| |

AKU ANAK PALING BODOH DI RUMAH.

SEMUA ABANGKU KULIAH.

AKU SATU-SATUNYA YANG TIDAK.

TAPI JUSTRU AKU YANG AKHIRNYA BISA MEMBAWA BAPAKKU JALAN JALAN KE LUAR NEGERI.

Cerita ini dimulai dari rumah kecil kami.

Rumah sederhana di gang sempit.

Dindingnya masih setengah papan.

Kalau malam, suara motor lewat gang terdengar jelas sampai ke kamar.

Kami empat bersaudara.

Abang pertama.

Abang kedua.

Abang ketiga.

Dan aku.

Anak paling kecil.

Bapakku seorang karyawan swasta.

Setiap pagi jam enam sudah berangkat.

Motor tuanya bunyinya khas.

“trrrr… trrrr… trrrr…”

Kalau suara itu hilang dari gang, berarti bapak sudah pergi kerja.

Aku masih ingat betul wajah bapak waktu itu.

Matanya selalu terlihat lelah.

Tapi dia jarang mengeluh.

Abang pertama kebanggaan keluarga.

Dia yang pertama kali masuk kuliah.

Hari pertama dia berangkat kuliah, bapak berdiri lama di depan rumah.

Tangannya di pinggang.

Melihat abangku naik angkot.

Aku masih kecil waktu itu.

Tapi aku ingat bapak bilang pelan.

“mudah-mudahan dia bisa bantu adik-adiknya nanti…”

Beberapa tahun kemudian.

Abang kedua masuk SMA.

Abang ketiga juga masuk SMA.

Rumah kami mulai terasa sempit.

Buku sekolah di mana-mana.

Seragam digantung di belakang pintu.

Tagihan sekolah makin sering datang.

Kadang malam-malam aku lihat bapak duduk sendiri di ruang depan.

Lampu hanya satu.

Kipas angin berderit.

Di tangannya ada kalkulator kecil.

“tik… tik… tik…”

Dia menghitung sesuatu.

Lalu menghela napas panjang.

Akhirnya.

Hari yang ditunggu datang.

Abang pertama lulus kuliah.

Di rumah kami waktu itu ada sedikit perayaan kecil.

Ibu masak ayam goreng.

Jarang sekali ada ayam di rumah kami.

Bapak kelihatan bangga sekali.

Dia menepuk bahu abangku.

“sekarang kamu sudah sarjana…”

“sebentar lagi kerja ya.”

Abangku cuma mengangguk.

Setahun kemudian…

Abangku benar-benar dapat kerja.

Kami semua senang.

Bapak terlihat sangat lega.

Setiap malam bapak sering bilang.

“sekarang beban bapak sudah agak ringan.”

Aku masih SMP waktu itu.

Aku juga ikut merasa lega.

Kupikir semuanya akan membaik.

Tapi ternyata…

Semua berubah sangat cepat.

Suatu malam.

Kami sedang makan malam.

Abangku tiba-tiba bicara.

“pak… saya mau menikah.”

Sendok bapak berhenti di udara.

Aku masih ingat jelas wajah bapak saat itu.

Dia tidak marah.

Tidak teriak.

Dia hanya diam.

Lama sekali.

Lalu pelan berkata.

“sekarang?”

Abangku mengangguk.

Dua bulan kemudian.

Abangku menikah.

Dan sejak hari itu…

Beban bapak kembali seperti semula.

Bahkan lebih berat.

Karena sekarang…

Abang kedua dan abang ketiga sudah mulai bicara soal kuliah.

Rumah kami kembali sibuk dengan formulir.

Uang pangkal.

Uang semester.

Biaya buku.

Aku mulai sering melihat bapak pulang lebih malam.

Motor tuanya makin sering mogok.

Kadang bapak pulang sambil mendorong motor.

Kemejanya basah oleh keringat.

Aku pernah lihat dia duduk di kursi depan rumah.

Sepatunya belum dilepas.

Dia hanya menatap lantai.

Lama.

Sekali.

Ketika abang kedua akhirnya masuk kuliah…

Bapak terlihat jauh lebih tua.

Rambutnya mulai banyak putih.

Matanya cekung.

Tapi dia tetap tersenyum setiap kali kami bertanya.

“capek pak?”

Dia selalu jawab sama.

“nggak.”

Lalu suatu malam.

Aku melihat sesuatu yang tidak pernah kulihat sebelumnya.

Bapak tertidur di meja makan.

Masih pakai baju kerja.

Kalkulator masih di tangannya.

Lampu ruang tamu menyala.

Jam di dinding menunjukkan jam dua malam.

Kipas angin masih berderit.

“kreek… kreek… kreek…”

Aku berdiri lama di depan meja itu.

Melihat bapak.

Dadaku terasa berat.

Saat itu aku baru sadar satu hal.

Bapak sedang berjuang sendirian.

Sementara kami semua hanya memikirkan sekolah.

Tahun berikutnya…

Aku lulus SMA.

Semua orang bertanya hal yang sama.

“kamu mau kuliah di mana?”

Tapi setiap kali aku melihat bapak…

Aku selalu ingat malam itu.

Bapak tertidur di meja makan.

Dengan kalkulator di tangannya.

Dan akhirnya…

Aku membuat keputusan yang mengubah hidupku.

Aku berkata kepada bapak.

“pak… aku tidak usah kuliah.”

Bapak langsung menatapku.

Keras.

“kenapa?”

Aku menjawab pelan.

“biar abang-abang saja yang kuliah.”

“aku kerja saja.”

Bapak tidak menjawab.

Dia hanya menatapku lama.

Sangat lama.

Lalu berkata satu kalimat yang sampai sekarang masih aku ingat.

“hidupmu akan berat.”

Aku cuma tersenyum.

“nggak apa-apa pak.”

Beberapa minggu kemudian…

Seorang temanku datang ke rumah.

Dia berkata sesuatu yang terdengar sangat aneh.

“mau ikut ke Bali?”

Aku mengernyit.

“buat apa?”

Dia menjawab santai.

“kerja.”

Aku pikir dia bercanda.

Tapi ternyata…

Keputusan ikut dia ke Bali malam itu…

Adalah keputusan yang nantinya akan mengubah hidupku.

Dan hidup bapakku.

Selamanya.

PART 2

Perjalanan ke Bali adalah perjalanan paling jauh yang pernah kulakukan.

Kami naik bus malam.

Bus ekonomi.

Lampunya redup.

Kursinya sempit.

AC kadang dingin, kadang mati.

Di luar jendela, jalanan gelap.

Sesekali lampu warung lewat seperti kilat.

Temanku tidur dari tadi.

Aku tidak bisa tidur.

Aku memikirkan bapak.

Waktu aku pamit berangkat, bapak hanya berkata singkat.

“jaga diri.”

Tidak ada pelukan.

Tidak ada nasihat panjang.

Tapi waktu aku naik ke bus, aku sempat melihat bapak berdiri di ujung gang.

Masih pakai kaos rumah.

Dia tidak melambaikan tangan.

Hanya berdiri.

Diam.

Sampai bus itu hilang dari tikungan.

Kami sampai di Bali pagi hari.

Terminalnya ramai sekali.

Orang lewat cepat.

Turis asing di mana-mana.

Bau bensin bercampur bau laut.

Aku masih bingung harus mulai dari mana.

Lalu temanku berkata.

“kerjanya gampang kok.”

Aku bertanya.

“kerja apa?”

Dia menjawab santai.

“bagi-bagi brosur.”

Ternyata…

Itu brosur tato.

Kami berdiri di pinggir jalan daerah wisata.

Di tangan kami ada setumpuk brosur.

Isinya foto-foto tato.

Tugas kami cuma satu.

Menawarkan ke turis.

Hari pertama…

Aku grogi.

Setiap ada turis lewat aku cuma berdiri.

Temanku sudah sibuk dari tadi.

“tattoo sir?”

“tattoo madam?”

Dia seperti mesin.

Tidak ada rasa malu.

Sementara aku hanya berdiri.

Berkeringat.

Seorang turis lewat.

Badan penuh tato.

Temanku langsung menyodorkan brosur.

Turis itu menggeleng.

Lalu pergi.

Temanku tertawa kecil.

“kalau malu, pulang saja.”

Aku cuma nyengir.

Tapi dalam hati aku berkata.

aku tidak boleh pulang dengan tangan kosong.

Siang hari matahari Bali terasa panas sekali.

Kemejaku sudah basah oleh keringat.

Turis lalu lalang.

Tapi tidak ada yang berhenti.

Jam terus berjalan.

Sampai akhirnya…

Ada seorang turis berhenti di depanku.

Bule.

Badannya besar.

Dia melihat brosur di tanganku.

Aku panik.

Aku tidak tahu harus bilang apa.

Akhirnya aku cuma tersenyum.

Senyum paling tulus yang bisa kubuat.

Aku berkata terbata-bata.

“tattoo… good artist…”

Turis itu tertawa kecil.

Lalu mengambil brosur.

Dia melihat sebentar.

Kemudian berkata,

“okay.”

Aku tidak langsung mengerti.

Aku hanya bengong.

Dia menunjuk brosur.

“tattoo. where?”

Temanku langsung datang.

Dia menepuk bahuku.

“dapat klien!”

Kami mengantar turis itu ke studio tato.

Studio kecil.

Lampunya terang.

Bau alkohol dan tinta memenuhi ruangan.

Seniman tato mulai bekerja.

Jarum mesin berbunyi.

“bzzzzzz…”

Aku duduk di pojok ruangan.

Jantungku masih berdebar.

Beberapa jam kemudian.

Tato itu selesai.

Turis itu berdiri di depan cermin.

Dia tersenyum puas.

Lalu dia mengeluarkan uang.

Cukup banyak.

Seniman tato mengambil sebagian.

Lalu memberiku komisi.

Aku menatap uang itu lama.

Tanganku sedikit gemetar.

Itu uang pertama yang benar-benar kudapat dari kerja sendiri.

Bukan uang jajan.

Bukan uang sekolah.

Uang hasil keringatku sendiri.

Malam itu aku tidak bisa tidur.

Aku terus melihat uang itu.

Aku bahkan sempat mencubit diriku sendiri.

“ternyata… cari uang bisa begini ya…”

Sejak hari itu…

Aku berubah.

Aku mulai berani menyapa turis.

Aku mulai hafal kalimat sederhana.

“tattoo good price.”

“good artist.”

“no pain.”

Kadang aku bercanda sedikit.

Kadang aku hanya tersenyum.

Dan ternyata…

Senyum itu bekerja.

Klienku mulai bertambah.

Hari demi hari.

Beberapa bulan kemudian…

Uangku mulai lumayan.

Aku mulai bisa mengirim uang ke rumah.

Pertama kali aku transfer ke bapak…

Aku tidak bilang apa-apa.

Hanya kirim.

Malamnya.

HP-ku berbunyi.

Notifikasi pesan masuk.

Dari bapak.

Isinya cuma satu kalimat.

“uangnya sudah bapak terima.”

Beberapa detik kemudian.

Pesan kedua masuk.

“terima kasih ya.”

Aku menatap layar HP lama sekali.

Dadaku terasa hangat.

Aku tidak tahu waktu itu…

Keputusan sederhana berdiri di pinggir jalan menawarkan brosur tato…

Akan membuka pintu yang jauh lebih besar.

Pintu yang sama sekali tidak pernah kubayangkan sebelumnya.

Dan dari situlah…

Hidupku mulai berubah.

Perlahan.

Tapi pasti.

PART 3

Hari-hariku di Bali mulai punya pola.

Pagi.

Aku sudah berdiri di pinggir jalan.

Kaos tipis.

Sandal jepit.

Setumpuk brosur tato di tangan.

Turis mulai keluar dari hotel.

Ada yang jalan santai.

Ada yang naik motor sewaan.

Ada juga yang lewat sambil membawa papan selancar.

Setiap orang yang lewat aku sapa.

“tattoo sir?”

“good tattoo madam?”

Kadang mereka cuma melambaikan tangan.

Kadang pura-pura tidak dengar.

Tapi kadang…

Ada yang berhenti.

Aku mulai belajar sesuatu.

Orang sebenarnya tidak suka ditawari.

Tapi mereka suka diajak ngobrol.

Jadi aku berhenti memaksa orang.

Aku cuma tersenyum.

Kadang bercanda sedikit.

Aneh sekali…

Justru dari situ klien datang lebih banyak.

Studio tato tempatku bekerja mulai mengenalku.

Pemiliknya orang Bali.

Badannya kekar.

Lengannya penuh tato.

Dia pernah berkata kepadaku sambil tertawa.

“kamu ini sales aneh.”

Aku bertanya.

“kenapa?”

Dia menjawab.

“kamu cuma senyum… tapi klien datang terus.”

Setiap kali ada klien.

Aku mendapat komisi.

Sedikit demi sedikit uangku bertambah.

Awalnya hanya cukup untuk makan.

Lalu cukup untuk kirim uang ke rumah.

Lalu mulai ada sisa.

Suatu malam.

Aku duduk di warung nasi.

Warung kecil di pinggir jalan.

Lampunya kuning redup.

Kipas anginnya berisik.

Di depanku ada nasi goreng dan es teh.

HP-ku bergetar.

Pesan dari rumah.

Abang keduaku.

“aku lulus kuliah.”

Aku tersenyum.

Aku langsung mengirim pesan.

“selamat bang.”

Beberapa hari kemudian…

Kabar lain datang.

Abangku yang kedua…

Menikah.

Aku membaca pesan itu sambil tertawa kecil.

Entah kenapa aku sudah menebaknya.

Polanya sama.

Lulus kuliah.

Kerja sebentar.

Lalu menikah.

Beberapa minggu kemudian bapak menelpon.

Jarang sekali bapak menelpon.

Biasanya hanya kirim pesan.

Suaranya terdengar lelah.

Dia berkata pelan.

“abangmu yang ketiga sebentar lagi mau kuliah.”

Aku diam sebentar.

Aku bisa membayangkan wajah bapak saat mengatakan itu.

Pasti sambil menatap lantai.

Seperti biasa.

Sejak malam itu…

Aku mulai bekerja lebih keras.

Aku berdiri lebih lama di jalan.

Kadang dari pagi sampai malam.

Kadang makan hanya sekali sehari.

Aku tidak peduli.

Yang penting satu.

Aku bisa kirim uang ke rumah.

Uang yang kukirim makin besar.

Awalnya bapak selalu menolak.

Dia pernah berkata di telepon.

“uangmu simpan saja.”

Aku menjawab.

“aku sudah cukup pak.”

Padahal waktu itu aku masih tinggal di kamar kos kecil.

Kamar sempit.

Kipas angin tua.

Kasur tipis di lantai.

Tapi entah kenapa…

Aku merasa cukup.

Waktu berjalan cepat.

Abang ketigaku akhirnya masuk kuliah.

Dan untuk pertama kalinya…

Bapak berkata sesuatu yang belum pernah dia katakan sebelumnya.

“sekarang bapak agak lega.”

Aku menatap layar HP lama sekali.

Aku merasa sesuatu yang aneh di dadaku.

Campuran antara bangga…

dan haru.

Tahun demi tahun berlalu.

Bisnis tato tetap berjalan.

Aku tetap di jalan menawarkan brosur.

Tapi perlahan…

Aku mulai mengenal banyak orang.

Turis.

Pekerja.

Pemilik toko.

Pemilik kafe.

Dan dari semua orang itu…

Aku mulai belajar satu hal.

Bali bukan hanya tempat wisata.

Bali adalah tempat peluang.

Suatu malam.

Aku duduk di warung kopi bersama seorang pelanggan lama.

Orang Australia.

Dia sering datang ke Bali.

Kami mengobrol lama.

Dia bertanya.

“kamu sudah lama di Bali?”

Aku menjawab.

“beberapa tahun.”

Dia bertanya lagi.

“kamu hanya kerja ini?”

Aku mengangguk.

Dia tertawa kecil.

Lalu berkata satu kalimat yang membuatku berpikir lama.

“di Bali… kalau kamu hanya melakukan satu bisnis, kamu rugi.”

Aku mengernyit.

“maksudnya?”

Dia menunjuk jalan di depan kami.

Di sana ada truk sedang menurunkan kursi kayu.

Lalu dia berkata santai.

“furniture… itu bisnis besar di Bali.”

Aku menoleh ke arah truk itu.

Orang-orang sedang menurunkan meja.

Kursi.

Lemari.

Semua dari kayu.

Besar.

Berat.

Dan mahal.

Aku menatap furnitur itu lama sekali.

Entah kenapa…

Malam itu untuk pertama kalinya aku berpikir.

Mungkin…

Ada jalan lain yang lebih besar.

Jalan yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya.

Dan keputusan yang kuambil setelah malam itu…

Akan mengubah hidupku jauh lebih besar daripada sekadar menjual brosur tato di pinggir jalan.

PART 4

Sejak malam itu…

Aku tidak bisa berhenti memikirkan satu kata.

Furniture.

Setiap hari aku masih berdiri di jalan menawarkan brosur tato.

“tattoo sir?”

“good tattoo madam?”

Tapi mataku sekarang sering melihat hal lain.

Truk-truk besar yang lewat.

Membawa meja kayu.

Kursi.

Lemari.

Kadang ada turis yang berhenti di depan toko mebel.

Mereka memotret kursi.

Memotret meja.

Lalu masuk ke dalam toko.

Suatu siang.

Aku memberanikan diri masuk ke salah satu toko mebel.

Toko itu besar.

Di dalamnya ada sofa rotan.

Meja kayu besar.

Lemari ukiran.

Baunya khas kayu baru.

Pemilik tokonya pria paruh baya.

Dia melihatku dari ujung ruangan.

“cari apa?”

Aku agak gugup.

“saya cuma lihat-lihat.”

Dia mengangguk.

Lalu kembali duduk.

Aku berjalan pelan di dalam toko.

Menyentuh meja kayu.

Melihat harga yang tergantung di kursi.

Aku kaget.

Satu kursi bisa jutaan rupiah.

Satu meja bahkan bisa puluhan juta.

Aku berdiri lama di depan satu lemari kayu besar.

Di kepalaku hanya ada satu pikiran.

berapa untungnya ini?

Beberapa hari kemudian aku kembali lagi.

Kali ini aku datang membawa seorang turis.

Turis itu pernah menjadi klien tato.

Dia mencari meja kayu untuk villa yang sedang dia bangun.

Aku langsung ingat toko itu.

Kami masuk bersama.

Pemilik toko terlihat kaget.

Kami berbicara sebentar.

Turis itu memilih satu meja besar.

Harganya mahal sekali.

Aku bahkan tidak berani menyebut angkanya di kepalaku.

Transaksi selesai.

Turis itu pergi.

Pemilik toko memanggilku.

Dia mengambil beberapa lembar uang.

Lalu menyodorkannya kepadaku.

“ini komisi kamu.”

Aku bengong.

“komisi?”

Dia mengangguk.

“kamu bawa pembeli.”

Aku menerima uang itu.

Jumlahnya hampir sama dengan beberapa hari kerja menawarkan tato.

Hanya dari satu orang.

Malam itu aku duduk lama di kamar kos.

Kipas angin tua berputar pelan.

“kreek… kreek…”

Aku menatap uang itu.

Lalu aku tertawa kecil sendiri.

Sepertinya…

Aku baru saja menemukan pintu baru.

Sejak hari itu aku mulai berubah lagi.

Pagi hari aku tetap menawarkan brosur tato.

Tapi kalau ada turis yang bertanya soal rumah.

Villa.

Atau furniture.

Aku langsung punya jawaban.

“saya tahu tempat bagus.”

Aku mulai membawa mereka ke toko-toko mebel.

Dan setiap transaksi…

Aku mendapat komisi.

Sedikit demi sedikit.

Uangku mulai bertambah lebih cepat.

Lebih cepat dari sebelumnya.

Aku mulai mengenal pengrajin kayu.

Aku mulai mengenal pemilik toko.

Aku mulai belajar harga kayu.

Harga ukiran.

Harga kirim barang ke luar negeri.

Dunia baru terbuka di depanku.

Suatu malam aku menelpon bapak.

Sudah lama sekali aku tidak menelpon.

Biasanya hanya kirim uang.

Bapak mengangkat.

Suaranya tetap sama.

Tenang.

Sedikit berat.

Aku bertanya.

“bapak masih kerja?”

Dia tertawa kecil.

“masih.”

Aku terdiam sebentar.

Lalu aku berkata pelan.

“pak… suatu hari bapak tidak perlu kerja lagi.”

Bapak tidak langsung menjawab.

Beberapa detik sunyi.

Lalu dia berkata pelan.

“jangan terlalu memikirkan bapak.”

Aku menggenggam HP lebih kuat.

Aku tidak menjawab.

Tapi dalam hati aku berkata.

aku akan membuat bapak berhenti kerja.

Apa pun caranya.

Beberapa tahun berlalu.

Bisnis furniturku berkembang.

Awalnya hanya membawa pembeli.

Lalu aku mulai ikut membeli barang.

Lalu menjual lagi.

Sedikit demi sedikit.

Aku mulai punya jaringan sendiri.

Dan suatu hari…

Aku berdiri di depan sebuah gudang besar di Bali.

Gudang itu penuh meja.

Kursi.

Lemari.

Semua siap dikirim ke luar negeri.

Seorang pekerja bertanya kepadaku.

“ini semua milik siapa?”

Aku menatap gudang itu.

Masih tidak percaya.

Lalu aku menjawab pelan.

“punya kita.”

Tapi saat hidupku mulai berubah…

Ada satu hal yang terus membuatku berpikir.

Kami empat bersaudara.

Tiga sarjana.

Satu tidak kuliah.

Aneh sekali.

Yang paling berhasil justru aku.

Anak yang dulu memutuskan tidak kuliah demi meringankan beban bapaknya.

Dan ada satu momen…

Yang akhirnya membuat semua pengorbanan itu terasa benar-benar berarti.

Momen yang tidak akan pernah kulupakan seumur hidupku.

PART 5 (TERAKHIR)

Bisnisku di Bali terus berkembang.

Awalnya hanya membawa pembeli ke toko mebel.

Lalu aku mulai membeli sendiri dari pengrajin.

Menjual lagi ke turis.

Lalu ke pemilik villa.

Lalu mulai kirim ke luar negeri.

Sedikit demi sedikit.

Gudang kecil berubah menjadi gudang besar.

Karyawan mulai bertambah.

Truk keluar masuk hampir setiap hari.

Kadang aku berdiri di depan gudang.

Melihat semua aktivitas itu.

Masih terasa aneh.

Aku hanya anak yang dulu berdiri di pinggir jalan menawarkan brosur tato.

Sekarang aku berdiri di depan gudang penuh furnitur.

Hidup memang suka bercanda.

Sementara itu…

Di rumah.

Keadaan juga berubah.

Abang pertamaku sibuk dengan keluarganya.

Abang kedua juga sama.

Mereka hidup biasa saja.

Tidak buruk.

Tapi juga tidak luar biasa.

Abang ketigaku berbeda.

Dia cukup pintar.

Waktu pertama kali kerja dia sering mengirim sebagian gajinya ke bapak.

Dia pernah berkata ke bapak.

“bapak tidak usah terlalu capek.”

Tapi bapak tetap bekerja.

Bapak memang orang yang seperti itu.

Sulit berhenti bekerja.

Suatu malam aku pulang ke rumah.

Sudah lama sekali aku tidak pulang.

Gang sempit itu masih sama.

Warung di ujung gang masih ada.

Lampu jalan masih redup.

Rumah kami juga masih sama.

Tidak banyak berubah.

Aku masuk ke dalam.

Bapak duduk di kursi depan.

Masih dengan posisi yang sama seperti dulu.

Punggung sedikit membungkuk.

Di tangannya ada koran.

Dia menoleh.

Beberapa detik dia hanya menatapku.

Lalu tersenyum kecil.

“sudah datang.”

Aku duduk di depannya.

Kami tidak langsung bicara.

Hanya duduk.

Seperti dua orang yang sudah sangat lama tidak bertemu.

Aku melihat tangan bapak.

Masih kasar.

Masih seperti dulu.

Aku bertanya pelan.

“bapak masih kerja?”

Bapak mengangguk.

“iya.”

Aku tersenyum kecil.

Lalu aku berkata.

“besok bapak ikut aku.”

Bapak mengernyit.

“ke mana?”

Aku menjawab santai.

“jalan-jalan.”

Beberapa bulan kemudian…

Aku membawa bapak naik pesawat.

Itu pertama kalinya bapak naik pesawat.

Di bandara bapak terlihat bingung.

Dia melihat ke sana ke mari.

Aku tertawa kecil.

“tenang pak… tidak akan jatuh.”

Bapak ikut tertawa.

Kami pergi ke beberapa negara.

Singapura.

Jepang.

Turki.

Aku masih ingat wajah bapak waktu pertama kali melihat salju.

Dia berdiri lama.

Tangannya dimasukkan ke saku jaket.

Lalu berkata pelan.

“dulu bapak tidak pernah membayangkan ini.”

Aku hanya tersenyum.

Suatu malam di hotel.

Kami duduk berdua di dekat jendela.

Lampu kota terlihat dari kejauhan.

Bapak berkata pelan.

“bapak dulu khawatir waktu kamu bilang tidak mau kuliah.”

Aku tertawa kecil.

“aku juga khawatir waktu itu.”

Bapak menatapku.

Lalu berkata sesuatu yang tidak pernah dia katakan sebelumnya.

“ternyata keputusanmu tidak salah.”

Aku tidak menjawab.

Aku hanya melihat ke luar jendela.

Lampu kota terlihat seperti bintang.

Kami empat bersaudara.

Tiga orang sarjana.

Satu tidak kuliah.

Tapi hidup ternyata punya jalannya sendiri.

Yang paling sukses justru anak yang dulu memilih tidak kuliah.

Bukan karena lebih pintar.

Bukan karena lebih hebat.

Tapi karena satu alasan sederhana.

Waktu itu aku hanya ingin…

bapakku tidak terlalu capek.

Dan sekarang…

Setiap kali aku melihat bapak tersenyum saat berjalan di negara orang…

Aku tahu satu hal.

Semua pengorbanan itu…

Benar-benar tidak sia-sia.

TAMAT ….

Similar Posts