COACH FITNESS ITU NGGAK CUMA NGELATIH OTOT ISTRI GUE, DIA PELAN-PELAN NGELATIH PERASAANNYA JUGA, DAN GUE BARU SADAR SAAT SEMUANYA HAMPIR TERLAMBAT.

DIA PEGANG TANGAN ISTRI GUE.

DI DEPAN KACA BESAR.

DAN GUE LIAT SEMUANYA.

Pintu gym itu transparan. Kaca tinggi dari lantai sampai langit-langit. Lampu putih terang. Bau karpet karet dan parfum murah campur jadi satu.

Nama gym-nya “Urban Fit Studio”. Tempat baru. Baru dua bulan istri gue daftar.

Awalnya biasa aja.

Istri gue, Rina, bilang cuma mau sehat. Berat badannya naik sedikit setelah melahirkan. Dia pengen balik pede lagi.

Gue dukung.

Bahkan gue yang anter pertama kali.

Coach-nya tinggi. Badannya jadi. Rahangnya tegas. Kaos tanpa lengan. Senyum percaya diri.

Namanya Arga.

Waktu itu dia jabat tangan gue lama banget.

“Tenang aja, Bang. Istri abang aman di tangan saya.”

Gue cuma ketawa kecil.

Harusnya dari situ gue sadar.

Awalnya semua normal.

Rina pulang sore. Keringetan. Cerita soal plank, squat, diet. Gue dengerin sambil gendong anak.

Tapi lama-lama ada yang beda.

Dia mulai sering mirror selfie di kamar mandi. Angle atas. Lighting terang.

Notifikasi Instagram-nya makin sering bunyi.

Kadang dia senyum sendiri liat layar.

Gue tanya.

“Siapa?”

“Temen gym.”

Singkat.

Gangguan kecil.

Dia mulai pulang lebih malam.

“Private session,” katanya.

Private.

Gue tahan diri buat nggak overthinking.

Sampai satu malam.

Jam 21.30.

Anak udah tidur.

Rina belum pulang.

Gue chat.

“Udah selesai?”

Centang dua. Biru.

Nggak dibales.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Lima belas menit.

Lalu story Instagram muncul.

Boomerang.

Dia lagi ketawa.

Di samping Arga.

Caption: “Progress nggak bohong.”

Jantung gue kayak ditarik.

Besoknya gue izin pulang lebih cepat dari kantor.

Nggak bilang ke Rina.

Motor gue parkir di ujung gang gym.

Kaca itu.

Kaca sialan itu.

Dan gue lihat.

Arga berdiri di belakang Rina. Pegang pinggangnya. Tangan Rina dipegang. Katanya lagi koreksi posisi squat.

Tapi itu bukan koreksi.

Itu lama.

Terlalu lama.

Rina ketawa kecil.

Arga bisik sesuatu.

Rina mukul pelan lengannya.

Gue masuk.

Pintu geser bunyi keras.

Beberapa orang nengok.

Arga lepas tangan.

Cepat banget.

“Bang! Lagi lewat?” dia senyum.

Gue tatap dia.

“Lagi jemput istri.”

Rina kaget.

“Kok nggak bilang dulu?”

Gue cuma angguk.

Di motor, Rina diam.

Angin malam dingin.

Suara toa masjid lagi latihan tilawah.

Gue nggak tanya apa-apa.

Karena gue takut jawabannya.

Seminggu setelah itu.

Rina makin berubah.

HP selalu dibalik.

Password diganti.

Kalau gue masuk kamar, dia langsung kunci layar.

Gue pernah bangun jam 2 pagi.

Lampu kamar mandi nyala.

Rina duduk di lantai, lagi voice note.

Suaranya pelan.

“Enggak… dia nggak tau…”

Jantung gue kayak disiram air es.

Dan malam ini.

Gue nekat.

Gue masuk gym tanpa bilang.

Gue berdiri di luar kaca.

Dan gue lihat tangan itu.

Arga pegang tangan istri gue.

Bukan buat squat.

Bukan buat plank.

Tapi digenggam.

Jelas.

Rina nggak narik.

Dia diem.

Tatapan mereka beda.

Itu bukan tatapan coach dan klien.

Itu tatapan yang terlalu nyaman.

Gue dorong pintu.

Keras.

Semua nengok.

Rina langsung lepas.

Arga tetap tenang.

“Bang, salah paham.”

Gue ketawa.

Pelan.

“Salah paham apanya?”

Rina lihat gue.

Matanya campur aduk.

Takut. Bingung. Bersalah.

Atau gue cuma ngerasa begitu?

Arga maju selangkah.

“Abang insecure, ya?”

Kalimat itu.

Kayak bensin disiram ke api.

Tangan gue mengepal.

Tapi yang bikin gue beku bukan dia.

Tapi Rina.

Karena Rina nggak bantah.

Dia cuma bilang pelan.

“Kita ngomong di rumah aja.”

Gue lihat tangan mereka.

Baru aja lepas.

Dan untuk pertama kalinya dalam pernikahan gue…

Gue ngerasa kalah.

Di rumah.

Sunyi.

Kipas angin berderit.

Anak tidur.

Rina berdiri di depan gue.

Dan dia bilang satu kalimat yang bikin dunia gue runtuh.

“Aku nyaman sama dia.”

Kalimat itu jatuh pelan.

Tapi beratnya kayak beton.

Gue nggak marah.

Nggak teriak.

Gue cuma duduk.

Dan untuk pertama kalinya…

Gue sadar.

Ini bukan cuma soal coach fitness.

Ini soal sesuatu yang selama ini gue abaikan.

Dan gue nggak tau…

Gue masih punya waktu buat balikin semuanya…

Atau semuanya udah terlambat.

Kalau kalian di posisi gue… kalian bakal ngapain?

PART 2

Rina nggak nangis.

Nggak teriak.

Dia cuma duduk di ujung kasur.

Lampu kamar redup. Kipas angin bunyi “tek… tek… tek…” tiap muter.

“Aku nyaman sama dia.”

Kalimat itu masih muter di kepala gue.

Gue berdiri. Lihat lemari. Lihat foto nikahan kita di dinding. Lihat stroller di pojok kamar.

“Nyaman gimana?” suara gue pelan. Terlalu pelan buat ukuran laki-laki yang lagi diinjek harga dirinya.

Rina tarik napas.

“Dia dengerin aku.”

Gue diam.

“Toh kamu juga sibuk terus.”

Itu bukan teriakan.

Itu bukan tuduhan.

Itu fakta yang dilempar pelan tapi tepat.

HP Rina bunyi.

Notifikasi WhatsApp.

Layar nyala sepersekian detik.

Nama itu muncul.

Arga.

Gue lihat.

Rina langsung balikin HP.

“Jangan sekarang,” katanya.

Bukan ke gue.

Ke dia.

Besoknya gue nggak ke kantor.

Gue duduk di ruang tamu.

Main sama anak.

Masak mie.

Nyapu.

Hal-hal kecil yang biasanya gue anggap sepele.

Jam 4 sore Rina siap-siap.

Pakai legging hitam.

Sport bra dilapisi jaket tipis.

Wangi parfumnya beda.

Bukan yang biasa dia pakai buat pergi arisan.

“Aku gym dulu,” katanya.

Gue angguk.

“Private lagi?”

Dia ragu sepersekian detik.

“Iya.”

Itu jeda kecil.

Tapi cukup buat gue tau semuanya belum selesai.

Gue nggak langsung ngikutin.

Gue tunggu sepuluh menit.

Lalu gue jalan kaki ke gym.

Sengaja.

Biar kepala gue dingin.

Di parkiran, motor Arga udah ada.

Motor gede. Bersih. Kinclong.

Kaca gym terang.

Tapi kali ini beda.

Lampu bagian depan dimatiin.

Yang nyala cuma lampu dalam studio kecil di belakang.

Private room.

Gue bisa lihat dari celah tirai yang nggak tertutup rapat.

Arga berdiri dekat banget sama Rina.

Terlalu dekat buat sekadar instruksi.

Rina duduk di bench.

Arga jongkok di depannya.

Ngomong pelan.

Tangan Rina dipegang dua-duanya.

Bukan posisi squat.

Bukan posisi plank.

Itu posisi orang lagi diyakinin.

Gue tahan napas.

Arga bilang sesuatu.

Rina geleng pelan.

Arga makin dekat.

Tangannya naik.

Nyentuh pipi Rina.

Dan Rina…

Nggak langsung nolak.

Dunia kayak berhenti sepersekian detik.

Lalu Rina berdiri.

Mundur satu langkah.

Bibirnya gerak.

Gue nggak dengar.

Arga berdiri juga.

Wajahnya berubah.

Nggak sesantai biasanya.

Rina ambil tasnya.

Cepat.

Keluar dari ruangan itu.

Gue langsung sembunyi di samping dinding parkiran.

Rina keluar pintu depan.

Matanya merah.

Dia nggak lihat gue.

Dia langsung naik ojek online.

Pergi.

Arga keluar beberapa menit kemudian.

Wajahnya kesal.

Dia ngetik cepat di HP.

Detik itu juga.

HP gue bunyi.

Bukan dari Rina.

Dari nomor nggak dikenal.

Foto masuk.

Gambar Rina lagi ketawa di gym.

Close.

Terlalu dekat.

Pesan di bawahnya:

“Jaga istri lo baik-baik, Bang. Dunia nggak seaman yang lo kira.”

Darah gue langsung naik ke kepala.

Gue lihat ke arah Arga.

Dia lagi lihat HP.

Senyum tipis.

Jadi ini bukan cuma soal nyaman.

Ini permainan.

Dan gue baru sadar…

Gue bukan satu-satunya yang lagi diuji.

Rina juga.

Dan Arga nggak cuma mau tubuhnya.

Dia mau ngeruntuhin rumah gue pelan-pelan.

Malam itu, Rina pulang.

Gue pura-pura nggak tau.

Dia masuk kamar.

Duduk di lantai.

Nangis tanpa suara.

Gue berdiri di depan pintu.

Nggak masuk.

Nggak pergi.

Karena untuk pertama kalinya…

Gue sadar ini bukan cuma tentang selingkuh.

Ini tentang siapa yang paling duluan menyerah.

Dan gue belum mau kalah.

Tapi gue juga belum tau…

Rina masih di pihak gue…

Atau nggak.

PART 3

Pagi itu rumah terasa aneh.

Nggak ada suara musik dari dapur.

Nggak ada Rina nyanyi pelan sambil goreng telur.

Yang ada cuma bunyi sendok jatuh.

Dan suara notifikasi masuk bertubi-tubi dari HP-nya.

Gue pura-pura fokus ngikat tali sepatu anak.

Tapi mata gue ke meja makan.

HP Rina bergetar lagi.

Nama itu lagi.

Arga.

Rina langsung angkat.

Masuk kamar.

Pintu ditutup.

Nggak dikunci.

Gue berdiri di depan pintu.

Suara Rina pelan.

“Jangan kayak gini terus…”

Diam.

“Aku udah bilang, jangan kirim itu.”

Jantung gue langsung keras.

Kirim apa?

Suara Arga nggak kedengeran, tapi nada Rina jelas.

Kesal.

Takut.

Campur.

“Aku nggak pernah janji apa-apa sama kamu.”

Kalimat itu bikin gue beku.

Jadi selama ini…

Memang ada sesuatu.

Siang itu gue izin setengah hari.

Bukan buat marah.

Bukan buat mukul.

Gue ke gym.

Masuk dengan wajah biasa.

Arga lagi latih klien lain.

Dia lihat gue.

Senyum.

Pede banget.

“Bang, mau daftar juga?”

Gue duduk di kursi tunggu.

“Kita ngobrol.”

Dia selesaiin kliennya.

Datang.

Duduk depan gue.

Dekat.

Terlalu santai.

“Abang terlalu posesif. Rina cuma butuh ruang.”

Gue keluarkan HP.

Tunjukin foto yang dia kirim semalam.

“Ini ruang?”

Arga senyum tipis.

“Bang, dunia sekarang transparan. Kalau gue mau, gue bisa kirim lebih dari itu.”

Kalimat itu bukan ancaman biasa.

Itu pernyataan kuasa.

Gue lihat matanya.

Nggak ada cinta di situ.

Cuma ego.

Dan permainan.

“Lo mau apa?”

Akhirnya gue tanya.

Dia bersandar.

“Gue cuma bantu dia sadar… kalau dia pantas dapet yang lebih.”

“Lebih dari apa?”

“Lebih dari hidup yang monoton.”

Kata monoton itu pelan.

Tapi nyentil.

Karena gue tau.

Belakangan gue memang sering pulang malam.

Sering capek.

Sering main HP.

Jarang dengerin.

Sore itu, Rina nggak ke gym.

Dia duduk di teras.

Anak main gelembung sabun.

Gue duduk di sebelahnya.

Lama.

Tanpa ngomong.

Akhirnya gue buka suara.

“Dia ancem kamu?”

Rina langsung nengok.

Itu reaksi spontan.

Mata yang ketahuan.

“Apa maksud kamu?”

“Dia kirim foto ke gue.”

Wajah Rina pucat.

“Dia bilang kalau aku berhenti… dia bakal sebarin.”

Nafas gue berhenti setengah detik.

“Sebarin apa?”

Rina genggam tangannya sendiri.

Kuku masuk ke kulit.

“Chat. Voice note. Foto-foto waktu aku lagi latihan.”

“Foto biasa?”

Dia nggak jawab langsung.

“Dia ambil angle yang keliatan… beda.”

Gue ngerti.

Bukan vulgar.

Tapi cukup buat bikin orang salah paham.

Cukup buat bikin keluarga ribut.

Cukup buat bikin pernikahan hancur.

“Aku cuma curhat,” suara Rina kecil.

“Awalnya cuma soal kamu sibuk. Soal aku ngerasa sendirian. Dia dengerin. Dia baik.”

Baik.

Gue hampir ketawa.

Baik tapi nyimpen bahan buat nyerang.

“Toh kamu juga nggak pernah tanya aku capek apa nggak,” Rina lanjut.

Kalimat itu lebih sakit dari ancaman Arga.

Karena itu bukan manipulasi.

Itu kenyataan.

Gue diam.

Anak lari ke arah gue.

“Papa tiup lagi!”

Gue tiup gelembung sabun.

Bola-bola kecil melayang di udara sore.

Dan gue sadar.

Kalau gue cuma fokus marah ke Arga…

Gue bakal kalah.

Karena masalahnya bukan cuma dia.

Masalahnya rumah ini udah retak duluan.

Dan Arga cuma masuk lewat celah.

Rina berdiri.

“Aku mau berhenti gym.”

Gue lihat dia.

“Karena takut?”

Dia geleng.

“Karena aku nggak mau hidup kayak gini.”

HP-nya bunyi lagi.

Pesan masuk.

Rina buka.

Wajahnya tegang.

Dia kasih ke gue.

Pesan dari Arga:

“Kalau kamu blokir gue, semua orang bakal tau kamu selama ini seberapa ‘butuh’ gue.”

Gue tarik napas panjang.

Jadi ini bukan soal cinta.

Ini soal kontrol.

Dan sekarang bukan cuma hati istri gue yang lagi diperebutin.

Tapi harga diri keluarga gue juga.

Gue genggam HP itu.

Pelan.

Tenang.

“Besok gue ikut kamu ke gym.”

Rina langsung nengok.

“Kamu mau ngapain?”

Gue tatap lurus ke depan.

“Kita selesaiin.”

Tapi jujur aja…

Gue belum tau caranya.

Dan Arga jelas bukan tipe orang yang bakal mundur cuma karena diminta baik-baik.

PART 4

Besoknya gue pakai kaos biasa.

Celana jeans.

Sendal.

Nggak ada gaya.

Rina jalan di samping gue.

Tangannya dingin.

Gym masih sepi.

Jam 10 pagi.

Lampu putih nyala semua.

Arga lagi berdiri di depan meja resepsionis.

Lagi ketawa sama dua member cewek.

Begitu lihat kami masuk…

Senyumnya turun setengah.

Tapi cepat balik lagi.

“Bang. Dateng bareng sekarang?”

Gue nggak jawab.

Rina berdiri di samping gue.

Nggak di belakang.

Itu penting.

“Gue mau ngomong,” kata gue.

Arga lirik sekitar.

“Di private room aja.”

Gue angguk.

Ruangan kecil itu dingin.

AC terlalu kencang.

Bench press di pojok.

Cermin besar di dinding.

Tempat yang kemarin gue lihat semuanya.

Arga tutup pintu.

“Bang, santai aja. Kita orang dewasa.”

Gue keluarkan HP.

Rekam.

Sengaja gue taruh di atas bench.

Arga lihat.

Senyum tipis.

“Abang dramatis banget.”

Gue tatap dia.

“Lo ancem istri gue.”

Rina berdiri di samping gue.

Nafasnya nggak stabil.

Arga angkat bahu.

“Ancaman apaan sih? Cuma bercanda.”

“Lo kirim foto. Lo kirim chat.”

Arga mendekat ke Rina.

“Rin, kamu cerita ke dia semua?”

Rina mundur setengah langkah.

Itu kecil.

Tapi gue lihat.

“Jangan panggil dia Rin,” suara gue datar.

Arga ketawa kecil.

“Nih ya Bang… istri lo itu cuma butuh perhatian. Gue cuma kasih apa yang lo nggak kasih.”

Kalimat itu.

Kalimat paling klise.

Tapi nadanya sombong.

Gue maju satu langkah.

“Lo simpan semua chat?”

Arga nyengir.

“Backup di cloud, Bang. Zaman sekarang siapa sih yang nggak simpan?”

Gue angguk pelan.

“Bagus.”

Dia kaget sedikit.

“Bagus apanya?”

Gue nengok ke Rina.

“Sekarang.”

Rina langsung buka HP.

Tangan gemetar.

Dia pencet sesuatu.

Arga lihat layar HP-nya sendiri.

Senyumnya hilang.

“Apa yang lo lakuin?”

Rina angkat wajah.

Untuk pertama kalinya sejak semua ini mulai…

Matanya tegas.

“Aku kirim semua chat kamu ke istri kamu.”

Ruangan itu langsung sunyi.

AC masih berdengung.

Tapi udara berubah.

Arga membeku.

“Lo ngaco ya?”

Rina lanjut.

“Termasuk voice note kamu. Termasuk foto yang kamu ancam mau sebar.”

Gue tambahin pelan.

“Dan kita juga kirim ke pemilik gym.”

Wajah Arga berubah total.

Nggak ada lagi coach pede.

Yang ada cuma laki-laki panik.

“Lo berdua nggak bakal berani.”

Rina angkat HP.

Layar masih terbuka.

Status WhatsApp: terkirim.

Centang dua.

Nama kontak: “Mbak Sinta ❤️”

Istri Arga.

Gue tau dari Instagram.

Arga langsung ambil HP-nya.

Ngetik cepat.

Telepon masuk.

Dia tolak.

Masuk lagi.

Dia tolak lagi.

Keringat mulai keluar di pelipisnya.

“Rin, kamu nggak bisa gini.”

Suara dia berubah.

Nggak dominan lagi.

Rina tarik napas.

“Aku nggak pernah janji apa-apa sama kamu.”

Kalimat yang sama kayak kemarin.

Tapi sekarang nadanya beda.

Bukan ragu.

Tegas.

Pintu private room diketuk keras.

Pemilik gym masuk.

Wajahnya serius.

Di belakangnya…

Seorang perempuan.

Bawa tas besar.

Mata sembab.

Istri Arga.

Ruangan itu jadi sempit.

Arga mundur pelan.

“Sayang, ini salah paham.”

Perempuan itu langsung tampar dia.

Keras.

Suara tepukannya mantul ke cermin.

Gue nggak gerak.

Rina juga nggak.

Karena ini bukan lagi urusan kita.

Ini konsekuensi.

Pemilik gym lihat Arga.

“Kamu keluar dari tempat saya sekarang.”

Singkat.

Tuntas.

Arga coba ngomong.

Nggak dikasih kesempatan.

Kami keluar dari gym.

Siang panas.

Suara motor lewat.

Rina berdiri di parkiran.

Diam.

Lama.

“Aku hampir nyerah,” katanya pelan.

Gue nggak potong.

“Aku ngerasa kamu nggak lihat aku lagi.”

Kalimat itu nggak nyerang.

Nggak nyalahin.

Cuma jujur.

Gue lihat dia.

Bener-bener lihat.

Bukan cuma istri.

Tapi orang yang selama ini gue anggap selalu ada.

Tanpa gue rawat.

Gue pegang tangannya.

Kali ini dia genggam balik.

Kuat.

Tapi gue tau…

Masalah belum selesai sepenuhnya.

Arga mungkin udah jatuh.

Tapi luka di rumah gue belum sembuh.

Dan malam nanti…

Gue harus jawab satu pertanyaan paling berat.

Apakah gue cuma menang dari Arga…

Atau gue bener-bener mau balikin hati istri gue?

PART 5 (TERAKHIR)

Malam itu hujan turun pelan.

Atap seng tetangga bunyi “ting… ting… ting…”

Anak udah tidur.

Lampu ruang tamu cuma nyala satu.

Rina duduk di lantai.

Bersandar ke sofa.

Gue duduk di depannya.

Nggak ada Arga lagi.

Nggak ada ancaman.

Nggak ada gym.

Tapi ada yang lebih berat.

Kejujuran.

“Aku salah,” Rina bilang duluan.

Bukan pelan.

Bukan defensif.

Lurus.

“Aku nikmatin perhatian dia. Aku seneng waktu dia bilang aku cantik. Aku seneng waktu dia dengerin.”

Gue angguk.

Karena itu kenyataan.

Dan kenyataan nggak bisa dilawan dengan ego.

“Aku juga salah,” gue jawab.

Rina nengok.

“Aku kira kerja keras itu cukup. Aku kira bayar cicilan tepat waktu itu udah bentuk cinta.”

Hujan makin deras.

“Aku lupa kamu juga butuh ditemenin. Bukan cuma dibiayain.”

Sunyi.

Nggak ada yang dramatis.

Cuma dua orang yang akhirnya berhenti pura-pura kuat.

Rina geser duduknya.

Lebih dekat.

“Aku nggak cinta sama dia,” katanya.

“Aku cuma lagi kosong.”

Kalimat itu nggak bikin gue senang.

Tapi bikin gue ngerti.

Kosong itu berbahaya.

Dan gue yang ninggalin ruang itu kebuka.

Gue tarik napas panjang.

“Mulai besok… kita ubah.”

Bukan janji lebay.

Bukan sumpah.

Cuma keputusan.

“Jam 7 malam HP taruh. Nggak ada kerjaan. Nggak ada scroll.”

Rina angguk.

“Kita jalan pagi bareng. Nggak perlu gym mahal.”

Dia senyum kecil.

“Kita ngobrol. Bukan cuma soal anak. Tapi soal kamu. Soal aku.”

Air mata Rina jatuh.

Bukan histeris.

Cuma lega.

Seminggu kemudian.

Sabtu pagi.

Gue lari kecil di kompleks.

Rina di samping gue.

Nafas sama-sama ngos-ngosan.

Anak naik sepeda kecil di depan.

Matahari belum terlalu panas.

Tetangga nyapu halaman.

Biasa.

Sederhana.

Tapi beda.

Karena kali ini…

Gue beneran hadir.

HP gue bunyi.

Pesan dari nomor nggak dikenal.

Arga.

Gue buka.

Cuma satu kalimat.

“Maaf.”

Gue baca.

Lalu gue hapus.

Tanpa balas.

Bukan karena gue lebih hebat.

Tapi karena dia udah nggak relevan lagi.

Musuh gue bukan dia.

Musuh gue adalah jarak yang pernah tumbuh di rumah sendiri.

Dan itu sekarang lagi gue perbaiki.

Malamnya.

Rina lagi duduk di depan cermin.

Bukan mirror selfie.

Bukan buat upload.

Dia cuma lihat dirinya sendiri.

Gue berdiri di belakangnya.

Pegang bahunya.

“Cantik,” gue bilang.

Dia senyum.

“Kamu serius?”

“Serius.”

Kali ini bukan karena takut kehilangan.

Bukan karena saingan.

Tapi karena gue emang lihat dia.

Rina pegang tangan gue.

Dan untuk pertama kalinya setelah semua kejadian itu…

Tatapan dia ke gue sama kayak dulu.

Hangat.

Tenang.

Pulang.

Gue hampir kehilangan istri gue.

Bukan karena dia direbut.

Tapi karena gue berhenti berjuang.

Dan ternyata…

Balikin hati seseorang itu bukan soal ngalahin laki-laki lain.

Tapi soal hadir.

Dengerin.

Dan nggak ninggalin celah.

Akhirnya.

Rumah ini utuh lagi.

Dan kali ini…

Gue nggak akan lengah.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *