SEMUA ORANG SUKA NYALAHIN PELAKOR. TAPI NGGAK ADA YANG PERNAH NANYA… ANAK YANG LAHIR DARI CERITA ITU, NASIBNYA GIMANA?
—
Gue masih inget suara kipas angin di ruang tengah rumah gue.
Bunyinya nggak pernah berubah.
“kreeeek… kreeeek…”
Pelan.
Tapi cukup buat nutupin suara yang lebih penting.
Suara ibu gue nangis.
Gue waktu itu pura-pura tidur di kamar.
Bantal gue tarik sampai nutup kuping.
Tapi anehnya…
suara orang yang kita sayang itu
selalu tembus.
“Iya… aku capek…” suara ibu gue kecil.
Nggak ada jawaban.
Mungkin bapak gue cuma diem.
Atau mungkin… dia lagi ngelihat lantai.
Seperti biasa.
Gue kebiasa kebangun tengah malam.
Bukan karena mimpi buruk.
Tapi karena rumah gue sendiri…
nggak pernah benar-benar tenang.
—
Pagi harinya, semuanya normal lagi.
Ibu gue nyapu halaman.
Bapak gue minum kopi di teras.
Kayak nggak ada apa-apa.
“Berangkat sekolah jam berapa?” bapak nanya.
“Jam tujuh,” gue jawab.
Dia ngangguk.
Biasa aja.
Padahal semalam…
mereka hampir saling hancurin.
—
Gue lahir dari dua kesalahan yang sama.
Nenek gue dulu pelakor.
Ngerebut kakek gue dari rumah tangga orang.
Bapak gue… anak dari cerita itu.
Dan sejarah itu…
nggak berhenti di situ.
Bapak gue yang sudah punya istri…
direbut sama ibu gue.
Dan gue…
lahir dari hasil itu.
—
Orang-orang bilang,
“Ya udah, kan akhirnya mereka bersama.”
Seolah-olah itu happy ending.
Padahal…
itu baru awal.
—
Rumah gue bukan rumah yang miskin banget.
Tapi juga nggak pernah cukup.
Kadang makan enak.
Kadang cuma mie instan.
Kadang listrik hampir diputus.
Kadang bisa beli baju baru pas lebaran.
Nggak stabil.
Kayak hubungan orang tua gue.
—
Yang paling gue inget bukan soal uang.
Tapi soal tatapan.
Ibu gue selalu curiga.
Setiap bapak pulang telat.
“Dari mana?”
“Kerja.”
“Kerja apa sampai jam segini?”
“Ya kerja lah.”
Nada mulai naik.
Gue langsung tau…
ini bakal panjang.
—
Gue belajar cepat.
Cara pura-pura tidur.
Cara jalan pelan biar nggak bunyi.
Cara tahan napas pas suasana tegang.
Gue bahkan hafal…
bunyi sendal bapak gue kalau lagi kesel.
“cetok… cetok… cetok…”
Lebih keras dari biasanya.
—
Yang paling nyakitin bukan ributnya.
Tapi cara bapak gue berubah.
Dia jadi kayak tamu di rumah sendiri.
Kalau angkat telepon…
dia keluar.
Kalau pegang uang…
dia sembunyi.
Bukan karena dia selingkuh lagi.
Tapi karena sekali lo punya sejarah…
lo nggak pernah benar-benar bersih.
Di mata orang yang pernah lo sakitin.
—
Gue pernah liat bapak gue ngitung duit di kamar.
Pelan banget.
Seolah-olah uang itu bisa teriak kalau dia salah gerak.
“Ini buat listrik… ini buat sekolah… ini…”
dia ngomong sendiri.
Gue berdiri di pintu.
“Pak…”
Dia kaget.
Langsung nutup uangnya.
“Eh… belum tidur?”
Gue cuma ngangguk.
Dia senyum.
Dipaksain.
—
Di luar rumah…
lebih nyesek lagi.
Arisan.
Lebaran.
Hajatan.
Orang-orang ketawa.
Ngobrol.
Sampai akhirnya…
topiknya jatuh ke sana.
“Ih, perempuan kayak gitu nggak takut dosa ya.”
“Kasian istrinya yang sah.”
“Anaknya nanti gimana coba…”
Mereka ketawa kecil.
Gue di situ.
Meja yang sama.
Minum teh yang sama.
Tapi rasanya…
kayak lagi ditelanjangi.
—
Gue nggak pernah berani cerita ke siapa pun.
Kalau gue cerita ke temen…
mereka bakal nilai ibu gue.
Kalau gue cerita ke keluarga…
besok jadi bahan obrolan.
Kalau gue diem…
ya ini yang terjadi.
Semua numpuk.
—
Gue pernah liat ibu gue di dapur.
Lampu cuma satu.
Remang.
Dia lagi motong bawang.
Tapi tangannya berhenti.
Pisau masih di situ.
Dia diem.
Terus… nangis.
Pelan.
Gue berdiri di belakang.
Nggak berani masuk.
Karena gue tau…
itu bukan tangisan yang bisa gue benerin.
—
Ada satu malam…
yang bikin semuanya berubah.
—
Hujan deras.
Atap rumah bunyi keras.
“BRRRRRR…”
Listrik mati.
Rumah gelap.
Cuma ada cahaya dari luar.
Bapak gue pulang telat.
Lebih telat dari biasanya.
Ibu gue udah nunggu di ruang tengah.
Duduk.
Nggak ngomong.
Begitu pintu kebuka…
“Dari mana?”
Langsung.
Tanpa basa-basi.
Bapak gue diem.
Basah kuyup.
Air hujan masih netes dari rambutnya.
“Kerja.”
“Kerja apa sampai jam segini?”
“Ya kerja.”
“Iya kerja sama siapa?”
Sunyi.
Cuma suara hujan.
—
“Jawab!” suara ibu gue naik.
Gue di kamar.
Jantung gue ikut deg-degan.
—
“Aku capek, Bu…” bapak gue pelan.
“Capek? Aku juga capek!”
ibu gue berdiri.
“Kamu pikir aku nggak tau?”
“Tau apa?”
“Tau kamu kemana!”
“Jangan mulai lagi…”
“Mulai apa? Ini belum selesai dari dulu!”
—
Gue keluar kamar.
Pelan.
Ngintip dari balik tembok.
—
“Kalau kamu mau pergi… ya pergi sekalian!” ibu gue teriak.
“Jangan setengah-setengah kayak gini!”
Bapak gue diem.
Liat lantai.
Lagi.
—
“Kenapa kamu diem terus sih?!”
ibu gue dorong dia.
“Kamu pikir aku bodoh?!”
—
Dan di situ…
gue liat sesuatu yang belum pernah gue liat sebelumnya.
Bapak gue…
ngangkat kepala.
Pelan.
Tatap ibu gue.
Lama.
—
“Aku nggak selingkuh.”
Sunyi.
Hujan masih deras.
—
“Tapi…”
Dia narik napas.
Panjang.
“Aku juga nggak kuat…”
—
Ibu gue kaku.
—
“Aku nggak kuat hidup kayak gini terus…”
—
Kalimat itu…
jatuh pelan.
Tapi rasanya…
kayak sesuatu yang pecah.
—
“Apa maksud kamu?” suara ibu gue turun.
Nggak teriak lagi.
Tapi lebih bahaya.
—
Bapak gue masuk ke kamar.
Ambil sesuatu dari lemari.
Gue mundur.
Cepat.
Balik ke kamar gue.
—
Beberapa detik kemudian…
dia keluar lagi.
Bawa tas.
—
“Pak…” suara gue pelan.
Dia nengok.
Tatap gue.
—
Dan itu pertama kalinya gue liat…
mata bapak gue…
bener-bener kosong.
—
“Jaga ibu ya…”
—
Gue nggak ngerti.
—
“Iya kan kamu laki-laki…”
Dia senyum sedikit.
Tapi itu bukan senyum.
—
“Pak… mau ke mana?”
—
Dia nggak jawab.
—
Pintu dibuka.
Hujan langsung masuk.
—
Dan sebelum dia keluar…
ibu gue ngomong satu kalimat.
Pelan.
Tapi jelas.
—
“Kalau kamu keluar sekarang…
jangan balik lagi.”
—
Bapak gue berhenti.
Satu detik.
Dua detik.
—
Terus…
dia jalan.
Keluar.
—
Pintu ditutup.
—
Dan suara hujan…
jadi satu-satunya suara yang tersisa.
—
Gue berdiri.
Beku.
—
Ibu gue duduk di lantai.
Nggak nangis.
Nggak ngomong.
Cuma diem.
—
Gue pengen lari ke dia.
Peluk.
Ngomong sesuatu.
Apa aja.
—
Tapi kaki gue…
nggak bisa gerak.
—
Karena untuk pertama kalinya dalam hidup gue…
gue ngerasa…
rumah ini…
bener-bener kosong.
—
Dan gue belum tau…
kalau malam itu…
bukan cuma kehilangan seorang bapak.
—
Tapi juga…
awal dari rahasia yang selama ini…
disembunyiin dari gue.
—
Gue nggak tidur malam itu.
Bukan karena hujan.
Bukan karena dingin.
Tapi karena satu hal yang terus muter di kepala gue:
“Jaga ibu ya…”
—
Pagi datang… tapi rasanya nggak beda.
Rumah tetep sunyi.
Terlalu sunyi.
—
Gue keluar kamar.
Lantai dingin.
Masih ada bekas air hujan semalam.
—
Ibu gue duduk di ruang tengah.
Masih di tempat yang sama.
Posisi yang sama.
—
“Ibu…”
—
Dia nengok.
Matanya sembab.
Tapi nggak ada air mata lagi.
—
“Sekolah sana.”
—
Nggak ada pertanyaan.
Nggak ada penjelasan.
—
Seolah-olah…
semua yang terjadi semalam…
nggak perlu dibahas lagi.
—
Gue berdiri beberapa detik.
Nunggu.
Berharap dia ngomong sesuatu.
Apa aja.
—
Tapi dia nggak.
—
Dan dari situ gue ngerti…
kalau di rumah ini…
ada hal-hal yang memang sengaja nggak boleh dibuka.
—
Di sekolah, gue nggak denger apa-apa.
Suara guru cuma lewat.
Temen-temen ketawa.
Tapi semuanya kayak jauh.
—
Yang ada di kepala gue cuma satu:
Bapak gue nggak pulang.
—
Sepulang sekolah…
rumah masih sama.
Sepi.
—
Gue masuk kamar orang tua gue.
Pelan.
—
Lemari kebuka.
Sebagian kosong.
—
Bukan pergi sebentar.
Ini pergi beneran.
—
Dan di meja…
ada amplop.
—
Nama gue di situ.
Tulisan tangan bapak gue.
—
Jari gue langsung dingin.
—
Gue buka.
—
Uang.
Lumayan banyak.
—
Dan satu kertas kecil.
—
“Buat sekolah kamu.”
—
Cuma itu.
—
Nggak ada alamat.
Nggak ada nomor.
—
Kayak orang yang sengaja…
nggak mau ditemukan.
—
Gue duduk di lantai.
Lama.
—
Harusnya gue marah.
Harusnya gue nangis.
—
Tapi yang gue rasain…
kosong.
—
Malamnya…
ibu gue mulai berubah.
—
Dia nggak nangis lagi.
—
Tapi juga nggak hidup.
—
Dia masak.
Nyapu.
Ngobrol kalau perlu.
—
Tapi semuanya…
kayak robot.
—
Dan satu hal yang gue sadari:
dia nggak pernah nyebut nama bapak gue lagi.
—
Seolah-olah…
orang itu nggak pernah ada.
—
Sampai…
hari ketiga.
—
Ada motor berhenti di depan rumah.
—
“Permisi…”
—
Gue keluar.
—
Seorang pria tua.
Jaket lusuh.
Mata capek.
—
“Ini rumah Pak Rudi?”
—
Jantung gue langsung kencang.
—
“Iya…”
—
Dia ngangguk.
Ambil sesuatu dari tasnya.
—
Sebuah kotak kecil.
—
“Titipan.”
—
“Dari siapa?”
—
Dia diem.
—
“Dari orang yang… nggak bisa nganter sendiri.”
—
Perut gue langsung mual.
—
Gue ambil kotaknya.
Ringan.
—
“Pak… ini dari bapak saya?”
—
Pria itu nggak jawab langsung.
—
Dia cuma bilang pelan:
“Dia nggak mau kamu tau… tapi dia juga nggak kuat kalau kamu nggak tau sama sekali.”
—
Gue belum sempet ngerti maksudnya.
Dia udah jalan.
Pergi.
—
Gue berdiri di teras.
Hujan udah berhenti.
Tapi dada gue malah makin ribut.
—
Gue buka kotaknya.
—
Jam tangan.
—
Jam bapak gue.
—
Dan satu kertas kecil.
—
“Jangan cari aku.”
—
Dunia gue langsung hening.
—
“Ibu…”
Gue masuk.
—
“Ibu… ini dari bapak—”
—
Belum selesai gue ngomong…
ibu gue langsung berdiri.
—
Matanya langsung ke jam itu.
—
Dan dalam satu detik…
semua ekspresinya berubah.
—
Bukan marah.
Bukan sedih.
—
Takut.
—
“Dari mana kamu dapet ini?!”
—
Nada suaranya tinggi.
Lebih tinggi dari biasanya.
—
“Dari orang tadi…”
—
“Orang siapa?!”
—
“Nggak tau…”
—
Dia langsung ambil jam itu.
Pegang erat.
—
Tangannya gemetar.
—
“Harusnya… dia nggak kirim ini…”
—
Gue merinding.
—
“Bu… maksudnya apa?”
—
Dia nggak jawab.
—
Cuma duduk.
Liat jam itu lama.
—
Kayak lagi ngeliat sesuatu…
yang seharusnya nggak muncul lagi.
—
Malamnya…
gue nggak bisa tidur.
—
Gue keluar kamar.
Pelan.
—
Lampu dapur nyala.
—
Ibu gue di situ.
—
Duduk.
—
Di depan dia…
banyak kertas.
—
Surat.
Tua.
Kuning.
—
Gue ngintip dari pintu.
—
Dia buka satu.
—
Tangannya gemetar.
—
Dan gue sempet baca satu kalimat.
—
“Kalau suatu hari anak kita datang…”
—
Gue langsung beku.
—
Anak kita?
—
Siapa?
—
Gue belum sempet mikir lebih jauh…
ibu gue langsung nutup surat itu.
Cepat.
—
Dia nengok ke arah gue.
—
“Ngapain kamu di situ?”
—
Nada suaranya berubah.
—
Bukan marah biasa.
—
Tapi panik.
—
“Nggak… minum…”
—
Dia berdiri.
Ngumpulin semua surat.
—
“Kamu nggak usah ikut campur urusan orang tua.”
—
Gue diem.
—
Tapi di kepala gue…
semua mulai nyambung.
—
Bapak gue pergi.
Jam itu.
Surat-surat itu.
Kalimat tadi.
—
“Anak kita…”
—
Dan tiba-tiba…
muncul satu kemungkinan…
yang bikin dada gue langsung sesak.
—
Jangan-jangan…
—
gue bukan satu-satunya anak di cerita ini.
—
Dan kalau itu bener…
berarti selama ini…
yang gue kira rumah…
—
cuma bagian kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar.
—
Dan mungkin…
bapak gue pergi bukan karena nggak kuat sama ibu gue.
—
Tapi karena…
sesuatu dari masa lalu mereka…
akhirnya datang lagi.
—
Dan kali ini…
nggak bisa mereka sembunyiin lagi.
Gue nggak nunggu lama.
Besoknya… gue cabut.
Alamat di kertas itu gue lipat, masukin ke saku.
—
“Ibu, aku keluar sebentar.”
—
“Nggak usah jauh-jauh.”
Jawaban otomatis.
Tanpa lihat gue.
—
Gue keluar.
Langsung naik motor.
—
Alamat itu… di pinggiran kota.
Daerah yang jarang gue datengin.
—
Jalan makin sempit.
Rumah makin jarang.
—
Dan akhirnya…
gue sampai.
—
Sebuah rumah besar.
Pagar tinggi.
Cat putih.
Bersih banget.
—
Beda jauh sama rumah gue.
—
Gue berdiri di depan pagar.
Ragu.
—
Tapi tangan gue tetap pencet bel.
—
“ting tong…”
—
Beberapa detik.
Pintu kebuka.
—
Seorang ibu-ibu.
Rapi.
Wajahnya tenang.
—
“Iya?”
—
Gue diem sebentar.
—
“Saya… dapet alamat ini…”
Gue kasih kertasnya.
—
Dia baca.
Pelan.
—
Dan ekspresinya langsung berubah.
—
“Kamu… siapa?”
—
Nama gue keluar pelan.
—
Dan di situ…
mata dia langsung berkaca-kaca.
—
“Masuk…”
—
Jantung gue makin kencang.
—
Ruang tamunya luas.
Wangi.
AC dingin.
—
Di dinding…
ada banyak foto.
—
Keluarga.
—
Dan di salah satu foto…
gue berhenti.
—
Seorang pria.
—
Bapak gue.
—
Lebih muda.
Lebih rapi.
—
Dan di sampingnya…
seorang anak kecil.
—
Gue.
—
Atau…
mirip gue.
—
“Duduk…”
suara ibu itu pelan.
—
Gue duduk.
Tapi mata gue masih ke foto itu.
—
“Itu… anak saya.”
—
Kalimat itu pelan.
Tapi langsung nusuk.
—
Gue nengok.
—
“Maksudnya…?”
—
Dia tarik napas.
Panjang.
—
“Namanya Arga.”
—
Gue beku.
—
“Itu nama gue…”
—
Dia senyum tipis.
Sedih.
—
“Iya… karena itu memang kamu.”
—
Dunia gue… langsung goyang.
—
“Apa maksud ibu?”
—
Dia nggak jawab langsung.
—
Cuma jalan ke lemari.
Ambil map.
—
Isinya…
dokumen.
—
Akte lahir.
—
Nama gue.
—
Tapi…
nama ibunya…
bukan ibu gue.
—
Nama dia.
—
Dan nama bapaknya…
tetap sama.
—
Bapak gue.
—
“Nggak mungkin…”
—
Suara gue pelan.
—
“Tahun itu… kamu lahir.”
—
Dia duduk di depan gue.
—
“Dan kami… lagi hancur.”
—
Gue nggak bisa mikir.
—
“Kamu lahir dari saya.”
—
Kalimat itu jatuh.
Pelan.
—
“Tapi…”
dia lanjut,
“bapak kamu… jatuh cinta sama perempuan lain.”
—
Ibu gue.
—
“Dan waktu itu… ekonomi kami jatuh.”
—
Dia senyum pahit.
—
“Kami nggak sanggup… ngurus kamu.”
—
Gue ngerasa… dada gue kosong lagi.
—
“Jadi kamu… dititipkan.”
—
“Ke siapa?”
suara gue gemetar.
—
“Ke perempuan itu.”
—
Dunia gue berhenti.
—
Ibu gue…
—
“Dia janji… cuma sementara.”
—
“Tapi dia bawa kamu pergi.”
—
Sunyi.
—
“Dan sejak itu… kamu hilang.”
—
Gue nggak bisa napas.
—
Semua potongan…
langsung nyambung.
—
Surat.
Jam.
Kalimat…
“anak kita…”
—
Dan sekarang…
semuanya jelas.
—
Gue bukan anak ibu gue.
—
Gue anak…
perempuan ini.
—
Dan bapak gue…
—
dia ninggalin semuanya.
—
Termasuk gue.
—
“Kenapa sekarang…?” suara gue pecah.
—
Dia ngelihat gue.
—
“Karena bapak kamu… balik.”
—
Jantung gue berhenti.
—
“Apa?”
—
“Dia datang ke sini… tiga hari lalu.”
—
Tiga hari.
Hari dia pergi.
—
“Dia bilang… dia udah nggak kuat hidup dalam kebohongan.”
—
Air mata dia jatuh.
—
“Dia mau balikin kamu.”
—
Gue langsung berdiri.
—
“Di mana dia?!”
—
Dia diem.
—
Beberapa detik.
—
“Rumah sakit.”
—
Dunia gue… runtuh lagi.
—
“Dia sakit.”
—
“Sejak lama.”
—
“Dan dia baru berani… datang sekarang.”
—
Gue langsung mundur.
Langkah gue goyah.
—
Semua ini…
datang terlalu cepat.
—
Gue pikir kehilangan bapak.
—
Ternyata…
gue kehilangan identitas gue juga.
—
Dan sekarang…
ada satu hal lagi yang gue belum siap denger.
—
“Dia minta ketemu kamu.”
—
Sunyi.
—
Dan untuk pertama kalinya…
gue nggak tau…
gue harus datang…
atau kabur sejauh mungkin.
—
Rumah sakit itu bau obat.
Dingin.
Sepi.
—
Gue berdiri di depan pintu kamar.
Nomor 203.
—
Tangan gue di gagang pintu.
Tapi nggak gue buka.
—
Di dalam…
ada jawaban.
—
Tapi juga…
sesuatu yang mungkin bakal ngerusak gue lebih jauh.
—
“Masuk aja…”
Suara suster.
—
Gue kaget.
—
Dia senyum kecil.
—
“Dia nunggu dari tadi.”
—
Gue tarik napas.
Dalam.
—
Pintu gue buka.
—
Bapak gue di situ.
—
Lebih kurus.
Lebih pucat.
—
Tapi itu dia.
—
Dia nengok.
—
Dan langsung…
matanya berubah.
—
“Arga…”
—
Suara dia serak.
—
Gue nggak jawab.
—
Cuma berdiri.
—
“Dekat sini…”
—
Langkah gue berat.
—
Gue duduk di samping ranjang.
—
Sunyi.
—
Banyak yang mau gue tanya.
Tapi nggak ada yang keluar.
—
Dia duluan.
—
“Maaf…”
—
Satu kata itu…
jatuh pelan.
—
Tapi berat banget.
—
“Maaf karena… semua ini.”
—
Air mata dia keluar.
—
Gue belum pernah liat bapak gue nangis.
—
“Aku pikir… aku bisa benerin semuanya.”
—
“Tapi aku cuma… ngerusak lebih banyak.”
—
Gue ngepal tangan.
—
“Kenapa?”
Akhirnya keluar.
—
“Kenapa aku nggak pernah dikasih tau?”
—
Dia nutup mata.
—
“Karena aku pengecut.”
—
Sunyi.
—
“Aku nggak berani ngaku… kalau aku ngambil kamu dari ibu kamu.”
—
Dada gue sesak.
—
“Aku pikir… kalau kamu besar di tempat lain… kamu bakal lebih bahagia.”
—
“Dengan kebohongan?” gue potong.
—
Dia nggak jawab.
—
Itu jawaban.
—
“Ibu… yang di rumah…”
suara gue pelan,
“dia tau?”
—
Dia ngangguk.
—
“Dari awal.”
—
Dunia gue… hancur lagi.
—
“Dan dia tetap…?”
—
“Dia sayang kamu.”
—
Kalimat itu…
aneh.
—
Tapi… jujur.
—
“Dia yang ngerawat kamu.”
—
“Dia yang jagain kamu.”
—
“Aku… cuma bikin semuanya kacau.”
—
Sunyi.
—
Gue duduk.
Nunduk.
—
Semua orang salah.
—
Tapi juga…
semua orang punya alasan.
—
Dan itu…
yang bikin semuanya lebih sakit.
—
“Aku cuma punya satu permintaan…”
—
Gue nengok.
—
“Jangan benci mereka.”
—
Air mata dia jatuh lagi.
—
“Terutama ibu yang di rumah…”
—
Gue diem.
—
“Aku yang mulai semua ini.”
—
Napas dia berat.
—
“Dan aku yang harus selesaiin.”
—
Gue langsung pegang tangan dia.
—
“Pak…”
—
Untuk pertama kalinya…
gue panggil dia lagi.
—
Dan dia senyum.
Tipis.
—
“Terima kasih…”
—
Mesin di samping bunyi pelan.
—
Dan di momen itu…
gue sadar satu hal.
—
Ini titik terendah.
—
Tapi juga…
awal dari sesuatu yang harus gue beresin.
—
Di luar kamar…
ibu kandung gue berdiri.
—
Dan di rumah…
ibu yang ngerawat gue… sendirian.
—
Dan untuk pertama kalinya dalam hidup gue…
gue ngerti.
—
Gue nggak cuma kehilangan sesuatu.
—
Gue dikasih pilihan.
—
Mau lari dari semua ini…
atau berani beresin semuanya.
—
Dan gue tau…
gue nggak bisa kabur lagi.
—
Gue pulang malam itu.
Rumah gelap.
—
Pintu gue buka pelan.
—
Ibu gue di ruang tengah.
Duduk.
—
Persis kayak malam itu.
—
Tapi kali ini…
gue nggak diam.
—
“Bu…”
—
Dia nengok.
—
Matanya merah.
—
“Kamu dari mana?”
—
Gue jalan pelan.
Duduk di depan dia.
—
“Aku ketemu dia.”
—
Sunyi.
—
Dia langsung ngerti.
—
Tangannya gemetar.
—
“Dia… masih hidup?”
—
Gue ngangguk.
—
Air mata dia langsung jatuh.
—
“Dia… minta maaf.”
—
Tangisan dia pecah.
—
Gue liat itu.
Dan untuk pertama kalinya…
gue nggak marah.
—
Gue ngerti.
—
“Bu…”
—
Dia nengok.
—
“Terima kasih.”
—
Dia kaget.
—
“Terima kasih… udah ngerawat aku.”
—
Tangannya langsung nutup mulut.
—
“Aku tau… semuanya.”
—
Sunyi.
—
Dan di situ…
semua kebohongan…
akhirnya berhenti.
—
Beberapa hari kemudian…
kami ke rumah sakit.
Bertiga.
—
Gue.
Ibu gue.
Dan ibu kandung gue.
—
Aneh.
Canggung.
—
Tapi nyata.
—
Bapak gue di ranjang.
—
Dia liat kami.
—
Dan untuk pertama kalinya…
gue liat dia tersenyum tanpa takut.
—
“Udah lengkap…”
—
Kami duduk.
—
Nggak ada teriak.
Nggak ada marah.
—
Cuma…
jujur.
—
Semua keluar.
—
Tentang masa lalu.
Tentang kesalahan.
Tentang rasa takut.
—
Dan untuk pertama kalinya…
nggak ada yang disembunyiin.
—
Hari itu…
nggak ada yang jadi pemenang.
—
Tapi semua…
berhenti saling nyakitin.
—
Beberapa minggu kemudian…
bapak gue mulai membaik.
—
Pelan.
—
Kami sering datang.
—
Kadang berempat.
—
Dan anehnya…
yang dulu terasa rusak…
pelan-pelan jadi utuh.
—
Nggak sempurna.
—
Tapi cukup.
—
Sekarang…
gue punya dua ibu.
—
Satu yang melahirkan gue.
Satu yang membesarkan gue.
—
Dan dua-duanya…
salah.
—
Tapi juga…
dua-duanya…
sayang gue.
—
Dan untuk pertama kalinya dalam hidup gue…
gue bisa jawab pertanyaan itu.
—
Kalau mereka bisa milih ulang…
—
mungkin mereka tetap salah.
—
Tapi gue…
nggak lagi ngerasa salah dilahirin.
—
Karena akhirnya…
semuanya berhenti di gue.
—
Nggak ada lagi yang disembunyiin.
—
Nggak ada lagi yang diwarisin.
—
Cuma…
hidup yang baru.
—
Dan untuk pertama kalinya…
rumah gue…
bener-bener terasa…
tenang.