Cerita Misteri Keluarga: Aku Kira Rumah Almarhum Kakekku Sudah Kosong
TAPI MALAM ITU, DARI DALAM GUDANG, AKU MENDENGAR SUARA SESEORANG BERBICARA PELAN.
PADAHAL AKU YAKIN HANYA AKU SENDIRI DI DALAM RUMAH ITU.
Rumah itu berdiri di ujung gang sempit di kampung kami.
Dindingnya masih papan tua yang warnanya sudah kusam.
Cat hijaunya mengelupas di sana-sini.
Kakekku tinggal di situ sendirian sejak nenek meninggal sepuluh tahun lalu.
Tiga hari yang lalu, kami baru saja memakamkannya.
Sekarang rumah itu menjadi tanggung jawabku.
Bukan karena aku anak tertua.
Tapi karena akulah satu-satunya cucu yang masih tinggal di kota ini.
Sore itu aku datang sendirian.
Motor berhenti di depan pagar besi yang sudah berkarat.
Saat aku membuka pagar, suara engselnya berderit panjang.
Seperti rumah itu sudah lama tidak menerima tamu.
Di teras, sandal jepit kakek masih ada.
Persis di tempat biasanya.
Aku sempat diam beberapa detik.
Entah kenapa rasanya seperti kakek masih ada di dalam rumah.
Aku membuka pintu kayu perlahan.
Udara di dalam rumah terasa lembap.
Bau minyak kayu putih masih samar-samar tercium.
Kakek selalu mengoleskan minyak itu di dadanya sebelum tidur.
Lampu ruang tamu menyala redup.
Bohlam kuning tua itu berkedip sebentar sebelum stabil.
Aku duduk di kursi rotan.
Kipas angin tua di sudut ruangan masih berderit pelan.
Padahal aku tidak menyalakannya.
Aku menoleh.
Ternyata kabelnya masih tersambung ke stop kontak.
Aku berdiri dan mencabutnya.
Sunyi kembali memenuhi rumah.
Dari luar terdengar suara motor lewat di gang sempit.
Lalu suara anak kecil tertawa di kejauhan.
Semua terasa normal.
Terlalu normal untuk rumah orang yang baru saja kehilangan penghuninya.
Aku mulai membuka lemari kayu di ruang tamu.
Ada beberapa amplop lama.
Surat listrik.
Kuitansi.
Dan beberapa foto hitam putih.
Di salah satu foto, aku melihat diriku sendiri.
Masih kecil.
Duduk di pangkuan kakek.
Aku tersenyum.
Tiba-tiba ponselku bergetar.
Notifikasi WhatsApp.
Ibuku.
“Sudah sampai di rumah kakek?”
Aku mengetik cepat.
“Iya, Bu. Lagi beresin sedikit.”
Beberapa detik kemudian pesan masuk lagi.
“Ibu masih tidak enak hati kamu sendirian di sana.”
Aku hampir tertawa.
“Rumah kosong kok, Bu.”
Tiga titik di layar muncul.
Ibu sedang mengetik.
Lalu pesan baru masuk.
“Gudangnya jangan dibuka malam-malam.”
Aku berhenti mengetik.
Gudang.
Aku menoleh ke arah lorong belakang rumah.
Di ujung lorong itu memang ada satu pintu kecil.
Gudang kakek.
Sejak kecil aku jarang masuk ke sana.
Kakek selalu bilang gudang itu berantakan.
“Besok saja dibereskan,” katanya.
Aku mengetik lagi.
“Kenapa memangnya?”
Pesan dari ibu muncul beberapa detik kemudian.
“Tunggu siang saja. Gelap di sana.”
Aku menghela napas.
Ibu memang selalu khawatir berlebihan.
Aku meletakkan ponsel di meja.
Lalu berdiri.
Lorong menuju gudang agak gelap.
Lampunya mati.
Aku menyalakan senter dari ponsel.
Cahayanya memantul di ubin lantai yang dingin.
Setiap langkahku terdengar jelas.
Sandal yang kupakai bergesek pelan.
Saat aku sampai di depan pintu gudang, aku berhenti.
Pintu itu setengah tertutup.
Aneh.
Aku yakin tadi tidak ada yang menyentuhnya.
Aku mendorongnya sedikit.
Pintu kayu itu terbuka dengan suara pelan.
Di dalamnya gelap.
Hanya ada tumpukan kardus tua.
Karung pupuk.
Dan rak kayu berdebu.
Aku masuk satu langkah.
Udara di dalam lebih dingin.
Seperti ruangan yang lama tidak dibuka.
Aku menyinari sudut ruangan dengan senter.
Tidak ada apa-apa.
Hanya barang-barang lama.
Aku hampir menutup pintu lagi.
Saat itu aku mendengarnya.
Suara.
Sangat pelan.
Seperti seseorang berbisik.
Aku membeku.
Aku menahan napas.
Suara itu muncul lagi.
Dari arah dalam gudang.
Bukan dari luar.
Bukan dari jalan.
Dari dalam ruangan ini.
Aku mengangkat senter lebih tinggi.
Cahaya menyapu dinding kayu.
Rak tua.
Kardus.
Karung.
Tidak ada siapa-siapa.
Lalu suara itu terdengar lagi.
Kali ini lebih jelas.
Seperti seseorang sedang berbicara.
Pelan sekali.
Aku tidak bisa menangkap kata-katanya.
Tapi jelas ada suara manusia.
Jantungku mulai berdebar.
Aku melangkah lebih dalam ke gudang.
Setiap langkah membuat debu di lantai berhamburan.
Aku berhenti lagi.
Suara itu tiba-tiba berhenti.
Sunyi.
Aku menunggu beberapa detik.
Tidak ada apa-apa.
Mungkin hanya suara dari luar rumah.
Aku berbalik.
Saat itulah suara itu muncul lagi.
Lebih dekat.
Tepat di belakang rak kayu tua.
Seperti seseorang berbicara dengan suara sangat pelan.
Aku menelan ludah.
Tanganku mulai gemetar.
Aku mendekati rak itu perlahan.
Cahaya senter menyorot sela-sela papan.
Dan di lantai…
Aku melihat sesuatu.
Bekas jejak kaki.
Debu di lantai seperti baru saja terinjak.
Jejaknya menuju ke belakang rak kayu itu.
Padahal tadi tidak ada siapa-siapa.
Jantungku berdegup semakin keras.
Aku menelan ludah.
Lalu perlahan mendorong rak kayu itu.
Rak itu bergeser sedikit.
Cukup untuk membuka celah.
Di balik rak itu ada sesuatu yang tidak pernah aku lihat sebelumnya.
Sebuah pintu kecil.
Tersembunyi di dinding gudang.
Pintu itu tertutup rapat.
Tapi dari balik pintu itu…
Suara itu terdengar lagi.
Seseorang sedang berbicara.
Pelan sekali.
Seperti sedang berbicara sendiri.
Tanganku gemetar saat menyentuh gagang pintu itu.
Aku menarik napas dalam-dalam.
Lalu perlahan memutarnya.
Pintu itu terbuka sedikit.
Dan dari celah itu…
Aku melihat sesuatu yang membuat darahku seperti berhenti mengalir.
Di dalam ruangan kecil itu…
ada seseorang.
PART 2
Pintu kecil itu terbuka perlahan.
Kayunya berderit pelan.
Aku menyorotkan senter ke dalam ruangan sempit itu.
Dan di sana…
seorang pria tua duduk di kursi kayu.
Dia menoleh pelan ke arahku.
Matanya menyipit karena cahaya senter.
Jantungku seperti berhenti.
“Si… siapa kamu?” suaraku hampir tidak keluar.
Pria itu tidak terlihat terkejut.
Dia hanya menatapku beberapa detik.
Lalu berdiri pelan.
Tubuhnya kurus.
Rambutnya sudah hampir seluruhnya putih.
Dia melangkah mendekat satu langkah.
Cahaya senter sekarang menyinari wajahnya dengan jelas.
Dan saat itu aku baru menyadari sesuatu.
Aku pernah melihat wajah itu.
Di foto lama.
Di rumah ini.
Di samping kakekku.
“Pak Rahman…?” aku berbisik.
Pria tua itu mengangguk pelan.
“Jadi… kamu cucunya, ya.”
Aku benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Pak Rahman adalah sahabat lama kakek.
Aku ingat mereka sering duduk di teras sambil minum kopi waktu aku masih kecil.
Tapi aku tidak pernah melihatnya lagi bertahun-tahun.
“Bapak… ngapain di sini?” tanyaku bingung.
Pak Rahman terlihat canggung.
Dia menghela napas panjang.
“Maaf… saya tidak berniat menakuti kamu.”
Aku menurunkan senter sedikit.
Ruangan kecil itu ternyata seperti kamar sederhana.
Ada kasur tipis di lantai.
Meja kecil.
Dan termos air panas.
Seperti seseorang sudah lama tinggal di sini.
“Kakekmu yang menyuruh saya tinggal di sini,” kata Pak Rahman pelan.
Aku terdiam.
“Sejak kapan?”
“Sejak dua tahun lalu.”
Dua tahun.
Aku benar-benar tidak tahu.
Pak Rahman duduk kembali di kursinya.
Tangannya gemetar sedikit.
“Kakekmu tidak mau orang lain tahu.”
“Kenapa?”
Pak Rahman menunduk.
Beberapa detik dia tidak menjawab.
Lalu dia berkata pelan.
“Karena saya tidak punya siapa-siapa lagi.”
Aku menelan ludah.
Pak Rahman melanjutkan.
“Istri saya meninggal. Anak saya merantau dan tidak pernah pulang lagi.”
Suara kipas angin tua dari ruang depan terdengar samar.
Pak Rahman menarik napas panjang.
“Waktu itu saya hampir tinggal di jalan.”
“Lalu kakekmu datang.”
Aku bisa membayangkan wajah kakek yang selalu tenang itu.
“Kakekmu bilang saya boleh tinggal di sini. Tapi satu syarat.”
“Apa?”
“Tidak boleh ada yang tahu.”
Aku terdiam lama.
Sekarang semuanya mulai masuk akal.
Gudang yang selalu ditutup.
Kakek yang sering membawa dua bungkus nasi.
Dan alasan kenapa ibu selalu bilang kakek sering “sibuk di belakang rumah”.
Ternyata selama ini…
kakek diam-diam merawat temannya.
Pak Rahman menatapku dengan ragu.
“Sekarang kakekmu sudah tidak ada.”
“Saya sebenarnya sudah mau pergi besok.”
Aku langsung menggeleng.
“Tidak perlu.”
Pak Rahman terlihat bingung.
Aku mematikan senter ponsel.
Lampu kecil di langit-langit ruangan ternyata masih menyala.
Cahayanya kuning redup.
Aku duduk di kursi kosong di depan Pak Rahman.
“Kakek saya pasti tidak ingin Bapak pergi.”
Pak Rahman terdiam.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Aku melanjutkan pelan.
“Kalau kakek mempercayakan rumah ini kepada saya…”
“Berarti Bapak juga tanggung jawab saya sekarang.”
Pak Rahman menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Aku bisa melihat bahunya bergetar.
Beberapa detik kemudian dia berkata pelan.
“Kakekmu selalu bilang kamu anak baik.”
Aku tersenyum kecil.
Di luar rumah terdengar suara toa masjid mulai memanggil adzan Isya.
Angin malam masuk pelan dari jendela kecil gudang.
Rumah tua itu tiba-tiba tidak terasa sesunyi tadi.
Aku berdiri.
“Pak Rahman.”
Dia menatapku.
“Saya lapar.”
Pak Rahman mengerutkan dahi.
Aku tersenyum.
“Di dapur pasti masih ada mie instan.”
Pak Rahman tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya sejak aku membuka pintu gudang itu.
Kami berjalan keluar dari ruangan kecil itu bersama.
Saat melewati lorong menuju dapur, aku melihat sandal jepit kakek masih di teras.
Entah kenapa aku merasa seperti kakek masih ada di rumah itu.
Mengawasi semuanya.
Mungkin selama ini aku salah.
Aku kira rumah itu kosong.
Ternyata tidak pernah benar-benar kosong.
Karena kebaikan kakek masih tinggal di dalamnya.
Dan malam itu…
aku akhirnya benar-benar mengerti satu hal.
Kadang orang yang terlihat hidup sendirian…
sebenarnya sedang diam-diam menjaga seseorang.
Cerita ini mengingatkanku bahwa tidak semua kebaikan perlu diketahui banyak orang.
Kadang orang yang terlihat hidup biasa saja,
diam-diam sedang menjadi penyelamat bagi orang lain.
Kalau kamu pernah mengalami kejadian serupa,
aku ingin sekali mendengar ceritamu di kolom komentar.