KELUAR! KELUAR DARI SINI SEKARANG! ANJING KAU! SUARANYA KERAS SAMPAI TETANGGA-TETANGGA MENGINTIP DARI BALIK PAGAR.

DAN AKU BERDIRI DI SANA.
DI DEPAN RUKO ITU. SENDIRIAN.
DENGAN MAP KUNING DI TANGAN.

Namaku Raka.
Umur dua puluh delapan.

Kolektor lapangan di PT Sean zenyatta Finance, cabang Bekasi Utara.
Sudah tiga tahun kerja.

Gajiku biasa aja. Tapi aku nggak pernah malu.

Tugasku simpel:
nagih angsuran yang telat.

Datang baik-baik.
Ngomong sopan.
Cari solusi.

Kalau nasabah lagi seret, ada jalur:
restrukturisasi, reschedule, atau pelunasan bertahap.

Semua ada aturannya.

Dan selama tiga tahun itu…
aku belum pernah benar-benar “kejebak kasus”.

Sampai aku ketemu:
Hendra dan Linda Kusuma.

Aku kenal mereka tujuh bulan lalu.

Kepala cabangku, Pak Yusuf, lempar berkas ke mejaku.

“Ra, ini prospek bagus. Suami istri. Mau ambil Pajero Sport Dakar. DP aman, income kelihatan jalan. Lo survei ya, standar.”

Aku lihat datanya.
Nama: Hendra Kusuma.
Alamat: Pondok Gede.

Hari itu juga aku berangkat.

Dan jujur…
waktu sampai depan rumahnya, aku sempat mikir:

“Ini mah bukan nasabah… ini calon sultan.”

Rumah dua lantai.
Garasi lebar.

Di dalam:
Fortuner.
Alphard.
Motor gede dua biji.

CCTV di mana-mana.
Lampu taman siang-siang nyala.

Aku tekan bel.

Yang keluar perempuan.
Rapi. Kinclong.

“Ya?”

“Siang Bu, saya Raka dari PT Sean zenyatta Finance—”

“Oh, Pajero ya? Masuk aja.”

Namanya Linda.

Di dalam… makin meyakinkan.

Foto liburan: Bali, Dubai, Eiffel.
Sofa kulit. AC nyala semua.

Beberapa menit kemudian Hendra keluar.

Badan besar. Jam tangan berat.

“Mas leasing ya?”

Jabatannya kuat.

“Raka, Pak.”

Dia langsung to the point.

“Saya nggak masalah cicilan gede. Yang penting proses cepat.”

Linda senyum.
“Udah bosen Fortuner.”

Aku catat semua.

Dokumen? lengkap.
Rekening koran? mutasi puluhan juta.

Usaha? katanya distributor sembako.
Detailnya? ngambang.

Aku sempat nanya lebih dalam.
Jawabannya cuma:

“Macem-macem lah, Mas.”

Waktu aku pamit…

Aku lihat satu hal kecil.

Ada laki-laki di garasi.
Jaket hitam. Logo organisasi.

Dia nggak masuk rumah.
Cuma merokok.
Lalu pergi.

Waktu itu aku anggap biasa.

Seharusnya… nggak.

Pengajuan ACC dua minggu kemudian.

Unit keluar.
Pajero Sport Dakar, abu-abu.

Linda foto-foto.
Upload story.

“Makasih Mas Suami 😘 Finally dapet juga”

Like ratusan.

Angsuran: 11,4 juta per bulan.

Bulan 1: lancar.
Bulan 2: lancar.

Bulan 3: telat 3 hari.
Alasan: luar negeri.
Masuk juga akhirnya.

Masih aman.

Masalah mulai di bulan 4.

Telat seminggu.
Telepon: nggak diangkat.
WA: centang dua.

Aku tunggu sampai hari ke-10.

Lapor ke Pak Yusuf.

“Udah masuk bucket collection. Datengin aja dulu, Ra. Cari tau kondisinya.”

Aku berangkat.

Rumahnya masih sama.
Mobil masih lengkap.

Tapi…

Pajero itu nggak ada.

Slotnya kosong.

Linda yang buka pintu.

Ekspresinya berubah sebentar waktu lihat aku.

“Iya Mas Raka… masuk.”

AC mati.
Kipas nyala.

Detail kecil, tapi kerasa beda.

Hendra keluar.

Dingin.

“Ya?”

“Pak, angsuran bulan ini sudah lewat jatuh tempo—”

“Yang mana?”

Aku buka berkas.

“Pajero Sport, Pak.”

Dia santai jawab:

“Oh itu… udah nggak di sini.”

Aku diam.

“Dipindahtangankan.”

“Ke siapa, Pak?”

Dia nggak jawab.

Cuma bilang:

“Pokoknya bukan saya yang pegang sekarang.”

Aku tarik napas.

“Pak, di kontrak nama Bapak. Kewajiban tetap di Bapak selama belum lunas.”

Dia senyum tipis.

“Kalau mau nagih… nagih ke yang pake sekarang.”

“Nggak bisa begitu, Pak—”

“Nanti juga Mas tau sendiri.”

Aku keluar dengan perasaan nggak enak.

Ini bukan sekadar telat bayar.

Ini udah masuk:
pengalihan unit tanpa izin.

Pelanggaran kontrak.

Tiga hari aku cari info.

Dapet satu istilah yang sama berulang:
“Koordinator wilayah.”

Nggak jelas siapa.

Temenku, Anto, kirim chat:

“Hati-hati Ra. Kalo udah nyangkut situ… ribet.”

Hari keempat.

Aku dipanggil Pak Yusuf.

“Ini udah SP2. Minggu ini masuk SP3.”

Tunggakan hampir 23 juta.

Aku manggut.

Lalu dia kasih kartu nama.

Logo.

Sama kayak jaket orang di garasi dulu.

“Mereka yang referensiin nasabah ini dulu,” kata Pak Yusuf.
“Dan kemungkinan… unitnya sekarang di mereka.”

Perutku langsung nggak enak.

“Pak… kita kesana?”

Dia diam sebentar.

“Harusnya tim. Tapi ini lagi kejar target audit. Lo cek dulu… tapi jangan lama-lama di sana.”

Jadi jelas:
aku bukan disuruh nekat.

Tapi… juga nggak ada pilihan.

Besoknya aku datang.

Sendirian.

Ruko tiga lantai.
Cat hijau tua.
Spanduk organisasi besar di depan.

Dua orang jaga.

Aku masuk.

Di dalam, ada satu orang duduk di ujung meja.

Batik. Kumis tebal.

Dia nggak berdiri.

“Dari leasing mana?”

Aku jawab.

“Pajero itu ya?”

Dia senyum kecil.

Bukan senyum ramah.

Dia buka laci.

Keluarkan amplop.
Dorong ke arahku.

“Udah lah Mas… capek-capek. Ini buat bensin.”

Aku nggak sentuh.

“Saya ke sini bukan itu, Pak.”

Dia mulai berubah nada.

“Mobil itu lagi dipakai orang kami.”

“Secara kontrak masih atas nama Hendra, Pak—”

“Mas…”

Suaranya pelan.

“Tolong jangan ribetin.”

Aku tetap jawab.

“Saya hanya jalankan prosedur, Pak.”

Dan tiba-tiba—

“KELUAR!”

Meledak.

“Keluar kau dari sini! Ngapain ngemis-ngemis ke sini!”

Dua orang berdiri di belakangku.

Aku berdiri.

“Saya akan proses sesuai jalur, Pak.”

“PROSES APA?! PERGI!”

Aku keluar.

Panas.
Berisik.
Kepala berat.

Aku lihat ke atas.

Di jendela lantai dua.

Hendra.

Senyum.

Dan di sebelahnya—
Linda.

HP di tangan.

Ngerekam aku.

Aku pikir… selesai sampai situ.

Ternyata belum.

Malamnya.

HP-ku bunyi.

Nomor nggak dikenal.

Aku angkat.

“Mas Raka ya?”

Suara perempuan.

Aku langsung kenal.

Linda.

“Ada apa, Bu?”

Dia ketawa kecil.

Ketawa yang… beda dari dulu.

“Mas ngapain sih repot-repot ke sana? Kan udah dibilang… mobilnya bukan di kami lagi.”

Aku tahan emosi.

“Bu, saya cuma kerja. Tolong bantu jelasin posisi unitnya sekarang di mana.”

Dia diam sebentar.

Lalu…

“Mas… saran ya.”

Nada suaranya turun.

“Kadang… nggak semua urusan harus diselesaikan.”

Klik.

Telepon mati.

Aku duduk lama.

Kos kecilku panas.

Kipas muter tapi nggak ngaruh.

Jam 11 malam.

WA masuk.

Dari Anto.

“Ra. Ini serius. Nama tempat lo datengin itu… bukan sembarangan. Banyak kasus ilang di situ.”

Aku balas:

“Maksud lo?”

Typing…
hilang.

Typing lagi…

“Udah. Intinya… kalo masih bisa lepas, lepas aja.”

Aku rebahan.

Natap plafon.

Kalau aku mundur…

case ini naik.

Audit masuk.

Nama aku jelek.

Bisa-bisa…
PHK.

Kalau aku lanjut…

jelas bukan sekadar nagih.

Dan untuk pertama kalinya sejak kerja…

aku takut.

Besok paginya.

Aku dipanggil lagi.

Pak Yusuf langsung to the point.

“Gimana kemarin?”

Aku cerita semua.

Detail.

Tanpa ditutupin.

Dia diam lama.

Lalu bilang:

“Ini udah bukan collection biasa.”

Aku nunggu lanjutannya.

“Kita tarik ke legal.”

Aku kaget.

“Pak… berarti—”

“Ya. Kita masuk laporan penggelapan.”

Ruangan langsung terasa dingin.

“Tapi Ra…”

Dia lihat aku.

“Begitu kita masuk ke situ… nggak ada mundur.”

Aku cuma bisa jawab satu kalimat:

“Siap, Pak.”

Padahal dalam hati…

nggak siap sama sekali.

Dua hari kemudian.

Surat jalan keluar.

Legal notice dikirim.

Nama Hendra Kusuma:
resmi dilaporkan.

Dan semua berubah cepat.

HP-ku mulai aneh.

Kadang ada nomor masuk…
pas diangkat, diam.

Motor di depan kos sempat diacak-acak.

Nggak ada yang hilang.

Cuma… kayak dikasih tanda.

Sampai satu sore—

aku pulang.

Dan ada seseorang duduk di depan kos.

Jaket hitam.

Logo yang sama.

Dia berdiri pelan.

“Mas Raka ya?”

Aku diam.

Dia senyum.

“Teguh.”

Nggak jabat tangan.

“Kita ngobrol bentar ya.”

Bukan nanya.

Nyuruh.

Kami jalan ke warung kopi depan.

Dia pesan dua kopi.

Duduk santai.

Seolah nggak ada apa-apa.

“Mas kerja udah lama?”

“Tiga tahun.”

“Harusnya udah ngerti lah…”

Dia seruput kopi.

“Nggak semua nasabah itu… buat dikejar sampai habis.”

Aku jawab pelan:

“Saya kerja sesuai aturan.”

Dia taruh gelas.

Natap langsung ke mataku.

“Aturan itu fleksibel, Mas.”

Sunyi.

Dia lanjut:

“Gini aja… case itu stop. Nanti kita bantu lunasin sebagian. Mas juga aman.”

Aku langsung ngerti.

Ini bukan tawaran.

Ini… jalan keluar.

Tapi aku ingat satu hal:

foto Hendra di jendela.

Senyum itu.

Aku geleng.

“Maaf, Pak. Saya nggak bisa.”

Dia nggak marah.

Cuma senyum tipis.

“Yaudah.”

Dia berdiri.

Rapihin jaket.

“Saya harap… Mas juga siap sama konsekuensinya.”

Dia pergi.

Dan untuk pertama kalinya…

aku ngerasa:

ini udah terlalu jauh.

Seminggu setelah laporan masuk—

polisi mulai bergerak.

Dan fakta mulai kebuka.

Satu per satu.

Hendra bukan distributor sembako.

Itu cuma kedok.

Dia “penyedia unit”.

Ambil mobil kredit.

Lalu dipindahtangankan ke jaringan.

Dipakai.
Diputer.
Dijual lagi.

Linda?

Bukan sekadar istri.

Dia yang urus dokumen.

Yang bikin semuanya kelihatan “bersih”.

Dan organisasi itu?

Bukan cuma satu dua orang.

Jaringan.

Kasusku…

ternyata bukan yang pertama.

Hari penangkapan.

Aku ikut.

Sebagai saksi.

Ruko itu—

yang dulu aku diusir—

sekarang penuh polisi.

Aku berdiri di luar.

Ngelihat satu per satu keluar.

Diborgol.

Teguh lewat di depanku.

Masih santai.

Cuma kali ini…

nggak ada senyum.

Lalu—

Hendra.

Dia lihat aku.

Untuk pertama kalinya…

nggak ada percaya diri.

Linda di belakang.

Nangis.

HP-nya nggak ada lagi.

Aku cuma berdiri.

Nggak ngomong apa-apa.

Dan entah kenapa…

yang aku rasain bukan puas.

Cuma… lega.

Dua bulan kemudian.

Unit Pajero itu ketemu.

Di gudang luar kota.

Kondisi masih bagus.

Dilelang.

Hasilnya nutup sebagian besar tunggakan.

Sisanya…

ditanggung dari jaminan.

Case ditutup.

Namaku?

Bersih.

Bahkan…

aku dipanggil ke kantor pusat.

Direktur cuma bilang:

“Kerja bagus.”

Singkat.

Tapi cukup.

Aku balik ke cabang.

Meja yang sama.

Map kuning yang sama.

Tapi rasanya beda.

Anto tepuk pundakku.

“Gila sih lo, Ra.”

Aku cuma ketawa kecil.

Beberapa hari kemudian—

aku dapat tugas baru.

Nasabah baru.

Rumah kecil.

Motor satu.

Aku tekan bel.

Yang buka pintu—

bapak-bapak sederhana.

Senyum.

“Mas leasing ya? Masuk, Mas.”

Aku senyum balik.

“Siap, Pak.”

Dan kali ini…

aku tahu satu hal pasti:

kerja ini bukan cuma soal nagih.

Tapi soal…

milih berdiri di sisi mana.

Aku masuk.

Duduk.

Buka map.

Dan hidup…

lanjut lagi.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *