SUAMIKU MASIH BISA KETAWA SAMA ORANG LAIN — TAPI DI DEPAN AKU, DIA SEPERTI ORANG BISU. AKU TINGGAL SERUMAH DENGAN DIA, TAPI RASANYA KAYA NUMPANG DI HIDUP ORANG ASING. DAN YANG PALING NYAKITIN… AKU BARU SADAR, MUNGKIN DARI AWAL AKU MEMANG TIDAK PERNAH DIANGGAP ADA.

Namaku Bunga.

Aku ngetik ini sambil duduk di lantai kamar, punggung nyandar ke lemari, kipas angin muter pelan sambil bunyi “krek… krek… krek…” tiap beberapa detik.

Anakku lagi tidur di kasur. Nafasnya halus. Kadang tangannya gerak-gerak sendiri.

Di luar kamar, suara sendok kena piring.

Ibuku mertua lagi makan malam sama suamiku.

Mereka ketawa.

Ketawa.

Aku diem.

Tanganku berhenti di layar HP. Chat terakhir dari aku masih centang dua. Belum dibaca.

Padahal aku tau dia lagi megang HP.

Aku bisa denger suara video dari ruang tengah.

Aku tarik napas pelan. Lalu aku berdiri.

Pintu kamar aku buka sedikit.

Lampu ruang tengah terang. TV nyala. Ada suara sinetron.

Suamiku duduk santai di lantai, bersandar ke sofa. Ibunya di sampingnya. Mereka lagi makan.

“Eh, kamu tau nggak, tadi si Ani—” kata ibunya.

Belum selesai kalimatnya, suamiku langsung nyaut.

“Yang jualan sayur itu kan? Yang suaminya kerja di proyek?”

Mereka lanjut ngobrol.

Lancar.

Cepet.

Tanpa jeda.

Tanpa mikir.

Aku berdiri di balik pintu.

Tanganku dingin.

Aku tutup lagi pintunya pelan.

Balik ke kamar.

Duduk lagi di lantai.

HP masih di tangan.

Aku buka chat tadi.

“Ayah, nanti malem bisa ngobrol bentar nggak? Aku pengen cerita.”

Centang dua.

Udah satu jam.

Aku ketawa kecil.

Pelan banget sampai hampir nggak kedengeran.

Kadang aku mikir…

Apa aku yang salah?

Apa aku terlalu banyak minta?

Padahal aku cuma pengen dia ngomong.

Cuma itu.

Nggak minta hadiah.

Nggak minta jalan-jalan.

Cuma pengen dia nanya, “kamu capek nggak hari ini?”

Tapi itu aja… nggak pernah kejadian.

Awalnya nggak gini.

Dulu, waktu awal nikah, dia beda.

Namanya Arga.

Dia nggak banyak ngomong, tapi masih jawab.

Masih ada respon.

Kalau aku cerita, dia dengerin.

Walaupun cuma “hmm” atau “yaudah nanti kita pikirin”.

Tapi ada.

Sekarang?

Kosong.

Kayak ngomong ke tembok.

Aku masih inget, tiga bulan pertama nikah.

Kami masih ngontrak.

Rumah kecil, dindingnya tipis, kalau tetangga batuk aja kedengeran.

Tapi aku bahagia.

Banget.

Karena tiap malam, sebelum tidur, dia selalu nanya, “hari ini kamu ngapain aja?”

Aku cerita panjang.

Dia dengerin.

Kadang ketawa.

Kadang cuma senyum.

Tapi aku ngerasa ditemenin.

Sekarang…

Kami pindah ke rumah orang tuanya.

Katanya biar hemat.

Aku ikut.

Karena aku pikir, ya udah… namanya juga keluarga.

Tapi sejak itu, semuanya berubah.

Pertama kali aku ngerasa aneh, itu waktu makan malam bareng.

Ibunya masak sayur asem.

Aku bantu di dapur.

“Bunga, kamu potongin kacangnya ya,” kata ibu mertua.

“Iya, Bu.”

Aku potong.

Rapi.

Pelan.

Berusaha supaya kelihatan “cukup”.

Karena aku tau, aku masih “orang baru” di rumah itu.

Waktu makan, aku duduk di samping Arga.

Aku coba mulai ngobrol.

“Ayah, tadi aku ke warung depan, katanya—”

Belum selesai.

Dia ambil sambel.

Makan.

Diam.

Aku berhenti.

Ibunya langsung nyambung.

“Tadi si Ani lewat, katanya anaknya mau masuk sekolah sini.”

Arga langsung respon.

“Oh ya? Yang SD itu?”

Mereka ngobrol lagi.

Aku diam.

Sendok di tangan.

Nggak jadi makan.

Hari itu pertama kali aku ngerasa… ada yang salah.

Aku pikir cuma hari itu.

Ternyata nggak.

Hari berikutnya.

Minggu berikutnya.

Bulan berikutnya.

Sama.

Selalu sama.

Kalau aku ngomong, dia diam.

Kalau orang lain ngomong, dia hidup.

Pernah satu malam, aku udah nggak tahan.

Anakku lagi tidur.

Lampu kamar redup.

Aku duduk di pinggir kasur.

Dia lagi main HP.

Aku tarik napas.

“Ayah…”

“Hm.”

“Aku ganggu nggak sih?”

Dia nggak jawab.

Jari-jarinya masih scroll.

“Ayah…”

“Hm.”

“Aku tuh… pengen ngobrol sama kamu.”

Diam.

Aku tunggu.

Sepuluh detik.

Dua puluh detik.

Satu menit.

Nggak ada jawaban.

Aku liat ke arahnya.

Dia masih liat layar.

Seolah aku nggak ada.

Tanganku gemetar.

“Kalau aku ngomong… kamu denger nggak sih?”

Dia akhirnya nengok.

Sekilas.

“Iya.”

Terus balik lagi ke HP.

Itu doang.

“Iya.”

Seolah semua yang aku rasain… cuma perlu dijawab satu kata.

Aku ketawa.

Pelan.

Tapi kali ini… mataku panas.

Sejak itu, aku mulai jarang ngomong.

Bukan karena aku nggak mau.

Tapi karena capek.

Capek ngerasa bodoh setiap kali mulai pembicaraan.

Capek ngerasa kayak orang yang maksa masuk ke hidup orang lain.

Yang bikin aku makin sakit…

Dia bukan orang pendiam.

Bukan.

Dia bisa ngobrol.

Bisa ketawa.

Bisa cerita panjang.

Tapi… bukan sama aku.

Pagi hari.

Jam 7.

Suara motor lewat depan rumah.

Toa masjid masih ada sisa-sisa pengajian.

Aku lagi nyuapin anak di dapur.

Arga duduk di ruang tengah.

Ibunya lagi nyapu.

“Aduh, Bu… kemarin si Pak RT ngomong—” kata Arga.

Aku langsung nengok.

Dia cerita.

Panjang.

Detail.

Pakai ekspresi.

Ibunya nyaut.

Mereka diskusi.

Aku diem.

Sendok berhenti di udara.

Anakku mangap.

Aku lupa nyuapin.

Ada rasa aneh di dada.

Kayak… ketarik pelan tapi terus-terusan.

Siang hari.

Aku lagi nyuci baju di belakang.

Air ngalir deras.

Tangan basah.

HP aku bunyi.

Notifikasi.

Aku buru-buru lap tangan ke baju.

Buka.

Grup keluarga.

Arga kirim voice note.

Aku putar.

“Bu, nanti sore aku pulang agak telat ya, ada kerjaan.”

Suaranya jelas.

Tenang.

Normal.

Aku bengong.

Aku scroll chat pribadi kami.

Kosong.

Terakhir aku yang chat.

Dia belum jawab.

Tapi dia bisa kirim voice note ke ibunya.

Dengan suara yang… hangat.

Aku duduk di bangku kecil.

Air masih ngalir.

Baju numpuk.

Aku nggak gerak.

Sore itu, aku coba lagi.

Aku masak.

Nasi goreng.

Yang dulu dia suka.

Aku tambahin telur.

Irisan sosis.

Aku susun rapi.

Aku tunggu dia pulang.

Jam 7.

Jam 8.

Jam 9.

Akhirnya dia masuk.

Capek.

Langsung duduk.

Aku keluar dari dapur.

“Ayah… aku masak nasi goreng.”

Dia liat.

Sekilas.

“Udah makan di luar.”

Aku diem.

“Oh… yaudah.”

Aku balik lagi ke dapur.

Nasi goreng masih panas.

Uapnya naik pelan.

Aku ambil piring.

Aku makan sendiri.

Rasanya… hambar.

Padahal tadi aku coba.

Bener-bener coba.

Malamnya, aku buka HP.

Aku tulis sesuatu.

Lama.

Hapus.

Tulis lagi.

Hapus lagi.

Akhirnya aku kirim.

“Ayah… aku kangen kamu yang dulu.”

Centang satu.

Beberapa detik.

Jadi centang dua.

Aku tunggu.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Setengah jam.

Nggak ada balasan.

Di luar, aku denger dia ketawa lagi sama bapaknya.

Tentang bola.

Tentang kerjaan.

Tentang apa aja.

Kecuali aku.

Hari demi hari, aku mulai ngerasa aneh.

Bukan cuma karena dia diam.

Tapi karena… dia seperti sengaja menjauh.

Kalau aku masuk ruang tengah, dia keluar.

Kalau aku duduk di sampingnya, dia pindah.

Kalau aku mulai ngomong, dia langsung sibuk.

Seolah… aku sesuatu yang harus dihindari.

Sampai satu malam.

Semua berubah.

Hari itu hujan.

Deras.

Atap seng di belakang bunyi kenceng.

Anakku rewel.

Aku gendong.

Aku jalan mondar-mandir di kamar.

Arga belum pulang.

Jam 10 malam.

Aku mulai khawatir.

Aku chat.

“Ayah, kamu di mana?”

Centang satu.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Baru jadi centang dua.

Nggak dibalas.

Aku duduk di kasur.

Anakku mulai tidur.

Hujan masih deras.

Aku tarik selimut.

HP aku taruh di samping.

Tiba-tiba…

Notifikasi masuk.

Bukan dari dia.

Nomor nggak dikenal.

Aku liat.

Foto profilnya kosong.

Pesannya satu.

“Bunga, kamu masih belum tau ya?”

Jantungku langsung kenceng.

Aku duduk tegak.

Jari-jariku dingin.

Aku bales.

“Ini siapa?”

Beberapa detik.

Balasan masuk.

“Kamu pikir suamimu diem itu karena dia pendiam?”

Aku berhenti napas.

Hujan di luar makin kenceng.

Aku ngetik pelan.

“Maksudnya apa?”

Typing…

Lama.

Lama banget.

Sampai akhirnya…

Balasan muncul.

“Aku udah lama mau bilang. Tapi aku nunggu kamu sadar sendiri.”

Tanganku mulai gemetar.

“Apa yang harus aku sadar?”

Beberapa detik.

Balasan masuk.

Dan satu kalimat itu…

langsung bikin semuanya berubah.

“Dia bukan nggak mau ngomong. Dia cuma nggak mau ngomong sama kamu.”

Aku langsung berdiri.

Jantungku berisik.

Tanganku dingin.

Mataku panas.

Dan sebelum aku sempat mikir…

pesan berikutnya masuk.

“Kamu pikir kamu istri satu-satunya?”

Aku membeku.

Benar-benar membeku.

HP di tanganku terasa berat.

Hujan di luar seperti tiba-tiba jauh.

Semua suara hilang.

Cuma satu kalimat itu yang muter di kepala.

“Kamu pikir kamu istri satu-satunya?”

Pintu kamar tiba-tiba kebuka.

Arga berdiri di sana.

Basah.

Dari hujan.

Dia liat aku.

Aku liat dia.

HP masih di tanganku.

Layar masih nyala.

Pesan itu masih kebuka.

Dan untuk pertama kalinya…

aku lihat sesuatu di wajahnya.

Bukan diam.

Bukan kosong.

Tapi…

panik.

Pintu masih setengah terbuka.

Air hujan netes dari ujung jaket Arga. Lantai jadi basah.

Dia nggak langsung masuk.

Cuma berdiri.

Matanya pindah dari wajahku… ke HP di tanganku.

Lalu balik lagi ke wajahku.

“Kamu… belum tidur?” suaranya pelan.

Aku nggak jawab.

Tanganku masih menggenggam HP.

Pesan itu masih kebuka.

Aku angkat sedikit layar HP ke arahnya.

“Nih,” suaraku pelan, tapi keras di dalam.

Dia langsung menelan ludah.

Kelihatan.

Jelas banget.

“Apa ini?” tanyaku.

Dia diam.

Nggak ada kata.

Cuma napasnya yang berat.

Aku jalan pelan mendekat.

Setiap langkah berasa berat.

Seperti ada sesuatu yang narik kakiku mundur.

Tapi aku tetap maju.

“Aku nanya, ini apa?”

Aku ulangi.

Dia akhirnya masuk.

Tutup pintu.

Klik.

Suara kunci.

Ruangan langsung terasa sempit.

Anakku masih tidur.

Nggak tau apa-apa.

“Aku nggak tau itu siapa,” jawabnya cepat.

Terlalu cepat.

Aku langsung ketawa kecil.

Refleks.

“Serius?” aku miringin kepala.

Dia ngangguk.

“Iya.”

Aku angkat alis.

“Dia tau namaku.”

Diam.

“Dia tau aku istrimu.”

Diam lagi.

“Dan dia tau kamu… nggak ngomong sama aku.”

Kalimat terakhir itu keluar lebih pelan.

Lebih berat.

Lebih jujur.

Arga buang muka.

Tangannya nyisir rambut yang masih basah.

“Aku capek, Bunga,” katanya.

Kalimat itu.

Selalu itu.

Selalu.

Aku langsung berdiri tegak.

“Capek?”

“Iya.”

“Capek apa?”

Dia nggak jawab.

Aku makin maju.

“Capek kerja? Capek pulang? Capek hidup? Atau capek… sama aku?”

Dia langsung nengok.

Cepat.

Seperti tersentak.

Tapi tetap nggak jawab.

Aku ngerasa dadaku makin sesak.

“Jawab, Ga.”

Diam.

“Jawab.”

Dia tarik napas panjang.

“Aku nggak pengen ribut.”

Kalimat itu kayak disiram ke api.

Bukan bikin adem.

Malah makin besar.

“Aku juga nggak pengen ribut!” suaraku mulai naik.

“Tapi kamu bikin aku ngomong sendiri tiap hari!”

Anakku bergerak sedikit di kasur.

Aku langsung pelanin suara.

Tapi air mataku udah turun duluan.

“Aku cuma pengen kamu ngomong sama aku…”

Kalimat itu pecah di tengah.

Tanganku gemetar.

Arga berdiri di depan pintu.

Masih diam.

Masih.

Aku angkat HP lagi.

“Ini siapa?”

Dia geleng.

“Aku nggak tau.”

Bohong.

Aku tau itu bohong.

Cara dia jawab terlalu datar.

Terlalu aman.

Aku buka chat itu lagi.

Jantungku makin kenceng.

Aku ketik.

“Apa maksud kamu istri satu-satunya?”

Aku sengaja kirim di depan dia.

Centang satu.

Centang dua.

Typing…

Aku tahan napas.

Arga langsung maju.

“Udah, nggak usah dibales.”

Tangannya mau ambil HP.

Aku tarik.

“Jangan pegang.”

Suasana langsung tegang.

Typing masih jalan.

Lalu…

pesan masuk.

“Kamu serius nggak tau?”

Aku langsung baca keras.

Arga diam.

Aku ketik lagi.

“Ngomong yang jelas.”

Balasan masuk cepat.

“Dia punya kehidupan lain. Dan kamu bukan bagian dari itu.”

Tanganku lemas.

HP hampir jatuh.

Aku langsung duduk di kasur.

Kepalaku berisik.

Kayak ada banyak suara campur jadi satu.

“Ga…” suaraku pelan.

Dia nggak jawab.

“Apa ini bener?”

Diam.

Aku nengok ke dia.

Dia berdiri.

Masih.

Tapi kali ini… mukanya berubah.

Nggak panik lagi.

Tapi… kayak orang yang lagi mikir cepat.

Aku langsung sadar.

Ada yang dia sembunyiin.

Bukan cuma ini.

Lebih dari ini.

“Ada apa, Ga?”

Aku tanya lagi.

Pelan.

Hampir putus.

Dia jalan ke arah lemari.

Buka.

Ambil baju.

Seperti mau ganti.

Seperti… menghindar.

Aku berdiri.

“Jangan kabur.”

Dia berhenti.

Tangannya masih pegang kaos.

“Aku nggak kabur.”

“Kamu dari tadi nggak jawab!”

Dia akhirnya nengok.

Tatapan kami ketemu.

Untuk pertama kalinya malam itu…

dia bener-bener liat aku.

Bukan sekilas.

Bukan sambil lalu.

Tapi penuh.

Dan itu malah bikin aku makin takut.

“Aku… nggak tau harus mulai dari mana.”

Kalimat itu pelan.

Tapi jelas.

Aku langsung merinding.

Mulai dari mana?

Berarti… memang ada sesuatu.

Aku maju satu langkah.

“Mulai dari yang paling jujur.”

Dia diam.

Beberapa detik.

Lama banget rasanya.

Sampai akhirnya…

dia buka mulut.

“Tiga bulan terakhir… aku sering pulang telat, kan?”

Aku langsung jawab.

“Iya.”

“Itu bukan cuma kerja.”

Jantungku langsung jatuh.

Seperti ditarik ke bawah.

“Terus?”

Dia tarik napas.

Matanya turun.

“Aku… ketemu seseorang.”

Dunia langsung sunyi.

Hujan di luar masih ada.

Tapi aku nggak denger.

Cuma kalimat itu.

“Aku ketemu seseorang.”

Tanganku langsung dingin.

Mataku panas.

“Perempuan?”

Dia nggak jawab.

Itu sudah jawaban.

Aku ketawa.

Pelan.

Nggak percaya.

“Nggak mungkin…”

Tapi suara itu keluar lemah.

Nggak yakin.

Aku mundur satu langkah.

Tanganku pegang ujung kasur.

Biar nggak jatuh.

“Jadi ini… bener?”

Aku angkat HP.

Tunjuk chat itu.

Dia diam.

Aku ngerasa semuanya runtuh.

Pelan.

Tapi pasti.

“Siapa dia?”

Aku tanya.

Dia buka mulut.

Tutup lagi.

Seperti ragu.

Aku langsung teriak pelan.

“Siapa dia, Ga?!”

Anakku bergerak lagi.

Aku langsung nutup mulut.

Air mataku jatuh tanpa suara.

Arga akhirnya ngomong.

Pelan.

“Hana.”

Nama itu…

asing.

Aku belum pernah dengar.

“Dari mana?”

“Kantor lama.”

Aku bengong.

Kantor lama?

Dia udah pindah kerja setahun lalu.

“Sejak kapan?”

Dia diam.

Aku ulang.

“Sejak kapan?!”

Dia pelan banget jawabnya.

“Sebelum kita pindah ke rumah sini.”

Aku langsung jatuh duduk.

Lemah.

Berarti…

udah lama.

Bukan baru.

Semua momen aku ngerasa sendirian…

ternyata memang aku sendirian.

Karena dia… lagi sama orang lain.

Air mataku jatuh satu-satu.

Nggak deras.

Tapi berat.

“Jadi selama ini… kamu diam sama aku…”

Aku nggak sanggup lanjut.

Dia jawab.

“Iya.”

Jujur.

Akhirnya jujur.

Dan itu lebih sakit dari bohong.

Aku tutup muka.

Tanganku gemetar.

“Kenapa… Ga?”

Suara aku kecil.

Hampir nggak ada.

Dia lama nggak jawab.

Sampai akhirnya…

“Karena kalau aku ngomong sama kamu… aku ngerasa bersalah.”

Kalimat itu…

aneh.

Sangat aneh.

Aku langsung angkat kepala.

“Kamu selingkuh… tapi kamu yang merasa bersalah kalau ngomong sama aku?”

Dia nggak jawab.

Aku ketawa.

Kali ini lebih jelas.

Lebih pahit.

“Logikanya lucu ya.”

Aku berdiri.

Pelan.

Mataku langsung kering.

Seperti air mataku habis.

“Jadi solusinya… kamu pilih diam?”

Dia pelan.

“Iya.”

Aku geleng.

Nggak percaya.

“Terus… dia siapa sampai kamu rela kayak gini?”

Dia diam lagi.

Aku makin curiga.

“Apa dia tau kamu udah nikah?”

Dia jawab.

“Tau.”

Aku makin bingung.

“Terus kenapa dia mau?”

Dia nggak jawab.

Aku langsung sadar.

Ada yang lebih besar.

Lebih dalam.

Lebih kacau.

Aku pegang HP lagi.

Buka chat itu.

Aku ketik cepat.

“Kamu siapa?”

Kali ini aku langsung kirim.

Balasan datang cepat.

“Aku orang yang seharusnya kamu kenal dari awal.”

Aku langsung kaku.

Apa maksudnya?

Aku baca lagi.

Pelan.

Berulang.

“Orang yang seharusnya kamu kenal dari awal.”

Aku langsung nengok ke Arga.

Dia juga keliatan kaget.

Seperti… dia juga nggak tau kalimat itu.

Atau…

dia tau… tapi berharap aku nggak akan sampai ke sini.

Aku berdiri.

Pelan.

“Ga…”

Dia diam.

“Siapa sebenarnya dia?”

Dia nggak jawab.

Aku maju satu langkah lagi.

“Dan kenapa… dia bilang aku harusnya kenal dia dari awal?”

Dia akhirnya buka mulut.

Tapi sebelum dia sempat ngomong…

HP-ku berbunyi lagi.

Pesan masuk.

Aku langsung lihat.

Dan kali ini…

isi pesannya bikin dadaku benar-benar berhenti.

“Aku bukan orang ketiga, Bunga.”

Aku membeku.

Mataku pelan-pelan naik ke arah Arga.

Nafasku berat.

“Aku… yang lebih dulu ada sebelum kamu.”

Ruangan terasa berputar.

Tanganku lepas.

HP jatuh ke kasur.

Dan untuk pertama kalinya…

aku nggak tau lagi…

aku ini siapa di dalam pernikahan ini

HP masih di kasur.

Layarnya belum mati.

Pesan itu masih kebuka.

“Aku… yang lebih dulu ada sebelum kamu.”

Aku duduk pelan.

Kakiku lemas.

Arga masih berdiri.

Nggak mendekat.

Nggak menjauh.

Cuma diam.

Selalu diam.

Aku ketawa kecil.

Kosong.

“Lebih dulu?” suaraku serak.

Aku angkat HP lagi.

Baca ulang.

Pelan.

Setiap kata seperti ditusuk ke kepala.

Aku nengok ke Arga.

“Dia bilang dia lebih dulu.”

Dia nggak jawab.

Aku berdiri lagi.

“Jawab, Ga.”

Dia tarik napas panjang.

Tangannya masuk ke saku celana.

Keluar lagi.

Masuk lagi.

Gelisah.

Aku maju.

“Jawab.”

Akhirnya dia ngomong.

Pelan.

“Iya.”

Satu kata.

Tapi cukup buat dunia runtuh lagi.

Aku langsung mundur.

Satu langkah.

Dua langkah.

Sampai punggungku nabrak lemari.

“Iya… maksudnya apa?”

Suaraku naik.

Nggak bisa ditahan lagi.

Dia nengok ke arah anak kami.

Masih tidur.

Dia pelanin suara.

“Aku kenal dia duluan.”

Aku geleng.

“Kenal doang atau…?”

Dia tutup mata sebentar.

Lalu buka lagi.

“Kami… pernah serius.”

Aku langsung nahan napas.

Seperti paru-paruku lupa cara kerja.

“Seberapa serius?”

Dia diam.

Aku makin kenceng.

“Seberapa serius, Ga?!”

Dia jawab.

“Tunangan.”

Aku benar-benar diam.

Bukan karena tenang.

Tapi karena tubuhku berhenti.

Semua berhenti.

Tunangan?

Aku ngerasa seperti orang yang baru sadar selama ini berdiri di tempat yang salah.

“Terus… aku apa?”

Kalimat itu keluar sendiri.

Nggak direncanakan.

Nggak disiapkan.

Cuma keluar.

Dia nggak langsung jawab.

Dan itu lebih menyakitkan dari apapun.

Aku ketawa lagi.

Lebih keras.

Tapi suaranya tetap kecil.

“Lucu ya…”

Aku jalan ke arah jendela.

Hujan masih turun.

Air ngalir di kaca.

Kabur.

Seperti semuanya.

“Jadi aku ini… pengganti?”

Dia langsung nyaut.

“Bukan.”

Cepat.

Terlalu cepat.

Aku nengok.

“Terus apa?”

Dia diam.

Aku jalan lagi ke arahnya.

Dekat.

“Terus aku ini apa?”

Akhirnya dia jawab.

“Aku nikah sama kamu karena… waktu itu semuanya udah selesai sama dia.”

Aku langsung nyengir.

Sinis.

“Udah selesai?”

Aku angkat HP lagi.

Tunjuk chat itu.

“Ini namanya selesai?”

Dia diam.

Aku makin maju.

“Ini namanya selesai?!”

Dia tarik napas panjang.

“Aku pikir selesai.”

Aku langsung tepuk tangan kecil.

Pelan.

“Salah pikir ya?”

Dia nggak jawab.

Aku langsung duduk di kasur.

Tenagaku habis.

“Kenapa kalian putus?”

Dia diam lagi.

Aku mulai muak.

“Kenapa sih kamu kalau sama aku selalu harus dipaksa dulu baru ngomong?!”

Dia akhirnya jawab.

“Orang tuanya nggak setuju.”

Aku langsung berhenti.

Kalimat itu…

aneh.

“Kenapa?”

Dia geleng pelan.

“Masalah keluarga.”

Aku langsung sadar.

Ini belum selesai.

Belum lengkap.

“Masalah apa?”

Dia diam.

Aku bangkit lagi.

“Ga, jangan setengah-setengah!”

Dia akhirnya ngomong.

“Dia… punya kondisi.”

Aku bingung.

“Kondisi apa?”

Dia lihat aku.

Lama.

Seperti milih kata.

“Dia nggak bisa punya anak.”

Aku langsung kaku.

Sunyi.

Hujan di luar seperti berhenti.

Atau aku yang nggak dengar.

“Terus… kamu tinggalin dia karena itu?”

Dia langsung jawab.

“Bukan cuma aku.”

Aku langsung paham.

Keluarganya.

Aku langsung inget.

Ibunya.

Cara dia selalu ngomong soal cucu.

Cara dia senyum waktu aku hamil.

Cara dia bilang, “akhirnya ada penerus.”

Dadaku tiba-tiba sesak.

“Jadi…”

Aku pelan.

“Kamu pilih aku… karena aku bisa punya anak?”

Dia diam.

Dan diam itu…

jawaban.

Aku langsung duduk lagi.

Pelan.

Seperti tubuhku mati pelan-pelan.

“Oh…”

Cuma itu yang keluar.

“Oh…”

Aku ketawa.

Kali ini lebih jelas.

Lebih pahit.

“Berarti dari awal… aku bukan dipilih karena aku.”

Dia langsung nyaut.

“Bunga—”

“Karena rahimku.”

Kalimat itu keluar duluan.

Dia langsung diam.

Aku tutup muka.

Tanganku gemetar.

“Gila ya…”

Aku ngomong sendiri.

“Gila…”

Aku tarik napas dalam.

Tapi nggak cukup.

Nggak pernah cukup.

HP-ku bunyi lagi.

Aku langsung lihat.

Pesan baru.

Dari nomor itu.

“Akhirnya kamu tau juga.”

Aku langsung ketik.

“Kamu Hana?”

Balasan cepat.

“Iya.”

Tanganku dingin lagi.

Aku ngetik lagi.

“Kenapa kamu hubungi aku?”

Balasan masuk.

“Karena aku capek jadi yang disembunyikan.”

Aku langsung nengok ke Arga.

Dia keliatan kaget.

Seperti… dia nggak tau ini akan terjadi.

Aku baca lagi.

Pelan.

“Disembunyikan?”

Aku ketik lagi.

“Maksudnya?”

Balasan masuk.

“Dia bilang ke kamu dia diam. Tapi ke aku… dia tetap datang.”

Aku langsung berdiri.

“Kamu masih ketemu dia?!”

Aku teriak pelan.

Arga langsung maju.

“Bunga, dengerin—”

“Jawab!”

Dia berhenti.

Lalu…

pelan banget.

“Iya.”

Aku langsung dorong dadanya.

Nggak kuat.

Nggak keras.

Tapi cukup buat dia mundur sedikit.

“Kurang apa aku, Ga?!”

Air mataku akhirnya pecah.

Deras.

Nggak bisa ditahan lagi.

“Aku ikut kamu ke sini… aku tinggal semua… aku urus anak kita… aku tahan semua…”

Suaraku patah.

“Aku bahkan tahan kamu diem setiap hari…”

Aku jatuh duduk.

Nangis.

Bener-bener nangis.

Bukan yang ditahan.

Bukan yang pelan.

Tapi yang keluar semua.

Arga diam.

Lagi.

Selalu.

HP bunyi lagi.

Aku paksa diri lihat.

Pesan dari Hana.

“Dia bilang ke kamu aku masa lalu. Tapi ke aku… dia bilang dia masih punya tanggung jawab.”

Aku langsung kaku.

“Tanggung jawab?”

Aku ketik.

Balasan masuk.

“Kamu tau nggak… kenapa aku bilang aku lebih dulu?”

Aku tahan napas.

Jari-jariku gemetar.

Aku ketik.

“Kenapa?”

Beberapa detik.

Typing…

Lalu…

pesan itu muncul.

Dan kali ini…

semuanya benar-benar berubah.

“Aku bukan cuma mantan tunangannya.”

Aku langsung berdiri.

Jantungku berisik.

Seperti mau pecah.

“Aku masih istrinya secara agama.”

Dunia berhenti.

Benar-benar berhenti.

Aku nengok ke Arga.

Pelan.

Mataku kosong.

Mulutku terbuka sedikit.

“Apa itu bener?”

Suaraku hampir nggak keluar.

Arga nggak jawab.

Dan itu…

cukup.

Segalanya runtuh.

Bukan pelan.

Tapi sekaligus.

Aku mundur.

Satu langkah.

Dua langkah.

Sampai nabrak dinding.

Tanganku nyari pegangan.

Nggak ada.

Aku jatuh duduk di lantai.

Dingin.

Keras.

Seperti kenyataan.

Aku ketawa.

Nangis.

Campur.

Nggak jelas.

“Jadi…”

Aku pelan.

“Aku ini apa?”

Aku liat ke dia.

Matanya turun.

Nggak berani liat aku.

Aku angkat dagunya pakai tangan gemetar.

“Jawab.”

Dia pelan.

Sangat pelan.

“Bunga… aku mau jelasin—”

Aku langsung potong.

“Jangan jelasin.”

Suaraku datar.

