk.

Di lantai.

Tangannya nutup muka.

Bahunya naik turun.

Dia nangis.

Pelan.

Nggak ada suara keras.

Cuma napas yang putus-putus.

Aku keluar dari balik etalase.

Mendekat.

“Mbak…”

Dia langsung ngangkat tangan.

Kayak minta aku berhenti.

“Jangan deket-deket dulu, Bang…”

Suaranya serak.

Aku berhenti.

“Kenapa sih?”

Dia nggak jawab.

Beberapa detik.

Lalu dia tarik napas panjang.

Ngusap muka.

Berdiri pelan.

Matanya merah.

“Maaf ya, Bang…”

Dia nyoba senyum.

Tapi gagal.

“Aku… nggak enak ngerepotin.”

“Ini bukan soal repot.”

Dia diem.

Ngeliat ke jalan.

Kosong.

“Aku cuma… butuh beli makan aja tadi.”

Aku langsung keinget.

Beras setengah kilo.

Minyak sachet.

“Suami Mbak…”

Dia langsung potong.

“Dia bukan jahat.”

Aku kaget.

“Aku nggak bilang dia jahat.”

“Tapi dia juga nggak baik.”

Kalimat itu keluar pelan.

Tapi jelas.

Aku diem.

Dia lanjut.

“Dia nggak pernah mukul aku.”

“Tapi…”

Dia nelen ludah.

“Dia juga nggak pernah percaya aku.”

Sunyi.

Kipas masih bunyi.

Dari kejauhan, suara anak-anak main petasan kecil.

“Terus… kenapa harus sembunyi?”

Dia ketawa kecil.

Kali ini pahit.

“Karena kalau dia tahu aku beli beras…”

Dia berhenti.

Matanya ke bawah.

“Aku bakal ditanya… uangnya dari mana.”

Aku langsung mikir.

“Lah… tadi kan dia—”

Aku berhenti sendiri.

Kepalaku mulai nyambung.

Rokok 38 ribu.

Top up 50 ribu.

Aku pelan-pelan ngomong.

“Uangnya… bukan buat Mbak ya?”

Dia ngangguk.

Pelan.

“Itu uang dia.”

“Dan dia selalu tau ke mana uang itu pergi.”

Aku makin nggak enak.

“Terus Mbak—”

“Aku kerja cuci baju.”

Dia langsung jawab.

“Harian.”

“Kadang dapet 20 ribu. Kadang nggak.”

Dia tarik napas.

“Kalau dia tahu aku pegang uang sendiri…”

Dia diem lagi.

Tangannya ngepal.

“Dia bakal ambil.”

Sunyi lagi.

Aku ngerasa dada gue makin berat.

“Terus tadi… dia bilang ‘aku udah tau’…”

Dia langsung ngangkat kepala.

Matanya panik lagi.

“Dia bilang gitu?”

“Iya.”

Dia langsung mundur satu langkah.

Kayak baru kena sesuatu.

“Berarti…”

Dia nggak lanjutin.

“Berarti apa?”

Dia geleng cepat.

“Nggak… nggak apa-apa…”

Tapi jelas—

Ada sesuatu.

Dan kali ini…

Lebih besar.

Lebih serius.

Dia ambil napas cepat.

“Bang…”

“Iya?”

“Kalau… kalau nanti dia balik lagi…”

Aku fokus.

“Kalau dia nanya lagi…”

Dia lihat langsung ke mataku.

“Bilang aja… aku ke sini beli rokok.”

Aku bengong.

“Hah?”

“Bilang aja gitu.”

“Kenapa?”

Dia nggak jawab.

Cuma bilang pelan—

“Tolong ya, Bang…”

Dan sebelum aku sempat nanya lagi—

Dia langsung jalan.

Cepet.

Masuk ke gang.

Hilang.

Aku berdiri di situ.

Sendiri.

Kali ini bukan cuma penasaran.

Tapi…

Takut.

Karena jelas—

Ini bukan sekadar suami pelit.

Ini bukan sekadar istri sembunyi-sembunyi.

Ada sesuatu yang lagi mereka tutupi.

Dan…

Entah kenapa…

Aku ngerasa—

Aku baru aja masuk ke sesuatu yang seharusnya bukan urusanku.

Tapi…

Sudah terlambat.

Karena sekarang—

Aku sudah tahu terlalu banyak.

Dan yang lebih bikin merinding—

Aku belum tahu…

Apa sebenarnya yang si laki-laki itu maksud dengan—

“Aku udah tau.”

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *