| |

AKU MENIKAHI WANITA YANG CANTIK, TAPI AKU TIDAK PERNAH BENAR-BENAR MENIKAHINYA SENDIRIAN, BAPAKNYA IKUT TINGGAL… DI REKENINGKU.

Sabtu pagi.

Cahaya matahari masuk dari jendela ruang tamu. Garis tipis menyentuh lantai keramik yang belum dipel. Kipas tua berderit pelan.

Rani duduk di lantai, melipat baju. Rambutnya setengah kering. Kaos rumahan longgar. Wajahnya tanpa make up.

Cantik.

HP di sampingnya bergetar.

Nama yang muncul: “Bapak”.

Tangannya berhenti.

Aku pura-pura fokus ke laptop. Meeting belum mulai. Tapi aku sudah tahu isi percakapannya bahkan sebelum dia angkat.

“Iya, Pak…”

Suara Rani mengecil.

Hening beberapa detik.

“Iya… nanti aku usahakan.”

Telepon ditutup pelan.

Rani tidak langsung menatapku. Dia berdiri, masuk kamar, lalu keluar lagi dengan wajah yang terlalu tenang untuk jadi tenang.

“Berapa?” tanyaku.

Dia menelan ludah.

“Sepuluh juta.”

Angka itu melayang di udara seperti debu yang kena cahaya.

Dua bulan lalu delapan juta.
Sebelumnya lima juta.
Alasan selalu sama.

“Modal usaha.”
“Bayar orang.”
“Darurat.”

Tapi setiap malam, bapaknya duduk di lapak belakang pasar. Lampu neon putih. Meja kayu panjang. Kartu berserakan. Suara orang tertawa kasar.

Dan selalu kalah.

Siang itu aku transfer.

Notifikasi bank berbunyi pendek. Saldo berkurang drastis.

Rani menunduk. “Maaf.”

Aku hanya mengangguk.

Malamnya, aku ke rumah mertua.

Rumah papan dengan cat yang sudah lama menyerah. Lampu teras kuning redup. Suara TV dari dalam memutar sinetron lama.

Bapak duduk di kursi plastik. Kaos singlet, sarung dilipat setengah. Rokok menyala di ujung jari.

“Datang juga kau,” katanya santai.

“Ada yang mau saya bicarakan, Pak.”

Dia tidak mempersilakan duduk. Aku tetap duduk.

“Uangnya sudah masuk.”

Dia tersenyum kecil.

“Kau ini memang menantu yang berguna.”

Berguna.

Kata itu terasa seperti stempel.

“Pak,” kataku pelan, “Rani sekarang ikut saya. Kami punya kebutuhan sendiri.”

Dia menghembuskan asap rokok ke samping.

“Anakku itu dari kecil yang biayai bapaknya. Sekarang kau cuma ganti posisi.”

Aku menatapnya.

“Itu bukan kewajiban dia lagi.”

Dia berdiri.

Langkahnya pelan mendekat.

“Selama aku masih hidup, itu tetap kewajibannya.”

Suasana hening.

Dari kejauhan terdengar motor lewat gang. Anak kecil tertawa. Hidup tetap berjalan. Tapi di teras rumah itu, ada sesuatu yang tidak sehat.

Seminggu kemudian, listrik rumahku hampir diputus karena telat bayar.

Tabungan darurat kami tinggal sisa tipis.

Rani mulai menjual gelang emas kecilnya. Katanya untuk tambah renov dapur.

Aku tahu itu untuk kirim lagi.

Setiap HP berbunyi, bahunya tegang. Matanya cepat ke layar.

Suatu malam, jam dua.

Aku bangun.

Rani tidak di sampingku.

Lampu ruang tamu menyala. Dia duduk sendiri di sofa. Layar HP menyala terang di wajahnya.

Tangannya gemetar.

Di layar, pesan masuk.

“Kalau kau tidak kirim besok, bapak datang ke rumahmu.”

Aku berdiri di belakangnya.

Pesan berikutnya masuk.

“Bapak sudah kalah banyak. Jangan bikin bapak malu di meja.”

Aku tarik napas panjang.

Besoknya, jam sepuluh pagi.

Aku sedang meeting online.

Tiba-tiba suara motor berhenti keras di depan rumah.

Pintu diketuk. Bukan diketuk. Dipukul.

“Rani! Keluar kau!”

Suara bapaknya.

Tetangga mulai buka gorden.

Aku buka pintu.

Dia berdiri dengan mata merah. Bau alkohol samar.

“Uang mana?” katanya.

“Pak, jangan ribut di sini.”

Dia dorong bahuku.

“Rumah ini dari uang siapa? Dari anakku!”

Rani keluar dari belakangku. Wajahnya pucat.

“Pak, tolong…”

Dia tarik tangan Rani keras.

Refleks aku pegang pergelangan tangannya.

“Lepas,” kataku pelan.

Dia menatapku lama.

Tatapan orang yang sudah kehilangan kontrol.

Dan saat itu aku sadar sesuatu.

Ini bukan cuma soal uang.

Ini soal kecanduan.

Dan kecanduan tidak pernah berhenti sendiri.

Malam itu, setelah Rani tertidur dengan mata sembab, aku duduk sendirian di teras.

Toa masjid latihan azan terdengar samar.

Aku buka laptop.

Buka folder baru.

Beri nama: “Rencana”.

Aku bukan orang jahat.

Tapi aku juga bukan ATM.

Kalau dia terus datang, terus memeras, terus merusak rumah tanggaku…

Maka aku akan pastikan satu hal.

Dia tidak akan pernah bisa datang lagi.

Dan malam itu…

Aku mulai menyusun cara agar bapak mertuaku masuk penjara seumur hidup.

PART 2

Besok paginya Rani tidak bangun untuk bikin kopi.

Biasanya sebelum aku mandi, aroma kopi sudah keluar dari dapur kecil kami.
Hari itu tidak ada.

Dia duduk di tepi kasur. Tatapannya kosong ke lantai.

HP di tangannya.

“Aku nggak kuat,” katanya pelan.

Aku duduk di sebelahnya.

“Ayah kirim apa lagi?”

Dia geser layar ke arahku.

Voice note.

Aku tekan play.

Suara bapaknya terdengar serak.

“Kalau kau nggak kirim hari ini, bapak datang lagi. Bapak bisa malu di meja. Orang-orang sudah tahu bapak punya anak yang kerja bagus. Jangan bikin bapak jatuh harga diri.”

Voice note kedua masuk.

“Kau pikir suamimu bisa lindungi kau? Jangan sok.”

Tanganku dingin.

Itu bukan minta tolong.

Itu ancaman.

Siang itu aku tidak transfer.

Sengaja.

Jam dua belas.

Satu pesan masuk lagi.

“Terakhir. Lima juta saja. Bapak lagi dikejar.”

Kata “dikejar” membuatku berhenti.

Dikejar siapa?

Sore harinya aku keluar rumah tanpa bilang ke Rani.

Aku ke belakang pasar.

Lampu neon putih menyala meski matahari belum tenggelam. Meja panjang. Bau rokok dan kopi sachet.

Bapak duduk di ujung.

Wajahnya lebih kusut dari biasanya.

Di sekelilingnya ada tiga pria. Bukan orang kampung biasa. Rambut cepak. Tato di lengan. Tatapan dingin.

Salah satu dari mereka mengetuk meja pelan.

“Pak, janji bapak seminggu.”

Bapak tersenyum paksa.

“Anak saya lagi transfer.”

Aku berdiri agak jauh. Mendengar.

Pria itu menyeringai.

“Kalau nggak ada uang, ada jaminan lain.”

Jaminan lain.

Kata itu bikin perutku mengeras.

Bapak melihat ke arah jalan.

Mungkin berharap aku muncul sebagai ATM berjalan.

Aku tidak mendekat.

Aku hanya merekam.

HP di sakuku menyala.

Video berjalan.

Salah satu pria mencondongkan badan.

“Rumah bapak masih atas nama siapa?”

Bapak terdiam.

Lalu pelan menjawab, “Masih atas nama saya.”

Pria itu tersenyum tipis.

“Bagus.”

Malamnya, benar.

Bapak datang lagi ke rumahku.

Bukan sendiri.

Motor dua.

Dua pria yang tadi siang ikut berdiri di belakangnya.

Rani gemetar di ruang tamu.

Tetangga pura-pura menyapu depan rumah.

Aku buka pintu.

“Masuk,” kataku.

Bapak kaget.

Biasanya aku menahan dia di luar.

Kali ini aku persilakan.

Dia duduk. Dua pria tetap berdiri.

“Uang mana?” salah satu pria bertanya langsung.

Aku menatap bapak.

“Pak, total utang bapak berapa?”

Dia menoleh cepat. “Bukan urusanmu.”

Pria itu tertawa kecil.

“Sudah tiga puluh juta. Bunga jalan terus.”

Rani terduduk.

Tiga puluh juta.

Aku berdiri, ambil map dari meja.

“Pak,” kataku pelan, “saya sudah kumpulkan semua bukti transfer setahun ini.”

Aku letakkan di meja.

“Totalnya sudah empat puluh dua juta.”

Ruangan hening.

Dua pria itu saling pandang.

Aku lanjut.

“Dan saya juga punya rekaman bapak main judi siang tadi.”

Bapak langsung berdiri.

“Kau rekam bapak?”

Suasana berubah.

Bukan lagi aku yang terpojok.

Sekarang dia.

Aku menatap dua pria itu.

“Kalau kalian mau uang, saya bisa bantu.”

Mereka menunggu.

“Tapi mulai hari ini, semua harus jelas. Tidak ada lagi datang ke rumah. Tidak ada lagi ancaman ke istri saya.”

Pria bertato menyipitkan mata.

“Kalau nggak?”

Aku menatap bapak.

“Kalau nggak… saya laporkan semua. Judi ilegal. Pemerasan. Ancaman.”

Rani menatapku, kaget.

Bapak tertawa keras.

“Kau berani laporkan bapak mertuamu sendiri?”

Aku menatapnya balik.

Tatapan yang tidak pernah dia lihat dariku.

“Kalau bapak terus paksa kami, saya bukan cuma berani lapor.”

Aku berhenti.

Ruangan terasa sempit.

“Kali ini saya akan pastikan bapak tidak pernah bisa menyentuh keluarga saya lagi.”

Dua pria itu tidak tertawa lagi.

Bapak menatapku lama.

Untuk pertama kalinya… ada takut di matanya.

Tapi dia belum tahu.

Semua ini baru permulaan.

PART 3

Malam itu tidak ada yang benar-benar menang.

Dua pria itu akhirnya pergi setelah aku bilang akan transfer lima juta sebagai cicilan resmi—bukan ke bapak, tapi langsung ke mereka. Dengan perjanjian tertulis. Tanpa datang ke rumah lagi.

Mereka setuju.

Bapak tidak.

Dia berdiri di teras sebelum pulang.

“Kau mempermalukan bapak di depan orang.”

“Aku cuma berhenti jadi ATM,” jawabku.

Dia meludah ke tanah.

“Ini belum selesai.”

Motor mereka menghilang di ujung gang.

Lampu ruang tamu masih menyala. Rani duduk diam. Tangannya dingin saat kugenggam.

“Kamu serius mau lapor polisi?” tanyanya pelan.

Aku tidak langsung jawab.

Aku buka laptop.

Folder “Rencana”.

Di dalamnya sudah ada:

– Screenshot semua transfer.
– Rekaman voice note ancaman.
– Video dia di meja judi.
– Rekaman percakapan barusan.

Aku tidak mengumpulkan ini dalam semalam.

Sudah tiga bulan.

Sejak pertama kali dia datang sambil mabuk dan teriak-teriak di depan rumah.

Aku sudah tahu ini tidak akan berhenti.

Rani melihat layar.

“Kamu sudah lama simpan ini?”

Aku mengangguk.

“Aku cuma nunggu momen.”

Dia duduk pelan di kursi.

“Ayah itu… tetap ayahku.”

Kalimat itu tidak marah. Tidak membela. Tapi berat.

Aku duduk di depannya.

“Dan kamu istriku.”

Hening.

Suara motor lewat gang. Anjing menggonggong jauh.

“Kalau kita lapor, dia bisa masuk penjara,” katanya.

“Kalau kita tidak lapor, dia akan terus pakai kamu buat bayar utangnya.”

Rani menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Aku tahu ini bukan cuma soal hukum.

Ini soal anak yang masih berharap bapaknya bisa berubah.

Besok paginya bapak kirim pesan lagi.

“Jangan macam-macam. Bapak tahu kantor kau di mana.”

Aku membaca pesan itu dua kali.

Ancaman langsung.

Tidak samar lagi.

Siang itu aku ke kantor polisi.

Bukan untuk langsung melapor.

Untuk tanya.

Seorang petugas melihat video yang kutunjukkan.

Dia mengangguk pelan.

“Ini bisa masuk perjudian ilegal dan pemerasan kalau ada unsur ancaman.”

“Ada voice note,” kataku.

Dia dengarkan.

Wajahnya berubah serius.

“Kalau mau lanjut, kami butuh laporan resmi dari korban.”

Korban.

Aku pulang dan letakkan formulir itu di meja makan.

Rani menatapnya lama.

Tangannya menggenggam pulpen.

Tidak bergerak.

Tiba-tiba HP-ku bergetar.

Nomor tak dikenal.

Aku angkat.

Suara pria yang kemarin berdiri di belakang bapak.

“Kami sudah dengar kau mulai ke polisi.”

Dadaku menegang.

“Kalau bapakmu masuk, kau kira kami diam?”

Aku berdiri dari kursi.

“Apa maksudmu?”

Suara itu rendah.

“Utang itu tidak hilang kalau orangnya di dalam.”

Telepon mati.

Aku melihat Rani.

Dia mendengar semuanya.

Wajahnya pucat.

Saat itu aku sadar satu hal penting.

Masalah ini bukan cuma bapaknya.

Ada lingkaran yang lebih besar.

Dan kalau aku salah langkah…

Bukan cuma dia yang kena.

Tapi kami berdua.

Aku tarik napas dalam.

“Kayaknya kita nggak bisa setengah-setengah lagi.”

Rani menatapku.

“Apa maksud kamu?”

Aku menutup laptop perlahan.

“Kalau kita mulai, kita harus pastikan bukan cuma bapak yang berhenti.”

Aku menatap formulir laporan itu.

Dan untuk pertama kalinya, rencanaku berubah arah.


PART 4

Malam itu aku tidak langsung kirim laporan.

Aku duduk lama di teras. Motor lewat sesekali. Warung ujung gang masih buka. Lampu putihnya menyilaukan mata.

Rani duduk di sampingku.

“Kita nggak bisa cuma jebak ayah,” katanya pelan.
“Kalau dia masuk, orang-orang itu tetap ada.”

Aku mengangguk.

Benar.

Masalahnya bukan cuma penjudi.
Tapi meja judinya.

Besok paginya aku kembali ke belakang pasar.

Bukan sebagai menantu.

Sebagai orang yang mau beli waktu.

Lampu neon masih sama. Bau rokok sama. Meja kayu sama.

Bapak duduk. Mata sembab. Uang receh berserakan.

Aku duduk di depannya.

“Aku mau lunasi.”

Dia menatapku curiga.

“Lunasi apa?”

“Semua utang bapak. Tiga puluh juta.”

Tiga pria yang kemarin langsung mendekat.

Yang bertato menyilangkan tangan.

“Serius?”

Aku keluarkan map coklat.

Di dalamnya bukan uang.

Perjanjian.

“Saya lunasi. Tapi bapak tanda tangan ini.”

Bapak membuka lembar pertama.

Isinya pernyataan pengakuan utang.
Pengakuan bermain judi.
Dan kesepakatan tidak boleh menghubungi Rani lagi dalam bentuk apa pun soal uang.

“Kalau saya langgar?” bapak bertanya dingin.

Aku menatapnya.

“Saya serahkan semua bukti ke polisi. Sekalian dengan lokasi ini.”

Pria bertato tertawa kecil.

“Kau pikir kami takut?”

Aku menatapnya balik.

“Saya sudah ke polisi kemarin. Mereka cuma nunggu laporan resmi.”

Hening.

Bapak membaca lagi.

Tangannya gemetar.

Aku tahu dia sadar.

Ini bukan lagi anak yang bisa dia tekan.

Ini tembok.

“Ayah…” suaranya pelan.

Itu pertama kalinya dia tidak menyebut dirinya “bapak” dengan nada tinggi.

“Ayah cuma mau modal balik.”

Aku diam.

“Ayah sudah kalah banyak. Kalau berhenti sekarang, habis.”

Itu dia.

Kecanduan berbicara.

Bukan kebutuhan.

Bukan harga diri.

Tapi takut berhenti.

Aku keluarkan satu lembar lagi.

Bukan perjanjian.

Surat pendaftaran rehabilitasi kecanduan judi.

Alamatnya jelas. Programnya jelas.

“Aku nggak mau ayah masuk penjara,” kataku pelan.
“Tapi kalau ayah terus begini, aku yang akan masukkan.”

Ruangan itu sunyi.

Pria-pria itu saling pandang.

Salah satu dari mereka mendecih.
“Kalau dia berhenti, utangnya tetap jalan.”

Aku geser map itu sedikit ke depan.

“Saya bayar pokoknya hari ini. Tanpa bunga.”

“Tiga puluh juta,” katanya cepat.

Aku mengangguk.

“Itu harga terakhir. Setelah ini, kalau kalian ganggu rumah saya lagi, semua rekaman naik.”

Pria bertato menatapku lama.

Dia sadar.

Kalau ini viral, lapak mereka tutup.

Akhirnya dia berdiri.

“Deal. Tapi kalau kurang, kami cari dia, bukan kau.”

Aku menatap bapak.

“Mulai hari ini, mereka cari ayah, bukan Rani.”

Bapak menunduk.

Tangannya memegang pulpen.

Lama.

Lalu… dia tanda tangan.

Suara goresan tinta di kertas terdengar jelas.

Seperti sesuatu yang patah.

Aku transfer di depan mereka.

Notifikasi berbunyi.

Selesai.

Bapak tidak langsung berdiri.

Dia hanya duduk.

Kosong.

Saat aku hendak pergi, dia memanggil.

“Kalau ayah ikut rehabilitasi… kau antar?”

Aku berhenti.

Untuk pertama kalinya, tidak ada nada menantang.

Hanya lelah.

Aku menoleh.

“Kalau ayah benar-benar mau berhenti, aku antar.”

Dia menunduk lagi.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku menikah dengan Rani…

Aku melihat dia bukan sebagai pemeras.

Tapi sebagai orang yang tenggelam.

Dan mungkin… masih bisa ditarik.


PART 5 (TERAKHIR)

Subuh itu udara masih dingin.

Langit abu-abu. Jalanan belum ramai.

Aku berdiri di depan rumah mertua dengan mesin mobil menyala pelan.

Bapak keluar tanpa banyak bicara.

Tidak ada rokok di tangannya.

Tidak ada jaket gaya sok santai.

Hanya tas kecil.

Rani berdiri di sampingku. Matanya sembab, tapi tidak menangis.

Perjalanan satu jam terasa panjang.

Radio mobil memutar berita pagi. Tidak ada yang benar-benar kami dengar.

Di kursi belakang, bapak menatap keluar jendela.

Sunyi.

Sampai akhirnya dia bicara pelan.

“Ayah capek.”

Kalimat itu tidak dramatis.

Tidak tinggi.

Hanya lelah.

Kami sampai di tempat rehabilitasi.

Bangunannya sederhana. Cat putih. Halaman bersih. Tidak mewah, tapi tenang.

Petugas menyambut dengan biasa saja. Tidak menghakimi.

Bapak duduk di kursi tunggu. Mengisi formulir.

Tangannya masih gemetar saat menulis namanya sendiri.

Aku berdiri beberapa langkah di belakang.

Bukan untuk mengawasi.

Untuk memastikan.

Sebelum masuk ruangan konseling, dia menoleh ke arah Rani.

“Ayah minta maaf.”

Rani menutup mulutnya dengan tangan.

Dia mengangguk pelan.

Tidak ada pelukan dramatis.

Tidak ada adegan sinetron.

Hanya tiga orang yang tahu kalau hari itu… sesuatu berhenti.

Dan sesuatu mulai.

Enam bulan kemudian.

Rumah kami lebih tenang.

Tidak ada lagi suara motor mendadak berhenti.

Tidak ada lagi ancaman lewat voice note.

Tidak ada lagi transfer mendadak.

Tabungan mulai pulih.

Rani kembali tersenyum tanpa tegang setiap kali HP berbunyi.

Suatu sore, pintu rumah diketuk.

Pelan.

Aku buka.

Bapak berdiri di sana.

Lebih kurus.

Lebih rapi.

Tidak ada bau rokok.

Tidak ada mata merah.

Dia membawa sekotak kue.

“Cuma mau mampir,” katanya canggung.

Kami duduk di ruang tamu.

Kipas masih berderit seperti dulu.

Tapi suasananya berbeda.

Dia mengeluarkan amplop kecil.

Aku mengerutkan dahi.

“Ini cicilan. Ayah kerja sekarang di bengkel teman. Sedikit-sedikit ayah ganti.”

Aku menatapnya.

“Tidak usah buru-buru.”

Dia menggeleng.

“Ini bukan soal uang. Ini soal tanggung jawab.”

Kalimat itu terasa asing… tapi benar.

Rani tersenyum kecil.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku menikahinya…

Aku tidak merasa ada orang lain tinggal di rekeningku.

Malamnya, saat kami berdua duduk di teras, Rani menyandarkan kepala ke bahuku.

“Kamu hampir masukkan ayah ke penjara,” katanya pelan.

Aku tersenyum tipis.

“Aku siap melakukannya.”

Dia menatapku.

“Tapi kamu pilih cara lain.”

Aku memandang ujung gang yang mulai sepi.

Aku memang pernah menyusun rencana untuk membuatnya masuk penjara seumur hidup.

Tapi ternyata…

Yang perlu dikurung bukan orangnya.

Melainkan kebiasaannya.

Dan hari itu, yang benar-benar bebas bukan cuma dia.

Tapi kami juga.

Akhirnya.

SELESAI.


Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *