BAPAK GUE MENINGGAL TANPA PERNAH ADA DI RUMAH. KAMI KIRA DIA CUMA ORANG BIASA YANG NGGAK PEDULI KELUARGA. SAMPAI KAMI BUKA LEMARINYA… DAN NEMU RATUSAN SURAT ORANG YANG KETAKUTAN SAMA DIA.
Suara motor lewat gang masih ramai waktu gue pulang.
Jam hampir setengah sepuluh malam. Lampu rumah cuma nyala satu. Yang lain gelap.
Seperti biasa.
Gue dorong pintu. Nggak dikunci.
Di ruang tengah, nyokap lagi duduk sambil lipat baju. TV nyala tapi volumenya kecil. Sinetron, tapi dia nggak benar-benar nonton.
“Baru pulang?” katanya tanpa lihat gue.
“Iya.”
Gue taruh tas di kursi.
Rumah ini selalu terasa… kosong.
Padahal ada tiga orang di dalamnya.
Gue, nyokap, sama adik gue, Dita.
Bapak?
Bapak jarang banget ada.
Kalau pulang, paling tengah malam. Kadang subuh. Kadang nggak pulang sama sekali.
Alasannya selalu sama.
“Kerja.”
Dulu gue percaya.
Sekarang… nggak terlalu.
Dita keluar dari kamar. Rambutnya acak-acakan, pakai kaos lama.
“Bang, tadi guru nanya bapak lagi. Katanya udah lama nggak datang ke sekolah.”
Gue cuma angguk.
“Bilain aja sibuk.”
Dita manyun.
“Semua orang bapaknya bisa datang. Kenapa bapak kita nggak pernah?”
Gue nggak jawab.
Nyokap juga diam.
Pertanyaan itu sudah terlalu sering muncul.
Dan selalu… nggak ada jawaban.
Jam sebelas malam, suara pagar dibuka.
Gue masih di ruang tamu.
Bapak masuk.
Langkahnya pelan. Bawa tas hitam. Bajunya kusut, sedikit basah di bagian pundak.
Dia lihat gue.
“Oh… belum tidur?”
“Belum.”
Dia angguk.
Masuk dapur.
Minum.
Nggak banyak ngomong.
Kayak orang yang cuma mampir.
Gue perhatiin diam-diam.
Mukanya capek.
Tapi bukan capek biasa.
Lebih ke capek yang… disimpan.
“Pak…”
Dia berhenti.
“Iya?”
Gue pengen tanya.
Kerja apa sebenarnya.
Kenapa selalu pulang malam.
Kenapa jarang di rumah.
Tapi…
Gue batal.
“Gapapa.”
Dia angguk.
Masuk kamar.
Pintu ditutup.
Pembicaraan selesai.
Selalu begitu.
Hari Minggu.
Aneh.
Bapak di rumah siang-siang.
Duduk di depan rumah. Rokok di tangan.
Gue keluar.
Duduk di sampingnya.
Suara anak-anak main di gang. Ada yang teriak-teriak.
Bapak lihat mereka.
Lama.
Terus dia bilang pelan.
“Lu dulu juga gitu.”
Gue senyum kecil.
“Iya.”
Sunyi.
Gue beraniin diri.
“Pak… kerja apa sih sebenarnya?”
Dia nggak langsung jawab.
Isap rokok.
Buang asap.
Baru ngomong.
“Kerja yang penting halal.”
Gue ketawa kecil.
“Semua orang juga bilang gitu.”
Dia senyum tipis.
Tapi matanya… kosong.
“Tapi nggak semua orang kuat jalaninnya.”
Gue diam.
Kalimat itu… nempel.
Kayak ada yang dia tahan.
Dari dalam rumah, nyokap manggil.
“Makan dulu!”
Bapak langsung berdiri.
Pembicaraan berhenti.
Lagi.
Hari itu datang tanpa tanda.
Sore.
Hujan deras.
Gue lagi di kamar.
Tiba-tiba suara motor berhenti depan rumah.
Keras.
Gue keluar.
Di depan rumah… ada dua orang.
Salah satunya megang bapak.
Bapak… lemes.
Bajunya basah kuyup.
Mukanya pucat.
Nyokap langsung teriak.
“Ya Allah!”
Kami angkat dia masuk.
Dibaringin di sofa.
Nafasnya berat.
“Pak… Pak…”
Gue pegang tangannya.
Dingin.
Bapak buka mata sedikit.
Lihat gue.
Bibirnya gerak.
“Maaf…”
Cuma satu kata.
Gue nggak ngerti.
“Pak tahan… kita ke rumah sakit!”
Dia geleng pelan.
Tangannya genggam tangan gue.
Kuat.
Terakhir.
Terus…
Lepas.
Sunyi.
Suara hujan di luar jadi satu-satunya yang kedengaran.
Nyokap nangis.
Dita ikut nangis.
Gue…
Cuma diam.
Pemakaman cepat.
Tanah basah.
Orang datang banyak.
Tapi banyak juga yang… asing.
Ada beberapa orang pakai jaket hitam.
Berdiri agak jauh.
Nggak ikut ngobrol.
Cuma lihat.
Tatapannya tajam.
Kayak lagi memastikan sesuatu.
Bukan berduka.
Gue merinding.
Malamnya, rumah lebih sepi dari biasanya.
Nyokap duduk di ruang tengah.
Dita tidur di pangkuannya.
Gue di kursi.
Jam dinding bunyi.
Tik.
Tik.
Tik.
Nyokap tiba-tiba bilang.
“Di…”
Gue lihat dia.
“Kita beresin barang-barang bapak.”
Gue diam sebentar.
“Sekarang?”
“Iya.”
Suaranya pelan.
Tapi kayak dipaksa.
Gue angguk.
Kamar bapak bau khas.
Minyak kayu putih.
Rokok.
Sabun batang.
Lemari kayu tua di pojok.
Gue buka.
Engselnya bunyi keras.
Di dalam…
Baju-baju bapak.
Rapi.
Padahal dia jarang di rumah.
Aneh.
Gue mulai ambil satu-satu.
Sampai…
Bagian bawah.
Ada laci kecil.
Jarang banget kebuka.
Gue tarik.
Seret.
Keras.
Akhirnya kebuka.
Di dalamnya…
Bungkusan kain hitam.
Dilipat rapi.
Berat.
Gue berhenti.
Nyokap di belakang gue.
“Kamu lihat itu?”
“Iya…”
Gue ambil.
Taruh di kasur.
Buka pelan.
Lapisan kain.
Kain lagi.
Plastik hitam.
Rapet.
Jantung gue mulai nggak enak.
“Buka…” kata nyokap pelan.
Gue buka.
Pelan.
Dan isi di dalamnya…
Tumpukan amplop.
Banyak.
Sangat banyak.
Semua ada nama.
Alamat.
Tanggal.
Gue ambil satu.
Buka.
Tulisan tangan.
“Pak… tolong jangan dateng lagi ke rumah. Anak saya takut…”
Gue berhenti.
Gue buka lagi.
“Pak, saya sudah bayar. Tolong jangan ancam saya lagi…”
Gue buka lagi.
“Pak, saya mohon dikasih waktu…”
Nafas gue langsung berat.
Gue lihat nyokap.
Dia pucat.
Gue buka lagi.
“Pak, saya sudah nggak sanggup. Saya jual motor saya. Tolong lunasin ini…”
Tangan gue gemetar.
Di bawah amplop…
Ada buku kecil.
Hitam.
Gue buka.
Isinya…
Nama.
Nominal.
Tanggal.
Catatan.
Rapi.
Terlalu rapi.
Kayak daftar utang.
Gue lihat satu halaman.
50 juta.
30 juta.
100 juta.
Nama orang.
Alamat.
Semua lengkap.
Gue pelan.
“Ini… rentenir ya…”
Nyokap nggak jawab.
Air matanya jatuh.
Jawabannya jelas.
Gue duduk.
Kepala gue penuh.
Bapak yang jarang pulang.
Bapak yang selalu capek.
Bapak yang bilang “kerja halal”.
Semua berubah arti.
Tiba-tiba…
Suara motor berhenti.
Lebih dari satu.
Di depan rumah.
Gue dan nyokap langsung lihat ke pintu.
Sunyi.
Dita masih tidur.
Langkah kaki.
Mendekat.
Pelan.
Terus…
Ketukan.
Keras.
“Tok. Tok. Tok.”
Nyokap langsung pegang tangan gue.
“Jangan dibuka…”
Ketukan lagi.
Lebih keras.
“Tok! Tok! Tok!”
Suara dari luar.
Dalam.
Datar.
“Kami tahu dia sudah meninggal.”
Gue nahan napas.
Suara itu lanjut.
“Sekarang… giliran kalian yang tanggung jawab.”
Ketukan itu nggak berhenti.
“Tok! Tok! Tok!”
Lebih keras.
Lebih maksa.
Nyokap makin erat pegang tangan gue.
“Jangan dibuka…”
Suara di luar lagi.
“Kami nggak mau ribut. Tapi jangan bikin kami nunggu.”
Gue lihat pintu.
Kayu tipis.
Kalau mereka mau masuk paksa… gampang.
Gue tarik napas.
Pelan.
“Bu… kalau nggak dibuka, mereka malah aneh-aneh.”
Nyokap geleng cepat.
Air matanya jatuh lagi.
Gue lepas pelan tangan dia.
Jalan ke pintu.
Tangan gue di gagang.
Dingin.
Gue buka.
Pelan.
Di depan…
Tiga orang.
Dua pakai jaket hitam. Satu pakai kemeja lengan pendek.
Mukanya datar.
Yang di depan langsung lihat gue dari atas sampai bawah.
“Kamu anaknya?”
Gue angguk.
Dia masuk tanpa nunggu izin.
Dua yang lain ikut.
Nyokap langsung berdiri.
“Kalian siapa?!”
Yang depan jawab santai.
“Kami yang selama ini kerja bareng bapak.”
Kerja bareng.
Kata itu bikin perut gue mual.
Dia lihat sekeliling rumah.
Sederhana.
Lalu dia duduk di kursi.
Nyender.
Kayak rumah sendiri.
“Kita langsung aja ya,” katanya.
Dia keluarin HP.
Buka sesuatu.
“Total yang masih jalan… sekitar 1,2 M.”
Dunia gue langsung berisik.
“Satu koma dua miliar?!”
Dia angguk.
“Piutang.”
Gue langsung potong.
“Itu urusan bapak. Bukan urusan kami.”
Dia senyum tipis.
“Kalau bapakmu masih hidup, iya.”
Dia condong ke depan.
“Tapi sekarang… semua tanggung jawab turun.”
Nyokap langsung gemetar.
“Kami nggak tahu apa-apa!”
Dia lihat nyokap.
“Tapi bapakmu tahu.”
Sunyi.
Gue tahan napas.
Dia lanjut.
“Kami nggak minta kalian bayar semuanya sekarang.”
Gue mengerut.
“Terus?”
Dia keluarkan selembar kertas.
Taruh di meja.
“Data ini… harus tetap jalan.”
Gue lihat.
Nama-nama di buku tadi… sama.
Persis.
Jadi…
Mereka tahu.
Semua.
“Kalau macet…” dia lanjut pelan.
“…kami yang cari.”
Nada suaranya tetap datar.
Tapi isinya…
Ancaman.
Nyokap langsung duduk.
Lemes.
“Kenapa kalian ke sini…”
Dia jawab singkat.
“Karena sekarang… kamu yang pegang.”
Dia lihat langsung ke mata gue.
“Bukan kami.”
Gue diam.
Dia berdiri.
Rapihin jaket.
“Kami kasih waktu tiga hari.”
Gue langsung angkat kepala.
“Buat apa?”
Dia senyum tipis.
“Buat mutusin.”
“Mutusin apa?”
Dia jalan ke pintu.
Berhenti.
Nengok sedikit.
“Mau lanjutin usaha bapakmu… atau berhenti.”
Sunyi.
Gue nahan napas.
Dia tambah satu kalimat.
“Kalau berhenti… semua yang belum lunas… jadi urusan kalian.”
Pintu dibuka.
Mereka keluar.
Motor dinyalakan.
Pergi.
Rumah langsung sunyi lagi.
Tapi kali ini…
Sunyinya beda.
Berat.
Nyokap langsung nangis.
“Ya Allah… kita harus gimana…”
Dita bangun.
Bingung.
“Kenapa, Bu?”
Gue nggak jawab.
Gue cuma lihat buku hitam itu.
Nama-nama itu.
Dan untuk pertama kalinya…
Gue sadar.
Bapak bukan cuma ninggalin rahasia.
Dia ninggalin…
Masalah.
Dan sekarang…
Itu semua jatuh ke gue.
Malam itu gue nggak tidur.
Gue buka satu-satu surat itu.
Baca.
Semua isinya sama.
Takut.
Minta waktu.
Minta tolong.
Beberapa bahkan…
Minta ampun.
Tangan gue makin dingin.
Gue lihat buku.
Nama.
Nominal.
Tanggal.
Ada yang masih aktif.
Ada yang sudah dicoret.
Ada yang dikasih tanda merah.
Gue berhenti di satu nama.
Dewi.
Nominal: 15 juta.
Catatan: “Sudah 3 bulan nunggak.”
Gue ingat.
Nama itu familiar.
Kayak pernah dengar.
Tiba-tiba…
Dita ngomong dari belakang.
“Bang… itu Bu Dewi, tetangga ujung gang kan?”
Gue langsung nengok.
“Lu kenal?”
Dita angguk.
“Iya. Yang jual gorengan itu.”
Jantung gue langsung turun.
Tetangga.
Bukan orang jauh.
Gue lihat alamat.
Benar.
Ujung gang.
Gue berdiri.
Ambil jaket.
“Lu mau kemana?” tanya nyokap.
Gue jawab singkat.
“Mau cari tahu.”
Gang ujung itu gelap.
Lampu jalan cuma satu. Kedip-kedip.
Gue jalan pelan.
Sepatu gue kena genangan air.
Bau minyak goreng dari kejauhan.
Warung kecil.
Itu dia.
Bu Dewi.
Masih buka.
Dia lagi goreng pisang.
Minyak mendidih.
Gue berdiri di depan.
Dia lihat gue.
“Oh… kamu anaknya Pak Arman ya?”
Gue kaget.
“Iya…”
Dia langsung matiin kompor.
Tangannya gemetar sedikit.
“Maaf ya… saya belum sempat…”
Gue potong.
“Bu… saya bukan mau nagih.”
Dia berhenti.
Tatap gue.
“Terus?”
Gue tarik napas.
“Saya cuma mau tahu.”
Sunyi.
Bu Dewi duduk.
Pelan.
“Bapak kamu… baik.”
Gue langsung mengerut.
“Baik?”
Dia angguk.
Air matanya keluar.
“Dia nggak pernah marah ke saya.”
Gue diam.
“Waktu suami saya sakit… nggak ada yang mau pinjemin uang.”
Dia lanjut.
“Cuma bapak kamu.”
Gue bingung.
“Tapi… surat ini…”
Gue kasih lihat.
Dia lihat.
Terus dia senyum pahit.
“Itu bukan ancaman.”
“Hah?”
“Itu surat dari saya.”
Gue kaget.
“Iya… saya yang nulis.”
Dia lihat gue.
“Saya malu.”
Sunyi.
Gue makin nggak ngerti.
Dia lanjut.
“Bapak kamu nggak pernah nagih.”
Gue langsung diam.
Dia ambil sesuatu dari bawah meja.
Sebuah amplop.
Dikasih ke gue.
“Ini bukti pembayaran.”
Gue buka.
Ada tanda tangan bapak.
Tanggal.
Lunas.
Gue lihat buku.
Nama Bu Dewi masih belum dicoret.
Padahal…
Sudah lunas.
Gue langsung merinding.
“Kenapa di buku belum lunas?”
Bu Dewi geleng.
“Saya nggak tahu.”
Gue berdiri.
Kepala gue penuh.
Ada yang nggak masuk.
Gue balik.
Cepat.
Sampai rumah, gue langsung buka buku itu lagi.
Cari nama lain.
Satu-satu.
Gue ambil beberapa alamat.
Besok pagi…
Gue datangi.
Hasilnya sama.
Banyak yang…
Sudah lunas.
Tapi di buku…
Masih tercatat utang.
Beberapa bahkan…
Sudah meninggal.
Tapi masih ada di daftar.
Gue duduk.
Tangan gue gemetar.
Ini bukan sekadar utang.
Ini…
Data yang sengaja dibuat…
Seolah-olah masih hidup.
Tiba-tiba…
Suara motor lagi.
Berhenti.
Gue langsung berdiri.
Keluar.
Orang yang sama.
Tiga orang itu.
Yang depan langsung bicara.
“Sudah mutusin?”
Gue lihat dia.
Pelan.
“Saya mau tanya dulu.”
Dia senyum tipis.
“Tanya apa?”
Gue angkat buku.
“Kenapa banyak yang sudah lunas… tapi masih dicatat utang?”
Sunyi.
Wajah dia…
Sedikit berubah.
Gue lanjut.
“Kenapa ada yang sudah meninggal… tapi masih ditagih?”
Dua orang di belakangnya langsung tegang.
Yang depan pelan.
“Dari mana kamu tahu?”
Gue jawab.
“Saya cek.”
Sunyi.
Beberapa detik.
Terus…
Dia ketawa kecil.
Pelan.
“Pintar juga.”
Jantung gue langsung kencang.
Dia mendekat.
Lebih dekat.
“Berarti kamu sudah tahu…”
Gue diam.
Dia lanjut.
“…ini bukan usaha bapakmu.”
Sunyi.
Kata itu jatuh.
Berat.
Gue pelan.
“Terus ini apa?”
Dia lihat gue.
Dalam.
“Ini usaha kami.”
Dunia gue langsung… kosong.
Gue nggak langsung jawab.
Kata-kata itu masih muter di kepala gue.
“Ini usaha kami.”
Bukan bapak.
Berarti selama ini…
Bapak cuma…
Gue lihat dia.
“Bapak saya… kerja buat kalian?”
Dia senyum.
“Bisa dibilang begitu.”
Darah gue naik.
“Dia dipaksa?”
Dia angkat bahu.
“Dia butuh uang.”
Sunyi.
Gue ingat kata nyokap.
Bapak pernah hampir bangkrut.
Berarti…
Ini jalan dia.
Gue tahan emosi.
“Terus kenapa data ini nggak sesuai?”
Gue angkat buku.
Dia lihat.
Terus ketawa kecil.
“Itu bukan buat kamu ngerti.”
Gue maju satu langkah.
“Jawab.”
Nada gue lebih keras.
Dua orang di belakangnya langsung maju sedikit.
Si depan angkat tangan. Nahan.
Dia lihat gue.
“Karena… kami butuh alasan.”
“Alasan apa?”
Dia jawab santai.
“Alasan buat nagih lagi.”
Sunyi.
Dunia gue langsung gelap.
Jadi selama ini…
Orang-orang yang sudah lunas…
Masih ditagih.
Masih ditakut-takuti.
Masih diperas.
Dan bapak…
Ada di tengah itu.
Gue mundur.
Nggak percaya.
“Bapak saya… tahu?”
Dia diam sebentar.
Terus jawab.
“Tahu.”
Jantung gue langsung jatuh.
Tapi dia tambah satu kalimat.
“Makanya dia berhenti.”
Gue angkat kepala.
“Hah?”
Dia senyum tipis.
“Beberapa bulan terakhir… dia nggak mau ikut lagi.”
Gue langsung ingat.
Bapak lebih sering di rumah.
Lebih diam.
Lebih capek.
Dia lanjut.
“Makanya… dia jadi masalah.”
Sunyi.
Semua potongan…
Nyambung.
Bapak bukan jahat.
Bapak keluar.
Dan sekarang…
Mereka datang ke gue.
Bukan buat minta bantuan.
Tapi…
Buat gantiin.
Gue lihat dia.
Pelan.
“Kalau saya nolak?”
Dia mendekat.
Dekat banget.
“Nanti kami yang jalan.”
Gue diam.
Dia lanjut.
“Dan kali ini… nggak ada yang nahan.”
Sunyi.
Ancaman itu jelas.
Kalau gue nggak ambil…
Mereka tetap jalan.
Dan orang-orang itu…
Akan lebih hancur.
Gue pegang buku itu.
Tangan gue gemetar.
Ini bukan soal gue.
Ini soal semua nama di sini.
Gue tarik napas.
Dalam.
“Kalau saya ambil…”
Dia langsung senyum.
“Bagus.”
Gue lanjut.
“…saya yang pegang semua.”
Dia berhenti.
Mata dia menyempit.
“Maksudnya?”
Gue lihat dia.
“Semua data… semua penagihan… lewat saya.”
Sunyi.
Dua orang di belakangnya saling lihat.
Dia mikir.
Beberapa detik.
Terus…
Dia senyum lagi.
“Berani juga.”
Gue diam.
Dia angguk.
“Baik.”
Dia mundur.
“Mulai besok… kamu jalan.”
Dia kasih satu nomor.
“Ini kontak.”
Gue ambil.
Dia pergi.
Motor dinyalakan.
Hilang.
Gue berdiri di depan rumah.
Sendirian.
Nyokap keluar.
Mukanya pucat.
“Kamu… mau ikut?”
Gue lihat dia.
Pelan.
“Iya.”
Dia nangis.
“Kenapa…”
Gue jawab.
“Biar gue yang hentikan.”
Sunyi.
Untuk pertama kalinya…
Gue tahu.
Ini bakal panjang.
Tapi…
Ada jalan.
Hari pertama.
Gue pegang buku itu.
Motor bapak gue pakai.
Gue jalan.
Satu alamat.
Satu nama.
Satu-satu.
Tapi…
Gue nggak nagih.
Gue datang.
Gue bilang.
“Utangnya sudah lunas.”
Mereka kaget.
Ada yang nangis.
Ada yang nggak percaya.
Gue kasih bukti.
Gue coret nama mereka.
Pelan-pelan.
Satu-satu.
Hari kedua.
Gue lakukan lagi.
Hari ketiga.
Masih.
Gue ubah semuanya.
Dari dalam.
Mereka nggak sadar.
Karena semua lewat gue.
Sampai…
Semua nama…
Habis.
Buku itu kosong.
Gue duduk.
Nafas gue berat.
Tapi…
Ringan.
Malamnya.
Mereka datang lagi.
Tiga orang itu.
Yang depan langsung tanya.
“Laporan.”
Gue kasih buku itu.
Dia buka.
Lihat.
Kosong.
Sunyi.
Dia angkat kepala.
“Ini apa?”
Gue jawab pelan.
“Semua lunas.”
Dua orang di belakang langsung tegang.
Dia ketawa kecil.
“Main-main ya?”
Gue diam.
Dia mendekat.
“Lu pikir kita bodoh?”
Gue lihat dia.
Tenang.
“Lu pikir bapak saya mati sia-sia?”
Sunyi.
Dia berhenti.
Gue lanjut.
“Dia keluar dari ini semua.”
“Dan sekarang… saya juga.”
Sunyi.
Beberapa detik.
Dia lihat gue.
Lama.
Terus…
Dia senyum.
Beda.
Bukan ancaman.
Lebih ke… ngerti.
“Lu tahu risikonya?”
Gue angguk.
“Iya.”
Sunyi lagi.
Terus dia balik.
Jalan.
“Udah. Kita cari yang lain.”
Dua orang di belakang kaget.
“Tapi—”
Dia angkat tangan.
“Udah.”
Mereka pergi.
Motor menjauh.
Dan untuk pertama kalinya…
Nggak ada yang datang lagi.
Beberapa bulan kemudian.
Rumah itu berubah.
Masih sederhana.
Tapi…
Nggak kosong lagi.
Gue buka usaha kecil.
Warung kopi.
Dita bantu.
Nyokap juga.
Pelan-pelan.
Hidup jalan lagi.
Suatu sore.
Gue duduk di depan rumah.
Ngopi.
Lihat anak-anak main.
Persis kayak dulu.
Gue senyum kecil.
Gue lihat kursi kosong di sebelah.
“Pak… gue ngerti sekarang.”
Angin lewat pelan.
Gue lanjut.
“Lu nggak ninggalin masalah.”
Gue tarik napas.
“Lu ninggalin pilihan.”
Dan kali ini…
Gue pilih…
Berhenti.