JUWITA PERGI DARI RUANG TAMU ITU TIGA KALI HARI INI. SEKALI KE DAPUR. SEKALI KE KAMAR MANDI. SEKALI KE TERAS BELAKANG — SENDIRIAN, SEPULUH MENIT, TANPA ALASAN YANG DIA CERITAKAN KE SIAPAPUN. DAN TIDAK ADA SEORANG PUN YANG BERTANYA KE MANA DIA PERGI.
JUWITA PERGI DARI RUANG TAMU ITU TIGA KALI HARI INI.
SEKALI KE DAPUR. SEKALI KE KAMAR MANDI. SEKALI KE TERAS BELAKANG — SENDIRIAN, SEPULUH MENIT, TANPA ALASAN YANG DIA CERITAKAN KE SIAPAPUN.
DAN TIDAK ADA SEORANG PUN YANG BERTANYA KE MANA DIA PERGI.
Hari Minggu siang itu panas seperti biasa di Surabaya.
Aspal di depan gang sudah mengepul sejak pukul sepuluh. Suara motor lewat sesekali. Toa masjid di ujung jalan baru saja selesai mengumandangkan azan zuhur, dan sekarang hanya tinggal dengungan kipas angin yang memenuhi ruang tamu keluarga Santoso.
Tikar plastik bermotif bunga kuning-hijau sudah digelar sejak pagi tadi. Kursi plastik merah dan hijau berjejer di sepanjang dinding. Di meja tengah ada risoles, lemper, dan nastar dalam toples kaca. Gelas-gelas teh sudah disiapkan sejak sebelum tamu pertama datang.
Arisan keluarga besar. Dua bulan sekali.
Juwita duduk di sudut kiri, dekat pintu dapur. Bajunya daster katun lengan panjang warna biru tua — bersih, rapi, tapi bukan batik seperti yang dipakai sebagian besar perempuan di ruangan itu. Di sebelahnya, Hendra duduk dengan kaki sedikit terbuka, tangan di lutut, senyum yang selalu terlihat pas di tempat ini.
Hendra memang selalu terlihat pas di sini.
Juwita tidak.
Dan bukan karena dia tidak mau. Sudah tiga tahun dia belajar. Cara menyapa yang cukup hangat tapi tidak berlebihan. Cara mengambil makanan yang tidak terlihat rakus tapi juga tidak terlihat sungkan. Cara duduk tegak meski punggungnya pegal setelah masak dari subuh.
“Ndra, anakmu belum juga?” tanya Bu Lastri — tante dari pihak Ibu Tini, perempuan enam puluhan dengan rambut yang disemir hitam mengkilap dan gelang emas di kedua pergelangan.
Hendra senyum. “Belum, Bulek. Masih proses.”
“Lah, sudah berapa tahun ini?”
“Tiga tahun.”
Bu Lastri mendecak. Bukan pelan yang tidak bisa didengar.
Juwita mengangkat gelas teh. Menyesap. Matanya ke arah televisi yang tidak ada yang menonton — sinetron siang, seorang perempuan menangis di depan pintu besi yang terkunci.
Ibu Tini keluar dari kamar sekitar pukul sebelas.
Langkahnya agak lambat hari ini. Lebih lambat dari bulan lalu. Tapi dia senyum begitu masuk ruangan — senyum yang sudah terlatih, yang bisa muncul bahkan saat badan tidak mendukung — dan satu per satu tamu berdiri menyalaminya seperti menyalami tuan rumah yang baru pulang dari perjalanan jauh.
Pipinya masih tembem. Tapi badannya lebih kurus.
Juwita yang memperhatikan itu. Bukan karena dia sering memperhatikan Ibu Tini. Tapi karena kurus itu baru. Tiga bulan lalu belum seperti ini.
“Ibu, sini duduk di sini,” kata Mbak Devi, langsung berdiri, memindahkan kursi ke tengah.
Ibu Tini duduk di posisi yang sama setiap arisan. Di tengah. Menghadap ke semua orang.
Matanya sempat melintas ke arah Juwita.
Juwita menunduk duluan. Pura-pura mengecek HP.
Makanan datang bergelombang dari dapur.
Juwita yang memasak sejak subuh — semur daging dengan kentang, perkedel goreng, sayur lodeh, sambal goreng ati ampela. Empat jam di depan kompor, keringat di dahi, minyak di lengan baju.
Tapi yang paling pertama dipuji adalah nastar dalam kotak coklat yang dibawa Mbak Devi.
“Enak banget, Dev. Beli di mana?”
“Harvest. Yang di Tunjungan Plaza.”
“Harganya?”
“Seratus delapan puluh ribu. Tapi worth it banget, Bulek. Emang beda kualitasnya.”
Ibu Tini mengangguk. “Iya, memang beda kalau beli di tempat yang bener.”
Juwita tidak berkata apa-apa.
Perkedel di piringnya dihabiskan pelan-pelan.
Di sampingnya, Hendra sudah mengambil tiga biji nastar dan memasukkannya satu per satu ke mulutnya sambil mengangguk ke arah sepupunya yang bercerita soal usaha baru.
Arisan dikocok sekitar pukul dua belas lewat.
Nama-nama ditulis di kertas kecil, dilipat, dimasukkan ke dalam kaleng biskuit Khong Guan bekas yang tutupnya sudah penyok di satu sisi. Suara gemerincing logam saat kaleng itu dikocok. Tawa kecil. Bisik-bisik antara tante dan sepupu.
Yang mengocok: Pak Santoso, mertua Juwita, duduk di kursi terjauh dari pintu, orang yang paling sedikit bicara tapi paling pertama dimintai pendapat kalau ada keputusan penting.
Nama yang keluar: Mbak Devi.
Tepuk tangan. Mbak Devi tertawa sambil menutup mulut dengan tangan, pura-pura kaget.
“Alhamdulillah. Lumayan buat modal liburan ke Bali bulan depan.”
Semua tertawa. Beberapa bertepuk lagi.
Juwita ikut senyum.
Tepukan tangannya kalah keras dari yang lain.
Masalah dimulai dari kalimat yang tidak ada yang anggap serius — kecuali Juwita.
Sesudah makan, beberapa tante duduk melingkar dekat jendela. Mengobrol santai soal harga cabai, soal cucu yang masuk SD, soal tetangga yang baru renovasi rumah. Juwita mengangkati piring ke dapur, bolak-balik, sendiri — karena memang dia yang paling banyak memasak, dan sudah jadi kebiasaan dia yang paling banyak membereskan.
Hendra sedang mengobrol dengan paman-pamannya di teras belakang. Suara tawa mereka sesekali masuk ke dalam.
Juwita lewat di belakang gerombolan tante itu. Membawa tumpukan piring kotor.
Dan telinganya menangkap suara Bu Lastri, setengah bisik tapi tidak benar-benar bisik:
“…ya gimana ya. Namanya juga orang yang hidupnya pas-pasan. Memang sensitifnya beda.”
Juwita berhenti.
Tidak lama. Mungkin dua detik — cukup lama untuk yakin bahwa dia tidak salah dengar.
“Iya, gitu. Dikit-dikit sakit hati. Padahal kita ngomong biasa aja.”
Juwita melanjutkan langkah ke dapur.
Di dalam dapur, dia berdiri di depan wastafel. Air kran mengalir. Tangannya di bawah air itu — tapi dia tidak benar-benar mencuci apapun.
Ubin dapur itu dingin di telapak kakinya. Bau minyak goreng masih menempel di udara. Dari luar terdengar suara anak-anak berlarian di halaman samping.
Juwita tahu mereka bicara soal siapa.
Bukan pertama kali.
Dan bukan karena dia lemah. Itu yang tidak pernah bisa dia jelaskan ke Hendra — tidak juga ke siapapun — karena kalau dia jelaskan, orang akan bilang dia terlalu sensitif. Dan kalau dia diam, orang juga bilang hal yang sama.
Juwita besar di rumah kontrakan dua petak di Ngagel. Bapaknya sopir truk, ibunya jual jajan di sekolahan. Uang masuk dan uang keluar selalu terasa seperti barang yang harus dipinjam dulu sebelum dipunya.
Juwita hafal rasanya saat bapaknya pulang malam-malam dengan muka yang berbeda dari siang — muka orang yang sudah berhitung berkali-kali dan hasilnya tetap tidak cukup. Hafal rasanya mendengar bapak dan ibu bisik-bisik di balik pintu kamar soal cicilan yang belum terbayar. Hafal rasanya pakai sepatu yang solnya sudah mulai terlepas tapi belum bisa beli yang baru karena masih ada yang lebih penting.
Bukan kenangan yang dia benci.
Tapi kenangan yang membuatnya tahu — bahwa kalimat yang diucapkan orang soal uang, soal gaya hidup, soal pas-pasan — tidak pernah seringan yang orang kira saat mengucapkannya.
Hendra masuk ke dapur.
“Juwita. Ngapain lama di sini?”
“Nyuci piring.”
“Nanti aja. Ke depan dulu, tuh pada nanyain kamu.”
“Bentar.”
Hendra berdiri sebentar di pintu dapur. Melihat punggung istrinya. Lalu balik ke teras.
Juwita menutup kran.
Mengelap tangan dengan kain lap yang tergantung di pegangan kompor.
Menyusun ulang ekspresinya di depan cermin kecil yang menempel di tembok dapur — cermin yang cat pinggirnya sudah mengelupas, yang biasanya dipakai Ibu Tini mengecek kerudungnya sebelum keluar.
Lalu kembali ke ruang tamu.
Duduk di kursi yang sama. Mengambil teh yang sudah mendingin. Di seberangnya, Ibu Tini sedang berbisik dengan Mbak Devi. Kepala mereka condong satu sama lain, suara diturunkan, sesekali mata Ibu Tini melirik ke arah Juwita — sebentar, cepat, lalu kembali ke Devi. Juwita pura-pura melihat ke arah anak-anak yang berlarian di halaman. Tapi telinganya — telinganya sudah terlatih bertahun-tahun untuk menangkap hal-hal yang tidak ditujukan ke dia. Dan satu kalimat masuk dengan jelas: “…jangan sampai ketahuan dulu. Nanti dia yang ribut.” Juwita tidak bergerak. Tangannya menggenggam gelas sedikit lebih kuat. Jangan sampai ketahuan dulu. Dia tidak tahu apa yang tidak boleh ketahuan. Tapi ada sesuatu yang mulai bergerak di dadanya — bukan marah, bukan sedih, tapi semacam kegelisahan yang belum punya nama.
Pukul tiga lebih seperempat. Tamu-tamu mulai pamit satu per satu. Rumah yang tadi penuh mulai terasa lega. Suara anak-anak di halaman berkurang karena sebagian sudah dibawa pulang orang tuanya. Juwita ke dapur lagi. Membereskan sisa makanan. Menutup toples. Membuang plastik bekas bungkus. Laci di bawah kompor dibuka — kantong sampahnya sudah penuh, harus diganti. Juwita menarik kantong itu keluar. Dan di bawahnya — terselip di antara lapisan plastik lama yang sudah agak lembab — ada selembar kertas terlipat. Juwita mengambilnya. Hampir tanpa pikir.
Kuitansi.
Dari RS Premier Surabaya.
Nama pasien: KRISTIANI SANTOSO.
Ibu Tini.
Tanggal: tiga minggu lalu.
Juwita membaca angkanya.
Empat juta tujuh ratus ribu rupiah.
Bukan angka yang membuat dia terdiam.
Yang membuat dia mematung adalah satu baris di bagian bawah kuitansi itu — dicetak kecil, tapi sangat jelas di bawah lampu neon dapur:
Pembayaran ke-7. Sisa tagihan: Rp 43.200.000.
Tujuh kali pembayaran.
Juwita menghitung di kepalanya. Kalau rata-rata tiap pembayaran sekitar empat sampai lima juta — berarti sudah lebih dari tiga puluh juta yang sudah dibayarkan.
Untuk sakit apa.
Selama berapa lama.
Dan kenapa tidak ada yang pernah bilang apa-apa.
Juwita melipat kuitansi itu. Memasukkannya ke saku dasternya.
Tangannya tidak gemetar.
Tapi pikirannya berputar seperti kipas angin yang dimatikan mendadak — masih berputar, tapi makin lama makin pelan, makin pelan, sampai akhirnya berhenti di satu titik.
Ibu Tini sakit. Sudah lama. Dan tidak ada yang bilang.
Dia keluar dari dapur dengan wajah yang sudah dia susun ulang — seperti biasa, seperti selalu.
Duduk. Senyum ke Bu Lastri yang bertanya soal resep semur.
“Rahasianya apa, nduk? Empuk banget dagingnya.”
“Direbus dua kali, Bulek. Yang pertama dibuang airnya.”
“Oh, makanya.”
Tapi matanya terus mencari Hendra.
Hendra masih di teras. Masih tertawa. Tawa orang yang tidak tahu apa-apa — atau tawa orang yang tahu terlalu banyak dan memilih tidak menunjukkannya.
Mbak Devi keluar dari arah kamar. Wajahnya berubah sedetik saat melihat Juwita sudah kembali duduk di ruang tamu.
Hanya sedetik.
Lalu senyum seperti biasa — senyum perempuan yang sudah terlatih menyembunyikan sesuatu di balik wajah ramah.
“Juwita, makasih ya udah masak banyak. Enak semurnya tadi.”
“Iya, sama-sama, Mbak.”
“Kamu besok kerja?”
“Masuk.”
“Kasihan ya. Senin paling berat.”
Juwita mengangguk.
Mbak Devi duduk di sebelah Ibu Tini. Lagi berbisik. Ibu Tini mengangguk pelan. Matanya melirik ke arah Juwita sekali lagi — tapi kali ini berbeda.
Kali ini ada sesuatu di mata Ibu Tini yang bukan tatapan biasa.
Bukan tatapan yang menilai.
Sesuatu yang lebih mirip — takut ketahuan.
Hendra masuk dari teras. Menepuk bahu Juwita. “Sebentar lagi pulang ya. Aku salim dulu sama Bapak.”
Juwita mengangguk.
Ibu Tini berdiri dari kursinya — agak susah payah, tangannya menekan sandaran kursi sebelum tubuhnya tegak penuh — dan berjalan ke kamar dengan langkah yang lebih hati-hati dari siang tadi.
“Bu, biar Juwita bantu.” Juwita sudah refleks berdiri.
“Nggak usah.” Ibu Tini tidak menoleh. Suaranya tidak kasar — tapi juga tidak lembut.
Juwita duduk lagi.
Dari balik pintu kamar yang tidak tertutup sempurna, tiga menit kemudian, suara itu masuk ke ruang tamu.
Suara Ibu Tini. Berbicara dengan Mbak Devi yang sudah ada di dalam duluan.
Juwita tidak sengaja mendengar — atau mungkin, sudut kursinya yang dekat dengan ventilasi dinding itu memang selalu meneruskan suara dari kamar lebih jernih dari yang orang kira.
“…jangan bilang Hendra dulu. Belum waktunya.”
Suara Mbak Devi, khawatir: “Tapi Bu, kalau makin parah gimana?”
“Ya sudah, Ibu yang ngatur. Yang penting Juwita jangan sampai tahu.”
Hening sebentar.
Lalu Mbak Devi, lebih pelan: “Tapi kenapa harus disembunyiin dari dia?”
Ibu Tini menjawab setelah jedah yang cukup lama — suara perempuan tua yang bicara setelah mempertimbangkan sesuatu dengan sangat serius.
“Karena kalau dia tahu, dia pasti yang bayar. Dan Ibu nggak mau itu.”
Juwita duduk kaku.
Gelas teh di tangannya sudah kosong sejak tadi. Dingin.
Karena kalau dia tahu, dia pasti yang bayar.
Juwita menutup mata sebentar.
Di belakang kelopak matanya, sesuatu bergerak mundur.
Ke tiga tahun yang lalu.
Ke enam bulan yang lalu.
Ke malam-malam saat dia duduk di depan laptop dengan layar aplikasi mobile banking terbuka, memindahkan nominal ke nomor yang sama — nomor yang dia simpan di kontaknya dengan nama Titipan Bu T.
Nomor rekening Ibu Tini.
Bukan atas inisiatif sendiri. Ibu Tini yang memintanya. Lewat WhatsApp, pesan panjang yang dikirim tengah malam, yang selalu dihapus sesudah Juwita membalas.
“Nduk, tolong ya. Jangan bilang siapa-siapa. Ibu malu kalau sampai anak-anak tahu. Ibu ada perlu yang tidak bisa Ibu minta dari mereka.”
Juwita tidak pernah bertanya lebih jauh. Tidak pernah bertanya untuk apa. Karena ada satu kalimat yang tidak perlu diucapkan untuk dimengerti — Ibu malu — dan Juwita tahu persis rasanya kalimat itu di dalam dada.
Jadi dia kirim. Setiap kali diminta. Dua juta. Tiga juta. Kadang hanya satu juta saat tanggal tua.
Dan dia tidak pernah cerita ke Hendra.
“Juwita. Ayo, Ri.”
Hendra sudah berdiri di pintu.
Juwita berdiri. Mengambil tasnya. Salim ke Pak Santoso yang sedang melipat koran. Senyum ke Bu Lastri.
Mengetuk pintu kamar Ibu Tini.
Pintu dibuka oleh Mbak Devi. Di baliknya, Ibu Tini sudah berbaring — selimut sampai pinggang, mata setengah terpejam.
“Bu, Juwita pamit ya.”
Ibu Tini mengangguk. “Iya.”
Juwita melihat wajah itu sebentar. Pipi yang tembem tapi badan yang kurus. Bibir yang kering meski sudah minum berkali-kali. Dan di meja samping ranjang — tiga botol obat dengan label putih rumah sakit.
Yang paling besar. Yang paling mudah terbaca dari posisi Juwita berdiri.
Kapesitabin — Kemoterapi Oral.
Juwita tidak berubah ekspresi.
Mengangguk. Senyum kecil.
“Istirahat yang baik ya, Bu.”
Pintu ditutup dari dalam.
Motor menyala di depan teras.
Juwita mengenakan sandal. Melangkah ke jalan. Duduk di boncengan.
“Lama amat tadi.”
“Enggak. Pamit dulu.”
Motor melaju keluar gang.
Angin sore menerpa muka Juwita. Aspal basah sebentar karena hujan kecil yang tadi jatuh saat arisan hampir selesai.
Juwita memeluk pinggang Hendra dari belakang.
Matanya terbuka lebar tapi tidak melihat jalan — dia melihat angka.
Sisa tagihan: Rp 43.200.000.
Tabungannya sekarang: delapan belas juta lebih sedikit. Tiga tahun menyisihkan dari gaji yang tidak besar, dari lembur yang tidak selalu dibayar tepat waktu, dari angpao lebaran yang tidak pernah dia belikan baju untuk diri sendiri.
Delapan belas juta.
Kurang dua puluh lima juta.
Dan Ibu Tini — perempuan yang selama tiga tahun ini tidak pernah sekali pun memanggil Juwita dengan kata nduk di depan orang lain — bahkan tidak mau Juwita tahu.
Motor berhenti di lampu merah pertigaan.
HP Juwita bergetar di dalam tas. Dia keluarkan.
Bukan notifikasi baru. Tapi matanya jatuh ke pesan yang sudah tiga hari tidak dia balas. Dari nomor Titipan Bu T. Dikirim Kamis malam lalu, pukul sebelas lewat dua puluh.
“Nduk, Ibu minta maaf. Ibu tahu kamu yang selama ini bantu. Tapi tolong jangan bilang Hendra. Bukan karena Ibu nggak sayang kamu. Tapi karena Ibu malu — sudah terlalu sering salah sama kamu.”
Tiga hari.
Juwita belum membalas.
Lampu hijau menyala.
Motor melaju.
Dan di saku dasternya, kuitansi itu masih terlipat rapi — kertas tipis yang menyimpan satu pertanyaan yang belum Juwita tahu cara menjawabnya:
Kalau Ibu Tini sudah tahu Juwita yang selama ini membantu — lalu kenapa tadi, di balik pintu kamar itu, dia masih bilang tidak mau Juwita tahu?
Ada sesuatu yang tidak cocok.
Ada sesuatu yang belum terbuka.
Dan Juwita — perempuan yang oleh orang-orang di ruangan tadi disebut mudah sakit hati, sensitif, pas-pasan — baru saja menyadari bahwa mungkin bukan dia yang tidak mengerti situasinya.
Mungkin justru dia satu-satunya yang paling dekat dengan kebenarannya.
Rumah kontrakan mereka di Sidosermo terasa lebih sempit dari biasanya malam itu.
Bukan karena apa-apa. Ukurannya sama. Dua kamar, ruang tamu yang muat empat orang kalau tidak ada yang bergerak, dapur kecil yang pintunya tidak bisa dibuka penuh karena kulkas menghalangi.
Tapi malam ini Juwita duduk di tepi kasur dengan HP di tangan, dan ruangan itu terasa seperti sudah kehabisan udara.
Hendra sudah tidur. Dengkurannya teratur — dengkuran orang yang hari ini tidak menanggung apa-apa yang berat.
Juwita membuka WhatsApp.
Nama kontak Titipan Bu T masih di sana. Pesan Kamis malam masih centang dua biru — sudah dibaca, belum dibalas. Tiga hari.
Juwita mengetik. Menghapus. Mengetik lagi.
Akhirnya dia cuma nulis dua kata.
“Ibu sehat?”
Kirim.
Dia letakkan HP di samping bantal. Menatap langit-langit. Ada retak kecil di sudut kanan atas yang sudah ada sejak mereka pertama pindah, tiga tahun lalu.
Dua menit kemudian HP bergetar.
Satu centang. Belum dibaca.
Ibu Tini sudah tidur.
Juwita bangun pukul empat kurang.
Bukan karena alarm. Bukan karena terbangun sendiri. Tapi karena dari tadi dia tidak pernah benar-benar tidur.
Dia ke dapur. Memasak air. Duduk di kursi plastik sambil menunggu kompor mendesis.
Membuka aplikasi mobile banking.
Bukan rekening bersama dengan Hendra — rekening itu untuk kebutuhan rumah, cicilan motor, belanja bulanan. Ini rekening satunya, yang dia buka sendiri sebelum menikah, yang kartunya dia simpan di dompet kecil di balik tumpukan mukena di lemari.
Dia scroll riwayat transfer.
Ke bawah. Ke bawah. Ke bawah.
Nama penerima yang sama berulang-ulang: K. SANTOSO. Nominal yang berbeda-beda. Tanggal yang tidak selalu konsisten — kadang awal bulan, kadang pertengahan, kadang tengah malam di tanggal tua.
Dua juta. Tiga juta. Satu setengah juta. Dua juta lima ratus.
Juwita tidak pernah menghitungnya sekaligus. Selama ini dia hanya kirim kalau ada, hanya sisihkan kalau bisa.
Malam ini dia hitung.
Total yang sudah dikirim selama tiga tahun: dua puluh delapan juta lebih.
Dua puluh delapan juta.
Air di panci sudah mendidih. Uap naik ke langit-langit dapur.
Juwita tidak bergerak dari kursinya.
Pukul enam pagi, HP-nya berbunyi.
Bukan dari Titipan Bu T.
Dari Mbak Devi.
Juwita menatap nama itu tiga detik sebelum mengangkat.
“Halo, Mbak.”
“Sari.” Suara Devi terdengar seperti orang yang sudah bangun lebih lama dari yang ingin dia akui. “Kamu kemarin baik-baik aja kan?”
“Baik-baik aja, Mbak. Kenapa?”
Jedah sebentar.
“Ya enggak. Kelihatan agak diem kemarin. Kirain kamu nggak enak badan.”
“Capek aja, Mbak. Masak dari subuh.”
“Oh.” Jedah lagi. “Ngomong-ngomong — kamu udah tau soal Ibu kan?”
Juwita memegang HP lebih erat.
“Soal apa?”
“Sakitnya.”
Jadi mereka sudah mau bilang sekarang.
“Belum, Mbak.” Juwita menjaga suaranya tetap datar. “Ibu sakit apa?”
Suara Devi berubah — lebih pelan, lebih hati-hati. Suara orang yang sedang memilih kata.
“Kanker, Sari. Sudah stadium tiga. Ibu nggak mau bilang ke siapa-siapa. Tapi aku rasa kamu harus tahu.”
“Sudah berapa lama?”
“Hampir setahun ketahuannya. Tapi gejalanya sudah dari dua tahun lalu.”
Juwita menghitung di kepalanya.
Dua tahun lalu — tepat saat Ibu Tini pertama kali kirim pesan tengah malam. Tepat saat pertama kali ada nama K. SANTOSO di riwayat transfer-nya.
“Pengobatannya gimana, Mbak?”
“Itu yang…” Devi berhenti sebentar. “Biayanya besar banget, Sari. Makanya aku yang bantu selama ini.”
Juwita diam.
Satu detik.
Dua detik.
“Kamu yang bantu, Mbak?”
“Iya. Aku yang urusin biaya rumah sakitnya. Sudah dari bulan-bulan pertama. Ibu minta tolong aku — nggak mau minta ke Hendra, katanya kasihan. Jadi aku yang handle.”
Juwita menatap dinding dapur.
Di sana ada kalender tahun lalu yang belum dilepas. Foto pantai di bagian atas. Ombak biru, langit cerah.
“Oh.” Suaranya tidak bergetar. “Baik banget, Mbak.”
“Biasa aja. Namanya keluarga. Yang penting Ibu sembuh.”
Setelah telepon ditutup, Juwita meletakkan HP di meja.
Pelan-pelan.
Seperti meletakkan sesuatu yang mudah pecah.
Kamu yang bantu, Mbak?
Iya. Aku yang urusin biaya rumah sakitnya.
Juwita duduk sangat diam di kursi dapur itu.
Di rekeningnya: dua puluh delapan juta lebih yang sudah ditransfer ke K. SANTOSO selama tiga tahun.
Di mulut Mbak Devi: pengakuan bahwa dialah yang selama ini menanggung biaya Ibu Tini.
Dua kenyataan yang tidak bisa sama-sama benar.
Juwita berdiri. Membuka laci di bawah kompor. Mengeluarkan kuitansi kemarin — masih terlipat rapi di saku daster yang sudah dia gantung di balik pintu.
RS Premier Surabaya. Nama pasien: KRISTIANI SANTOSO. Pembayaran ke-7. Sisa tagihan: Rp 43.200.000.
Tujuh kali pembayaran, masing-masing sekitar empat sampai lima juta.
Total yang sudah dibayar: sekitar tiga puluh juta.
Hampir sama dengan dua puluh delapan juta yang sudah Juwita kirim.
Tapi Mbak Devi yang mengakui membayarnya.
Artinya — uang yang Juwita kirim ke rekening Ibu Tini selama tiga tahun itu — dipakai untuk membayar rumah sakit. Tapi yang disebut sebagai pembayar, yang diakui ke rumah sakit, yang diceritakan ke keluarga — adalah Mbak Devi.
Ibu Tini menerima uang dari Juwita. Tapi di depan Devi, di depan keluarga — nama Juwita tidak pernah disebut.
Dan Devi — dengan wajah tenang, dengan suara yang terdengar seperti orang yang memang tidak butuh pujian — baru saja mengklaim semua itu sebagai jasanya sendiri.
Hendra muncul dari kamar. Rambut acak-acakan, mata masih setengah terpejam.
“Udah bangun? Kopi mana?”
“Belum aku bikin.” Juwita mengisi air ke cangkir. Tangannya bergerak sendiri.
Hendra duduk di kursi yang tadi diduduki Juwita. Mengambil HP-nya. Scroll sebentar.
“Eh, tadi Devi WA aku.”
Juwita menoleh.
“Ngomong apa?”
“Soal Ibu. Katanya Ibu sakit. Kanker.” Hendra meletakkan HP. Wajahnya serius tiba-tiba. “Kok nggak ada yang bilang dari dulu ya.”
“Iya.”
“Devi bilang dia yang selama ini tanggung biayanya. Nggak minta bantuan siapapun.” Hendra menggeleng pelan. “Mbak Devi emang baik banget ya. Nggak banyak ngomong, langsung lakuin.”
Juwita menatap punggung suaminya.
Cangkir kopi di tangannya.
Airnya sudah tidak panas lagi — tapi Juwita tidak merasakannya.
Pukul delapan pagi, satu notifikasi masuk.
Dari Titipan Bu T.
Hanya tiga kata.
“Maafkan Ibu, nduk.”
Dan di bawahnya, setelah jedah beberapa menit, satu kalimat lagi yang membuat Juwita harus duduk di tepi kasur agar tidak jatuh:
“Ibu sudah bilang ke Devi bahwa kamu yang bayar semuanya. Tapi Devi yang minta ke Ibu — jangan bilang siapapun.”
Juwita baca kalimat itu dua kali.
Tiga kali.
Lalu dia letakkan HP di kasur, berdiri, dan berjalan ke kamar mandi. Menutup pintu. Duduk di tepi bak mandi yang dingin.
Dari luar terdengar suara Hendra menyeduh kopi sendiri — suara sendok beradu cangkir, suara lemari dibuka, suara kursi digeser.
Suara pagi yang biasa.
Juwita menatap ubin di bawah kakinya. Corak putih abu-abu. Ada noda kecil di sudut yang tidak pernah hilang meski sudah disikat berkali-kali.
Devi yang minta ke Ibu — jangan bilang siapapun.
Jadi bukan Ibu Tini yang menyembunyikan nama Juwita karena tidak menganggapnya penting.
Ibu Tini diminta diam.
Oleh Devi.
Juwita keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sudah dia cuci dua kali.
Hendra duduk di ruang tamu. Kopi di tangan. HP di tangan satunya.
“Ndra.”
“Hm.”
“Kamu percaya apa yang Devi bilang?”
Hendra menoleh. “Soal Ibu?”
“Soal dia yang bayar.”
Hendra mengedikkan bahu. “Ya percaya. Devi emang orangnya gitu. Diam-diam lakuin sesuatu, nggak minta tepuk tangan.”
Juwita duduk di kursi seberangnya.
“Kamu pernah lihat buktinya?”
“Bukti apa?”
“Bukti dia yang transfer. Bukti dia yang bayar rumah sakit.”
Hendra menurunkan HP-nya. Menatap Juwita dengan ekspresi yang berubah — bukan marah, tapi wajah orang yang mulai tidak nyaman dengan arah percakapan.
“Juwita. Kenapa nanya kayak gitu?”
“Aku cuma tanya.”
“Maksudnya apa? Kamu curiga sama Devi?”
Juwita tidak menjawab langsung. Tangannya di atas lutut — diam, tidak bergerak.
“Aku mau ke rumah Ibu hari ini.”
“Buat apa?”
“Jenguk. Ibu kan sakit.”
Hendra menatapnya sebentar. Lalu mengangguk pelan. “Ya sudah. Aku ikut.”
“Sendiri aja.”
Motor Juwita keluar gang pukul sembilan lewat.
Jalanan Surabaya hari Senin sudah ramai meski bukan jam sibuk — angkot berhenti sembarangan, motor masuk dari celah manapun yang ada, pedagang kaki lima mulai menggelar dagangan di trotoar.
Juwita berkendara tanpa terburu-buru.
Pikirannya sedang menyusun sesuatu — bukan rencana, bukan strategi. Hanya urutan. Fakta pertama, fakta kedua, fakta ketiga. Seperti menyusun potongan kertas yang berserakan di lantai, satu per satu, sampai polanya kelihatan.
Ibu Tini sakit hampir dua tahun.
Ibu Tini minta bantuan Juwita lewat WA tengah malam — diam-diam, tanpa bilang untuk apa.
Juwita kirim uang. Dua puluh delapan juta lebih. Selama tiga tahun.
Ibu Tini bilang ke Devi bahwa Juwita yang bayar.
Devi minta Ibu Tini diam.
Devi mengklaim ke Hendra — dan kemungkinan ke seluruh keluarga — bahwa dialah yang menanggung biaya itu.
Dan kemarin, di arisan, Hendra bilang dengan bangga: Mbak Devi emang baik banget.
Juwita menekan rem di lampu merah.
Satu pertanyaan yang belum terjawab: untuk apa Devi melakukan itu?
Rumah keluarga Santoso sepi jam segitu.
Pak Santoso belum pulang — masih di warung kopinya di dekat pasar yang buka sampai siang. Tidak ada motor lain di teras selain satu motor tua milik Ibu Tini yang sudah lama tidak dipakai.
Juwita mengetuk pintu.
Yang membuka: Mbak Devi.
Wajahnya berubah satu detik — sama seperti kemarin di ruang tamu, perubahan kecil yang cepat, yang orang lain mungkin tidak menangkap.
“Juwita? Sendiri?”
“Iya. Mau jenguk Ibu.”
“Oh.” Devi membuka pintu lebih lebar. “Masuk. Ibu lagi istirahat di kamar.”
Juwita masuk. Duduk di kursi yang sama seperti kemarin.
Devi duduk di seberangnya. Menawarkan air. Juwita menolak.
Hening sebentar.
Lalu Juwita mengeluarkan HP-nya. Membuka riwayat transfer. Meletakkannya di meja menghadap Devi.
“Aku mau nanya sesuatu, Mbak.”
Devi melihat layar itu. Matanya bergerak membaca — riwayat transfer ke K. SANTOSO, nominal demi nominal, tanggal demi tanggal.
Mukanya tidak berubah. Tapi tangannya — tangannya yang tadi santai di atas lutut — sekarang menggenggam tepi baju.
“Ini apa?” suara Devi tetap tenang.
“Transferan aku ke Ibu. Tiga tahun.” Juwita tidak meninggikan suaranya. “Dua puluh delapan juta lebih. Ibu yang minta. Buat bayar rumah sakit.”
Devi tidak menjawab.
“Tapi tadi kamu bilang ke Hendra — kamu yang bayar semuanya.”
Devi mengangkat wajahnya. Menatap Juwita langsung. Dan untuk pertama kalinya sejak Juwita mengenal perempuan ini — topeng itu turun sedikit.
“Juwita—”
“Ibu juga udah WA aku pagi ini, Mbak.” Suara Juwita masih datar. “Ibu bilang kamu yang minta dia diam.”
Ruangan itu sunyi.
Dari arah kamar ada suara — gerakan kecil, bunyi kasur yang bergeser.
Devi menarik napas panjang.
“Aku nggak bermaksud jahat.”
“Aku nggak tanya maksudnya apa.” Juwita mengambil HP-nya kembali. “Aku tanya kenapa.”
Devi menunduk. Tangannya sekarang digenggam di depan, seperti orang yang sedang berdoa atau sedang menahan sesuatu dari dalam.
“Karena Hendra…” dia berhenti.
“Kenapa Hendra?”
Devi mendongak. Matanya merah di pinggirnya — bukan menangis, tapi seperti orang yang sudah menahan sesuatu terlalu lama dan akhirnya mulai bocor.
“Karena selama ini Hendra selalu bilang ke semua orang — istrinya nggak bisa apa-apa. Nggak bisa kasih cucu, nggak bisa masak yang bener, nggak bisa ini itu.” Suaranya pecah di akhir kalimat itu. “Dan aku pikir — kalau keluarga tahu kamu yang bayar — kamu yang diam-diam bantu Ibu — itu malah bikin posisi kamu makin kuat dari Hendra.”
Juwita tidak bergerak.
“Dan aku nggak mau itu.”
Hening.
Juwita menatap perempuan di depannya — perempuan yang selama ini tersenyum di tempat yang benar, yang membawa nastar seratus delapan puluh ribu, yang dipuji seluruh keluarga karena baik tanpa banyak bicara.
“Kamu nggak mau aku terlihat baik.”
Devi tidak menjawab. Tapi itu sudah cukup jadi jawaban.
Pintu kamar terbuka.
Ibu Tini berdiri di sana. Satu tangan di kusen pintu. Wajahnya pucat, tapi matanya terbuka penuh — mata orang yang sudah mendengar dari balik pintu dan sudah tidak bisa pura-pura tidur lagi.
“Devi.”
Suara itu pelan. Tapi di ruangan yang sunyi itu, beratnya tidak pelan sama sekali.
“Keluar dulu.”
Devi berdiri. Mengambil tasnya dari lantai. Berjalan ke pintu depan tanpa menoleh ke Juwita.
Suara pintu depan tertutup.
Motor dinyalakan.
Lalu sepi.
Ibu Tini berjalan pelan ke ruang tamu. Duduk di kursi yang tadi diduduki Devi. Tangannya di atas meja — kurus, kulitnya agak kering, ada bekas jarum infus di punggung tangan kiri yang belum sepenuhnya hilang.
Matanya menatap Juwita.
Dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun — Ibu Tini tidak memalingkan wajahnya duluan.
“Ibu minta maaf, nduk.”
Kata itu — nduk — keluar begitu saja. Pelan. Seperti kata yang sudah lama disimpan dan akhirnya tidak kuat ditahan lagi.
Juwita membuka mulut.
Tapi sebelum dia sempat bicara, HP di sakunya bergetar.
Hendra.
Bukan telepon. Pesan.
“Juwita. Aku di jalan ke rumah Ibu. Devi baru WA aku — katanya kamu nyalahin dia soal sesuatu. Ada apa?”
Juwita menatap layar itu.
Lalu menatap Ibu Tini di depannya.
Dan Ibu Tini — yang baru saja mengucapkan kata yang belum pernah dia ucapkan selama tiga tahun — sekarang menutup matanya pelan, seperti orang yang tahu badai berikutnya sudah di tikungan.
Juwita matikan layar HP-nya.
Masukkan ke saku.
Ibu Tini membuka mata. Melihat gerakan itu. Mengerti.
“Hendra ke sini?”
“Iya.”
Ibu Tini mengangguk pelan. Seperti orang yang sudah menduga ini akan terjadi — sudah menduga sejak lama, hanya tidak tahu kapan.
“Nduk.” Suaranya rendah. “Sebelum dia datang — Ibu mau cerita sesuatu.”
Juwita tidak bergerak dari kursinya.
“Bukan soal sakitnya Ibu. Bukan soal uang.” Tangan Ibu Tini di atas meja — jari-jarinya membuka, menutup, membuka lagi. Gerakan orang yang sedang mencari keberanian dari dalam dirinya sendiri. “Soal kenapa Ibu dari dulu nggak pernah baik sama kamu.”
Ruangan itu dingin tiba-tiba.
Kipas angin berderit pelan di sudut ruangan. Suara motor lewat dari luar gang, jauh, lalu hilang.
“Ibu nggak perlu—”
“Perlu.” Ibu Tini memotong. Bukan kasar. Tapi tegas dengan cara yang tidak biasa dari perempuan yang selama ini lebih banyak diam. “Ibu sudah terlalu lama nggak perlu. Makanya sampai di sini.”
Juwita diam.
“Waktu Hendra bilang mau nikah sama kamu — Ibu yang paling keberatan.”
Kalimat itu keluar datar. Tanpa basa-basi.
“Bukan karena kamu orangnya gimana. Ibu bahkan belum kenal kamu waktu itu.” Ibu Tini menatap mejanya sendiri. “Tapi karena Ibu tahu — anak Ibu itu orangnya gampang jatuh, gampang nyaman, terus berhenti berkembang. Dan Ibu takut — kalau dia nikah sama perempuan yang hidupnya lebih susah dari dia, dia akan merasa cukup. Merasa sudah hebat. Padahal belum apa-apa.”
Juwita mendengarkan.
Tidak menyela.
“Jadi Ibu dingin sama kamu. Bukan buat nyakitin kamu. Tapi buat…” Ibu Tini berhenti. Mencari kata yang tepat. “Buat kasih sinyal ke Hendra. Kalau istrinya nggak diterima — dia akan berusaha lebih. Akan buktikan ke Ibu bahwa pilihannya bener.”
“Tapi yang terjadi…” Juwita akhirnya bicara. Suaranya tidak gemetar, tapi juga tidak keras. “Yang terjadi bukan itu.”
Ibu Tini mengangguk.
“Yang terjadi bukan itu.” Matanya mulai merah di pinggirnya. “Yang terjadi — Hendra malah ikut-ikutan nganggap kamu nggak cukup baik. Malah ikut ngomong jelek soal kamu ke saudara-saudaranya. Dan Ibu diam. Karena Ibu pikir itu akan berhenti sendiri.” Suaranya turun di kalimat terakhir. “Ternyata nggak.”
Juwita menarik napas pelan.
Di kepalanya, tiga tahun itu berputar ulang — arisan demi arisan, komentar demi komentar, malam-malam di dapur dengan minyak goreng yang belum kering di lengan baju. Semua itu bukan kebetulan. Bukan sekadar mertua yang belum cocok dengan menantu.
Ini lebih lama dari itu. Lebih dalam dari itu.
“Terus Ibu kenapa minta tolong aku?” Juwita bertanya. Bukan dengan marah. Dengan sungguh ingin tahu. “Kenapa bukan Hendra? Bukan Devi?”
Ibu Tini diam cukup lama.
“Karena…” dia menelan. “Karena waktu Ibu sakit — Ibu mulai lihat kamu dengan bener untuk pertama kalinya. Bukan lewat pikiran Ibu yang sudah kadung curiga. Tapi bener-bener lihat.” Matanya naik ke wajah Juwita. “Dan yang Ibu lihat — perempuan yang bangun subuh buat masak buat orang yang nggak pernah berterima kasih. Yang diam waktu direndahkan di depan umum. Yang tetap datang, tetap senyum, tetap ada.”
“Ibu malu minta ke Hendra karena Hendra anak Ibu — dan sebagian dari sikap dia ke kamu itu Ibu yang mulai. Ibu nggak bisa minta tolong ke orang yang Ibu sudah salahi lewat orang lain.”
Suaranya pecah di kalimat itu.
“Jadi Ibu minta ke kamu. Orang yang paling berhak untuk nolak — tapi Ibu yakin nggak akan nolak.”
Juwita tidak tahu dia menangis sampai dia merasakan air mata itu sudah sampai di dagu.
Dia tidak mengusapnya.
Ibu Tini juga tidak mengusap matanya sendiri — tapi matanya sudah basah penuh, dan satu tetes jatuh ke punggung tangannya yang kurus, ke bekas jarum infus yang belum hilang.
“Ibu jahat sama kamu, nduk.”
“Ibu tidak jahat.” Juwita mengusap matanya akhirnya. “Ibu salah. Beda.”
Ibu Tini menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya — Juwita melihat sesuatu di wajah perempuan itu yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
Lega.
Seperti orang yang sudah menyimpan batu di dalam dada terlalu lama, dan akhirnya seseorang mengulurkan tangan — bukan untuk mengambil batunya, tapi untuk duduk menemani menanggungnya.
Suara motor berhenti di depan teras.
Lalu suara langkah cepat.
Pintu terbuka tanpa diketuk.
Hendra masuk dengan wajah yang sudah disiapkan — wajah orang yang datang untuk membela sesuatu, untuk meluruskan sesuatu, untuk memastikan posisinya di tempat yang benar.
Tapi begitu dia melihat Juwita dan Ibu Tini duduk berhadapan — keduanya dengan mata merah, keduanya dengan wajah yang sudah melewati sesuatu yang besar — langkahnya melambat.
“Ada apa ini?”
Tidak ada yang menjawab langsung.
Hendra menatap ibunya. Menatap istrinya. Menatap mejanya. Tidak ada yang terlihat seperti pertengkaran — tidak ada suara tinggi, tidak ada kursi yang digeser keras. Tapi ruangan itu terasa seperti habis dilalui sesuatu.
“Devi bilang Juwita—”
“Devi salah.” Ibu Tini memotong.
Hendra berhenti.
“Duduk, Hendra.”
Nada itu — nada yang tidak pernah Juwita dengar dari Ibu Tini selama tiga tahun — membuat Hendra duduk tanpa berdebat.
Ibu Tini menarik napas.
“Ada yang harus Ibu ceritakan. Soal siapa yang selama ini bayar biaya rumah sakit Ibu. Soal apa yang sebenernya terjadi. Dan soal—” matanya melintas sebentar ke Juwita, lalu kembali ke Hendra, “—soal bagaimana Ibu sudah berlaku ke istrimu.”
Hendra membuka mulut.
Ibu Tini mengangkat tangan — pelan, tapi cukup untuk membuat Hendra menutup mulutnya kembali.
“Dengerin dulu.”
Juwita tidak tahu sudah berapa lama dia duduk di sana.
Yang dia tahu — di luar, matahari sudah bergeser. Bayangan pohon mangga di halaman depan yang tadinya jatuh ke kiri sekarang sudah hampir tegak lurus.
Dan di kursi di seberangnya, Hendra sudah tidak duduk tegak lagi.
Bahunya turun.
Kedua tangannya di atas lutut — menggenggam celananya sendiri dengan cara yang sama persis seperti Devi tadi menggenggam tepi bajunya.
Ibu Tini selesai bicara.
Ruangan sunyi.
Hendra tidak melihat Juwita. Matanya ke lantai. Ke ubin corak putih abu-abu yang sama dengan di kamar mandi kontrakan mereka.
“Aku…” dia mulai. Berhenti. Mulai lagi. “Selama ini aku nggak tahu.”
Juwita tidak menjawab.
“Soal uangnya. Soal Devi. Soal…” kepalanya menggeleng pelan. “Aku nggak tahu.”
“Aku tahu kamu nggak tahu,” kata Juwita akhirnya.
Hendra mendongak.
“Tapi tidak tahu itu bukan berarti tidak ada.” Suaranya tetap datar — bukan dingin, tapi jujur dengan cara yang kadang terasa lebih tajam dari marah. “Kamu tidak tahu karena kamu tidak pernah bertanya. Karena kamu sudah memutuskan dari dulu — apa yang aku bisa dan tidak bisa lakukan.”
Hendra menelan.
“Dan kamu membiarkan orang lain bicara soal aku — di depanmu, di depan keluarga — dan kamu diam. Atau ikut.”
Kalimat terakhir itu tidak keras.
Tapi Hendra menutup matanya seperti orang yang baru saja menerima sesuatu yang berat tepat di dadanya.
HP Juwita bergetar lagi.
Kali ini bukan Hendra.
Notifikasi dari aplikasi mobile banking.
Transferan masuk.
Nominal: Rp 25.000.000.
Pengirim: KRISTIANI SANTOSO.
Juwita menatap layar itu.
Lalu menatap Ibu Tini.
Ibu Tini memegang HP-nya di bawah meja — tangan kurus yang tadi gemetar, sekarang sudah diletakkan kembali di atas meja dengan tenang.
“Itu dari tabungan Ibu yang terakhir.” Suaranya tidak meminta maaf lagi — ini bukan permintaan maaf. Ini sesuatu yang berbeda. “Bukan untuk ganti rugi. Karena itu nggak bisa diganti.” Matanya tidak berkedip. “Tapi untuk sisa tagihan rumah sakit — supaya kamu yang lunasin. Bukan Devi. Bukan siapapun.” Bibirnya bergerak sebentar sebelum kalimat berikutnya keluar. “Supaya kamu tahu — Ibu tahu.”
Hendra menatap ibunya. Menatap istrinya. Menatap HP di tangan Juwita.
Dan wajahnya — wajah laki-laki yang tadi masuk dengan dada yang sudah disiapkan untuk membela — sekarang terlihat seperti wajah seseorang yang baru saja sadar sudah berdiri di sisi yang salah terlalu lama.
Tangannya bergerak ke arah Juwita.
Juwita belum mengambilnya.
Belum.
Ada satu hal yang masih belum selesai. Satu hal yang belum ada yang berani sebut namanya di ruangan ini.
“Devi harus tahu.”
Kata itu keluar dari Hendra.
Bukan dari Juwita. Bukan dari Ibu Tini.
Dari Hendra — yang duduk tegak kembali, perlahan, seperti orang yang sedang menyusun punggungnya setelah terlalu lama membungkuk.
“Dia nggak bisa jalan-jalan dengan cerita yang salah itu.” Suaranya tidak keras. Tapi tidak ada keraguan di dalamnya. “Aku yang telepon dia.”
Ibu Tini mengangguk.
Juwita tidak berkata apa-apa. Hanya menatap suaminya — laki-laki yang sudah dia kenal tiga tahun, yang wajahnya hari ini terasa seperti wajah orang yang baru dia lihat dengan benar untuk pertama kalinya.
Hendra mengambil HP. Menekan nama Devi.
Nada tunggu. Dua kali. Tiga kali.
Tidak diangkat.
Hendra mencoba lagi.
Kali ini diangkat di nada kedua.
“Hendra—”
“Dev.” Suaranya datar. “Aku di rumah Ibu. Aku sudah tahu semuanya.”
Hening di seberang.
“Uang yang selama ini bayar rumah sakit Ibu — itu uang Juwita. Bukan uangmu. Kamu tahu itu. Dan kamu minta Ibu diam.”
Suara Devi, pelan dan berhati-hati: “Aku bisa jelasin—”
“Nggak perlu dijelasin ke aku.” Hendra memotong. “Tapi kamu harus minta maaf ke Juwita. Langsung. Bukan lewat pesan, bukan lewat aku.” Dia berhenti sebentar. “Dan kalau kamu nggak mau — aku yang cerita ke seluruh keluarga. Bukan untuk mempermalukan kamu. Tapi karena istriku sudah terlalu lama jadi orang yang disalahkan untuk hal-hal yang bukan salahnya.”
Juwita melihat tangannya sendiri di atas meja.
Tidak gemetar.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama — tidak gemetar.
Devi datang empat puluh menit kemudian.
Tanpa motor — jalan kaki dari rumahnya yang memang hanya dua gang dari sini. Mukanya sudah berbeda dari tadi pagi. Tidak ada senyum yang disiapkan. Tidak ada topeng yang dipasang.
Hanya wajah perempuan yang sudah memutuskan untuk berhenti menyembunyikan sesuatu.
Dia duduk di kursi yang sama tempat dia duduk tadi. Tapi posisi tubuhnya berbeda — tidak tegak, tidak santai. Membungkuk sedikit ke depan, tangan di atas meja.
Menatap Juwita.
“Aku minta maaf.”
Tidak ada basa-basi sebelumnya. Tidak ada pengantar panjang.
“Aku dengki.” Kata itu keluar pelan tapi jelas. “Bukan dari kemarin. Sudah lama. Karena aku lihat — kamu diam, kamu sabar, kamu kerja keras — dan entah kenapa itu malah bikin aku nggak suka. Karena aku tahu, cepat atau lambat, orang-orang juga akan lihat itu.”
Juwita mendengarkan tanpa menyela.
“Waktu Ibu cerita soal kamu yang bantu — aku yang minta Ibu diam. Bukan karena aku mau uangnya. Tapi karena aku nggak mau kamu yang kelihatan baik.” Devi menelan. “Dan itu jahat. Aku tahu itu jahat waktu aku lakuin. Tapi aku tetap lakuin.”
Ruangan itu sunyi.
Ibu Tini di kursinya. Hendra di sampingnya. Keduanya tidak bersuara.
Ini percakapan antara dua perempuan — dan mereka tahu itu.
Juwita menatap Devi cukup lama.
Bukan untuk membuat Devi tidak nyaman. Tapi karena dia sedang memastikan sesuatu di dalam dirinya sendiri — memastikan bahwa yang dia rasakan bukan marah yang pura-pura selesai, bukan memaafkan yang dipaksakan karena situasi.
“Aku nggak akan bohong,” kata Juwita akhirnya. “Sakit.”
Devi mengangguk. Tidak membantah.
“Tapi aku nggak mau nyimpan ini.” Juwita menarik napas. “Bukan buat kamu. Buat aku sendiri. Karena aku sudah terlalu lama nyimpan hal-hal yang bukan urusanku buat disimpan.”
Devi menutup matanya sebentar. Satu tetes jatuh ke pipinya. Dia usap cepat dengan punggung tangan.
“Makasih,” suaranya pecah di kata itu.
Juwita tidak menjawab dengan kata-kata.
Tapi tangannya bergerak — pelan, tidak dramatis — menyentuh tangan Devi di atas meja. Sebentar saja. Seperti orang yang ingin bilang: sudah, cukup sampai di sini.
Hendra menunggu sampai Devi pamit.
Sampai suara langkah Devi menghilang di ujung gang.
Lalu dia berbalik ke Juwita. Berdiri di pintu dapur — persis di tempat yang sama Juwita sering berdiri saat arisan, saat membereskan piring, saat berpura-pura tidak mendengar apapun.
“Juwita.”
Juwita menoleh.
“Aku minta maaf.” Kalimatnya langsung, tidak berputar. “Bukan cuma soal hari ini. Soal tiga tahun.” Matanya tidak menghindar. “Aku biarkan orang-orang bicara soal kamu — dan aku ikut diam. Kadang ikut setuju. Dan itu salah.”
Juwita berdiri dari kursinya.
Berjalan ke arahnya.
Berhenti satu langkah di depannya.
“Aku tahu kamu tidak bermaksud jahat.”
“Tapi aku tetap lakuin.”
“Iya.” Juwita tidak mengelaknya. “Kamu tetap lakuin.”
Hendra mengangguk. Menerima itu.
“Kita bisa mulai lagi?” suaranya pelan. Bukan memohon — tapi sungguh-sungguh. “Dengan cara yang bener?”
Juwita menatap laki-laki di depannya.
Laki-laki yang tadi pagi masih mendengkur tanpa menanggung apapun. Yang hari ini dalam beberapa jam harus menanggung semuanya sekaligus.
“Bisa.” Satu kata. Tapi beratnya berbeda dari kata yang sama yang biasa diucapkan untuk mengakhiri pertengkaran. “Tapi aku nggak mau jadi orang yang nggak kelihatan lagi, Ndra. Di keluargamu, di arisan, di manapun.” Suaranya tidak keras. Tapi tidak ada yang bisa disalahpahami. “Aku capek jadi orang yang masak dari subuh tapi nggak ada yang ingat namanya.”
Hendra mengangguk pelan.
“Nggak akan.”
Ibu Tini masih duduk di ruang tamu.
Juwita mendekatinya terakhir.
Duduk di kursi sebelahnya — kursi yang tadi diduduki Devi, yang barusan dikosongkan.
“Ibu perlu istirahat.”
“Nanti.” Ibu Tini menatap lurus ke depan. Ke dinding kosong yang catnya sudah agak kusam. “Nduk — biaya sisanya. Kembalikan ke Ibu.”
“Nggak.”
Ibu Tini menoleh.
“Biar aku yang lunasin.” Juwita menatap perempuan di sebelahnya — pipi yang tembem, badan yang kurus, bekas jarum infus di punggung tangan kiri. “Bukan karena aku baik. Tapi karena aku mau.” Bibirnya bergerak sebentar sebelum melanjutkan. “Dan karena kali ini, aku mau semua orang tahu bahwa aku yang bayar.”
Ibu Tini menatapnya lama.
Lalu — pelan, seperti sesuatu yang sudah lama tidak dia lakukan dan otot-ototnya harus belajar lagi caranya — tangannya bergerak ke tangan Juwita.
Menggenggamnya.
Tangan kurus yang dingin. Tangan yang sudah terlalu sering ada di rumah sakit, terlalu sering menahan sakit yang tidak diceritakan.
“Maafkan Ibu, nduk.”
Kali ini Juwita tidak menjawab dengan kata-kata.
Karena ada hal-hal yang jawabannya bukan kalimat.
Dia balikkan tangannya — menggenggam tangan Ibu Tini dari bawah, seperti orang yang menopang sesuatu agar tidak jatuh.
Dan di luar, angin sore masuk dari celah jendela yang tidak tertutup rapat. Membawa bau tanah basah dari halaman. Membawa suara anak-anak di gang sebelah. Membawa suara toa masjid yang mulai mengumandangkan azan ashar dari ujung jalan.
Suara yang sama seperti kemarin.
Seperti dua bulan lalu. Seperti setahun lalu.
Tapi ruangan yang diisinya hari ini terasa berbeda.
Tiga minggu kemudian.
Arisan keluarga besar tidak ada. Tapi ada satu acara yang lebih kecil — makan siang di rumah keluarga Santoso, cuma keluarga inti, atas inisiatif Pak Santoso yang biasanya paling tidak banyak bicara tapi hari itu yang paling pertama mengangkat telepon.
Yang memasak: Juwita.
Tapi kali ini Ibu Tini duduk di kursi dekat kompor — bukan karena dia bisa banyak membantu, tapi karena dia ingin di sana. Menonton. Menemani.
“Garamnya kurang.”
Juwita mencicipi. Menambahkan sedikit.
“Nah. Itu.”
Mereka tidak banyak bicara. Tapi dapur itu tidak sunyi.
Ketika semua orang sudah duduk dan makanan sudah di meja — semur daging yang sama, perkedel yang sama, sayur lodeh yang sama — Pak Santoso mengetuk meja pelan.
“Sebelum makan.” Suaranya berat dan tenang seperti biasa. Tapi semua orang diam mendengarkan — karena Pak Santoso jarang berbicara duluan. “Ibu mau ngomong sesuatu.”
Ibu Tini melihat ke seluruh meja — Hendra, Juwita, Devi yang duduk di ujung dengan tangan di atas lutut, Pak Santoso di sebelahnya.
“Selama ini ada orang di meja ini yang sudah banyak bantu keluarga kita. Diam-diam. Tanpa minta diakui.” Matanya berhenti di Juwita. “Sekarang Ibu minta — semua orang tahu.”
Hendra meletakkan sendoknya.
Devi menunduk sebentar. Lalu mendongak lagi.
Pak Santoso mengangguk sekali — anggukan orang yang sudah tahu tapi menunggu saat yang tepat untuk mengatakannya.
“Nduk.” Ibu Tini menatap Juwita langsung. Di depan semua orang. Tidak berbisik, tidak melalui pesan tengah malam yang kemudian dihapus. “Makasih.”
Juwita menelan.
Tangannya di bawah meja — menggenggam tangan Hendra yang sudah lebih dulu mengulurkannya sejak tadi.
Dia tidak menangis.
Tapi ada sesuatu yang longgar di dadanya — sesuatu yang sudah terlalu lama terikat dan hari ini akhirnya dilepas.
Di luar, suara motor lewat. Suara anak-anak bermain. Suara kehidupan yang terus berjalan seperti biasa.
Dan di meja makan itu, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun — tidak ada yang merasa perlu pura-pura.