AKU MEMBAYAR BENSIN PRIA YANG PELAN-PELAN MENGAMBIL ISTRIKU, SETIAP BULAN AKU TRANSFER, SETIAP HARI DIA MEMBAWA PULANG SENYUM ISTRIKU.

Aku tahu semuanya bukan dari gosip.
Bukan dari tetangga.
Tapi dari notifikasi WhatsApp yang muncul di layar HP istriku saat dia mandi.

Namanya muncul.
“Pak Arman.”

Awalnya hidup kami biasa saja.

Rumah kontrakan kecil di pelosok kecamatan. Dindingnya belum diplester rapi. Kipas angin berdengung seperti orang ngos-ngosan. Pagi-pagi suara toa masjid selalu jadi alarm alami.

Istriku guru. Dapat penempatan di sekolah dasar negeri yang jaraknya hampir 18 kilometer dari rumah. Jalan tanah, kalau hujan jadi lumpur.

Kami justru senang.

“Seru ya, Mas. Kayak petualangan,” katanya waktu pertama kali survei lokasi.

Dia naik motor sendiri tiap pagi. Berangkat setengah enam. Pulang jam tiga sore, kadang lebih kalau ada rapat.

Aku kerja serabutan. Kadang proyek bangunan, kadang bantu kirim barang. Jamku tidak tentu.

Masalah mulai muncul bukan karena kami bertengkar.

Tapi karena jarak.

Suatu sore, hujan turun deras. Dia belum pulang. Jam lima lewat.

Aku telepon.

“Mas, aku nunggu hujan reda. Jalannya licin banget.”

Besoknya, ada kabar baru.

“Mas, di sekolah ada guru juga rumahnya dekat arah sini. Namanya Pak Arman. Dia tiap hari lewat depan gang kita.”

Aku cuma angguk.

“Dia bilang nggak apa-apa bareng aja. Daripada aku sendirian.”

Aku masih angguk.

“Kalau Mas lagi sibuk, paling Mas ganti bensinnya aja sebulan.”

Hitung-hitungan cepat di kepalaku:
Lebih hemat.
Lebih aman.
Lebih praktis.

“Oke. Ganti bensin aja.”

Hari pertama dia berangkat bareng Pak Arman, aku sempat lihat dari teras.

Motor bebek hitam berhenti depan gang.
Helm satu digantung di spion.
Istriku keluar pakai rok panjang dan tas ransel cokelat.

“Mas, aku berangkat!”

“Ati-ati.”

Pak Arman senyum.
Ramah.
Biasa saja.

Aku bahkan merasa bersyukur.

Minggu pertama aman.

Minggu kedua juga.

Masalahnya mulai terasa bukan dari apa yang kulihat.

Tapi dari apa yang berubah.

Istriku jadi lebih sering senyum sendiri saat buka HP.
Lebih sering mandi sebelum Magrib.
Lebih lama berdiri depan kaca.

Aku pernah bercanda,
“Wah, sekarang cantiknya buat siapa?”

Dia tertawa.
“Ya buat kamu lah.”

Jawabannya cepat. Terlalu cepat.

Suatu malam, saat dia mandi, HP-nya berbunyi.

Aku sebenarnya tidak pernah buka HP-nya.

Tapi notifikasi itu muncul besar di layar.

“Besok jangan lupa jaket yang kemarin. Biar nggak masuk angin lagi.”

Namanya: Pak Arman.

Tanganku berhenti di udara.

Jaket yang kemarin?

Masuk angin lagi?

Sejak kapan dia tahu istriku masuk angin?

Aku tidak buka chatnya.
Aku tidak berani.

Tapi malam itu, istriku tidur membelakangiku.

Dan aku sadar sesuatu:
Aku mulai kehilangan sesuatu yang bahkan belum benar-benar hilang.

Beberapa hari kemudian, aku sengaja pulang lebih cepat.

Jam dua siang aku sudah di depan gang.

Jam tiga lewat lima belas, motor hitam itu muncul.

Istriku tertawa.
Tertawa lepas.
Tangannya menepuk pundak Pak Arman ringan sebelum turun.

Gerakan kecil.

Tapi terlalu akrab.

Mereka tidak melihatku berdiri di bawah pohon mangga.

Istriku kaget saat melihatku.

“Mas? Kok udah pulang?”

“Cepet selesai.”

Pak Arman turun dari motor.

“Wah, Pak. Kebetulan. Istrinya tadi hampir jatuh, jalannya licin.”

Aku senyum.

“Iya, makasih ya, Pak.”

Tanganku menjabat tangannya.
Dingin.
Keringatku sendiri terasa lengket.

Malamnya, istriku bilang,
“Mas, minggu depan ada kegiatan sekolah sampai sore. Mungkin aku pulang agak malam.”

Aku menatapnya.

“Kegiatan apa?”

“Rapat persiapan lomba.”

Dia tidak salah bicara. Tidak gugup.

Justru itu yang bikin dadaku makin berat.

Seminggu kemudian, malam itu datang.

Jam tujuh belum pulang.
Jam delapan belum juga.

Aku kirim pesan.

Tidak dibalas.

Jam sembilan, motor berhenti di depan rumah.

Aku berdiri di balik pintu.

Istriku turun duluan. Rambutnya sedikit berantakan. Pipi merah.

Pak Arman tidak langsung pergi. Mereka bicara pelan.

Lalu.

Aku lihat sesuatu yang membuat kakiku seperti kehilangan tulang.

Pak Arman merapikan kerudung istriku.
Pelan.
Tangannya menyentuh pipinya.

Tidak lama.

Tapi cukup.

Aku buka pintu keras-keras.

Mereka sama-sama menoleh.

Sunyi.

Suara jangkrik lebih keras dari detak jantungku.

Dan untuk pertama kalinya, aku melihat wajah istriku bukan sebagai istri.

Tapi sebagai perempuan yang sedang memilih.

PART 2

Aku tidak berteriak malam itu.

Aku tidak bertanya apa-apa.

Pak Arman lebih dulu angkat tangan kecil.

“Maaf ya, Pak. Tadi agak lama di sekolah.”

Aku hanya mengangguk.

“Iya. Hati-hati di jalan.”

Dia pergi.

Motor menjauh pelan. Suaranya hilang di tikungan gang.

Istriku berdiri di depan pintu. Tidak langsung masuk.

“Aku masuk dulu ya, Mas.”

Aku membuka pintu lebih lebar.

Di ruang tamu cuma ada lampu 10 watt warna kuning. Bayangannya jatuh ke dinding yang belum rata.

Dia lewat di depanku. Wangi sampo masih segar.

Aku baru sadar.

Dia mandi sebelum pulang.

Malam itu kami makan tanpa suara.

Sendok menyentuh piring lebih keras dari biasanya.

Aku melihat tangannya.

Tangannya yang dulu selalu mencari tanganku saat kami naik motor berdua.

Sekarang tangannya sibuk dengan HP di pangkuan.

Layar menyala.

Mati.

Menyala lagi.

“Ada yang penting?” tanyaku.

“Grup sekolah.”

Jawabannya cepat.

Aku mengangguk lagi.

Jam sebelas.

Dia sudah tidur.

Aku belum.

Kipas berderit pelan. Dari jauh terdengar suara anjing menggonggong.

Aku menatap plafon.

Lalu pelan-pelan aku bangun.

Bukan untuk membuka HP-nya.

Aku membuka lemari.

Di dalam ada jaket abu-abu yang disebut di pesan itu.

Aku ambil.

Aromanya bukan aroma rumah.

Ada wangi lain.

Tipis.

Tapi ada.

Tanganku berhenti di udara cukup lama.

Lalu aku gantung lagi.

Besok paginya, seperti biasa, motor hitam itu berhenti di depan gang.

Aku berdiri di teras.

Istriku keluar.

Dia sempat menatapku.

Ada ragu satu detik di matanya.

“Mas… aku berangkat.”

Aku mendekat.

Bukan ke dia.

Ke Pak Arman.

“Pak.”

“Iya, Pak?”

“Saya ikut sampai sekolah hari ini.”

Sunyi satu detik.

Istriku menoleh cepat.

“Mas, nggak usah. Jalannya jauh.”

Aku tersenyum.

“Sekali-sekali lihat tempat kamu kerja.”

Pak Arman tertawa kecil.

“Boleh, Pak. Silakan.”

Aku duduk di belakang.

Motor terasa sempit hari itu.

Angin pagi dingin.

Jalan tanah berguncang.

Di depan, aku melihat punggung istriku.

Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu,

aku sadar satu hal yang selama ini aku abaikan.

Mereka terlalu nyaman.

Bukan seperti dua orang yang baru kenal.

Tapi seperti dua orang yang sudah sering tertawa bersama.

Motor terus melaju.

Dan aku memutuskan sesuatu dalam hati.

Aku tidak akan marah.

Aku akan cari tahu sampai jelas.

Karena kalau aku meledak sekarang…

Yang hancur bukan cuma harga diriku.

Tapi rumah kecil yang kami bangun dari nol.

Motor berhenti di halaman sekolah.

Anak-anak berlarian.

Suara bel manual dipukul berkali-kali.

Pak Arman turun duluan.

Istriku juga.

Aku ikut turun.

Beberapa guru melihat ke arah kami.

Ada satu tatapan yang terlalu cepat dialihkan.

Aku melihat itu.

Dan di situ, untuk pertama kalinya,

aku sadar ini bukan sekadar tumpangan motor.

Ada sesuatu yang sudah lebih jauh dari yang kukira.

Dan hari itu, aku memutuskan tidak pulang.

Aku akan menunggu.

PART 3

Aku duduk di bangku kayu panjang depan ruang kelas tiga.

Cat hijaunya mengelupas.

Di dinding ada poster huruf hijaiyah yang ujungnya terlipat.

Anak-anak masuk kelas satu per satu.

Beberapa menatapku heran.

“Orang tua murid ya, Pak?” tanya seorang ibu guru.

Aku tersenyum tipis.

“Suami Bu Rani.”

“Oh…”

Jawabannya pendek. Terlalu pendek.

Bel masuk berbunyi.

Sekolah mulai tenang.

Aku melihat dari jauh istriku berjalan ke kelasnya.

Pak Arman lewat dari arah kantor guru.

Mereka berpapasan.

Tidak ada sentuhan.

Tidak ada senyum lebar.

Tapi ada bahasa yang tidak perlu suara.

Pandangan yang terlalu lama.

Aku menangkap itu.

Jam istirahat pertama.

Anak-anak keluar seperti burung lepas kandang.

Aku berdiri.

Pelan-pelan mendekat ke ruang guru.

Pintu setengah terbuka.

Di dalam, hanya ada dua orang.

Istriku.

Pak Arman.

Mereka duduk berdampingan.

Jaraknya tidak jauh.

Di atas meja ada termos teh. Dua gelas.

“Kalau begini terus, aku nggak enak,” suara istriku pelan.

Dadaku berhenti satu detik.

Pak Arman menjawab lebih pelan lagi.

“Makanya aku bilang, kita harus jelas.”

Jelas.

Kata itu seperti batu jatuh ke sumur.

Aku tidak masuk.

Aku tidak menggebrak pintu.

Aku mundur satu langkah.

Sepatu anak-anak berderap melewatiku.

Suara mereka menutup sisa percakapan.

Siang hari, aku pura-pura menunggu di warung depan sekolah.

Beli kopi sachet.

Tidak kuminum.

Keringat terasa dingin di punggung.

Jam dua lewat sedikit, kelas mulai kosong.

Guru-guru keluar satu per satu.

Aku melihat Pak Arman berdiri lebih dulu di parkiran.

Istriku keluar belakangan.

Dia tidak langsung naik motor.

Mereka bicara lagi.

Kali ini aku mendekat.

Langkahku terdengar di atas kerikil.

Mereka menoleh.

Aku berhenti dua meter dari mereka.

“Mas…” suara istriku pelan.

Pak Arman berdiri tegak.

Tidak lari. Tidak salah tingkah.

Bagus.

“Pak Arman,” kataku.

“Iya, Pak.”

“Saya cuma mau tanya satu hal.”

Sunyi.

Angin siang menggerakkan daun kering di halaman.

“Bapak serius?”

Pak Arman menatapku.

Lama.

“Saya nggak pernah main-main, Pak.”

Jawaban itu tidak membuatku lega.

Justru sebaliknya.

Aku menoleh ke istriku.

“Kamu?”

Dia tidak langsung jawab.

Matanya turun ke tanah.

Lalu naik lagi.

“Aku bingung, Mas.”

Bukan “tidak”.

Bukan “iya”.

Bingung.

Itu lebih tajam dari pengakuan.

Aku menarik napas.

Tidak ada yang berteriak.

Tidak ada yang menangis.

Hanya tiga orang berdiri di halaman sekolah dasar,

di bawah matahari yang terlalu terang.

“Aku nggak akan ribut di sini,” kataku pelan.

“Kalau memang ada yang harus dibicarakan, kita bicara di rumah. Bertiga.”

Pak Arman mengangguk.

Istriku menelan ludah.

Motor tetap di tempatnya.

Dan untuk pertama kalinya, bukan mereka yang mengajakku ikut.

Tapi aku yang berkata,

“Sore ini. Datang ke rumah.”

Aku berjalan duluan menuju gerbang sekolah.

Langkahku tidak cepat.

Tidak lambat.

Tapi satu hal pasti.

Sore nanti, semuanya harus jelas.

Dan tidak ada lagi kata “bingung”.

PART 4

Sore itu rumah terasa lebih sempit dari biasanya.

Lampu ruang tamu sudah menyala padahal matahari belum benar-benar tenggelam.

Langit masih oranye di balik pohon mangga.

Aku duduk di kursi plastik dekat pintu.

Istriku di ujung sofa.

Jarak kami hanya dua meter.

Tapi rasanya seperti dua puluh tahun.

Jam dinding berdetak keras.

Tok.

Tok.

Tok.

Jam lima lewat sepuluh, motor berhenti di depan rumah.

Tidak ada yang bicara.

Pak Arman masuk setelah aku persilakan.

Dia tidak duduk sebelum aku menunjuk kursi.

“Silakan, Pak.”

Suasana seperti rapat RT.

Tapi yang dipertaruhkan rumah tangga.

Aku tidak langsung menyerang.

Aku tidak mengangkat suara.

Aku hanya bertanya pelan.

“Sejak kapan?”

Istriku menarik napas.

Tangannya saling menggenggam.

“Awalnya cuma nebeng, Mas.”

“Aku tahu.”

“Terus… jadi sering cerita. Di jalan jauh. Setiap hari.”

Pak Arman menunduk.

“Tidak ada niat awal, Pak,” katanya.

Aku menoleh pelan.

“Tidak ada yang mulai dengan niat selingkuh, Pak.”

Sunyi.

Kipas angin berderit.

Dari masjid terdengar anak-anak mengaji.

Istriku bicara lagi.

“Aku capek, Mas.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi itu yang selama ini tidak pernah keluar.

“Capek apa?”

“Capek berangkat sendiri dulu. Capek jauh. Capek merasa sendirian di sana.”

Aku menatapnya.

“Dan sekarang?”

Dia menelan ludah.

“Sekarang aku merasa ditemani.”

Kalimat itu tidak salah.

Tapi salah tempat.

Aku berdiri.

Bukan untuk marah.

Aku masuk ke kamar.

Keduanya diam di ruang tamu.

Aku kembali membawa sesuatu.

Jaket abu-abu itu.

Aku letakkan di meja.

“Ini yang kemarin dipakai?”

Istriku melihatnya.

Wajahnya berubah.

“Aku kedinginan waktu hujan.”

Aku mengangguk.

“Dan dia yang tahu duluan.”

Sunyi lagi.

Pak Arman akhirnya bicara.

“Saya yang salah, Pak. Saya terlalu jauh.”

Aku melihat matanya.

Tidak ada senyum.

Tidak ada tantangan.

Hanya lelaki yang sadar garisnya sudah terlewati.

“Bapak mau apa?” tanyaku.

Dia menarik napas panjang.

“Saya mundur.”

Kalimat itu jatuh pelan.

Istriku menoleh cepat.

“Pak…”

“Saya nggak mau jadi alasan rumah tangga orang rusak,” lanjutnya.

Aku tidak merasa menang.

Tidak merasa lega.

Karena masalahnya bukan cuma dia.

Masalahnya ada di dalam rumah ini juga.

Setelah Pak Arman pergi, suara motor menjauh tanpa ditahan.

Rumah kembali sunyi.

Aku dan istriku tinggal berdua.

Tidak ada saksi.

Tidak ada tamu.

“Aku nggak selingkuh, Mas,” katanya pelan.

Aku menatapnya lama.

“Kamu hampir.”

Air matanya jatuh.

Bukan histeris.

Bukan drama.

Hanya jatuh.

“Aku cuma… merasa diperhatikan.”

Kalimat itu membuatku duduk lagi.

Karena tiba-tiba aku sadar.

Kapan terakhir kali aku benar-benar bertanya tentang harinya?

Bukan sekadar, “capek nggak?”

Tapi benar-benar mendengar.

“Aku nggak mau kehilangan kamu,” katanya.

Tangannya gemetar di pangkuan.

Aku tidak langsung memegangnya.

Aku biarkan jarak itu ada beberapa detik.

“Aku juga nggak mau kehilangan kamu,” jawabku.

“Tapi kalau kita lanjut begini, kita tetap hilang pelan-pelan.”

Tangisnya makin deras.

Bukan karena dimarahi.

Tapi karena kalimat itu terlalu jujur.

Aku berdiri.

Mendekat.

Bukan untuk memeluk dulu.

Tapi untuk bertanya satu hal yang paling penting.

“Kamu masih mau rumah ini?”

Dia mengangguk cepat.

“Iya.”

“Masih mau aku?”

Kali ini dia tidak langsung jawab.

Lalu pelan.

“Iya.”

Itu bukan jawaban spontan.

Itu jawaban yang dipilih.

Dan justru itu yang membuatnya berarti.

Aku menarik napas dalam.

“Oke.”

Air matanya masih mengalir.

“Tapi besok kita mulai dari nol.”

Dia menatapku bingung.

“Besok kamu nggak nebeng lagi.”

Dia kaget.

“Terus?”

“Aku yang antar.”

Sunyi satu detik.

“Tiap hari?”

“Tiap hari.”

Di luar, suara azan Magrib mulai terdengar.

Dan untuk pertama kalinya sejak beberapa minggu terakhir,

aku merasa ini belum berakhir.

Tapi juga belum selesai.

Karena mempertahankan itu jauh lebih sulit

daripada marah dan pergi.

PART 5 :

Subuh itu aku bangun lebih dulu.

Belum ada suara motor lewat.

Belum ada ayam berkokok panjang.

Aku duduk di tepi kasur sebentar.

Melihat istriku masih tertidur miring ke arahku.

Sudah lama aku tidak melihat wajahnya sedekat ini tanpa rasa curiga.

Aku ke dapur.

Menanak nasi.

Menggoreng telur.

Bukan karena tiba-tiba jadi suami sempurna.

Tapi karena aku sadar satu hal semalam:

Kalau aku ingin dia merasa ditemani,

aku tidak bisa cuma menunggu dia pulang.

Jam setengah enam.

Motor kupanaskan di depan rumah.

Bukan motor Pak Arman.

Motor tuaku sendiri.

Istriku keluar dengan tas ransel cokelat yang sama.

Dia berhenti sebentar melihatku di teras.

“Kamu serius, Mas?”

Aku pakai helm.

“Naik.”

Tidak ada drama.

Tidak ada pidato.

Dia duduk di belakangku.

Tangannya ragu satu detik.

Lalu memegang pinggangku.

Pegangan yang sudah lama tidak terasa seperti itu.

Jalan tanah masih sama.

Lubang yang sama.

Debu yang sama.

Tapi kali ini tidak terasa jauh.

Kami tidak banyak bicara.

Hanya sesekali aku bilang,

“Pegangan.”

Dan dia jawab pelan,

“Iya.”

Sederhana.

Tapi hangat.

Di gerbang sekolah, beberapa guru melihat.

Pak Arman ada di sana.

Dia berdiri di dekat parkiran.

Kami berhenti.

Aku turun duluan.

Istriku juga.

Pak Arman mendekat.

Tidak ada tatapan tajam.

Tidak ada sindiran.

Dia hanya berkata pelan,

“Terima kasih sudah datang kemarin, Pak.”

Aku mengangguk.

“Terima kasih juga sudah jujur.”

Dia tidak menjabat tangan istriku.

Tidak mendekat.

Hanya angguk kecil.

Batas itu terlihat jelas sekarang.

Dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa kalah.

Hari-hari berikutnya tidak langsung sempurna.

Kadang masih canggung.

Kadang masih ada sunyi yang panjang.

Tapi sekarang sunyi itu tidak diisi orang lain.

Kami mulai bicara lagi.

Bukan cuma soal uang.

Bukan cuma soal bensin.

Tapi soal lelah.

Soal takut.

Soal merasa sendirian.

Aku mulai antar dia setiap hari.

Kalau aku tidak bisa, dia berangkat sendiri.

Bukan nebeng lagi.

Bukan karena cemburu.

Tapi karena kami sepakat menjaga jarak yang dulu sempat kabur.

Suatu sore, saat kami pulang berdua, dia memelukku lebih erat di atas motor.

“Mas…”

“Hm?”

“Makasih nggak langsung marah waktu itu.”

Aku tersenyum kecil.

“Kalau aku marah, mungkin sekarang kamu sudah pergi.”

Dia diam.

Lalu berkata pelan,

“Aku hampir kehilangan rumah ini.”

Aku menjawab tanpa menoleh,

“Kita hampir.”

Malam itu, kami duduk di teras.

Angin desa pelan.

Lampu 10 watt masih sama.

Rumah masih sederhana.

Plester masih belum rata.

Tapi rasanya berbeda.

Bukan karena masalahnya tidak pernah ada.

Tapi karena kami memilih menyelesaikannya.

Pelan.

Tanpa teriak.

Tanpa saling menjatuhkan.

Aku sadar sesuatu.

Yang hampir merusak rumah tangga kami bukan cuma pria lain.

Tapi jarak yang kami biarkan tumbuh tanpa dijaga.

Dan jarak itu sekarang kami isi lagi.

Dengan hadir.

Dengan waktu.

Dengan pegangan sederhana di atas motor tua setiap pagi.

Aku pernah membayar bensin pria lain.

Tapi hari ini,

aku yang membawa pulang senyum istriku.

Dan kali ini,

dia duduk di belakangku.

Bukan di motor orang lain.

Akhirnya… kami pulang.

Similar Posts