GUE PINJAM 1 JUTA BUAT MAKAN. 3 BULAN KEMUDIAN, YANG DITAGIH BUKAN UANG. TAPI VIDEO GUE SENDIRI… DIAM-DIAM DIREKAM DI KAMAR.
Kipas angin di kamar muter pelan.
“tek… tek… tek…”
Udah lama bunyinya kayak gitu. Kadang kenceng, kadang pelan. Gue nggak pernah benerin. Nggak sempet. Nggak kepikiran.
Gue duduk di kasur tipis. Sprei abu-abu yang udah kusut. Di pojok ada baju numpuk. Belum sempat dicuci.
HP gue di tangan.
Layar terang.
Saldo rekening: Rp 12.500
Gue tarik napas panjang.
Terus gue hembusin pelan.
Di luar kamar, suara TV nyala. Ibu lagi nonton sinetron. Volume agak keras. Suara tangisan di TV campur sama suara panci dari dapur.
Bau minyak goreng masuk ke kamar.
Semua normal.
Harusnya.
—
“Gimana ya…”
Gue gumam pelan.
Besok cicilan motor jatuh tempo.
Dua hari lagi harus bayar kos.
Dan kerjaan gue…
Baru seminggu ilang.
Di-PHK.
Tanpa aba-aba.
—
Gue buka WhatsApp.
Scroll kontak.
Nama-nama.
Semua orang yang gue kenal…
Kayaknya lagi sama-sama susah.
Gue berhenti di satu nama.
“Riko – Dana Cepat”
Gue inget dia.
Temen nongkrong dulu.
Sekarang katanya “main pinjaman”.
Cepat.
Tanpa ribet.
—
Jari gue diem di layar.
Ragu.
—
Tapi perut gue kosong.
Dompet gue juga.
—
Gue chat.
“Ko, masih bisa minjem nggak?”
—
Centang satu.
Beberapa detik.
Centang dua.
—
Balasan langsung.
“Bisa. Butuh berapa?”
—
Gue nelen ludah.
“1 juta.”
—
Typing…
“Bisa. Balik 1,3 juta. 2 minggu.”
—
Tinggi.
Tapi…
Gue nggak punya pilihan.
—
“Ok.”
—
Beberapa detik.
Notif masuk.
Transfer.
Rp 1.000.000
—
Cepat.
Nggak pake tanya.
—
“Thanks ya, Ko.”
—
“Santai. Jangan telat.”
—
Kalimat itu…
Harusnya biasa.
Tapi entah kenapa…
Ada rasa nggak enak.
—
Gue pakai uang itu.
Bayar cicilan.
Beli makan.
Isi galon.
—
Hari-hari pertama…
Lumayan normal.
Gue masih bisa ketawa.
Masih bisa ngobrol sama Ibu.
—
“Udah dapat kerja?” tanya Ibu.
“Lagi nyari.”
—
Ibu cuma angguk.
—
Hari keempat.
HP gue bunyi.
Riko.
—
“Gimana?”
—
“Aman.”
—
“Ingat ya.”
—
Gue cuma kirim emoji jempol.
—
Hari ke-7.
Gue mulai panik.
Belum dapet kerja.
Uang sisa tipis.
—
Hari ke-10.
Masih belum ada hasil.
—
Hari ke-12.
HP bunyi lagi.
—
“Udah siap?”
—
Jantung gue langsung deg-degan.
—
“Belum, Ko. Lagi usaha.”
—
“Usaha itu sebelum minjem.”
—
Kalimat itu langsung nusuk.
—
“Kasih waktu ya.”
—
Typing…
—
“3 hari.”
—
Gue langsung nelen ludah.
—
Hari ke-15.
Gue kosong.
Bener-bener kosong.
—
HP bunyi terus.
Telepon.
Chat.
—
Gue diem.
Nggak berani angkat.
—
Sampai malam.
—
“Tok… tok… tok…”
—
Pintu rumah.
—
Ibu dari ruang tamu.
“Siapa ya?”
—
Gue langsung berdiri.
“Jangan dibuka, Ma!”
—
Terlambat.
—
Pintu kebuka.
—
Dua orang laki-laki berdiri di luar.
—
Satu pakai jaket hitam.
Satu lagi kaos biasa.
—
“Dina ada?”
—
Ibu nengok ke gue.
—
Gue maju.
Pelan.
“Gue.”
—
Mereka lihat gue.
Tajam.
—
“Utang.”
—
Singkat.
—
Gue tarik napas.
“Gue lagi usaha bayar—”
—
“Udah lewat.”
—
Tetangga mulai ngintip.
Dari pagar.
Dari jendela.
—
Malu langsung naik.
—
“Kasih waktu—”
—
Yang jaket hitam senyum tipis.
—
“Nggak bisa.”
—
Dia ngeluarin HP.
—
Nunjukin ke gue.
—
Video.
—
Gue langsung kaku.
—
Itu gue.
—
Di kamar.
—
Waktu gue lagi ganti baju.
—
Jantung gue langsung berhenti.
—
“Lo… rekam gue?”
—
Dia nggak jawab.
—
Cuma bilang pelan:
“Kalau nggak bayar…”
—
Dia geser layar.
—
Video lain.
—
Gue lagi tidur.
—
Angle dari atas.
—
Dari arah kipas angin.
—
Gue langsung nengok ke kamar.
—
Kipas itu.
—
Bunyinya.
—
“tek… tek… tek…”
—
Tiba-tiba terasa beda.
—
Dingin.
—
“Lo pasang kamera…”
Suara gue gemetar.
—
Dia senyum.
—
“Pinter.”
—
Dunia gue langsung runtuh.
—
“3 hari lagi.”
—
Dia mendekat sedikit.
—
“Bukan cuma uang.”
—
Gue mundur.
—
“Lo ikut kita.”
—
“Lo ikut kita.”
Kalimat itu pelan.
Tapi langsung nusuk.
Gue mundur satu langkah. Kaki gue kena ubin dingin. Tangan gue refleks nutup dada.
“Ngapain gue ikut lo?”
Suara gue gemetar.
Yang jaket hitam cuma senyum tipis.
“Biar cepet lunas.”
Di belakang gue, Ibu berdiri kaku di pintu. Tangannya pegang gagang pintu kuat-kuat.
“Ini ada apa?” suara Ibu mulai panik.
Gue nengok.
“Ma, masuk aja.”
“Dina…”
“Masuk, Ma.”
Gue nggak mau dia lihat.
Nggak mau dia tahu.
—
Yang satu lagi, yang pakai kaos, melangkah lebih dekat.
Bau rokoknya nyengat.
“Kita nggak mau ribet. Lo ikut, beres.”
Gue geleng.
“Nggak.”
Singkat.
—
Yang jaket hitam langsung berubah.
Senyumnya hilang.
Dia buka lagi HP.
Video itu diputar.
Suara kain gesek, suara kipas, suara napas gue sendiri.
Keras.
Di depan rumah.
Tetangga masih ngintip.
—
“Kalau lo nggak ikut…”
Dia angkat HP itu sedikit.
“Ini dikirim ke semua kontak lo.”
Gue langsung lemes.
“Jangan…”
—
Dia mendekat.
Lebih pelan.
Lebih dekat.
“3 hari. Kita jemput lagi.”
Dia nunjuk ke dalam rumah.
“Jangan kabur.”
—
Mereka pergi.
Naik motor.
Langsung hilang dari gang.
—
Sunyi.
—
Ibu langsung narik tangan gue.
“Apa itu barusan?!”
Gue nggak jawab.
Nggak bisa.
—
“Dina, ngomong!”
—
Gue cuma bilang pelan.
“Utang, Ma.”
—
Ibu langsung nangis.
“Kenapa nggak bilang dari awal?”
—
Gue duduk di kursi.
Kepala gue penuh.
—
Kipas di kamar masih bunyi.
“tek… tek… tek…”
—
Dan sekarang…
Gue tahu.
Itu bukan cuma kipas.
—
Malam itu gue nggak tidur.
Lampu kamar gue matiin.
Tapi mata gue melek.
Natap kipas.
—
“tek… tek… tek…”
—
Gue berdiri pelan.
Naik ke kursi.
Kaki gue gemetar.
—
Gue pegang bagian tengah kipas.
Debu nempel di jari gue.
—
Gue puter sedikit.
—
Ada sesuatu.
Kecil.
Nempel.
—
Gue tarik.
Pelan.
—
Kamera.
—
Kecil banget.
Nyaris nggak kelihatan.
—
Tangan gue langsung dingin.
Jantung gue kenceng.
—
“Anjing…”
Gue bisik.
—
Gue turun.
Duduk di kasur.
Natap benda itu.
—
Berarti…
Selama ini…
—
Gue langsung ingat.
Beberapa minggu lalu.
Riko pernah ke rumah.
—
“Gue numpang ke kamar lo bentar ya.”
—
Waktu itu gue santai aja.
Temen lama.
—
Sekarang semuanya nyambung.
—
Gue langsung ambil HP.
Chat Riko.
—
“Lo pasang ini ya?”
—
Centang dua.
Nggak dibalas.
—
Beberapa detik.
Telepon masuk.
Riko.
—
Gue angkat.
—
“Udah nemu?”
Suara dia santai.
—
Dada gue langsung panas.
“Lo gila ya?!”
—
Dia ketawa kecil.
“Gue cuma jaga-jaga.”
—
“Jaga-jaga apaan?!”
—
“Biar orang kayak lo… nggak kabur.”
—
Gue gemetar.
“Lo rekam gue…”
—
“Lo juga nikmatin hidup kan? Ya gue juga.”
—
Kalimat itu…
Bikin gue mual.
—
“Gue laporin polisi.”
—
Dia langsung ketawa.
Lebih keras.
—
“Silakan.”
—
Gue diem.
—
“Lo pikir gue sendirian?”
—
Sunyi.
—
“Gue punya banyak data lo, Din.”
—
Suara dia berubah.
Lebih dingin.
—
“Dan itu baru satu video.”
—
Telepon langsung mati.
—
Gue duduk diam.
Lama.
—
Dan di situ…
Gue sadar.
Gue nggak bisa lawan sendiri.
—
Besok pagi.
Gue ke kantor polisi.
—
Seragam cokelat.
Bau kopi.
Kursi plastik.
—
“Kasus pinjaman ilegal, Pak.”
Suara gue masih goyang.
—
Polisi itu dengerin.
Serius.
—
Gue kasih kamera itu.
Gue kasih chat.
—
Dia angguk.
“Ini serius.”
—
“Bisa ditangkap?”
—
Dia lihat gue.
“Bisa. Tapi harus hati-hati.”
—
Gue nelen ludah.
—
“Kita butuh mereka bergerak lagi.”
—
Gue ngerti.
Perangkap.
—
Dua hari kemudian.
—
HP gue bunyi.
—
“Udah siap?”
—
Gue balas.
“Siap.”
—
Jari gue dingin.
—
“Datang ke tempat biasa.”
—
Alamat dikirim.
Gudang kosong.
Pinggir kota.
—
Gue sampai sana.
Polisi udah siap.
Ngumpet.
—
Gue jalan masuk.
Sendirian.
—
Jantung gue kenceng.
—
Riko ada di dalam.
Sama dua orang itu.
—
Dia senyum.
“Pinter. Datang juga.”
—
Gue diem.
—
“Mana duitnya?”
—
Gue buka tas.
Isinya cuma kertas.
—
Dia langsung sadar.
—
“Lo bawa polisi ya?”
—
Terlambat.
—
“Sekarang!”
—
Polisi langsung masuk.
Teriak.
—
Riko kaget.
Dua orang itu lari.
—
Tapi ketangkep.
—
Semua cepat.
Kacau.
—
Gue berdiri.
Nggak gerak.
—
Sampai semuanya selesai.
—
Dua bulan kemudian.
—
Rumah gue masih sama.
Kipas masih bunyi.
“tek… tek… tek…”
—
Tapi sekarang…
Nggak ada kamera.
—
Kasusnya jalan.
Riko ditahan.
Jaringan dia juga kebongkar.
—
Polisi bilang…
Bukan gue doang.
—
Banyak korban.
—
Gue duduk di ruang tamu.
Ibu di samping gue.
—
“Udah selesai ya, Din?”
—
Gue tarik napas.
Dalam.
—
“Iya, Ma.”
—
Ibu pegang tangan gue.
—
“Maaf ya…”
—
Gue geleng.
—
“Bukan salah Mama.”
—
Sunyi sebentar.
—
“Sekarang gue ngerti.”
—
Ibu nengok.
—
“Kalau butuh… mending minta tolong.”
—
Ibu senyum.
Tipis.
—
“Daripada salah jalan.”
—
Gue angguk.
—
Beberapa hari kemudian.
—
Gue dapat kerja lagi.
Nggak besar.
Tapi cukup.
—
Gue mulai pelan-pelan.
Bangun lagi.
—
Dan setiap malam…
Gue masih dengar kipas itu.
—
“tek… tek… tek…”
—
Tapi sekarang…
Nggak ada yang tersembunyi lagi.
—
Dan gue tahu…
Gue masih punya satu hal penting:
Kesempatan buat mulai ulang.