GUE BARU TAU, HIDUP BISA BERUBAH TOTAL DALAM WAKTU 30 DETIK. DAN YANG BIKIN BERUBAH ITU BUKAN ORANG LAIN… TAPI KEPUTUSAN GUE SENDIRI.
Suara kipas angin kamar kos itu berderit pelan, kayak orang yang lagi nahan napas.
Kurniawan rebahan di kasur tipis, staring ke langit-langit yang catnya udah mengelupas di sudut kanan. Jam dinding menunjuk angka 22.47. Besok dia harus masuk kerja jam delapan. Tapi matanya nggak mau tutup.
Di sebelahnya, Rena udah tidur. Rambutnya sedikit acak-acakan, tangannya nangkup di bawah pipi. Napasnya teratur. Tenang.
Kurniawan nggak bisa tenang.
Dia ambil HP. Layarnya mati. Dia taruh lagi.
Dipikirannya, satu kata terus muter kayak kaset rusak.
Hamil.
⸻
Tiga minggu yang lalu, hidup Kurniawan masih terasa sederhana.
Dia kerja di gudang distributor elektronik di kawasan Pulogadung. Shift pagi, gaji 3,2 juta, makan siang pake nasi padang satu bungkus delapan ribu yang dibagi dua sama Hendra — teman satu kos, satu kampung, satu nasib.
Kamarnya kecil. Tiga kali empat meter. Lemari plastik, kasur busa, meja lipat, kipas angin yang berderit itu. Dindingnya ada satu poster Liga Champions yang udah kuning pinggirnya — peninggalan penyewa sebelumnya, tapi Kurniawan males lepas karena bikin kamar keliatan nggak kosong-kosong amat.
Dia dari Garut. Anak ketiga dari empat bersaudara. Bapaknya kuli bangunan. Ibunya jual gorengan di depan sekolah dasar.
Waktu lulus SMK, dia nggak langsung ke Jakarta. Dia kerja dulu setahun di rumah, bantu bapak, nungguin ada kesempatan. Waktu akhirnya berangkat, bapaknya cuma bilang satu kalimat sambil salaman di depan terminal.
“Jaga nama baik.”
Kurniawan manggut. Tasnya dipanggul. Bis ekonomi berangkat jam empat subuh.
Itu dua tahun lalu.
⸻
Rena dia kenal bukan dari aplikasi. Bukan dari kenalan teman. Mereka ketemu di warung makan belakang gudang — warung Bu Ningsih yang mejanya cuma empat biji dan selalu penuh saat jam makan siang.
Waktu itu Kurniawan lagi antri, dan dia nggak sengaja nubruk Rena yang lagi balik dari kasir. Kuah soto tumpah ke lengan Rena. Panas. Rena ngaduh pelan.
Kurniawan panik. Dia minta maaf berkali-kali sambil nyolokin tisu dari sakunya — tisu yang udah agak lecek karena emang dibawa dari kos buat ganjel sepatu yang dol.
Rena ketawa.
Bukan ketawa biasa. Ketawa yang bikin pipi kanannya ada lekukan kecil. Dan matanya — matanya itu kayak orang yang nggak punya musuh di dunia.
Mereka ngobrol sejam. Lupa makan.
⸻
Rena kerja di pabrik garmen dua blok dari gudang Kurniawan. Bagian quality control. Dia dari Brebes, anak pertama dari dua bersaudara. Adiknya — namanya Bagas, 20 tahun — juga ngerantau di Jakarta, kerja di bengkel motor daerah Cakung.
Mereka berdua nggak punya siapa-siapa di Jakarta selain satu sama lain.
Sebulan pertama, Kurniawan dan Rena cuma temenan. Ngobrol via WhatsApp. Sesekali jalan bareng ke minimarket atau makan di warteg yang sama. Tapi semuanya terasa beda dari pertemanan biasa. Ada sesuatu yang nggak bisa Kurniawan definisikan tapi dia rasain tiap kali nama Rena muncul di notifikasi HP-nya.
Di bulan kedua, dia tembak.
Di depan warung Bu Ningsih. Sore hari. Setelah shift.
Rena diem lama. Lama banget. Sampai Kurniawan udah siap-siap minta maaf dan pura-pura itu cuma bercanda.
Tapi Rena angguk.
“Iya.”
Satu kata. Tapi di dada Kurniawan rasanya kayak pintu yang lama terkunci tiba-tiba kebuka lebar-lebar.
⸻
Enam bulan mereka pacaran.
Enam bulan yang Kurniawan lakuin dengan serius. Dia nggak main-main. Dia bawa Rena ke warung yang agak bagus waktu ultahnya. Dia beliin Rena obat waktu Rena demam. Dia dengerin Rena nangis lewat telpon jam dua malam waktu Rena lagi kangen ibunya yang di Brebes.
Dan Rena balas semuanya. Rena yang masakin dia nasi goreng waktu dia sakit. Rena yang ingetin dia bayar cicilan HP. Rena yang selalu angkat telpon bahkan pas udah ngantuk.
Mereka berdua perantau. Mereka berdua jauh dari keluarga. Dan entah kapan, mereka jadi keluarga satu sama lain.
⸻
Ide nikah siri itu datang bukan dari Kurniawan.
Datang dari Rena.
Malam itu mereka duduk di taman kecil dekat kos Rena. Bangkunya plastik, lampunya remang-remang, ada suara motor yang sesekali lewat di jalan besar.
Rena pegang tangan Kurniawan.
“Wan, kita mau sampai kapan kayak gini?”
Kurniawan nggak langsung jawab.
“Maksudnya?”
“Aku capek ngulangin ke orang-orang bahwa kita cuma ‘teman dekat’. Aku capek bohong ke Bu Ningsih waktu dia nanya kamu siapa bagiku. Aku capek nelepon ibu tapi nggak bisa cerita soal kamu karena takut dikira macem-macem.”
Kurniawan dengerin. Nggak motong.
“Aku nggak minta langsung nikah resmi. Aku tau kondisi kita. Aku tau kita belum siap bilang ke orang tua. Tapi… Wan, aku pengen ada status. Aku pengen kalau ada apa-apa sama aku, kamu itu bukan cuma ‘pacar’.”
Hening.
Suara toa masjid di kejauhan menyampaikan pengumuman yang Kurniawan nggak dengerin isinya.
“Siri?” kata Kurniawan akhirnya.
Rena angguk kecil.
“Bagas bisa jadi waliku. Dia ngerti. Aku udah ngobrol sama dia.”
“Mas Dodi bisa jadi waliku,” kata Kurniawan pelan. Dodi adalah kakak pertamanya, 28 tahun, kerja di Bandung. Mereka nggak terlalu dekat, tapi Dodi tipe kakak yang nggak banyak tanya asal adiknya keliatan baik-baik aja.
Rena nangkuk lirih.
Kurniawan diem lama.
Dalam diam itu, dia timbang-timbang. Dia tau ini bukan keputusan yang ringan. Tapi dia juga tau satu hal yang dia yakini lebih dari apapun:
Dia serius sama Rena.
Dia nggak mau Rena ngerasa nggak punya tempat bergantung di kota yang keras ini.
“Oke,” katanya akhirnya.
Rena nggak langsung senyum. Dia nangis dulu. Pelan. Sambil masih pegangin tangan Kurniawan.
⸻
Akad nikah siri mereka dilaksanakan tiga minggu setelah percakapan itu.
Bukan di masjid besar. Di kontrakan Bagas — satu kamar, satu dapur kecil, ubin retak di pojok kanan. Ada satu ustaz yang Bagas kenal dari pengajian RT setempat. Dodi datang naik motor dari Bandung, wajahnya agak tegang tapi nggak banyak tanya.
Saksinya cuma dua: teman satu kos Bagas yang namanya Fajri, dan Hendra — teman Kurniawan.
Nggak ada bunga. Nggak ada baju pengantin. Kurniawan pakai kemeja putih yang biasa dia pakai interview. Rena pakai gamis biru muda yang dibeli di pasar Jatinegara dua hari sebelumnya.
Mas kawinnya sebentuk cincin perak polos seharga dua ratus ribu.
Tapi waktu akad itu selesai, waktu ustaz bilang sah, dan waktu Bagas dan Dodi berjabat tangan — Kurniawan ngerasa sesuatu yang nggak bisa dibeli dengan apapun.
Dia ngerasa bertanggung jawab.
Sungguh-sungguh. Pertama kalinya dalam hidupnya.
⸻
Dua bulan setelah akad, Rena telat.
Kurniawan yang beliin test pack di Indomaret jam delapan malam, pura-pura santai waktu bayar ke kasir.
Mereka tunggu hasilnya di kamar kos Rena. Dua menit yang terasa dua jam.
Dua garis.
Rena diem. Kurniawan diem.
Kipas angin di sudut kamar berputar terus. Dari luar ada suara anak kecil yang dipanggil ibunya buat makan malam.
“Wan.”
“Iya.”
“Ini beneran?”
Kurniawan lihat lagi test pack-nya. Dua garis merah. Terang. Jelas. Nggak ada ruang buat tafsir lain.
“Beneran.”
⸻
Minggu-minggu setelah itu adalah minggu paling berat dalam hidup Kurniawan.
Rena mulai mual. Tiap pagi. Kadang tengah malam. Suara sendal Rena bolak-balik ke kamar mandi jadi alarm yang nggak ada snooze-nya.
Kurniawan lakuin apa yang dia bisa. Beliin jahe sachet. Beli biskuit asin yang katanya bantu ngurangin mual. Anter Rena ke bidan terdekat buat cek pertama.
Bidan itu ramah. Umur kandungan delapan minggu. Semua normal.
Tapi waktu bidan itu nanya, “Suaminya kerja apa?” — dan Kurniawan jawab “Gudang, Bu” — ada sesuatu di matanya yang bikin Kurniawan ngerasa kecil.
Bukan hina. Bukan meremehkan. Tapi tatapan itu bilang satu hal yang jelas:
Kamu siap, nak?
Kurniawan pulang dari klinik itu dalam diam.
⸻
Itu tiga minggu yang lalu.
Sekarang dia masih rebahan di sini. Di kasur tipis. Di samping Rena yang tidur tenang. Di bawah langit-langit yang catnya mengelupas.
Dia ambil HP lagi.
Ada tiga notifikasi yang dia tunda baca dari tadi.
Satu dari Hendra: “Wan, ibu lo nelepon aku tadi. Nanya kabar lo. Kayaknya mau nelpon lo juga.”
Satu dari Dodi: “Wan, aku perlu ngomong sesuatu. Penting. Besok bisa?”
Dan satu — yang bikin tangan Kurniawan sedikit gemetar waktu dia baca — dari nomor yang dia simpan sebagai “Bapak”:
“Wan, bapak mau ke Jakarta. Minggu depan. Mau nengokin kamu.”
Kurniawan taruh HP di dada.
Matanya staring ke langit-langit.
Di luar, suara motor lewat gang. Sekali. Dua kali. Terus sepi.
Bapak mau ke Jakarta.
Minggu depan.
Kurniawan belum pernah bohong besar ke bapaknya. Bukan karena dia anak yang terlalu baik — tapi karena bapaknya itu tipe orang yang kalau menatap kamu, kamu ngerasa semua kebohongan kamu udah kelihatan semua tanpa perlu ngomong.
Dan sekarang, di kamar kos yang sama ini, ada istrinya yang hamil dua bulan lebih — yang belum diketahui siapapun di kampung.
Dua garis merah di test pack yang masih ada di laci meja.
Dan bapaknya mau datang.
Minggu depan.
Kurniawan tutup mata. Tapi gelap di balik matanya justru lebih berisik dari suara kipas angin yang terus berderit itu.
Lalu HP-nya getar lagi.
Satu notifikasi baru.
Dari Dodi.
“Wan. Ibu sakit. Masuk rumah sakit tadi sore. Bapak belum tau kamu udah nikah kan? Wan, ini serius. Kita harus bicara sekarang.”
⸻
Kurniawan nggak jadi tidur malam itu.
Dia keluar kamar pelan-pelan, nutup pintu supaya Rena nggak kebangun, terus duduk di lantai koridor kos — ubin dingin, lampu neon yang satu lagi kedap-kedip — sambil telepon Dodi.
Dua kali nada. Langsung diangkat.
“Wan.” Suara Dodi berat. Bukan marah. Tapi ada sesuatu di baliknya yang bikin dada Kurniawan sesak duluan.
“Ibu kenapa, Kak?”
“Hipertensi. Tadi sore tiba-tiba pusing, muntah, terus nggak bisa ngomong jelas. Tetangga yang antar ke IGD. Bapak lagi di sana sekarang.”
Kurniawan pegangan tembok.
“Sekarang kondisinya?”
“Udah stabil. Tapi dokter bilang harus istirahat total. Nggak boleh stres.” Dodi berhenti sebentar. “Wan, ibu nanya kamu terus. Dari tadi sore. Padahal susah ngomong, tapi yang dia panggil nama kamu.”
Tenggorokan Kurniawan terasa kering.
“Kak, gua—”
“Wan.” Dodi motong. Nada suaranya turun satu oktaf. “Gua nggak mau ceramahin kamu. Gua cuma mau tanya satu hal. Bapak belum tau kan? Soal Rena. Soal semuanya.”
“Belum.”
Hening tiga detik.
“Wan, gua yang minta kamu nikah siri itu bukan rahasia yang gua minta tanggung sendiri. Gua kakak kamu. Gua ikut tanggung. Tapi sekarang kondisinya udah beda. Ibu sakit. Bapak mau ke Jakarta. Kalau dia sampai sana dan tau sendiri — bukan dari kamu — itu jauh lebih berat akibatnya.”
“Gua tau, Kak.”
“Kamu harus jujur, Wan. Sebelum terlambat.”
Kurniawan nggak jawab. Dia lihat ujung sandalnya. Ada sobekan kecil di bagian depan yang udah dia tunda tambal dari bulan lalu.
“Wan.”
“Iya, Kak. Gua dengerin.”
“Satu lagi.” Suara Dodi agak berubah. Ada sesuatu yang dia tahan. “Bapak tadi ngirim pesan ke gua. Bilang dia nggak jadi berangkat minggu depan.”
Kurniawan angkat kepala.
“Maksudnya?”
“Dia udah di terminal Garut sekarang. Naik bus malam. Wan — bapak kamu sampai Jakarta besok pagi.”
⸻
HP nyaris jatuh dari tangan Kurniawan.
Dia duduk terpaku di ubin koridor itu. Lampu kedap-kedip di atas kepalanya. Dari kamar sebelah ada suara TV yang volumenya kecil — siaran malam yang nggak jelas isinya.
Bapak besok pagi.
Bukan minggu depan.
Besok pagi.
Kurniawan nggak tau berapa lama dia duduk di sana. Sampai pintu kamarnya terbuka dan Rena muncul — rambutnya berantakan, matanya setengah ngantuk, tapi langsung jelas kaget waktu lihat Kurniawan duduk di lantai.
“Wan? Kenapa di sini?”
Kurniawan angkat muka. Dia mau bilang nggak apa-apa, mau senyum, mau kasih alasan yang ringan supaya Rena nggak khawatir.
Tapi yang keluar dari mulutnya justru:
“Ibu gua masuk rumah sakit.”
Rena langsung duduk di sebelahnya. Di lantai. Tanpa pikir panjang. Bahunya nempel ke bahu Kurniawan.
“Kapan?”
“Tadi sore. Hipertensi.”
“Sekarang kondisinya?”
“Stabil. Tapi—” Kurniawan berhenti. “Bapak gua berangkat ke Jakarta malam ini, Ren. Besok pagi nyampe.”
Rena diam. Dia nggak tanya dulu. Nggak panik. Dia cuma duduk di sana, bahunya nempel, dan nunggu.
Itu yang bikin Kurniawan akhirnya cerita semuanya.
Soal pesan Dodi. Soal kondisi ibu. Soal bapak yang berangkat malam-malam tanpa bilang dulu. Soal rasa takut yang udah dia pendam berminggu-minggu — takut ketahuan, takut ngecewain, takut nggak sanggup.
Rena dengerin semua. Nggak motong sekali pun.
Waktu Kurniawan selesai, dia tarik napas panjang.
“Wan.”
“Iya.”
“Kita harus jujur ke bapak kamu.”
Kurniawan lirik ke arahnya.
“Gua tau kamu takut,” kata Rena pelan. “Gua juga takut. Tapi Wan — kita udah punya anak dalam perut ini. Kita nggak bisa terus sembunyi.”
“Ibu lagi sakit, Ren. Kalau gua jujur sekarang—”
“Kalau kamu nggak jujur sekarang, dan bapak kamu tau sendiri,” Rena potong lembut, “itu yang justru bisa bikin semua orang makin sakit.”
Kurniawan diam.
Di luar, suara motor lewat gang. Dua kali. Terus sepi lagi.
Rena ambil tangan Kurniawan. Digenggam.
“Kita hadapin bareng. Oke?”
Kurniawan lihat tangan itu. Cincin perak polos di jari manis Rena. Dua ratus ribu. Tapi waktu dia megang tangan itu, rasanya lebih berat dari apapun yang pernah dia pegang.
“Oke,” katanya akhirnya.
Tapi di dalam dadanya, satu pertanyaan masih belum punya jawaban:
Gimana caranya jujur ke bapak yang bahkan tatapannya aja bisa bikin Kurniawan ngerasa semua dosanya udah kelihatan?
⸻
Jam 05.23 subuh, HP Kurniawan getar.
Pesan dari nomor bapak.
“Wan, bapak udah di Kampung Rambutan. Mau ke kos kamu. Kirim alamat.”
⸻
Kurniawan kirim alamat dengan tangan yang nggak terlalu stabil.
Rena udah bangun, udah mandi, udah rapi. Dia masak air di dispenser kos, nyeduh teh manis dua gelas — satu buat Kurniawan, satu dia simpan di meja buat nanti.
Kurniawan yang belum mandi, belum ganti baju, cuma berdiri di depan cermin kecil di balik pintu kamar. Lihat mukanya sendiri.
Lingkaran hitam di bawah mata. Rahang yang agak tegang. Kemeja yang sama dari kemarin.
“Wan, mandi dulu,” kata Rena dari belakang. “Jangan ketemu bapak kamu kayak gitu.”
Kurniawan nurut.
Mandi air dingin jam setengah enam pagi. Dia biarkan airnya ngucur di atas kepalanya lebih lama dari biasanya. Kayak dia lagi nyiapin diri buat sesuatu yang nggak ada persiapan yang cukup.
⸻
Bapak datang jam 06.15.
Kurniawan jemput di depan gang — gang kos-an yang sempit, cuma muat satu motor lewat, dengan selokan kecil di kiri dan tembok penuh poster band dangdut di kanan.
Bapak turun dari ojol. Baju koko coklat tua, celana bahan hitam, sandal jepit yang Kurniawan kenal betul — sandal yang sama yang bapak pakai waktu antar dia ke terminal dua tahun lalu.
Rambutnya lebih putih dari terakhir Kurniawan lihat waktu lebaran.
“Bapak.”
Bapak lihat Kurniawan dari ujung kepala ke ujung kaki. Satu detik. Terus angguk pelan.
“Kamu kurus.”
Itu kalimat pertamanya.
Kurniawan nggak bisa senyum. Dia cuma bilang “udah makan tadi, Pak” — bohong kecil yang keluar otomatis.
Mereka jalan masuk gang. Bapak nggak banyak ngomong. Tapi matanya jalan — lihat kanan kiri, lihat kondisi gang, lihat jemuran orang yang udah digantung dari subuh.
“Kamu betah di sini?”
“Lumayan, Pak. Dekat kerja.”
“Teman-teman kamu baik?”
“Baik.”
Bapak angguk lagi. Terus diam lagi.
Dan di diam itu, Kurniawan ngerasa sesuatu yang nggak enak. Bapaknya bukan tipe orang yang basa-basi. Kalau dia nanya hal-hal kecil kayak gitu, biasanya ada sesuatu yang lebih besar yang lagi dia lingkari.
⸻
Di kamar kos, Rena sudah rapiin semuanya.
Kasur dilipat jadi tempat duduk. Meja lipat digeser ke tengah. Dua gelas teh manis sudah di atas meja — dan satu lagi, Rena tambahkan untuk bapak.
Waktu bapak masuk dan lihat Rena berdiri di sana — gamis biru muda, kerudung rapi, tangan dilipat di depan — ada sedetik di mana ekspresi bapak berubah tipis.
Cuma sedetik. Tapi Kurniawan lihat.
“Bapak, ini… teman gua. Namanya Rena. Dia kerja di deket sini.”
Rena langsung senyum. “Selamat datang, Pak. Silakan duduk. Teh-nya masih panas.”
Bapak duduk di kursi lipat yang Kurniawan pinjam dari Hendra tadi pagi. Dia terima gelas teh itu. Dia minum satu tegukan.
Terus dia lihat tangan Rena yang menaruh gelas itu.
Cincin perak polos di jari manis.
Bapak nggak langsung ngomong. Dia taruh gelasnya pelan. Dia lihat Kurniawan. Terus lihat Rena. Terus lihat Kurniawan lagi.
“Wan.”
“Iya, Pak.”
“Siapa dia sebenernya?”
Kamar itu tiba-tiba terasa lebih kecil dari ukuran aslinya.
Kipas angin berderit. Dari luar ada suara ibu-ibu yang manggil anaknya buat sarapan.
Kurniawan buka mulut — tapi nggak ada yang keluar.
Dan sebelum dia sempat cari kata-kata, Rena yang maju satu langkah.
Suaranya tenang. Nggak gemetar.
“Saya istri Kurniawan, Pak.”
⸻
Bapak tidak langsung marah.
Itu yang paling bikin Kurniawan takut.
Bapak cuma duduk diam. Matanya nggak pindah dari meja. Tangannya yang kasar — tangan kuli bangunan yang pernah angkat bata puluhan tahun — melingkar di gelas teh yang mulai mendingin.
Satu menit.
Dua menit.
Rena masih berdiri di tempat yang sama. Nggak mundur.
Kurniawan udah siap-siap untuk marah besar. Untuk suara bapak yang naik. Untuk kata-kata yang menghantam.
Tapi bapak justru nanya pelan — sangat pelan:
“Kapan?”
“Empat bulan lalu, Pak,” jawab Kurniawan. “Nikah siri. Walinya kakak Rena. Saksinya ada. Ustaznya ada. Semuanya sah.”
Bapak angguk sangat pelan. Macam orang yang lagi mastiin hitungan yang dari tadi dia udah curiga.
“Kak Dodi tau?”
“Dia yang jadi wali dari pihak gua, Pak.”
Tangan bapak mengencang di gelas itu.
“Jadi yang nggak tau cuma bapak sama ibu.”
Kalimat itu bukan pertanyaan.
Kurniawan nggak bisa jawab. Karena jawabannya iya, dan iya itu terasa lebih menyakitkan dari kata apapun yang bisa dia ucapkan.
Bapak berdiri. Dia jalan ke jendela kecil yang menghadap tembok tetangga. Berdiri di sana. Punggungnya ke Kurniawan dan Rena.
Bahunya naik turun satu kali.
Cuma satu kali.
Terus HP di saku bapak berbunyi.
Bapak angkat. Dengerin. Lima detik.
Terus dia balik badan. Mukanya udah berubah — bukan marah lagi. Tapi ada sesuatu yang lebih berat dari marah.
“Ibu minta kamu pulang, Wan.” Suaranya datar. “Sekarang.”
⸻
Mereka berangkat ke Garut hari itu juga.
Bertiga. Bapak, Kurniawan, dan Rena.
Nggak ada yang ngomong soal tiket, soal biaya, soal siapa yang bayar. Bapak yang pesan bus lewat HP-nya — jarinya besar, layarnya kecil, tapi dia pesan sendiri tanpa minta bantuan.
Kurniawan sempat bisik ke Rena di toilet terminal: “Kamu nggak apa-apa?”
Rena pegang perutnya sebentar — gerakan kecil yang mungkin nggak disengaja. Terus angguk.
“Aku oke.”
Di dalam bus, bapak duduk di kursi depan. Kurniawan dan Rena di belakangnya. Tiga jam perjalanan dengan jalanan yang kadang nanjak dan kernet yang dua kali teriak nama kota lewat pengeras suara lecek.
Bapak nggak balik badan sekali pun.
Kurniawan megang tangan Rena di sela-sela kursi. Nggak ngomong apa-apa. Rena nggak ngomong apa-apa. Tapi tangannya balas digenggam.
Di luar jendela, sawah-sawah Jawa Barat lewat cepat. Hijau. Tenang. Kontras sama isi dada Kurniawan.
⸻
RS-nya bukan rumah sakit besar.
Dua lantai, cat putih yang udah agak kusam, parkiran yang penuh motor, bau antiseptik yang langsung nyambut di pintu masuk.
Dodi udah di sana. Dia berdiri di koridor lantai satu, baju seadanya, mata agak merah.
Waktu lihat Rena di samping Kurniawan, Dodi cuma kedip sekali. Nggak ngomen.
“Ibu lagi tidur,” kata Dodi pelan. “Tadi minta Wan terus.”
Bapak langsung masuk duluan ke kamar.
Kurniawan mau ikut, tapi Dodi pegang lengannya sebentar.
“Wan.” Suaranya rendah. “Ada yang harus kamu tau sebelum ketemu ibu.”
Kurniawan berhenti.
“Ibu udah tau, Wan.”
Kurniawan nggak ngerti. “Tau apa?”
“Soal kamu. Soal Rena. Soal semua.”
Dunia Kurniawan seakan berhenti satu detik.
“Dari mana—”
“Dari Hendra.” Dodi lirihkan suaranya lebih jauh. “Dua bulan lalu, ibu nelepon kamu, nggak diangkat. Terus dia nelepon Hendra — karena nomornya ada di HP ibu dari dulu. Hendra ngomong, ‘Kurniawan lagi nemenin istrinya yang nggak enak badan, Tante.’ Dia nggak sadar. Ibu nggak nanya lebih lanjut. Dia langsung tutup telepon.”
Kurniawan ngerasa lututnya mau turun.
“Dua bulan,” ulangnya pelan.
“Ibu simpan sendiri, Wan. Nggak cerita ke bapak. Nggak cerita ke gua. Dia nunggu kamu yang ngomong sendiri.” Dodi tarik napas. “Dan waktu dia masuk RS kemarin, yang pertama dia minta bukan bapak. Bukan gua. Dia minta kamu.”
⸻
Kamar ibu nomor 114.
Kurniawan masuk pelan. Bapak udah duduk di kursi samping ranjang, pegang tangan ibu, nggak ngomong apa-apa.
Ibu kelihatan lebih kecil dari yang Kurniawan ingat. Infus di tangan kiri. Selang oksigen tipis di hidung. Rambutnya yang biasanya rapi disanggul sekarang terurai di bantal.
Tapi waktu matanya terbuka dan lihat Kurniawan berdiri di pintu — matanya itu berubah.
Lembut. Lega.
“Wan.” Suaranya serak. Pelan. Tapi jelas.
Kurniawan jalan ke sisi ranjang. Dia duduk di tepi kasur. Dia pegang tangan ibu — tangan yang sama yang dulu ngulek sambal buat dia setiap pagi sebelum sekolah.
“Ibu.”
“Kamu udah makan?”
Kurniawan nggak bisa jawab. Kerongkongannya macet.
Ibu kedip pelan. Terus matanya gerak ke pintu — ke arah Rena yang berdiri di sana, nggak berani masuk, nggak berani pergi.
“Itu istrimu?” bisik ibu.
Kurniawan angguk. Pelan. Nunggu apapun yang akan keluar setelah itu.
Ibu angkat tangan yang ada infus-nya dengan susah payah. Dia gerakkan ke arah Rena.
“Sini, Nduk. Ibu nggak gigit.”
Rena masuk. Langkahnya ragu. Dia sampai di sisi ranjang, dan ibu meraih tangannya — genggam pelan, dengan sisa tenaga yang ada.
“Makasih udah jagain anakku di Jakarta.” Suara ibu nggak lebih dari bisikan. “Ibu tau kamu yang bikin dia makan, bikin dia nggak kesasar.”
Rena nggak bisa nahan. Air matanya jatuh. Dia nunduk, pegang tangan ibu lebih erat.
“Maaf, Bu. Maaf kami nggak jujur dari awal.”
Ibu geleng pelan. “Ibu yang salah. Ibu terlalu jauh. Anak ibu butuh kamu, dan ibu nggak ada.”
Di sudut ruangan, bapak berdiri.
Kurniawan lirik ke arahnya.
Bapak lihat Rena. Lihat perut Rena yang mulai kelihatan walaupun masih kecil — tertutup gamis, tapi kalau kamu tau, kamu bisa lihat.
Bapak lihat itu.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Kurniawan lihat mata bapaknya berkaca.
Bapak jalan keluar kamar tanpa ngomong apa-apa.
Kurniawan mau ikut. Tapi ibu pegang tangannya.
“Biarkan bapakmu dulu,” bisiknya. “Dia butuh udara.”
“Ibu nggak marah?”
Ibu lihat Kurniawan lama. Matanya lelah tapi hangat.
“Ibu marah sama diri sendiri, Wan. Bukan sama kamu.”
⸻
Sepuluh menit kemudian, Dodi tepuk bahu Kurniawan.
“Bapak di luar. Dia minta ketemu kamu.”
⸻
Bapak duduk di bangku plastik panjang di koridor.
Tangan di lutut. Mata ke lantai. Di sebelahnya ada vending machine yang lampunya berkedip-kedip pelan.
Kurniawan duduk di sebelahnya.
Mereka diam dulu. Lama. Ada suara langkah perawat lewat. Suara roda troli obat di ujung koridor. Suara TV dari kamar sebelah yang muter berita sore.
Bapak yang mulai ngomong duluan.
“Kamu takut sama bapak?”
Kurniawan nggak langsung jawab. Tapi jawabannya jelas.
“Iya, Pak.”
“Karena itu kamu nggak bilang?”
“Sebagian karena itu. Sebagian… gua nggak mau ngecewain Bapak.”
Bapak angguk pelan. Matanya masih ke lantai.
“Bapak kecewa, Wan.”
Kurniawan nggak bisa ngelak. “Iya, Pak. Gua tau.”
“Bukan karena kamu nikah.” Bapak angkat muka. “Bapak kecewa karena kamu pikir bapak nggak bisa terima. Karena kamu pikir lebih mudah sembunyi daripada jujur ke bapak.”
Dada Kurniawan terasa sesak tapi sekaligus kayak ada sesuatu yang mulai longgar.
“Bapak manusia biasa, Wan. Bapak bisa marah. Bapak bisa kecewa. Tapi bapak tetap bapak kamu. Itu nggak pernah berubah.”
Kurniawan nunduk. Matanya panas.
“Maaf, Pak.”
Bapak diam sebentar.
“Perempuan itu.” Suaranya berubah. Lebih pelan. “Dia baik?”
“Dia yang paling baik yang pernah gua ketemu, Pak.”
“Dia sayang sama kamu?”
“Sangat.”
Bapak narik napas panjang. Dihembus pelan-pelan.
“Terus anakmu itu — masih di perut?”
“Iya, Pak. Lima bulan.”
Bapak ngangguk. Sekali. Dua kali. Kayak orang yang lagi mastiin keputusan dalam kepalanya.
“Kamu harus nikah resmi, Wan. Yang sah di negara. Yang ada suratnya. Yang bisa kamu tunjukin ke anakmu nanti waktu dia tanya siapa orang tuanya.”
“Iya, Pak.”
“Bapak yang urus semuanya. Kamu tinggal datang.”
Kurniawan angkat muka. “Bapak mau restu kami?”
Bapak lirik ke arahnya. Ada sesuatu di matanya — bukan marah, bukan sedih. Sesuatu yang lebih tua dari keduanya.
“Bapak udah restu dari tadi. Cuma bapak perlu duduk dulu buat terima semuanya.”
Kurniawan nggak bisa tahan lagi.
Air matanya jatuh. Satu. Dua. Dia nggak sempat ngelap sebelum bapak tiba-tiba tepuk bahunya — satu kali, kuat, cara bapak yang nggak pernah berubah sejak dia kecil.
“Laki-laki nangis nggak apa-apa,” kata bapak. “Asal tanggung jawabnya nggak ikut-ikutan nangis.”
⸻
Ibu pulang dari RS seminggu kemudian.
Dokter bilang kondisinya membaik. Harus jaga tekanan darah. Harus istirahat. Harus kurangi pikiran berat.
Ibu yang pertama kali ketawa waktu dengar itu.
“Gimana nggak pikiran berat kalau anak bungsu gua ternyata udah jadi bapak orang tapi nggak bilang-bilang.”
Semua orang di ruangan itu — Dodi, bapak, Kurniawan, Rena — ketawa. Dan tawa itu terasa aneh. Aneh dalam artian yang baik. Kayak jendela yang lama ditutup akhirnya dibuka dan udara segar masuk.
⸻
Pernikahan resmi Kurniawan dan Rena dilangsungkan enam minggu kemudian.
Di halaman rumah keluarga Kurniawan di Garut. Sederhana. Tenda plastik biru, kursi plastik, meja-meja yang dipinjam dari tetangga. Ibu masak sendiri — dibantu Rena yang nggak mau duduk diam walaupun perutnya udah tujuh bulan.
“Kamu istirahat aja, Ren,” kata ibu.
“Ibu yang baru keluar RS minta gua istirahat?” balas Rena sambil terus aduk adonan.
Ibu ketawa. Dan sejak hari itu, mereka nggak perlu banyak kata lagi.
Akad berlangsung singkat. Bapak yang jadi wali. Kurniawan yang ijab dengan suara yang sedikit gemetar di awal tapi makin kuat di bagian akhir.
Sah.
Kali ini resmi. Kali ini ada surat. Kali ini semua orang yang harus tau, tau.
Rena nangis waktu bersalaman sama ibu setelah akad.
Ibu pegang pipi Rena dengan dua tangan.
“Sekarang kamu bukan cuma menantu ibu. Kamu anak ibu.”
⸻
Delapan minggu kemudian, Farhan lahir.
Tiga kilo dua ratus gram. Nangis kencang. Sehat.
Kurniawan yang nggak boleh masuk ruang persalinan duduk di luar selama empat jam dengan lutut yang nggak bisa diem. Dodi di sebelahnya main HP pura-pura santai tapi refresh terus.
Waktu perawat akhirnya buka pintu dan bilang “Pak, bayinya sudah lahir” — Kurniawan berdiri terlalu cepat sampai hampir jatuh.
Di dalam, Rena kelelahan. Rambutnya basah, matanya setengah tutup. Tapi waktu perawat taruh Farhan di dadanya — bayi merah kecil yang masih nangis itu — Rena cuma bisa bilang satu kata.
“Halo.”
Kurniawan duduk di tepi ranjang. Dia lihat anaknya untuk pertama kali.
Jari-jarinya kecil banget. Hidungnya pesek. Mukanya merah dan keriput. Tapi dia hidup. Dia ada. Dan dia punya nama.
Kurniawan Farhan Pratama.
⸻
Tiga bulan setelah Farhan lahir, Kurniawan pulang ke Garut buat hari jadi pernikahan resmi mereka yang pertama.
Sederhana. Makan malam keluarga di ruang tamu yang sama. Ibu masak sayur lodeh dan ayam goreng. Bapak duduk di kursi yang biasanya — kursi kayu dengan sandaran yang agak miring ke kiri.
Farhan tertidur di gendongan kain yang dipangku ibu.
Ibu nggak berhenti lihat cucunya. Sesekali dia usap pipi Farhan pelan banget, kayak takut kebanyakan tekanan.
Bapak makan diam-diam. Tapi matanya sering melirik ke Farhan. Ke Rena. Ke Kurniawan.
Di akhir makan malam itu, waktu semua orang udah kenyang dan ibu mulai beresin piring, Rena duduk di sebelah Kurniawan di teras belakang.
Langit Garut malam itu bersih. Bintang keliatan jelas — sesuatu yang nggak pernah bisa Kurniawan lihat dari kos-nya di Pulogadung.
Rena sandarin kepalanya ke bahu Kurniawan.
“Wan.”
“Hm.”
“Makasih ya.”
“Makasih apanya?”
“Nggak nyerah,” kata Rena pelan. “Waktu semuanya berat, kamu nggak lari.”
Kurniawan diam sebentar.
Dia pikirin malam-malam di ubin koridor kos itu. Pesan bapak yang datang tengah malam. Perjalanan bus yang bisu. Koridor RS yang bau antiseptik. Bangku plastik di mana bapak akhirnya bilang bapak tetap bapak kamu.
Dia pikirin semua itu.
Terus dia lihat ke dalam rumah — ibu yang masih gendong Farhan sambil senyum-senyum sendiri, bapak yang diam-diam ikut lirik dari sudut ruangan.
“Gua juga nggak mau lari,” jawab Kurniawan akhirnya. “Kemana juga mau lari. Semua yang gua sayang ada di sini.”
Rena angkat kepala. Lihat Kurniawan.
Terus senyum — senyum yang sama. Senyum yang bikin pipi kanannya ada lekukan kecil. Senyum yang pertama kali Kurniawan lihat di warung Bu Ningsih, waktu kuah soto tumpah dan tisu-nya lecek dan dunia terasa lebih sederhana dari yang kelihatan.
Di dalam, Farhan mulai rewel pelan.
Kurniawan berdiri.
Masuk ke dalam.
Ke rumah yang sekarang terasa seperti rumah — bukan hanya bangunannya, tapi semua orang yang ada di dalamnya.
⸻