Kosong.

“Jawab aja.”

Dia diam.

Beberapa detik.

Lama.

Sampai akhirnya…

dia ngomong.

Dan kalimat itu…

jadi titik paling sakit dalam hidupku.

“Aku nikah sama kamu… karena aku dipaksa milih.”

Aku membeku.

Mataku nggak berkedip.

“Dan aku… nggak berani nolak.”

Hening.

Benar-benar hening.

Aku pelan-pelan lepas tanganku dari dagunya.

Aku mundur sedikit.

Aku duduk lagi.

Kali ini…

tanpa suara.

Tanpa air mata.

Tanpa apapun.

Kosong.

Aku cuma satu hal yang aku rasain.

Aku bukan korban.

Aku cuma… pilihan kedua.

Yang dipilih karena keadaan.

Bukan karena dicintai.

Dan itu…

lebih sakit dari apapun

Aku duduk di lantai.

Punggung nempel ke dinding.

Dingin.

Keras.

Seperti isi kepalaku sekarang.

Arga berdiri beberapa langkah di depan.

Nggak mendekat.

Nggak pergi.

Cuma ada.

Dan itu justru bikin sesak.

HP-ku masih di tangan.

Chat dengan Hana masih kebuka.

Kata-katanya muter terus di kepala.

“Aku masih istrinya secara agama.”

Aku ketawa pelan.

Kering.

“Lucu ya…”

Suaraku hampir nggak kedengeran.

“Aku tinggal serumah sama suami sendiri… tapi ternyata aku bukan satu-satunya.”

Arga akhirnya duduk.

Pelan.

Seberang aku.

Jarak kami nggak jauh.

Tapi rasanya… seperti dua dunia.

“Bunga…” suaranya hati-hati.

Aku langsung angkat tangan.

“Jangan panggil namaku kayak gitu.”

Dia langsung diam.

Aku tarik napas.

Dalam.

Tapi tetap nggak cukup.

“Aku capek, Ga.”

Kalimat itu keluar pelan.

Bukan marah.

Bukan teriak.

Tapi… habis.

“Aku capek jadi orang yang nggak pernah kamu pilih.”

Dia langsung mau nyela.

“Aku—”

Aku geleng.

“Jangan.”

Aku lihat ke arah kasur.

Anakku masih tidur.

Tenang.

Nggak tau dunia ibunya lagi runtuh.

Tanganku gemetar.

Aku berdiri.

Pelan.

“Aku mau keluar.”

Arga langsung ikut berdiri.

“Bunga, jangan malam-malam—”

“Aku cuma ke teras.”

Aku buka pintu.

Udara dingin langsung masuk.

Bau tanah basah.

Hujan mulai reda.

Aku duduk di kursi plastik.

Air masih netes dari atap.

Tik… tik… tik…

Suara itu pelan.

Tapi jelas.

Aku pegang kepala.

Pusing.

Berisik.

Terlalu banyak yang masuk sekaligus.

Beberapa menit.

Atau mungkin lebih.

Aku nggak tau.

HP-ku bunyi lagi.

Aku lihat.

Hana.

Aku buka.

“Aku nggak niat hancurin kamu.”

Aku langsung balas.

“Terus?”

Balasan datang.

“Aku cuma capek disuruh nunggu.”

Aku diam.

Jari-jariku kaku.

Aku ketik lagi.

“Kamu masih sama dia?”

Balasan masuk.

“Dari dulu aku nggak pernah ditinggal. Cuma disuruh diam.”

Dadaku langsung sesak lagi.

“Dia janji bakal beresin semuanya.”

Aku langsung inget.

Tiga bulan terakhir.

Perubahan sikap Arga.

Diam.

Jauh.

Menghindar.

Bukan karena dia nggak peduli.

Tapi karena…

dia lagi hidup di dua tempat.

Aku tutup mata.

Lama.

Pintu belakang kebuka.

Suara sendal.

Ibu mertua.

“Astaghfirullah… Bunga, ngapain di luar dingin-dingin?”

Aku langsung hapus air mata cepat.

“Nggak apa-apa, Bu. Panas di dalam.”

Beliau duduk di sampingku.

Dekat.

Terlalu dekat.

“Ada apa sih?” tanyanya pelan.

Aku diam.

Aku nggak tau harus mulai dari mana.

Atau…

aku nggak tau harus bilang atau nggak.

Tapi sebelum aku jawab…

HP-ku bunyi lagi.

Notifikasi masuk.

Dari Hana.

Tanpa sadar…

ibu mertua melirik.

Matanya langsung fokus ke layar.

Aku terlambat nutup.

Dia sudah baca satu kalimat.

“Dia janji bakal beresin semuanya.”

Suasana langsung berubah.

Aku lihat wajahnya.

Kaku.

Matanya pelan-pelan naik ke aku.

“Ini… siapa?”

Suaranya beda.

Nggak hangat lagi.

Aku telan ludah.

“Teman.”

Dia langsung geleng.

“Jangan bohong.”

Aku diam.

Dia berdiri.

Cepat.

“Arga!”

Suara beliau keras.

Pintu belakang kebuka lagi.

Arga keluar.

“Ada apa, Bu?”

Ibunya langsung nunjuk HP di tanganku.

“Ini apa?”

Arga langsung kaku.

Aku bisa lihat itu.

Jelas banget.

Ibunya maju.

“Ini siapa?!”

Arga diam.

Lagi.

Selalu.

Aku berdiri.

Tanganku gemetar.

“Bu… saya mau jelasin—”

Beliau langsung potong.

“Kamu diem dulu!”

Aku langsung diam.

Seketika.

Beliau balik ke Arga.

“Ini perempuan siapa?!”

Arga akhirnya ngomong.

Pelan.

“Bu… itu—”

“Jawab!”

Suasana langsung panas.

Udara dingin pun nggak ngaruh.

Arga akhirnya bilang.

“Itu Hana.”

Nama itu jatuh di udara.

Berat.

Ibunya langsung mundur satu langkah.

Wajahnya berubah.

“Yang dulu?”

Arga pelan.

“Iya.”

Ibunya pegang kepala.

Seperti pusing.

“Kamu masih hubungan sama dia?!”

Arga nggak jawab.

Dan itu…

cukup.

Ibunya langsung nengok ke aku.

Matanya… beda.

Bukan marah.

Tapi… seperti takut.

Aku langsung ngerti.

Dia tau.

Dari awal.

“Bu…”

Suaraku pelan.

Hampir putus.

“Ibu tau?”

Dia diam.

Aku ulang.

“Ibu tau?!”

Air mataku jatuh lagi.

Tapi kali ini…

bukan cuma karena Arga.

Tapi karena…

aku sendirian.

Dari awal.

Ibunya akhirnya duduk.

Lemah.

Tangannya gemetar.

“Aku… aku pikir sudah selesai…”

Kalimat itu pelan.

Tapi jelas.

Aku langsung ketawa.

Pahit.

“Semua orang pikir sudah selesai…”

Aku lihat ke Arga.

“Tapi ternyata aku yang dijadikan solusi.”

Ibunya nangis.

Pelan.

“Aku cuma mau kamu punya anak… punya keluarga yang normal…”

Kalimat itu…

langsung nyambung.

Semua.

Semua potongan yang selama ini aneh…

jadi jelas.

Aku.

Dipilih.

Bukan karena dicintai.

Tapi karena… dibutuhkan.

Aku mundur satu langkah.

Kepalaku ringan.

Seperti mau pingsan.

“Jadi… dari awal… kalian semua tau?”

Nggak ada yang jawab.

Dan itu…

jawaban paling jujur.

Aku ketawa lagi.

Kali ini kosong.

Benar-benar kosong.

“Gila…”

Aku bisik.

“Gila…”

Aku langsung masuk ke dalam.

Ambil tas.

Masukin baju seadanya.

Cepat.

Nggak mikir.

Cuma gerak.

Arga masuk.

“Bunga, kamu mau ke mana?”

Aku nggak jawab.

Tetap lipat baju.

Masukin.

“Bunga!”

Tangannya pegang lenganku.

Aku langsung lepas.

“Jangan sentuh aku.”

Suaraku datar.

Tapi tajam.

Dia berhenti.

Aku tutup tas.

Ambil HP.

Ambil dompet.

Aku nengok ke arah kasur.

Anakku masih tidur.

Damai.

Aku mendekat.

Duduk di sampingnya.

Tanganku usap rambutnya.

Halus.

Hangat.

Air mataku jatuh lagi.

Pelan.

Aku cium keningnya.

Lama.

Sangat lama.

“Maafin ibu ya…”

Bisikku.

Suaraku pecah.

Arga berdiri di belakang.

“Bunga… jangan pergi…”

Aku berdiri.

Pelan.

Nggak nengok.

“Kalau aku tetap di sini… aku bakal hilang.”

Aku jalan ke pintu.

Tanganku pegang gagang.

Dingin.

Aku berhenti sebentar.

Cuma satu detik.

Lalu…

aku buka.

Udara malam masuk.

Sepi.

Jalanan basah.

Lampu kuning redup.

Aku melangkah keluar.

Dan di detik itu…

HP-ku bunyi lagi.

Aku lihat.

Hana.

Aku buka.

Pesannya cuma satu.

Tapi kali ini…

bukan buat menghancurkan.

Tapi…

membalik semuanya.

“Kalau kamu mau tau yang sebenarnya… kita harus ketemu.”

Aku berhenti di depan rumah.

Langkahku menggantung.

Hujan sudah berhenti.

Tapi dadaku masih berisik.

Aku lihat ke dalam rumah.

Arga berdiri.

Ibunya duduk.

Semua berantakan.

Aku lihat lagi ke HP.

Pesan itu.

“Yang sebenarnya…”

Aku tarik napas panjang.

Dan untuk pertama kalinya…

aku sadar.

Mungkin…

yang selama ini aku tau…

belum sepenuhnya benar.

Aku nggak jadi jalan.

Langkahku berhenti di depan pagar.

Air masih netes dari ujung atap.

Jalanan basah.

Sepi.

HP di tanganku masih nyala.

Pesan dari Hana masih kebuka.

“Kalau kamu mau tau yang sebenarnya… kita harus ketemu.”

Aku tarik napas panjang.

Pelan.

Lalu aku balik badan.

Masuk lagi ke dalam rumah.

Arga langsung nengok.

Ibunya juga.

Wajah mereka tegang.

“Aku nggak pergi,” kataku.

Suaraku datar.

Tapi jelas.

“Aku mau selesaiin ini.”

Arga keliatan lega.

Sedikit.

Tapi belum berani ngomong.

Aku angkat HP.

“Aku mau ketemu dia.”

Sunyi.

Ibunya langsung berdiri.

“Jangan—”

Aku lihat ke beliau.

“Bu… ini harus selesai.”

Beliau diam.

Tangannya gemetar.

Akhirnya duduk lagi.

Pelan.

Arga mendekat.

“Aku ikut.”

Aku geleng.

“Enggak.”

Dia kaget.

“Bunga—”

“Aku mau denger langsung. Dari dia. Tanpa kamu.”

Dia mau ngomong lagi.

Tapi berhenti.

Mungkin dia sadar…

ini bukan saatnya dia atur apa-apa.

Satu jam kemudian.

Aku duduk di sebuah warung kopi kecil.

Lampu putih terang.

Kursi plastik.

Meja agak lengket.

Suara sendok beradu sama gelas.

Motor lewat di luar.

Aku pegang gelas teh hangat.

Tanganku masih dingin.

Aku lihat pintu.

Setiap orang masuk, aku perhatiin.

Sampai akhirnya…

dia datang.

Perempuan.

Umur sekitar sama denganku.

Wajahnya… tenang.

Terlalu tenang.

Dia duduk di depanku.

Nggak banyak basa-basi.

“Kamu Bunga?”

Aku angguk.

“Kamu Hana?”

Dia juga angguk.

Beberapa detik.

Kami cuma saling lihat.

Aneh.

Aku lagi duduk sama perempuan yang selama ini… ada di hidup suamiku.

Tapi baru sekarang kami ketemu.

“Aku langsung aja ya,” katanya.

Suaranya pelan.

Nggak menyerang.

Aku diam.

Nunggu.

“Aku sama Arga… dulu memang tunangan.”

Aku angguk kecil.

Aku sudah tau.

“Tapi kami nggak pernah benar-benar putus.”

Aku langsung angkat kepala.

Dia lanjut.

“Keluarganya yang maksa selesai.”

Aku inget ibu mertua.

Cara dia tadi nangis.

Cara dia bilang “aku pikir sudah selesai”.

Semua nyambung.

“Aku nolak waktu itu,” lanjut Hana.

“Tapi aku nggak punya pilihan.”

Aku lihat matanya.

Nggak bohong.

Aku bisa ngerasain.

“Terus?”

Dia tarik napas.

“Beberapa bulan setelah kamu nikah sama dia… dia datang lagi ke aku.”

Jantungku berisik.

“Tapi bukan buat balikan.”

Aku bingung.

“Terus?”

Dia jawab.

“Dia datang buat minta maaf… dan buat nutup semuanya.”

Aku diam.

Mikir.

“Terus kenapa sekarang kamu bilang kamu masih istrinya?”

Dia langsung jawab.

Cepat.

“Karena aku memang pernah dinikahin secara agama sama dia.”

Aku langsung kaku.

Tapi dia lanjut sebelum aku bereaksi.

“Dulu. Sebelum kamu.”

Aku langsung bengong.

Otakku pelan-pelan nyusun ulang semuanya.

“Dan pernikahan itu… nggak pernah dicatat.”

Aku mulai ngerti.

Pelan.

“Tapi… setelah dia nikah sama kamu… dia datang lagi.”

Aku nahan napas.

“Dia minta aku anggap semua itu selesai. Dia mau fokus sama kamu.”

Aku langsung nengok.

“Kamu yakin?”

Dia angguk.

“Aku tolak awalnya.”

“Kenapa?”

“Karena aku masih nunggu dia.”

Sunyi.

Beberapa detik.

“Aku bodoh,” katanya pelan.

“Aku nunggu orang yang sebenarnya sudah pergi.”

Aku nggak ngomong.

Aku cuma denger.

“Dan tiga bulan terakhir…”

Dia lanjut.

“Dia memang datang lagi.”

Jantungku kenceng lagi.

“Tapi bukan buat balik.”

Aku langsung fokus.

“Terus?”

Dia jawab.

“Dia datang buat benar-benar nutup semuanya. Dia bilang dia sudah nggak bisa terus hidup dua arah.”

Aku diam.

“Dia bilang… dia pilih kamu.”

Kalimat itu…

pelan.

Tapi jelas.

Aku langsung ngerasa dadaku berubah.

Bukan ringan.

Tapi… beda.

“Aku marah,” lanjut Hana.

“Karena selama ini aku nunggu.”

Dia senyum sedikit.

Pahit.

“Makanya aku hubungi kamu.”

Aku langsung ngerti.

“Bukan buat hancurin aku…”

Dia angguk.

“Tapi karena kamu juga berhak tau.”

Sunyi lagi.

Aku lihat dia.

Lama.

“Jadi… sekarang?”

Dia tarik napas.

“Sekarang aku sudah selesai.”

Kalimat itu…

tenang.

Nggak ada emosi.

Nggak ada sisa.

“Aku cuma mau kamu tau… kamu bukan orang kedua.”

Aku langsung merinding.

Dia lanjut.

“Kamu adalah pilihan terakhir yang dia pertahankan.”

Aku nggak tau kenapa…

air mataku langsung turun lagi.

Pelan.

Aku pulang.

Langit sudah bersih.

Jalanan masih basah.

Lampu rumah masih nyala.

Aku buka pintu.

Pelan.

Arga langsung berdiri dari sofa.

Ibunya juga.

Mereka nunggu.

Dari tadi.

“Aku sudah ketemu dia,” kataku.

Sunyi.

“Aku sudah tau semuanya.”

Arga pelan-pelan mendekat.

“Tapi aku mau denger dari kamu.”

Aku lihat matanya.

Lama.

“Sekarang. Tanpa bohong.”

Dia tarik napas.

Dalam.

Lalu…

dia ngomong.

Semua.

Tentang masa lalu.

Tentang pernikahan yang dipaksa selesai.

Tentang rasa bersalah.

Tentang kenapa dia diam.

Tentang kenapa dia menjauh.

“Aku takut kalau aku ngomong… aku makin nyakitin kamu.”

Aku langsung jawab.

“Dan kamu pikir diam nggak nyakitin?”

Dia geleng.

Pelan.

“Sekarang aku tau… lebih sakit.”

Sunyi.

Aku lihat dia.

Dia juga lihat aku.

Untuk pertama kalinya…

kami benar-benar saling lihat.

Tanpa jarak.

Tanpa tembok.

Tanpa diam.

Aku duduk.

Pelan.

Tanganku di pangkuan.

“Aku nggak tau aku bisa langsung maafin kamu atau nggak.”

Jujur.

Dia angguk.

“Aku nggak minta itu sekarang.”

Aku tarik napas.

“Tapi aku mau coba.”

Kalimat itu keluar pelan.

Tapi nyata.

Matanya langsung berubah.

Ada sesuatu.

Yang sudah lama hilang.

“Aku mau coba… kalau kamu juga mau berubah.”

Dia langsung jawab.

“Aku mau.”

Cepat.

Yakin.

Aku lihat ibunya.

Beliau nangis.

Pelan.

“Aku minta maaf, Bunga…”

Suaranya gemetar.

“Aku egois.”

Aku diam.

Beberapa detik.

Lalu aku angguk kecil.

“Nanti kita benerin sama-sama.”

Malam itu…

kami nggak langsung bahagia.

Nggak langsung normal.

Tapi…

untuk pertama kalinya…

kami duduk bertiga.

Dan ngomong.

Bener-bener ngomong.

Tanpa ada yang ditahan.

Tanpa ada yang disembunyikan.

Beberapa hari kemudian…

aku lagi di dapur.

Masak.

Anakku main di lantai.

Suara sendok, suara panci.

Biasa.

Arga masuk.

Pelan.

Dia duduk di kursi.

Nggak langsung ngomong.

Seperti biasa.

Aku sempat mikir…

ini bakal sama lagi.

Tapi…

dia buka suara.

“Hari ini kamu capek nggak?”

Tanganku berhenti.

Sendok di udara.

Aku pelan-pelan nengok.

Dia lihat aku.

Beneran lihat.

Aku senyum kecil.

“Aku capek.”

Dia angguk.

“Cerita.”

Satu kata.

Tapi…

cukup.

Aku duduk di depannya.

Dan untuk pertama kalinya…

aku nggak lagi ngomong sendiri.

Aku punya teman lagi.

Di rumahku sendiri.

Dan kali ini…

aku nggak sendirian lagi.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *