DIA PERGI DI TENGAH MALAM… SAAT SUAMINYA MASIH JUALAN DEMI KELUARGA. LEMARI KOSONG. BAJU HILANG. DAN PAGINYA… YANG TERSISA CUMA SUAMI DAN ANAK YANG DITINGGAL DEMI LAKI-LAKI LAIN.
Jam di dinding menunjukkan pukul 02.17 dini hari.
Kipas angin di ruang tengah berderit pelan. Suaranya tipis, berulang, seperti sesuatu yang dipaksa terus hidup.
Lampu neon di warung kecil itu berkedip satu kali, lalu stabil.
Arman duduk di balik meja kayu yang pinggirnya sudah mulai terkelupas. Di depannya, bungkus mie instan tergantung berderet, kopi sachet digantung pakai penjepit, dan rak rokok tersusun rapi.
Tangannya sibuk menghitung uang receh.
Seribu… dua ribu… lima ratus…
Dia berhenti.
Menghela napas panjang.
“Sepi lagi…”
Di luar, suara motor lewat ngebut. Angin malam masuk lewat sela-sela warung. Dingin.
Arman menarik jaket tipisnya lebih rapat.
Dari dalam rumah kontrakan kecil itu, terdengar suara batuk.
Sekali.
Lalu pelan lagi.
Arman langsung berdiri.
Dia menyingkap tirai tipis yang memisahkan warung dengan ruang dalam.
Rani tidur di kasur tipis. Tubuhnya meringkuk. Selimutnya setengah jatuh ke lantai.
Arman mendekat. Mengangkat selimut itu pelan, menutup sampai ke bahu.
Tangannya sempat menyentuh kening anaknya.
Hangat.
“Jangan sakit…” bisiknya.
Rani bergerak sedikit. Tapi tetap tidur.
Arman menoleh ke arah dapur.
Gelap.
Biasanya… di jam segini, lampu dapur masih nyala.
Biasanya… ada suara sendok kena gelas.
Atau suara kompor kecil dinyalakan.
Atau… suara Sari, istrinya, yang kadang masih terjaga.
Tapi malam ini…
Sunyi.
Arman sempat diam beberapa detik.
“Mungkin capek… tidur duluan…” gumamnya.
Dia kembali ke warung.
Duduk lagi.
Menyalakan rokok.
Asapnya tipis. Naik perlahan. Hilang.
Jam menunjukkan pukul 03.12.
Seorang pelanggan datang. Helm masih di kepala.
“Bang, rokok satu. Kopi juga.”
Arman mengangguk. Tangannya otomatis bergerak.
“Masih buka terus ya, Bang?” tanya pelanggan itu sambil merogoh dompet.
“Iya… biasa.”
“Capek sih pasti…”
Arman cuma senyum tipis.
Capek.
Kata itu terlalu ringan.
Yang dia rasakan… lebih dari itu.
Tapi dia tidak pernah punya pilihan.
—
Langit mulai berubah abu-abu.
Subuh datang pelan.
Suara toa masjid terdengar dari ujung gang.
Arman menutup warung. Mengunci rak. Mematikan lampu.
Masuk ke dalam rumah.
Biasanya… di jam segini, Sari sudah bangun.
Sudah nyiapin air panas.
Sudah ribut kecil bangunin Rani.
Sudah ngomel karena seragam belum disetrika.
Tapi pagi ini…
Sunyi.
Aneh.
Arman melangkah ke dapur.
Kosong.
Kompor dingin.
Tidak ada air panas.
Tidak ada panci di atas kompor.
Tidak ada suara.
“Ri…” panggilnya.
Tidak ada jawaban.
Dia melangkah ke kamar.
Pintu kamar setengah terbuka.
Dia dorong pelan.
Kasur di sisi kanan… kosong.
Bantalnya ada.
Tapi rapi.
Terlalu rapi.
Seperti tidak disentuh semalaman.
Arman berhenti di ambang pintu.
Alisnya berkerut.
Dia melangkah cepat ke lemari.
Pintu lemari sedikit terbuka.
Dia tarik.
Kosong.
Baju-baju Sari tidak ada.
Semua.
Hanya tersisa hanger yang bergoyang pelan.
Seperti baru saja dilepas paksa.
Dada Arman langsung sesak.
Tangannya dingin.
Dia membuka laci.
Kosong.
Tas juga tidak ada.
Arman mundur satu langkah.
“Ini… apa…”
Langkahnya cepat ke ruang tengah.
“Rani! Bangun!”
Rani kaget. Duduk dengan mata setengah terbuka.
“Ayah… kenapa…”
“Ibu ke mana?”
Rani mengucek mata.
“Di dapur…”
“Enggak ada.”
Rani langsung bangun. Lari ke dapur.
Sunyi.
Dia berdiri di depan kompor yang dingin.
Menoleh ke arah ayahnya.
“Ibu… pergi?”
—
Hari itu terasa panjang.
Arman tidak buka warung.
Dia keliling.
Ke tetangga.
“Bu, lihat Sari semalam?”
“Enggak, Man…”
Ke ujung gang.
Ke warung sebelah.
Ke tukang sayur.
“Lewat sini gak?”
“Enggak…”
Dia ke rumah RT.
“Pak… istri saya gak pulang dari tadi malam…”
Pak RT mengangguk pelan.
“Nanti kita bantu cari…”
Tapi dari tatapannya… seperti sudah tahu sesuatu.
—
Siang.
Panas.
Aspal di depan gang bergetar.
Arman duduk di teras kontrakan.
Rani di sampingnya. Diam.
HP di tangan Rani.
“Nomornya gak aktif…” katanya pelan.
Arman mengangguk.
Dia sudah coba berkali-kali.
Telepon.
WhatsApp.
Semua centang satu.
Lalu hilang.
Seperti tidak pernah ada.
—
Hari kedua.
Hari ketiga.
Hari keempat.
Tidak ada kabar.
Tetangga mulai bicara pelan-pelan.
“Kayaknya kabur…”
“Ada laki lain kali…”
“Kasian anaknya…”
Arman dengar.
Dia tidak marah.
Tidak membela.
Hanya diam.
—
Minggu kedua.
Arman mulai ke kantor polisi.
“Ciri-cirinya, Pak?”
“Istri saya… tinggi segini… rambut panjang…”
“Pergi bawa apa?”
Arman menelan ludah.
“Semua…”
Petugas itu diam sebentar.
Lalu menulis.
Tapi ekspresinya… berubah.
—
Malam.
Hujan turun deras.
Air jatuh dari ujung atap kontrakan.
Arman duduk di warung.
Sepi.
HP di meja.
Tiba-tiba berbunyi.
Notifikasi WhatsApp.
Nomor tidak dikenal.
Arman membuka.
Tangannya mulai gemetar.
Satu foto.
Sari.
Senyum.
Di samping seorang pria.
Pegangan tangan.
Di belakang mereka… tulisan besar:
“SELAMAT DATANG DI SEMARANG”
Arman membeku.
Pesan masuk lagi.
“Udah, Man. Ikhlasin aja. Aku udah bahagia di sini.”
Hujan makin deras.
Suara air menutup semuanya.
Rani keluar dari dalam.
“Ayah… ada apa?”
Arman tidak menjawab.
Matanya masih di layar.
Senyum Sari… beda.
Lebih cerah.
Seperti tidak pernah hidup susah.
Pesan masuk lagi.
“Jangan cari aku lagi. Aku capek hidup kayak gini.”
Kalimat itu…
Pelan.
Tapi menghancurkan.
Arman menarik napas panjang.
Menutup mata sebentar.
Lalu membuka.
Menatap Rani.
“Ibu… udah ketemu…”
Rani langsung berdiri.
“Di mana?!”
Arman menelan ludah.
“Semarang…”
Rani diam.
“Dia… sama orang lain.”
Sunyi.
Hanya suara hujan.
Rani duduk pelan.
Air matanya jatuh.
“Dia… gak pulang?”
Arman tidak jawab.
Dia memperbesar foto itu.
Menatap lebih dekat.
Ada sesuatu yang terasa aneh.
Sesuatu yang tidak pas.
Dia zoom lagi.
Di kaca mobil belakang…
Ada pantulan.
Seseorang.
Memegang HP.
Mengambil foto.
Arman menyipitkan mata.
Wajahnya tidak jelas.
Tapi…
Posturnya…
Cara berdirinya…
Seperti…
Tidak asing.
Dan tiba-tiba…
ingatannya seperti ditarik mundur.
Ke beberapa malam sebelumnya.
Ke sesuatu yang dulu dia anggap sepele.
Lampu dapur yang sering mati tiba-tiba.
Suara pintu pelan saat tengah malam.
Dan satu hal kecil…
yang sekarang terasa… sangat janggal.
Arman menelan ludah.
Tangannya makin dingin.
Karena kalau benar…
berarti…
selama ini…
dia tidak benar-benar sendirian di rumah itu.
—
Hujan masih turun.
Arman tidak langsung mematikan layar HP-nya.
Matanya terus menatap pantulan di kaca mobil itu.
Orang yang memegang HP.
Posturnya… tinggi sedang.
Bahu agak turun.
Cara berdiri santai… seperti orang yang sudah biasa nongkrong di rumah itu.
Arman menelan ludah.
Pelan.
“Enggak mungkin…” bisiknya.
Rani masih duduk di sampingnya.
“Ayah… siapa itu?”
Arman tidak langsung jawab.
Dia memperbesar lagi.
Gambar mulai pecah.
Tapi satu hal mulai terlihat.
Sepatu.
Sepatu hitam.
Dengan garis putih di samping.
Arman langsung berdiri.
Kursinya bergeser keras.
Rani kaget.
“Ayah?!”
Arman masuk ke dalam rumah.
Langkahnya cepat.
Langsung ke rak sepatu di dekat pintu.
Dia jongkok.
Tangannya gemetar saat menyentuh satu sepatu.
Sepatu hitam.
Garis putih di samping.
Sepatu itu… bukan miliknya.
Itu milik…
“Rian…”
Rani berdiri di belakangnya.
“Om Rian?”
Arman diam.
Rian.
Keponakannya.
Anak dari kakaknya di kampung.
Sudah tiga bulan tinggal di rumah itu.
Alasannya sederhana.
“Cari kerja di kota.”
Selama ini…
dia sering bantu-bantu di warung.
Kadang tidur di ruang tengah.
Kadang keluar malam.
Kadang pulang larut.
Arman langsung berdiri.
Menoleh ke ruang tengah.
Kasur lipat di sudut… kosong.
Bantalnya tidak ada.
Tas kecil Rian… juga hilang.
Arman menutup mata sebentar.
Semua potongan mulai nyambung.
Lampu dapur yang sering mati.
Suara pintu pelan tengah malam.
Dan sekarang…
foto itu.
Rani mundur pelan.
“Jadi… ibu…”
Arman membuka mata.
Wajahnya keras.
“Iya.”
—
Pagi itu tidak ada sarapan.
Tidak ada suara TV.
Tidak ada suara sendok.
Hanya sunyi.
Rani duduk di ujung kasur.
Memeluk lututnya.
“Ayah…”
Arman berdiri di depan pintu.
Memegang HP.
“Ayah ke Semarang.”
Rani langsung menoleh.
“Serius?”
Arman mengangguk.
“Ayah harus lihat langsung.”
Rani berdiri.
“Aku ikut.”
“Enggak.”
“Kenapa?!”
Arman menatap anaknya.
“Ini bukan tempat buat kamu.”
Rani menggigit bibir.
“Ayah jangan lama…”
Arman tidak jawab.
Dia mengambil jaket.
Mengambil uang di laci.
Tidak banyak.
Tapi cukup.
Sebelum keluar, dia menoleh.
Melihat rumah kecil itu.
Kosong.
Seperti baru saja ditinggalkan perang.
—
Perjalanan ke Semarang panjang.
Bus ekonomi.
Kursi sempit.
Bau campur aduk.
Arman duduk di dekat jendela.
HP di tangannya.
Foto itu masih terbuka.
Dia memperbesar lagi.
Melihat wajah Sari.
Senyumnya.
Itu bukan senyum yang dia kenal.
—
Sampai di Semarang, sore hari.
Panas.
Rame.
Bising.
Arman turun.
Langsung buka HP.
Mencari petunjuk dari foto itu.
Tulisan “Selamat Datang” tadi.
Berarti mereka baru datang.
Atau…
baru sengaja foto di sana.
Dia menelusuri sekitar.
Tanya ke tukang parkir.
“Mas, kalau orang baru datang biasanya ke mana?”
“Ya macem-macem, Pak…”
Arman jalan.
Masuk gang.
Keluar gang.
Sampai malam.
Tidak ada hasil.
—
Sampai akhirnya…
HP-nya bunyi.
Nomor yang sama.
Pesan masuk.
“Ngapain ke sini, Man?”
Arman berhenti.
Jantungnya berdetak cepat.
Dia balas.
“Kamu di mana?”
Balasan cepat.
“Udah, pulang aja. Jangan bikin malu.”
Arman mengetik.
“Kamu pikir ini malu? Kamu ninggalin anak kamu itu apa?”
Tidak ada balasan.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Lalu…
lokasi terkirim.
Sebuah kos-kosan.
Arman langsung jalan.
—
Kos itu sederhana.
Cat temboknya mulai pudar.
Lampu depan redup.
Arman berdiri di depan.
Menarik napas panjang.
Lalu mengetuk.
Sekali.
Tidak ada jawaban.
Dua kali.
Langkah kaki terdengar dari dalam.
Pintu terbuka sedikit.
Dan di sana…
Sari.
Wajahnya berubah.
Kaget.
“Man…”
Arman tidak bicara.
Matanya pindah.
Ke dalam.
Dan di sana…
Rian berdiri.
Pakai kaos santai.
Wajahnya tegang.
Sunyi.
Tidak ada yang bicara.
Sampai akhirnya…
Arman melangkah masuk.
Pintu terbuka lebih lebar.
Dan untuk pertama kalinya…
semua yang selama ini dia duga…
berdiri di depan matanya sendiri.
—
Ruangan itu sempit.
Kasur di lantai.
Satu kipas angin berdiri di sudut.
Baju-baju tergantung di tembok.
Bau minyak rambut dan parfum murah bercampur.
Arman berdiri di tengah.
Diam.
Rian menelan ludah.
“Om…”
Belum selesai.
Tamparan keras mendarat.
Plak.
Rian mundur satu langkah.
Sari langsung maju.
“Arman! Jangan!”
Arman menatap Sari.
Matanya merah.
“Ini yang kamu cari?”
Sari diam.
Rian menunduk.
Tidak berani lihat.
Arman tertawa pelan.
Tapi kosong.
“Keponakan sendiri…”
Sunyi.
Sari akhirnya bicara.
“Aku capek, Man.”
Kalimat itu.
Sederhana.
Tapi menghancurkan.
Arman mendekat.
“Capek apa?”
Sari menatap lurus.
“Hidup kayak gini. Gak ada perubahan. Tiap hari sama.”
Arman tertawa lagi.
“Kamu pikir aku gak capek?”
Sari diam.
Rian mencoba bicara.
“Om, ini bukan—”
“DIAM!”
Rian langsung diam.
Arman menunjuk ke arah dia.
“Kamu tinggal di rumah gue. Makan dari warung gue. Terus ini balasannya?”
Rian menggigit bibir.
“Aku… gak sengaja…”
Arman mendekat.
“Sengaja atau gak, kamu jalan sama istri gue.”
Sunyi.
Sari menarik napas.
“Aku yang mulai.”
Arman langsung menoleh.
Sari lanjut.
“Bukan dia.”
Rian menatap Sari.
Kaget.
“Sari—”
“Udah, aku yang salah.”
Arman terdiam.
Beberapa detik.
Lalu pelan-pelan…
dia duduk di kursi plastik.
Tangannya jatuh ke paha.
Lemas.
“Ada anak kita…”
Suara itu… kecil.
Hampir tidak terdengar.
Sari menunduk.
Air matanya jatuh.
“Aku tahu…”
Arman menggeleng pelan.
“Enggak… kamu gak tahu.”
Sunyi panjang.
Kipas angin berputar.
Suara berdecit.
Arman berdiri lagi.
Menatap mereka berdua.
“Udah.”
Sari menoleh.
“Udah?”
Arman mengangguk.
“Aku gak akan paksa kamu pulang.”
Sari terdiam.
Rian juga.
“Kalau ini pilihan kamu… jalanin.”
Arman berbalik.
Menuju pintu.
Sari langsung bicara.
“Rani gimana?”
Arman berhenti.
Tapi tidak menoleh.
“Kamu tanya sekarang?”
Sari menangis.
Arman membuka pintu.
Keluar.
Dan tidak menoleh lagi.
—
Perjalanan pulang terasa lebih panjang.
Arman tidak tidur.
Tidak makan.
Hanya duduk.
Menatap kosong.
Sesekali… memegang HP.
Melihat foto Rani.
Senyumnya.
Itu yang menahan dia.
—
Sampai rumah.
Sore hari.
Rani berdiri di depan pintu.
Seperti sudah nunggu dari tadi.
“Ayah…”
Arman turun.
Rani langsung peluk.
“Kamu lama…”
Arman memeluk balik.
Kuat.
“Maaf…”
Rani mundur.
“Gimana?”
Arman diam sebentar.
Lalu…
“Ibu gak pulang.”
Rani menunduk.
Air matanya jatuh.
Arman mengusap kepala anaknya.
“Kita berdua aja sekarang.”
Rani mengangguk.
Pelan.
—
Hari-hari berikutnya berat.
Warung tetap buka.
Tapi lebih sepi.
Arman mulai ambil kerjaan servis.
TV rusak.
AC bocor.
Kipas mati.
Semua dia kerjain.
Tangannya kotor.
Bajunya bau oli.
Tapi dia tetap jalan.
Rani bantu di rumah.
Masak sederhana.
Cuci baju.
Kadang nungguin warung.
—
Suatu malam.
Seorang pelanggan datang.
“Bang, bisa benerin AC?”
Arman mengangguk.
“Bisa.”
Dari situ…
mulai banyak yang datang.
Dari mulut ke mulut.
“Arman bisa servis.”
Kerjaan mulai banyak.
Pelan-pelan…
uang mulai masuk.
—
Suatu sore.
Rani duduk di teras.
Ngerjain PR.
“Ayah…”
“Hmm?”
“Kalau aku gede… aku mau bantu Ayah.”
Arman tersenyum.
“Sekarang juga udah bantu.”
Rani senyum kecil.
—
Beberapa bulan kemudian.
Rumah kontrakan itu… berubah.
Lebih hidup.
Lebih rapi.
Walaupun sederhana.
Tapi hangat.
—
Sampai suatu hari.
HP Arman bunyi.
Nama yang lama hilang…
muncul lagi.
“Sari.”
Arman diam.
Menatap layar.
Lama.
Akhirnya dia angkat.
“Halo…”
Di seberang… suara itu.
Lemah.
“Man…”
Arman tidak jawab.
“Aku… mau pulang…”
Arman menutup mata.
Beberapa detik.
Lalu membuka.
Menatap Rani yang sedang belajar.
Dan untuk pertama kalinya…
dia tidak lagi merasa hancur.
—
Malam itu sunyi.
Kipas angin berputar pelan.
Rani duduk di lantai, buku terbuka, tapi matanya ke arah ayahnya.
“Ayah… itu ibu ya?”
Arman menatap HP di tangannya.
Layar masih menyala.
Nama itu masih ada.
“Sari.”
Dia mengangguk pelan.
Rani diam.
Tidak langsung bicara.
“Dia mau pulang?”
Arman duduk di kursi kayu.
Menarik napas panjang.
“Iya.”
Sunyi.
Hanya suara motor lewat di gang.
Rani menunduk.
Tangannya meremas ujung buku.
“Ayah… boleh gak aku jujur?”
Arman menoleh.
“Boleh.”
Rani mengangkat wajahnya.
Matanya sudah tidak seperti dulu.
Ada sesuatu yang berubah.
“Aku kangen… tapi aku juga marah.”
Arman diam.
Kalimat itu… jujur.
Dan berat.
Arman mengangguk pelan.
“Itu wajar.”
Rani menatap ayahnya.
“Kalau dia pulang… kita harus nerima?”
Arman tidak langsung jawab.
Dia berdiri.
Berjalan pelan ke luar.
Duduk di teras.
Rani ikut duduk di sampingnya.
Lampu teras redup.
Angin malam dingin.
Arman bicara pelan.
“Kita gak harus nerima siapa pun yang nyakitin kita.”
Rani diam.
“Tapi… kita juga gak harus jadi orang yang penuh benci.”
Rani menelan ludah.
“Jadi… gimana?”
Arman menatap jalan.
Kosong.
Lalu pelan…
“Kalau dia pulang… itu hak dia minta maaf.”
“Terus?”
Arman menoleh ke Rani.
“Diterima atau enggak… itu hak kita.”
Rani diam lama.
Lalu mengangguk pelan.
—
Dua hari kemudian.
Sore.
Langit mendung.
Sebuah mobil berhenti di depan gang.
Sari turun.
Wajahnya jauh berbeda.
Lebih pucat.
Lebih lelah.
Dia berdiri di depan rumah kontrakan itu.
Ragu.
Tangannya gemetar saat mengetuk pintu.
Tok… tok…
Arman yang buka.
Mereka saling tatap.
Tidak ada kata.
Beberapa detik.
Sari menunduk.
Air matanya jatuh.
“Man… aku salah…”
Arman diam.
Rani muncul dari belakang.
Berhenti di pintu.
Melihat ibunya.
Sari langsung menangis.
“Rani…”
Rani tidak lari.
Tidak juga mendekat.
Dia berdiri.
“Kenapa Ibu pergi?”
Langsung.
Tanpa basa-basi.
Sari tidak bisa jawab.
Hanya menangis.
“Aku bodoh…”
Rani menggigit bibir.
Air matanya jatuh.
“Kenapa ninggalin aku…”
Sari maju satu langkah.
“Maafin Ibu…”
Rani mundur satu langkah.
Sunyi.
Arman melihat itu semua.
Tidak menyela.
Tidak memaksa.
Beberapa detik yang terasa lama.
Akhirnya…
Rani bicara pelan.
“Aku belum bisa maafin sekarang…”
Sari mengangguk.
Menangis.
“Tapi… aku gak benci.”
Kalimat itu…
membuat Sari jatuh terduduk.
Menangis.
Arman menarik napas panjang.
Lalu bicara.
“Kamu boleh datang.”
Sari menoleh.
“Tapi bukan buat balik.”
Sari diam.
“Datang sebagai ibu.”
Air mata Sari jatuh lagi.
Dia mengangguk.
“Iya…”
—
Hari-hari berjalan.
Sari tidak tinggal di rumah itu.
Dia kontrak kecil sendiri.
Tapi dia sering datang.
Bawa makanan.
Bantu Rani.
Pelan-pelan…
hubungan itu membaik.
Tidak seperti dulu.
Tapi cukup.
—
Arman?
Dia tetap dengan hidupnya.
Warungnya makin ramai.
Servisnya makin dikenal.
Tangannya tetap kotor.
Tapi hatinya… tidak lagi kosong.
—
Suatu malam.
Rani duduk di warung.
“Ayah…”
“Hmm?”
“Ayah kuat ya.”
Arman tersenyum kecil.
“Bukan kuat.”
“Terus?”
Arman menatap anaknya.
“Terpaksa.”
Rani ketawa kecil.
—
Lampu warung tetap menyala.
Malam tetap datang.
Motor tetap lewat.
Hidup tetap jalan.
Dan kali ini…
mereka tidak lagi menunggu siapa pun untuk bahagia.
Mereka sudah cukup… dengan apa yang mereka punya.
Akhirnya.