Cerita Kehidupan: Bokap Saya Dulu Sering Mengatakan Satu Kalimat Ini
Dulu saya kira itu hanya nasihat orang tua.
Kalimat biasa.
Sampai suatu pagi…
hidup kami benar-benar berubah.
⸻
Bapak saya berasal dari Sumatera Utara.
Orang Bersuku Mandailing.
Bermarga Lubis.
Dia datang dari keluarga yang sangat sederhana.
Sederhana sampai kadang sulit dibayangkan oleh orang yang hidup di kota besar hari ini.
Waktu sekolah dulu…
satu buku tulis dipakai untuk banyak mata pelajaran.
Matematika di depan.
Bahasa Indonesia di tengah.
IPA di belakang.
Kalau bukunya hampir habis…
dia mulai menulis di sela-sela halaman.
Serapat mungkin.
Supaya tidak perlu membeli buku baru.
⸻
Pernah suatu hari…
temannya membuang kertas bekas.
Buat orang lain itu hanya sampah.
Tapi buat bapak saya…
itu seperti menemukan harta.
Dia ambil kertas itu.
Lalu dihapus pakai karet.
Supaya bisa dipakai lagi untuk menulis.
Sesederhana itu hidupnya waktu kecil.
⸻
Tapi bapak saya punya satu sifat yang sangat kuat.
Dia keras kepala.
Dalam arti yang baik.
Kalau dia ingin sesuatu…
dia tidak berhenti sampai mendapatkannya.
Dia belajar terus.
Sampai malam.
Kadang hanya ditemani lampu redup.
Kadang sambil menahan lapar.
⸻
Sampai akhirnya sesuatu yang luar biasa terjadi.
Negara melihat kemampuannya.
Melihat kecerdasannya.
Dan memberi kesempatan besar.
Bapak saya dibiayai negara untuk kuliah S2 di Inggris.
Bayangkan.
Seorang pemuda dari Sumatera Utara.
Yang dulu menulis di kertas bekas…
tiba-tiba belajar di universitas di Inggris.
Pada zaman itu…
itu mimpi yang hampir mustahil bagi banyak orang.
⸻
Setelah selesai kuliah…
bapak saya pulang ke Indonesia.
Kariernya bagus.
Jabatannya bagus.
Orang-orang menghormatinya.
Dia bekerja sangat keras.
Mungkin karena dia tidak pernah lupa dari mana dia berasal.
⸻
Karena terlalu fokus mengejar karier…
bapak saya agak telat menikah.
Tapi begitu menikah…
sepertinya dia langsung mengejar waktu yang hilang.
Kami empat bersaudara.
Semua laki-laki.
Umurnya berderet rapat seperti gerbong kereta.
Kalau kami ribut di rumah…
rumah terasa seperti stadion kecil.
⸻
Bokap saya punya satu prinsip sederhana.
Dia tidak ingin anak-anaknya merasakan hidup sekeras masa kecilnya.
Akhirnya kami dimanjakan.
Rumah besar.
Pembantu ada.
Uang ada.
Sekolah pun kami di sekolah bagus di Jakarta.
Setiap pagi kami diantar mobil.
Seragam selalu rapi.
Sepatu selalu baru.
Buat kami waktu itu…
hidup terasa sangat normal.
Sangat aman.
Seolah semuanya akan seperti itu selamanya.
⸻
Sampai satu hari.
Hari yang mengubah semuanya.
Waktu itu saya kelas 2 SMP.
Pagi itu rumah terasa aneh.
Biasanya ada suara bokap di ruang makan.
Ada suara sendok beradu dengan piring.
Ada suara berita dari televisi.
Tapi pagi itu…
rumah sunyi.
Lalu tiba-tiba terdengar suara ibu menangis.
Tangis yang tidak pernah saya dengar sebelumnya.
Tangis yang seperti merobek dada.
Hari itu…
bokap saya meninggal dunia.
⸻
Saya masih ingat malam pertama setelah pemakaman.
Rumah kami penuh orang.
Tetangga datang.
Keluarga datang.
Semua berbicara pelan.
Seolah takut membuat luka semakin besar.
Tapi setelah beberapa minggu…
rumah mulai sepi lagi.
Dan di situlah kehidupan kami benar-benar berubah.
⸻
Selama ini kami dimanjakan.
Kami diberi semuanya.
Tapi ada satu hal yang ternyata tidak pernah kami pelajari.
Bagaimana caranya hidup.
Pengeluaran besar.
Pemasukan tidak ada.
Awalnya kami tidak sadar.
Kami masih hidup seperti biasa.
Sampai suatu hari…
tagihan mulai datang.
⸻
Tagihan listrik.
Tagihan sekolah.
Tagihan ini.
Tagihan itu.
Satu per satu.
Dan kami tidak siap.
⸻
Pelan-pelan semuanya mulai runtuh.
Rumah yang dulu terasa megah…
perlahan terasa kosong.
Saya masih ingat satu malam.
Lampu tiba-tiba mati.
Awalnya kami pikir hanya mati lampu biasa.
Tapi tidak.
Listrik kami diputus.
Bukan karena sehari.
Bukan karena seminggu.
Hampir satu tahun kami hidup tanpa listrik.
⸻
Rumah yang dulu terang benderang…
sekarang gelap.
Malam hari kami hanya ditemani lampu minyak kecil.
Kipas angin berhenti berputar.
Udara terasa pengap.
Kalau hujan turun…
suara air di atap seng terdengar sangat keras.
Dan saya sering duduk di ruang tamu yang gelap.
Memikirkan satu hal.
Apa yang sebenarnya terjadi dengan hidup kami?
⸻
Kami juga mulai berutang ke sana-sini.
Bukan untuk bisnis.
Bukan untuk investasi.
Hanya untuk makan.
Saya pernah melihat ibu menghitung uang receh di meja.
Sambil menarik napas panjang.
Beberapa surat tanah…
surat rumah…
akhirnya harus digadaikan.
Hanya untuk mempertahankan hidup.
⸻
Di masa itu saya sering berdoa.
Bukan doa yang indah seperti di buku.
Tapi doa yang jujur.
Kadang sambil menangis.
Saya bertanya kepada Tuhan.
“Bagaimana masa depan saya nanti?”
“Apakah hidup saya akan berakhir seperti ini?”
⸻
Di sekolah saya dulu…
kebanyakan teman saya anak orang berada.
Mobilnya bagus.
Rumahnya besar.
Liburannya ke luar negeri.
Saat hidup saya mulai jatuh…
banyak yang pelan-pelan menjauh.
Tidak jahat.
Tapi juga tidak lagi dekat.
⸻
Tapi ada satu teman.
Dia tetap datang ke rumah saya.
Padahal rumah kami sudah gelap.
Tidak ada listrik.
Tidak ada AC.
Kadang kami hanya duduk di teras.
Ditemani suara motor lewat di gang.
Dan lampu jalan yang redup.
⸻
Orang tua teman saya akhirnya melihat keadaan saya.
Suatu hari mereka memanggil saya.
Dan mengatakan sesuatu yang membuat saya hampir tidak percaya.
Mereka akan membiayai sekolah saya.
Sampai kuliah.
⸻
Hari itu saya pulang ke rumah dengan mata basah.
Saya bilang ke ibu.
Ibu hanya diam.
Lalu memeluk saya sangat erat.
⸻
Sejak hari itu saya berjanji pada diri sendiri.
Saya tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini.
Saya belajar sungguh-sungguh.
Saya bekerja sungguh-sungguh.
Saya tidak mau kembali ke masa gelap itu.
Pelan-pelan…
hidup saya mulai berubah lagi.
⸻
Memang saya tidak sehebat bokap saya dulu.
Saya tidak kuliah sampai Inggris.
Saya tidak punya jabatan tinggi.
Tapi setidaknya hari ini…
saya bisa hidup layak.
Saya bisa membantu ibu saya.
Saya juga bisa membantu abang-abang saya.
⸻
Kadang saya masih duduk sendirian di malam hari.
Mengingat perjalanan hidup kami.
Dari rumah besar…
sampai rumah gelap tanpa listrik.
Dari hidup nyaman…
sampai harus berutang hanya untuk makan.
Dan dari keputusasaan…
sampai akhirnya menemukan harapan lagi.
⸻
Dan di situlah saya akhirnya benar-benar mengerti kalimat bokap saya.
“Hidup itu bisa berubah dalam semalam.”
Kadang berubah menjadi sangat sulit.
Tapi kadang…
Tuhan juga bisa mengubah hidup seseorang dalam semalam.
⸻
Kalau kamu masih punya orang tua…
peluk mereka hari ini.
Karena kadang kita baru benar-benar mengerti betapa berharganya mereka…
setelah semuanya terlambat.