AKU MENITIPKAN ANAKKU… DAN AKU PIKIR AKU MASIH IBUNYA. SAMPAI 18 TAHUN KEMUDIAN… DIA MEMANGGILKU “BU”… TANPA DIA TAU, AKU IBU KANDUNGNYA.
—
Kipas angin di ruang tamu berputar pelan.
“krek… krek… krek…”
Bunyinya seperti sesuatu yang dipaksa hidup.
Lantai keramik dingin. Retaknya memanjang sampai ke kaki kursi plastik tempat aku duduk.
Di pangkuanku… bayi itu tertidur.
Napasnya kecil. Teratur.
Aku tidak berani bergerak.
Seolah kalau aku bergerak sedikit saja… dia akan bangun… dan semuanya jadi lebih sulit.
—
“Dia lagi tidur ya…”
Suara suamiku dari pintu.
Pelan. Hati-hati.
Aku tidak menjawab.
Aku hanya melihat wajah anakku.
Pipinya bulat.
Bibirnya kecil.
Dan ada bekas merah di keningnya… karena terlalu sering aku cium.
—
“Bu…”
Suara lain masuk.
Lebih halus. Lebih rapi.
Langkah sepatu masuk ke dalam rumah.
Bersih.
Tidak seperti lantai kami yang sedikit lengket.
Aku tidak perlu menoleh.
Aku sudah tahu.
Dia datang.
—
Perempuan itu berdiri di ruang tamu.
Wangi parfumnya langsung terasa. Tajam. Mahal.
Berbeda dengan bau minyak kayu putih yang menempel di bajuku.
“Sudah siap?” tanyanya.
Tenang.
Seolah ini hal biasa.
—
Aku tetap diam.
Tanganku refleks mengencang di tubuh bayi itu.
—
Suamiku berdiri di samping pintu.
Wajahnya pucat.
“Bu… mungkin kita duduk dulu,” katanya.
Perempuan itu tersenyum tipis.
Dia duduk.
Jarak kami… tidak sampai dua meter.
—
Aku bisa melihat jelas gelang emas di tangannya.
Jam di pergelangan kirinya.
Kukunya bersih.
Tidak ada retak.
—
Rumah ini…
tiba-tiba terasa semakin sempit.
—
“Anaknya sehat?” tanyanya.
Aku menatapnya.
Pertama kali sejak dia masuk.
“Sehat.”
Suaraku serak.
—
Dia mengangguk pelan.
“Bagus.”
—
Sunyi.
—
Kipas angin terus berbunyi.
“krek… krek…”
Dari dapur, air menetes dari keran.
“tik… tik… tik…”
—
Tidak ada yang bicara.
—
Sampai akhirnya…
“Kalau begitu… kita mulai saja ya.”
—
Aku tidak ingat siapa yang pertama kali mengusulkan ini.
Mungkin dia.
Mungkin suamiku.
Mungkin aku.
Atau mungkin… keadaan yang memaksa.
—
Waktu itu…
listrik sudah hampir diputus.
Tagihan menumpuk.
Warung kecil kami sepi.
Orang-orang lebih suka ke minimarket yang baru buka di ujung jalan.
Lampunya terang.
AC-nya dingin.
Diskonnya banyak.
—
Suamiku pulang setiap hari dengan wajah kosong.
Duduk.
Diam.
Lihat lantai.
—
“Gue sudah cari kerja ke mana-mana…” katanya suatu malam.
Aku duduk di kasur tipis.
Perutku besar.
Delapan bulan.
—
“Ditolak semua.”
—
Aku tidak bertanya kenapa.
Aku sudah tahu.
—
Malam itu hujan deras.
Air masuk dari sela pintu.
Aku berdiri sambil menahan punggung.
Sakit.
Berat.
—
“Kalau… nanti anak ini lahir…” suara suamiku pelan.
Aku menoleh.
Dia duduk di lantai.
Bersandar ke tembok.
—
“…kita makan apa?”
—
Pertanyaan itu menggantung.
Tidak ada jawaban.
Hanya suara hujan.
—
Dan napas kami yang sama-sama berat.
—
Dua minggu setelah itu…
aku melahirkan.
—
Badan masih lemas.
Perut kosong.
Tapi dada terasa penuh.
—
Bayi itu di sampingku.
Dibungkus kain tipis.
—
Perempuan itu datang pertama kali…
di klinik.
—
Dia berdiri di dekat pintu.
Tidak langsung mendekat.
Hanya melihat.
—
“Cantik…” katanya pelan.
—
Tanganku langsung memeluk bayiku lebih erat.
Refleks.
—
Dia tersenyum.
“Tenang, Bu. Saya tidak akan mengambilnya sekarang.”
—
Kalimat itu…
harusnya menenangkan.
—
Tapi justru membuat dadaku semakin sesak.
—
Dia datang lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.
—
Setiap datang…
dia tidak pernah memaksa.
—
Dia membawa susu.
Popok.
Obat.
Uang.
—
Dia selalu meletakkannya di meja.
“Ini bantu sedikit ya, Bu.”
—
Sedikit.
Jumlahnya lebih besar dari penghasilan kami sebulan.
—
Suatu sore…
matahari turun pelan.
—
Suamiku duduk di depanku.
—
“Dia serius,” katanya.
—
Aku diam.
Aku tahu siapa yang dia maksud.
—
“Dia tidak bisa punya anak.”
—
Aku tetap diam.
—
“Dia mau ngurus anak kita.”
—
Tanganku langsung mencengkeram kain bayi.
—
“Titip,” katanya cepat.
“Bukan diambil.”
—
Aku tertawa kecil.
Suara yang keluar… aneh.
—
“Dititip?” aku ulang.
—
“Iya. Kita masih bisa lihat.”
—
Aku menatapnya.
Lama.
—
“Dan nanti kalau kita sudah mampu… kita ambil lagi.”
—
Kalimat itu terdengar seperti janji.
—
Tapi rasanya…
seperti sesuatu yang sudah tidak mungkin.
—
Hari-hari berikutnya berubah.
—
Aku mulai memperhatikan hal-hal kecil.
—
Cara perempuan itu memegang anakku.
Terlalu hati-hati.
Terlalu penuh.
—
Cara dia melihat…
seperti sudah menganggap miliknya.
—
Aku tidak suka itu.
—
Tapi aku tidak bisa menolak…
ketika dia datang membawa sesuatu yang kami tidak punya.
—
Sampai satu malam…
—
Listrik benar-benar padam.
—
Rumah gelap.
—
Anakku menangis.
—
Tangis kecil.
Tapi terus.
—
Aku gendong.
Aku tepuk pelan.
—
Perutku kosong.
Seharian aku tidak makan.
—
“Dia lapar…” kataku.
—
Suamiku diam.
—
Aku tahu dia dengar.
—
Tapi dia tidak tahu harus bagaimana.
—
Tangis itu makin keras.
—
Aku buka lemari kecil.
Kosong.
—
Tidak ada susu.
Tidak ada apa-apa.
—
Aku duduk lagi.
—
“Maaf… maaf…” aku bisik.
—
Air mataku jatuh ke pipinya.
—
Dia menangis semakin keras.
—
Malam itu…
untuk pertama kalinya…
aku berpikir…
—
Mungkin…
dia benar.
—
Mungkin…
anak ini akan lebih baik di tempat lain.
—
Pagi harinya…
perempuan itu datang lagi.
—
Aku tidak menyapanya.
—
Aku hanya duduk.
Anakku di pangkuan.
—
Dia melihat wajahku.
—
Mungkin dia tahu.
—
“Bu…” katanya pelan.
—
Aku angkat kepala.
—
“Kalau Ibu belum siap… tidak apa-apa.”
—
Aku menatapnya.
—
“Kalau saya titip…” suaraku pelan.
—
Dia diam sebentar.
—
“Bisa saya lihat dia lagi nanti?”
—
Dia mengangguk.
“Bisa.”
—
“Sering?”
—
“Iya.”
—
Aku menelan ludah.
—
“Dia tetap anak saya?”
—
Perempuan itu menatapku.
—
“Selamanya.”
—
Hari ini…
aku duduk di kursi plastik.
—
Dan dia… di depanku.
—
“Boleh saya gendong?” tanyanya.
—
Tanganku mengencang.
—
Beberapa detik.
—
Lalu…
aku menyerahkan bayiku.
—
Dia menerima dengan hati-hati.
—
Dia tersenyum.
Matanya berkaca-kaca.
—
“Anak pintar…” bisiknya.
—
Tanganku kosong sekarang.
—
Dingin.
—
“Kalau begitu… saya pamit dulu.”
—
“Sekarang?”
—
“Iya.”
—
Cepat.
Terlalu cepat.
—
“Tunggu!”
—
Aku berdiri.
Hampir jatuh.
—
Aku ambil lagi anakku.
Kupeluk.
Erat.
—
Aku cium keningnya berkali-kali.
—
“Maaf… maaf…”
—
Aku tidak tahu untuk siapa.
—
Beberapa detik.
—
Lalu…
aku menyerahkannya lagi.
—
Kali ini…
tanpa kata.
—
Dia keluar.
—
Suamiku ikut.
—
Pintu tertutup.
—
Suara mobil menjauh.
—
Sunyi.
—
Aku duduk.
—
Tanganku kosong.
—
Dan untuk pertama kalinya…
tidak ada lagi napas kecil di rumah ini.
—
18 tahun berlalu.
—
Hujan turun pelan.
—
Aku berdiri di bawah atap warung kecil.
—
Baju basah.
Sandal kotor.
—
Di dalam…
televisi menyala.
—
“Bu, mau duduk?”
—
Aku menoleh.
—
Seorang pemuda berdiri di belakang meja.
—
Wajahnya bersih.
Rambut rapi.
—
Matanya…
entah kenapa…
terasa familiar.
—
“Tidak apa-apa.”
—
“Gapapa, Bu. Ini kursinya kosong.”
—
Aku duduk.
—
Dia menuang teh.
—
“Minum, Bu.”
—
“Tidak usah…”
—
“Gratis.”
—
Aku ambil.
Hangat.
—
Hujan masih turun.
—
“Sering lewat sini, Bu?”
—
“Enggak.”
—
“Kebetulan aja?”
—
“Iya.”
—
Dia tersenyum.
—
Sunyi lagi.
—
Aneh…
aku merasa nyaman.
—
Padahal baru kenal.
—
“Bu…”
—
“Iya?”
—
Dia ragu.
—
“Kenapa ya… saya lihat Ibu… rasanya kayak… sudah kenal lama.”
—
Jantungku berhenti.
—
Aku menatap wajahnya.
Lebih dekat.
—
Dan di situ…
aku melihat sesuatu.
—
Garis rahangnya.
Cara dia menatap.
—
Persis.
—
Persis seperti…
ayahnya.
—
Tanganku gemetar.
—
Dan untuk pertama kalinya…
setelah 18 tahun…
—
aku sadar…
—
aku tidak pernah benar-benar tahu…
siapa perempuan…
yang membawa anakku pergi hari itu.
—
Hujan masih turun.
Tidak deras.
Tapi cukup untuk menahan orang-orang tetap di tempat.
Aku duduk kaku di kursi kayu.
Gelas teh di tanganku mulai dingin.
Pemuda itu masih berdiri di depanku.
Matanya tidak lepas dari wajahku.
—
“Maaf ya, Bu… kalau lancang.”
—
Aku cepat-cepat menggeleng.
“Enggak.”
Suaraku keluar lebih pelan dari yang aku kira.
—
Dia tersenyum.
Lalu duduk di bangku kecil di depan meja.
Jarak kami sekarang lebih dekat.
Terlalu dekat.
—
“Cuma… aneh aja,” katanya sambil menggaruk tengkuk.
“Kayak… pernah lihat.”
—
Aku menunduk.
Menatap teh.
Permukaannya bergetar sedikit.
Bukan karena angin.
Karena tanganku.
—
“Nama Ibu siapa?” tanyanya.
—
Aku terdiam.
Beberapa detik.
—
Nama.
Pertanyaan paling sederhana.
Tapi rasanya… berat sekali untuk dijawab.
—
“Rani,” kataku akhirnya.
Bohong.
Nama itu keluar begitu saja.
—
Dia mengangguk.
“Rani…”
Seolah mencoba mengingat.
—
“Nama saya Arga, Bu.”
—
Arga.
Nama itu masuk ke telingaku.
Berhenti di situ.
Tidak turun.
Tidak bisa dicerna.
—
Dulu…
aku punya nama untuk anakku.
Aku dan suamiku yang pilih.
Kami tulis di kertas kecil.
Kami tempel di dinding dekat kasur.
Supaya tidak lupa.
—
Tapi hari itu…
aku tidak pernah memastikan…
apakah nama itu tetap dipakai.
—
“Arga…” aku mengulang pelan.
—
“Iya, Bu.”
Dia tersenyum.
—
Senyum itu…
anehnya…
terasa dekat.
—
“Kerja di sini?” tanyaku.
—
“Iya. Ini warung punya orang tua saya.”
—
Orang tua.
Kata itu menusuk pelan.
—
“Dari kecil di sini?” tanyaku lagi.
Suaraku berusaha terdengar biasa.
—
Dia mengangguk.
“Iya.”
—
Jawaban cepat.
Tanpa ragu.
—
Dadaku sedikit mengencang.
—
“Orang tua…” aku berhenti sebentar.
“…masih lengkap?”
—
Dia mengangguk lagi.
“Lengkap, Bu.”
—
Aku tersenyum tipis.
Berusaha.
—
“Bagus…”
—
Sunyi lagi.
—
Hujan mulai mereda.
—
Tapi aku tidak berdiri.
Aku tidak mau pergi.
Belum.
—
“Bu Rani…” dia memanggil lagi.
—
“Iya?”
—
Dia terlihat ragu.
Seperti ada sesuatu yang ingin dia tanyakan.
—
“Ibu… punya anak?”
—
Pertanyaan itu…
langsung menghantam.
—
Tanganku otomatis mencengkeram gelas.
—
Aku tidak langsung menjawab.
—
Punya.
Atau tidak.
—
Aku menelan ludah.
—
“Pernah,” jawabku pelan.
—
Dia sedikit mengernyit.
“Maksudnya?”
—
Aku menggeleng.
“Enggak apa-apa.”
—
Dia tidak memaksa.
—
“Kalau saya…” dia tersenyum kecil.
“Saya anak tunggal.”
—
Aku menatapnya.
—
Anak tunggal.
—
Perempuan itu dulu bilang…
dia tidak bisa punya anak.
—
Tanganku mulai dingin.
—
“Sejak kecil… saya dirawat orang tua saya,” lanjutnya.
—
Kalimat itu terdengar normal.
Sangat normal.
—
Tapi di telingaku…
setiap kata terasa seperti potongan puzzle.
—
“Orang tua saya baik banget,” katanya lagi.
“Saya enggak pernah kekurangan apa-apa.”
—
Aku mengangguk pelan.
—
Di dalam dadaku…
ada rasa lega.
Dan sakit.
Bersamaan.
—
“Dari kecil… saya sering sakit, Bu.”
—
Aku langsung menatap.
—
“Kenapa?” tanyaku cepat.
—
Dia mengangkat bahu.
“Katanya dulu waktu bayi… sempat kurang gizi.”
—
Dunia seperti berhenti sebentar.
—
Suara hujan hilang.
Suara TV hilang.
—
Hanya kalimat itu…
yang berputar di kepalaku.
—
Kurang gizi.
—
Malam itu.
Rumah gelap.
Anakku menangis.
Aku tidak punya susu.
—
Tanganku gemetar.
—
“Sekarang sudah sehat kan?” tanyaku.
Suaraku hampir tidak terdengar.
—
Dia mengangguk.
“Iya. Sekarang malah jadi kuat, kata dokter.”
—
Aku tersenyum kecil.
Dipaksa.
—
“Syukurlah…”
—
Dia tertawa kecil.
—
“Tapi Ibu tahu enggak…”
—
Aku mengangkat kepala.
—
“Dulu kata Mama saya… saya ini anak yang ‘ditunggu’ banget.”
—
Mama.
—
“Ibu saya katanya… lama banget enggak punya anak.”
—
Aku menahan napas.
—
“Terus… tiba-tiba saya datang.”
Dia tersenyum.
—
“Tiba-tiba.”
—
Kata itu…
terasa aneh.
—
“Tiba-tiba dari mana?” tanyaku.
Pelan.
Hati-hati.
—
Dia menggeleng.
“Enggak tahu juga. Mama saya enggak pernah cerita detail.”
—
Aku menatapnya.
—
“Cuma bilang… saya ini ‘hadiah’.”
—
Hadiah.
—
Tanganku semakin dingin.
—
“Kadang saya mikir…” dia tertawa kecil.
“Jangan-jangan saya anak angkat.”
—
Dia mengatakannya sambil tersenyum.
Seperti bercanda.
—
Tapi di dadaku…
sesuatu runtuh.
—
“Pernah tanya?” suaraku pelan.
—
Dia menggeleng.
“Enggak enak, Bu.”
—
Aku mengangguk.
—
“Iya…”
—
Sunyi lagi.
—
Hujan benar-benar berhenti.
—
Orang-orang mulai lewat di depan warung.
Motor lewat.
Air menetes dari atap.
—
Tapi aku masih duduk.
—
Aku tidak siap pergi.
—
“Bu…” dia memanggil lagi.
—
“Iya?”
—
“Kok saya nyaman ya ngobrol sama Ibu?”
—
Aku terdiam.
—
Kalimat itu…
terlalu sederhana.
—
Tapi langsung menusuk.
—
“Aneh,” lanjutnya.
“Biasanya saya enggak gampang cerita ke orang.”
—
Aku tersenyum kecil.
—
“Kadang… memang ada orang yang rasanya dekat… tanpa alasan,” kataku.
—
Dia mengangguk.
—
“Iya… mungkin.”
—
Dia melihat jam di tangannya.
—
“Oh iya, Bu… tunggu sebentar ya.”
—
Dia berdiri.
Masuk ke dalam.
—
Aku sendirian di kursi itu.
—
Tanganku masih gemetar.
—
Kepalaku penuh.
—
Arga.
Anak tunggal.
Kurang gizi waktu bayi.
Orang tua tidak bisa punya anak.
Datang “tiba-tiba”.
—
Semua potongan itu…
terlalu pas.
—
Tapi…
tidak ada bukti.
—
Tidak ada yang benar-benar pasti.
—
“Jangan… jangan nebak-nebak,” aku berbisik ke diri sendiri.
—
Beberapa detik kemudian…
dia kembali.
—
Di tangannya… ada dompet.
—
Dia duduk lagi di depanku.
—
“Bu…”
—
“Iya?”
—
Dia membuka dompet itu.
Pelan.
—
“Aneh ya… saya enggak tahu kenapa…”
—
Tanganku langsung kaku.
—
“Tapi… saya pengen nunjukin ini ke Ibu.”
—
Dia menarik sesuatu dari dalam dompet.
—
Sebuah foto kecil.
Sudah agak kusam.
—
Dia menyodorkannya ke aku.
—
“Ini foto saya waktu bayi,” katanya.
—
Tanganku gemetar saat menerima.
—
Aku melihat foto itu.
—
Seorang bayi kecil.
Dibungkus kain.
—
Di keningnya…
—
ada bekas merah kecil.
—
Persis.
—
Persis di tempat yang sama…
tempat aku dulu sering mencium.
—
Napas aku langsung berhenti.
—
Dan di belakang foto itu…
tertulis dengan tinta biru yang mulai pudar:
—
“Untuk Arga, dari Mama.”
—
Tulisan tangan itu…
—
bukan tulisanku.
—
Tanganku membeku.
Foto itu masih di tanganku.
Kertasnya tipis. Sudutnya sudah melengkung.
Tapi wajah bayi itu…
jelas.
—
Bekas merah di keningnya.
Persis.
Tidak mungkin salah.
—
Aku menelan ludah.
Tenggorokanku kering.
—
“Lucu ya, Bu?” suara Arga pelan.
—
Aku tidak langsung menjawab.
—
“Dari kecil katanya saya sudah rewel,” dia tertawa kecil.
—
Aku masih menatap foto itu.
Tidak berkedip.
—
Di belakang foto…
tulisan itu.
“Untuk Arga, dari Mama.”
—
Bukan tulisanku.
—
Aku mengangkat kepala.
Menatap Arga.
—
“Ini… dari mana?” suaraku hampir tidak keluar.
—
Dia mengangkat bahu.
“Dari Mama saya.”
—
Aku mengangguk pelan.
—
“Dikasih kapan?” tanyaku.
—
“Dari dulu. Katanya biar saya ingat… saya dulu sekecil itu.”
Dia tersenyum.
—
Aku memaksakan senyum.
—
Tanganku masih gemetar.
—
“Bu…” Arga memperhatikan.
“Ibu kenapa?”
—
Aku cepat-cepat menggeleng.
“Enggak apa-apa.”
—
Aku mengembalikan foto itu.
Pelan.
—
Jangan sampai dia lihat tanganku gemetar.
—
“Maaf ya, Bu. Saya malah jadi cerita macam-macam.”
—
“Enggak,” kataku cepat.
“Tadi… kamu bilang… kamu sering sakit waktu kecil?”
—
Dia mengangguk.
—
“Iya. Mama bilang dulu saya sempat dirawat lama.”
—
“Di mana?” tanyaku.
—
Dia berpikir sebentar.
—
“Rumah sakit… apa ya namanya…”
Dia mengerutkan kening.
—
“…RS Kasih Ibu.”
—
Jantungku seperti ditarik.
—
RS itu…
tempat aku melahirkan.
—
Tanganku langsung mencengkeram ujung kursi.
—
“Kenapa, Bu?” Arga mulai terlihat khawatir.
—
Aku menggeleng cepat.
“Enggak… cuma… saya pernah dengar.”
Bohong lagi.
—
Dia mengangguk.
—
“Iya. Kata Mama… saya hampir enggak selamat waktu itu.”
—
Dunia seperti mengecil.
—
“Kenapa?” tanyaku.
—
“Kurang gizi. Terus… ada infeksi juga.”
—
Aku menutup mata sebentar.
—
Malam itu.
Rumah gelap.
Tangis.
Perut kosong.
—
Aku membuka mata lagi.
—
Arga masih di depanku.
Hidup.
Sehat.
—
Dan tiba-tiba…
aku tidak tahu harus bersyukur… atau hancur.
—
“Bu Rani…” suaranya pelan.
—
“Iya?”
—
“Ibu yakin enggak apa-apa?”
—
Aku tersenyum.
Dipaksa.
—
“Iya. Ibu cuma… kedinginan.”
—
Padahal tidak.
—
“Sebentar ya, Bu. Saya ambilkan jaket.”
—
Dia berdiri lagi.
Masuk ke dalam.
—
Aku langsung menunduk.
Tanganku menutup wajah.
—
“Nggak mungkin…” aku berbisik.
—
Tapi semua terlalu pas.
Terlalu tepat.
—
Nama.
Cerita.
Rumah sakit.
Bekas di kening.
—
Tidak mungkin ini kebetulan.
—
Langkah kaki terdengar lagi.
—
Aku cepat-cepat menurunkan tangan.
—
Arga kembali.
Membawa jaket tipis.
—
“Ini, Bu.”
—
Aku menerima.
—
“Terima kasih…”
—
Dia duduk lagi.
—
“Bu…” dia ragu.
—
“Iya?”
—
“Ibu… kenapa dari tadi lihat saya… kayak sedih?”
—
Aku terdiam.
—
Aku tidak bisa jawab itu.
—
“Maaf ya kalau saya salah,” lanjutnya.
—
Aku menggeleng.
—
“Enggak…”
—
Sunyi lagi.
—
Beberapa detik.
—
“Arga…” aku memanggil.
—
“Iya, Bu?”
—
Aku menatapnya.
—
Kalau ini benar…
kalau ini benar…
—
Aku tidak tahu harus mulai dari mana.
—
“Orang tua kamu…” aku berhenti.
“…masih tinggal di sini?”
—
Dia mengangguk.
—
“Iya. Rumah kami di belakang warung.”
—
Aku menarik napas panjang.
—
“Boleh… Ibu ketemu?”
—
Kalimat itu keluar sebelum aku sempat menahan.
—
Arga terlihat kaget.
—
“Ketemu?”
—
Aku mengangguk cepat.
—
“Iya… maksudnya… Ibu mau beli sesuatu sekalian… kenalan…”
Alasan itu buruk.
Aku tahu.
—
Dia masih menatapku.
Mencoba memahami.
—
Beberapa detik.
—
Lalu dia tersenyum.
—
“Oh… boleh, Bu.”
—
Dadaku langsung berdebar lebih kencang.
—
“Tunggu sebentar ya, Bu.”
—
Dia berdiri.
Berjalan ke belakang.
—
Setiap langkahnya…
terdengar jelas di telingaku.
—
Aku duduk sendiri.
—
Tanganku dingin.
Kaki terasa lemas.
—
Beberapa detik…
yang terasa sangat lama.
—
Lalu…
suara pintu dari dalam terbuka.
—
Langkah kaki lain.
Lebih pelan.
Lebih berat.
—
“Ini, Bu… Mama saya.”
—
Aku berdiri.
Refleks.
—
Dan saat aku melihat wajah perempuan itu…
—
dunia seperti berhenti.
—
Wajah itu…
—
tidak asing.
—
Sama sekali tidak asing.
—
Perempuan itu menatapku.
—
Matanya melebar sedikit.
—
Seperti…
dia juga mengenaliku.
—
“Ma…” Arga menoleh ke dia.
“Ini Bu Rani.”
—
Perempuan itu tidak langsung menjawab.
—
Tatapannya tidak lepas dari wajahku.
—
Dan di detik itu…
aku langsung tahu.
—
Dia.
—
Dia perempuan…
yang 18 tahun lalu…
membawa anakku pergi.
—
Udara di dalam warung tiba-tiba terasa berat.
Kipas kecil di pojok berputar pelan.
Suara sendok jatuh dari dapur belakang.
“ting…”
Tidak ada yang bergerak.
—
Aku berdiri kaku.
Perempuan itu… di depanku.
Tidak berubah banyak.
Wajahnya lebih tua.
Tapi matanya… sama.
Tatapan yang dulu.
Tatapan saat dia mengambil anakku.
—
“Ma?” Arga menoleh.
“Ibu kenal?”
—
Perempuan itu tidak langsung menjawab.
Matanya masih menatapku.
Dalam.
Seperti memastikan sesuatu yang sebenarnya dia sudah tahu.
—
“Silakan duduk, Bu…” katanya akhirnya.
Suaranya tetap tenang.
Terlalu tenang.
—
Aku duduk lagi.
Kakiku lemas.
—
Arga terlihat bingung.
Dia duduk di antara kami.
—
“Ma, ini Bu Rani. Tadi kehujanan di depan.”
—
Perempuan itu mengangguk pelan.
Tapi matanya… tidak pernah lepas dariku.
—
“Terima kasih sudah bantu anak saya,” katanya.
Kalimatnya formal.
Tapi nadanya… aneh.
—
Aku mengangguk.
—
Sunyi.
—
“Arga, kamu lihat air di belakang dulu,” katanya tiba-tiba.
—
“Kenapa, Ma?”
—
“Pompa dari tadi bunyi.”
—
Arga terlihat ragu.
—
“Sebentar aja.”
—
Arga akhirnya berdiri.
“Yaudah, Ma.”
—
Langkahnya menjauh.
Masuk ke belakang.
—
Dan saat pintu dapur tertutup…
—
sunyi itu berubah.
—
Perempuan itu langsung berdiri.
Mendekat.
Cepat.
—
“Kenapa kamu ke sini?” suaranya pelan, tapi tajam.
—
Dadaku langsung sesak.
—
“Aku… aku enggak tahu kalau ini—”
—
“Jangan keras-keras.”
Dia melihat ke arah dapur.
—
Aku menelan ludah.
—
“Kamu tahu ini siapa?” bisiknya.
—
Aku mengangguk pelan.
Air mataku sudah penuh.
—
“Itu anakku…”
—
Dia menutup mata sebentar.
Seperti menahan sesuatu.
—
“Dan sekarang dia anak saya,” katanya.
Pelan.
Tapi tegas.
—
Kalimat itu…
menusuk.
—
Aku menggeleng.
“Dia anakku…”
—
“Secara darah, iya.”
—
Aku terdiam.
—
“Tapi 18 tahun terakhir… siapa yang bangun tengah malam waktu dia demam?”
—
Aku tidak menjawab.
—
“Siapa yang bawa dia ke rumah sakit waktu dia hampir meninggal?”
—
Tanganku gemetar.
—
“Siapa yang bayar semua obatnya?”
—
Air mataku jatuh.
—
Dia mendekat sedikit.
—
“Kamu?”
—
Aku menunduk.
—
Tidak.
—
“Tolong…” suaraku pecah.
“Aku cuma… aku cuma mau tahu dia baik-baik aja…”
—
Dia menatapku lama.
—
“Dia lebih dari baik.”
—
Aku mengangguk cepat.
—
“Iya… iya aku lihat…”
—
Sunyi.
—
“Kenapa kamu datang sekarang?” tanyanya lagi.
—
Aku menggeleng.
“Enggak sengaja…”
—
Dia menghela napas.
—
“Dunia ini sempit ya…”
—
Aku tertawa kecil.
Tangis.
—
“Iya…”
—
Dari belakang…
suara langkah Arga mulai terdengar lagi.
—
Perempuan itu langsung mundur.
Kembali ke kursinya.
Wajahnya berubah.
Tenang.
Seperti tidak terjadi apa-apa.
—
Pintu terbuka.
—
“Ma, aman kok.”
—
“Iya,” jawabnya.
—
Arga duduk lagi.
—
Dia melihat kami berdua.
—
“Aneh ya… kalian kayak sudah kenal lama.”
Dia tertawa kecil.
—
Aku tidak bisa ikut tertawa.
—
Tanganku saling menggenggam di bawah meja.
—
“Ma…” Arga tiba-tiba bicara.
—
“Iya?”
—
“Boleh tanya enggak?”
—
Perempuan itu menoleh.
—
“Apa?”
—
Arga ragu.
—
“Sebenernya… aku ini anak kandung Mama… kan?”
—
Dunia berhenti.
—
Aku langsung menatap perempuan itu.
—
Wajahnya kaku.
—
“Kenapa kamu tanya begitu?” suaranya masih tenang.
—
Arga menggaruk tengkuk.
—
“Enggak tahu… tadi ngobrol sama Bu Rani…”
—
Dia melirik ke aku.
—
“…terus kepikiran aja.”
—
Sunyi.
—
Perempuan itu menatap Arga.
Lama.
—
“Menurut kamu?” tanyanya balik.
—
Arga tertawa kecil.
—
“Ya harusnya iya lah…”
—
“Kenapa harusnya?”
—
Arga diam sebentar.
—
“Karena… Mama selalu ada.”
—
Jawaban itu…
menghantam aku.
—
Perempuan itu menatapnya.
Matanya mulai berkaca-kaca.
—
“Kalau misalnya…” Arga pelan.
“…misalnya aku bukan anak kandung…”
—
Dia berhenti.
—
“…Mama masih sayang?”
—
Perempuan itu langsung menjawab.
—
“Lebih dari apa pun.”
—
Tidak ada jeda.
—
Arga tersenyum.
—
“Yaudah… berarti enggak penting juga ya.”
—
Aku menutup mulut.
Air mataku jatuh.
—
Perempuan itu melirik ke aku.
Sebentar.
—
Di matanya…
ada sesuatu yang berubah.
—
Bukan marah lagi.
—
Tapi… lelah.
—
Dan di detik itu…
aku baru sadar sesuatu.
—
Selama ini…
aku pikir aku yang kehilangan anak.
—
Tapi ternyata…
ada orang lain…
yang setiap hari…
takut kehilangan dia.
—
“Arga…” suara perempuan itu pelan.
—
“Iya, Ma?”
—
“Kamu ambilkan map coklat di lemari.”
—
“Yang mana?”
—
“Yang ada tulisan ‘dokumen lama’.”
—
Arga berdiri lagi.
Masuk ke belakang.
—
Aku menatap perempuan itu.
—
Dia tidak menatapku.
—
“Tolong jangan hancurkan hidup dia,” katanya pelan.
—
Aku mengangguk cepat.
—
“Aku enggak mau…”
—
Dia menutup mata sebentar.
—
“Tapi… mungkin… dia berhak tahu.”
—
Aku terdiam.
—
Langkah Arga kembali terdengar.
—
Dia keluar.
Membawa map coklat.
—
“Ini, Ma.”
—
Perempuan itu mengambil.
Tangannya sedikit gemetar.
—
Dia membuka map itu.
Pelan.
—
Di dalamnya…
ada beberapa kertas.
Foto.
Dan satu amplop lama.
—
Dia menatap Arga.
—
“Duduk.”
—
Suasana berubah.
—
Serius.
—
Arga duduk.
Masih belum paham.
—
Perempuan itu menarik napas panjang.
—
Lalu…
dia berkata pelan.
—
“Ada satu hal… yang Mama belum pernah ceritakan ke kamu.”
—
Warung itu tiba-tiba terasa sempit.
Tidak ada suara televisi lagi.
Tidak ada suara motor.
Hanya napas kami bertiga.
—
Arga duduk di kursi.
Tangannya di atas meja.
Diam.
—
Perempuan itu—yang selama ini dia panggil Mama—memegang map coklat itu dengan dua tangan.
Jari-jarinya gemetar.
—
“Ada satu hal… yang Mama belum pernah ceritakan ke kamu.”
—
Arga menatapnya.
Serius.
Untuk pertama kalinya… tanpa senyum.
—
“Apa, Ma?”
—
Perempuan itu tidak langsung menjawab.
Dia membuka map itu.
Mengeluarkan satu foto.
—
Foto bayi.
Yang tadi.
—
Dia letakkan di meja.
—
“Ini kamu,” katanya pelan.
—
Arga mengangguk.
“Iya…”
—
Lalu perempuan itu mengeluarkan satu kertas lain.
Kertas lama.
Sudah menguning di pinggirnya.
—
Dia tidak langsung menyerahkan.
—
“Arga…” suaranya sedikit pecah.
“…kamu bukan anak yang Mama lahirkan.”
—
Sunyi.
—
Tidak ada reaksi langsung.
—
Seperti otak Arga belum memproses.
—
“…maksudnya?” tanyanya pelan.
—
Perempuan itu menarik napas panjang.
—
“Kamu… Mama dapat… dari seseorang.”
—
Tanganku langsung mencengkeram kursi.
—
Arga menoleh pelan.
Ke arahku.
—
Aku tidak sanggup menatap.
—
“Dari siapa, Ma?” suaranya mulai berubah.
—
Perempuan itu tidak menjawab.
—
Dia hanya… menoleh ke aku.
—
Dan untuk pertama kalinya…
dia tidak menyembunyikan apa-apa.
—
Air matanya jatuh.
—
“Dari dia.”
—
Arga mengikuti arah pandang itu.
—
Dan akhirnya…
mata kami bertemu.
—
Dunia seperti berhenti.
—
“Bu…?” suaranya pelan.
—
Tanganku gemetar.
—
Aku ingin bicara.
Tapi tidak ada suara yang keluar.
—
“Ini… maksudnya apa?” Arga berdiri.
Kursinya bergeser keras.
—
“Duduk dulu,” kata perempuan itu.
—
“Enggak!” Arga menggeleng.
“Nggak, Ma… jelasin dulu!”
—
Napasnya mulai cepat.
—
Aku berdiri.
Pelan.
—
“Maaf…” suaraku pecah.
—
Arga menatapku.
—
“Maaf?” dia mengulang.
—
Air mataku jatuh.
—
“Aku…” aku menelan ludah.
“…aku ibumu.”
—
Sunyi.
—
Benar-benar sunyi.
—
Arga tidak bergerak.
—
Seperti dunia di sekitarnya hilang.
—
“Jangan bercanda…” suaranya pelan.
—
Aku menggeleng.
—
“Aku… aku yang melahirkan kamu…”
—
Tanganku gemetar.
—
“18 tahun lalu…”
—
Aku tidak kuat melanjutkan.
—
Perempuan itu mengambil alih.
—
“Waktu itu… Mama ketemu dia di klinik,” katanya.
—
“Dia tidak punya apa-apa.”
—
Aku menutup mata.
—
“Anaknya… kamu… hampir tidak bisa hidup.”
—
Arga menatap kami bergantian.
—
“Kami sepakat…” lanjutnya.
“…Mama yang rawat kamu.”
—
“Sepakat?” suara Arga meninggi.
—
“DIA MAU NINGGALIN AKU?”
—
Kalimat itu…
menusuk lebih dalam dari apa pun.
—
“Bukan!” aku langsung menggeleng.
“Bukan… aku—”
—
“Tapi kamu ninggalin aku!” Arga menunjuk.
—
Tanganku langsung turun.
—
Aku tidak bisa membela diri.
—
Karena itu benar.
—
“Aku enggak punya apa-apa waktu itu…” suaraku gemetar.
“Enggak ada makanan… enggak ada uang…”
—
Arga tertawa kecil.
Sinis.
—
“Jadi solusinya… buang aku?”
—
“Bukan buang…” aku menggeleng cepat.
“Titip…”
—
“Bedanya apa?” dia langsung potong.
—
Aku diam.
—
Tidak ada jawaban.
—
Perempuan itu berdiri.
—
“Cukup,” katanya tegas.
—
Arga menoleh.
—
“Dia tidak buang kamu.”
—
“Terus?”
—
“Dia menyelamatkan kamu.”
—
Arga terdiam.
—
“Kalau dia egois…” lanjutnya.
“…kamu mungkin tidak ada di sini sekarang.”
—
Sunyi.
—
Napas Arga masih berat.
—
“Dan kamu…” perempuan itu menatapku.
“…kamu datang bukan untuk mengambil dia, kan?”
—
Aku langsung menggeleng.
—
“Enggak… aku cuma… aku cuma mau lihat dia…”
—
Suaraku hancur.
—
“Sekali aja…”
—
Sunyi lagi.
—
Arga menatapku.
Lama.
—
Matanya merah.
—
“Kenapa sekarang?” tanyanya.
—
Aku menarik napas panjang.
—
“Karena aku pikir… aku sudah kehilangan kamu selamanya.”
—
Air mataku jatuh lagi.
—
“Tapi Tuhan… mempertemukan aku sama kamu… di tempat yang aku enggak sangka.”
—
Arga menunduk.
—
Tangannya menutup wajah.
—
Beberapa detik.
—
Atau menit.
—
Aku tidak tahu.
—
Lalu…
dia duduk lagi.
—
Pelan.
—
Napasnya mulai turun.
—
“Jadi…” suaranya serak.
“…selama ini… aku punya dua ibu?”
—
Perempuan itu tersenyum kecil.
Air matanya juga jatuh.
—
“Iya.”
—
Arga menatap kami berdua.
—
“Aneh…” katanya pelan.
—
Aku hampir tersenyum.
—
“Banget,” jawabku.
—
Sunyi.
—
Tapi kali ini… tidak sesakit tadi.
—
Arga berdiri lagi.
—
Dia berjalan ke arahku.
—
Setiap langkahnya…
membuat jantungku semakin kencang.
—
Dia berhenti di depanku.
—
Aku tidak berani menatap.
—
Sampai…
—
“Bu…”
—
Aku mengangkat kepala.
—
Matanya masih merah.
—
“Tadi… saya bilang… saya nyaman sama Ibu…”
—
Aku mengangguk pelan.
—
“Sekarang saya tahu kenapa.”
—
Air mataku langsung jatuh lagi.
—
Dia ragu sebentar.
—
Lalu…
pelan…
dia memelukku.
—
Aku langsung membeku.
—
Lalu…
balas memeluk.
—
Erat.
—
18 tahun…
seolah runtuh di pelukan itu.
—
“Maaf…” bisikku.
—
“Udah…” katanya pelan.
—
Di belakang…
perempuan itu berdiri.
Menatap kami.
—
Dia tersenyum.
Walaupun air matanya tidak berhenti.
—
“Ma…” Arga memanggil.
—
“Iya?”
—
Dia meraih tangannya.
Menariknya mendekat.
—
Dan untuk pertama kalinya…
kami bertiga berdiri… dalam satu lingkaran.
—
Tidak ada lagi yang disembunyikan.
—
Tidak ada lagi yang hilang.
—
Beberapa minggu kemudian…
—
Aku datang lagi ke warung itu.
—
Bukan sebagai orang asing.
—
Tapi sebagai… seseorang yang akhirnya punya tempat.
—
“Bu, teh biasa ya?” Arga tersenyum.
—
“Iya,” jawabku.
—
Perempuan itu keluar dari dapur.
—
“Kamu telat,” katanya.
—
Aku tertawa kecil.
—
“Iya, macet.”
—
Kami duduk bersama.
—
Tidak canggung.
Tidak berat.
—
Hanya… hangat.
—
Dan untuk pertama kalinya…
aku tidak lagi merasa kehilangan.
—
Karena ternyata…
aku tidak benar-benar kehilangan anakku.
—
Aku hanya…
menemukannya kembali… di waktu yang tepat.