|

Cerita Keluarga: Aku Menyesal Melanggar Larangan Terakhir Nenekku

LARANGAN ITU ANEH SEKALI:
“JANGAN PERNAH DATANG KE RUMAH KAKEKMU.”

BERTAHUN-TAHUN AKU MENURUTI LARANGAN ITU.

SAMPAI SUATU HARI AKU MELANGGARNYA…

DAN DI SANALAH AKU BARU MENGERTI
KENAPA NENEKKU SELAMA INI MENYEMBUNYIKAN SESUATU DARIKU.

Rumah nenekku ada di ujung gang kecil.

Gangnya sempit.

Kalau dua motor berpapasan harus salah satu berhenti dulu.

Di depan rumah ada pohon jambu yang sudah tua.

Batangnya miring sedikit ke kiri.

Kalau sore, anak-anak sering lempar batu buat jatuhin buahnya.

Nenek selalu keluar dari teras sambil teriak.

“HEI! JANGAN LEMPAR BATU KE POHONKU!”

Lalu anak-anak itu kabur sambil ketawa.

Aku sering duduk di teras rumah itu.

Di samping nenek.

Kipas angin tua berderit pelan dari ruang tamu.

Radio kecil di meja sering memutar lagu dangdut lama.

Kadang terdengar suara toa masjid dari ujung gang.

Aku sangat dekat dengan nenek.

Tapi ada satu hal yang selalu terasa aneh sejak aku kecil.

Aku tidak pernah diizinkan mengunjungi kakekku.

Padahal kakekku masih hidup.

Rumahnya tidak jauh.

Cuma sekitar dua kampung dari rumah nenek.

Kalau naik motor mungkin cuma sepuluh menit.

Tapi setiap kali aku menyebut namanya…

Wajah nenek langsung berubah.

Waktu aku kelas 4 SD, aku pernah bertanya.

“nek… kakek tinggal di mana sekarang?”

Nenek yang sedang mengupas bawang merah berhenti.

Tangannya diam di udara.

Lalu dia berkata pelan.

“kamu nggak perlu ke sana.”

Aku bingung.

“kenapa?”

Nenek menaruh pisau di meja.

Tatapannya serius sekali.

“pokoknya jangan pernah datang ke rumah dia.”

Aku masih kecil.

Aku tidak berani membantah.

Tapi semakin aku besar…

Semakin sering pertanyaan itu muncul di kepalaku.

Kenapa aku tidak boleh menemui kakekku sendiri?

Suatu hari saat aku SMP, aku mencoba bertanya lagi.

Kami sedang makan malam.

Lampu ruang makan redup.

Hanya ada suara sendok mengenai piring.

Aku memberanikan diri.

“nek… sebenarnya kenapa aku nggak boleh ke rumah kakek?”

Nenek berhenti makan.

Dia tidak langsung menjawab.

Beberapa detik terasa sangat lama.

Lalu dia berkata singkat.

“karena aku nggak mau kamu kenal dia.”

Aku kaget.

“kenapa?”

Nenek hanya berkata satu kalimat.

Pelan.

Tapi dingin.

“dia bukan orang baik.”

Sejak saat itu aku berhenti bertanya.

Bukan karena aku tidak penasaran.

Tapi karena setiap kali topik itu muncul…

Nenek selalu terlihat sedih.

Seperti ada sesuatu yang tidak ingin dia ingat lagi.

Tahun-tahun berlalu.

Aku kuliah.

Lalu bekerja.

Aku tetap tinggal bersama nenek.

Rumah kecil itu masih sama.

Pohon jambu masih berdiri.

Radio tua masih kadang berbunyi.

Dan nenek semakin tua.

Suatu malam aku sedang duduk di ruang tamu.

Hujan deras.

Air menetes dari atap seng.

Nenek duduk di kursi kayu.

Selimut tipis menutup kakinya.

Tiba-tiba dia berkata sesuatu yang aneh.

Tanpa aku bertanya.

Tanpa ada pembicaraan sebelumnya.

Dia hanya berkata pelan.

“janji ya…”

Aku menoleh.

“janji apa?”

Nenek menatapku.

Matanya agak berkaca-kaca.

“jangan pernah datang ke rumah kakekmu.”

Dadaku terasa aneh.

Aku tidak tahu kenapa.

Aku hanya mengangguk.

“Iya nek.”

Dia tersenyum kecil.

Seperti lega.

Beberapa bulan setelah itu…

Nenek sakit.

Awalnya cuma batuk.

Lalu demam.

Lalu makin lemah.

Rumah kami mulai sering didatangi tetangga.

Suara orang mengaji pelan di ruang tamu.

Aku mulai merasa takut.

Dan benar saja.

Tiga minggu kemudian…

Nenek meninggal dunia.

Hari pemakaman terasa sangat panjang.

Banyak orang datang.

Tetangga.

Saudara jauh.

Teman-teman lama nenek.

Semua bergantian menyalamiku.

Kepalaku terasa kosong hari itu.

Malamnya rumah terasa sangat sunyi.

Biasanya ada suara radio.

Biasanya ada suara sendal nenek di dapur.

Sekarang tidak ada apa-apa.

Aku duduk sendirian di ruang tamu.

Lampu kuning redup.

Kipas angin masih berderit seperti biasa.

Tapi rasanya berbeda.

Lalu tiba-tiba aku ingat sesuatu.

Tentang kakek.

Tentang larangan nenek.

Tentang pertanyaan yang tidak pernah terjawab.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku…

Aku berpikir sesuatu yang tidak pernah aku berani pikirkan sebelumnya.

“sekarang… tidak ada lagi yang melarangku.”

Keesokan paginya aku meminjam motor tetangga.

Aku bertanya alamat kakek kepada salah satu paman jauh.

Dia terlihat ragu.

Tapi akhirnya memberi tahu.

Perjalanan ke sana cuma sekitar sepuluh menit.

Tapi rasanya sangat lama.

Jalanan kecil.

Sawah di kiri kanan.

Angin pagi dingin.

Dadaku berdebar.

Aku bahkan tidak tahu…

Apakah kakekku masih hidup atau tidak.

Akhirnya aku sampai di sebuah rumah kecil.

Catnya sudah pudar.

Halaman depan penuh rumput liar.

Pintunya tertutup.

Aku turun dari motor.

Langkahku pelan.

Aku mengetuk pintu.

Tidak ada jawaban.

Aku mengetuk lagi.

Masih tidak ada suara.

Lalu aku mendorong pintu sedikit.

Pintunya tidak terkunci.

Pelan-pelan pintu terbuka.

Dan saat aku masuk ke dalam rumah itu…

Aku langsung melihat sesuatu di meja ruang tamu.

Sebuah foto lama.

Foto nenek.

Foto aku waktu kecil.

Dan foto kakek.

Tapi ada sesuatu yang membuat tubuhku merinding.

Di bawah foto itu…

Ada sebuah surat.

Surat itu ditujukan untukku.

Namaku tertulis jelas di amplopnya.

Tanganku mulai gemetar.

Pelan-pelan aku membuka amplop itu.

Dan setelah membaca dua kalimat pertama…

aku langsung mengerti sesuatu.

Tentang nenek.
Tentang kakek.
Tentang larangan itu.

Dadaku terasa sangat berat.

Aku baru sadar satu hal.

Aku seharusnya tidak pernah datang ke rumah itu.

PART 2

Aku membaca surat itu sambil berdiri di ruang tamu rumah kakek.

Rumahnya sunyi sekali.

Tidak ada suara televisi.

Tidak ada suara orang.

Hanya suara kipas angin tua yang berputar pelan di langit-langit.

Tanganku masih gemetar.

Tulisan di surat itu jelas tulisan tangan kakek.

Hurufnya agak besar.

Sedikit miring.

Seperti tulisan orang yang sudah tua.

Kalimat pertama membuat napasku tertahan.

“Kalau kamu membaca surat ini, berarti nenekmu sudah tidak ada.”

Aku menelan ludah.

Dadaku mulai terasa tidak enak.

Aku lanjut membaca.

“Maafkan kakek karena selama ini tidak pernah datang menemuimu.”

Aku berhenti sebentar.

Mataku mulai terasa panas.

Aku lanjut membaca lagi.

“Nenekmu melarang kakek mendekatimu.”

Tanganku langsung kaku.

Aku membaca kalimat itu sekali lagi.

Pelan.

“Nenekmu melarang kakek mendekatimu.”

Kepalaku terasa penuh pertanyaan.

Selama ini aku selalu berpikir…

Kakeklah yang tidak peduli.

Kakeklah yang menjauh.

Kakeklah yang orang jahat.

Tapi surat itu mengatakan hal yang berbeda.

Aku membaca bagian berikutnya.

“Bukan karena kakek tidak sayang padamu.”

“Tapi karena nenekmu takut kamu ikut membenci dia.”

Dadaku makin sesak.

Aku tidak benar-benar mengerti maksud kalimat itu.

Aku membaca lagi.

“Sejak kamu kecil, nenekmu selalu bilang satu hal.”

“Kalau kamu mengenal kakek… hidupmu akan jadi lebih rumit.”

Tanganku makin dingin.

Aku melihat sekeliling ruangan.

Rumah itu benar-benar terasa sepi.

Seperti sudah lama tidak dihuni.

Di sudut ruangan ada kursi kayu tua.

Di meja ada gelas kosong.

Ada juga termos air yang sudah kusam.

Aku kembali melihat surat itu.

Masih ada beberapa paragraf lagi.

“Kakek selalu ingin datang menemuimu.”

“Setiap ulang tahunmu.”

“Setiap hari lebaran.”

“Tapi nenekmu selalu melarang.”

Mataku mulai buram.

Aku bahkan tidak sadar kapan terakhir kali aku berkedip.

“Kakek tahu kamu pasti mengira kakek orang yang buruk.”

“Mungkin nenekmu pernah bilang begitu.”

Aku teringat satu kalimat nenek.

“dia bukan orang baik.”

Dadaku terasa seperti ditarik sesuatu.

Aku membaca kalimat berikutnya.

Dan di sinilah semuanya mulai terasa aneh.

“Padahal sebenarnya…”

Kalimat itu berhenti di situ.

Tiga titik.

Lalu ada kalimat berikutnya.

“Semua yang nenekmu lakukan… sebenarnya untuk melindungimu.”

Aku mengernyit.

Melindungiku?

Dari siapa?

Aku cepat membaca paragraf terakhir.

“Kalau suatu hari kamu datang ke rumah ini…”

“Berarti kamu sudah cukup besar untuk tahu semuanya.”

Tanganku makin gemetar.

Aku membaca kalimat terakhir di surat itu.

“Kakek ada di belakang rumah.”

Aku langsung mengangkat kepala.

Jantungku berdetak keras.

Belakang rumah?

Aku menoleh ke arah pintu dapur.

Pintu itu sedikit terbuka.

Ada cahaya matahari masuk dari sana.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku datang…

aku mendengar sesuatu.

Suara pelan.

Seperti kursi yang digeser.

Dari arah belakang rumah.

Aku berdiri perlahan.

Langkahku terasa berat.

Aku berjalan menuju pintu dapur.

Dan saat aku membuka pintu itu…

aku melihat seseorang duduk di kursi tua di halaman belakang.

Seorang pria sangat tua.

Rambutnya putih semua.

Tubuhnya kurus.

Dia menoleh ke arahku.

Dan berkata pelan.

“akhirnya kamu datang juga.”

Aku langsung tahu.

Itu kakekku.

PART 3A

Aku berdiri diam di depan pintu dapur.

Pria tua itu masih duduk di kursi kayu di halaman belakang.

Angin pelan membuat daun pisang di samping rumah bergerak pelan.

Dia menatapku cukup lama.

Tatapannya tidak marah.

Tidak juga dingin.

Lebih seperti… sudah lama menunggu.

“akhirnya kamu datang juga,” katanya lagi pelan.

Aku menelan ludah.

“kakek?”

Pria tua itu tersenyum sedikit.

“Iya.”

Suara itu pelan.

Tapi hangat.

Aneh sekali.

Selama ini aku selalu membayangkan kakek sebagai orang yang keras.

Orang yang jahat.

Orang yang tidak peduli.

Tapi pria tua di depanku terlihat… sangat biasa.

Sangat rapuh malah.

Aku berjalan mendekat.

Setiap langkah terasa canggung.

Kami akhirnya berdiri berhadapan.

Dia melihat wajahku cukup lama.

Seperti sedang memastikan sesuatu.

Lalu dia berkata pelan,

“kamu mirip ibumu.”

Dadaku langsung terasa aneh.

Aku hampir tidak pernah mendengar orang menyebut ibuku.

Ibuku meninggal waktu aku masih kecil.

Aku bahkan tidak benar-benar ingat wajahnya.

“Kamu pasti membaca surat itu,” kata kakek.

Aku mengangguk.

“Kakek menulis itu semalam.”

Aku kaget.

“semalam?”

Kakek mengangguk pelan.

“Kakek tahu suatu hari kamu pasti datang.”

Aku langsung teringat kalimat di surat.

“Kakek ada di belakang rumah.”

Seolah-olah dia memang sudah menungguku.

Kami duduk di kursi kayu itu.

Halaman belakang rumah kakek sederhana sekali.

Ada pohon mangga tua.

Ada sumur lama yang sudah ditutup semen.

Dan ada kandang ayam kosong di pojok halaman.

Sunyi sekali.

Aku memegang surat itu di tanganku.

“Kakek… kenapa nenek melarang aku ke sini?”

Kakek tidak langsung menjawab.

Dia hanya menatap tanah cukup lama.

Lalu menarik napas pelan.

“nenekmu bukan melarang tanpa alasan.”

Dadaku mulai berdebar.

“Apa maksudnya?”

Kakek menatapku lagi.

Kali ini matanya terlihat sangat serius.

“karena kalau kamu mengenal kakek…”

dia berhenti sebentar.

“…hidupmu bisa ikut hancur.”

Aku langsung terdiam.

Hancur?

Apa maksudnya?

PART 3B

Aku langsung terdiam.

“Hancur?”

Kakek menatapku pelan. Wajahnya terlihat lelah, seperti seseorang yang sudah lama memikul sesuatu sendirian.

“Iya,” katanya lirih. “nenekmu takut kalau kamu terlalu dekat dengan kakek… kamu akan ikut menanggung semuanya.”

Dadaku makin berdebar.

“menanggung apa?”

Kakek tidak langsung menjawab. Dia melihat ke arah pohon mangga tua di halaman belakang itu cukup lama.

Lalu dia berkata pelan, “kakek pernah melakukan kesalahan besar.”

Aku menelan ludah.

Kesalahan?

Seberapa besar sampai nenek melarangku bertemu dengannya seumur hidup?

“Kakek dulu bukan orang yang baik,” lanjutnya.

Aku langsung teringat kalimat nenek.

“dia bukan orang baik.”

Selama ini aku pikir itu hanya karena mereka bertengkar. Tapi cara kakek mengatakan kalimat itu membuat dadaku terasa aneh.

“Kakek dulu bekerja dengan orang-orang yang salah,” katanya lagi.

“orang-orang yang salah?”

Kakek mengangguk pelan.

“orang yang membuat banyak keluarga hancur.”

Angin halaman belakang terasa tiba-tiba dingin.

Aku menatap wajah kakek.

Untuk pertama kalinya aku melihat sesuatu di matanya.

Penyesalan.

Penyesalan yang sangat dalam.

“Nenekmu tahu semuanya,” katanya pelan.

“dan sejak saat itu… dia memutuskan satu hal.”

Aku menahan napas.

“apa?”

Kakek menatapku.

“dia memutuskan kamu tidak boleh pernah ikut masuk ke dalam hidup kakek.”

Dadaku terasa berat.

Jadi selama ini…

nenek bukan hanya marah.

Dia sedang melindungiku.

Aku menggenggam surat itu lebih erat.

“Tapi kakek sudah berubah sekarang,” kata kakek pelan. “kakek sudah meninggalkan semua itu sejak lama.”

Aku menatapnya.

“Tapi satu hal yang tidak pernah berubah…”

dia berhenti sebentar.

“kakek selalu ingin melihat cucu kakek… walaupun cuma sekali.”

Dadaku terasa sesak.

Dan saat itulah aku menyadari sesuatu.

Mungkin selama ini…

aku telah mempercayai cerita yang tidak pernah lengkap.

PART 4B

Aku menatap kakek dengan bingung.

“Ayah… memohon apa?”

Kakek menarik napas panjang sebelum menjawab.

“ayahmu datang malam itu dengan wajah panik. Dia bilang ada seseorang yang mengejarnya.”

Dadaku langsung terasa tidak enak.

“mengejar?”

Kakek mengangguk pelan.

“orang yang dulu bekerja dengan kakek.”

Aku langsung mulai mengerti.

Orang-orang yang dulu bekerja dengan kakek… bukan orang biasa.

“Ayahmu datang untuk meminta bantuan kakek,” lanjutnya.

“dia tahu hanya kakek yang bisa menghentikan mereka.”

Aku menelan ludah.

“lalu?”

Kakek menutup matanya sebentar.

“kakek menolak.”

Jantungku langsung terasa jatuh.

“menolak?”

Suara kakek sangat pelan ketika menjawab.

“waktu itu kakek sudah berhenti dari semua itu. Kakek tidak mau kembali lagi.”

Angin halaman terasa makin dingin.

“ayahmu memohon cukup lama malam itu,” kata kakek.

“tapi kakek tetap tidak mau terlibat.”

Dadaku mulai terasa sesak.

Aku sudah tahu cerita seperti ini biasanya tidak berakhir baik.

“malam itu ayahmu pulang sendirian.”

Kakek menatap tanah.

“dan dua hari kemudian…”

dia berhenti sebentar.

“…ayahmu ditemukan meninggal.”

Aku membeku.

Walaupun aku tidak pernah benar-benar mengenal ayahku…

mendengar cerita itu langsung membuat dadaku terasa kosong.

“nenekmu mengetahui semuanya,” lanjut kakek.

“dan sejak hari itu dia tidak pernah bisa memaafkan kakek.”

Aku terdiam.

Sekarang aku mulai mengerti.

Kenapa nenek selalu melarangku datang ke sini.

Kenapa nenek selalu berkata satu kalimat itu.

“dia bukan orang baik.”

Kakek menatapku lagi.

Matanya penuh penyesalan.

“itulah alasan sebenarnya.”

Aku menggenggam surat di tanganku.

Tapi ada satu hal yang masih mengganggu pikiranku.

Kalau benar itu alasannya…

kenapa nenek masih menyimpan foto kakek di rumah?

PART 5A

Aku masih memegang surat itu di tanganku.

Angin halaman belakang terasa pelan, tapi dadaku justru terasa semakin berat.

“Kakek…” kataku akhirnya.

“kalau nenek begitu membenci kakek… kenapa dia masih menyimpan foto kakek di rumah?”

Kakek terdiam.

Pertanyaan itu sepertinya membuatnya berpikir cukup lama.

Lalu dia menghela napas pelan.

“karena nenekmu sebenarnya tidak pernah benar-benar membenci kakek.”

Aku langsung menatapnya.

“apa maksud kakek?”

Kakek tersenyum tipis. Senyum yang sangat lelah.

“nenekmu marah… iya.”

“nenekmu kecewa… juga iya.”

“Tapi nenekmu tidak pernah berhenti peduli.”

Aku mengerutkan dahi.

“kakek tidak mengerti.”

“Kakek juga tidak mengerti dulu,” kata kakek pelan.

Dia menatap pohon mangga di halaman belakang itu.

“sampai beberapa tahun lalu… nenekmu datang ke rumah ini.”

Aku langsung kaget.

“Nenek datang ke sini?”

Kakek mengangguk pelan.

“dia datang sendirian.”

Dadaku mulai berdebar lagi.

“dia bilang satu hal pada kakek.”

“Apa?”

Kakek menatapku.

Matanya terlihat sangat tenang sekarang.

“dia bilang… suatu hari nanti kamu pasti akan datang ke rumah ini.”

Aku langsung teringat kalimat di surat.

“Kakek tahu suatu hari kamu pasti datang.”

“Tapi sebelum itu terjadi,” lanjut kakek.

“nenekmu meminta satu janji.”

Aku menahan napas.

“janji apa?”

Kakek menjawab pelan.

“nenekmu meminta kakek tidak pernah mencarimu.”

Aku langsung terdiam.

“dan kalau suatu hari kamu datang sendiri…”

kakek berhenti sebentar.

“…barulah kakek boleh menceritakan semuanya.”

Dadaku terasa makin aneh.

Jadi selama ini…

nenek sebenarnya tahu suatu hari aku akan datang ke sini.

PART 5B

Aku terdiam cukup lama.

Angin pelan membuat daun mangga di atas kami bergerak pelan.

Semua yang baru saja kudengar terasa aneh di kepalaku.

Jadi selama ini… nenek sebenarnya tahu aku mungkin akan datang ke rumah ini suatu hari nanti.

“Kakek…” kataku pelan. “kalau begitu… kenapa nenek tetap melarang aku datang?”

Kakek menatapku lama sebelum menjawab.

“karena nenekmu ingin kamu tumbuh tanpa bayang-bayang kesalahan kakek.”

Aku menelan ludah.

“Kakek sudah membuat banyak orang menderita dulu,” lanjutnya pelan.

“nenekmu tidak ingin cucunya membawa beban itu juga.”

Aku menunduk.

Selama ini aku selalu mengira nenek hanya marah pada kakek.

Ternyata… dia sedang melindungiku.

“Kakek menyesal setiap hari,” kata kakek lagi.

“bukan cuma karena ayahmu…”

dia berhenti sebentar.

“…tapi karena kakek tidak pernah berani meminta maaf langsung pada nenek.”

Dadaku terasa sesak.

“kenapa kakek tidak datang ke rumah?”

Kakek tersenyum pahit.

“karena nenekmu sudah meminta satu hal terakhir.”

Aku langsung mengangkat kepala.

“apa?”

Kakek menjawab pelan.

“dia bilang… biarkan cucu kita hidup dengan tenang.”

“jangan pernah membuat dia ikut masuk ke masa lalu kita.”

Aku memejamkan mata sebentar.

Sekarang semuanya mulai terasa masuk akal.

Larangan nenek.

Surat kakek.

Semua seperti sudah diatur sejak lama.

Lalu tiba-tiba kakek berkata pelan,

“tapi nenekmu juga mengatakan satu hal lagi sebelum pergi.”

Aku membuka mata.

“apa?”

Kakek menatapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

“dia bilang… kalau suatu hari cucu kita datang ke rumah ini…”

dia berhenti sebentar.

“…tolong peluk dia untukku.”

Dadaku langsung terasa penuh.

PART 6 (TERAKHIR)

Aku langsung terdiam.

Beberapa detik aku tidak tahu harus berkata apa.

Angin halaman belakang terasa pelan. Daun mangga bergerak perlahan di atas kami.

“Kakek…” kataku pelan.

Suara kakek sedikit bergetar ketika menjawab.

“iya?”

Aku berdiri dari kursi kayu itu.

Lalu aku melangkah mendekat.

Tanpa berkata apa-apa lagi… aku memeluk kakek.

Tubuhnya sangat kurus.

Rapuh.

Seperti seseorang yang sudah terlalu lama menanggung sesuatu sendirian.

Aku merasakan bahunya sedikit bergetar.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku datang ke rumah itu… kakek menangis.

Pelan sekali.

“nenekmu orang yang sangat baik,” katanya lirih.

Aku mengangguk pelan.

“Iya.”

Kami duduk lagi di kursi kayu itu cukup lama.

Tidak banyak yang kami bicarakan setelah itu.

Tapi rasanya seperti ada sesuatu yang akhirnya selesai.

Sesuatu yang selama ini menggantung.

Sebelum aku pulang, kakek masuk ke dalam rumah sebentar.

Dia kembali membawa sebuah kotak kecil.

Kotak kayu yang sudah terlihat sangat tua.

“ini milik nenekmu,” katanya.

Aku membukanya pelan.

Di dalamnya ada beberapa foto lama.

Foto nenek.

Foto kakek.

Foto ibuku waktu masih kecil.

Dan satu foto yang membuat dadaku langsung terasa hangat.

Foto aku waktu kecil… sedang duduk di pangkuan nenek.

Di belakang foto itu ada tulisan tangan nenek.

Aku membacanya pelan.

“semoga suatu hari nanti kamu mengerti… kenapa nenek melakukan semua ini.”

Mataku terasa panas.

Sekarang aku mengerti.

Nenek tidak sedang memisahkan kami.

Nenek sedang mencoba melindungiku.

Dan mungkin… juga melindungi kakek.

Sebelum aku pergi, kakek berkata pelan,

“terima kasih sudah datang.”

Aku tersenyum.

“aku akan datang lagi, kek.”

Kakek hanya mengangguk.

Dan untuk pertama kalinya sejak kecil…

aku pulang dengan perasaan yang berbeda.

Bukan lagi dengan pertanyaan.

Tapi dengan jawaban.

Dan dengan satu hal yang dulu selalu dilarang nenek…

hubungan antara aku dan kakek akhirnya dimulai.

TAMAT.

Similar Posts