|

Cerita Kehidupan: Pembantu di Rumahku Tiba-Tiba Meminta Berhenti Malam Itu Juga

AKU KIRA DIA HANYA LELAH BEKERJA.

TAPI TIGA BULAN KEMUDIAN… BARU AKU SADAR ALASAN SEBENARNYA—DAN ITU MEMBUATKU MERINDING.

—————————————————————————————————————

Jam di ruang tamu menunjukkan pukul 22:47.

Rumah sudah sepi.

Dari luar terdengar suara motor lewat di gang kecil depan rumah. Kadang ada anjing tetangga menggonggong sebentar lalu diam lagi.

Aku duduk di sofa sambil memandangi layar laptop.

Excel masih terbuka. Angka-angka laporan penjualan belum selesai.

Kipas angin di sudut ruangan berderit pelan.

“tek… tek… tek…”

Bau minyak kayu putih samar-samar tercium dari kamar Sean.

Anakku memang gampang pilek.

Dari dapur terdengar suara sendok jatuh.

Ting.

Aku menoleh.

“Mbak Rina?”

Tidak ada jawaban.

Mbak Rina sudah bekerja di rumah kami hampir dua tahun.

Orangnya pendiam.

Tidak banyak bicara.

Kerjanya rapi.

Istriku selalu bilang, “Kita beruntung dapat Mbak Rina.”

Aku berdiri dan berjalan ke dapur.

Lampu dapur masih menyala.

Mbak Rina berdiri di dekat wastafel.

Tangannya memegang gelas.

Tapi dia tidak mencuci.

Dia hanya berdiri.

Diam.

“Mbak?” aku memanggil lagi.

Dia menoleh cepat. Wajahnya terlihat pucat.

“Pak… saya mau ngomong.”

Nada suaranya aneh.

Serak.

Seperti orang yang habis menangis.

Aku mengerutkan dahi.

“Kenapa?”

Dia menunduk.

Beberapa detik tidak ada suara.

Hanya kipas angin dapur yang berputar.

“Pak… saya mau berhenti kerja.”

Aku kira aku salah dengar.

“Berhenti?”

“Iya, Pak.”

“Sekarang?”

Dia mengangguk pelan.

“Saya mau pulang malam ini juga.”

Aku langsung tertawa kecil.

“Lho… kenapa mendadak begitu? Ada masalah di kampung?”

Dia menggeleng.

“Bukan, Pak.”

“Terus?”

Dia menggigit bibirnya.

Seperti ingin mengatakan sesuatu… tapi ragu.

Dari ruang tamu terdengar suara notifikasi WhatsApp dari ponselku.

Ting.

Aku tidak menghiraukannya.

Perhatianku tertuju ke wajah Mbak Rina.

Ada sesuatu yang tidak beres.

“Kalau ada masalah… kita bisa bicarakan,” kataku pelan.

Dia mengangkat kepala.

Matanya merah.

“Maaf, Pak. Saya harus pergi.”

Harus.

Bukan ingin.

Harus.

Kata itu membuatku merasa aneh.

“Mbak Rina… ini sudah hampir jam sebelas malam.”

“Iya, Pak.”

“Kalau pulang sekarang… naik apa?”

“Saya pesan ojek online.”

Aku menghela napas.

“Mbak Rina. Kalau ada masalah… cerita saja. Tidak usah tiba-tiba berhenti begini.”

Dia terdiam.

Lalu matanya melirik ke arah lorong kamar.

Lorong yang menuju kamar Sean.

Gerakan itu hanya sepersekian detik.

Tapi aku melihatnya.

“Kenapa?” tanyaku.

Dia cepat menggeleng.

“Tidak apa-apa, Pak.”

Tapi tangannya gemetar.

Gelas di tangannya bergetar kecil.

Aku mulai merasa tidak nyaman.

“Apakah ada yang membuat Mbak tidak betah di sini?”

Dia tidak menjawab.

Aku mencoba bercanda.

“Atau saya terlalu cerewet soal sampah dipisah?”

Dia tidak tersenyum.

Biasanya dia selalu tersenyum.

Malam itu tidak.

“Mbak… sebenarnya ada apa?”

Dia menatapku.

Tatapan yang aneh.

Seperti orang yang ingin memperingatkan sesuatu… tapi tidak berani.

“Pak…” katanya pelan.

“Iya?”

Dia membuka mulut.

Tapi tidak ada kata keluar.

Dari kamar Sean terdengar suara batuk kecil.

“ekh…”

Aku refleks menoleh ke arah lorong.

“Sean bangun?”

Aku melangkah hendak ke kamar.

Tiba-tiba Mbak Rina berkata cepat.

“Pak!”

Aku berhenti.

Dia terlihat panik.

“Kenapa?”

Dia menunduk lagi.

“Tidak apa-apa.”

Aneh.

Benar-benar aneh.

Aku tetap berjalan ke kamar Sean.

Lampu kamar redup.

Sean tidur miring memeluk boneka dinosaurusnya.

Selimutnya agak turun.

Aku menarik selimut itu naik.

Tangannya hangat.

Napasnya normal.

Aku menghela napas lega.

“Mungkin cuma mimpi,” gumamku.

Saat keluar kamar, Mbak Rina masih berdiri di lorong.

Seperti menunggu.

“Sean tidur,” kataku.

Dia mengangguk.

Tapi wajahnya justru makin pucat.

“Apa Mbak takut anak saya sakit?” aku mencoba bercanda lagi.

Dia tidak menjawab.

Dia hanya berkata pelan.

“Pak… saya sudah pesan ojek.”

Ponselnya bergetar di tangannya.

Notifikasi driver datang.

Aku merasa kesal.

“Ini benar-benar mendadak, Mbak.”

“Maaf, Pak.”

“Minimal kasih tahu alasan.”

Dia menatap lantai.

Lalu berkata pelan.

“Saya… tidak bisa tinggal di rumah ini lagi.”

Kalimat itu membuatku berhenti bernapas sebentar.

“Kenapa?”

Dia tidak menjawab.

Aku mulai berpikir macam-macam.

Apakah dia mencuri?

Apakah ada masalah dengan tetangga?

Atau dia menemukan sesuatu?

“Mbak Rina.”

“Iya, Pak.”

“Kalau ada masalah… kita selesaikan baik-baik.”

Dia menggeleng pelan.

“Sudah tidak bisa, Pak.”

Di luar terdengar suara motor berhenti.

Driver ojek online mungkin sudah datang.

Dia mengambil tas kecilnya.

Tas itu sudah siap.

Berarti dia sudah berniat pergi dari tadi.

“Sejak kapan Mbak mau berhenti?” tanyaku.

Dia tidak menjawab.

Dia hanya berkata,

“Terima kasih sudah baik sama saya selama ini, Pak.”

Dia berjalan menuju pintu.

Sendalnya berbunyi pelan di lantai.

“srek… srek…”

Aku berdiri di ruang tamu.

Masih bingung.

Sebelum membuka pintu, dia berhenti.

Tangannya memegang gagang pintu.

Dia menoleh sedikit.

“Pak…”

“Iya?”

Dia seperti ingin mengatakan sesuatu.

Bibirnya terbuka.

Tapi akhirnya dia hanya berkata,

“Jaga Sean baik-baik.”

Aku mengerutkan dahi.

“Tentu saja.”

Dia menunduk.

Lalu membuka pintu.

Udara malam masuk ke dalam rumah.

Lampu motor ojek online menyinari halaman.

Dia keluar.

Pintu tertutup.

Rumah kembali sunyi.

Aku berdiri beberapa detik di ruang tamu.

Masih tidak mengerti.

“Orang aneh,” gumamku.

Aku kembali ke laptop.

Excel masih terbuka.

Angka-angka masih menunggu.

Hidup kembali normal.

Atau setidaknya… aku pikir begitu.

Tiga bulan berlalu.

Kami tidak pernah mendengar kabar Mbak Rina lagi.

Istriku sempat mencoba menghubunginya.

Nomornya tidak aktif.

Kami akhirnya mencari pembantu baru.

Namanya Siti.

Rumah kembali berjalan seperti biasa.

Sean tetap ceria.

Sekolah.

Main.

Tertawa.

Tidak ada yang aneh.

Sampai suatu malam…

Aku pulang lebih cepat dari kantor.

Sekitar jam tujuh.

Rumah agak gelap.

Siti belum datang dari warung.

Sean bermain di ruang tamu.

Mobil-mobilan berserakan di lantai.

“Papa!” dia berteriak.

Aku tersenyum.

“Lagi apa?”

“Balapan.”

Aku duduk di karpet.

Kami bermain sebentar.

Lalu aku berkata,

“Papa ke kamar dulu ya.”

Aku masuk kamar.

Menaruh tas.

Saat keluar lagi…

Sean sudah tidak ada di ruang tamu.

“Sean?”

Tidak ada jawaban.

Aku berjalan ke lorong kamar.

Lampu lorong menyala.

Pintu kamar Sean sedikit terbuka.

Aku mendorongnya pelan.

Sean duduk di lantai.

Menghadap lemari.

Dia sedang berbicara.

Pelan.

Seperti ngobrol dengan seseorang.

Aku tersenyum.

“Mungkin lagi main pura-pura,” pikirku.

Aku berdiri di pintu.

“Sean?”

Dia menoleh.

“Papa.”

“Kamu ngomong sama siapa?”

Dia menunjuk ke arah lemari.

Dengan polos.

“Sama Mbak Rina.”

Tubuhku langsung kaku.

“Sean… Mbak Rina sudah tidak kerja di sini.”

Sean menggeleng.

“Dia sering datang.”

Jantungku berdetak lebih cepat.

“Datang?”

“Iya.”

“Kapan?”

Sean menjawab santai.

“Hampir tiap malam.”

Aku menelan ludah.

Ruangan terasa lebih dingin.

“Sean… Mbak Rina datang ke kamar kamu?”

Dia mengangguk.

“Dia bilang aku anak baik.”

Tanganku mulai dingin.

“Dia masuk dari mana?”

Sean menunjuk jendela kamar.

“Dari situ.”

Aku menoleh ke jendela.

Jendela itu terkunci.

Tidak mungkin dibuka dari luar.

Aku kembali menatap Sean.

“Sean… kamu bercanda ya?”

Dia menggeleng serius.

“Tidak.”

“Dia tadi juga di sini.”

Aku merasa bulu kudukku berdiri.

“Di mana?”

Sean menunjuk lemari lagi.

“Dia tadi berdiri di situ.”

Aku menatap lemari itu.

Pintu lemari tertutup rapat.

Ruangan tiba-tiba terasa sangat sunyi.

Dan untuk pertama kalinya…

aku mulai mengerti kenapa Mbak Rina terlihat begitu takut malam itu.

—————————————————————————————————————

PART 2

Aku berdiri di pintu kamar Sean.

Sean masih duduk di lantai.
Boneka dinosaurusnya dipegang di tangan kiri.

Dia melihat ke arah lemari.

Seolah seseorang benar-benar berdiri di sana.

“Sean…” suaraku lebih pelan sekarang.

“Iya, Pa?”

“Kamu serius tadi bilang Mbak Rina datang?”

Dia mengangguk santai.

“Iya.”

“Kapan?”

“Hampir tiap malam.”

Perutku terasa kosong.

“Dia ngomong apa?”

Sean berpikir sebentar.

“Dia suka bilang aku harus cepat tidur.”

“Terus?”

“Dia bilang jangan buka pintu kalau malam.”

Aku menelan ludah.

“Kenapa?”

Sean mengangkat bahu.

“Katanya bahaya.”

Aku memaksa tersenyum.

“Sean… Mbak Rina sudah pulang ke kampung.”

Sean menggeleng.

“Dia masih suka datang.”

“Dari mana?”

Sean menunjuk jendela lagi.

“Situ.”

Aku berjalan ke jendela.

Kuncinya masih terpasang.

Jendela itu model geser aluminium.

Kalau dibuka dari luar harus sangat berisik.

Aku mencobanya sedikit.

“krek…”

Bunyinya keras.

Tidak mungkin ada orang masuk tanpa membangunkan anak kecil.

Aku kembali menatap Sean.

“Sean… kamu pernah lihat dia masuk?”

Sean mengangguk.

“Pernah.”

“Jam berapa?”

“Malam.”

“Jam berapa malam?”

Sean berpikir lama.

“Waktu lampu kamar sudah mati.”

Aku merasa tengkukku mulai dingin.

“Sean… kalau dia datang… kamu takut?”

Sean justru menggeleng.

“Enggak.”

“Kenapa?”

“Dia baik.”

Baik.

Kata itu membuat dadaku semakin tidak nyaman.

“Dia ngapain di sini?”

Sean menjawab polos.

“Dia duduk di situ.”

Dia menunjuk karpet di dekat lemari.

Tempat yang sekarang kosong.

Aku berjalan ke sana.

Karpetnya biasa saja.

Tidak ada apa-apa.

“Terus?”

“Dia bilang Papa harus hati-hati.”

Aku langsung menoleh.

“Hati-hati apa?”

Sean menggeleng.

“Dia enggak bilang.”

Dari luar terdengar suara motor lewat.

“brrrrrr…”

Aku berdiri beberapa detik.

Berusaha berpikir logis.

Anak kecil sering berimajinasi.

Mungkin Sean hanya merindukan Mbak Rina.

Mungkin dia hanya membayangkan.

Aku menepuk bahunya.

“Sudah. Sekarang cuci tangan. Kita makan.”

Sean berdiri.

Kami keluar kamar.

Aku menoleh sekali lagi ke arah lemari.

Pintu lemari itu masih tertutup.

Rapat.

Tapi entah kenapa… malam itu rasanya seperti ada yang sedang mengawasi dari dalam sana.

Malam itu aku hampir tidak tidur.

Setiap suara kecil membuatku terbangun.

Jam 01:12.

Aku membuka mata.

Rumah gelap.

Hanya lampu teras yang menyala.

Aku bangun.

Berjalan pelan ke kamar Sean.

Pintu kamar setengah terbuka.

Sean tidur.

Selimut sampai dada.

Aku berdiri di ambang pintu.

Mendengarkan.

Sunyi.

Aku menghela napas.

“Perasaan saja,” gumamku.

Saat hendak menutup pintu…

Mataku menangkap sesuatu.

Pintu lemari Sean sedikit terbuka.

Aku yakin tadi tertutup.

Aku melangkah masuk.

Lantai ubin terasa dingin di telapak kaki.

Aku berdiri di depan lemari.

Tanganku menyentuh gagangnya.

Pelan.

Aku membukanya.

“krek…”

Baju-baju Sean tergantung rapi.

Tidak ada siapa-siapa.

Aku tertawa kecil.

“Parno sendiri,” kataku pelan.

Aku menutup lemari lagi.

Lalu keluar kamar.

Tapi sebelum pintu kamar benar-benar tertutup…

aku mendengar suara sangat pelan dari dalam.

Seperti bisikan.

“…Pak…”

Aku langsung membuka pintu lagi.

Kamar tetap sunyi.

Sean tetap tidur.

Aku berdiri kaku di ambang pintu.

Dan untuk pertama kalinya…

aku mulai bertanya-tanya…

apakah Sean benar-benar sedang berbicara dengan seseorang di kamar ini.

—————————————————————————————————————

PART 3

Pagi itu aku bangun dengan kepala berat.

Jam 06:10.

Dari dapur sudah terdengar suara wajan.

Siti sedang menggoreng telur.

Aroma minyak panas menyebar sampai ruang tamu.

Aku duduk di kursi makan.

Pikiran masih memutar kejadian semalam.

Bisikan itu.

“…Pak…”

Aku hampir yakin aku tidak membayangkannya.

Sean keluar dari kamar sambil membawa dinosaurusnya.

“Pagi, Pa.”

“Pagi.”

Aku mencoba bersikap normal.

“Kamu tidur nyenyak?”

Sean mengangguk.

“Nyenyak.”

Aku menatapnya beberapa detik.

“Sean… semalam kamu bangun?”

“Enggak.”

“Kamu ngomong sesuatu?”

Sean menggeleng.

“Enggak.”

Siti meletakkan piring di meja.

“Nih, Pak. Telur dadar.”

Aku mengangguk.

“Terima kasih.”

Sean mulai makan.

Semuanya terlihat biasa.

Terlalu biasa.

Aku hampir mulai yakin semua hanya perasaanku.

Sampai Sean tiba-tiba berkata,

“Mbak Rina datang lagi tadi malam.”

Sendok di tanganku berhenti.

“Kapan?”

“Waktu Papa masuk kamar.”

Tubuhku langsung menegang.

“Masuk kamar?”

Sean mengangguk santai sambil makan.

“Iya.”

“Dia ngapain?”

“Dia berdiri di dekat lemari.”

Aku menatapnya tajam.

“Kamu lihat?”

“Iya.”

“Dia ngomong?”

Sean mengangguk.

“Apa?”

Sean menelan nasi.

Lalu berkata pelan,

“Dia bilang Papa belum tahu.”

Jantungku berdetak lebih cepat.

“Belum tahu apa?”

Sean mengangkat bahu.

“Dia enggak bilang.”

Aku mencoba tetap tenang.

“Sean… Mbak Rina pakai baju apa?”

“Baju hitam.”

“Seperti apa?”

Sean menunjuk lemari.

“Kayak waktu dia pergi.”

Aku terdiam.

Karena aku ingat jelas.

Malam Mbak Rina berhenti kerja…

dia memang memakai baju hitam.

Hari itu aku tidak bisa fokus bekerja.

Di kantor, aku membuka WhatsApp lama.

Mencari chat Mbak Rina.

Ada.

Terakhir tiga bulan lalu.

Pesan istriku.

“Kalau ada apa-apa kabari ya Mbak.”

Tidak pernah dibalas.

Aku mencoba menelepon.

Nomor tidak aktif.

Aku bersandar di kursi.

Lalu tiba-tiba ingat sesuatu.

Kalimat terakhir Mbak Rina sebelum pergi.

“Jaga Sean baik-baik.”

Waktu itu aku menganggapnya biasa.

Sekarang rasanya berbeda.

Sangat berbeda.

Sore hari aku pulang lebih cepat lagi.

Rumah sepi.

Sean sedang menggambar di meja kecil.

Aku duduk di sebelahnya.

“Kamu gambar apa?”

Sean menunjuk kertas.

“Ini aku.”

Ada gambar anak kecil.

Lalu satu gambar besar di sampingnya.

“Itu siapa?”

Sean menjawab santai.

“Itu Mbak Rina.”

Aku menatap gambar itu.

Tinggi.

Rambut panjang.

Berdiri dekat lemari.

“Sean…”

“Iya, Pa?”

“Dia selalu berdiri di dekat lemari?”

Sean mengangguk.

“Iya.”

“Kenapa?”

Sean menjawab dengan polos.

“Karena dia bilang dari situ dia bisa lihat semuanya.”

Tubuhku merinding.

“Lihat apa?”

Sean menunjuk pintu kamar.

“Lihat orang masuk.”

Darahku seperti berhenti mengalir.

“Orang siapa?”

Sean berkata pelan.

“Orang yang bikin dia takut malam itu.”

Aku menatap Sean.

“Takut?”

Sean mengangguk.

“Iya.”

“Siapa?”

Sean menggeleng.

“Dia bilang Papa belum tahu.”

Aku berdiri.

Langkahku terasa berat menuju kamar Sean.

Pintu kamar terbuka.

Lemari masih di tempat yang sama.

Aku berdiri di depannya.

Menatapnya lama.

Lalu aku membuka pintu lemari.

Baju Sean.

Tas sekolah.

Kotak mainan.

Semua normal.

Aku hampir menutupnya lagi.

Tapi kemudian aku melihat sesuatu.

Di sudut bawah lemari.

Ada sesuatu yang terselip di belakang kotak sepatu.

Amplop cokelat.

Tipis.

Aku mengambilnya.

Di depan amplop itu tertulis dengan tulisan tangan yang sangat aku kenal.

Tulisan Mbak Rina.

Tanganku mulai gemetar.

Di amplop itu hanya ada satu kalimat pendek.

“UNTUK PAK — JANGAN DIBUKA KALAU SEAN ADA DI RUMAH.”

Jantungku berdetak keras.

Dan dari ruang tamu…

tiba-tiba Sean berteriak.

“PA!”

Aku menoleh.

Suara langkah kecil berlari mendekat.

Lalu Sean berdiri di depan pintu kamar.

Wajahnya pucat.

Dia berbisik,

“Pa… Mbak Rina bilang… Papa harus baca itu sekarang.”

—————————————————————————————————————
PART 4

Sean berdiri di depan pintu kamar.

Wajahnya pucat.

Matanya menatap amplop di tanganku.

“Pa… Mbak Rina bilang Papa harus baca itu sekarang.”

Tanganku terasa dingin.

Aku menoleh ke lorong belakang Sean.

Kosong.

Tidak ada siapa-siapa.

“Sean… Mbak Rina di mana?”

Sean menunjuk pelan ke arah lemari.

“Di situ.”

Aku menatap lemari.

Pintu masih terbuka sedikit.

Gelap di dalamnya.

Dadaku naik turun.

“Sean… keluar dulu dari kamar.”

“Kenapa?”

“Papa mau baca ini.”

Sean mengangguk.

Dia berjalan keluar.

Langkah kecilnya menjauh ke ruang tamu.

Aku menutup pintu kamar.

Sekarang hanya aku… dan lemari itu.

Amplop cokelat itu terasa berat di tanganku.

Tulisan tangan Mbak Rina masih jelas.

Aku membuka perlahan.

“srek…”

Di dalamnya hanya ada dua lembar kertas.

Dan satu foto kecil.

Aku mengambil fotonya dulu.

Foto itu membuat napasku berhenti.

Itu foto Sean.

Sean sedang tidur.

Di kamar ini.

Tapi bukan foto yang membuatku kaku.

Yang membuatku merinding adalah…

di sudut foto…

ada bayangan seseorang berdiri di dekat pintu kamar.

Seseorang yang tidak seharusnya ada di sana.

Aku langsung membaca kertas pertama.

Tulisan tangan Mbak Rina.

Rapi.

Tapi beberapa huruf terlihat goyang.

Seperti ditulis dengan tangan gemetar.

“Pak.

Kalau Bapak membaca ini berarti saya sudah tidak bekerja di rumah Bapak lagi.

Maaf saya pergi tanpa menjelaskan semuanya malam itu.

Saya sebenarnya ingin bicara.

Tapi saya takut.

Saya takut orang itu tahu saya sudah melihatnya.”

Darahku terasa dingin.

Aku membaca lebih cepat.

“Tiga minggu sebelum saya berhenti kerja, saya sering mendengar suara dari kamar Sean tengah malam.

Awalnya saya pikir Sean yang bangun.

Tapi suatu malam saya keluar kamar untuk minum.

Dan saya melihat pintu kamar Sean terbuka sedikit.

Ada seseorang di dalam.”

Tanganku mulai gemetar.

“Aku mengintip dari lorong.

Dan saya melihat seorang laki-laki berdiri di dekat tempat tidur Sean.

Dia tidak menyalakan lampu.

Dia hanya berdiri… melihat Sean tidur.”

Jantungku berdetak keras.

Aku menoleh ke arah pintu kamar.

Rumah terasa sangat sunyi.

Aku membaca lagi.

“Saya tidak berani masuk.

Saya pikir itu mungkin Bapak.

Tapi ketika laki-laki itu keluar dari kamar… dia berjalan melewati saya.

Dan saya baru sadar…

itu bukan Bapak.”

Tanganku hampir menjatuhkan kertas.

Kertas kedua.

Aku membukanya cepat.

“Tiga malam kemudian saya melihat dia lagi.

Dia masuk dari jendela kamar Sean.

Saya yakin itu orang yang sama.

Pak… saya takut.

Saya takut dia melakukan sesuatu ke Sean.

Saya ingin memberi tahu Bapak.

Tapi saya takut orang itu tahu.

Karena setiap kali saya keluar kamar…

dia selalu menatap saya.”

Napas terasa berat.

Tulisan di bagian bawah kertas makin tidak rapi.

“Pak… saya sudah foto dia diam-diam.

Foto itu saya simpan di amplop ini.

Saya tahu Bapak mungkin akan menganggap saya gila.

Tapi saya tidak bisa tinggal di rumah itu lagi.

Orang itu masih datang setiap malam.

Dan dia selalu berdiri di dekat lemari kamar Sean.

Seperti sedang menunggu sesuatu.”

Tanganku gemetar saat membalik foto kecil itu.

Di belakang foto… ada gambar zoom wajah laki-laki itu.

Wajahnya agak buram.

Tapi cukup jelas untuk dikenali.

Dan saat aku melihat wajah itu…

lututku langsung lemas.

Karena aku tahu persis siapa orang itu.

Itu bukan orang asing.

Itu bukan pencuri.

Itu bukan tetangga.

Itu seseorang yang sangat aku kenal.

Seseorang yang bahkan punya kunci rumah ini.

Itu…

adik iparku sendiri.

—————————————————————————————————————

PART 5

Tanganku masih memegang foto itu.

Wajah di foto itu tidak mungkin salah.

Doni.

Adik kandung istriku.

Lututku terasa lemas.

Aku duduk di lantai kamar Sean.

Beberapa detik aku hanya menatap foto itu.

Doni.

Kenapa dia masuk kamar Sean tengah malam?

Kenapa Mbak Rina sampai ketakutan seperti itu?

Aku menarik napas panjang.

Pikiranku mencoba tetap logis.

“Mungkin ada penjelasan.”

Tapi bagian lain dari kepalaku berkata lain.

Aku ingat sesuatu.

Tiga bulan lalu.

Doni memang sempat beberapa kali datang ke rumah.

Alasannya sederhana.

Main.

Nongkrong.

Kadang makan malam.

Kadang nonton bola.

Tidak pernah terlihat aneh.

Tidak pernah mencurigakan.

Tapi sekarang…

semua potongan itu mulai terasa berbeda.

Aku berdiri.

Berjalan cepat keluar kamar.

“Sean!”

Sean menoleh dari ruang tamu.

“Iya, Pa?”

“Kamu pernah lihat Om Doni masuk kamar kamu malam-malam?”

Sean berpikir sebentar.

Lalu mengangguk.

“Iya.”

Dadaku seperti ditusuk sesuatu.

“Kapan?”

“Kadang.”

“Ngapain dia?”

Sean menjawab polos.

“Dia lihat aku tidur.”

Tanganku mengepal.

“Dia ngomong sesuatu?”

Sean menggeleng.

“Enggak.”

“Dia pernah pegang kamu?”

Sean berpikir lagi.

Beberapa detik terasa sangat lama.

Lalu dia berkata,

“Enggak.”

Tubuhku sedikit lega.

Tapi amarah di dadaku tetap menyala.

“Sean.”

“Iya?”

“Kalau Om Doni datang lagi malam-malam… kamu harus bilang ke Papa.”

Sean mengangguk.

“Oke.”

Aku kembali ke kamar Sean.

Menatap jendela.

Kalau Mbak Rina benar…

berarti Doni masuk lewat sini.

Tapi kenapa?

Kenapa dia melakukan itu?

Pikiranku berputar.

Lalu aku ingat satu hal lagi.

Doni pernah cerita sesuatu beberapa bulan lalu.

Waktu kami makan malam.

Dia bilang dia susah tidur.

Sering insomnia.

Sering jalan-jalan malam.

Saat itu aku tidak terlalu memperhatikan.

Sekarang semuanya terasa berbeda.

Aku mengambil ponsel.

Membuka kontak Doni.

Namanya muncul.

“Doni.”

Jari-jariku berhenti beberapa detik di layar.

Lalu aku menekan tombol call.

Telepon berdering.

Satu kali.

Dua kali.

Tiga kali.

Klik.

“Bang?”

Suara Doni terdengar santai.

“Lagi apa?”

Aku menahan emosiku.

“Di rumah.”

“Oh. Sepi dong.”

“Iya.”

Aku langsung bertanya.

“Don… kamu pernah masuk kamar Sean malam-malam?”

Di ujung sana hening.

Beberapa detik.

“Kenapa nanya begitu?”

Nada suaranya berubah.

Tidak lagi santai.

“Jawab saja.”

Dia tidak langsung menjawab.

Lalu dia tertawa kecil.

“Heh… Bang… serius amat.”

“Jawab.”

Sunyi lagi.

Lalu akhirnya dia berkata pelan.

“Iya.”

Dadaku langsung panas.

“Kapan?”

“Beberapa kali.”

“Kenapa?”

Doni menghela napas.

“Bang… aku cuma mau lihat dia.”

“Lihat?”

“Iya.”

“Lihat apa?”

“Lihat dia tidur.”

Tanganku gemetar.

“Kenapa harus malam-malam?”

Doni tidak menjawab.

Aku berkata pelan tapi tegas.

“Mbak Rina lihat kamu.”

Sunyi.

Benar-benar sunyi.

Lalu Doni berkata pelan,

“Dia cerita ya akhirnya.”

Dadaku berdegup keras.

“Kenapa kamu lakukan itu?”

Beberapa detik tidak ada jawaban.

Lalu suara Doni berubah.

Tidak santai lagi.

Serak.

“Bang… aku cuma mau pastiin Sean aman.”

Aku mengerutkan dahi.

“Aman dari apa?”

Doni berkata pelan.

“Sebelum Mbak Rina berhenti… ada orang asing yang beberapa kali mondar-mandir di gang rumah kalian.”

Aku terdiam.

“Orang itu pernah berhenti lama di depan rumah.”

“Terus?”

“Aku takut dia mengincar Sean.”

Napas Doni terdengar berat.

“Makanya aku sering datang malam-malam.”

“Lewat jendela?”

“Iya.”

“Kenapa tidak bilang saja ke aku?”

Doni terdiam lama.

Lalu berkata pelan.

“Karena aku tidak yakin.”

“Apa?”

“Kalau yang mondar-mandir itu benar orang jahat… atau cuma perasaanku saja.”

Dadaku masih panas.

“Kalau begitu kenapa kamu sembunyi-sembunyi?”

Doni menjawab lirih.

“Karena aku tidak mau bikin kalian panik.”

Aku menatap foto di tanganku lagi.

Foto bayangan Doni di kamar Sean.

“Terus Mbak Rina?”

“Dia lihat aku.”

“Kenapa kamu tidak jelaskan?”

Doni tertawa pahit.

“Bang… bayangin kamu pembantu rumah tangga… lihat laki-laki masuk kamar anak kecil tengah malam lewat jendela.”

Aku terdiam.

“Dia pasti sudah takut duluan.”

Aku menutup mata.

Semua potongan cerita mulai menyatu.

Doni datang malam-malam.

Mbak Rina melihatnya.

Dia ketakutan.

Dia berhenti kerja.

Dan Sean…

Sean melihat Doni.

Tapi dia menyebutnya Mbak Rina.

Karena mungkin dia tidak melihat jelas dalam gelap.

Atau hanya mengingat orang terakhir yang sering di kamar itu.

Aku menghela napas panjang.

“Don.”

“Iya, Bang.”

“Kamu harus datang ke rumah sekarang.”

“Sekarang?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Aku melihat jendela kamar Sean lagi.

Pelan.

Lalu berkata,

“Ada sesuatu yang belum kamu tahu.”

Di ujung telepon Doni terdiam.

“Apa?”

Aku berkata pelan.

“Sean bilang… orang yang sering datang ke kamarnya malam-malam… bukan cuma kamu.”

—————————————————————————————————————

PART 6

Di ujung telepon, Doni langsung diam.

“Bukan cuma aku?”

“Iya.”

Sunyi beberapa detik.

Lalu Doni berkata cepat,

“Aku ke sana sekarang.”

Telepon terputus.

Aku berdiri di kamar Sean.

Menatap jendela.

Angin malam membuat tirai bergerak pelan.

“srek…”

Dadaku terasa berat.

Sean sedang menonton kartun di ruang tamu.

Suara televisi terdengar kecil.

Seolah rumah ini masih normal.

Padahal kepalaku penuh pertanyaan.

Kalau bukan Doni…

siapa yang masuk kamar Sean?

Sekitar dua puluh menit kemudian.

Terdengar suara motor berhenti di depan rumah.

“brrrr…”

Aku membuka pintu.

Doni berdiri di teras.

Kaos hitam.

Celana pendek.

Wajahnya serius.

“Bang.”

“Masuk.”

Dia masuk cepat.

Matanya langsung mencari Sean.

“Sean di mana?”

“Ruang tamu.”

Sean menoleh.

“Om Doni!”

Doni tersenyum kecil.

“Hey, jagoan.”

Sean kembali menonton.

Aku memberi isyarat ke Doni.

“Kita ke kamar Sean.”

Kami berjalan ke lorong.

Langkah kami pelan.

Pintu kamar Sean terbuka.

Lampu menyala.

Doni langsung melihat jendela.

“Ini yang biasa aku pakai.”

Aku menatapnya.

“Kamu benar-benar sering masuk sini.”

Doni mengangguk.

“Beberapa kali.”

“Terakhir kapan?”

“Sekitar tiga bulan lalu.”

“Tepat sebelum Mbak Rina berhenti?”

“Iya.”

Kami berdiri beberapa detik di kamar itu.

Sunyi.

Doni berkata pelan.

“Bang… siapa lagi yang Sean bilang datang?”

Aku menarik napas.

“Dia bilang Mbak Rina.”

Doni mengerutkan dahi.

“Sean salah lihat.”

“Aku juga pikir begitu.”

“Tapi…”

Aku menunjuk lemari.

“Dia selalu bilang orang itu berdiri di situ.”

Doni menoleh ke lemari.

Lalu berjalan mendekat.

Dia membuka pintu lemari.

Baju Sean.

Kotak sepatu.

Tas kecil.

Semua terlihat normal.

Doni menutupnya lagi.

“Tidak ada apa-apa.”

Aku hampir setuju.

Sampai Sean tiba-tiba berdiri di pintu kamar.

Kami berdua menoleh.

Sean menunjuk ke arah lorong.

“Pa…”

“Iya?”

“Dia datang lagi.”

Tubuhku langsung tegang.

“Siapa?”

Sean menjawab santai.

“Mbak Rina.”

Aku dan Doni saling menatap.

Sean melangkah masuk kamar.

Dia menunjuk ke arah jendela.

“Dia di luar.”

Aku langsung berjalan cepat ke jendela.

Doni di belakangku.

Aku membuka tirai.

Di halaman belakang…

ada seseorang berdiri.

Seorang wanita.

Memakai jaket.

Dan saat wajahnya terkena cahaya lampu belakang rumah…

aku langsung mengenalinya.

“Mbak Rina?”

Dia terlihat kaget.

Doni juga terkejut.

“Mbak?!”

Aku cepat membuka pintu belakang.

Udara malam masuk.

“Mbak Rina?”

Dia berdiri kaku.

Wajahnya campur antara lega dan takut.

“Maaf, Pak…”

Aku menatapnya bingung.

“Mbak… kenapa di sini?”

Dia menunduk.

“Saya… sering lewat sini.”

“Lewat?”

“Saya kerja di rumah dekat gang belakang sekarang.”

Doni maju sedikit.

“Terus kenapa berdiri di sini?”

Mbak Rina ragu.

Lalu berkata pelan.

“Saya cuma mau lihat Sean.”

Aku mengerutkan dahi.

“Kenapa?”

Air mata tiba-tiba muncul di matanya.

“Karena saya takut orang itu datang lagi.”

Aku dan Doni saling menatap.

“Orang siapa?” tanyaku.

Mbak Rina menunjuk Doni.

“Dia.”

Doni langsung mengangkat tangan.

“Mbak! Saya sudah jelaskan ke abang!”

Aku cepat berkata,

“Sudah, Mbak. Kami sudah tahu semuanya.”

Mbak Rina terlihat bingung.

“Bapak sudah tahu?”

“Iya.”

Aku menunjuk Doni.

“Dia masuk kamar Sean karena curiga ada orang asing di gang.”

Mbak Rina terdiam.

“Dia cuma mau memastikan Sean aman.”

Mata Mbak Rina melebar.

“Benar?”

Doni mengangguk.

“Sumpah.”

Beberapa detik tidak ada suara.

Lalu Mbak Rina menutup wajahnya.

Dia menangis.

“Ya Allah… saya kira…”

Aku berkata pelan,

“Mbak takut dia orang jahat.”

Dia mengangguk sambil menangis.

“Saya benar-benar takut waktu itu, Pak.”

Doni menghela napas panjang.

“Saya juga salah, Mbak. Harusnya saya jelaskan.”

Aku tersenyum kecil.

“Tapi satu hal yang bikin saya heran.”

Aku menunjuk Sean yang berdiri di pintu.

“Sean selalu bilang Mbak Rina datang tiap malam.”

Sean mengangguk.

“Iya.”

Mbak Rina menatap Sean.

Lalu tersenyum hangat.

Dia berjongkok.

“Sean… Mbak tidak pernah masuk kamar lagi.”

Sean menggeleng.

“Tapi Mbak sering lihat aku dari jendela.”

Kami semua terdiam.

Sean menunjuk halaman.

“Kayak sekarang.”

Aku menoleh ke Mbak Rina.

Dia tersenyum malu.

“Iya, Pak.”

“Saya sering lewat malam… dan kadang lihat Sean dari luar.”

“Saya cuma mau pastikan dia baik-baik saja.”

Doni tertawa kecil.

“Berarti selama ini… kita semua cuma salah paham.”

Aku menghela napas panjang.

Tiga bulan penuh rasa takut…

ternyata hanya karena kami tidak saling bicara jujur.

Aku menatap Mbak Rina.

“Mbak… kenapa tidak datang saja ke rumah?”

Dia tersenyum kecil.

“Saya malu, Pak.”

Sean tiba-tiba berkata,

“Mbak Rina jangan pergi lagi.”

Kami semua tertawa kecil.

Aku berkata pelan,

“Mbak… kalau mau… kembali kerja di sini juga boleh.”

Mbak Rina terlihat kaget.

“Benar, Pak?”

“Iya.”

Doni menepuk bahuku.

“Bagus tuh, Bang. Sean juga sudah kangen.”

Sean langsung memeluk Mbak Rina.

“Mbak jangan takut lagi.”

Mbak Rina mengusap rambutnya.

“Iya.”

Angin malam berhembus pelan di halaman belakang.

Untuk pertama kalinya dalam tiga bulan…

rumah itu terasa benar-benar tenang lagi.

Dan akhirnya aku mengerti satu hal.

Terkadang…

hal paling menakutkan bukanlah orang jahat.

Tapi kesalahpahaman yang terlalu lama kita biarkan.

—————————————————————————————————————

Kalau kamu menikmati cerita seperti ini,
aku masih punya beberapa cerita lain yang tidak kalah mengejutkan.

Beberapa bahkan terjadi di kehidupan nyata.

Coba baca juga cerita lainnya di blog ini.

Siapa tahu… ada cerita yang membuatmu merinding seperti yang baru saja kamu baca.

—————————————————————————————————————

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *