DIA NULIS 47 PESAN BUAT GUE… TAPI NGGAK SATUPUN PERNAH SAMPAI. DAN GUE… BARU BACA SEMUANYA SETELAH GUE MUTUSIN DIA.
Aku masih ingat suara kipas angin di kamar kosan Dinda. Berderit pelan, muter nggak rata. Kalau malam, suaranya kayak orang lagi narik napas panjang, capek.
Dulu aku sering dengar itu lewat telepon.
“Denger gak?” tanya Dinda waktu itu.
“Apaan?”
“Kipas aku. Berisik ya?”
“Iya. Ganti aja.”
“Belum sempet.”
Padahal aku tahu, bukan belum sempat. Tapi belum punya uang.
Aku ketawa waktu itu. Nggak ngerti kalau itu sebenarnya kode kecil yang dia kasih.
Sekarang aku mikir, mungkin selama ini banyak kode yang aku lewatin.
Namaku Farel. Dan ini cerita tentang bagaimana aku kehilangan seseorang… tanpa pernah benar-benar sadar kapan kehilangannya dimulai.
—
Tiga tahun LDR.
Jakarta – Bandung.
Awalnya ringan. Bahkan seru.
Setiap malam video call. Cerita hal random. Aku makan nasi padang, dia makan mie instan. Aku di kosan sempit, dia di kamar kecil yang cat temboknya mulai ngelupas di sudut.
“Kapan kita ketemu?” dia sering nanya.
“Kalau kerjaan gue udah agak santai,” jawabku.
Padahal kerjaanku nggak pernah santai.
Aku kerja di agensi digital. Deadline nggak kenal waktu. HP selalu bunyi. Notifikasi masuk terus. WhatsApp, email, Slack. Kadang aku balas Dinda sambil ngetik proposal.
Kadang aku cuma jawab:
“iya”
“oke”
“ntar ya”
Dinda nggak pernah protes.
Itu yang bikin aku nyaman.
—
Suatu malam, dia kirim voice note.
Suara hujan deras di belakangnya.
“Rel… hari ini aku capek banget.”
Aku lagi di kantor. Lampu putih terang. AC dingin. Laptop terbuka dengan 12 tab.
“Kenapa?” jawabku sambil setengah fokus ke layar.
“Kayak… semua orang nuntut aku terus.”
“Yaudah istirahat.”
“Kadang aku pengen cerita panjang… tapi takut kamu sibuk.”
Aku diam sebentar.
Lalu jawab, “nggak apa-apa, cerita aja.”
Dia ketawa kecil.
“Iya… nanti ya.”
Nggak ada cerita malam itu.
—
Hari-hari berikutnya makin padat.
Aku mulai jarang nelpon duluan.
Dinda tetap nunggu.
Dia tetap chat.
Selalu panjang.
Tapi anehnya… makin lama aku ngerasa chat dia makin pendek.
Dari yang dulu bisa 10 bubble, sekarang jadi 2–3.
“udah makan?”
“jangan lupa istirahat ya”
“semangat kerja”
Aku pikir itu bagus.
Berarti dia mulai mandiri. Nggak terlalu bergantung sama aku.
Aku bangga.
Tanpa sadar… aku juga makin jauh.
—
Ada satu momen yang seharusnya bikin aku sadar.
Tapi waktu itu aku anggap biasa.
Malam itu aku lagi di jalan pulang. Naik motor. Hujan rintik. Jalanan macet.
HP di dashboard nyala.
Nama Dinda muncul.
Telepon masuk.
Aku lihat.
Tapi aku nggak angkat.
“lagi di jalan,” pikirku.
Beberapa detik kemudian, dia kirim chat.
“gapapa, hati-hati ya”
Sesederhana itu.
Nggak ada marah.
Nggak ada nanya lagi.
Aku lanjut jalan.
—
Sampai akhirnya… titik itu datang.
Hari Jumat malam.
Aku lagi sendirian di kosan.
Lampu kuning redup. Meja berantakan. Sisa kopi dingin di gelas.
HP bunyi.
Dinda nelpon.
Aku angkat.
“Rel…”
Suaranya pelan banget.
“Iya?”
“Aku boleh jujur?”
Aku langsung ngerasa nggak enak.
“Kenapa?”
“Kayaknya… kita makin jauh ya.”
Aku diam.
Kipas di kamarku bunyi. Tapi kali ini bukan kipas Dinda. Kipas punyaku.
Tapi rasanya sama.
Kosong.
“Enggak kok,” jawabku cepat.
Dia diam.
Beberapa detik.
“Aku ngerasa kamu udah nggak butuh aku lagi.”
Kalimat itu nusuk.
Tapi aku malah defensif.
“Apaan sih. Jangan lebay.”
Hening.
Lama.
Aku bisa dengar napasnya.
Pelan. Berat.
“Kalau kamu capek… kamu bisa istirahat di aku, Rel,” katanya.
Kalimat itu aneh.
Harusnya aku merasa hangat.
Tapi entah kenapa… aku malah merasa tertekan.
Seolah-olah aku ditarik untuk tetap tinggal… padahal aku sudah setengah pergi.
Dan di situlah aku melakukan kesalahan terbesar.
—
“Aku capek, Din.”
Dia diam.
“Aku capek LDR.”
Hening lagi.
Lebih lama.
Aku lanjut.
“Kayaknya… kita nggak cukup.”
Kata-kata itu keluar begitu saja.
Tanpa dipikir panjang.
Seolah aku cuma lagi menghapus file di laptop.
Klik. Delete.
Selesai.
—
Di seberang sana… nggak ada suara.
Cuma napas.
Pelan.
“Jadi… ini selesai?” tanya Dinda.
Aku pejam mata.
“Iya.”
Sederhana.
Singkat.
Kejam.
—
Dia nggak nangis.
Nggak marah.
Nggak teriak.
Dia cuma bilang satu kata.
“Oke…”
Titik panjang di ujungnya terasa.
Seolah masih ada kalimat lain yang mau keluar… tapi ditahan.
Aku tunggu.
Mungkin dia akan bilang sesuatu lagi.
Tapi nggak.
“Jaga diri ya, Rel.”
Klik.
Telepon mati.
—
Aku taruh HP di meja.
Dunia terasa biasa saja.
Nggak ada suara dramatis.
Nggak ada hujan deras.
Cuma kipas angin yang muter pelan.
Dan lampu kuning yang tetap redup.
Aku duduk.
Diam.
Beberapa menit.
Lalu… aku buka WhatsApp.
Chat Dinda masih di atas.
Terakhir: “Jaga diri ya, Rel.”
Aku baca lagi.
Dan lagi.
Entah kenapa… ada sesuatu yang aneh.
Aku scroll ke atas.
Pelan.
Satu demi satu.
Chat-chat lama.
Foto-foto.
Voice note.
Sampai… aku lihat sesuatu.
—
Ada tulisan kecil di bawah.
“Pesan tidak terkirim.”
Satu.
Dua.
Tiga.
…
Aku berhenti.
Alis mengernyit.
Scroll lagi.
Lebih banyak.
“Pesan tidak terkirim.”
Banyak banget.
Puluhan.
—
Jantungku mulai nggak enak.
Aku klik satu.
Isinya muncul.
Dan saat itu…
semuanya berubah.
—
“Aku kangen kamu, Rel.”
Pesan itu dikirim… tapi gagal.
Tanggalnya seminggu lalu.
Aku scroll lagi.
—
“Aku hari ini capek banget, tapi pengen cerita ke kamu.”
Gagal terkirim.
—
“Aku takut kamu bosen sama aku.”
Gagal terkirim.
—
“Aku nunggu kamu nelpon… tapi kayaknya kamu sibuk.”
Gagal terkirim.
—
Tanganku mulai dingin.
Aku scroll terus.
Semakin cepat.
Semakin banyak.
—
“Aku nggak apa-apa kok, aku kuat.”
Gagal terkirim.
—
“Aku cuma pengen kamu nanya kabar aku duluan.”
Gagal terkirim.
—
“Aku kangen kita yang dulu.”
Gagal terkirim.
—
Napas gue mulai nggak teratur.
Jantung berdebar kencang.
Seolah ada sesuatu yang selama ini disembunyikan… dan sekarang dibuka paksa.
—
Aku scroll sampai paling bawah.
Yang paling baru.
Pesan terakhir.
Nomor… 47.
—
“kalau kamu capek… istirahat di aku aja, Rel. aku masih di sini.”
Gagal terkirim.
—
Tanganku gemetar.
HP hampir jatuh.
Aku lihat timestamp.
Pesan itu ditulis… beberapa menit sebelum dia nelpon tadi.
Sebelum aku… memutuskan semuanya.
—
Kepalaku langsung penuh.
Semua momen tadi… tiba-tiba berubah makna.
Voice note hujan.
Telepon yang nggak aku angkat.
Chat pendeknya.
Diamnya.
“Oke…”
—
Aku berdiri.
Langsung tekan tombol call.
Dinda.
Sekali.
Nggak diangkat.
Dua kali.
Masih.
Tiga kali.
Tetap.
—
Aku kirim chat.
“Din…”
“Maaf…”
“Angkat dong…”
Centang satu.
Belum masuk.
—
Jantungku makin kencang.
Aku keluar kamar.
Turun tangga kosan.
Sendal jepit bunyi keras di lantai.
Satpam lihat aku aneh.
Aku nggak peduli.
—
Aku naik motor.
Mesin dinyalakan.
Gas ditarik.
Tujuanku cuma satu.
Bandung.
—
Hujan mulai turun.
Lampu jalan kabur.
Jalan licin.
Tapi aku tetap jalan.
Cepat.
Lebih cepat.
—
HP di dashboard masih nyala.
Chat Dinda.
Belum berubah.
Centang satu.
—
Aku terus melaju.
Di kepala cuma satu kalimat.
“47 pesan…”
“47 kali dia nulis… tapi nggak pernah sampai ke gue…”
—
Dan tiba-tiba…
HP bergetar.
Notifikasi masuk.
—
Dari Dinda.
—
Tanganku langsung ambil HP.
Jantung rasanya mau lompat.
Aku buka.
—
Bukan balasan.
—
Tapi…
satu pesan baru.
—
Nomor 48.
—
“makasih ya… udah ngajarin aku cara ngelepas.”
—
Aku ngerem mendadak di pinggir jalan.
Ban motor selip sedikit.
Napas terputus.
—
Dan di bawahnya…
statusnya:
TERKIRIM.
—
Aku masih di pinggir jalan.
Hujan makin deras. Lampu motor lewat jadi garis panjang di mataku. Helm masih di kepala, tapi aku buka kacanya. Air hujan masuk, dingin, tapi nggak ngaruh apa-apa.
HP di tangan.
Pesan ke-48 itu masih kebuka.
“makasih ya… udah ngajarin aku cara ngelepas.”
Status: terkirim.
Aku ngetik.
“Din, jangan gitu…”
Hapus.
Ngetik lagi.
“Gue lagi ke Bandung.”
Hapus lagi.
Tanganku gemetar.
Akhirnya cuma kirim:
“Din, tolong angkat.”
Centang satu.
Masih.
Sinyal naik turun. Hujan makin kenceng.
Aku langsung nyalain motor lagi. Gas ditarik.
Ban nyiprat air.
—
Perjalanan ke Bandung malam itu terasa beda.
Biasanya aku dengerin musik.
Sekarang nggak ada.
Cuma suara mesin dan hujan.
Dan kepalaku… penuh suara Dinda.
“aku takut kamu bosen sama aku.”
“aku cuma pengen kamu nanya kabar aku duluan.”
“aku masih di sini.”
Semua yang dulu nggak pernah aku baca… sekarang muter terus.
—
Setengah jalan.
HP bunyi.
Notifikasi WhatsApp.
Aku berhenti di bawah jembatan.
Buka.
Bukan dari Dinda.
Temennya.
Rani.
—
“Rel, kamu lagi sama Dinda?”
Aku langsung balas.
“Enggak. Kenapa?”
Typing…
Lama.
Titik-titik muncul hilang.
Muncul lagi.
—
“Dia dari tadi nggak keluar kamar.”
Jantungku langsung nyeret.
“Terus?”
“HP-nya di luar. Aku ketok nggak dibuka.”
Aku langsung telepon Rani.
—
“Ran, buka paksa.”
“Udah gue coba, Rel.”
“Panggil orang kos!”
“Udah!”
Suara di sana ribut.
Ada suara pintu diketok keras.
Ada suara orang teriak.
—
“DINDA!!”
—
Aku tahan napas.
Keringat dingin.
Padahal hujan.
—
“Rel…” suara Rani gemetar.
“Iya…”
“Kita lagi coba dobrak…”
—
Gedebuk.
Sekali.
Dua kali.
—
“DINDA!!”
—
Hening.
Detik itu terasa lama banget.
—
“KEBUKA!”
—
Suara langkah kaki.
Cepat.
Panik.
—
“Din…?”
Suara Rani berubah.
Lebih pelan.
Lebih takut.
—
“Rel…”
“Iya?!”
—
“Dia… pingsan.”
—
Dunia kayak berhenti.
—
“Ada botol obat di sampingnya…”
—
Tanganku langsung lepas dari HP.
Hampir jatuh.
—
“Ran… jangan bilang…”
—
“Gue nggak tau dia minum berapa…”
—
Aku langsung nyalain motor.
Nggak mikir.
Gas full.
—
“Bawa ke rumah sakit!”
“Iya! Lagi kita angkat!”
—
Telepon mati.
—
Aku ngebut.
Nggak peduli hujan.
Nggak peduli jalan.
Lampu merah? Terobos.
Klaxon orang? Nggak dengar.
—
Kepalaku cuma satu.
“47 pesan…”
“Dan gue malah ninggalin dia…”
—
Beberapa menit kemudian, HP bunyi lagi.
Pesan dari Rani.
—
“Kita udah di RS.”
“IGD.”
—
Aku balas:
“Gue OTW.”
—
Tanganku makin dingin.
Gas makin dalam.
—
Dan di tengah hujan itu…
aku baru sadar satu hal.
—
Semua pesan Dinda… gagal terkirim.
—
Kecuali satu.
—
Pesan terakhir.
—
Yang dia kirim…
setelah aku mutusin dia.
—
Dan itu artinya…
—
selama ini dia nggak pernah benar-benar “ngomong” ke aku.
—
tapi malam ini…
dia akhirnya “ngomong”.
—
dan itu… bisa jadi terakhir.
—
HP-ku tiba-tiba getar lagi.
Pesan baru.
Dari Dinda.
—
Aku langsung buka.
—
Bukan teks.
—
Tapi…
voice note.
—
Durasi: 0:12
—
Tanganku langsung tekan play.
—
Suara napas.
Pelan.
Berat.
—
“Rel…”
—
Suara itu lemah.
—
“…aku capek…”
—
Hening sebentar.
—
“…aku udah coba kuat…”
—
Suara seperti tersenyum… tapi patah.
—
“…kali ini… aku istirahat ya…”
—
Voice note selesai.
—
Aku ngerem mendadak di depan rumah sakit.
—
Dan untuk pertama kalinya…
aku benar-benar takut kehilangan dia.
—
IGD bau obat.
Lampu putih.
Orang lalu-lalang.
Suara sepatu perawat di lantai.
Aku masuk dengan napas putus-putus.
Helm masih di tangan.
Baju basah.
—
“Rani!”
Dia berdiri di pojok.
Matanya merah.
—
“Di mana dia?!”
“Di dalam…”
—
Aku langsung lari.
Tapi ditahan.
“Mas, nggak boleh masuk.”
“ITU PACAR SAYA!”
Suara gue pecah.
—
Perawat tetap tahan.
“Tunggu dokter, mas.”
—
Aku berdiri.
Tangan gemetar.
Kaki nggak bisa diam.
—
Beberapa menit.
Rasanya kayak jam.
—
Dokter keluar.
Masker di wajah.
“Keluar siapa keluarga pasien?”
Aku maju.
“Saya.”
—
Dokter lihat aku.
“Pasien minum obat penenang cukup banyak.”
Jantungku jatuh.
—
“Tapi…”
Aku nahan napas.
—
“masih tertolong.”
—
Kakiku langsung lemes.
Aku pegang dinding.
—
“Sekarang lagi kita stabilkan. Tapi kondisi mentalnya… harus diperhatikan.”
Aku cuma bisa angguk.
—
Rani nangis di belakang.
—
Beberapa saat kemudian…
aku akhirnya boleh masuk.
—
Dinda terbaring.
Wajah pucat.
Selang di tangan.
Mesin bunyi pelan.
—
Aku jalan pelan.
Dekat.
Duduk di samping.
—
Tanganku pegang tangannya.
Dingin.
—
“Din…”
Suaraku serak.
—
Dia nggak bangun.
—
Aku lihat wajahnya.
Orang yang selama ini selalu ada…
tapi aku anggap biasa.
—
Dan di situ…
semuanya akhirnya nyambung.
—
Chat pendeknya.
Diamnya.
“Oke…”
—
Bukan karena dia nggak peduli.
—
Tapi karena…
semua yang mau dia bilang…
nggak pernah sampai.
—
Aku buka HP.
Masih ada 47 pesan itu.
—
Aku baca lagi.
Satu per satu.
Pelan.
—
“Aku kangen kamu…”
—
Tanganku makin kuat genggam tangannya.
—
“Aku cuma pengen kamu ada…”
—
Air mataku jatuh.
—
“aku takut kehilangan kamu…”
—
Dan di situ…
aku sadar satu hal yang paling nyakitin.
—
Selama ini…
dia berjuang sendirian.
—
Dan gue…
nggak pernah benar-benar ada.
—
Tiba-tiba…
jarinya bergerak.
Pelan.
—
“Din…?”
Aku mendekat.
—
Matanya sedikit terbuka.
—
“Rel…”
Suara itu kecil banget.
—
“Iya… gue di sini.”
—
Dia lihat aku.
Lama.
—
“…maaf…”
—
Kalimat itu bikin dada gue sesak.
—
“Jangan minta maaf, Din… gue yang salah.”
—
Dia senyum tipis.
—
“…aku udah coba… kuat…”
—
Aku geleng.
“Nggak usah kuat sendiri lagi.”
—
Air mata dia keluar.
—
“…aku capek, Rel…”
—
Aku pegang tangannya lebih erat.
—
“Sekarang istirahat… di gue.”
—
Dia diam.
Nangis pelan.
—
Dan di situ…
aku tahu.
—
Kalau gue telat sedikit lagi…
—
gue beneran kehilangan dia.
—
Tapi masalahnya…
—
aku sudah sempat melepaskan dia.
—
dan aku nggak tahu…
dia masih mau balik atau nggak.
—
Pagi masuk lewat jendela IGD.
Cahaya tipis, pucat.
Dinda sudah dipindah ke ruang rawat.
Lebih tenang.
Lebih sepi.
—
Aku duduk di kursi plastik.
Nggak tidur semalaman.
Mata panas.
Baju masih bau hujan.
—
Dinda bangun pelan.
Aku langsung berdiri.
“Din…”
—
Dia lihat aku.
Nggak kaget.
Nggak juga senang.
Cuma… lihat.
—
“Lo… belum pulang?”
“Belum.”
—
Hening.
—
“Aku udah bikin lo repot ya…”
Kalimat itu keluar pelan.
—
Aku langsung geleng.
“Jangan gitu.”
—
Dia lihat plafon.
Lama.
—
“Rel…”
“Iya?”
—
“Kemarin… lo mutusin aku.”
—
Jantungku langsung nyeri.
—
“Iya…”
—
“…dan itu bukan pertama kalinya aku ngerasa kehilangan lo.”
—
Aku diam.
—
Dia lanjut.
Masih lihat ke atas.
—
“Bedanya… kemarin lo ngomong.”
—
Kalimat itu… bikin semuanya jelas.
—
Selama ini…
aku memang belum pergi.
—
Tapi aku juga nggak pernah benar-benar tinggal.
—
“Din…”
Suaraku berat.
—
“Aku baca semuanya.”
—
Dia sedikit nengok.
Alisnya berkerut.
—
“47 pesan lo.”
—
Matanya langsung berubah.
—
“…lo baca?”
—
Aku angguk.
—
Air matanya langsung jatuh.
—
“…itu harusnya nggak pernah lo lihat…”
—
“Kenapa?”
—
Dia ketawa kecil.
Pahit.
—
“Karena itu semua… cuma buat aku berani sendiri.”
—
Aku nggak ngerti.
—
Dia lanjut.
—
“Aku nulis… biar aku nggak nunggu terlalu berharap.”
—
Nafasku tertahan.
—
“Tiap aku pengen cerita… aku tulis. Tapi aku nggak kirim.”
—
“Kenapa nggak dikirim?”
—
Dia diam sebentar.
—
“…karena aku tau… lo sibuk.”
—
Kalimat itu sederhana.
Tapi nusuk banget.
—
“Aku nggak mau jadi beban.”
—
Aku langsung tunduk.
—
Selama ini…
aku pikir dia baik-baik aja.
—
Padahal dia cuma… menahan diri.
—
“Din… gue minta maaf.”
—
Dia geleng pelan.
—
“…aku juga salah.”
—
“Kamu nggak salah apa-apa.”
—
Dia lihat aku.
—
“…aku terlalu lama bertahan di tempat yang… aku sendirian.”
—
Aku nggak bisa jawab.
—
Hening panjang.
—
Beberapa menit kemudian…
dia ngomong lagi.
—
“Rel…”
“Iya?”
—
“…aku masih sayang lo.”
—
Dadaku langsung penuh.
—
“Tapi aku juga capek jadi orang yang selalu nunggu.”
—
Aku maju sedikit.
—
“Gue berubah, Din.”
—
Dia senyum tipis.
—
“…semua orang bilang gitu… setelah hampir kehilangan.”
—
Aku diam.
—
Dia benar.
—
“Kalau aku balik sekarang… aku takut nanti ulang lagi.”
—
Aku pegang tangannya.
—
“Nggak akan.”
—
Dia tarik tangannya pelan.
—
“…aku nggak mau lagi jadi orang yang nulis… tapi nggak pernah didenger.”
—
Kalimat itu final.
—
Dan di situ…
aku tahu.
—
Ini bukan soal aku minta maaf.
—
Ini soal…
aku harus buktiin.
—
Bukan sekarang.
—
Tapi nanti.
—
Aku berdiri.
Ambil napas.
—
“Gue nggak akan maksa lo balik.”
—
Dia lihat aku.
—
“Tapi gue nggak akan pergi lagi.”
—
Dia diam.
—
“…gue tunggu lo. Bukan buat balik ke yang lama… tapi buat mulai yang baru.”
—
Air mata dia jatuh lagi.
—
Dan untuk pertama kalinya…
ada harapan kecil di matanya.
—
Tapi belum selesai.
—
Dua tahun kemudian.
—
Gedung pernikahan.
Lampu terang.
Karpet merah.
Suara musik pelan.
Orang-orang rapi.
—
Aku berdiri di depan meja buku tamu.
Pakai kemeja putih.
Rambut disisir rapi.
Tapi tangan tetap dingin.
—
Hari ini… aku datang ke nikahan teman.
—
Aku nggak tau…
ini bakal jadi hari yang paling bikin dada gue campur aduk.
—
Aku ambil pulpen.
Tulis nama.
“Farel.”
—
Di bawahnya…
sudah ada banyak tulisan.
—
Aku nggak sengaja lihat satu.
Tulisan tangan yang aku kenal banget.
—
Rapih.
Sedikit miring ke kanan.
—
“Dinda.”
—
Jantungku langsung berhenti sebentar.
—
Aku baca kalimat di bawahnya.
—
“makasih ya… udah ngajarin aku cara ngelepas.”
—
Tanganku langsung kaku.
—
Itu kalimat…
yang pernah dia kirim ke gue.
—
Dua tahun lalu.
—
Aku lihat sekeliling.
Napas berat.
—
Dan di ujung ruangan…
aku lihat dia.
—
Dinda.
—
Pakai dress sederhana.
Rambut lebih panjang.
Wajah lebih tenang.
—
Dia lagi ngobrol sama beberapa orang.
—
Aku jalan pelan.
Dekat.
—
Dia nengok.
—
Mata kita ketemu.
—
Detik itu…
semua kenangan balik.
—
Tapi kali ini…
nggak sakit.
—
Dia senyum.
—
“Rel.”
—
Aku balas senyum.
—
“Din.”
—
Hening sebentar.
Tapi nggak canggung.
—
“Gimana?” dia tanya.
—
“Baik.”
—
Dia angguk.
—
“Aku juga.”
—
Aku lihat dia.
Lebih kuat.
Lebih… utuh.
—
“Lo… bahagia?” tanyaku.
—
Dia senyum.
Lebih lebar.
—
“Iya.”
—
Aku tarik napas.
—
“Gue juga.”
—
Hening lagi.
—
Lalu dia ngomong pelan.
—
“Chat ke-48…”
—
Aku langsung ingat.
—
“…itu satu-satunya yang aku kirim.”
—
Aku angguk.
—
“Dan chat ke-49…”
—
Aku kaget.
—
“…aku tulis setahun lalu.”
—
“Isinya?”
—
Dia senyum.
—
“Aku bahagia… walau bukan sama kamu.”
—
Dadaku hangat.
—
Bukan sakit.
—
Lega.
—
Aku ketawa kecil.
—
“Bagus.”
—
Dia lihat aku.
—
“…lo juga ya.”
—
Aku angguk.
—
“Iya.”
—
Dan di situ…
aku akhirnya ngerti.
—
Cinta nggak selalu tentang punya.
—
Kadang…
tentang belajar.
—
Belajar hadir.
—
Belajar dengar.
—
Belajar nggak nyia-nyiain.
—
Walaupun…
belajarnya telat.
—
Aku lihat dia sekali lagi.
—
Dia baik-baik aja.
—
Dan itu cukup.
—
Aku jalan keluar gedung.
—
Langkah ringan.
—
Nggak ada lagi yang menggantung.
—
Nggak ada lagi yang belum selesai.
—
Dan untuk pertama kalinya…
—
gue benar-benar ngelepas.
—
Dengan tenang.