KAMI PUTUS BUKAN KARENA NGGAK CINTA. TAPI KARENA SATU HAL YANG NGGAK BISA DILAWAN. ORANG TUANYA… LEBIH MILIH YANG MAPAN.
Suara sendok nyentuh gelas pelan.
“ting.”
Es teh di depan gue mulai mencair.
Airnya menetes ke meja kayu, pelan, bikin lingkaran kecil.
Gue nggak minum.
Gue cuma duduk.
Lihat ke arah pintu.
Warung kopi ini masih sama.
Kursi plastik biru.
Meja kayu yang udah agak miring.
Kipas angin di pojok muter pelan, bunyinya “krek… krek…”
Dan di meja ini…
Dulu gue sama dia sering duduk.
Ketawa.
Ngobrol hal-hal nggak penting.
Sampai lupa waktu.
Sekarang…
Gue duduk sendirian.
Udah hampir setengah jam.
Gue cek HP.
Nggak ada chat baru.
Cuma chat terakhir dari dia.
“aku datang ya.”
Jamnya 16.02.
Sekarang sudah 16.41.
Gue tarik napas.
Dalam.
Keluarin pelan.
Tangan gue pegang gelas.
Dingin.
Kayak dada gue sekarang.
Langkah kaki berhenti di depan meja.
Gue angkat kepala.
Dia.
Masih sama.
Rambut diikat.
Pakai kemeja putih.
Tas kecil di bahu.
Tapi hari ini…
Dia kelihatan beda.
Lebih rapi.
Lebih… dewasa.
Dan entah kenapa…
Lebih jauh.
“Maaf telat,” katanya.
Gue cuma angguk.
“Nggak apa.”
Padahal…
Ada yang apa.
Dia duduk.
Naruh tas.
Sunyi.
Beberapa detik nggak ada yang ngomong.
Cuma suara kipas.
Dan motor lewat di luar.
“Lo sehat?” tanya dia.
“Iya.”
“Kerja gimana?”
“Gitu.”
Jawaban gue pendek.
Dia juga.
Nggak ada yang berani masuk ke inti.
Padahal kita sama-sama tahu.
Kita ke sini bukan buat basa-basi.
Gue lihat dia.
“Lo bilang mau ngomong serius.”
Dia langsung diam.
Tangannya mainin ujung sedotan.
Pelan.
“Dim…”
Nada suaranya berubah.
Gue langsung tegang.
“Iya?”
Dia nggak langsung lanjut.
Narik napas dulu.
Pelan.
Baru dia bilang.
“Orang tua gue sudah tahu tentang kita.”
Jantung gue langsung berdebar.
“Terus?”
Dia lihat gue.
Matanya mulai berubah.
“Dan mereka… nggak setuju.”
Sunyi.
Kalimat itu keluar.
Akhirnya.
Gue sudah duga.
Tapi tetep…
Rasanya beda waktu didengar langsung.
“Kenapa?” gue tanya.
Walaupun gue sudah tahu jawabannya.
Dia senyum kecil.
Pahit.
“Lo tahu kenapa.”
Gue diam.
Iya.
Gue tahu.
Karena gue nggak punya apa-apa.
Motor aja masih nyicil.
Kerja masih kontrak.
Gaji pas-pasan.
Nggak ada rumah.
Nggak ada tabungan.
Sementara…
Dia?
Anak orang berada.
Rumah besar.
Orang tuanya punya usaha.
Lingkungan dia beda.
Dan gue…
Cuma numpang lewat di hidupnya.
Gue tarik napas.
“Terus lo gimana?”
Dia langsung jawab.
Cepat.
“Aku tetap pilih kamu.”
Jantung gue langsung berhenti sebentar.
“Hah?”
Dia lanjut.
“Aku sudah bilang ke mereka.”
“Kalau aku mau sama kamu.”
Sunyi.
Tangan gue langsung dingin.
“Terus?”
Dia senyum kecil.
“Kita bertengkar.”
Gue bisa bayangin.
Suasana rumah dia.
Suara tinggi.
Tangis.
Ancaman.
Semua.
Dia lanjut pelan.
“Mereka bilang… kalau aku tetap sama kamu…”
Dia berhenti.
Nahan.
Gue nunggu.
“…mereka nggak akan anggap aku anak lagi.”
Dunia gue langsung diam.
Sunyi.
Gue lihat dia.
Dia nggak nangis.
Tapi matanya basah.
Gue nggak bisa ngomong.
Karena di kepala gue…
Cuma satu hal.
Ini bukan soal kita lagi.
Ini soal hidup dia.
Gue telan ludah.
“Terus… lo pilih apa?”
Pertanyaan itu keluar.
Pelan.
Tapi berat.
Dia diam.
Lama.
Banget.
Sampai suara kipas makin keras.
Sampai suara motor lewat dua kali.
Sampai es di gelas gue habis.
Baru dia angkat kepala.
Lihat gue.
Dan bilang pelan.
“Aku nggak bisa lawan mereka, Dim.”
Jantung gue langsung jatuh.
Dia lanjut.
“Aku sudah coba.”
“Berkali-kali.”
“Capek…”
Kata terakhir itu keluar pelan.
Dan gue ngerti.
Dia sudah di titik habis.
Gue nggak bisa marah.
Nggak bisa nyalahin.
Karena…
Gue juga tahu posisi gue.
Gue tarik napas.
Pelan.
Terus gue angguk.
“Iya.”
Cuma itu.
Nggak ada drama.
Nggak ada teriak.
Cuma satu kata.
Yang artinya…
Selesai.
Kita duduk.
Masih di meja yang sama.
Tapi suasananya beda.
Nggak ada tawa.
Nggak ada cerita.
Cuma dua orang…
Yang tahu ini terakhir.
Dia mainin sedotan lagi.
Gue lihat tangan dia.
Tangan yang dulu sering gue pegang.
Sekarang…
Cuma diam di meja.
“Maaf ya…” katanya.
Gue geleng.
“Nggak usah.”
Dia lihat gue.
“Kamu marah?”
Gue senyum kecil.
Kering.
“Nggak.”
Gue lanjut.
“Gue cuma… telat.”
Dia mengerut.
“Maksudnya?”
Gue lihat dia.
“Harusnya gue sudah jadi orang dulu… sebelum ketemu lo.”
Sunyi.
Dia nggak jawab.
Karena…
Itu juga benar.
Gue berdiri.
Pelan.
Dia ikut berdiri.
Kita saling lihat.
Dekat.
Tapi jauh.
“Udah ya,” kata gue.
Dia angguk.
“Iya.”
Nggak ada pelukan.
Nggak ada pegangan tangan.
Kita cuma…
Balik badan.
Dan jalan ke arah masing-masing.
Tiga tahun kemudian.
Gue berdiri di depan gedung.
Kaca besar.
Tulisan perusahaan gue di atas.
Rapi.
Besar.
Mobil gue parkir di depan.
Bukan motor lagi.
HP gue bunyi terus.
Chat masuk.
Proyek.
Meeting.
Transfer.
Semua yang dulu gue kejar…
Sekarang ada.
Tapi…
Ada satu yang nggak ikut.
Gue buka galeri.
Foto lama.
Dia.
Masih ada.
Gue tutup lagi.
Masukin HP ke kantong.
Tarik napas.
Pelan.
“Harusnya…”
Gue berhenti.
Nggak lanjut.
Karena percuma.
Malam itu.
Gue diundang ke acara.
Pernikahan.
Teman bisnis.
Hotel besar.
Lampu terang.
Musik pelan.
Orang-orang pakai jas.
Gue masuk.
Salaman sana-sini.
Senyum.
Ngobrol.
Semua normal.
Sampai…
MC bilang.
“Kita sambut mempelai wanita…”
Gue nggak terlalu perhatiin.
Sampai…
Dia keluar.
Pakai gaun putih.
Jalan pelan.
Dan dunia gue langsung berhenti.
Dia.
Gue langsung kaku.
Nggak bisa gerak.
Nggak bisa napas.
Orang di sekitar tepuk tangan.
Gue nggak.
Gue cuma lihat.
Dia jalan.
Pelan.
Cantik.
Banget.
Dan di ujung sana…
Seorang pria berdiri.
Pakai jas.
Rapi.
Percaya diri.
Mapan.
Persis seperti yang orang tuanya mau.
Gue nahan napas.
Sampai dia lewat di depan gue.
Dia berhenti.
Lihat gue.
Beberapa detik.
Sunyi di kepala gue.
Dia senyum kecil.
Tipis.
Dan dia bilang pelan.
“Harusnya dulu kamu datang lebih cepat.”
Jantung gue langsung hancur.
“Harusnya dulu kamu datang lebih cepat.”
Kalimat itu masih nempel di kepala gue.
Dia sudah lewat.
Gaunnya menyapu lantai.
Orang-orang tepuk tangan.
Musik pelan mulai naik.
Tapi gue…
Masih berdiri.
Kayak beku.
Sampai seseorang nepuk bahu gue.
“Mas, silakan duduk.”
Gue baru sadar.
Gue di tengah jalan.
Gue minggir.
Duduk di kursi tamu.
Gelas di tangan gue bergetar.
Air di dalamnya ikut goyang.
Gue nggak minum.
Nggak bisa.
Di depan…
Dia duduk di pelaminan.
Di samping pria itu.
Senyum.
Foto.
Salaman.
Semua berjalan.
Normal.
Seperti seharusnya.
Seperti yang orang tuanya mau.
Dan gue…
Cuma tamu.
Yang nggak diundang.
Tapi tetap datang.
Acara selesai.
Orang mulai pulang.
Gue masih duduk.
Nunggu.
Nggak tahu nunggu apa.
Mungkin…
Nunggu keberanian.
Akhirnya gue berdiri.
Jalan ke belakang gedung.
Lebih sepi.
Lampu redup.
Ada kursi panjang.
Dan dia…
Sudah di situ.
Sendiri.
Dia lepas sepatu heels-nya.
Duduk.
Lihat ke depan.
Gue berhenti beberapa langkah dari dia.
“Lo… sengaja nunggu?”
Dia senyum kecil.
“Nggak.”
Gue duduk.
Jarak sedikit.
Sunyi.
Beberapa detik.
“Lo sukses sekarang ya,” katanya.
Gue angguk.
“Iya.”
Dia lihat gue.
“Bagus.”
Satu kata.
Tapi ada banyak di dalamnya.
Gue lihat dia.
“Lo… bahagia?”
Dia diam.
Lama.
Banget.
Terus dia jawab.
“Iya.”
Cepat.
Terlalu cepat.
Gue ngerti.
Tapi gue nggak paksa.
Gue cuma angguk.
“Iya.”
Sunyi lagi.
Gue tarik napas.
“Kalimat lo tadi…”
Dia langsung potong.
“Lupain aja.”
Gue geleng.
“Nggak bisa.”
Dia lihat gue.
Gue lanjut.
“Kenapa lo bilang gitu?”
Dia senyum kecil.
Pahit.
“Karena itu benar.”
Sunyi.
Dia lanjut.
“Kalau waktu itu lo datang… mungkin ceritanya beda.”
Gue nunduk.
“Gue lagi bangun semuanya waktu itu.”
Dia angguk.
“Aku tahu.”
Gue angkat kepala.
“Hah?”
Dia lihat gue.
“Aku lihat.”
Sunyi.
“Dari jauh.”
Jantung gue langsung kencang.
“Maksudnya?”
Dia tarik napas.
Pelan.
“Gue tahu lo ke Jakarta.”
“Gue tahu lo kerja.”
“Gue tahu lo mulai dari nol.”
Gue bengong.
“Dari mana?”
Dia jawab pelan.
“Teman lo.”
Sunyi.
Semua yang gue kira…
Dia nggak tahu.
Ternyata dia tahu.
Dia lanjut.
“Aku nunggu.”
Kalimat itu keluar lagi.
Lebih pelan.
“Berapa lama?”
Gue tanya.
Dia senyum kecil.
“Tiga tahun.”
Jantung gue langsung ditekan lagi.
“Tiga tahun gue nolak semua.”
“Semua yang orang tua gue kenalin.”
Sunyi.
“Karena gue pikir… lo bakal balik.”
Gue nggak bisa ngomong.
Karena itu…
Yang gue rencanakan.
Tapi…
Terlambat.
Dia lanjut.
“Sampai akhirnya…”
Dia berhenti.
“…gue capek sendiri.”
Gue tutup muka sebentar.
Napas gue berat.
“Kenapa lo nggak cari gue…”
Pertanyaan yang sama.
Tapi sekarang…
Lebih sakit.
Dia jawab pelan.
“Karena gue nggak mau jadi beban.”
Sunyi.
Semua alasan gue…
Runtuh.
Dia berdiri.
Pakai lagi heels-nya.
“Aku harus balik.”
Gue ikut berdiri.
Refleks.
“Lo masih… cinta gue?”
Pertanyaan itu keluar.
Bodoh.
Telat.
Tapi jujur.
Dia berhenti.
Nggak langsung jawab.
Lihat ke depan.
Baru dia bilang pelan.
“Ada hal yang lebih kuat dari cinta.”
Jantung gue langsung jatuh.
“Ada hal yang lebih kuat dari cinta.”
Gue berdiri.
Nggak bergerak.
“Keluarga,” lanjut dia.
Satu kata.
Tapi cukup buat jelasin semuanya.
Gue ketawa kecil.
Kering.
“Iya… gue kalah ya.”
Dia nggak jawab.
Karena itu bukan pertandingan.
Itu hidup.
Dia jalan mau balik ke dalam.
Gue panggil.
“Eh…”
Dia berhenti.
Gue lihat dia.
“Kalau gue datang waktu itu…”
Gue berhenti.
“…lo bakal milih gue?”
Sunyi.
Dia balik badan.
Lihat gue.
Lama.
Terus dia jawab.
“Iya.”
Tanpa ragu.
Dan itu…
Lebih sakit dari semua.
Karena sekarang…
Jawaban itu nggak ada gunanya.
Dia masuk.
Gue tinggal sendiri.
Di belakang gedung.
Lampu redup.
Angin malam.
Dan dada gue kosong.
Gue pulang malam itu.
Jalanan sepi.
Lampu merah lama.
Gue nggak fokus nyetir.
Kepala gue muter terus.
Tiga tahun.
Dia nunggu tiga tahun.
Sementara gue…
Sibuk ngejar sesuatu.
Yang ternyata…
Nggak bisa gantiin dia.
HP gue bunyi.
Notifikasi email.
Proyek baru.
Angka besar.
Gue lihat.
Terus gue matiin layar.
Sekarang…
Angka itu nggak berarti apa-apa.
Beberapa hari kemudian.
Gue kerja lagi.
Normal.
Meeting.
Presentasi.
Deal.
Semua jalan.
Tapi…
Ada yang hilang.
Gue duduk di kantor.
Lihat jendela.
Kota di bawah.
Ramai.
Tapi gue sepi.
Asisten gue masuk.
“Pak, ini ada kiriman.”
Gue lihat.
Sebuah amplop.
Coklat.
Tanpa nama pengirim.
Gue buka.
Pelan.
Di dalamnya…
Foto.
Gue langsung kaku.
Foto lama.
Gue dan dia.
Di warung kopi itu.
Tertawa.
Dan di belakang foto…
Ada tulisan tangan.
Tulisan dia.
“aku pernah hampir milih kamu.”
Jantung gue langsung berhenti.
Di bawahnya…
Ada satu kalimat lagi.
“tapi ada satu hal yang kamu nggak pernah tahu.”
Tangan gue langsung gemetar.
Apa lagi…
Yang belum gue tahu?
Gue baca ulang tulisan itu.
“tapi ada satu hal yang kamu nggak pernah tahu.”
Jantung gue berdebar.
Cepat.
Gue langsung ambil HP.
Cari nomor dia.
Masih ada.
Gue tekan.
Nggak diangkat.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Nggak diangkat.
Gue berdiri.
Ambil kunci mobil.
Langsung keluar.
Rumahnya.
Masih sama.
Lampu nyala.
Mobil di depan.
Gue turun.
Jalan cepat.
Ketuk pintu.
“Tok!”
Nggak sabar.
“Tok! Tok!”
Pintu dibuka.
Dia.
Kaget.
“Lo lagi?!”
Gue langsung angkat foto itu.
“Apa maksudnya ini?!”
Dia lihat.
Mukanya langsung berubah.
“Lo dapat dari mana…”
“Jawab dulu!”
Suara gue naik.
Untuk pertama kalinya.
Dia diam.
Beberapa detik.
Terus dia tarik napas.
“Masuk dulu.”
Gue masuk.
Arif nggak ada.
Sepi.
Dia duduk.
Gue berdiri.
Nggak mau duduk.
“Ngomong.”
Dia lihat gue.
Lama.
Terus dia bilang pelan.
“Aku pernah hamil.”
Dunia gue langsung berhenti.
“Hah?”
Dia lanjut.
“Waktu kita masih bareng.”
Jantung gue langsung jatuh.
“Kok… gue nggak tahu?”
Suara gue pecah.
Dia senyum kecil.
Pahit.
“Itu dia.”
Sunyi.
Dia lanjut.
“Aku mau bilang.”
“Tapi…”
Dia lihat gue.
“Lo lagi sibuk ngejar masa depan.”
Kalimat itu nusuk.
“Gue nggak mau ganggu.”
Air matanya mulai jatuh.
“Aku pikir… nanti saja.”
“Pas lo sudah siap.”
Sunyi.
“Tapi…”
Dia berhenti.
“…aku keguguran.”
Semua suara di kepala gue hilang.
Gue mundur satu langkah.
Lemes.
“Lo… sendirian?”
Dia angguk.
“Iya.”
Gue langsung pegang kepala.
“Kenapa lo nggak bilang…”
Suara gue pelan.
Hancur.
Dia jawab.
“Karena lo sudah pergi.”
Sunyi.
Semua potongan…
Nyambung.
Semua penyesalan…
Datang sekaligus.
Gue duduk.
Nggak kuat berdiri.
“Nafas gue berat…”
Gue bisik.
Dia lihat gue.
Air mata masih jatuh.
“Sekarang lo tahu.”
Dan untuk pertama kalinya…
Gue sadar.
Gue nggak cuma kehilangan dia.
Gue kehilangan sesuatu yang bahkan…
Gue nggak pernah sempat tahu.
Rumah itu sunyi.
Nggak ada suara apa-apa.
Cuma napas gue.
Dan tangisan dia.
Gue duduk.
Tangan gue gemetar.
Foto itu masih di tangan.
“Kenapa lo kirim ini ke gue…”
Suara gue pelan.
Dia hapus air matanya.
“Biar lo tahu.”
Sunyi.
Dia lanjut.
“Biar lo berhenti nyalahin diri lo… setengah-setengah.”
Kalimat itu…
Aneh.
Tapi gue ngerti.
Dia berdiri.
Jalan ke dapur.
Ambil air.
Kasih ke gue.
Gue minum.
Pelan.
“Lo sudah punya hidup lo sekarang,” katanya.
Gue lihat dia.
“Lo juga.”
Dia senyum kecil.
“Iya.”
Sunyi.
Gue berdiri.
Pelan.
“Maaf.”
Kata itu keluar lagi.
Tapi sekarang…
Lebih berat.
Dia angguk.
“Sudah.”
Gue lihat dia.
Lama.
Terus gue bilang.
“Terima kasih.”
Dia mengerut.
“Untuk apa?”
Gue jawab.
“Karena lo pernah nunggu gue.”
Sunyi.
Dia nggak jawab.
Tapi matanya berubah.
Lebih tenang.
Gue jalan ke pintu.
Berhenti.
Balik.
“Lo bahagia?”
Dia tarik napas.
Pelan.
Terus dia angguk.
“Iya.”
Kali ini…
Lebih jujur.
Gue senyum kecil.
“Iya.”
Gue keluar.
Udara malam dingin.
Tapi dada gue…
Lebih ringan.
Untuk pertama kalinya…
Gue nggak bawa penyesalan.
Gue bawa pelajaran.
Beberapa bulan kemudian.
Gue di warung kopi yang sama.
Duduk di meja yang sama.
Kali ini…
Nggak sendiri.
Di depan gue…
Seseorang.
Bukan dia.
Tapi seseorang yang baru.
Dia senyum.
“Nunggu lama?”
Gue geleng.
“Nggak.”
Gue lihat sekitar.
Tempat yang sama.
Cerita yang beda.
Gue senyum kecil.
Karena akhirnya…
Gue ngerti satu hal.
Nggak semua yang kita kehilangan…
Harus kita kembaliin.
Kadang…
Cukup kita pahami.
Dan kali ini…
Gue nggak telat lagi.