SUAMIKU NGASIH 20 MILIAR KE ORANG YANG NGAKU PUNYA 1/3 KEKAYAAN DUNIA. DAN DIA PAKAI UANG PERUSAHAAN. AKU BARU TAU SAAT DIA DIPECAT.
—
Suara AC kamar hotel berdengung halus.
Tirai setengah terbuka. Cahaya Jakarta pagi masuk pelan, jatuh ke lantai marmer yang dingin.
Aku duduk di tepi kasur.
Anakku yang masih bayi tidur di sampingku. Napasnya kecil. Teratur.
Di meja, ada dua paper bag dari Grand Indonesia. Isinya baju bayi. Satu potong satu juta lebih. Aku bahkan nggak sempat lihat labelnya tadi malam.
Suamiku berdiri di depan kaca. Kemeja putih. Rapih. Wangi parfum mahal.
“Meeting jam 9,” katanya tanpa menoleh.
Aku cuma mengangguk.
Hidup kami waktu itu… ya begini.
Pindah dari hotel ke hotel. Dari Cepu ke Jakarta. Dari proyek ke proyek. Kadang seminggu di satu tempat, lalu pindah lagi. Tapi semua selalu nyaman. Selalu mahal. Selalu “kelas atas”.
Aku nggak pernah mikir soal uang.
Nggak pernah takut.
Suamiku direktur utama perusahaan oil and gas. Kantor di gedung tinggi. Mobil ganti-ganti. Orang-orang manggil dia “Pak Dirut” dengan nada hormat.
Aku pikir… hidup kami udah di jalur aman.
—
Sampai satu sore.
Di kantor cabang.
Aku datang cuma buat jemput suami. Sekalian bawa makanan dari rumah.
Parkiran penuh mobil bagus.
Tapi di pojok… ada satu mobil.
Catnya kusam. Bempernya lecet. Kayak mobil yang dipakai bertahun-tahun tanpa perawatan.
Aku sempat melirik.
Biasa aja.
Tapi entah kenapa… mobil itu bikin aku berhenti jalan sebentar.
—
Di dalam kantor, suasana agak beda.
Biasanya ramai, cepat, penuh orang lalu-lalang.
Hari itu… lebih sepi.
Aku lihat suamiku duduk di ruang meeting. Pintu setengah terbuka.
Ada dua orang di dalam.
Dua laki-laki. Umur sekitar 50-an.
Bajunya… biasa.
Bukan jelek. Tapi… nggak mencerminkan orang yang penting.
Aku berdiri di luar sebentar. Dengar sedikit percakapan.
“…ini bukan angka kecil, Pak,” kata salah satu dari mereka.
Nada suaranya tenang. Tapi… tinggi.
Seolah dia terbiasa ngomong begitu.
Suamiku mengangguk pelan.
“Kalau ini berhasil… kita bukan cuma bicara Indonesia,” jawab suamiku.
Dadaku tiba-tiba nggak enak.
Aku dorong pintu pelan.
“Mas?”
Semua menoleh.
Suamiku langsung berdiri. Senyum.
“Eh, kamu datang.”
Aku masuk. Duduk di sampingnya.
Dua orang itu menatapku.
Yang satu senyum kecil.
“Ini istri saya,” kata suamiku.
Aku mengangguk sopan.
“Perkenalkan, saya Angga,” kata yang satu lagi.
Tangannya hangat. Tapi… genggamannya terlalu lama.
Aku tarik pelan.
—
Mereka mulai bicara lagi.
Tentang angka.
Tentang aset.
Tentang sesuatu yang mereka sebut “warisan besar”.
Aku dengar… tapi nggak benar-benar ngerti.
“Totalnya… kalau dirupiahkan, mungkin sepertiga kekayaan dunia,” kata Angga santai.
Aku hampir ketawa.
Tapi aku tahan.
Aku lihat suamiku.
Dia… serius.
Sangat serius.
—
Sepanjang perjalanan pulang, aku diam.
Suamiku nyetir sendiri malam itu.
Lampu jalan lewat satu-satu di kaca mobil.
“Apa tadi?” aku akhirnya buka suara.
“Harta lama,” jawabnya singkat.
“Harta siapa?”
Dia diam sebentar.
“Harta negara yang belum diambil.”
Aku menoleh.
“Mas serius?”
“Iya.”
Aku tertawa kecil. Refleks.
Dia nggak ikut ketawa.
“Ini bukan becanda,” katanya.
Aku berhenti.
“Mas… orang kayak gitu tadi—”
“Orang kaya nggak butuh nunjukkin,” potongnya.
Nada suaranya berubah.
Lebih tajam.
Aku menelan ludah.
“Tapi… masa iya orang yang punya… ya itu tadi… datang pakai mobil kayak gitu?”
Dia menghela napas panjang.
“Kamu terlalu lihat penampilan.”
Aku menoleh ke jendela.
Mobil lewat cepat di sebelah.
Aku nggak lanjut.
Tapi di dalam kepala… satu kalimat muter terus:
Ini nggak masuk akal.
—
Hari-hari berikutnya… mereka sering datang.
Ke kantor pusat.
Ke cabang.
Kadang sampai malam.
Kadang sampai ikut makan malam.
Aku beberapa kali ikut duduk.
Dengar mereka bicara.
Harvard.
NASA.
BIN.
Soeharto.
Semua disebut dengan santai.
Seolah… mereka pernah ada di semua itu.
Aku cuma duduk.
Dengar.
Dan makin lama… makin capek.
“Mas… ini aneh,” kataku suatu malam.
Kami di kamar hotel.
Lampu remang.
Anak sudah tidur.
“Aneh apanya?”
“Mereka terlalu… terlalu tinggi ngomongnya.”
“Karena memang tinggi.”
Aku geleng pelan.
“Mas, aku pernah ketemu orang-orang minyak. Orang besar. Mereka nggak ngomong kayak gitu.”
Dia diam.
“Ini beda,” katanya akhirnya.
Aku tarik napas.
“Mas… hati-hati.”
Dia cuma mengangguk.
Tapi matanya… masih penuh keyakinan.
—
Sampai suatu hari.
Pagi.
Aku lagi di rumah.
HP suamiku bunyi terus.
Notifikasi WhatsApp.
Berkali-kali.
Aku lihat sekilas.
Nama: Angga.
Aku nggak buka.
—
Siang.
Suamiku pulang lebih cepat dari biasanya.
Wajahnya… tegang.
Kemejanya kusut.
“Kenapa?” tanyaku.
Dia duduk di sofa.
Diam.
Lama.
Aku mulai gelisah.
“Mas?”
Dia akhirnya bicara.
“Perusahaan… ada masalah.”
Perutku langsung dingin.
“Masalah apa?”
Dia nggak jawab.
Cuma lihat ke lantai.
Tangannya gemetar sedikit.
Aku duduk di depannya.
“Mas, ngomong.”
Dia menutup wajahnya.
Dan untuk pertama kalinya…
Aku lihat dia… runtuh.
—
Ruang sidang itu dingin.
AC terlalu kencang.
Aku duduk di kursi belakang.
Tangan dingin.
Di depan, suamiku duduk.
Di hadapannya… tiga orang.
Direktur operasional.
Direktur keuangan.
Komisaris.
Wajah mereka… keras.
“Kami sudah audit,” kata direktur keuangan.
Suaranya datar.
“Dan ditemukan… penggunaan dana perusahaan tanpa persetujuan.”
Jantungku berhenti.
Aku menoleh ke suamiku.
Dia diam.
“Jumlahnya?”
“Dua puluh miliar.”
Dunia tiba-tiba sunyi.
Aku nggak dengar apa-apa lagi beberapa detik.
Dua puluh miliar.
“Untuk apa dana itu digunakan?” tanya komisaris.
Suamiku menarik napas.
“Untuk proses pencairan aset.”
Ruangan hening.
Direktur operasional tertawa kecil.
Bukan lucu.
Lebih ke… tidak percaya.
“Aset apa?”
Suamiku menatap mereka.
“Harta lama. Legal. Sudah diverifikasi.”
Aku ingin berdiri.
Ingin tarik dia keluar.
Tapi kakiku kaku.
—
Sidang itu… nggak lama.
Keputusan juga nggak lama.
“Dengan ini, kami memberhentikan Anda dari jabatan direktur utama.”
Kalimat itu jatuh begitu saja.
Tanpa emosi.
Tanpa drama.
Tapi menghancurkan segalanya.
—
Di parkiran.
Aku berdiri.
Dia keluar pelan.
Tangannya kosong.
Nggak ada lagi orang yang menyapa.
Nggak ada lagi “Pak Dirut”.
Aku langsung mendekat.
“Mas…”
Dia nggak lihat aku.
“Aku cuma butuh waktu,” katanya pelan.
Aku nggak tahan.
“Mas, dua puluh miliar itu buat apa?!”
Dia menoleh.
Matanya merah.
“Untuk masa depan kita.”
Aku terdiam.
“Mas… kamu pakai uang perusahaan?”
Dia diam.
Dan itu… jawabannya.
—
Malam itu aku ngamuk.
Aku lempar bantal.
Aku nangis.
Aku teriak.
“MAS KAMU NGGAK MASUK AKAL!”
Dia cuma duduk.
Diam.
Aku jalan bolak-balik.
“Dua puluh miliar?! Kamu sadar nggak itu apa?!”
“Itu investasi,” katanya pelan.
Aku berhenti.
“Investasi apa?!”
“Pencairan.”
Aku ketawa.
Ketawa kosong.
“Pencairan apa?!”
Dia berdiri.
Matanya tajam.
“Yang akan bikin kita nggak perlu kerja lagi seumur hidup!”
Aku langsung diam.
Nggak percaya.
“Mas…”
Dia mendekat.
“Nanti kamu lihat.”
Tanganku gemetar.
Untuk pertama kalinya…
Aku takut sama suamiku sendiri.
—
Beberapa hari setelah itu…
Aku baru tahu satu hal.
Yang bikin semuanya berubah.
Aku lagi cari sesuatu di tasnya.
Bukan sengaja.
Cuma mau ambil charger.
Tapi ada amplop.
Coklat.
Agak tebal.
Aku buka.
Di dalamnya… dokumen.
Kertas resmi.
Ada logo bank.
Nama jelas.
Nominal…
Aku berhenti napas.
Angkanya… terlalu besar.
Nggak masuk akal.
Tanganku gemetar.
Aku duduk pelan.
Di bagian bawah…
Ada satu tulisan kecil.
“Untuk proses pencairan, diperlukan biaya administrasi lanjutan.”
Aku baca pelan.
Jumlahnya…
250 miliar.
HP-ku tiba-tiba bunyi.
Notifikasi masuk.
Dari nomor yang nggak aku kenal.
Satu pesan.
Singkat.
“Bu, tolong ingetin suaminya. Waktu kita sudah mepet.”
Aku menatap layar.
Jantungku berdegup keras.
Aku pelan-pelan melihat ke arah pintu kamar.
Kosong.
Tapi entah kenapa…
Aku merasa…
Ada sesuatu yang jauh lebih besar dari yang aku kira.
Dan suamiku…
Sudah terlalu jauh masuk ke dalamnya.
—
Aku baca ulang pesan itu.
Pelan.
Satu kata demi satu kata.
“Bu, tolong ingetin suaminya. Waktu kita sudah mepet.”
Nggak ada nama.
Nggak ada penjelasan.
Cuma itu.
Tanganku dingin.
Aku langsung berdiri. Jalan cepat ke pintu kamar. Buka.
Sepi.
Cuma suara TV dari ruang tamu.
Suamiku di sana.
Duduk. Nonton berita. Seolah… nggak ada apa-apa.
Aku genggam HP kuat-kuat.
“Mas.”
Dia nengok.
“Iya?”
Aku jalan mendekat. Duduk di depannya. Tatap matanya.
“Ini siapa?”
Aku sodorin HP.
Dia lihat.
Sebentar.
Lalu… ekspresinya berubah.
Bukan kaget.
Lebih ke… ketahuan.
“Teman,” jawabnya singkat.
Aku langsung panas.
“Teman mana yang ngomong kayak gini?”
Dia ambil HP dari tanganku.
“Nggak usah dibesar-besarin.”
Aku tarik napas dalam.
“Nggak usah dibesar-besarin?! Mas, ini orang minta kamu—”
“Bukan minta.”
Dia motong.
“Ini proses.”
Aku langsung diam.
Nada suaranya dingin.
Lebih dingin dari biasanya.
Aku duduk tegak.
“Mas, jujur sama aku. Ini semua… beneran ada?”
Dia menatapku.
Lama.
“Kalau nggak ada… aku nggak akan sejauh ini.”
Jawaban itu… nggak menenangkan.
Malah bikin makin takut.
—
Malam itu aku nggak bisa tidur.
Kipas angin berderit pelan.
Jam dinding bunyi tiap detik.
Anakku sesekali bergerak kecil di sampingku.
Aku menatap langit-langit.
Kepalaku penuh.
Angka.
20 miliar.
250 miliar.
Nama Angga.
Dan satu kalimat:
“Waktu kita sudah mepet.”
Mepet apa?
Kenapa harus buru-buru?
Kalau ini resmi… kenapa kayak dikejar-kejar?
—
Pagi.
Aku bangun lebih dulu.
Langsung ambil HP.
Cari nomor itu.
Nggak ada di kontak.
Aku tekan.
Telepon.
Nada sambung.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Diangkat.
“Halo.”
Suara laki-laki.
Tenang.
Aku menelan ludah.
“Ini siapa?”
Diam sebentar.
“Dengan siapa?”
Aku genggam HP lebih kuat.
“Istri dari Pak—”
Belum selesai aku ngomong.
Dia langsung potong.
“Oh… ibu.”
Nada suaranya berubah.
Lebih… santai.
Seolah dia sudah tahu.
Jantungku makin cepat.
“Kamu siapa?”
“Saya yang bantu suami ibu.”
Aku langsung berdiri.
“Bantu apa?”
“Proses.”
Kata itu lagi.
Proses.
Aku jalan ke jendela. Buka tirai.
Cahaya masuk.
Tapi dadaku makin gelap.
“Proses apa?”
Dia diam sebentar.
Lalu…
“Pencairan.”
Aku merinding.
“Uang itu ada, Bu.”
Aku nggak jawab.
“Dan suami ibu… sudah hampir sampai.”
Hampir sampai.
Aku tutup mata.
“Hampir sampai ke mana?”
Suara di seberang kecil.
Tapi jelas.
“Ke titik yang tidak bisa kembali.”
Aku langsung buka mata.
“Maaf maksudnya apa?!”
Tuut.
Telepon mati.
Aku langsung coba lagi.
Nomor tidak aktif.
—
Aku duduk di lantai.
HP jatuh di samping.
Kepalaku pusing.
Tanganku gemetar.
Kalimat itu muter terus.
“Titik yang tidak bisa kembali.”
Apa maksudnya?
—
Siang.
Aku nggak tahan.
Aku buka laptop.
Cari.
Semua tentang “pencairan aset besar”.
Tentang “harta lama”.
Tentang “biaya administrasi besar”.
Hasilnya…
Kosong.
Atau…
Penuh artikel penipuan.
Skema.
Modus.
Cerita orang kehilangan uang.
Aku scroll cepat.
Satu artikel berhentiin aku.
Judulnya:
“Modus Pencairan Dana Fiktif dengan Biaya Administrasi Bertahap”
Aku klik.
Baca cepat.
Setiap kalimat…
Kayak nyeritain hidupku sekarang.
Pelaku mengaku punya akses dana besar.
Korban diminta bayar biaya administrasi.
Setelah dibayar… muncul biaya lain.
Terus.
Dan terus.
Sampai uang korban habis.
Aku tutup laptop keras.
Nafasku nggak teratur.
“Enggak…”
Aku geleng.
“Enggak mungkin…”
Tapi…
20 miliar sudah hilang.
—
Sore.
Suamiku pulang.
Aku langsung berdiri di depan pintu.
“Mas, kita ngomong sekarang.”
Dia lepas sepatu.
Capek.
“Aku lagi capek.”
“Ini penting.”
Dia diam.
Lalu duduk.
Aku duduk di depannya.
“Mas… ini penipuan.”
Dia langsung menatapku.
“Jangan asal ngomong.”
“Aku baca! Aku cari! Semua sama!”
“Semua beda.”
“Mas, 20 miliar itu—”
“Itu bagian dari proses!”
Aku berdiri.
“Mas, kamu denger nggak sih?!”
Dia ikut berdiri.
“AKU DENGER!”
Kami saling tatap.
Tegang.
Anakku mulai menangis dari kamar.
Aku langsung berhenti.
Napas berat.
Dia juga diam.
—
Malam itu…
Dia nggak banyak bicara.
Cuma bilang satu hal sebelum tidur.
“Sebentar lagi selesai.”
Aku menatap punggungnya.
Dalam gelap.
Dan untuk pertama kalinya…
Aku nggak percaya dia.
—
Beberapa hari kemudian…
Aku menemukan sesuatu.
Kecil.
Tapi… aneh.
Di dompetnya.
Ada kartu.
Bukan kartu bank biasa.
Warnanya agak kusam.
Ada logo bank.
Nama bank besar.
Tapi…
Nomor kartunya… aneh.
Panjangnya nggak seperti kartu biasa.
Aku foto diam-diam.
—
Besoknya…
Aku ke bank.
Cabang utama.
Gedung tinggi.
AC dingin.
Aku duduk di depan customer service.
“Saya mau cek ini.”
Aku kasih foto.
Mbaknya lihat.
Keningnya berkerut sedikit.
“Sebentar ya, Bu.”
Dia pergi.
Aku tunggu.
Tanganku dingin.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Dia balik.
Bersama satu laki-laki.
Lebih tua.
Mungkin supervisor.
“Bu, ini kartunya dari mana?”
Aku menelan ludah.
“Suami saya.”
Dia duduk.
Lihat foto lagi.
Lalu…
Dia tarik napas pelan.
“Bu… ini bukan kartu resmi bank kami.”
Dunia langsung sunyi.
“Apa?”
“Format nomornya salah. Logo juga… agak berbeda.”
Aku langsung lemas.
“Jadi…?”
Dia menatapku.
Hati-hati.
“Ini kemungkinan besar… bukan produk kami.”
Aku berdiri pelan.
Kakiku goyang.
“Terus… dokumen ini?”
Aku keluarkan foto dokumen yang aku temukan.
Dia lihat.
Lama.
Lebih lama dari tadi.
Lalu dia angkat kepala.
“Bu…”
Suaranya pelan.
“Dokumen ini… terlihat resmi.”
Aku langsung nangis.
“Terus?!”
“Tapi… kami tidak menemukan data atas nama ini di sistem kami.”
Aku pegang meja.
“Jadi ini apa?!”
Dia diam.
Sebentar.
Lalu bilang pelan:
“Ini… dibuat sangat rapi.”
Aku langsung duduk lagi.
Kepalaku kosong.
Semua bercampur.
—
Saat aku keluar dari bank…
HP-ku bunyi lagi.
Nomor baru.
Pesan masuk.
“Bu, jangan ikut campur. Ini bukan urusan ibu.”
Tanganku gemetar.
Pesan kedua masuk.
“Kami cuma bantu suami ibu jadi orang besar.”
Aku langsung lihat sekitar.
Orang lalu-lalang.
Normal.
Tapi aku merasa…
Dia lihat aku.
Di mana?
Aku nggak tahu.
—
Malam itu…
Aku pulang dengan satu keputusan.
Aku harus hentikan ini.
Apa pun caranya.
Aku masuk rumah.
Sepi.
Lampu ruang tamu nyala.
Suamiku nggak ada.
Aku jalan ke kamar.
Kosong.
Ke dapur.
Kosong.
HP-ku bunyi.
Dari suamiku.
Satu pesan.
“Aku keluar sebentar. Ada meeting penting.”
Dadaku langsung dingin.
Aku balas cepat.
“Meeting sama siapa?”
Centang satu.
Nggak dibalas.
Aku duduk.
Nggak tenang.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Tiba-tiba…
Ada suara motor berhenti di depan rumah.
Aku langsung berdiri.
Jalan pelan ke jendela.
Ngintip.
Lampu jalan redup.
Ada dua orang turun dari mobil.
Mobil yang… aku kenal.
Cat kusam.
Bemper lecet.
Jantungku langsung berdegup keras.
Pintu depan diketuk.
Tok.
Tok.
Tok.
Aku diam.
Nggak bergerak.
Ketukan lagi.
Lebih keras.
“Bu… buka.”
Suara itu.
Aku kenal.
Angga.
Aku mundur satu langkah.
Tanganku dingin.
Dia lanjut ngomong.
“Kita perlu bicara. Sekarang.”
Aku lihat HP.
Suamiku masih belum balas.
Ketukan makin keras.
“Bu, ini penting. Kalau ibu nggak buka…”
Dia berhenti.
Lalu…
Suara itu berubah.
Lebih rendah.
Lebih dingin.
“Suami ibu bisa kehilangan semuanya.”
Aku berdiri di tengah ruang tamu.
Napas pendek.
Tanganku di dada.
Dan di detik itu…
Aku sadar satu hal.
Ini bukan cuma soal uang lagi.
Dan mungkin…
Sudah terlalu terlambat buat berhenti.
— STOP —
Aku berdiri di depan pintu.
Ketukan itu berhenti.
Tapi suara napas mereka… masih ada di luar.
Pelan.
Menunggu.
Tanganku meraba kunci.
Dingin.
Aku menelan ludah.
“Bu…” suara Angga lagi.
“Ini bukan buat ditakutin.”
Aku hampir ketawa.
Bukan buat ditakutin?
Dua puluh miliar hilang.
Suamiku dipecat.
Sekarang mereka datang ke rumah.
Malam.
Tanpa diundang.
Aku tarik napas.
Lalu… buka pintu.
—
Angga berdiri paling depan.
Senyumnya sama.
Tipis.
Di belakangnya satu orang lagi. Yang dulu pernah ikut ke kantor.
Matanya tajam.
Masuk tanpa izin.
Langsung duduk di sofa.
Seolah ini rumahnya.
Aku tetap berdiri.
“Nggak usah tegang, Bu,” kata Angga.
“Suami ibu mana?”
Aku diam.
Dia lihat sekeliling.
“Keluar ya?”
Aku masih diam.
Dia angguk kecil.
“Bagus. Jadi kita bisa bicara.”
Dadaku makin sesak.
“Bicara apa?”
Dia senyum.
“Soal yang ibu cari di bank.”
Jantungku berhenti sebentar.
Dia tahu.
Dia tahu aku ke bank.
Aku mundur satu langkah.
“Kalian ngikutin saya?”
Dia ketawa kecil.
“Bu… kita ini bukan orang sembarangan.”
Kalimat itu lagi.
Aku langsung potong.
“Kalian penipu.”
Ruangan langsung hening.
Orang di belakangnya maju sedikit.
Tapi Angga angkat tangan.
Tenang.
Dia lihat aku.
Lebih lama.
“Kalau kami penipu… suami ibu nggak akan sampai sejauh ini.”
Aku langsung jawab.
“Dia sampai sejauh ini karena dia percaya kalian.”
Angga miringkan kepala.
“Dan dia nggak salah.”
Aku ketawa.
Ketawa pahit.
“Dua puluh miliar itu salah, Mas.”
Dia diam.
Sebentar.
Lalu…
“Bu… itu baru awal.”
Aku berhenti.
“Awal apa?”
Dia condong ke depan.
Suaranya pelan.
“Titik yang ibu dengar di telepon.”
Darahku dingin.
Dia lanjut.
“Suami ibu sudah masuk ke sistem.”
Aku menatapnya.
“Dan sekarang… tinggal satu langkah lagi.”
“250 miliar?” suaraku pecah.
Dia senyum.
“Betul.”
Aku geleng cepat.
“Gila.”
“Tidak.”
Dia menunjuk ke arahku.
“Ini kesempatan.”
Aku maju satu langkah.
“Kesempatan buat apa?!”
“Untuk keluar dari hidup biasa.”
Aku langsung teriak.
“KAMI UDAH HIDUP LEBIH DARI CUKUP!”
Dia diam.
Matanya berubah.
“Dan lihat sekarang.”
Aku langsung terdiam.
Kena.
Telak.
—
Beberapa detik hening.
Lalu dia berdiri.
Pelan.
“Bu… saya nggak datang buat debat.”
Dia keluarkan sesuatu dari tasnya.
Map.
Tipis.
Ditaruh di meja.
“Ini yang suami ibu belum sempat jelaskan.”
Aku lihat map itu.
Nggak berani pegang.
Dia dorong pelan ke arahku.
“Buka.”
Aku diam.
Dia tatap aku.
“Buka.”
Tanganku gemetar.
Aku ambil.
Buka.
Isinya…
Foto.
Banyak.
Dokumen.
Dan satu hal yang bikin napasku berhenti.
Foto suamiku.
Duduk.
Di sebuah ruangan.
Bersama… mereka.
Tanggalnya… lama.
Bukan baru.
Bukan beberapa bulan.
Tahun lalu.
Bahkan… lebih.
Aku langsung lihat ke Angga.
“Apa ini?”
Dia santai.
“Awal perkenalan kami.”
Aku geleng.
“Nggak mungkin…”
“Kenapa nggak mungkin?”
“Dia bilang baru kenal kalian!”
Angga diam.
Lalu senyum kecil.
“Bu…”
Dia duduk lagi.
“Suami ibu sudah ikut kami… lebih dari yang ibu tahu.”
Kakiku lemas.
Aku pegang meja.
“Berapa lama?”
Dia jawab tanpa ragu.
“Hampir tiga tahun.”
Dunia langsung runtuh.
Tiga tahun.
Berarti…
Semua ini… bukan baru.
Bukan tiba-tiba.
Semua… sudah lama.
Dan aku…
Nggak tahu apa-apa.
—
Pintu tiba-tiba kebuka.
Keras.
Aku langsung menoleh.
Suamiku.
Berdiri di sana.
Napasnya berat.
Matanya langsung ke arah Angga.
“Kalian ngapain ke sini?”
Angga berdiri.
Santai.
“Jemput kamu.”
Suamiku langsung mendekat.
“Keluar.”
“Belum selesai.”
“Aku bilang keluar!”
Suara suamiku naik.
Pertama kali aku lihat dia segini marahnya.
Orang di belakang Angga maju.
Tapi Angga tahan lagi.
Dia lihat suamiku.
“Tinggal satu langkah.”
Suamiku diam.
Napasnya cepat.
“Kamu tahu itu.”
Aku langsung lihat suamiku.
Matanya…
Ragu.
Untuk pertama kalinya.
Ragu.
Aku maju.
“Mas…”
Dia nggak lihat aku.
Masih ke Angga.
“Kalian pergi sekarang.”
Angga mendekat sedikit.
Suaranya pelan.
“Kalau kamu berhenti sekarang… semua yang kamu keluarkan… hilang.”
Aku lihat suamiku.
Tangannya mengepal.
“Dan kalau lanjut…” lanjut Angga, “kamu dapat semuanya.”
Hening.
Sunyi.
Cuma suara kipas angin.
Dan napas kami.
Aku maju lagi.
Pegang tangan suamiku.
Dingin.
“Mas… pulang.”
Pelan.
Dia akhirnya lihat aku.
Matanya…
Capek.
Bingung.
Hancur.
Aku bisik pelan.
“Ini penipuan.”
Dia tutup mata.
Sebentar.
Lalu buka lagi.
Dan di detik itu…
Aku tahu.
Dia mulai sadar.
—
Angga langsung ngomong lagi.
Cepat.
“Jangan dengar dia.”
Aku langsung marah.
“DIEM!”
Semua kaget.
Aku berdiri di depan suamiku.
Tatap Angga.
“Kalian keluar sekarang.”
Dia lihat aku.
Lama.
Lalu…
Ketawa kecil.
“Baik, Bu.”
Dia ambil map.
Masukin lagi ke tas.
“Pikirkan baik-baik.”
Dia jalan ke pintu.
Berhenti sebentar.
Lihat suamiku.
“Waktu kita… tinggal sedikit.”
Lalu keluar.
Pintu tertutup.
—
Rumah kembali sunyi.
Aku langsung duduk.
Lemas.
Suamiku berdiri.
Masih di tempat.
Aku lihat dia.
“Mas…”
Dia pelan-pelan duduk.
Menunduk.
Lama.
Sangat lama.
Lalu…
Satu kalimat keluar.
Pelan.
“Aku… takut.”
Dadaku langsung sesak.
Aku geser mendekat.
“Takut apa?”
Dia angkat kepala.
Matanya merah.
“Kalau ini benar… aku kehilangan semuanya.”
Aku genggam tangannya.
“Kalau ini salah… kita kehilangan semuanya.”
Dia diam.
Dan untuk pertama kalinya…
Dia nggak punya jawaban.
—
HP-ku bunyi.
Pesan masuk.
Dari nomor yang sama.
Satu kalimat.
“Besok jam 10 pagi. Terakhir.”
Aku lihat suamiku.
Dia juga lihat.
Kami saling tatap.
Dan kami tahu…
Besok…
Semuanya akan ditentukan.
Jam 9:12 pagi.
Kami duduk di mobil.
Mesin hidup.
Tapi nggak jalan.
Suamiku pegang setir.
Diam.
Tangannya gemetar.
Aku di samping.
Pegang tas.
Isinya… semua sisa uang kami.
Tabungan terakhir.
Kalau ini hilang…
Kami benar-benar nol.
—
“Mas…” aku pelan.
Dia nggak jawab.
“Kalau ini salah…”
Dia potong.
“Aku tahu.”
Sunyi lagi.
—
Jam 9:40.
Kami sampai.
Gedung tua.
Bukan kantor bank.
Bukan gedung besar.
Lebih ke… ruko.
Catnya pudar.
Aku langsung merasa nggak enak.
“Mas… ini tempatnya?”
Dia menelan ludah.
“Iya.”
Aku pegang tangannya.
“Kita masih bisa balik.”
Dia lihat aku.
Lama.
Sangat lama.
Lalu…
Dia buka pintu mobil.
Keluar.
Aku ikut.
—
Di dalam…
Ruangan sempit.
AC kecil.
Meja panjang.
Dan…
Angga.
Sudah duduk.
Senyum.
“Datang juga.”
Aku langsung duduk.
Nggak buang waktu.
“Ini terakhir.”
Dia angguk.
“Betul.”
Suamiku duduk di sebelahku.
Tas di pangkuannya.
Tangannya masih gemetar.
Angga keluarkan laptop.
Buka.
Tunjukkan layar.
Angka.
Besar.
Sangat besar.
Aku langsung pusing.
“Ini dana itu,” katanya.
“Sudah siap cair.”
Aku tahan napas.
“Dengan satu syarat.”
Aku langsung jawab.
“250 miliar.”
Dia senyum.
“Betul.”
Aku langsung berdiri.
“Mas, kita pulang.”
Suamiku diam.
Nggak bergerak.
Aku tarik tangannya.
“Mas!”
Dia masih lihat layar.
Seolah… terhipnotis.
Aku panik.
“Mas, lihat aku!”
Dia akhirnya menoleh.
Aku pegang wajahnya.
“Ini bukan nyata.”
Dia gemetar.
“Aku… sudah sejauh ini…”
Air matanya jatuh.
“Aku nggak bisa kosong…”
Aku langsung peluk dia.
“Lebih baik kosong daripada hancur.”
Dia diam.
Nangis.
Untuk pertama kalinya… benar-benar nangis.
—
Angga berdiri.
Nada suaranya berubah.
“Kalau kalian keluar sekarang…”
Kami nggak peduli.
Masih saling pegang.
“Semua yang sudah kalian keluarkan… hilang.”
Aku jawab tanpa lihat dia.
“Sudah hilang dari awal.”
Hening.
—
Beberapa detik.
Lalu suara kursi digeser.
Langkah kaki.
Mendekat.
“Baik.”
Suara Angga.
Dingin.
“Kalau begitu… kita selesai.”
Aku nggak jawab.
Aku cuma pegang suamiku.
Kuat.
—
Kami berdiri.
Ambil tas.
Jalan keluar.
Nggak lihat belakang.
Pintu terbuka.
Cahaya masuk.
Dan di detik itu…
Aku merasa…
Kami benar-benar kehilangan segalanya.
—
Di mobil.
Sunyi.
Suamiku menatap depan.
Kosong.
“Aku bodoh ya…” katanya pelan.
Aku geleng.
“Kamu percaya.”
Dia ketawa kecil.
Pahit.
“Bedanya apa…”
Aku pegang tangannya.
“Kamu masih berhenti.”
Dia diam.
Air matanya jatuh lagi.
“Maaf…”
Aku peluk dia.
“Udah.”
—
HP-ku bunyi.
Pesan masuk.
Aku lihat.
Nomor itu lagi.
Tapi kali ini…
Bukan ancaman.
Cuma satu kalimat.
“Terima kasih sudah tidak lanjut.”
Aku langsung merinding.
Kenapa… terima kasih?
—
Aku mau balas.
Tapi…
Pesan kedua masuk.
“Kalau lanjut… kalian akan diminta lagi. Dan lagi. Sampai habis.”
Tanganku gemetar.
Pesan ketiga.
“Seperti yang lain.”
Aku lihat suamiku.
Dia juga lihat.
Dan di detik itu…
Kami benar-benar sadar.
Kami… hampir habis.
—
Aku buka lagi pesan pertama.
“Terima kasih sudah tidak lanjut.”
Siapa sebenarnya… yang kirim ini?
Kenapa dia tahu?
Dan kenapa… dia seperti… menolong kami?
Aku lihat suamiku.
Dia pelan bilang:
“Mungkin… ada yang mau kita berhenti.”
Aku diam.
Dan untuk pertama kalinya…
Aku merasa…
Masih ada jalan.
Dua minggu setelah itu.
Rumah kami sepi.
Bukan sepi karena tenang.
Sepi karena… kosong.
Nggak ada mobil di garasi.
Nggak ada barang mahal.
Nggak ada lagi suara telepon bisnis.
Cuma suara sendal di lantai.
Dan kipas angin tua.
—
Suamiku duduk di lantai.
Depan laptop.
Bukan lagi pakai kemeja mahal.
Cuma kaos biasa.
Dia lagi ngetik.
Pelan.
Serius.
Aku dari dapur.
Bawa dua gelas teh.
Taruh di depannya.
Dia lihat aku.
Senyum kecil.
“Terima kasih.”
Aku duduk di sampingnya.
“Kerjaan?”
Dia angguk.
“Mulai dari nol.”
Aku tarik napas.
“Nggak apa-apa.”
Dia lihat aku.
Lama.
“Maaf ya…”
Aku geleng.
“Udah lewat.”
—
HP-nya bunyi.
Kami langsung saling lihat.
Refleks.
Tegang.
Dia ambil.
Lihat.
Lalu…
Dia tarik napas panjang.
“Dari nomor baru.”
Aku langsung kaku.
“Angga?”
Dia buka pesan.
Baca.
Diam.
Aku nggak tahan.
“Apa?”
Dia kasih HP ke aku.
Aku baca.
“Kalau mau kerja beneran, hubungi nomor ini. Jangan ulang kesalahan yang sama.”
Aku mengernyit.
Nomor baru lagi.
Bukan Angga.
Bukan yang kemarin.
Aku lihat suamiku.
“Kita percaya?”
Dia diam.
Lama.
Lalu…
“Sekali lagi… kita cek.”
—
Kami datang ke alamat itu.
Kantor kecil.
Tapi rapi.
Orang-orang kerja.
Normal.
Nggak ada yang aneh.
Seorang pria menyambut kami.
“Mas, dari Pak Arief ya?”
Suamiku mengangguk.
Aku langsung tanya.
“Pak Arief siapa?”
Pria itu senyum.
“Yang ngasih nomor ini.”
Aku lihat suamiku.
Dia juga bingung.
—
Kami duduk.
Ngobrol.
Ternyata…
Itu perusahaan jasa kecil.
Masih berkembang.
Butuh orang.
Butuh pengalaman.
Dan suamiku…
Punya itu.
—
Seminggu kemudian.
Suamiku mulai kerja.
Nggak besar.
Nggak mewah.
Tapi… halal.
Jelas.
Nyata.
—
Malam.
Kami duduk di teras.
Anak-anak tidur.
Angin pelan.
Suara motor lewat gang.
Aku lihat dia.
“Mas…”
Dia nengok.
“Aku bangga kamu berhenti.”
Dia diam.
Lalu senyum.
“Kamu yang bikin aku berhenti.”
Aku geleng.
“Kamu sendiri.”
—
Dia tarik napas.
Lihat langit.
“Aku baru sadar satu hal.”
“Apa?”
“Semua yang cepat… biasanya palsu.”
Aku ketawa kecil.
“Terlambat ya sadarnya.”
Dia ikut ketawa.
“Iya.”
—
HP-ku bunyi.
Nomor lama.
Yang pernah kirim pesan waktu itu.
Aku langsung deg-degan.
Buka.
Satu pesan.
“Bu, jaga suaminya baik-baik. Dia orang baik.”
Aku langsung berdiri.
Balas cepat.
“Anda siapa?”
Centang dua.
Dibaca.
Lama.
Lalu…
Balasan masuk.
“Saya juga pernah hampir kehilangan semuanya.”
Aku terdiam.
“Dan tidak ada yang memperingatkan saya.”
Air mataku langsung jatuh.
Aku duduk lagi.
Pelan.
—
Aku kasih HP ke suamiku.
Dia baca.
Diam.
Lama.
Lalu…
Dia cuma bilang pelan:
“Kita diselamatkan orang yang nggak kita kenal.”
Aku angguk.
—
Beberapa bulan berlalu.
Hidup kami… sederhana.
Bangun pagi.
Kerja.
Masak.
Ngurus anak.
Kadang capek.
Kadang pusing.
Tapi…
Tenang.
Nggak ada lagi telepon aneh.
Nggak ada lagi janji triliunan.
—
Suatu sore.
Kami jalan kaki di depan rumah.
Anak kami lari-lari kecil.
Ketawa.
Aku lihat suamiku.
Dia lihat anak kami.
Matanya lembut.
“Dulu aku pikir bahagia itu angka besar.”
Aku genggam tangannya.
“Sekarang?”
Dia lihat aku.
“Sekarang… cukup kayak gini.”
Aku senyum.
—
Aku lihat ke depan.
Jalan kecil.
Anak kami lari.
Tertawa.
Dan untuk pertama kalinya…
Setelah semua yang terjadi…
Dadaku ringan.
Tenang.
Akhirnya…
Kami pulang.
Bukan ke rumah mewah.
Tapi ke hidup yang benar.
Dan kali ini…
Kami nggak akan kehilangan lagi.