| | |

SELAMA 20 TAHUN, ARKA PIKIR IBUNYA ADALAH ORANG PALING KUAT DI DUNIA.  

SAMPAI SUATU MALAM DIA MENDENGAR IBUNYA MENANGIS DI KAMAR MANDI.  

DAN DI TANGAN PEREMPUAN ITU ADA AMPLOP RUMAH SAKIT YANG SUDAH DISIMPAN ENAM BULAN.

Subuh itu.

Toa masjid di ujung gang baru saja selesai.

Udara Bandung menusuk. Uap tipis mengepul dari termos tua di meja makan yang catnya sudah mengelupas di sudut kiri.

Di dapur sempit itu, seorang perempuan sedang menggoreng telur.

Sendirian.

Seperti setiap pagi selama delapan tahun terakhir.

Namanya Bu Sari.

48 tahun.

Daster birunya sudah pudar di bagian bahu—tapi tidak pernah diganti karena ada yang lebih penting untuk dibeli.

Rambutnya digelung asal.

Tangannya berbau deterjen bahkan setelah dicuci tiga kali.

Minyak di wajan berdesis.

Kipas angin tua di ruang tengah berderit setiap beberapa putaran—bunyi yang sudah jadi bagian dari rumah ini seperti detak jantung.

Bu Sari menggoreng telur itu dengan hati-hati.

Satu telur.

Untuk Arka.

Miliknya sendiri?  

Nasi sisa semalam sudah cukup.

“Arka… bangun, Nak.”

Dia mengetuk pintu kamar pelan.

Tidak ada jawaban.

Dia membuka sedikit pintunya.

Di dalam, seorang anak laki-laki 12 tahun masih meringkuk di bawah selimut tipis. Laptop bekas tergeletak di samping bantalnya. Layarnya masih menyala—video yang tidak selesai ditonton.

Bu Sari berdiri sebentar di ambang pintu.

Memandangi anaknya.

Tersenyum pelan.

Senyum yang tidak ada yang melihat.

“Arka. Sekolah.”

Anak itu membuka mata setengah.

“Lima menit lagi, Bu…”

“Kalau lima menit lagi, jadi lima belas.”

Waktu itu Arka masih 12 tahun.

Dan seperti kebanyakan anak seusianya, dia selalu punya sesuatu yang lebih menarik dari tidur.

Setiap malam dia merekam video.

Kadang wajahnya sendiri.

Kadang suara hujan di luar jendela kamarnya yang kacanya sudah retak di pojok bawah.

Kadang hanya duduk di depan kamera dan bicara.

Suatu malam Bu Sari bertanya dari balik pintu.

“Kamu ngomong sama siapa?”

“Sama orang.”

“Orang mana?”

“Orang internet.”

Bu Sari diam sebentar.

“Yang penting jangan ngomong sama setan.”

Arka tertawa kecil.

Bu Sari juga.

Tapi setelah dia masuk ke kamarnya sendiri—

senyum itu hilang.

Ayah Arka tidak tinggal di rumah itu lagi.

Sudah delapan tahun.

Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada drama yang bisa diceritakan ke tetangga.

Hanya satu kalimat, suatu sore.

“Saya capek hidup begini.”

Lalu pintu ditutup.

Lalu tidak ada lagi suara langkah kakinya di teras.

Bu Sari tidak menangis malam itu.

Dia masuk ke kamar mandi.

Mengunci pintunya.

Dan menangis di sana—di tempat yang tidak ada yang bisa mendengar.

Sejak hari itu, kamar mandi menjadi satu-satunya tempat di rumah ini yang tahu aslinya dia.

Pagi harinya dia keluar dengan wajah yang sama.

Tersenyum.

“Arka sudah makan?”

Dia bekerja di dua tempat.

Pagi sampai sore di warung nasi Padang dekat pasar.

Malam mencuci pakaian tetangga—dengan tangan, bukan mesin, karena lebih murah ditawarkan begitu.

Kadang jam 11 malam tangannya masih basah dan bau deterjen dan punggungnya sudah tidak bisa tegak lagi.

Tapi kalau Arka masih terjaga dan bertanya  

“Ibu baru pulang?”

Jawabannya selalu sama.

“Iya. Ibu nggak capek kok.”

Suatu malam listrik mati.

Seluruh gang gelap.

Hanya lilin kecil di meja makan.

Arka duduk di depan laptopnya yang baterainya hampir habis. Bu Sari melipat pakaian di sebelahnya.

“Bu… kalau nanti Arka terkenal di internet, Ibu mau apa?”

Bu Sari tertawa kecil.

“Terkenal apanya?”

“Serius, Bu.”

Bu Sari berhenti melipat.

Berpikir.

Lama sekali—sampai Arka hampir mengira ibunya tidak akan menjawab.

Lalu pelan sekali, Bu Sari berkata:

“Ibu mau lihat laut.”

Arka mengerutkan kening.

“Laut?”

“Iya.”

“Ibu belum pernah?”

Bu Sari menggeleng.

“Belum pernah.”

Arka menatap ibunya.

Dan ada sesuatu di wajah perempuan itu—sesuatu yang tidak bisa dia beri nama waktu itu.

Bukan sedih.

Bukan juga bahagia.

Sesuatu di antaranya.

Seperti orang yang sudah lama tidak bermimpi, dan baru saja diizinkan bermimpi lagi untuk satu detik.

Arka tidak berkata apa-apa malam itu.

Tapi sejak malam itu, dia semakin sering merekam video.

Tahun pertama: tidak ada yang menonton.

Video pertama: 12 views.  

Video kedua: 8 views.  

Video ketiga: 3 views—dan dua di antaranya mungkin dia sendiri.

Suatu malam Arka duduk di dapur.

“Bu… kayaknya nggak ada yang nonton.”

Bu Sari sedang meniup sendok nasi panas. Dia menatap anaknya.

Tidak buru-buru menjawab.

Lalu berkata:

“Kalau kamu berhenti sekarang, nanti kamu penasaran nggak?”

Arka diam.

“Kalau iya,” Bu Sari menyodorkan piring nasi ke arahnya, “lanjut saja.”

Arka lanjut.

Setiap malam.

Laptop tua itu makin sering panas.

Kipasnya bunyi seperti motor mogok.

Tapi Arka tetap merekam.

Mengedit sampai subuh.

Mengunggah.

Menunggu.

Tahun-tahun berlalu.

Sekarang Arka sudah 20 tahun.

Sampai suatu hari—

satu video meledak.

Satu juta views.

Lalu dua juta.

Lalu lima juta.

HP Arka tidak berhenti berbunyi. Notifikasi masuk seperti hujan.

Dia berlari ke dapur.

“BU!”

Bu Sari kaget sampai hampir menjatuhkan panci.

“Kenapa?”

“Video Arka viral!”

Bu Sari menatap anaknya.

Lalu mengangguk pelan.

“Oh.”

Arka mengernyit.

“Oh doang?”

Bu Sari tersenyum.

“Memang harus bagaimana?”

Tapi malam itu, setelah Arka tidur—

Bu Sari duduk sendiri di ruang tengah.

Di depan kipas angin yang masih berderit.

Dia membuka HP-nya.

Mengetik nama Arka di kolom pencarian.

Menemukan videonya.

Menontonnya sampai habis.

Lalu menutup HP-nya.

Dan menangis diam-diam.

Tapi kali ini bukan di kamar mandi.

Karena ini bukan tangis yang perlu disembunyikan.

Beberapa bulan kemudian, Arka mulai mendapat uang.

Cukup untuk mengganti laptop.

Cukup untuk memperbaiki atap yang bocor.

Cukup untuk membuat ibunya berhenti mencuci baju orang.

Tapi ada satu hal yang Arka belum tahu.

Satu hal yang Bu Sari simpan rapat-rapat.

Malam itu Arka pulang lebih awal.

Rumah gelap.

Lampu dapur mati.

Hanya satu sumber cahaya—lampu kamar mandi yang menyala dari balik pintu yang tidak tertutup rapat.

Dan dari dalam…

ada suara.

Pelan sekali.

Seperti orang yang sedang berjuang menahan sesuatu.

Arka berhenti.

Tangannya terangkat—hampir mengetuk.

Lalu suara itu terdengar lagi.

Terputus-putus.

Seperti napas yang patah-patah.

Arka membeku di depan pintu itu.

Karena dalam 20 tahun hidupnya—

dia tidak pernah sekali pun mendengar ibunya menangis.

Tidak pernah.

Pintu itu terbuka.

Bu Sari keluar.

Langsung membalikkan badan—berpura-pura mengambil sesuatu di rak.

Tapi Arka sudah melihat.

Matanya merah.

Amplop putih terselip cepat ke balik dasternya.

Tapi tidak cukup cepat.

“Bu.”

Bu Sari tidak menjawab.

“Amplop itu apa?”

“Bukan apa-apa.”

“Bu.”

Satu kata.

Tapi nada yang belum pernah Arka pakai sebelumnya.

Bu Sari berhenti.

Bahunya turun.

Perlahan dia mengeluarkan amplop itu.

Menyerahkannya.

Tanpa berkata apa-apa.

Arka membukanya dengan tangan gemetar.

Kertas itu terlipat tiga.

Kop rumah sakit di bagian atas.

Tanggal pemeriksaan.

Diagnosis.

Satu kata yang membuat seluruh ruangan terasa seperti ambruk.

Tumor.

Dan tanggal di atas kertas itu—

enam bulan yang lalu.

Arka mendongak.

Menatap ibunya.

Perempuan yang setiap pagi menggoreng telur untuknya.

Perempuan yang selalu bilang  

“Ibu nggak capek.”

Perempuan yang selalu tersenyum.

Selalu.

“Bu… selama ini Ibu tahu?”

Bu Sari mengangguk pelan.

Dan untuk pertama kalinya dalam 20 tahun—

Arka melihat ibunya tidak tersenyum.

PART 2

Arka berdiri di depan ibunya.

Amplop itu masih di tangannya.

Dia tidak bisa bicara.

Tenggorokannya seperti dijerat.

Bu Sari yang lebih dulu bersuara.

“Arka—”

“Kenapa Ibu nggak bilang?”

Suaranya pecah di kalimat itu.

Bu Sari menunduk.

Lama.

Lalu pelan sekali berkata:

“Takut kamu berhenti.”

“Berhenti apa, Bu?”

“Mengejar mimpimu.”

Arka menutup wajahnya.

Kedua tangannya menutupi matanya.

Bahunya berguncang.

Bu Sari melangkah maju.

Meletakkan tangannya di punggung anaknya—tangan yang berbau deterjen, tangan yang sudah mencuci ribuan helai baju orang, tangan yang tidak pernah berhenti bekerja.

“Ibu cuma mikir,” suaranya tenang, tapi gemetar di ujungnya.  

“Kalau kamu berhasil dulu, baru Ibu cerita. Biar kamu nggak merasa bersalah mengejar mimpimu.”

Arka menoleh.

Matanya merah.

“Tapi Ibu sakit.”

Bu Sari tersenyum.

Senyum yang sama.

Senyum yang sudah dia pakai selama puluhan tahun.

“Ibu tahu.”

Malam itu Arka tidak tidur.

Dia duduk di dapur sampai subuh.

Di depannya: tumpukan kertas rumah sakit, nomor telepon dokter spesialis, dan laptopnya yang terbuka.

Dia mencari.  

Membaca.  

Menghitung.

Pagi-pagi sekali dia menelepon rumah sakit.

Operasi dilakukan tiga minggu kemudian.

Lima jam di dalam ruang bedah.

Arka duduk di luar sendirian.

Tidak makan.

Tidak menatap HP.

Hanya duduk.

Tangannya menggenggam selembar kertas kecil yang sudah lusuh karena dilipat dan dibuka berkali-kali.

Di atasnya, tulisan tangan Bu Sari dari bertahun-tahun lalu:

“Kalau kamu berhenti sekarang, nanti kamu penasaran nggak?”

Dokter keluar.

“Operasinya berhasil. Kami dapat semuanya. Dia baik-baik saja.”

Arka tidak bersorak.

Tidak melompat.

Dia hanya menunduk.

Dan untuk pertama kalinya sejak semalam—

dia menangis.

Diam-diam.

Di kursi plastik lorong rumah sakit yang dingin.

Sendirian.

Seperti ibunya selama ini.

Di tempat yang tidak ada yang melihat.

Tiga bulan setelah operasi—

Arka mengunggah video baru.

Tidak ada efek khusus.

Tidak ada musik dramatis.

Hanya dia duduk di depan kamera, dengan mata yang sedikit sembab.

Judulnya:

“Janji yang Belum Pernah Kutepati.”

Di akhir video, dengan suara yang hampir tidak stabil, Arka berkata:

“Waktu saya masih kecil, listrik mati, dan kami duduk di depan lilin yang hampir habis.

Saya tanya Ibu satu hal.

Kalau saya sukses, Ibu mau apa.

Ibu jawab: mau lihat laut.

Saya tidak tahu waktu itu betapa berat kalimat itu.

Betapa banyak yang Ibu korbankan supaya saya bisa duduk di depan kamera ini sekarang.

Ibu baru sembuh dari operasi.

Dan saya belum pernah menepati janji itu.”

Video itu ditonton 40 juta kali dalam tiga hari.

Dua bulan kemudian—

Bu Sari berdiri di tepi pantai untuk pertama kalinya dalam hidupnya.

Angin laut meniup dasternya—daster baru yang Arka belikan, tapi tetap polos dan sederhana seperti yang selalu dia pilih.

Ombak menjilat ujung sandalnya.

Dia tidak mundur.

Dia menutup matanya.

Menghirup.

Lama sekali dia berdiri seperti itu.

Sampai Arka yang berdiri di sebelahnya tidak tahan.

“Bu… gimana?”

Bu Sari membuka matanya.

Menatap laut yang membentang luas di depannya.

Lalu menoleh ke anaknya.

“Asin.”

Arka tertawa.

Bu Sari ikut tertawa.

Di tepi pantai itu, di bawah langit sore yang jingga—

dua orang tertawa seperti orang yang baru saja selamat dari sesuatu.

Karena memang begitulah adanya.

Tahun-tahun berikutnya, foto Bu Sari mulai memenuhi akun Arka.

Di depan laut Lombok.

Di pasar terapung Jepang.

Di tepi Bosphorus, Istanbul.

Di bawah Menara Eiffel—

dengan senyum yang sama persis seperti ketika dia dulu berdiri di dapur sempit rumah mereka, menggoreng satu telur di pagi buta.

Di bio akun Arka, hanya ada satu kalimat:

“Semua ini cuma cara saya membalas satu kalimat sederhana yang Ibu ucapkan di depan lilin yang hampir padam: Ibu mau lihat laut.”

Dan di rumah lama itu—

kipas angin tua yang berderit sudah diganti.

Atapnya sudah tidak bocor.

Meja makannya sudah baru.

Tapi termos tua itu masih ada.

Bu Sari tidak mau dibuang.

“Buat kenangan,” katanya.

Setiap subuh—

uap tipis masih mengepul dari termos itu.

Tapi sekarang ada dua cangkir di meja.

Bukan satu.

Dan Bu Sari tidak lagi menggoreng telur sendirian.

Ada yang menemaninya sekarang.

Ada yang bilang:

“Ibu duduk saja. Biar Arka yang masak.”

Beberapa hal tidak perlu dibalas dengan kata-kata.

Cukup dengan hadir.

Cukup dengan tidak pergi.

Cukup dengan duduk di dapur yang sama—

dan memastikan ibumu tahu:

kamu melihat semua yang dia sembunyikan.

Dan kamu tidak akan pernah lu

Kalau kamu membaca cerita ini sampai akhir, mungkin kamu juga langsung teringat satu orang.

Orang yang dulu sering bangun paling pagi di rumah.

Orang yang sering bilang “nggak apa-apa” padahal sebenarnya sedang capek.

Orang yang sering pura-pura kuat supaya kamu bisa terus berjalan.

Kalau orang itu masih ada di hidupmu sekarang, mungkin hari ini adalah waktu yang baik untuk menghubunginya.

Telepon dia.

Kirim pesan.

Atau kalau dia ada di rumah yang sama—datangi saja dan duduk sebentar di sampingnya.

Kadang orang tua tidak butuh hadiah mahal.

Kadang mereka hanya ingin tahu satu hal sederhana:

bahwa semua yang mereka lakukan dulu… kamu ingat.

Kalau kamu punya cerita tentang ibumu juga, tulis di kolom komentar.

Aku ingin membacanya.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *