ponsel istri berdering di meja saat suami menyadari sesuatu yang mencurigakan
|

Cerita Rumah Tangga: Aku Kira Istriku Pergi ke Minimarket Sampai Telepon Itu Berdering

AKU KIRA ISTRIKU HANYA PERGI KE MINIMARKET… SAMPAI PONSELNYA BERDERING DI MEJA
Awalnya aku tidak curiga apa-apa.
Malam itu istriku hanya berkata dia ingin keluar sebentar.
“Ke minimarket depan,” katanya sambil memakai jaket.
Aku hanya mengangguk dari sofa.
Aku bahkan tidak menoleh ketika dia membuka pintu dan keluar dari rumah.
Pintu ditutup pelan.
Sunyi kembali memenuhi ruang tamu.
Televisi masih menyala dengan volume rendah.
Semua terasa biasa saja.
Sampai beberapa menit kemudian…
ponselnya bergetar di atas meja.
Aku melirik sekilas.
Istriku memang sering meninggalkan ponselnya di rumah kalau hanya pergi sebentar.
Katanya dia tidak suka diganggu telepon atau pesan saat keluar malam.
Jadi awalnya aku tidak terlalu memikirkannya.
Tapi ponsel itu terus bergetar.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Layarnya menyala terang di meja.
Tanpa sengaja mataku menangkap nama yang muncul di layar.
Dan saat itulah…
darahku langsung terasa dingin.
Di layar itu tertulis satu kata.
“Sayang.”
Tanganku tiba-tiba terasa dingin.
Jantungku berdetak lebih keras dari biasanya.
Mungkin ini hanya salah paham.
Mungkin hanya nama kontak bercanda.
Atau mungkin…
aku hanya terlalu banyak berpikir.
Tapi ponsel itu kembali bergetar.
Dan kali ini muncul pesan baru.
Layar notifikasi menyala.
Hanya satu kalimat.
Kalimat yang membuatku tidak bisa duduk tenang lagi.
“Aku sudah menunggu di tempat biasa.”
Aku menatap pintu rumah yang baru saja ditutup istriku beberapa menit lalu.
Pikiranku mulai dipenuhi berbagai kemungkinan.
Dan satu hal terasa jelas di kepalaku.
Malam ini…
aku harus mencari tahu kebenarannya.
Aku mengambil jaketku.
Mematikan televisi.
Lalu keluar dari rumah.
Tanpa tahu bahwa keputusan itu…
akan membawa aku pada sesuatu yang jauh lebih mengejutkan dari yang pernah kubayangkan.
➡️ Lanjut ke PART 2

PART 2
Aku Mengikuti Istriku Malam Itu… Tapi Tempat yang Dia Datangi Bukan Minimarket
Aku menyalakan motor dengan pelan.
Lampu depan tidak langsung aku hidupkan.
Di ujung gang, aku melihat istriku berjalan menuju jalan besar.
Dia bahkan tidak menoleh ke belakang.
Seolah benar-benar yakin tidak ada yang memperhatikannya.
Aku menjaga jarak.
Beberapa meter di belakangnya.
Dadaku terasa tidak nyaman.
Bukankah dia bilang hanya ingin ke minimarket?
Tapi arah yang dia ambil justru ke jalan yang lebih sepi.
Lampu jalan hanya beberapa.
Sisanya gelap.
Akhirnya dia berhenti di pinggir jalan.
Beberapa detik kemudian…
sebuah mobil hitam berhenti di depannya.
Jantungku langsung berdetak keras.
Istriku membuka pintu mobil itu.
Lalu masuk.
Tanpa ragu.
Mobil itu langsung melaju pergi.
Aku menyalakan motor dan mengikuti dari jauh.
Sekitar lima belas menit kemudian mobil itu berhenti.
Bukan di restoran.
Bukan di hotel.
Bukan juga di rumah seseorang.
Mobil itu berhenti di sebuah gedung tua dua lantai yang lampunya hanya menyala sebagian.
Tempat itu terlihat sangat sepi.
Istriku turun dari mobil.
Seorang pria tinggi keluar dari kursi pengemudi.
Mereka tidak terlihat seperti pasangan.
Pria itu hanya menunjuk ke arah pintu gedung.
Dan istriku masuk ke dalam.
Aku mematikan mesin motor.
Lalu mendekati pintu gedung itu.
Pintu sedikit terbuka.
Dari celahnya aku melihat cahaya lampu di dalam.
Aku mendorong pintu itu perlahan.
Dan saat aku melangkah masuk…
aku mendengar suara seorang pria.
“Akhirnya dia datang juga.”
Lalu suara langkah kaki mendekat.
Dan seseorang berkata lagi:
“Sekarang kita tunggu suaminya.”
Tubuhku langsung membeku.
➡️ Lanjut ke PART 3

PART 3
Saat Aku Masuk ke Gedung Itu… Mereka Seolah Sudah Menungguku
Tubuhku langsung membeku di depan pintu.
“Sekarang kita tunggu suaminya.”
Kalimat itu masih terngiang di telingaku.
Bagaimana mereka tahu aku akan datang?
Aku mendorong pintu sedikit lagi.
Ruangan itu kosong.
Hanya lantai beton dan beberapa orang berdiri di tengah.
Istriku ada di sana.
Saat aku melangkah masuk…
semua mata langsung tertuju padaku.
Istriku menoleh.
Ekspresinya tenang.
Terlalu tenang.
Seolah dia memang sudah menduga aku akan datang.
“Jadi ini yang kamu lakukan di belakangku?” kataku.
Pria tinggi itu melangkah maju.
“Tenang,” katanya.
Aku menatap tajam ke arahnya.
“Siapa kamu?”
Dia tidak langsung menjawab.
Istriku akhirnya mendekat.
“Maaf,” katanya pelan.
Lalu dia menyerahkan sebuah map cokelat kepadaku.
“Buka.”
Tanganku membuka map itu.
Di dalamnya ada beberapa dokumen.
Dan satu foto.
Saat aku melihat foto itu…
napasku langsung tertahan.
Di foto itu ada seorang pria.
Dan wajahnya…
sangat mirip denganku.
Seolah aku sedang melihat diriku sendiri.
“Siapa ini?” tanyaku.
Istriku menatapku.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Lalu dia berkata pelan.
“Dia kakakmu.”
➡️ Lanjut ke PART 4

PART 4 (AKHIR)
Rahasia yang Selama Ini Disembunyikan dari Hidupku
“Aku tidak punya kakak,” kataku pelan.
Sejak kecil aku selalu diberitahu satu hal.
Aku anak tunggal.
Tapi istriku menggeleng.
“Aku juga baru tahu beberapa bulan lalu.”
Dia bercerita bahwa saat membersihkan lemari lama milik ibuku…
dia menemukan sebuah kotak.
Di dalamnya ada foto itu.
Dokumen.
Dan sebuah surat.
Surat dari ibuku.
Tanganku membuka salinan surat itu.
Tulisan tangan itu langsung aku kenali.
Tulisan ibuku.
Isi suratnya singkat.
Tapi setiap kalimatnya terasa berat.
“Maafkan ibu karena menyembunyikan ini terlalu lama.
Kamu memang punya seorang kakak.
Tapi ibu harus memisahkan kalian saat kalian masih kecil.
Itu satu-satunya cara untuk melindungi kalian.”
Aku mengangkat kepala perlahan.
“Melindungi dari apa?”
Pria tinggi itu menjawab pelan.
“Dari seseorang yang dulu ingin menghancurkan keluargamu.”
Aku menatap foto itu lagi.
Pria yang disebut kakakku.
“Di mana dia sekarang?”
Pria itu tersenyum tipis.
“Dia ada di kota ini.”
Aku menatapnya.
“Dan dia sangat ingin bertemu denganmu.”
Malam itu aku keluar dari gedung tua itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Aku datang dengan rasa curiga.
Dengan kemarahan.
Tapi aku pulang dengan kenyataan yang jauh lebih besar.
Ternyata selama ini…
aku tidak pernah benar-benar mengetahui seluruh cerita tentang keluargaku sendiri.
Di suatu tempat di kota ini…
ada seseorang yang memiliki wajah yang sama denganku.
Seseorang yang selama ini hidup tanpa pernah aku kenal.
Kakakku.

Dan entah kenapa…
aku merasa pertemuan kami nanti tidak akan sesederhana yang mereka katakan.
Jika kamu suka cerita seperti ini, baca juga kisah lainnya di CeritaBapaSean.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *