GUE BARU NEMU CARA BAYAR PARKIR LEBIH MURAH. TAPI GUE BARU NYADAR… ADA ORANG YANG HIDUPNYA RUSAK GARA-GARA IDE GUE SENDIRI.
Mesin motor gue masih nyala waktu gue berhenti di depan minimarket itu.
Lampu neon di atas pintu kedip dua kali. Bunyi “ting” pintu otomatis kebuka tiap orang keluar masuk. Di samping gue, tukang parkir udah berdiri duluan.
Baju oranye kusam. Sandal jepit. Tangannya megang kunci motor orang lain yang lagi parkir, muter-muter kayak gak sabaran.
Gue tau tipe begini.
Bukan resmi.
Tapi tetap nagih.
Gue matiin mesin. Suara motor mati langsung diganti suara kipas angin dari dalam toko yang samar-samar keluar.
Helm gue lepas.
“Dua ribu ya, Bang.”
Nada suaranya datar. Bukan nanya. Lebih kayak pemberitahuan.
Gue cuma angguk kecil, terus masuk.
AC langsung nyamber muka. Dingin. Bau plastik sama kopi sachet.
Kasir lagi sibuk. Ibu-ibu di depan gue lagi debat harga promo deterjen. Anak kecil di sampingnya narik-narik rak coklat.
Gue jalan ke rak rokok.
Udah refleks.
Satu bungkus. Tiga puluh ribu.
Gue ambil. Liat gambarnya sebentar. Paru-paru hitam. Tulisan gede.
“MEROKOK MEMBUNUHMU.”
Gue senyum tipis.
“Ya, tapi pelan-pelan…”
Gue bayar.
Keluar.
Dan tukang parkir itu langsung mendekat.
“Dua ribu ya, Bang.”
Gue berhenti.
Gue liat dia.
Gue liat bungkus rokok di tangan gue.
Dan entah kenapa… di detik itu… muncul ide.
Gue buka bungkusnya.
Kertasnya bunyi “kres”.
Ambil satu batang.
Gue sodorin.
“Ini aja, Bang.”
Dia bengong.
“Apaan tuh?”
“Rokok.”
Dia ngeliat gue. Lama. Kayak lagi nimbang.
Terus dia ambil.
“Serius nih?”
Gue angguk.
“Serius.”
Dia langsung senyum. Masukin ke saku.
“Yaudah… makasih, Bang.”
Gue naik motor. Gas pelan keluar.
Dan di jalan… gue malah ketawa sendiri.
Hitungannya langsung jalan di kepala.
Satu bungkus isi dua puluh.
Tiga puluh ribu.
Berarti satu batang seribu lima ratus.
Lebih murah dari dua ribu.
Gue nyengir.
“Lumayan juga…”
Hari itu gue parkir tiga kali.
Dan tiga-tiganya gue bayar pakai rokok.
Semua diterima.
Gak ada yang nolak.
Malah ada yang ketawa.
“Wah, ini lebih enak, Bang.”
Gue mulai ngerasa ini bukan kebetulan.
Ini bisa jadi kebiasaan.
Besoknya, gue beli dua bungkus.
Bukan buat gue.
Buat “transaksi”.
Gue mulai nyoba di tempat lain.
Warung kopi.
ATM.
Pasar.
Pinggir jalan.
Semua sama.
Selama gue sodorin rokok… mereka nerima.
Bahkan kadang lebih seneng.
“Lumayan buat nanti.”
“Ini bisa ditabung, Bang.”
“Enak ini.”
Gue makin pede.
Di kepala gue… ini trik cerdas.
Hemat. Praktis. Semua senang.
Gue cerita ke temen gue, Rian.
Kami lagi nongkrong di depan bengkel. Duduk di bangku kayu panjang. Bau oli nyengat. Suara besi diketok dari dalam.
“Lu gila sih,” kata Rian sambil nyeruput kopi.
“Kenapa?”
“Bayar parkir pakai rokok.”
“Lebih murah, cuy.”
“Murah buat lu.”
“Ya buat mereka juga enak. Mereka nerima.”
Rian diem sebentar.
“Kadang yang bahaya bukan yang mahal… tapi yang bikin orang ketagihan.”
Gue ketawa.
“Udah lah, lu sok bijak.”
Tapi gue tetap lanjut.
Seminggu.
Dua minggu.
Gue hampir gak pernah bayar parkir pakai uang lagi.
Selalu rokok.
Lucunya… gue jadi jarang ngerokok.
Karena rokok gue… habis buat bayar.
Istri gue, Winda, mulai heran.
Dia lagi duduk di lantai ruang tamu. Lipat baju. TV nyala tapi volumenya kecil.
“Mas…”
Gue lagi buka kulkas.
“Iya?”
“Kok rokok kamu cepet banget habisnya?”
Gue ambil air dingin.
“Banyak yang minta.”
Dia nengok.
“Temen?”
Gue diem sebentar.
“Ya… kurang lebih.”
Dia narik napas.
“Mas… kamu bayar parkir pakai rokok ya?”
Gue langsung nengok.
“Lah kok tau?”
Dia senyum tipis.
“Bau jaket kamu beda.”
Gue ketawa.
“Pinter juga kamu.”
Dia gak ketawa.
“Mas… itu bukan solusi.”
Gue duduk di kursi.
“Lah malah lebih hemat.”
Dia geleng.
“Kamu lagi bikin orang makin tergantung.”
Gue langsung defensif.
“Ya mereka juga udah ngerokok dari dulu.”
“Iya. Tapi kamu bikin itu jadi alat tukar.”
Gue diem.
Kipas angin bunyi “krek… krek…”
“Mas…”
Suara Winda pelan.
“Gak semua yang kamu anggap pintar… itu benar.”
Gue berdiri.
Ambil jaket.
“Udah ah, aku keluar bentar.”
Dia gak nahan.
Tapi matanya… ngikutin gue sampai pintu.
Gue keluar.
Udara sore agak panas. Jalanan ramai. Klakson motor bersahutan.
Gue jalan tanpa tujuan.
Akhirnya berhenti di warung kopi kecil di pinggir jalan.
Warung sederhana.
Meja kayu.
Kursi plastik.
Yang jaga bapak-bapak tua. Rambutnya putih semua.
Gue parkir.
Dan seperti biasa… tukang parkir langsung datang.
Tapi yang ini beda.
Masih muda.
Paling dua puluhan.
Mukanya pucat.
Matanya cekung.
“Dua ribu ya, Bang.”
Gue langsung ambil rokok.
Kasih satu batang.
Dia ambil.
Langsung nyalain.
Di depan gue.
Tarikannya dalam. Cepat. Kayak butuh.
Gue liatin.
Ada yang gak enak.
Tapi gue gak tau apa.
Gue masuk.
Pesen kopi.
Duduk.
Dari dalam, gue masih bisa liat dia.
Dia ngerokok cepat.
Habis.
Terus dia duduk di pinggir.
Kayak lemes.
Bapak warung nengok ke gue.
“Baru ke sini, Bang?”
“Iya.”
“Parkir sama Dimas itu ya?”
“Mungkin.”
Bapak itu ngangguk.
“Kasihan anaknya.”
Gue nengok.
“Kenapa?”
“Bapaknya meninggal. Ibunya sakit. Dia yang nanggung semua.”
Gue diem.
“Dia juga… perokok berat.”
Gue liat lagi ke luar.
Dimas lagi ngorek saku.
Ngambil puntung rokok.
Yang udah pendek.
Dia nyalain lagi.
Gue langsung ngerasa… gak nyaman.
“Sehari habis berapa?” gue tanya.
“Kalau ada… dua bungkus.”
“Kalau gak ada?”
Bapak itu diem.
“Dia cari.”
Gue gak lanjut.
Kopi gue dateng.
Panas.
Gue pegang gelasnya.
Hangat.
Tapi dada gue… dingin.
Gue keluar.
Mau pulang.
Dimas langsung berdiri.
Bantu mundurin motor.
Gue berhenti sebentar.
“Mas…”
Dia nengok.
“Iya, Bang?”
“Kalau aku kasih rokok… kamu lebih seneng atau uang?”
Dia mikir.
“Rokok.”
“Kenapa?”
Dia senyum tipis.
“Biar gak kepikiran.”
Gue diem.
“Gak kepikiran apa?”
Dia gak jawab.
Gue langsung jalan.
Di jalan… kalimat itu muter terus.
“Biar gak kepikiran.”
Malamnya gue pulang.
Winda lagi masak.
Bau bawang goreng.
Gue duduk.
“Win…”
“Iya?”
“Kalau orang lagi susah… terus kita kasih sesuatu yang bikin dia lupa… itu salah gak?”
Dia matiin kompor.
Ngeliat gue.
“Kalau itu bikin dia makin jatuh… itu bukan bantu.”
Gue diem.
Besoknya…
Gue balik lagi ke warung itu.
Dimas masih di sana.
Lebih pucat.
Gue parkir.
Dia datang.
“Dua ribu ya, Bang.”
Gue buka tas.
Ambil satu bungkus penuh.
Gue kasih.
“Ini buat kamu.”
Dia kaget.
“Banyak banget, Bang…”
“Ambil aja.”
Dia ambil.
Tangannya gemetar.
Matanya seneng… tapi aneh.
Gue liat dia.
“Dimas…”
“Iya?”
“Kalau kamu gak ngerokok sehari… bisa?”
Dia langsung geleng.
“Gak bisa, Bang.”
“Kalau aku kasih uang… tapi gak boleh beli rokok?”
Dia diem.
Terus pelan…
“Gak bisa juga.”
“Kenapa?”
Dia liat gue.
Matanya merah.
“Karena kepala saya… gak kuat.”
Gue diem.
Dan di situ… gue mulai sadar.
Ini bukan soal hemat.
Ini soal… gue ikut nyumbang sesuatu yang salah.
Tiba-tiba—
“MAS DIMAS!”
Suara perempuan dari ujung jalan.
Kami nengok.
Seorang perempuan lari.
Mukanya panik.
“Ibu kamu jatuh lagi!”
Dimas langsung pucat.
“Sekarang?!”
“Iya! Cepet!”
Dimas panik.
Dia buka bungkus rokok.
Ambil satu batang.
Tangannya gemetar.
Mau nyalain.
Gue refleks—
Gue pegang tangannya.
“Jangan.”
Dia kaget.
“Bang…”
“Jangan sekarang.”
Dia bingung.
Matanya ke gue.
Ke ibunya.
Ke rokok.
Dan di detik itu…
Dimas berdiri.
Dengan dua pilihan di tangannya.
Rokok…
Atau pulang.
Dan dia ragu.
Dimas masih berdiri di depan gue.
Rokok di tangannya.
Api belum nyala.
Ibunya—perempuan yang tadi lari—udah narik lengannya.
“Mas, ayo! Ibu kamu di rumah, sendirian!”
Dimas gak gerak.
Matanya ke rokok.
Kayak… itu penting banget.
Gue masih pegang pergelangan tangannya.
“Mas…”
Suara gue pelan.
“Sekarang bukan waktunya.”
Dia napas cepat.
Tangannya makin gemetar.
Ibunya hampir nangis.
“Ayo, Mas! Tolong!”
Dimas akhirnya ngejatuhin rokok itu.
Jatuh ke aspal.
Dia injek.
“Bang… tolong jagain motor ya.”
Gue langsung angguk.
“Iya, sana.”
Dia lari.
Ibunya nyusul.
Gue berdiri di situ.
Liat puntung rokok yang barusan dia injek.
Belum sempat dihisap.
Gue jongkok.
Ambil.
Masih utuh.
Gue liat lama.
Entah kenapa… rasanya berat.
Bukan karena rokoknya.
Tapi karena… pilihan barusan.
Beberapa menit kemudian, bapak warung keluar.
“Dia ke rumah.”
Gue angguk.
“Rumahnya jauh?”
“Gak. Masuk gang situ.”
Gue nengok ke arah gang sempit di samping warung.
Motor lalu-lalang.
Anak kecil lari-lari.
Gue berdiri.
“Pak… saya ke sana ya.”
Bapak itu kaget.
“Lah… kenapa?”
Gue tarik napas.
“Gak tau… pengen aja.”
Gue jalan masuk gang.
Sempit.
Motor harus pelan.
Bau got.
Suara TV dari rumah-rumah.
Orang-orang nengok.
Gue tanya satu ibu-ibu.
“Bu, rumahnya Dimas yang tukang parkir di depan warung itu di mana ya?”
Dia langsung nunjuk.
“Yang ibunya sakit? Itu… yang pintunya biru.”
Gue jalan ke sana.
Pintu kebuka.
Di dalam… Dimas lagi panik.
Ibunya terbaring di lantai.
Kepalanya dialasin bantal tipis.
“Mas… bangunin, Mas…”
Suara Dimas gemetar.
Gue masuk.
“Kenapa?”
Dimas nengok.
“Bang… ibu saya pingsan…”
Gue langsung jongkok.
Cek napas.
Masih ada.
“Tolong ambilin air.”
Dimas lari ke dapur.
Gue liat kondisi rumahnya.
Sempit.
Dinding agak lembab.
Kipas angin kecil muter pelan.
Suara “krek… krek…”
Dimas balik.
Gue percikin air ke wajah ibunya.
Pelan.
“Bu… Bu…”
Beberapa detik.
Ibunya mulai gerak.
Matanya buka sedikit.
“Mas…”
Dimas langsung nangis.
“Ibu…”
Gue lega.
“Tapi ini harus dibawa ke klinik.”
Dimas langsung diem.
Mukanya berubah.
“Bang…”
Dia ragu.
“Uang saya…”
Gue ngerti.
Gue langsung berdiri.
“Udah. Kita bawa sekarang.”
“Bang tapi—”
“Udah.”
Gue bantu angkat ibunya.
Kami keluar.
Orang-orang mulai ngeliatin.
Gue naik motor.
Ibunya di tengah.
Dimas di belakang.
“Pegang ya!”
Gue gas.
Menuju klinik terdekat.
Sepanjang jalan… gue gak bisa berhenti mikir.
Tentang rokok.
Tentang kebiasaan gue.
Tentang Dimas.
Kami sampai di klinik.
Perawat langsung bantu.
Ibunya dibawa masuk.
Dimas duduk di kursi.
Kepalanya nunduk.
Tangannya masih gemetar.
Gue duduk di sebelahnya.
Beberapa menit hening.
“Bang…”
Dia ngomong pelan.
“Iya?”
“Kalau tadi saya ngerokok dulu…”
Dia berhenti.
Nelan ludah.
“Mungkin saya telat…”
Gue diem.
Itu kalimat pertama yang… nusuk.
Dia lanjut.
“Saya kadang… kalau panik… harus ngerokok dulu.”
Gue nengok.
“Kenapa?”
“Biar kepala saya… gak pecah.”
Gue tarik napas.
“Mas…”
Dia nengok.
“Kalau kamu terus kayak gitu… kapan kamu bisa bebas?”
Dia senyum tipis.
“Gak tau, Bang.”
Dan di situ… gue sadar.
Ini bukan cuma kebiasaan kecil.
Ini… masalah besar.
Dan gue… bagian dari itu.
Perawat keluar.
“Keluar keluarga pasien?”
Dimas langsung berdiri.
“Saya!”
“Pasiennya perlu dirawat. Kondisinya lemah.”
Dimas langsung pucat.
“Biayanya, Mbak?”
Perawat sebut angka.
Dimas langsung diem.
Gue liat dia.
Tangannya gemetar lagi.
Kali ini… bukan karena rokok.
Gue langsung berdiri.
“Saya bantu.”
Dimas kaget.
“Bang—”
“Udah.”
Dia gak bisa ngomong.
Matanya berkaca-kaca.
Dan di detik itu… gue tau.
Ini belum selesai.
Ini baru mulai.
Dimas duduk di kursi ruang tunggu.
Tangannya gak berhenti gerak.
Kadang diremas.
Kadang digesek ke celana.
Kadang kosong… tapi gelisah.
Gue liatin.
“Mas…”
Dia nengok.
“Iya, Bang?”
“Udah berapa lama kamu ngerokok?”
Dia mikir.
“Sejak SMA.”
“Siapa yang ngajarin?”
Dia diem.
Lama.
Terus pelan…
“Bapak.”
Gue langsung ngerti arah ceritanya.
“Bapak kamu perokok?”
Dia ketawa kecil.
Pahit.
“Berat, Bang.”
“Terus?”
“Bapak sering bilang… kalau pusing, ngerokok aja.”
Dimas nunduk.
“Waktu bapak meninggal… saya makin sering ngerokok.”
Gue tarik napas.
“Karena?”
“Karena tiap ngerokok… rasanya kayak… bapak masih ada.”
Gue langsung diem.
Itu bukan sekadar kecanduan.
Itu… ikatan.
Kenangan.
Pelarian.
Dan gue… selama ini… nyuapin itu.
Gue inget semua momen.
Gue kasih rokok.
Gue bangga hemat.
Gue ketawa.
Dan ternyata…
Gue lagi bantu dia tenggelam.
“Mas…”
Suara gue pelan.
“Kalau bapak kamu masih hidup… dia bakal bangga kamu kayak gini?”
Dimas langsung diem.
Matanya kosong.
Beberapa detik.
Terus dia geleng.
“Gak, Bang.”
Suara dokter manggil.
Dimas masuk.
Gue nunggu.
Di luar.
Kursi plastik dingin.
TV di pojok nyala berita.
Gak ada yang gue denger.
Kepala gue penuh.
Tentang Winda.
Tentang omongan dia.
“Kadang kita ngerasa pintar… padahal kita bagian dari masalah.”
Gue tutup muka.
Beberapa menit kemudian, Dimas keluar.
Mukanya lemes.
“Tapi ibu saya harus dirawat beberapa hari.”
Gue angguk.
“Ya udah. Kita atur.”
Dia nengok.
“Bang…”
“Iya?”
“Saya mau berhenti.”
Gue kaget.
“Berhenti apa?”
Dia liat gue.
“Rokok.”
Gue langsung diem.
“Serius?”
Dia angguk.
“Tadi di dalam… saya liat ibu saya.”
Suaranya pecah.
“Kalau ibu saya kenapa-kenapa… saya gak punya siapa-siapa lagi.”
Gue tepuk bahunya.
“Mas… berhenti itu gak gampang.”
“Tau, Bang.”
“Bahkan sakit.”
Dia senyum tipis.
“Lebih sakit kalau saya kehilangan ibu.”
Gue langsung… gak bisa jawab.
Itu kalimat kedua yang nusuk.
Dan gue tau…
Ini titik balik.
Tapi…
Belum tentu berhasil.
PART 4
Hari pertama Dimas tanpa rokok.
Dia duduk di depan warung.
Gak pegang apa-apa.
Tangannya gemetar.
Keringat dingin.
Bibirnya pucat.
Gue sengaja datang.
Bawa kopi.
“Mas.”
Dia nengok.
“Bang…”
“Gimana?”
Dia ketawa kecil.
“Kayak mau mati, Bang.”
Gue duduk.
“Normal.”
“Serius?”
“Serius.”
Dia pegang kepala.
“Pusing banget…”
Gue liat dia.
Gue tau… ini fase paling berat.
“Mas…”
Dia nengok.
“Kalau kamu kuat lewat hari ini… besok sedikit lebih ringan.”
Dia diem.
“Tapi kalau kamu nyerah sekarang… kamu balik lagi ke awal.”
Dia nutup muka.
Beberapa detik.
“Bang… saya takut.”
“Takut apa?”
“Takut gak kuat.”
Gue diem sebentar.
Terus gue ambil bungkus rokok dari tas gue.
Dimas langsung liat.
Matanya berubah.
Gue taro di meja.
“Ini.”
Dia langsung gemetar.
Tangannya mau ambil.
Gue tahan.
“Kalau kamu mau… ambil.”
Dia liat gue.
Gue lanjut.
“Tapi kalau kamu ambil… kamu tau kamu kalah.”
Dimas diem.
Tangannya berhenti.
Matanya ke rokok.
Ke gue.
Ke rokok lagi.
Lama.
Akhirnya…
Dia dorong bungkus itu menjauh.
“Gak.”
Suaranya pelan.
Tapi tegas.
Gue senyum.
“Itu pilihan kamu.”
Dia napas panjang.
Dan untuk pertama kalinya…
Dia menang.
Hari kedua.
Hari ketiga.
Semakin berat.
Tapi dia tetap bertahan.
Gue selalu datang.
Duduk.
Ngobrol.
Kadang cuma diem.
Bapak warung juga bantu.
“Kalau kamu kuat… nanti kamu beda, Mas.”
Dimas cuma angguk.
Dan pelan-pelan…
Dia mulai berubah.
Mukanya masih pucat.
Tapi matanya… lebih hidup.
Dan gue…
Mulai ngerti semuanya.
Semua kejadian ini…
Bukan kebetulan.
Ini… pelajaran.
Buat dia.
Dan buat gue.
Hari ketujuh.
Dimas duduk di tempat biasa.
Tapi kali ini… beda.
Tangannya gak gemetar.
Matanya lebih tenang.
Gue datang.
Duduk di sebelahnya.
“Mas.”
Dia senyum.
“Bang.”
“Udah seminggu.”
Dia angguk.
“Gak nyangka.”
Gue ketawa kecil.
“Gimana rasanya?”
Dia mikir.
“Masih pengen…”
“Normal.”
“Tapi… saya lebih bisa nahan.”
Gue angguk.
“Itu namanya kamu lagi menang.”
Dia diem sebentar.
Terus nengok gue.
“Bang…”
“Iya?”
“Makasih ya.”
“Buat apa?”
“Kalau waktu itu… abang gak tahan tangan saya…”
Dia berhenti.
Nelan ludah.
“Mungkin saya gak sampai sini.”
Gue senyum.
“Tapi yang milih… kamu.”
Dia senyum balik.
Perawat dari klinik datang.
“Mas Dimas?”
“Iya, Mbak?”
“Ibu kamu boleh pulang hari ini.”
Dimas langsung berdiri.
“Serius?!”
“Iya.”
Mukanya langsung berubah.
Lega.
Bahagia.
Dia nengok gue.
“Bang… ibu saya pulang…”
Gue tepuk bahunya.
“Ya udah… jemput.”
Kami jalan bareng ke klinik.
Ibunya keluar.
Pelan.
Tapi senyum.
“Ibu…”
Dimas peluk.
Pelan.
Gue liat dari belakang.
Dan di situ…
Gue ngerasa…
Ini selesai.
Bukan karena semua masalah hilang.
Tapi karena… mereka sekarang punya harapan.
Sebelum gue pulang…
Dimas manggil gue.
“Bang…”
Gue nengok.
Dia ngeluarin sesuatu dari saku.
Bungkus rokok.
Yang dulu gue kasih.
Masih ada.
Dia sodorin ke gue.
“Ini… saya balikin.”
Gue kaget.
“Kenapa?”
Dia senyum.
“Saya gak butuh lagi.”
Gue liat bungkus itu.
Lama.
Terus gue ambil.
Dan tanpa banyak ngomong…
Gue buang ke tempat sampah.
Dimas ketawa kecil.
“Bang…”
“Iya?”
“Sekarang… kalau abang parkir… bayar pakai uang aja ya.”
Gue ketawa.
“Iya.”
Dia senyum.
Dan untuk pertama kalinya…
Gue ngerasa…
Gue bukan lagi bagian dari masalah.
Gue… jadi bagian dari perubahan.
Dan sejak hari itu…
Gue gak pernah lagi bayar parkir pakai rokok.
Bukan karena gak hemat.
Tapi karena…
Gue tau harga sebenarnya… bukan uang.
Tapi hidup seseorang.