PONAKAN YANG KAMI SEKOLAHKAN SAMPAI JADI PENGACARA… HARI INI MINTA BAYARAN UNTUK MENYELAMATKAN RUMAH KAMI. DAN KAMI… NGGAK SANGGUP BAYAR. PADAHAL SEMUA YANG DIA PUNYA… DULU DARI RUMAH INI.
Aku masih ingat pertama kali dia datang. Hujan sore itu deras. Air got di depan rumah hampir meluap. Bau tanah basah masuk sampai ruang tamu. Pintu diketuk pelan. Waktu aku buka, kakakku berdiri di depan. Bajunya basah, rambutnya nempel di kening. Di sampingnya, seorang anak kurus, bawa tas kain lusuh. “Ini anakku, Ran,” kata kakakku pelan. “Namanya Fajar.” Anak itu cuma menunduk. Sendalnya putus satu. Aku lihat istriku dari dalam. Dia langsung paham. Tanpa banyak tanya, dia ambil handuk. Sejak hari itu, Fajar tinggal di rumah kami. Katanya cuma “sebentar”. Nyatanya… bertahun-tahun.
Fajar bukan anak nakal. Dia cuma… terlalu hati-hati. Kalau makan, nunggu semua selesai dulu. Kalau disuruh beli sesuatu, selalu bilang, “nggak usah, om, nanti aja.” Aku pernah lihat dia makan mie instan diam-diam di dapur. Padahal di meja ada ayam goreng. “Kenapa nggak ambil?” tanyaku. Dia senyum kecil. “Takut habis, om.” Sejak itu, istriku selalu masak lebih. “Biar dia nggak mikir,” katanya.
Waktu dia masuk SMA, aku yang daftarin. Uang pendaftaran mahal. Aku masih ingat suara printer di warnet waktu cetak formulir. Tanganku agak gemetar waktu bayar. Tapi waktu lihat dia pakai seragam putih abu-abu pertama kali… Rasanya hangat. Seperti punya anak sendiri.
Hari-hari kami sederhana. Pagi, suara motor lewat gang. Siang, panas masuk dari jendela. Malam, kipas angin berderit. Fajar belajar di meja kecil dekat televisi. Kadang listrik mati, dia tetap duduk, pakai senter. “Udah tidur,” kataku. “Nanggung, om. Besok ulangan.”
Nilainya selalu bagus. Sampai suatu malam dia bilang: “Om… aku mau kuliah hukum.” Aku diam. Istriku juga diam. Kami saling lihat. Aku tahu itu mahal. “Kenapa hukum?” Dia tarik napas. “Biar nanti bisa bantu orang… yang nggak punya siapa-siapa.” Aku cuma angguk. Dalam hati, aku tahu… kami akan berjuang lagi.
Hari dia keterima di universitas negeri, dia cuma berdiri pegang kertas. Matanya berkaca. “Om… aku keterima.” Aku tepuk bahunya. “Ya jelas.”
Biaya kuliah? Aku jual motor. Istriku cuma bilang, “Nanti kita jalan kaki aja.” Kami tertawa. Padahal kami tahu… itu berat.
Fajar kuliah di kota. Awal-awal sering telepon. “Om, aku dapet A.” “Om, aku ikut organisasi.” “Om, aku lagi sidang semu.” Kami dengar. Selalu.
Lama-lama… teleponnya berkurang. Kadang aku yang chat duluan. “Lagi sibuk ya, Jar?” Dibalas lama. “Lagi meeting, om.” Pendek.
Pernah suatu malam istriku bilang: “Dia udah jarang cerita ya sekarang.” Aku jawab cepat. “Ya wajar. Udah punya dunia sendiri.” Tapi waktu itu… Aku lihat status WhatsApp-nya. Dia di restoran mahal. Ketawa lepas. Dengan orang-orang yang kami nggak kenal. Aku nggak pernah lihat dia tertawa seperti itu… di rumah ini.
Sampai suatu hari… Dia pulang. Bukan naik bus. Tapi mobil hitam mengkilap. Dia turun pakai kemeja rapi. Sepatu kulit. Jam di tangan. “Iya, om. Aku kerja di firma hukum.” Dia senyum. Beda. Kami bangga. Bangga sekali.
Waktu dia bilang mau menikah, kami yang paling sibuk. Mas kawin? Kami bantu. Gedung? Kami bantu. Catering? Kami ikut urus. Istriku sampai begadang rapihin daftar tamu. “Biar dia nggak malu.” Di hari pernikahan… Fajar berdiri di pelaminan. Lampu terang. Orang-orang datang. Aku duduk di kursi tamu. Lihat dia dari jauh. Dalam hati cuma satu: Anak ini… jadi orang.
Setelah itu, hidup berjalan. Pelan. Biasa. Sampai semuanya berubah. Bisnis kecilku mulai turun. Awalnya sepi. Lalu… berhenti. Telepon dari bank makin sering. Nada deringnya aja bikin dada sesak. “Pak, ini terkait kredit…” Aku selalu jawab, “Iya, nanti saya usahakan.” Tapi dalam hati… kosong.
Suatu malam, aku duduk di ruang tamu. Lampu redup. Istriku di samping. “Kita harus gimana?” Aku nggak jawab. Aku cuma lihat lantai. Dingin.
Beberapa minggu kemudian… Surat datang. Kertas putih. Tulisan tegas. Jatuh tempo. Ancaman penyitaan. Tanganku gemetar waktu buka. Kami sepakat: Mediasi. Ketemu bank. Cari jalan tengah.
Istriku bilang pelan: “Coba hubungi Fajar.” Aku diam. Ada yang aneh di dada. Tapi aku tetap ambil HP. Cari namanya. Masih sama. “Fajar.” Aku tekan call.
Nada sambung panjang.
Dia angkat. “Ya, om?”
Aku jelaskan semuanya. Pelan. Masalah bank. Mediasi. Kami butuh pendamping. “Kamu kan pengacara… mungkin bisa bantu om.”
Hening beberapa detik.
“Bisa, om.”
Aku tarik napas.
“Tapi… tetap ada fee ya, om.”
Aku kira aku salah dengar.
“Fee?”
“Iya. Standar. Nanti aku kirim rinciannya.”
Aku lihat istriku. Dia juga lihat aku. Wajahnya kosong.
Aku coba ketawa kecil. “Ini kan keluarga, Jar…”
Dia diam sebentar. Lalu jawab: “Justru karena keluarga, om. Biar profesional.”
Kata itu… nempel.
Telepon ditutup.
Aku masih pegang HP. Lama.
Istriku nggak langsung bicara. Dia lihat aku. Lalu pelan duduk.
“Ini… Fajar ya?”
Aku nggak jawab.
Dia angguk sendiri. Kipas angin di atas kami berderit. Derit. Derit.
Malam itu… aku nggak tidur.
Besok paginya… WhatsApp masuk. Dari Fajar. File PDF. Aku buka.
“Penawaran Jasa Hukum – Pendampingan Mediasi Kredit.”
Di bawahnya… ada angka.
Bukan kecil.
Aku bangkit. Ambil jaket.
“Ke mana?”
“Ketemu dia.”
Aku harus dengar langsung.
Gedungnya tinggi. Kaca semua. Dingin.
Dia keluar. Rapi. Wangi.
“Om bawa uang muka dulu, kan?”
Dan di detik itu… aku sadar satu hal.
Yang berubah… bukan hidup kami.
Tapi dia.
Dia tidak menunggu jawabanku. Tangannya sudah membuka map hitam, kertas-kertas rapi disusun, lalu satu lembar digeser ke arahku di meja resepsionis. Gerakannya tenang, terlalu tenang untuk situasi seperti ini. “Ini draft perjanjiannya, om. Kalau setuju, kita bisa langsung jalan.” Aku tidak langsung melihat kertas itu. Mataku masih di wajahnya, mencari sisa anak kecil yang dulu takut ambil ayam goreng. Tidak ada.
“Jar… kamu serius?” suaraku pelan, hampir hilang ditelan suara AC. Dia mengangguk sedikit. “Om butuh bantuan. Aku kasih solusi.” “Dengan harga segitu?” Dia tarik napas pendek. “Itu bukan harga, om. Itu biaya kerja.” Aku akhirnya lihat kertas itu. Huruf kecil, istilah hukum, tapi mataku berhenti di satu kalimat: uang muka wajib dibayarkan sebelum mediasi.
“Kalau nggak?” tanyaku. Dia diam sebentar. “Ya aku nggak bisa dampingi.” Aku geser kertas itu kembali. “Om kira kamu datang sebagai keluarga.” Tangannya berhenti di atas meja, lalu mengambil lagi kertas itu dengan rapi. “Om… dunia itu nggak jalan pakai perasaan.” Kalimat itu menempel di dadaku. Aku tertawa kecil. “Dulu jalan, Jar. Di rumah itu… semua pakai perasaan.”
Dia menatapku lama, seperti menahan sesuatu. “Tapi om lihat sendiri sekarang. Perasaan nggak bayar utang.” Dia melirik jam. “Aku ada meeting lagi. Jangan lama-lama. Bank nggak nunggu.” Dia berdiri.
“Jar…” Dia berhenti. “Sekarang… om ini siapa buat kamu?” Hening. Lalu jawabannya datang datar. “Klien, om.”
Jawaban itu jatuh tanpa suara… tapi rasanya keras.
Hari mediasi datang lebih cepat dari yang aku kira. Ruangan dingin, meja panjang, air mineral, dan di ujung meja itu… Fajar duduk dengan nameplate resmi di depannya. Semua terasa seperti mimpi yang tidak enak. Proses berjalan. Angka disebutkan. Denda dijelaskan. Aku hanya mendengar sebagian.
“Kalau dicicil?” tanyaku pelan. Petugas bank melihat ke arah Fajar. Dia membuka berkas. “Tidak memungkinkan.”
Aku menatapnya. “Jar—” “Mohon maaf, pak. Kita bicara sesuai hukum.”
Istriku tiba-tiba bicara. “Fajar.” Suaranya pelan, tapi membuat semua berhenti. “Waktu kamu sakit… siapa yang jaga kamu?” Fajar diam. “Sekarang kamu di sana. Lawan kami.”
Ruangan hening.
Fajar akhirnya menutup berkas. “Boleh saya bicara sebentar?” Semua keluar. Tinggal kami bertiga.
Dia membuka map lama. Kusam. Ditaruh di meja.
“Baca.”
Aku buka.
Nama kakakku.
Dan satu kalimat yang membuat dadaku kosong.
Rumah ini… sudah dijaminkan.
Tanpa kami tahu.
“Utang ayahku, om,” kata Fajar pelan. “Dia pakai rumah ini sebagai jaminan.” Aku gemetar. “Ini bukan tanda tanganku…” “Aku tahu,” jawabnya. “Makanya aku ambil kasus ini. Kalau bukan aku… rumah ini sudah disita dari dulu.”
“Aku butuh waktu,” lanjutnya. “Makanya aku tahan prosesnya.” Aku mencoba mencerna semuanya. “Tapi kenapa kamu minta bayaran ke kami?” Dia tertawa kecil, pahit. “Karena kalau aku kelihatan membela om… aku langsung dicabut.”
Aku diam.
“Sekarang waktunya habis,” katanya.
Dia menatapku. “Kalau ini terbukti palsu… rumah aman. Tapi om harus siap… nama ayahku hancur.”
Aku menggenggam kertas itu.
Pilihan di depan mata.
Selamatkan rumah…
Atau hancurkan keluarga.
Aku melipat kertas itu kembali. “Tidak,” kataku. “Ini keluarga.” Fajar berdiri. Wajahnya datar. “Baik.” Proses dilanjutkan. Penyitaan berjalan. Kami keluar… tanpa rumah.
Beberapa minggu kemudian, aku kembali. Rumah kosong. Kipas masih berderit. Aku duduk di lantai. Lalu langkah kaki terdengar.
Fajar.
Dia masuk. Diam. Lalu meletakkan amplop.
“Surat kepemilikan,” katanya.
Aku bingung.
“Rumah ini… sudah aku beli.”
Dunia berhenti.
“Kenapa?”
“Biar nggak jatuh ke orang lain.”
Aku masih belum paham.
“Yang dilawan bukan om.”
Aku diam.
“Terus siapa?”
Dia menatapku lurus.
“Om sendiri.”
Sunyi.
“Aku sudah cek semuanya. Tanda tangan itu… bukan ayahku.”
Tanganku dingin.
“Yang tanda tangan itu… om.”
Aku jatuh duduk.
Semua ingatan lama… yang aku kubur… muncul satu per satu.
Utang lama.
Kesalahan lama.
Yang aku lupa… atau pura-pura lupa.
“Sekarang rumah ini atas nama aku,” katanya pelan. “Tapi om masih bisa tinggal di sini.”
Aku angkat kepala.
“Dengan satu syarat.”
Dia menatapku.
“Om harus jujur.”
Aku lihat sekeliling.
Rumah ini.
Semua kenangan.
Semua kebohongan.
Dan untuk pertama kalinya…
Aku sadar.
Yang paling sulit bukan kehilangan rumah.
Tapi… menghadapi diri sendiri.