KAMI BARU SAJA MERASAKAN HIDUP ENAK… TAPI SEPERTINYA, ADA “HARGA” YANG HARUS DIBAYAR. DAN YANG DIBAYAR ITU… KAKAKKU SENDIRI.

Hari itu panas banget.

Kipas angin di ruang tamu cuma muter pelan, bunyinya berderit tiap tiga detik. Nyokap duduk di lantai, nyender ke dinding, sambil kipasin dirinya pakai tutup nasi.

Bokap lagi jongkok di depan meja kecil. Di tangannya ada amplop coklat. Tebal.

Aku berdiri di pintu, masih pake kaos rumah yang udah bolong di bagian pundak.

“Kamu duduk dulu,” kata bokap.

Nada suaranya beda. Serius.

Aku duduk di lantai. Ubin dingin nempel di paha.

Bokap buka amplop itu pelan. Ada beberapa lembar kertas. Surat. Dan… buku tabungan.

“Ini… warisan dari abang bapak,” katanya.

Aku nggak langsung ngerti.

“Yang di Medan itu?” tanya nyokap.

Bokap ngangguk.

Sunyi.

Cuma suara motor lewat di gang, knalpotnya cempreng.

“Dia nggak punya anak,” lanjut bokap. “Semua jatuh ke bapak.”

Nyokap berhenti kipas.

Tangannya pelan turun.

“Berapa?” tanyanya pelan.

Bokap nggak langsung jawab.

Dia buka buku tabungan itu, diputar ke arah kami.

Aku condongin badan.

Angkanya bikin dada kayak ditarik.

Ratusan juta.

Aku refleks ketawa kecil. Bukan karena lucu. Tapi karena… nggak masuk akal.

Selama ini, beli beras aja kadang harus ngutang ke warung Bu Sari.

Dan sekarang…

Angka itu.

Nyokap langsung nutup mulut.

“Ya Allah…” suaranya gemetar.

Bokap narik napas panjang.

“Kita nggak boleh berubah,” katanya pelan. “Ini rezeki. Tapi jangan jadi orang lain.”

Aku ngangguk, walaupun di dalam kepala… udah lari ke mana-mana.

Motor baru.

Kasur empuk.

AC.

Dan… mungkin… hidup yang nggak perlu mikir besok makan apa.

Seminggu setelah itu, rumah mulai berubah.

Nggak langsung mewah.

Tapi terasa beda.

Bokap beli kipas angin baru. Yang nggak bunyi. Nyokap ganti gorden yang udah pudar. Aku dibeliin sepatu baru.

Dan yang paling kelihatan…

Kami nggak lagi ngitung uang receh sebelum ke warung.

Pertama kali dalam hidup, nyokap belanja tanpa nanya, “cukup nggak ya?”

Aku inget banget malam itu.

Kami makan ayam goreng.

Ayam.

Bukan tempe, bukan telur.

Ayam.

Kakakku, Rina, duduk di sebelahku. Dia senyum sambil nyuapin nasi ke mulut.

“Enak ya,” katanya.

Aku ketawa.

“Baru sekarang lo ngomong gitu.”

Dia nyenggol bahuku.

“Ya emang. Selama ini makan sambil mikir besok makan apa lagi.”

Kami ketawa.

Bokap liatin kami dari ujung meja.

Matanya… tenang.

Aku pikir… akhirnya.

Akhirnya hidup kami mulai normal.

Tapi ada satu hal kecil…

Yang waktu itu aku anggap biasa aja.

Sekarang… aku nggak bisa lupa.

Malam itu, aku bangun jam dua.

Haus.

Aku keluar kamar. Lampu ruang tamu redup. TV mati.

Tapi bokap… duduk sendirian di meja.

Di depannya ada kertas.

Banyak.

Dia nggak sadar aku keluar.

Tangannya lagi nulis sesuatu.

Cepat.

Kayak lagi buru-buru.

Aku mendekat pelan.

“Pak?”

Dia kaget.

Langsung nutup kertas itu.

Cepat banget.

“Belum tidur?” tanyanya.

Aku ngangguk.

“Minum.”

Dia langsung berdiri, ambil gelas, isi air.

Tangannya… sedikit gemetar.

Aku perhatiin.

“Bapak lagi apa?”

“Nggak apa-apa.”

Jawabannya terlalu cepat.

Aku cuma ngangguk.

Waktu itu… aku nggak mikir apa-apa.

Cuma ngerasa… aneh sedikit.

Tapi ya udah.

Hari-hari berikutnya… makin enak.

Bokap mulai renovasi dapur sedikit. Nyokap beli rice cooker baru. Aku mulai berani nongkrong tanpa mikir uang jajan.

Dan Rina…

Dia paling berubah.

Dia jadi lebih ceria.

Lebih sering ketawa.

Lebih sering ngajak ngobrol.

Padahal biasanya dia lebih banyak diem.

“Gue pengen daftar kursus,” katanya suatu sore.

“Kursus apa?” tanyaku.

“Desain. Gue pengen kerja nanti.”

Aku senyum.

“Gas lah. Sekarang kan udah bisa.”

Dia ketawa kecil.

“Baru juga enak dikit, langsung gaya.”

Aku nyengir.

“Tapi serius. Lo daftar aja.”

Dia ngangguk.

Matanya… bersinar.

Aku jarang lihat dia kayak gitu.

Sampai suatu malam…

Semuanya mulai berubah.

Rina nggak keluar kamar.

Awalnya biasa.

Dia emang kadang suka diem di kamar.

Tapi hari itu…

Sepi banget.

Nggak ada suara HP. Nggak ada suara dia nyanyi pelan.

Nyokap ngetok pintu.

“Rina?”

Nggak ada jawab.

Aku ikut mendekat.

“Rin?”

Sunyi.

Bokap langsung buka pintu.

Dan di situ…

Rina duduk di lantai.

Bersandar ke kasur.

Mukanya pucat.

Keringat dingin.

Tangannya pegang perut.

“Rin!” nyokap langsung lari.

Aku ikut panik.

“Kenapa lo?!”

Dia cuma geleng pelan.

“Perut… sakit…”

Suaranya kecil banget.

Bokap langsung ambil jaket.

“Kita ke rumah sakit.”

Perjalanan ke rumah sakit terasa lama banget.

Padahal cuma 15 menit.

Rina di jok belakang, kepalanya di pangkuan nyokap.

Aku duduk di depan.

Tanganku dingin.

Bokap nyetir tanpa ngomong.

Lampu jalan lewat satu-satu.

Aku denger napas Rina.

Cepat.

Pendek.

“Pak… cepet…” suara nyokap gemetar.

“Aku udah cepet!”

Suara bokap tinggi.

Aku nggak pernah dengar dia kayak gitu.

Di IGD, semuanya jadi kacau.

Perawat datang.

Dokter datang.

Rina dibawa masuk.

Kami disuruh nunggu.

Aku duduk di kursi plastik.

Keras.

Dingin.

Nyokap nangis pelan.

Bokap berdiri. Mondar-mandir.

Aku lihat tangannya.

Masih gemetar.

Nggak lama, dokter keluar.

“Siapa keluarga pasien?”

Bokap maju.

“Saya.”

Dokter lihat kami satu-satu.

Wajahnya… serius.

“Kami harus lakukan pemeriksaan lebih lanjut. Kondisinya cukup serius.”

Nyokap langsung nutup mulut.

“Serius gimana, dok?”

Dokter tarik napas.

“Kami curiga ada masalah di organ dalam. Tapi harus dipastikan dulu.”

Aku nggak ngerti sepenuhnya.

Tapi dari cara dia ngomong…

Ini bukan sakit biasa.

Hari itu… kami nggak pulang.

Rina dirawat.

Dan dari situ…

Hidup enak kami mulai retak.

Beberapa hari pertama, kami masih berharap.

“Mungkin cuma infeksi,” kata bokap.

“Mungkin cuma maag parah,” kata nyokap.

Aku cuma diem.

Tiap hari aku lihat Rina di ranjang.

Mukanya makin pucat.

Badannya lemes.

Tapi dia masih berusaha senyum.

“Gue nggak apa-apa,” katanya.

Padahal jelas… dia nggak baik-baik aja.

Sampai hasil pemeriksaan keluar.

Dokter manggil kami.

Kami duduk di ruangan kecil.

AC dingin banget.

Tapi tanganku tetap berkeringat.

Dokter buka map.

Diam sebentar.

Lalu bicara.

“Kami menemukan sesuatu di tubuh pasien.”

Bokap langsung tegang.

“Apa, dok?”

Dokter menatap langsung.

“Ini kondisi yang sudah cukup lama berkembang.”

Aku ngerasa ada yang jatuh di dalam dada.

“Dan… kami harus jujur… ini bukan kondisi ringan.”

Nyokap mulai nangis.

“Dok… tolong bilang aja…”

Dokter tarik napas.

“Kami curiga ini penyakit serius. Dan dari hasil awal… sudah di tahap lanjut.”

Sunyi.

Aku nggak dengar apa-apa lagi.

Cuma suara kipas AC.

Dan detak jantungku sendiri.

Sejak itu…

Semua berubah cepat.

Uang yang baru datang…

Mulai keluar.

Rumah sakit.

Obat.

Tes.

Semua mahal.

Tapi bokap nggak pernah ngeluh.

“Pakai semua,” katanya.

“Yang penting Rina sembuh.”

Tapi…

Ada sesuatu yang terus ganggu pikiranku.

Hal kecil.

Tapi nggak hilang.

Bokap makin sering keluar malam.

Katanya urusan.

Kadang pulang larut.

Kadang wajahnya tegang.

Aku pernah tanya.

“Pak, lagi apa sih?”

Dia cuma jawab singkat.

“Kerjaan.”

Padahal dia nggak punya kerjaan tetap.

Suatu malam…

Aku lihat lagi.

Dia duduk di meja.

Nulis sesuatu.

Sama seperti malam itu.

Kertasnya banyak.

Tangannya cepat.

Aku mendekat pelan.

Dan kali ini…

Aku sempat lihat sedikit.

Ada tulisan…

Nama Rina.

Dan angka-angka.

Banyak angka.

Sebelum aku bisa baca lebih jelas…

Dia langsung nutup.

“Udah sana tidur.”

Nada suaranya… tegas.

Aku diem.

Tapi di dalam kepala…

Mulai muncul rasa nggak enak.

Hari-hari di rumah sakit makin berat.

Rina makin lemah.

Kadang dia cuma bisa tidur.

Kadang dia pegang tanganku.

“Lo jangan jauh-jauh ya,” katanya pelan.

Aku ngangguk.

Padahal di dalam… aku takut.

Takut banget.

Suatu sore…

Aku lagi di kantin rumah sakit.

Sendirian.

Ngopi sachet.

HP-ku bunyi.

Pesan masuk.

Dari nomor nggak dikenal.

Aku buka.

Isinya cuma satu kalimat.

“Lo harus tau apa yang sebenernya terjadi sama kakak lo.”

Jantungku langsung kenceng.

Aku balas.

“Siapa ini?”

Nggak ada jawaban.

Aku lihat sekeliling.

Orang-orang biasa aja.

Nggak ada yang mencurigakan.

Tapi tanganku… mulai dingin.

Malamnya…

Aku balik ke kamar rawat.

Bokap lagi nggak ada.

Nyokap tidur di kursi.

Rina tidur.

Aku duduk di sampingnya.

Pelan.

Aku lihat wajahnya.

Pucat.

Tenang.

Terlalu tenang.

Dan entah kenapa…

Kalimat itu terus muter di kepala.

“Lo harus tau apa yang sebenernya terjadi sama kakak lo.”

Apa maksudnya?

Aku berdiri.

Pelan.

Keluar kamar.

Ke lorong.

Sepi.

Lampu putih terang.

Aku ambil HP.

Buka lagi pesan itu.

Nomornya masih ada.

Aku mau telepon.

Tapi…

Ragu.

Tiba-tiba…

HP-ku bunyi lagi.

Pesan baru.

Dari nomor yang sama.

“Kalau lo terus diem… lo bakal nyesel seumur hidup.”

Tanganku langsung gemetar.

Aku baca lagi.

Dan di bawahnya…

Ada satu foto.

Aku buka.

Dan di situ…

aku lihat sesuatu yang bikin kakiku lemas.

Itu foto…

bokapku.

Duduk di sebuah ruangan.

Dengan seseorang…

yang aku nggak kenal.

Dan di meja…

ada amplop tebal.

Lebih tebal dari yang pernah aku lihat di rumah.

Aku berdiri di lorong rumah sakit.

Lampu putih bikin semuanya terlihat pucat.

Tanganku masih gemetar pegang HP.

Foto itu… masih terbuka.

Bokap duduk di kursi plastik. Bukan di rumah. Bukan di rumah sakit.

Tempatnya kayak… kantor kecil.

Di depannya ada laki-laki lain. Pakai kemeja rapi. Wajahnya nggak jelas, agak blur.

Di meja…

Amplop.

Tebal.

Lebih tebal dari amplop warisan itu.

Aku zoom.

Tangan bokap kelihatan lagi nyorong amplop itu ke arah laki-laki itu.

Dadaku langsung sesak.

“Ini… apa sih…”

Aku bisik sendiri.

HP-ku bunyi lagi.

Pesan masuk.

“Lo pikir duit warisan itu bersih?”

Jantungku kayak jatuh.

Aku langsung balas.

“Maksud lo apa?”

Nggak ada jawab.

Aku ngetik lagi.

“Siapa lo?”

Masih nggak ada.

Aku lihat lagi foto itu.

Zoom lagi.

Di belakang bokap…

Ada papan tulis kecil.

Tulisan tangan.

Sebagian ketutup.

Tapi ada satu kata yang kebaca jelas.

“Biaya.”

Tanganku langsung dingin.

Aku balik ke kamar rawat.

Pelan.

Pintu kebuka sedikit.

Nyokap masih tidur di kursi.

Rina… masih di ranjang.

Aku masuk.

Duduk di sampingnya.

Lihat wajahnya.

Matanya terpejam.

Napasnya pelan.

Aku pegang tangannya.

Dingin.

Aku telan ludah.

“Rin…” aku bisik.

Dia nggak jawab.

Tentu aja.

Dia tidur.

Tapi di kepala gue…

Suara itu muter terus.

“Lo pikir duit warisan itu bersih?”

Besok paginya…

Aku nunggu bokap di kantin.

Dia datang telat.

Mukanya capek.

Matanya merah.

“Kamu udah makan?” tanyanya.

Aku ngangguk.

Padahal belum.

Aku langsung keluarkan HP.

Tunjukin foto itu.

“Pak… ini apa?”

Dia diam.

Beberapa detik.

Lama.

Matanya lihat foto itu.

Terus… ke aku.

“Dari mana kamu dapet ini?”

Suaranya pelan.

Tapi… berat.

“Ada yang kirim.”

Dia tarik napas panjang.

Lalu… duduk.

Tangannya di meja.

Nggak langsung jawab.

Aku makin tegang.

“Pak… ini apa?”

Dia nutup mata sebentar.

“Bukan apa-apa.”

Jawaban itu…

Sama seperti malam-malam sebelumnya.

Dan kali ini…

Aku nggak percaya.

“Jangan bohong, Pak.”

Suara gue naik sedikit.

Orang di sekitar mulai lirik.

Bokap langsung nengok kanan-kiri.

“Pelan.”

Aku condong ke depan.

“Ini ada hubungannya sama Rina, ya?”

Dia langsung lihat aku.

Tajam.

Untuk pertama kalinya…

Aku lihat dia takut.

Bukan marah.

Takut.

“Jangan ngomong sembarangan.”

Suaranya lebih rendah.

Aku tekan HP ke meja.

“Terus ini apa?!”

Tanganku gemetar.

“Dari awal duit datang… Rina langsung sakit! Terus Bapak sering keluar malam! Sekarang ada foto ini!”

Nafasku cepat.

Dadaku naik turun.

“Ini semua kebetulan?!”

Sunyi.

Bokap nggak jawab.

Dia cuma lihat aku.

Lama.

Lalu… dia berdiri.

“Kita ngomong nanti.”

Dan dia pergi.

Gitu aja.

Aku bengong.

Duduk sendirian.

Perutku mual.

Hari itu… aku mulai curiga.

Bukan cuma bingung.

Curiga.

Aku mulai perhatiin semuanya.

Bokap.

Gerak-geriknya.

Kapan dia keluar.

Kapan dia pulang.

Dia makin sering hilang.

Kadang bilang “ngurus administrasi.”

Kadang “ketemu orang.”

Tapi nggak pernah jelas.

Suatu sore…

Aku pura-pura ke toilet.

Padahal aku ngikutin dia.

Dia keluar rumah sakit.

Naik motor.

Aku nyetop ojek online.

“Bang, ikut motor itu.”

Abangnya nengok.

“Serius?”

“Serius.”

Kami ngikutin dari jauh.

Motor bokap masuk ke jalan kecil.

Bukan arah rumah.

Bukan arah kantor.

Lebih ke pinggiran kota.

Sepi.

Akhirnya dia berhenti.

Di depan bangunan.

Kecil.

Catnya pudar.

Plangnya setengah rusak.

Aku turun.

Jauh.

Aku lihat dari seberang jalan.

Bokap masuk ke dalam.

Aku mendekat pelan.

Jantungku kenceng.

Di kaca depan…

Ada tulisan.

“Klinik Spesialis Penyakit Dalam.”

Tanganku langsung dingin.

Kenapa bukan rumah sakit tempat Rina dirawat?

Kenapa di sini?

Aku nunggu di luar.

Sepuluh menit.

Dua puluh menit.

Tiga puluh menit.

Bokap belum keluar.

Aku nggak tahan.

Aku masuk.

Pelan.

Bau obat.

Sepi.

Cuma ada satu perawat di meja.

Aku pura-pura tanya.

“Permisi, mau nanya…”

Tapi mataku nyari ke dalam.

Dan di situ…

Aku lihat bokap.

Duduk di ruangan.

Sama laki-laki di foto itu.

Orang yang sama.

Kemeja rapi.

Wajahnya jelas sekarang.

Serius.

Di meja…

Amplop lagi.

Dan…

Map tebal.

Aku berdiri di balik pintu.

Nguping.

“Ini semua hasilnya.”

Suara laki-laki itu.

“Sudah saya jelaskan sebelumnya.”

Bokap diam.

“Waktunya tidak banyak.”

Kalimat itu bikin dadaku langsung sesak.

“Kalau mau ditangani… harus segera.”

Aku tahan napas.

Tanganku nempel di dinding.

“Biayanya… sudah saya rinci.”

Suara kertas dibalik.

“Ini minimal.”

Sunyi.

Beberapa detik.

Lalu suara bokap.

Pelan.

“Tolong… lakukan yang terbaik.”

Suaranya… pecah.

Aku belum pernah dengar dia kayak gitu.

“Ini anak saya.”

Jantungku langsung berhenti satu detik.

“Apapun caranya… tolong selamatkan dia.”

Aku merinding.

Seluruh badan.

“Uang… akan saya usahakan.”

Sunyi lagi.

Lalu suara laki-laki itu.

“Kami akan coba. Tapi… saya harus jujur. Kondisinya sudah sangat terlambat.”

Tanganku makin gemetar.

Kepalaku mulai kosong.

Aku mundur pelan.

Keluar.

Udara luar panas.

Tapi aku nggak ngerasa apa-apa.

Aku berdiri di pinggir jalan.

Mobil lewat.

Motor lewat.

Semua normal.

Tapi di kepalaku…

Nggak normal.

“Waktunya tidak banyak.”

Kalimat itu terus muter.

Aku balik ke rumah sakit.

Langkahku cepat.

Nafasku berat.

Aku buka pintu kamar.

Nyokap lagi duduk.

Matanya sembab.

“Dari mana kamu?” tanyanya.

Aku nggak jawab.

Aku langsung ke Rina.

Dia lagi bangun.

Matanya setengah terbuka.

“Lo ke mana…” suaranya kecil.

Aku duduk di sampingnya.

Pegang tangannya.

Lebih dingin dari kemarin.

“Rin…”

Tenggorokanku kering.

Aku nggak tau harus ngomong apa.

Dia senyum kecil.

“Gue capek…”

Matanya mulai nutup lagi.

Aku genggam tangannya.

Kuat.

Terlalu kuat.

Seolah-olah kalau aku lepas…

Dia bakal pergi.

HP-ku bunyi lagi.

Pesan.

Nomor yang sama.

Aku buka.

“Sekarang lo udah mulai ngerti, kan?”

Tanganku gemetar.

Aku balas.

“Lo siapa?!”

Balasan langsung datang.

“Orang yang nggak mau lo nyesel nanti.”

Aku tahan napas.

“Ngomong jelas!”

Beberapa detik…

Balasan muncul.

“Bokap lo nggak cerita semuanya.”

Jantungku langsung kenceng lagi.

“Apa maksud lo?!”

Tiga titik.

Ngetik.

Lalu…

Pesan masuk.

“Yang bikin kakak lo sakit… bukan cuma penyakit.”

Tanganku langsung lemas.

HP hampir jatuh.

Aku baca lagi.

Pelan.

“Yang bikin kakak lo sakit… bukan cuma penyakit.”

Kepalaku langsung penuh.

Semua potongan kejadian…

Mulai nyambung.

Atau… setidaknya terasa seperti nyambung.

Uang datang.

Rina sakit.

Bokap sembunyi-sembunyi.

Amplop.

Dokter lain.

Biaya.

Dan sekarang…

Pesan ini.

Aku berdiri.

Kursi geser bunyi.

Nyokap kaget.

“Kamu kenapa?”

Aku nggak jawab.

Mataku ke Rina.

Dia tidur.

Tenang.

Terlalu tenang.

Kalau ini bukan cuma penyakit…

Terus apa?

HP-ku bunyi lagi.

Pesan terakhir.

“Kalau lo berani… temuin gue besok malam.”

Di bawahnya…

Ada alamat.

Aku baca.

Pelan.

Lokasinya…

nggak jauh dari rumah kami.

Aku angkat kepala.

Napas berat.

Tanganku masih gemetar.

Dan untuk pertama kalinya…

Aku ngerasa…

Mungkin selama ini…

Aku salah lihat semuanya.

Besok malam.

Aku harus datang.

Dan entah kenapa…

Perasaanku bilang…

Apa yang bakal aku lihat nanti…

akan mengubah semuanya.

Aku nggak tidur malam itu.

Kipas angin muter pelan di kamar rawat. Bunyi “krek… krek…” tiap beberapa detik.

Rina tidur.

Nyokap ketiduran di kursi, kepalanya miring ke samping.

Aku duduk di pojok.

HP di tangan.

Alamat itu masih kebuka.

Aku zoom.

Gang kecil.

Nggak ada nama jalan yang jelas.

Cuma titik di maps.

Besok malam.

Jantungku tiap beberapa menit berdebar sendiri.

Kayak tubuhku tau… sesuatu bakal kejadian.

Pagi datang.

Terlalu cepat.

Bokap masuk kamar.

Bawa plastik makanan.

Mukanya tetap capek.

Matanya sembab.

Dia senyum sedikit.

“Udah bangun?”

Aku cuma ngangguk.

Kami nggak ngobrol.

Sunyi.

Cuma suara bungkus plastik dibuka.

Aku perhatiin dia diam-diam.

Cara dia lihat Rina.

Cara dia tarik selimut Rina pelan.

Cara dia usap rambutnya.

Pelan banget.

Kayak takut nyakitin.

Dan entah kenapa…

Itu bikin dadaku makin sesak.

Kalau dia jahat…

Kenapa dia kayak gitu?

“Pak,” aku akhirnya buka suara.

Dia nengok.

“Iya?”

Aku tahan napas.

“Kalau… misalnya…”

Kalimatku berhenti.

Aku nggak berani lanjut.

Dia nunggu.

Aku geleng.

“Nggak jadi.”

Dia lihat aku beberapa detik.

Seolah ngerti.

Tapi dia nggak maksa.

Hari itu berjalan lambat.

Banget.

Jam dinding di kamar kayak nggak mau pindah.

Setiap menit terasa panjang.

Aku cuma nunggu malam.

Jam 7 malam.

Aku bilang ke nyokap.

“Aku keluar bentar.”

“Mau ke mana?”

“Beli makan.”

Dia ngangguk.

Nggak curiga.

Aku keluar rumah sakit.

Udara malam dingin.

Lampu jalan kuning redup.

Aku buka maps.

Alamat itu.

Dekat.

Sekitar 10 menit naik motor.

Aku naik ojek.

Sepanjang jalan…

Tanganku nggak bisa diam.

Keringat dingin.

Motor berhenti.

“Di sini, Bang.”

Aku turun.

Lihat sekitar.

Sepi.

Gang sempit.

Lampu cuma satu.

Kedip-kedip.

Aku jalan masuk.

Langkah pelan.

Suara sandal kena aspal.

Tok… tok… tok…

Di ujung gang…

Ada warung kecil.

Setengah tutup.

Lampu di dalam redup.

Ada satu orang duduk.

Sendirian.

Pakai jaket hitam.

Kepalanya agak nunduk.

Aku berhenti beberapa meter.

“Lo… yang chat gue?”

Orang itu angkat kepala.

Dan di situ…

aku langsung kaget.

Itu…

perempuan.

Umurnya mungkin sekitar 30-an.

Wajahnya biasa.

Tapi matanya…

tajam.

“Iya,” katanya.

Suaranya datar.

Aku mendekat pelan.

Jantungku makin kenceng.

“Siapa lo?”

Dia nggak langsung jawab.

Dia dorong gelas kopi ke pinggir.

“Duduk dulu.”

Aku ragu.

Tapi akhirnya duduk di depan dia.

Kursi plastik bunyi.

“Nama gue Maya,” katanya.

Aku diem.

Nunggu.

“Gue kerja di klinik itu.”

Kepalaku langsung panas.

Klinik.

Tempat bokap tadi.

“Yang kemarin lo datengin.”

Dia lihat langsung ke mataku.

Aku langsung tegang.

“Lo ngikutin gue?”

Dia sedikit senyum.

“Kebetulan gue lagi di sana.”

Aku nggak percaya.

Tapi aku nggak peduli.

“Lo bilang… ini bukan cuma penyakit.”

Suaraku lebih tajam sekarang.

“Maksud lo apa?”

Dia diam sebentar.

Lalu buka tas.

Keluarkan sesuatu.

Map.

Tipis.

Dia taruh di meja.

“Buka.”

Tanganku gemetar waktu ambil.

Aku buka.

Di dalamnya…

hasil medis.

Nama pasien…

Rina.

Aku langsung fokus.

Mataku baca cepat.

Banyak istilah yang aku nggak ngerti.

Tapi ada satu bagian…

yang ditandai.

Lingkaran merah.

Aku baca pelan.

“Reaksi… zat…”

Aku berhenti.

Keningku berkerut.

“Ini apa?”

Maya condong sedikit.

“Itu bukan penyakit biasa.”

Jantungku langsung kenceng.

“Maksudnya?”

Dia tarik napas.

“Tubuh kakak lo… bereaksi terhadap sesuatu.”

Tanganku mulai dingin lagi.

“Sesuatu apa?”

Dia diam.

Beberapa detik.

Lalu…

“Zat tertentu.”

Aku makin bingung.

“Zat apa?!”

Suaraku naik.

Dia lihat sekeliling.

Warung kosong.

Aman.

Dia kembali lihat aku.

“Yang biasanya… nggak ada di tubuh.”

Kepalaku mulai penuh.

“Lo ngomong apa sih?!”

Aku hampir berdiri.

Dia langsung tahan.

“Duduk.”

Suaranya tegas.

Aku terdiam.

Dia dorong map itu lebih dekat.

“Ini hasil dari pemeriksaan tambahan. Bukan yang di rumah sakit.”

Aku lihat lagi.

Tulisan-tulisan itu…

tiba-tiba terasa beda.

“Lo bilang ini… bukan penyakit?”

Dia geleng pelan.

“Bukan murni.”

Dadaku langsung sesak.

“Terus ini apa?!”

Dia lihat aku dalam.

Dan kalimat berikutnya…

bikin dunia gue kayak berhenti.

“Ini bisa terjadi… kalau ada sesuatu yang masuk ke tubuh dia… secara terus-menerus.”

Tanganku langsung lepas dari map.

“Masuk… gimana maksud lo?”

Dia nggak jawab langsung.

Cuma lihat aku.

Lama.

Seolah nunggu aku ngerti sendiri.

Kepalaku mulai muter.

Masuk ke tubuh.

Terus-menerus.

Bukan penyakit.

Aku langsung berdiri.

Kursi jatuh ke belakang.

“Lo nuduh siapa?!”

Suaraku tinggi.

Echo di gang kecil.

Maya tetap duduk.

Tenang.

“Gue nggak nuduh.”

“Terus ini apa?!”

Aku tunjuk map itu.

“Lo bilang ini ada sesuatu yang masuk ke tubuh dia!”

Nafasku cepat.

“Siapa yang masukin?!”

Sunyi.

Beberapa detik.

Maya akhirnya bicara.

Pelan.

“Lo harusnya nanya…”

Dia berhenti.

Tatap mataku.

“…siapa yang paling sering deket sama dia.”

Jantungku langsung berhenti.

Satu detik.

Gambar-gambar langsung muncul di kepalaku.

Rina di rumah.

Makan.

Minum.

Di kamar.

Dan…

bokap.

Aku mundur satu langkah.

Kepalaku goyang.

“Nggak…”

Aku geleng.

“Nggak mungkin.”

Maya nggak ngomong.

Cuma lihat aku.

“Bokap gue… nggak mungkin…”

Suaraku pelan sekarang.

Lebih ke diri sendiri.

“Dia… dia yang bawa dia ke rumah sakit…”

Aku ketawa kecil.

Tapi nggak ada lucunya.

“Dia yang bayarin semua…”

Tanganku gemetar lagi.

“Nggak mungkin dia…”

Kalimatku berhenti.

Maya akhirnya bicara lagi.

“Gue nggak bilang itu dia.”

Aku langsung lihat dia.

“Tapi lo harus jujur sama diri lo sendiri.”

Suaranya datar.

“Semua orang di sekitar dia… punya akses.”

Kepalaku makin penuh.

Nyokap.

Aku.

Bokap.

“Tapi…” aku tahan napas.

“Kenapa baru sekarang?”

Maya jawab cepat.

“Karena efeknya butuh waktu.”

Sunyi.

Aku duduk lagi.

Pelan.

Kaki rasanya lemas.

“Lo yakin sama ini?”

Dia ngangguk.

“Gue lihat datanya sendiri.”

Tanganku nutup wajah.

Semua jadi kacau.

“Kenapa lo kasih tau gue?”

Aku tanya pelan.

Dia diam sebentar.

Lalu jawab.

“Karena gue lihat bokap lo.”

Aku langsung lihat dia.

“Apa maksud lo?”

Dia tarik napas.

“Dia tiap datang… selalu nanya hal yang sama.”

Aku tegang.

“Apa?”

“Kalau ada kemungkinan… ini bukan penyakit.”

Jantungku langsung berdetak keras.

“Dia curiga duluan,” lanjut Maya.

“Dari awal.”

Aku bengong.

“Dia yang minta diperiksa lebih dalam.”

Kepalaku langsung kosong.

Semua yang aku pikir…

terbalik.

“Dia…” aku pelan.

“Dia curiga…?”

Maya ngangguk.

“Dan dia kelihatan… takut.”

Aku langsung ingat…

malam-malam dia nulis.

Tangannya gemetar.

Tatapannya.

Bukan karena dia nyembunyiin sesuatu.

Tapi…

karena dia nyari sesuatu.

HP-ku tiba-tiba bunyi.

Aku kaget.

Aku lihat.

Pesan masuk.

Nomor yang sama.

Aku buka.

Isinya cuma satu kalimat.

“Lo udah mulai ngerti sekarang?”

Tanganku gemetar.

Aku angkat kepala.

Lihat Maya.

“Ini lo?”

Dia langsung geleng.

“Bukan.”

Jantungku langsung jatuh lagi.

Kalau bukan dia…

Terus siapa?

Pesan masuk lagi.

“Kalau lo mau tau siapa sebenarnya… lihat orang yang paling lo percaya.”

Tanganku langsung dingin.

Aku pelan-pelan menoleh ke arah jalan keluar gang.

Seolah-olah…

ada seseorang yang lagi lihat aku dari jauh.

Dan untuk pertama kalinya…

aku ngerasa…

bukan cuma kakakku yang dalam bahaya.

Tapi…

kami semua.

Aku pulang dengan kepala kosong.

Lampu jalan lewat satu-satu.

Tapi aku nggak benar-benar lihat apa-apa.

Semua terasa… jauh.

Sampai di rumah sakit…

aku berdiri di depan pintu kamar Rina.

Tangan di gagang pintu.

Diam.

Lama.

Kalau semua ini benar…

berarti selama ini…

ada seseorang…

yang pelan-pelan bikin Rina sakit.

Aku dorong pintu.

Pelan.

Kamar terang.

Nyokap lagi duduk di samping ranjang.

Matanya merah.

Rina… tidur.

Lebih pucat dari kemarin.

Lebih kurus.

Lebih… hilang.

“Kamu dari mana?” tanya nyokap pelan.

Aku nggak langsung jawab.

Aku masuk.

Duduk.

Mataku ke Rina.

“Nggak ke mana-mana.”

Bohong.

Tapi aku nggak punya tenaga buat jelasin.

Nyokap usap tangan Rina.

Pelan.

Seperti biasa.

Seperti tiap hari.

Dan tiba-tiba…

sesuatu muncul di kepalaku.

Siapa yang paling sering deket sama dia?

Aku langsung lihat nyokap.

Tanganku mulai dingin.

Sepanjang hari…

nyokap selalu di samping Rina.

Nyokap yang nyuapin.

Nyokap yang kasih minum.

Nyokap yang jagain.

“Nggak…”

Aku bisik sendiri.

Nggak mungkin.

Tapi kalimat itu…

nggak mau pergi.

“Yang bikin kakak lo sakit… bukan cuma penyakit.”

Aku berdiri.

Pelan.

“Kamu mau ke mana lagi?” tanya nyokap.

“Ambil minum.”

Aku keluar.

Di lorong…

aku sandar ke dinding.

Dingin.

Kepalaku mulai sakit.

Kalau bukan bokap…

Terus siapa?

Aku tarik napas panjang.

Berusaha tenang.

Mungkin aku salah.

Mungkin semua ini cuma kebetulan.

Mungkin aku terlalu jauh mikir.

Aku balik ke kamar.

Dan saat itu…

aku lihat sesuatu.

Kecil.

Tapi…

cukup untuk bikin semuanya runtuh.

Nyokap lagi nyiapin air minum buat Rina.

Dari botol.

Seperti biasa.

Tapi…

tangannya berhenti sebentar.

Dia lihat ke arah pintu.

Pastikan aku nggak di situ.

Lalu…

dari kantong bajunya…

dia keluarkan sesuatu.

Kecil.

Putih.

Tanganku langsung gemetar.

Nyokap buka tutup botol.

Dan…

menjatuhkan sesuatu itu ke dalam air.

Plung.

Kecil.

Cepat.

Dia langsung tutup lagi.

Goyang sedikit.

Dan di situ…

duniaku berhenti.

Aku berdiri di pintu.

Nggak bergerak.

Nggak bersuara.

Dadaku sesak.

Nafasku berhenti.

Nyokap berbalik.

Dan lihat aku.

Matanya langsung membesar.

Sunyi.

Botol masih di tangannya.

Aku jalan masuk.

Pelan.

Langkahku berat.

“Apa itu, Ma…”

Suaraku hampir nggak keluar.

Nyokap diam.

“Apa yang Mama masukin…”

Tanganku gemetar.

Nyokap pelan menurunkan botol itu.

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Jawab, Ma…”

Suaraku pecah.

Beberapa detik…

yang terasa seperti lama banget.

Dan akhirnya…

dia bicara.

Pelan.

Hampir bisik.

“Vitamin…”

Aku langsung ketawa.

Refleks.

Tapi suaranya aneh.

“Vitamin?”

Aku ulang.

Mataku ke botol itu.

“Vitamin apa…?”

Nyokap nggak jawab.

Tangannya makin gemetar.

Aku maju satu langkah.

Ambil botol itu.

Dia nggak ngelawan.

Aku buka.

Cium.

Nggak ada bau aneh.

Tapi itu bukan soal bau.

Aku lihat ke arah Rina.

Masih tidur.

Tenang.

Dan tiba-tiba…

aku inget sesuatu.

Hari-hari sebelum Rina sakit.

Nyokap selalu bilang,

“Minum ini ya, biar sehat.”

Dan Rina minum.

Selalu.

Setiap hari.

Tanganku langsung lemas.

Botol itu hampir jatuh.

“Ma…”

Suaraku gemetar.

“Sejak kapan…?”

Nyokap langsung nangis.

Air matanya jatuh cepat.

“Aku cuma mau dia sehat…”

Kalimat itu…

langsung nusuk.

“Aku cuma mau dia kuat…”

Aku mundur satu langkah.

“Ma… itu apa…”

Dia tutup wajahnya.

“Obat…”

Jantungku langsung berhenti.

“Obat apa?!”

Suaraku langsung naik.

Rina bergerak sedikit di ranjang.

Nyokap panik.

“Pelan!”

Tapi aku nggak bisa.

“Obat apa, Ma?!”

Dia nangis.

Lebih keras.

“Aku dikasih…”

“Aku dikasih sama orang…”

Dunia langsung runtuh lagi.

“Orang siapa?!”

Dia geleng.

“Aku nggak tau…”

Aku langsung marah.

“Gimana bisa nggak tau?!”

Dia histeris.

“Aku cuma mau dia sehat!”

Aku pegang kepala.

Semua jadi kacau.

“Apa yang Mama masukin ke dia?!”

Nyokap jatuh duduk.

Tangannya nutup wajah.

“Katanya… suplemen…”

“Katanya bagus buat daya tahan…”

Aku langsung inget.

Warisan.

Uang.

Beberapa hari setelah itu…

Nyokap mulai sering keluar.

Katanya ke pasar.

Atau ke tetangga.

Tapi…

berapa lama dia di luar?

Ketemu siapa?

Aku langsung jongkok di depan dia.

“Siapa yang kasih, Ma…”

Suaraku lebih pelan sekarang.

Lebih dalam.

Dia nangis.

“Ada ibu-ibu…”

“Dia bilang… dia kenal kondisi kita…”

“Aku… aku cuma mau bantu Rina…”

Tanganku langsung dingin.

Ibu-ibu.

Siapa?

Kenapa tau kondisi kita?

Kenapa muncul… tepat setelah kita dapet uang?

HP-ku tiba-tiba bunyi.

Aku langsung ambil.

Pesan.

Nomor itu lagi.

Aku buka.

“Sekarang lo udah liat sendiri, kan?”

Tanganku gemetar.

Aku pelan angkat kepala.

Lihat nyokap.

Yang lagi hancur di depan aku.

Lihat Rina.

Yang tidur… tanpa tau apa-apa.

Dan untuk pertama kalinya…

aku ngerasa benar-benar nggak punya pegangan.

Kalau nyokap juga korban…

Terus siapa sebenarnya…

yang main di balik semua ini?

HP-ku bunyi lagi.

Pesan terakhir malam itu.

“Kalau lo mau selamatin kakak lo… datang besok pagi.”

Di bawahnya…

alamat baru.

Aku baca.

Pelan.

Dan kali ini…

alamatnya…

membuat jantungku berhenti.

Itu alamat…

rumah kami sendiri.

Pagi itu…

aku berdiri di depan rumah sendiri.

Rumah yang selama ini terasa aman…

sekarang malah bikin dadaku sesak.

Pintu masih tertutup.

Catnya mulai mengelupas di bagian bawah.

Sama seperti dulu.

Nggak ada yang berubah.

Tapi rasanya… beda.

HP-ku masih di tangan.

Alamat itu jelas.

Nggak salah.

Ini tempatnya.

Aku tarik napas.

Lalu dorong pintu.

Krek.

Bau rumah langsung nyambut.

Campuran minyak kayu putih, nasi hangat, dan sedikit lembab.

Sepi.

Aku masuk.

Pelan.

Langkahku gema di lantai.

“Ma?” aku manggil.

Nggak ada jawab.

Aku ke dapur.

Kosong.

Ke kamar.

Kosong.

Ruang tamu.

Dan di situ…

aku lihat seseorang.

Perempuan.

Duduk santai di kursi.

Pakai baju rapi.

Tas di sampingnya.

Dia nengok ke aku.

Dan senyum.

Senyum yang langsung bikin bulu kudukku berdiri.

“Kamu akhirnya datang juga.”

Suaranya tenang.

Aku langsung tegang.

“Siapa lo?”

Dia berdiri.

Pelan.

“Kamu bisa panggil saya… Bu Rani.”

Namanya asing.

Tapi wajahnya…

entah kenapa terasa familiar.

“Lo yang chat gue?”

Dia nggak jawab langsung.

Cuma senyum sedikit.

“Aku yang mau bantu kamu.”

Aku langsung emosi.

“Bantu apa?!”

“Bantu kamu ngerti semuanya.”

Tanganku mengepal.

“Ini semua gara-gara lo?!”

Dia masih tenang.

Terlalu tenang.

“Duduk dulu.”

“Aku nggak mau duduk!”

Suaraku menggema.

Dia menghela napas.

Lalu…

mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

Botol kecil.

Putih.

Persis seperti yang tadi kulihat di tangan nyokap.

Jantungku langsung kenceng.

“Ini yang kamu cari, kan?”

Aku langsung maju.

Ambil botol itu.

Tanganku gemetar.

“Apa ini?!”

Dia lihat aku dalam.

“Obat.”

Aku langsung marah.

“Jangan bohong!”

Dia geleng.

“Memang obat.”

“Obat apa?!”

Dia tarik napas.

“Obat yang salah.”

Sunyi.

Aku bengong.

“Apa maksud lo…”

Dia duduk lagi.

Pelan.

“Aku jual produk kesehatan. Suplemen.”

Kepalaku mulai panas.

“Tapi… ada yang palsu.”

Tanganku makin kenceng pegang botol itu.

“Aku nggak tau awalnya…”

Suaranya mulai berubah.

Nggak setenang tadi.

“Distributor kasih… aku jual…”

“Dan ibumu beli.”

Dunia kayak berhenti.

“Aku baru tau… setelah beberapa orang sakit.”

Aku langsung maju.

“Terus lo diam aja?!”

Dia langsung angkat suara.

“Aku juga korban!”

Sunyi.

Nafasku berat.

“Aku hampir dipenjara…”

“Makanya aku cari satu-satu orang yang kena…”

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Termasuk keluarga kamu.”

Tanganku lemas.

“Terus kenapa lo nggak dari awal bilang?!”

Dia jawab pelan.

“Karena bapakmu duluan tau.”

Jantungku langsung berhenti.

“Apa?”

Dia ngangguk.

“Dia datang ke klinik. Curiga.”

“Dia minta dicek lebih dalam.”

Flashback langsung masuk.

Bokap.

Kertas.

Angka.

Malam-malam.

“Dia bahkan cari aku.”

Aku bengong.

“Dia maksa aku jujur.”

Tanganku gemetar.

“Terus kenapa lo nggak bilang ke gue?!”

Dia diam sebentar.

“Karena bapakmu minta.”

Sunyi.

“Apa…?”

Dia lihat aku.

“Dia bilang… jangan bikin kamu dan ibumu hancur duluan.”

Dadaku langsung sesak.

“Dia mau pastiin dulu… cara nyelamatin anaknya.”

Mataku mulai panas.

“Dia jual apa yang dia punya.”

“Dia pinjam uang.”

“Dia cari dokter lain.”

“Semua… buat nyelamatin kakakmu.”

Aku langsung inget…

amplop.

Motor.

Wajah capek.

Tanganku nutup wajah.

Aku… salah.

Selama ini…

aku curiga ke orang yang justru lagi berjuang.

Air mataku jatuh.

“Sekarang…” suara Bu Rani pelan.

“Aku datang karena… ada satu hal yang belum kamu tau.”

Aku angkat kepala.

“Apa…”

Dia nunjuk botol itu.

“Efeknya… bisa dihentikan.”

Jantungku langsung kenceng lagi.

“Apa maksud lo?!”

“Masih ada waktu.”

Aku langsung berdiri.

“Serius?!”

Dia ngangguk cepat.

“Selama belum terlalu lama… tubuh masih bisa pulih.”

Nafasku langsung nggak beraturan.

“Rina…”

Aku langsung lari keluar rumah.

Motor lewat.

Aku hampir keserempet.

Aku nggak peduli.

Cuma satu yang ada di kepala.

Rina.

Aku sampai di rumah sakit.

Lari.

Naik tangga.

Buka pintu kamar.

“Pak!”

Bokap langsung nengok.

Nyokap di samping Rina.

“Ada cara!” aku teriak.

Mereka langsung kaget.

“Apa?” bokap berdiri.

Aku tunjuk botol itu.

“Ini penyebabnya!”

Nyokap langsung nangis lagi.

“Maaf…”

Tapi aku nggak fokus ke dia.

“Masih bisa diselamatkan!”

Bokap langsung ke dokter.

Cepat.

Beberapa jam berikutnya…

semua berubah cepat.

Rina dipindah.

Dikasih penanganan khusus.

Kami nunggu.

Jam terasa lama.

Tapi kali ini…

ada harapan.

Malam itu…

dokter keluar.

“Kami sudah tangani.”

Kami langsung berdiri.

“Kondisinya… mulai stabil.”

Nyokap langsung jatuh duduk.

Nangis.

Aku pegang kepala.

Bokap tutup mata.

Lama.

“Terima kasih, dok…”

Dokter lanjut.

“Kita masih harus observasi. Tapi… responnya bagus.”

Kalimat itu…

cukup.

Beberapa hari kemudian…

Rina buka mata.

Pelan.

Aku di sampingnya.

“Lo… ngapain nangis…”

Suaranya lemah.

Aku ketawa sambil nangis.

“Lo lama banget bangunnya…”

Dia senyum kecil.

Dan di situ…

semua terasa selesai.

Beberapa minggu kemudian…

kami pulang.

Rumah yang sama.

Tapi suasananya beda.

Lebih hangat.

Rina duduk di ruang tamu.

Masih lemes.

Tapi hidup.

Nyokap duduk di sampingnya.

Genggam tangannya.

Nggak lepas.

Bokap di dapur.

Masak.

Aku lihat mereka semua.

Dan untuk pertama kalinya…

aku benar-benar ngerti.

Kadang…

yang kelihatan paling salah…

justru yang paling berjuang.

Dan kadang…

yang kita percaya…

bisa jadi cuma korban.

Rina nengok ke aku.

“Kita jadi daftar kursus nggak?”

Aku ketawa.

“Jadi. Wajib.”

Dia senyum.

Dan kali ini…

senyumnya nggak dipaksa.

Akhirnya…

kami benar-benar merasakan hidup enak.

Bukan karena uang.

Tapi karena…

kami masih lengkap.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *