DIA DATANG SAAT HIDUPKU SUDAH TENANG, DAN DIA TERLIHAT JAUH LEBIH CANTIK DARI SAAT AKU KEHILANGAN DIA, AKU MENYESAL TELAT MENYADARINYA.

Sore itu aku lagi duduk di ruang tamu. Kipas angin berderit pelan. Bau minyak kayu putih dari kamar anak masih samar. Istriku di dapur, suara wajan kena spatula terdengar ritmis. Anak kami lagi nonton kartun, volume TV agak kebesaran.

HP-ku getar di meja.

Nomor tak dikenal.

Aku hampir abaikan. Tapi entah kenapa aku buka.

“Ini rumahnya Mas Arga?”

Jantungku berhenti setengah detik.

Nama itu cuma satu orang yang manggil begitu. Sudah hampir tujuh tahun tidak ada yang pakai panggilan itu.

Aku balas singkat.

“Iya. Ini siapa?”

Tiga titik muncul. Hilang. Muncul lagi.

“Aku, Naya.”

Tanganku langsung dingin.

Suara motor lewat gang depan rumah. Anak kecil teriak-teriak main bola. Tapi semua terasa jauh.

Naya.

Mantan yang dulu ninggalin aku tanpa penjelasan jelas. Yang terakhir kali kutemui di parkiran kampus dengan mata sembab dan kalimat, “kita nggak bisa lanjut.”

Aku nikah dua tahun setelah itu.

Hidupku sekarang… stabil.

Rumah tipe 45 ini memang belum lunas. Mobil masih kredit. Tapi tiap malam aku bisa tidur tanpa drama. Istriku baik. Sabar. Terlalu sabar malah.

HP-ku getar lagi.

“Aku di kota ini. Boleh ketemu? Cuma sebentar.”

Aku lihat jam. 16.42.

Istriku keluar dari dapur, bawa piring. “Mas, nanti habis maghrib kita ke rumah Ibu ya. Katanya mau bahas arisan RT.”

Aku mengangguk cepat. Terlalu cepat.

HP-ku masih di tangan. Layar belum mati.

Foto profil Naya muncul.

Aku membeku.

Dia jauh berbeda.

Rambutnya panjang, hitam mengilap. Wajahnya lebih tirus. Makeup tipis. Senyum tenang. Bukan Naya yang dulu sering pakai hoodie kusam dan rambut diikat asal.

Aku zoom fotonya tanpa sadar.

Dadaku sesak.

Istriku melirik sekilas. “Siapa?”

“Teman lama,” jawabku. Terlalu cepat lagi.

Malamnya, setelah maghrib, aku bilang ada meeting dadakan sama klien.

Istriku cuma mengangguk. “Jangan pulang kemaleman.”

Nada suaranya biasa saja. Terlalu biasa.

Aku ketemu Naya di coffee shop baru dekat alun-alun. Lampunya warm. Musiknya pelan. AC dingin.

Dia sudah duduk di pojok. Pakai blouse putih dan rok hitam. Tas branded di kursi sebelahnya.

Aku berdiri beberapa detik sebelum mendekat.

Dia bangkit.

“Mas Arga…”

Suaranya sama. Lembut. Pelan.

Kami duduk.

Aku tidak tahu harus mulai dari mana.

Dia tersenyum kecil. “Kamu kelihatan bahagia.”

Aku tertawa kaku. “Lumayan.”

Dia menatapku lama. Terlalu lama.

“Aku sering mikir… harusnya dulu aku nggak pergi.”

Kalimat itu menghantam keras.

Aku genggam gelas kopi supaya tanganku tidak terlihat gemetar.

“Kenapa sekarang kamu datang?” tanyaku pelan.

Dia menarik napas.

“Aku dipaksa nikah waktu itu. Kamu tahu kan papaku seperti apa.”

Aku ingat. Papanya keras. Punya usaha besar. Tidak suka aku yang cuma anak pegawai koperasi.

“Aku nggak pernah berhenti mikirin kamu,” lanjutnya.

Di luar, suara knalpot brong lewat. Kaca bergetar sedikit.

Aku menunduk.

“Naya… aku sudah menikah.”

“Aku tahu.” Dia tersenyum tipis. “Aku lihat dari Facebook.”

Jantungku makin tidak tenang.

Dia keluarkan sesuatu dari tasnya.

Amplop cokelat.

Ditaruh di meja.

“Aku cuma mau balikin ini.”

Aku tidak langsung ambil.

“Apa itu?”

“Kita pernah hampir daftar nikah dulu, kan?”

Aku menelan ludah.

Di dalam amplop itu ada fotokopi KTP-ku. Dan formulir pendaftaran yang dulu sempat kami isi, tapi tidak pernah diserahkan.

Tanganku gemetar saat memegang kertas itu.

“Aku simpan ini tujuh tahun,” katanya pelan. “Aku nggak pernah bisa buang.”

Dadaku sesak.

HP-ku tiba-tiba bergetar.

Nama istriku muncul.

Aku tolak panggilannya.

Naya melihat itu.

Dia tidak bilang apa-apa.

“Mas,” katanya pelan, “kalau waktu bisa diputar, kamu masih pilih aku?”

Pertanyaan itu membuat kepalaku kosong.

Aku tidak jawab.

HP-ku getar lagi.

Bukan istriku.

WhatsApp masuk.

Dari nomor tak dikenal.

Aku buka.

Satu foto.

Foto aku dan Naya sedang duduk berhadapan di coffee shop ini. Diambil dari jauh.

Di bawahnya satu pesan:

“Hati-hati. Istrimu juga tahu.”

Tubuhku langsung dingin.

Aku angkat kepala.

Naya juga terlihat kaget.

“Kenapa?” tanyanya.

Aku tunjukkan layar HP.

Wajahnya berubah.

Lalu pelan sekali dia berkata,

“Itu bukan pertama kalinya aku difoto hari ini.”

Part 2 : 

Tanganku masih menggenggam HP saat Naya bicara pelan, “Itu bukan pertama kalinya aku difoto hari ini.” Suaranya turun satu nada. Matanya bergerak cepat ke arah kaca, ke arah kasir, ke arah pintu masuk yang otomatis terbuka tiap ada orang lewat. Aku ikut menoleh, mencoba terlihat biasa saja, tapi dadaku seperti dipukul dari dalam.

“Siapa yang foto kamu?” tanyaku rendah. Naya menggeleng kecil. “Aku nggak tahu. Dari siang ada motor hitam parkir nggak jauh dari apartemenku. Orangnya pakai helm full face. Waktu aku turun, dia pura-pura main HP.” Jari-jarinya meremas tisu di meja. Tisu itu sobek pelan tanpa dia sadar.

HP-ku bergetar lagi. Nomor yang sama. Kali ini bukan cuma foto kami duduk. Ada foto Naya turun dari taksi di depan coffee shop. Angle-nya lebih dekat. Lebih jelas. Di bawahnya satu kalimat baru: “Belum telat untuk pulang, Ga.”

Aku merasa tengkukku panas. “Dia manggil aku Ga.” Naya menatapku. “Siapa yang biasa manggil kamu begitu?” Aku tidak langsung jawab. Hanya sedikit orang yang pakai panggilan itu. Salah satunya… istriku, waktu kami masih pacaran.

Aku berdiri pelan. “Aku cek luar sebentar.” Naya langsung pegang pergelangan tanganku. “Jangan. Kalau memang dia mau bikin masalah, kamu keluar malah bikin dia senang.” Sentuhan itu membuat pikiranku makin kacau. Hangat. Familiar. Salah.

Aku duduk lagi. Musik kafe terdengar terlalu santai untuk situasi seperti ini. Seorang barista tertawa di dekat mesin espresso. Hidup orang lain tetap normal.

“Kenapa kamu nggak bilang dari awal kalau kamu diikuti?” tanyaku. Naya menatap lurus ke mataku. “Karena aku pikir cuma perasaan aku saja. Tapi waktu foto kamu barusan masuk… berarti dia memang sengaja.”

HP-ku berbunyi lagi. Kali ini WhatsApp dari istriku. Bukan panggilan. Pesan. “Mas, meetingnya di mana? Ibu tadi tanya.”

Aku membaca itu tiga kali. Tidak ada nada marah. Tidak ada tanda curiga. Justru terlalu tenang.

Naya melihat layar yang belum sempat aku kunci. “Dia nggak kirim foto?” tanyanya. “Belum.” Suaraku serak.

Tiba-tiba Naya membuka tasnya lagi. Bukan amplop. Sebuah ponsel kedua. Layarnya retak di sudut. Dia buka galeri. Lalu menggeser satu foto ke arahku.

Foto seorang pria duduk di dalam mobil. Diambil dari dalam lobi apartemen. Kaca mobilnya setengah turun. Wajahnya tidak terlalu jelas, tapi aku kenal garis rahangnya. Aku kenal cara dia menyipitkan mata.

Itu kakak iparku.

Suami dari kakak istriku.

Aku menelan ludah. “Ini… kapan?” “Tadi siang. Dia parkir hampir dua jam.” Naya menatapku tajam. “Kamu bilang istrimu tahu. Mungkin bukan dia.”

Kepalaku berdenyut. Kakak iparku selama ini selalu terlihat santai. Bercanda tiap kumpul keluarga. Tapi dia memang pernah kerja di bagian keamanan perusahaan besar. Dia tahu cara mengikuti orang tanpa terlihat mencolok.

HP-ku bergetar lagi. Nomor tak dikenal itu mengirim voice note.

Aku ragu satu detik. Lalu menekan play.

Suara laki-laki. Ditahan. Ditekan. “Jangan ulangi kesalahan yang sama, Ga. Ada yang bakal hancur kalau kamu lanjut.”

Bukan suara kakak iparku.

Aku angkat kepala pelan. Naya juga pucat.

“Masih mau bilang ini cuma kebetulan?” bisiknya.

Aku menatap pintu kaca coffee shop. Di luar, lampu jalan menyala kuning. Beberapa motor parkir berderet. Dan di ujung sana, ada satu motor hitam dengan pengendara yang tidak turun-turun. Helm full face. Menghadap ke arah kami.

Orang itu pelan-pelan mengangkat ponselnya.

Mengarahkannya tepat ke dalam.

Ke arah meja kami.

Kita lanjut Part Selanjutnya?


Part 3 :

Motor itu tetap diam.

Helm full face hitam. Jaket gelap. Tidak bergerak. Tidak turun. Hanya duduk… dan menatap.

Atau mungkin bukan menatap. Merekam.

Tanganku refleks meraih HP. Kamera kubuka. Zoom maksimal ke arah luar. Tapi pantulan kaca dan cahaya lampu kafe bikin wajahnya tetap samar.

“Jangan terlalu kelihatan panik,” bisik Naya.

Terlambat.

Motor itu tiba-tiba menyalakan mesin.

Suara knalpotnya berat. Tidak digeber. Hanya hidup.

Pelan.

Seperti ancaman yang sengaja dipanjangkan.

HP-ku berbunyi lagi.

Nomor tak dikenal.

Pesan masuk:

“5 menit lagi.”

Jantungku seperti diperas.

“Lima menit apa?” bisik Naya.

Aku belum sempat jawab.

Pintu coffee shop terbuka.

Angin malam masuk bersama aroma asap jalanan.

Seseorang berdiri di ambang pintu.

Aku menoleh.

Waktu terasa melambat.

Bukan pengendara motor.

Bukan kakak iparku.

Itu istriku.

Dia berdiri diam.

Tidak marah.

Tidak menangis.

Tidak berteriak.

Dia hanya berdiri.

Tatapannya lurus ke arahku.

Ke arah Naya.

Ke arah amplop cokelat yang masih terbuka di meja.

Naya langsung menarik tangannya dari meja, seperti tersentuh api.

Aku berdiri. Kursiku bergeser keras.

“Yang…” suaraku kering.

Istriku melangkah masuk perlahan.

Langkahnya tenang.

Terlalu tenang.

Dia berhenti tepat di samping meja kami.

Melihat Naya dari atas ke bawah.

Lalu menatapku.

“Meetingnya nyaman?” tanyanya pelan.

Tidak ada nada tinggi.

Justru itu yang bikin lututku lemas.

Aku mencoba bicara.

Tidak keluar suara.

Naya berdiri. “Maaf… saya—”

Istriku mengangkat tangan sedikit. Bukan kasar. Hanya isyarat berhenti.

Lalu dia melihat ke arah luar kaca.

Motor hitam itu masih ada.

Istriku tersenyum tipis.

“Aku tahu dari siang,” katanya pelan.

Aku membeku.

“Aku yang minta dia ikut.”

Dunia seperti berhenti.

Naya menatapku. “Kamu bilang bukan dia…”

Aku tidak bisa menjawab.

Istriku mengeluarkan HP dari tasnya.

Menunjukkan satu layar.

Grup WhatsApp keluarga.

Nama kakak iparku muncul.

Pesan terakhirnya:

“Sudah di lokasi.”

Dadaku seperti runtuh.

Istriku menatapku lama.

“Mas… aku nggak marah karena kamu ketemu mantan.”

Dia berhenti.

Menarik napas.

“Aku cuma mau tahu… kamu masih di sini, atau sudah pergi sejak lama?”

Kalimat itu lebih menyakitkan dari teriakan.

Coffee shop terasa sunyi.

Musik tetap jalan.

Orang-orang tetap ngobrol.

Tapi di meja kecil kami… semuanya berubah.

Naya mundur satu langkah.

“Aku nggak tahu kalau akan begini,” katanya pelan.

Istriku akhirnya menatapnya langsung.

“Saya juga nggak tahu tujuh tahun lalu akan jadi begini.”

Diam.

Aku melihat dua perempuan yang pernah dan sedang memegang hidupku berdiri berhadapan.

Dan untuk pertama kalinya… aku sadar.

Ancaman terbesar bukan foto.

Bukan motor.

Bukan keluarga.

Tapi keputusan yang belum pernah benar-benar selesai.

Istriku menatapku lagi.

“Jawab sekarang, Mas.”

Kalimat Naya tadi terulang di kepalaku.

Kalau waktu bisa diputar…

Aku melihat amplop cokelat itu.

Melihat istriku.

Melihat Naya.

Dan untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun…

Aku benar-benar takut memilih.

Part 4 :

Aku berdiri di antara mereka.

Seperti terdakwa yang tahu putusannya akan mengubah hidup banyak orang.

Coffee shop tetap ramai. Mesin espresso mendesis. Sendok beradu dengan gelas. Dunia tetap berjalan, seolah-olah ini cuma adegan biasa.

Padahal buatku… ini kiamat kecil.

“Jawab sekarang, Mas.”

Suara istriku pelan. Tapi tidak goyah.

Aku menatap Naya.

Dia tidak menangis. Tidak memohon. Hanya diam. Menunggu.

Tujuh tahun lalu, dia yang pergi.

Malam ini… aku yang harus memilih.

Aku menarik napas panjang.

“Nggak ada yang perlu dipilih.”

Keduanya menatapku.

Aku menoleh ke Naya.

“Kita sudah selesai tujuh tahun lalu. Walaupun nggak pernah benar-benar ditutup dengan rapi.”

Dadaku berat, tapi kalimat itu keluar juga.

“Aku nggak pernah berhenti mikirin kamu,” Naya berbisik.

Aku tersenyum kecil. Sedih.

“Aku juga pernah.”

Aku tidak bohong.

“Tapi hidup bukan soal siapa yang paling lama kita kenang. Hidup soal siapa yang tetap tinggal waktu semuanya nggak romantis lagi.”

Aku menoleh ke istriku.

Rumah tipe 45.

Mobil kredit.

Arisan RT.

Suara wajan kena spatula.

Anak nonton kartun dengan volume kebesaran.

Hal-hal kecil yang tidak pernah dramatis.

Tapi nyata.

“Aku di sini,” kataku pelan ke istriku. “Dan aku nggak ke mana-mana.”

Naya memejamkan mata sebentar.

Lalu tersenyum. Kali ini bukan senyum penuh harap.

Tapi senyum menyerah.

“Kalau begitu… simpan itu.”

Dia mendorong amplop cokelat ke arahku lagi.

Aku menggeleng.

“Bawa saja. Itu masa lalu kamu. Bukan milikku lagi.”

Beberapa detik hening.

Naya akhirnya mengambil amplop itu. Memasukkannya kembali ke tas.

“Maaf sudah datang,” katanya.

Istriku mengangguk pelan. “Terima kasih sudah datang dengan jujur.”

Kalimat itu membuatku tertegun.

Naya berjalan menuju pintu.

Motor hitam di luar ikut menyala lagi saat dia keluar.

Kali ini bukan ancaman.

Hanya saksi.

Aku dan istriku berdiri beberapa detik tanpa bicara.

Lalu dia duduk.

Aku ikut duduk.

Sunyi.

“Aku takut kehilangan kamu,” katanya pelan tanpa menatapku.

Kalimat itu jauh lebih jujur dari semua drama malam ini.

Aku menelan ludah.

“Aku juga takut kehilangan kamu.”

Dia akhirnya menatapku.

“Jangan bikin aku jadi orang yang harus mengawasi suaminya sendiri.”

Itu lebih menyakitkan dari marah.

Aku mengangguk.

Pelan.

Kami pulang tanpa banyak bicara.

Di rumah, anak kami sudah tidur di sofa, remote masih di tangannya.

Istriku mengangkatnya pelan. Aku mematikan TV.

Suara kipas angin kembali berderit pelan.

Bau minyak kayu putih masih samar dari kamar.

Aku berdiri di ambang pintu kamar.

Melihat istri dan anakku.

Lalu sadar satu hal.

Godaan itu bukan selalu tentang cinta lama.

Kadang cuma tentang rasa penasaran yang belum tuntas.

Dan malam ini…

Aku hampir menukar hidup yang stabil dengan kenangan yang bahkan belum tentu benar.

HP-ku berbunyi sekali lagi.

Nomor tak dikenal.

Satu pesan terakhir:

“Pilihan yang tepat.”

Aku tidak tahu itu dari siapa.

Aku tidak mau tahu.

Aku hapus nomor itu.

Blokir.

Lalu masuk kamar.

Menutup pintu.

Dan untuk pertama kalinya sejak sore tadi…

Aku benar-benar pulang.


Rumah tipe 45 itu akhirnya lunas tiga bulan lalu.

Cat tembok sudah diganti. Warna krem muda. Istriku pilih sendiri. Katanya biar “hangat tapi nggak lebay.”

Mobil masih kredit. Tapi tidak terasa berat lagi.

Anak kami sudah masuk TK. Tiap pagi ribut soal sepatu kiri tidak mau dipakai kalau bukan kaki kanan dulu.

Hidup berjalan.

Normal.

Terlalu normal.

Aku dan istriku jarang membahas malam di coffee shop itu. Tidak pernah benar-benar diulang. Seolah sepakat: yang penting sudah lewat.

Tapi ada yang berubah.

Istriku sekarang jarang cek HP-ku.

Bukan karena tidak peduli.

Karena percaya.

Dan kepercayaan itu… jauh lebih berat daripada pengawasan.

Suatu sore, aku sedang sendirian di ruang tamu.
Kipas angin masih berderit pelan.

HP-ku berbunyi.

Nomor baru.

Tanpa nama.

Tanpa foto.

Pesan masuk:

“Setahun ya.”

Darahku seperti turun ke kaki.

Aku tidak balas.

Beberapa detik kemudian masuk lagi.

Foto.

Bukan foto coffee shop.

Bukan foto Naya.

Foto rumahku.

Diambil dari ujung gang.

Tanggal hari ini.

Tanganku mulai dingin lagi.

Pesan berikutnya:

“Tenang. Aku cuma memastikan kamu tetap memilih yang sama.”

Aku berdiri cepat. Buka pintu. Gang terlihat biasa saja. Anak-anak main sepeda. Warung ujung jalan buka seperti biasa.

Tidak ada motor hitam.

Tidak ada orang mencurigakan.

HP-ku berbunyi lagi.

Voice note.

Aku tekan play.

Suara laki-laki. Sama seperti tahun lalu.

Tenang. Tidak terburu-buru.

“Beberapa orang cuma perlu diingatkan sekali. Beberapa… perlu dipastikan berkali-kali.”

Klik.

Hening.

Aku langsung telepon kakak iparku.

Tidak aktif.

Aku telepon istriku.

Diangkat.

“Kenapa, Mas?”

Suaranya normal. Terlalu normal.

“Enggak… cuma mau dengar suara kamu.”

Dia tertawa kecil. “Aneh banget.”

Aku menelan ludah.

“Yang… setahun lalu… kamu yakin cuma minta kakakmu ikut?”

Ada jeda.

Pendek.

Tapi ada.

“Kenapa nanya begitu?”

Aku duduk pelan.

Tanganku gemetar lagi.

“Karena dia bilang… memastikan aku tetap memilih yang sama.”

Sunyi.

Lalu istriku berkata pelan.

“Sebenarnya… bukan cuma dia yang ikut hari itu.”

Dadaku berhenti.

“Maksud kamu?”

Suara istriku tetap tenang.

“Ada satu orang lagi yang bantu.”

“Siapa?”

Dia tidak langsung jawab.

Hanya satu kalimat yang keluar:

“Orang yang paling tahu kamu.”

Sambungan tiba-tiba terputus.

Listrik rumah mati.

Gelap.

Kipas angin berhenti.

TV mati.

Gang di luar ikut gelap.

Aku berdiri di tengah ruang tamu.

HP-ku menyala redup di tangan.

Dan satu pesan terakhir masuk.

“Sekarang kamu tahu.”

Di luar rumah,
terdengar suara motor berhenti.

Tepat di depan pagar.

Motor itu berhenti tepat di depan pagar.

Lampu rumah masih mati.

Hanya cahaya layar HP yang menerangi ruang tamu.

Jantungku berdetak keras sampai terasa di telinga.

Ada suara langkah.

Bukan tergesa.

Pelan.

Pasti.

Pagar dibuka.

Aku berdiri membeku.

Lalu terdengar suara kunci pintu diputar dari luar.

Istriku masuk.

Dia menyalakan senter dari HP-nya.

Wajahnya tenang.

Terlalu tenang.

“Kok gelap?” tanyanya ringan.

“Listriknya mati,” jawabku pelan.

Dia masuk. Menutup pintu. Menguncinya.

Motor di luar langsung pergi.

Tidak ngebut.

Tidak panik.

Seperti memang sudah selesai tugasnya.

Aku menatap istriku lama.

“Siapa?” tanyaku.

Dia tahu maksudku.

Beberapa detik dia diam.

Lalu duduk di kursi.

Menatapku lurus.

“Kamu pikir cuma kakakku yang bantu?”

Dadaku sesak.

“Siapa lagi?”

Dia menarik napas pelan.

“Ayah.”

Dunia seperti runtuh pelan.

Ayah mertuaku.

Pria yang jarang bicara, tapi selalu mengamati.

Yang dulu paling keras menilai aku.

Yang bilang, “Jadi suami itu bukan cuma soal cinta.”

Aku mundur selangkah.

“Kenapa?”

Istriku tersenyum tipis. Bukan senyum bahagia.

“Ayah nggak pernah benar-benar percaya kamu sudah selesai dengan masa lalu.”

Aku menelan ludah.

“Dan kamu?”

Dia tidak langsung jawab.

Itu yang paling menyakitkan.

“Aku percaya,” katanya akhirnya. “Tapi aku juga takut.”

Sunyi.

Hanya suara napas kami.

“Setahun ini… mereka cuma memastikan.”

“Memastikan apa?”

“Memastikan kamu nggak main api lagi.”

Kalimat itu tidak diteriakkan.

Tidak penuh emosi.

Justru karena tenang… terasa seperti tamparan.

“Aku bukan anak kecil yang harus diawasi,” kataku lirih.

Istriku menatapku dalam.

“Waktu kamu bohong soal meeting… kamu bukan suami yang bisa dipercaya sepenuhnya juga.”

Aku tidak bisa membalas.

Karena itu benar.

HP-ku bergetar lagi.

Pesan terakhir.

Dari nomor tak dikenal.

“Tugas selesai.”

Lalu centang satu.

Nomor itu tidak aktif lagi.

Aku duduk pelan.

Selama ini aku merasa korban.

Merasa dikejar.

Merasa diawasi.

Padahal… mereka tidak pernah berniat menghancurkan.

Mereka hanya berjaga.

Dengan cara yang salah.

Dengan rasa takut yang tidak pernah benar-benar sembuh.

Istriku berdiri.

Mendekat.

“Mas…”

Nada suaranya berbeda sekarang.

Lebih rapuh.

“Kalau kamu benar-benar memilih di sini… bantu aku bikin ayah berhenti.”

Aku menatapnya.

Untuk pertama kalinya aku melihat bukan istri yang mengawasi.

Tapi anak perempuan yang masih hidup dalam bayang-bayang ayahnya.

Aku menarik napas panjang.

“Aku akan selesaikan.”

Bukan dengan Naya.

Bukan dengan masa lalu.

Tapi dengan pria yang tidak pernah benar-benar melepas kendali.

Lampu tiba-tiba menyala kembali.

Listrik hidup.

Rumah terang.

Normal lagi.

Tapi rasanya berbeda.

Karena kali ini… yang harus dibereskan bukan kenangan.

Melainkan rasa tidak percaya yang diwariskan.

Aku menggenggam tangan istriku.

“Mulai sekarang… nggak ada lagi yang mengawasi dari luar.”

Dia menatapku.

“Dan nggak ada lagi yang bikin aku ragu dari dalam.”

Sunyi.

Tenang.

Tidak dramatis.

Tidak meledak.

Tapi jelas.

Beberapa ancaman datang dari masa lalu.

Beberapa dari orang asing.

Dan beberapa…

Dari orang yang mengaku melindungi.

Malam itu tidak ada motor lagi.

Tidak ada pesan.

Tidak ada foto.

Hanya dua orang yang akhirnya sadar:

Cinta itu bukan cuma soal memilih.

Tapi juga soal dipercaya… tanpa perlu dibuktikan setiap saat.

— selesai —

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *