|

Cerita Rumah Tangga: Aku Kira Istriku Menyembunyikan Uang Dariku

TAPI MALAM ITU…

SAAT AKU MEMBUKA LEMARI PAKAIANNYA…

ADA SESUATU YANG MEMBUAT AKU DUDUK LEMAS DI LANTAI.

Awalnya aku tidak terlalu memikirkannya.

Kupikir mungkin aku saja yang terlalu sensitif soal uang.

Sejak beberapa bulan terakhir, aku mulai merasa ada yang berubah dari kebiasaan istriku.

Bukan sikapnya.

Bukan cara bicaranya.

Tapi… kebiasaannya.

Setiap awal bulan setelah aku menerima gaji, aku selalu memberinya uang belanja sekitar tiga juta rupiah.

Biasanya uang itu cukup sampai akhir bulan.

Kami bukan keluarga yang boros.

Tidak ada cicilan baru.

Tidak ada barang mahal yang kami beli.

Tapi anehnya… beberapa bulan terakhir uang itu selalu habis jauh lebih cepat.

Kadang baru dua minggu… dia sudah bilang uangnya habis.

Awalnya aku mencoba tidak terlalu memikirkannya.

Mungkin memang ada kebutuhan rumah yang tidak aku tahu.

Tapi lama-lama aku mulai memperhatikan sesuatu.

Setiap kali aku memberikan uang belanja itu…

istriku selalu langsung masuk ke kamar.

Ke arah lemari pakaiannya.

Bukan ke dompet.

Bukan ke laci meja.

Selalu ke lemari itu.

Awalnya aku pikir itu hanya kebiasaan biasa.

Sampai suatu malam aku bertanya.

“Uangnya dipakai buat apa saja?”

Dia sedang melipat baju waktu itu.

Tangannya berhenti sebentar.

Lalu dia tersenyum kecil.

“Ya buat kebutuhan rumah lah.”

Jawabannya ringan sekali.

Terlalu ringan.

Sejak malam itu pikiranku mulai dipenuhi pertanyaan.

Apakah dia menabung tanpa bilang padaku?

Apakah dia menyimpan sesuatu?

Atau…

ada sesuatu yang tidak aku tahu?

Aku mencoba mengabaikannya.

Tapi setiap kali melihat dia membuka lemari pakaiannya…

rasa penasaran itu selalu muncul lagi.

Sampai akhirnya malam itu datang.

Malam yang mengubah semuanya.

Hujan turun cukup deras di luar rumah.

Aku pulang kerja agak larut.

Lampu kamar sudah redup.

Istriku terlihat sangat lelah.

Dia bahkan tertidur lebih cepat dari biasanya.

Napasnya pelan.

Teratur.

Aku duduk di pinggir tempat tidur beberapa saat.

Memandangnya.

Lalu mataku perlahan beralih ke arah lemari pakaian itu.

Entah kenapa malam itu…

rasa penasaran itu terasa jauh lebih kuat.

Jantungku mulai berdetak lebih cepat.

Aku berdiri pelan.

Berusaha tidak membuat suara.

Langkahku mendekati lemari itu.

Tanganku menyentuh gagangnya.

Dingin.

Aku menoleh sebentar ke arah tempat tidur.

Istriku masih tertidur.

Pelan-pelan aku membuka pintu lemari itu.

Derit kecil terdengar.

Di dalamnya hanya ada tumpukan baju seperti biasa.

Tidak ada yang aneh.

Aku bahkan sempat merasa sedikit bodoh karena sudah berpikir macam-macam.

Tapi saat aku menggeser beberapa pakaian yang digantung…

tanganku menyentuh sesuatu di bagian bawah lemari.

Sebuah tas kain kecil.

Warnanya cokelat tua.

Aku tidak pernah melihat tas itu sebelumnya.

Tanganku mulai gemetar saat mengambilnya.

Tas itu terasa… berat.

Perlahan aku membuka resletingnya.

Dan saat melihat isi di dalamnya…

lututku langsung terasa lemas.

Aku duduk di lantai tanpa sadar.

Karena di dalam tas itu…

bukan uang.

Bukan juga perhiasan.

Tapi sebuah map plastik berisi kertas-kertas.

Aku membuka map itu.

Di dalamnya ada daftar nama.

Banyak sekali nama.

Di samping setiap nama ada tanggal dan catatan kecil.

Awalnya aku tidak mengenali sebagian besar nama itu.

Tapi kemudian mataku berhenti di satu nama.

Namaku sendiri.

Di samping namaku tertulis tanggal pernikahanku dengan istriku.

Tanganku mulai gemetar.

Aku membaca lagi daftar itu.

Beberapa nama diberi tanda centang.

Beberapa lainnya diberi garis.

Dan namaku…

dilingkari tebal.

Saat itulah sesuatu terjadi.

Handphone istriku yang tergeletak di meja samping tempat tidur tiba-tiba menyala.

Aku tidak sengaja melihat layar notifikasinya.

Ada pesan masuk.

Pesannya hanya satu kalimat.

“Dia sudah menemukan tasnya.”

Dadaku langsung terasa dingin.

Aku menoleh ke arah tempat tidur.

Dan di situlah jantungku seperti berhenti berdetak.

Karena istriku tidak benar-benar tidur.

Matanya terbuka sedikit.

Menatap ke arahku.

Tatapan yang sangat tenang.

Kami saling menatap beberapa detik.

Sampai akhirnya dia tersenyum kecil.

Lalu berkata pelan.

“Kamu akhirnya menemukannya juga.”

Seluruh tubuhku langsung merinding.

Aku bahkan tidak tahu harus berkata apa.

Lalu sesuatu terdengar dari luar kamar.

Suara pintu depan rumah…

yang pelan-pelan terbuka.

Langkah kaki terdengar dari ruang tamu.

Seseorang masuk ke dalam rumah kami.

Beberapa detik kemudian pintu kamar terbuka.

Seorang pria berdiri di ambang pintu.

Aku mengenalnya.

Dia pernah datang ke rumah kami beberapa minggu lalu.

Waktu itu dia memperkenalkan dirinya sebagai petugas asuransi.

Sekarang dia berdiri di sana.

Menatapku.

Lalu tersenyum.

“Jadi… kamu sudah melihat semuanya,” katanya tenang.

Aku menoleh ke arah istriku.

Dia tidak terlihat terkejut sama sekali.

Seolah semua ini memang sudah direncanakan.

Pria itu melangkah masuk ke kamar.

Menutup pintu pelan.

Lalu mengeluarkan sebuah map.

Map yang sama seperti yang ada di tanganku.

Di dalamnya ada daftar nama yang sama.

Hanya saja sekarang…

namaku sudah tidak dilingkari lagi.

Namaku sudah diberi tanda centang.

“Apa artinya ini?” tanyaku dengan suara pelan.

Pria itu menatapku beberapa detik.

Lalu berkata dengan tenang.

“Artinya pekerjaan kita sudah selesai.”

Kepalaku terasa kosong.

“Pekerjaan apa?”

Istriku berdiri dari tempat tidur.

Berjalan mendekatiku.

Lalu berkata pelan.

“Kamu ingat pertama kali kita bertemu?”

“Tentu saja.”

“Kami sebenarnya sudah mengenalmu jauh sebelum itu.”

Aku tidak mengerti.

“Apa maksudmu?”

Dia membuka map itu.

Lalu menunjukkan satu lembar kertas kepadaku.

Di bagian atas tertulis sebuah judul.

“Laporan Pengamatan Perilaku Manusia dalam Hubungan Pernikahan.”

Tanganku gemetar saat membaca isinya.

Semua tentang aku.

Tentang kebiasaanku.

Tentang reaksiku terhadap berbagai situasi.

Tentang bagaimana aku memperlakukan istriku.

Tentang bagaimana aku menghadapi konflik.

Lima tahun.

Selama lima tahun…

semua yang aku lakukan ternyata dicatat.

Diamati.

Didokumentasikan.

Aku menatap istriku.

“Jadi selama ini aku cuma bahan penelitian?”

Dia tidak langsung menjawab.

Matanya terlihat berkaca-kaca.

“Awalnya memang begitu,” katanya pelan.

Dadaku terasa sesak.

“Awalnya?”

Dia menunduk sebentar.

Lalu berkata dengan suara yang hampir berbisik.

“Lima tahun terlalu lama untuk pura-pura.”

Aku terdiam.

Dia menatapku lagi.

“Eksperimennya memang sudah selesai.”

“Tapi perasaanku… tidak.”

Malam itu aku berdiri di kamar kami.

Menatap perempuan yang selama lima tahun kupanggil istriku.

Aku tidak tahu mana yang nyata.

Mana yang hanya bagian dari penelitian.

Yang aku tahu hanya satu hal.

Hidupku tidak akan pernah sama lagi setelah malam itu.

Kalau kamu berada di posisiku…

apa yang akan kamu lakukan?

Similar Posts