|

Cerita Rumah Misterius: Calon Pembeli Rumahku Tiba-Tiba Menarik Tangan Suaminya

PADAHAL MEREKA SUDAH MEMBERIKAN DP PEMBELIAN.

WAKTU ITU AKU KIRA MEREKA HANYA BERUBAH PIKIRAN.
TAPI LIMA TAHUN KEMUDIAN… AKU BARU TAHU APA YANG SEBENARNYA MEREKA LIHAT DI DALAM GUDANG ITU.

Rumah itu sebenarnya rumah orang tuaku dulu.

Rumah lama di pinggir kota.

Dindingnya masih pakai cat krem yang mulai kusam. Halamannya luas. Ada pohon mangga tua di samping garasi. Kalau sore, daun-daunnya sering jatuh ke teras.

Setelah orang tuaku pindah ke rumah kakakku, rumah itu jadi kosong.

Awalnya aku mau menyewakan saja. Tapi karena lokasinya lumayan strategis, aku akhirnya memutuskan menjualnya.

Sudah hampir enam bulan rumah itu dipasang spanduk DIJUAL.

Beberapa orang datang melihat. Tapi tidak ada yang benar-benar serius.

Sampai suatu siang, sepasang suami istri datang.

Mobil mereka berhenti di depan pagar. Toyota putih yang masih bersih. Dari dalam keluar seorang wanita sekitar tiga puluhan dan seorang pria yang mungkin suaminya.

Wanita itu yang paling banyak bicara.

“Mas ini yang rumahnya dijual ya?”

“Iya, Bu.”

Mereka terlihat cocok dengan rumah itu.

Wanita itu beberapa kali mengangguk sambil melihat halaman.

“Halaman luas ya.”

“Iya, Bu. Dulu orang tua saya suka tanam sayur di belakang.”

Suaminya lebih pendiam. Dia hanya sesekali melihat sekeliling.

Kami masuk ke dalam rumah.

Ruang tamu masih sederhana. Lantai keramik putih. Kipas angin tua di plafon masih berderit pelan.

Wanita itu terlihat semakin tertarik.

“Mas ini rumahnya adem ya.”

Aku tersenyum.

“Kalau sore anginnya enak, Bu. Dari belakang.”

Kami keliling rumah.

Kamar tidur.

Dapur.

Kamar mandi.

Semua terlihat normal.

Sampai akhirnya kami sampai di belakang rumah.

Di situ ada pintu kayu kecil.

Gudang.

Gudang itu sudah ada sejak zaman orang tuaku.

Dulu dipakai menyimpan alat kebun, kursi rusak, dan beberapa kardus lama.

Aku membuka pintunya.

Engselnya berbunyi pelan.

“kreeek…”

Bau kayu lembab langsung keluar.

Lampu gudang redup. Hanya satu lampu bohlam kuning.

Wanita itu masuk lebih dulu.

Dia melihat ke dalam.

Ada rak kayu tua. Beberapa kardus. Karung pupuk lama.

Suaminya ikut masuk.

Aku berdiri di pintu.

Wanita itu berjalan pelan ke bagian belakang gudang.

Dia melihat sekeliling.

Tangannya menyentuh rak kayu.

Lalu dia berhenti.

Beberapa detik dia hanya diam.

Suaminya bertanya pelan.

“Kenapa?”

Wanita itu tidak langsung menjawab.

Dia menatap sesuatu di lantai.

Matanya berubah.

Wajahnya tiba-tiba pucat.

Dia langsung menarik tangan suaminya.

“Mas… ayo.”

Suaminya kaget.

“Kenapa?”

“Ayo keluar.”

Suaranya pelan tapi tegang.

Dia benar-benar menarik suaminya keluar dari gudang.

Cepat sekali.

Aku berdiri bingung di pintu.

“Bu… ada apa?”

Wanita itu tidak menjawab.

Dia hanya berjalan cepat keluar rumah.

Sampai di halaman, dia baru berkata pada suaminya.

“Mas… kita pulang sekarang.”

Suaminya terlihat bingung.

“Tapi kita belum selesai lihat rumahnya.”

Wanita itu menggeleng cepat.

“Kita pulang.”

Aku ikut keluar ke teras.

“Bu… ada masalah dengan rumahnya?”

Wanita itu menatapku beberapa detik.

Lalu berkata pelan.

“Maaf, Mas. Sepertinya kami tidak jadi.”

Aku semakin bingung.

“Padahal tadi Ibu bilang cocok…”

Wanita itu tidak menjawab.

Dia hanya berkata lagi.

“Maaf.”

Mereka masuk mobil.

Mesin mobil menyala.

Beberapa detik kemudian mobil itu keluar dari halaman.

Aku berdiri di teras.

Masih bingung.

Padahal seminggu sebelumnya mereka sudah datang.

Bahkan sudah memberikan DP.

Waktu itu mereka terlihat sangat yakin.

Tapi hari itu…

semuanya berubah hanya setelah masuk gudang.

Sore itu aku masuk lagi ke gudang.

Aku melihat ke sekeliling.

Rak kayu.

Kardus lama.

Karung pupuk.

Tidak ada apa-apa yang aneh.

Aku bahkan melihat lantainya.

Hanya lantai semen biasa.

Tidak ada sesuatu yang terlihat aneh.

Akhirnya aku hanya mengangkat bahu.

“Mungkin mereka berubah pikiran,” pikirku waktu itu.

Rumah itu akhirnya tidak jadi mereka beli.

Beberapa bulan kemudian… rumah itu dibeli orang lain.

Keluarga biasa.

Sampai sekarang mereka masih tinggal di sana.

Dan aku hampir lupa kejadian siang itu.

Sampai lima tahun kemudian…

suatu sore ponselku berbunyi.

Notifikasi WhatsApp.

Nama yang muncul membuatku langsung ingat kejadian itu.

Wanita yang dulu hampir membeli rumahku.

Pesannya singkat.

“Mas, saya mau minta maaf.”

Aku membalas.

“Minta maaf kenapa, Bu?”

Balasannya datang beberapa detik kemudian.

“Saya yang dulu hampir beli rumah Mas.”

“Tapi batal setelah masuk gudang.”

Jantungku tiba-tiba berdebar.

Aku menulis lagi.

“Iya Bu. Saya ingat.”

Beberapa detik tidak ada balasan.

Lalu pesan berikutnya muncul.

“Sebenarnya waktu itu saya tidak berubah pikiran.”

“Saya batal karena sesuatu yang saya lihat di lantai gudang.”

Tanganku berhenti di layar ponsel.

Aku langsung mengetik.

“Apa yang Ibu lihat?”

Beberapa detik kemudian balasannya muncul.

“Saya melihat sesuatu yang sangat aneh di lantai gudang itu.”

“Dan saya baru sadar apa artinya lima tahun kemudian.”

PA

Beberapa detik aku hanya menatap layar ponsel.

Pesan terakhir dari wanita itu masih terbuka.

“Saya melihat sesuatu yang sangat aneh di lantai gudang itu.”

“Dan saya baru sadar apa artinya lima tahun kemudian.”

Aku langsung mengetik lagi.

“Apa yang Ibu lihat waktu itu?”

Balasannya tidak langsung datang.

Beberapa detik terasa lama sekali.

Lalu tiga titik muncul di layar.

Dia sedang mengetik.

“Saya lihat bekas garis di lantai gudang.”

Aku mengerutkan dahi.

“Garis?”

“Iya, Mas.”

“Samar, tapi jelas sekali kalau diperhatikan.”

Aku langsung mencoba mengingat gudang itu.

Lantainya memang semen lama.

Ada beberapa retakan kecil.

Tapi garis?

Aku mengetik lagi.

“Garis seperti apa, Bu?”

Balasannya datang lagi.

“Seperti garis persegi panjang.”

Tanganku berhenti.

Persegi panjang?

Dia melanjutkan lagi.

“Mas, saya kerja di interior dan renovasi rumah.”

“Saya sering lihat pola seperti itu.”

Aku membaca pesannya dengan lebih serius sekarang.

“Biasanya pola seperti itu muncul karena…”

Pesan berikutnya muncul.

“…ada sesuatu yang pernah menutup bagian lantai itu.”

Aku mulai merasa tidak nyaman.

“Maksud Ibu?”

Beberapa detik tidak ada balasan.

Lalu dia menulis lagi.

“Biasanya itu bekas lemari besar.”

“Atau…”

Dia berhenti di situ.

Beberapa detik kemudian pesan berikutnya muncul.

“Atau bekas pintu yang pernah ditutup.”

Dadaku tiba-tiba terasa aneh.

Pintu?

Di lantai gudang?

Aku menulis cepat.

“Pintu apa, Bu?”

Balasannya langsung datang.

“Saya pikir waktu itu ada sesuatu yang pernah dibuka di lantai gudang.”

“Ada semacam ruang di bawahnya.”

Aku langsung terdiam.

Gudang itu rumah lama.

Dibangun waktu aku masih kecil.

Aku bahkan jarang masuk ke situ.

Wanita itu mengirim pesan lagi.

“Tapi waktu itu saya tidak berani bilang apa-apa.”

“Saya takut salah.”

Aku membaca pesan berikutnya.

“Sampai lima tahun kemudian.”

Aku langsung mengetik.

“Apa yang terjadi lima tahun kemudian?”

Beberapa detik tidak ada balasan.

Lalu pesan panjang muncul.

“Dua minggu lalu saya renovasi rumah klien.”

“Gudangnya mirip sekali dengan gudang rumah Mas.”

“Saat tukang membongkar lantainya…”

“kami menemukan pintu kayu tua di bawah lantai.”

Tanganku langsung terasa dingin.

Pesan berikutnya muncul.

“Di bawah pintu itu ada ruang kecil.”

“Ada tangga turun ke bawah.”

Aku membaca dengan napas pelan.

Wanita itu menulis lagi.

“Mas…”

“Saya langsung ingat garis yang saya lihat di gudang rumah Mas waktu itu.”

“Aku yakin itu pola yang sama.”

Aku langsung menulis.

“Jadi menurut Ibu…”

Balasannya datang cepat.

“Menurut saya…”

“Ada kemungkinan gudang rumah Mas dulu juga pernah punya ruang bawah tanah.”

Aku bersandar di kursi.

Tiba-tiba ingatan lama muncul di kepalaku.

Waktu kecil…

aku pernah melihat ayahku membongkar sebagian lantai gudang.

Aku waktu itu masih SD.

Aku hanya ingat satu hal.

Ayah pernah berkata pada tukang waktu itu.

“Yang ini ditutup saja. Tidak usah dipakai lagi.”

Waktu itu aku tidak mengerti maksudnya.

Sekarang semuanya terasa berbeda.

Aku langsung mengambil ponsel lagi dan mengetik.

“Bu, saya baru ingat sesuatu.”

Dia langsung membalas.

“Apa, Mas?”

Aku menulis pelan.

“Waktu kecil… saya pernah lihat ayah saya menutup sesuatu di lantai gudang itu.”

Beberapa detik kemudian balasannya muncul.

“Saya tidak heran, Mas.”

“Ada banyak rumah lama yang punya ruang bawah tanah kecil.”

“Ada yang dipakai menyimpan bahan makanan.”

“Ada juga yang dulu dipakai sebagai bunker saat kerusuhan tahun 98.”

Aku terdiam.

Tiba-tiba aku merasa sedikit merinding.

Bukan karena hal menyeramkan.

Tapi karena sesuatu yang selama ini ada di rumah itu…

tidak pernah benar-benar aku sadari.

Wanita itu mengirim pesan terakhir.

“Tapi Mas tidak perlu khawatir.”

“Kalau memang ada ruang di bawah gudang itu, kemungkinan besar sekarang sudah tertutup permanen.”

Aku tersenyum kecil membaca pesan itu.

Rumah itu sudah dijual.

Keluarga baru sudah tinggal di sana bertahun-tahun.

Dan selama lima tahun…

tidak pernah ada masalah apa pun.

Aku membalas pesannya.

“Terima kasih sudah cerita, Bu.”

Dia menjawab.

“Sama-sama, Mas.”

“Waktu itu saya memang terlalu panik.”

Aku menaruh ponsel di meja.

Lalu tiba-tiba aku tertawa kecil sendiri.

Lima tahun lalu aku mengira mereka melihat sesuatu yang menyeramkan.

Padahal sebenarnya…

mereka hanya melihat jejak dari sebuah rahasia kecil rumah lama.

Dan sejak hari itu…

setiap kali aku lewat rumah itu…

aku selalu teringat satu hal.

Di bawah gudang rumah itmungkin masih ada ruang kecil yang pernah disembunyikan oleh ayahku dulu.

Jujur saja…

kalau kamu melihat bekas pintu seperti itu di lantai gudang sebuah rumah lama,

apakah kamu akan merasa biasa saja?

Atau justru merasa ada sesuatu yang disembunyikan di bawahnya?

Tulis pendapatmu di komentar.

Aku ingin tahu kamu termasuk orang yang penasaran… atau orang yang memilih tidak mau tahu.