AKU BARU TAU AYAHKU PUNYA HUTANG KE SATU DESA. DAN YANG PALING DIA BENCI… AKU YANG SELAMA INI DIAM-DIAM BAYARIN SEMUANYA.

Suara motor berhenti tepat di depan pagar besi yang sudah mulai berkarat.

Aku turun pelan. Sandal menyentuh tanah halaman yang dulu selalu disapu tiap pagi oleh Nenek. Sekarang, daun kering berserakan. Beberapa bahkan sudah hancur jadi debu tipis.

Rumah itu masih berdiri.

Catnya mengelupas. Jendela kayu yang dulu hijau sekarang kusam, hampir abu-abu.

Aku berdiri beberapa detik. Nggak langsung masuk.

Tanganku dingin.

Sepuluh tahun.

Sepuluh tahun aku nggak pulang ke rumah ini.

Sejak Ayah meninggal.

Sejak aku pergi tanpa pamit.

“Masuk, Neng. Dari tadi dilihatin tetangga.”

Suara Pak Darto dari belakang.

Aku menoleh. Dia berdiri sambil nyender di motornya. Helm masih di tangan.

Aku cuma angguk.

Pagar berbunyi nyaring waktu aku dorong.

Krek…

Bau lembap langsung nyambut.

Rumah ini seperti menahan napas terlalu lama.

Aku masuk.

Langkah kakiku pelan. Ubin putih yang dulu kinclong sekarang penuh noda kekuningan. Di sudut ruang tamu, kursi rotan masih sama. Tapi dudukannya sudah cekung.

Di dinding, foto keluarga masih tergantung.

Aku. Ayah. Ibu.

Aku menatap lama.

Ayah tersenyum di situ.

Tenang.

Seolah hidupnya nggak pernah berantakan.

Padahal…

Aku menelan ludah.

Kalau orang-orang tahu…

Kalau desa ini tahu…

Aku mengalihkan pandangan cepat.

“Neng, ini kunci lotengnya.”

Pak Darto nyodorin kunci kecil berkarat.

“Semua barang lama ada di atas. Katanya mau diberesin?”

Aku ambil kuncinya.

“Iya, Pak.”

“Kalau butuh bantuan, panggil aja.”

Aku cuma mengangguk lagi.

Dia pergi.

Suara motornya menjauh pelan… lalu hilang.

Sunyi.

Hanya suara kipas angin tua yang berderit di langit-langit.

Ck… ck… ck…

Aku jalan ke arah tangga kayu.

Tangga itu bunyi tiap diinjak.

Krek…

Krek…

Setiap langkah terasa berat.

Seperti naik ke masa lalu yang sengaja aku kubur.

Loteng itu kecil. Atapnya rendah. Sinar matahari masuk dari celah genteng.

Debu beterbangan.

Kotak-kotak lama berserakan.

Baju. Buku. Mainan lama.

Aku jongkok. Ambil satu boneka kecil.

Boneka itu kotor. Tapi aku langsung kenal.

Aku pernah nangis semalaman waktu boneka ini hilang.

Aku tersenyum tipis.

Lalu senyum itu hilang lagi.

Kenangan di rumah ini… nggak semuanya hangat.

Aku lanjut beresin.

Satu per satu barang aku geser. Aku buka. Aku sortir.

Sampai tanganku berhenti di satu kotak kayu.

Berbeda dari yang lain.

Lebih kecil.

Lebih rapi.

Kayunya masih kokoh, nggak lapuk seperti yang lain.

Ada tulisan di atasnya.

Tulisan tangan.

Aku kenal tulisan itu.

Tulisan Ayah.

Tanganku langsung kaku.

Aku bersihkan debunya pelan.

Tulisan itu makin jelas.

“Jangan dibuka sebelum kamu siap memaafkan.”

Jantungku langsung berdetak lebih cepat.

Aku diam.

Lama.

Siap memaafkan?

Memaafkan siapa?

Ayah?

Atau… diriku sendiri?

Tanganku gemetar waktu menyentuh tutup kotak itu.

Aku bisa aja nggak buka.

Aku bisa pura-pura nggak lihat.

Aku bisa turun, lanjut beresin yang lain.

Tapi…

Aku tahu aku nggak bakal tenang kalau nggak buka.

Aku tarik napas.

Pelan.

Lalu…

Klik.

Kunci kecil itu terbuka.

Tutupan kotak aku angkat.

Bau kayu tua langsung keluar.

Di dalamnya…

Buku.

Satu buku tebal. Sampulnya cokelat tua.

Ada tulisan di depannya.

“Catatan.”

Tanganku makin dingin.

Aku buka.

Halaman pertama.

Tulisan tangan Ayah.

Rapi.

“Tanggal 12 Mei — Pinjam dari Pak Hadi: 2.000.000.”

Aku berhenti.

Keningku berkerut.

Aku lanjut halaman berikutnya.

“Tanggal 20 Mei — Pinjam dari Bu Siti: 1.500.000.”

Halaman berikutnya.

“Tanggal 3 Juni — Pinjam dari Pak Rahman: 3.000.000.”

Aku membalik lebih cepat.

Halaman demi halaman.

Nama.

Jumlah.

Tanggal.

Nama.

Jumlah.

Tanggal.

Aku menelan ludah.

Aku sudah pernah lihat ini.

Bukan bukunya…

Tapi angkanya.

Satu per satu.

Di catatan kecil yang aku simpan rapi selama bertahun-tahun.

Tanganku berhenti di satu halaman.

“Total sementara: 87.500.000.”

Napas aku tercekat.

Angka itu…

Persis.

Sama.

Seperti yang selama ini aku hitung.

Aku duduk di lantai.

Debu menempel di celana, tapi aku nggak peduli.

Tanganku gemetar.

Bukan karena kaget.

Tapi karena…

Ini semua benar-benar nyata.

Semua yang selama ini aku lakukan diam-diam…

Semua yang aku pikir cuma aku yang tahu…

Ternyata Ayah sudah tulis semuanya.

Aku lanjut ke halaman terakhir.

Tulisan Ayah berubah.

Lebih dalam.

Lebih berat.

“Kalau kamu baca ini…”

Tanganku langsung berhenti.

Napas aku pendek.

“…berarti kamu sudah kembali.”

Mataku panas.

“…dan kamu sudah cukup kuat.”

Aku menelan ludah.

“…untuk memaafkan ayah.”

Tanganku makin gemetar.

“…dan mungkin… memaafkan dirimu sendiri.”

Aku langsung nutup buku itu.

Kepalaku penuh.

Suara toa masjid dari kejauhan masuk pelan.

Ashar.

Aku diam.

Duduk di lantai loteng.

Dengan buku itu di pangkuan.

Dengan semua yang selama ini aku sembunyikan…

Tiba-tiba seperti dibuka paksa.

Aku ingat jelas.

Malam itu.

Malam sebelum Ayah meninggal.

Aku berdiri di depan pintu.

Bawa koper kecil.

“Aku capek, Yah.”

Suara aku dingin.

Ayah duduk di kursi rotan.

Diam.

“Aku nggak mau hidup kayak gini terus.”

Dia nggak jawab.

Cuma lihat ke lantai.

“Aku nggak mau terus-terusan nutupin semua ini.”

Dia tetap diam.

Aku tertawa kecil.

Pahit.

“Semua orang di desa ini… mereka tau, Yah.”

Tanganku mengepal.

“Aku malu.”

Sunyi.

Hanya suara kipas.

Ck… ck… ck…

“Aku pergi.”

Aku buka pintu.

Tapi sebelum keluar…

Aku sempat lihat Ayah.

Dia tetap duduk.

Tapi bahunya turun.

Seperti runtuh pelan.

Itu terakhir kali aku lihat dia hidup.

“Neng?”

Suara Pak Darto bikin aku kaget.

Aku cepat-cepat nutup buku itu.

“Iya, Pak.”

Dia muncul di atas.

Lihat aku duduk di lantai.

“Udah ketemu barang penting?”

Aku diam sebentar.

Lalu aku angguk pelan.

“Iya.”

Dia ngelihat kotak itu.

Matanya berhenti sebentar.

“Akhirnya dibuka juga…”

Aku langsung menoleh.

“Maksudnya?”

Pak Darto duduk di tangga.

“Dari dulu… saya udah tau kotak itu ada.”

Jantungku berdegup lagi.

“Kok… nggak pernah bilang?”

Dia nyengir tipis.

“Bukan hak saya.”

Aku menelan ludah.

“Pak…”

Suara aku kecil.

“Semua ini… bener?”

Dia mengangguk.

“Bener.”

Aku tarik napas.

Pelan.

Lalu keluar lagi.

Lebih berat.

“Semua orang di desa ini… tau?”

Pak Darto diam sebentar.

Lalu menggeleng.

“Nggak semua.”

Aku menatapnya.

“Cuma yang kamu datengin satu per satu… yang tau.”

Dunia langsung sunyi.

Aku membeku.

“Kamu kira… selama ini nggak ada yang sadar?”

Dia menatapku lurus.

“Setiap bulan kamu datang. Bayar sedikit-sedikit. Pakai nama orang lain.”

Tanganku langsung dingin.

“Aku liat sendiri, Neng.”

Suara dia pelan.

“Tapi aku diem.”

Aku nggak bisa ngomong.

Dadaku sesak.

“Kenapa… nggak bilang ke orang-orang?”

Dia tarik napas.

“Karena itu juga permintaan ayahmu.”

Aku langsung menoleh cepat.

“Apa?”

Dia berdiri.

Menatapku.

“Dia nggak mau kamu bawa beban itu sendirian.”

Tanganku gemetar.

“Tapi… dia juga nggak mau nama dia makin jatuh.”

Aku nggak kuat lagi.

Aku duduk lagi di lantai.

Kepalaku tertunduk.

Air mata jatuh.

Diam-diam.

“Selama ini…”

Suara aku pecah.

“Aku kira… dia benci aku.”

Pak Darto nggak jawab.

Dia cuma berdiri.

“Neng…”

Aku angkat kepala.

Dia menunjuk ke bawah.

“Dari tadi… ada yang nunggu di depan.”

Aku langsung tegang.

“Siapa?”

Dia nggak jawab.

Aku berdiri cepat.

Langkahku goyah.

Aku turun tangga hampir lari.

Krek… krek… krek…

Aku buka pintu depan keras.

Brak.

Seseorang berdiri di halaman.

Laki-laki.

Kaos lusuh.

Topi hitam.

Aku kenal dia.

Orang yang dulu…

Pernah aku tuduh.

Pernah aku hina.

Pernah aku salahkan di depan banyak orang.

Dia diam.

Tatapan kami ketemu.

Sepuluh tahun.

Wajahnya berubah.

Lebih tua.

Lebih lelah.

Tapi matanya… tetap sama.

Aku jalan mendekat.

Pelan.

“Kamu…”

Suara aku bergetar.

“Ngapain ke sini?”

Dia nggak langsung jawab.

Cuma melihatku.

“Aku kira… kamu yang bikin semua ini hancur.”

Dia tarik napas.

“Dan aku biarin kamu percaya itu.”

Aku mengernyit.

“Kenapa?”

Dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

Amplop.

Kusam.

Dia sodorin ke aku.

“Ini… dari ayahmu.”

Tanganku langsung kaku.

“Dititipin ke aku… malam sebelum dia meninggal.”

Jantungku seperti berhenti.

Namaku tertulis di depan.

Tulisan tangan Ayah.

Aku belum ambil.

Tanganku ragu.

“Aku pikir… kamu nggak akan pernah balik.”

Suara dia pelan.

“Tapi ternyata… kamu balik.”

Aku akhirnya ambil amplop itu.

Berat.

Seolah bukan cuma kertas.

Tapi semua yang selama ini aku sembunyikan.

Aku lihat ke dia lagi.

“Kenapa kamu yang dikasih?”

Dia menatapku.

Lama.

“Karena dia tau… kamu paling benci aku.”

Dunia terasa goyah.

Tanganku menggenggam amplop itu lebih kuat.

“Ayahmu bilang…”

Dia berhenti sebentar.

“…kalau suatu hari kamu balik… berarti kamu sudah capek lari.”

Napas aku berat.

“…dan sudah waktunya kamu berhenti nyalahin diri sendiri.”

Air mataku jatuh lagi.

Aku belum buka amplop itu.

Tapi aku tahu…

Begitu aku buka—

Semua yang selama ini aku tahan…

Akan runtuh.

Dan aku…

Belum siap.

Tanganku masih menggenggam amplop itu.

Kertasnya tipis. Sudutnya sudah sedikit terlipat. Tapi tulisan di depannya masih jelas.

“Rani.”

Tulisan tangan Ayah.

Aku berdiri di teras. Angin sore lewat pelan. Daun kering bergeser di halaman.

Laki-laki di depanku—Arman—mundur satu langkah.

Seperti sengaja memberi jarak.

“Buka aja sekarang,” katanya pelan.

Aku menatapnya tajam.

“Kamu yakin aku harus percaya kamu?”

Dia nggak tersinggung.

Cuma mengangguk kecil.

“Enggak.”

Aku mengernyit.

“Terus?”

“Percaya sama tulisan ayahmu aja.”

Sunyi.

Suara anak-anak main bola dari ujung gang terdengar samar. Seseorang teriak, “Oper… oper!”

Hidup jalan terus.

Sementara aku…

Seperti berdiri di satu titik yang berhenti.

Aku duduk di kursi rotan.

Kursi itu bunyi kecil waktu aku duduk.

Krek…

Tanganku pelan membuka lipatan amplop.

Suara kertasnya tipis.

Srrt…

Di dalamnya ada beberapa lembar.

Bukan cuma satu.

Tanganku makin dingin.

Aku tarik satu lembar pertama.

Tulisan tangan Ayah.

Masih rapi.

Masih sama seperti di buku tadi.

“Rani,

Kalau kamu baca ini, berarti kamu sudah kembali ke rumah.”

Napas aku langsung berat.

Aku lanjut.

“Ayah minta maaf.”

Tanganku berhenti sebentar.

Aku menelan ludah.

“…bukan karena ayah punya hutang.”

Aku mengernyit.

“…tapi karena ayah membiarkan kamu ikut menanggungnya.”

Jantungku berdetak lebih keras.

Aku lanjut baca.

“Ayah tau kamu mulai datang ke orang-orang satu per satu.”

Tanganku langsung kaku.

Mataku bergerak cepat ke baris berikutnya.

“Ayah tau kamu pakai uangmu sendiri. Ayah tau kamu kerja dua kali lipat di kota.”

Suara di sekitar seperti hilang.

Hanya suara napasku sendiri.

“…dan ayah tau kamu menyembunyikan semuanya dari ayah.”

Air mataku jatuh tanpa suara.

Tetes.

Di atas kertas.

Aku nggak sanggup berhenti.

“Ayah lihat kamu pulang diam-diam tiap bulan.”

Flashback langsung muncul.

Aku berdiri di depan rumah Pak Hadi.

Malam.

Aku pakai masker.

Topi.

“Kamu… anaknya Pak Joko ya?”

Aku cuma mengangguk.

Aku nggak mau ngobrol.

Aku cuma nyodorin uang.

“Ini… sebagian dulu, Pak.”

Dia lihat aku lama.

Lalu ambil.

Tanpa banyak tanya.

Aku lanjut baca.

“Rani… ayah nggak pernah benci kamu.”

Tanganku gemetar.

“Yang ayah benci… adalah diri ayah sendiri.”

Air mataku makin deras.

Aku hapus cepat.

Tapi jatuh lagi.

“Setiap kali kamu datang bawa uang… ayah pengen berhenti kamu.”

Aku menggigit bibir.

“Tapi ayah nggak punya hak lagi buat ngelarang.”

Aku nggak sadar aku sudah menunduk.

Kertas itu hampir menempel ke wajahku.

“Karena semua ini… kesalahan ayah.”

Aku tarik napas.

Tapi terasa sesak.

“Arman bukan orang jahat, Rani.”

Tanganku langsung berhenti.

Aku mengangkat kepala.

Menoleh ke arah Arman yang masih berdiri di halaman.

Dia diam.

Matanya nggak lepas dari aku.

Aku balik lihat surat itu.

“Dia satu-satunya yang tau semuanya dari awal.”

Jantungku berdegup lebih keras.

“Dan satu-satunya yang bantu ayah cari jalan keluar.”

Aku menggeleng pelan.

“Enggak…”

Suara aku hampir nggak keluar.

Aku lanjut baca.

“Yang kamu lihat waktu itu… bukan dia yang menjatuhkan ayah.”

Tanganku makin kuat menggenggam kertas.

“Itu ayah sendiri yang salah ambil keputusan.”

Flashback lagi.

Hari itu.

Orang-orang kumpul di depan rumah.

Suara ribut.

Aku berdiri di tengah.

“Ayah saya nggak mungkin salah!”

Aku teriak.

Arman berdiri di depan.

Diam.

Wajahnya keras.

Aku dorong dia.

“Kamu yang bikin semua ini!”

Dia nggak balas.

Cuma berdiri.

Dan itu yang bikin aku makin marah.

Aku kembali ke surat.

“Dia diam… karena itu permintaan ayah.”

Air mataku jatuh lagi.

“Supaya kamu nggak makin terbebani.”

Tanganku mulai lemas.

Kertas itu hampir jatuh.

Aku cepat-cepat pegang lagi.

“Dan satu hal yang paling ayah sesali…”

Aku berhenti.

Napas aku berat.

“…adalah membiarkan kamu pergi dengan perasaan bersalah.”

Tanganku langsung menutup mulut.

Suara kecil keluar.

“Yah…”

Air mata jatuh tanpa bisa ditahan.

Aku lanjut baca.

“Rani… kalau kamu sudah baca ini…”

Tanganku gemetar.

“…berarti kamu sudah cukup kuat.”

Aku menggeleng.

“Enggak…”

“…untuk berhenti menyiksa diri sendiri.”

Aku langsung menutup mata.

Air mata mengalir deras.

“Dan kalau kamu masih mau…”

Tanganku pelan membuka lagi.

“…berhentilah membayar hutang itu sendirian.”

Aku menahan napas.

“Ayah sudah siapkan cara lain.”

Aku langsung membuka mata.

Fokus.

Cara lain?

Apa maksudnya?

Aku lanjut.

“Buku yang kamu temukan itu… bukan cuma catatan hutang.”

Tanganku langsung dingin.

“Halaman belakangnya… ayah tulis nama-nama yang sudah dibayar.”

Jantungku berhenti.

Aku langsung berdiri.

Cepat.

Buku itu!

Aku lupa buka bagian belakang!

“Dan satu hal lagi…”

Aku menahan napas.

“Yang kamu pikir selama ini belum lunas…”

Tanganku gemetar.

“…sebenarnya hampir selesai.”

Aku membeku.

“Ada yang membantu kamu.”

Aku langsung menoleh ke Arman.

Dia diam.

Nggak menghindar.

“Dia yang memastikan kamu tidak sendirian.”

Air mataku berhenti.

Sejenak.

Kepalaku penuh.

Aku balik lihat surat itu.

Baris terakhir.

“Maafkan ayah.

Dan kalau bisa…

maafkan juga dirimu sendiri.”

Tanganku jatuh pelan.

Surat itu masih dipegang.

Tapi pikiranku berantakan.

Aku langsung lari masuk.

Naik tangga.

Krek… krek… krek…

Nggak peduli bunyinya keras.

Aku buka kotak itu lagi.

Ambil buku.

Tanganku cepat membalik ke halaman belakang.

Satu per satu.

Nama.

Jumlah.

Dan di sampingnya…

Ada tanda.

Coretan kecil.

“Lunas.”

“Sebagian.”

“Lunas.”

“Lunas.”

Mataku membesar.

Banyak.

Banyak banget yang sudah dicoret.

Aku terus membalik.

Semakin cepat.

Sampai aku berhenti di halaman terakhir.

Total.

Angka baru.

“8.500.000.”

Napas aku langsung tercekat.

Dari delapan puluh tujuh juta…

Tinggal delapan setengah juta?

Aku langsung duduk.

Lemah.

Ini…

Nggak mungkin aku sendiri.

Aku tahu.

Uangku nggak cukup sebanyak itu.

Berarti…

Aku berdiri lagi.

Turun.

Langsung ke depan.

Arman masih di sana.

Aku berjalan cepat ke dia.

“Semua ini…”

Suara aku gemetar.

“Kamu yang bantu?”

Dia diam sebentar.

Lalu menggeleng.

“Bukan bantu.”

Aku mengernyit.

“Terus?”

Dia menatapku.

“Gantian.”

Aku bingung.

“Waktu kamu berhenti datang… setelah ayahmu meninggal…”

Jantungku langsung turun.

“…aku yang lanjut.”

Dunia terasa sunyi.

“Kenapa… kamu lakuin itu?”

Suara aku hampir pecah.

Dia nggak langsung jawab.

Dia lihat rumah itu.

Lalu balik ke aku.

“Karena kamu sudah mulai.”

Aku menatapnya.

Bingung.

“Dan karena ayahmu… minta aku pastikan kamu nggak hancur karena ini.”

Air mataku jatuh lagi.

“Tapi… aku benci kamu…”

Suara aku kecil.

Dia tersenyum tipis.

“Makanya aku nggak pernah datang.”

Sunyi.

Angin sore lewat lagi.

Daun kering bergerak.

Aku menatapnya lama.

Semua yang selama ini aku yakini…

Satu per satu runtuh.

“Tinggal… berapa lagi?”

Dia menjawab pelan.

“Delapan setengah.”

Aku mengangguk.

Tanganku masih gemetar.

“Tapi…”

Dia berhenti.

Aku menatapnya.

“Ada satu orang… yang belum mau terima.”

Jantungku langsung berdegup lagi.

“Siapa?”

Dia menatapku lurus.

“Orang yang paling dulu kamu datengin.”

Aku langsung ingat.

Pak Hadi.

Tanganku mengepal.

“Kenapa?”

Arman menghela napas.

“Karena dia nggak mau dibayar… sebelum kamu sendiri yang datang.”

Dunia terasa berat lagi.

Aku menatap jalan depan.

Kosong.

Tapi rasanya…

Seperti semua mata melihatku lagi.

Dan kali ini…

Aku nggak bisa lari.

Aku berdiri di depan rumah Pak Hadi.

Pagar bambu itu masih sama.

Catnya sudah pudar. Beberapa bagian patah, diikat pakai kawat.

Tanganku dingin.

Aku belum masuk.

Arman berdiri beberapa langkah di belakangku. Nggak maju. Nggak ikut campur.

Seperti dari awal… dia cuma memastikan aku sampai di sini.

Sisanya… aku sendiri.

Aku dorong pagar pelan.

Kriet…

Suara ayam terdengar dari samping rumah.

Pak Hadi duduk di kursi plastik. Kain sarung dilipat sampai lutut. Kacamata turun di ujung hidung.

Dia lihat aku.

Diam.

Nggak kaget.

Seolah sudah nunggu.

Aku mendekat.

Langkahku berat.

“Pak…”

Suara aku kecil.

Dia tetap diam.

Tangannya pelan meletakkan gelas teh di meja.

“Akhirnya datang juga.”

Aku menelan ludah.

Aku berdiri di depannya.

Nggak duduk.

Tanganku menggenggam ujung baju.

“Saya… mau lunasin, Pak.”

Langsung.

Tanpa basa-basi.

Aku nggak kuat muter-muter lagi.

Pak Hadi menatapku lama.

Lalu… menggeleng.

“Enggak usah.”

Jantungku langsung turun.

“Pak…”

“Udah dibilang sama Arman, kan?”

Aku menoleh sekilas ke belakang.

Arman tetap diam.

Aku balik lagi ke Pak Hadi.

“Tapi itu hutang Ayah saya.”

“Dan kamu bukan ayahmu.”

Kalimat itu langsung nusuk.

Aku terdiam.

Tanganku makin kaku.

“Saya cuma mau beresin, Pak.”

Suara aku pelan.

“Tolong.”

Pak Hadi berdiri.

Pelan.

Dia jalan mendekat.

Jarak kami sekarang cuma satu langkah.

Dia lihat aku dari atas sampai bawah.

Lama.

“Kamu tau kenapa saya nggak pernah nagih?”

Aku menggeleng.

Dia menghela napas.

“Karena saya tau… siapa yang datang malam-malam bawa uang, pakai masker, pura-pura bukan siapa-siapa.”

Dadaku langsung sesak.

Aku nggak bisa jawab.

“Dari pertama kali kamu datang… saya sudah tau itu kamu, Rani.”

Air mataku langsung jatuh.

Aku menunduk.

Malu.

Banget.

“Pak…”

Suara aku pecah.

“Tapi kamu tetap datang lagi. Lagi. Lagi.”

Aku menggigit bibir.

“Dan tiap kali kamu datang… kamu nggak pernah bawa alasan.”

Sunyi.

“Cuma bilang… ‘ini sebagian dulu, Pak.’”

Tanganku gemetar.

“Jadi sekarang kamu mau lunasin… buat apa?”

Aku mengangkat kepala.

Mataku merah.

“Biar selesai, Pak.”

Suara aku pelan.

“Terlalu lama saya lari dari ini.”

Pak Hadi menatapku.

Dalam.

“Dan dari dirimu sendiri?”

Aku nggak bisa jawab.

Karena itu benar.

Dia menghela napas panjang.

Lalu mundur satu langkah.

“Masuk.”

Aku kaget.

“Pak?”

“Masuk dulu.”

Aku ragu.

Tapi akhirnya masuk.

Rumahnya sederhana. Bau kopi hitam dan kayu bakar.

Aku duduk.

Pak Hadi masuk ke kamar.

Beberapa detik kemudian… dia keluar bawa sesuatu.

Map.

Cokelat.

Dia duduk di depan aku.

Map itu dia taruh di meja.

“Kamu pikir hutang ini cuma soal uang?”

Aku menatap map itu.

“Ini… semua catatan yang kamu bayar selama ini.”

Tanganku langsung kaku.

Dia buka.

Di dalamnya…

Kertas-kertas.

Tanggal.

Jumlah.

Tulisan tangan.

Beberapa bahkan ada tanda tangan aku.

Aku ingat.

Aku yang nulis itu.

Aku yang tanda tangan.

Pakai nama palsu.

Aku lihat satu per satu.

Air mataku jatuh lagi.

“Tapi ini bukan yang mau saya tunjukin.”

Pak Hadi menarik satu lembar lain.

Kertas yang lebih lama.

Lebih kusam.

Dia dorong ke aku.

“Ini… yang ayahmu kasih ke saya.”

Tanganku gemetar waktu ambil.

Aku baca.

“Saya titip Rani ke Bapak.

Kalau suatu hari dia datang…

jangan terima semua uangnya.

Paksa dia berhenti.”

Aku langsung menutup mulut.

Air mataku langsung deras.

“Pak…”

Suara aku hilang.

Pak Hadi menatapku.

“Dia nggak mau kamu hancur pelan-pelan.”

Aku menggeleng.

“Tapi saya tetap bayar…”

“Iya. Karena kamu keras kepala.”

Dia tersenyum tipis.

Untuk pertama kalinya.

Aku tertawa kecil.

Di tengah tangis.

“Kamu mirip ayahmu.”

Aku menunduk.

Tanganku masih pegang kertas itu.

“Tapi satu hal yang kamu nggak tau…”

Aku mengangkat kepala.

Pak Hadi melihatku lurus.

“Sejak tahun kedua…”

Jantungku berdegup.

“…setiap uang yang kamu kasih… saya bagi.”

Aku mengernyit.

“Maksudnya?”

“Setengah saya simpan.”

Aku langsung kaku.

“Setengah lagi… saya kembalikan diam-diam ke Arman.”

Dunia seperti berhenti.

Aku menoleh cepat ke belakang.

Arman.

Dia diam.

Matanya turun.

Aku berdiri.

Langkahku goyah.

“Kamu…?”

Suara aku hampir hilang.

Arman nggak langsung jawab.

Pak Hadi melanjutkan.

“Dia yang pakai uang itu… buat bayar ke yang lain.”

Tanganku gemetar.

Berarti…

Selama ini…

Bukan cuma aku.

Bukan cuma dia.

Semua ini…

Kerja bareng.

Tanpa aku tau.

Tanpa aku sadar.

Aku menatap Arman.

Air mataku jatuh lagi.

“Kamu… kenapa nggak pernah bilang?”

Dia akhirnya menatapku.

“Karena kamu nggak akan berhenti kalau aku bilang.”

Aku terdiam.

Benar.

Aku pasti tetap lanjut.

Pak Hadi menutup map itu.

“Sekarang kamu tau semuanya.”

Aku menatap meja.

Kosong.

Kepalaku penuh.

“Tinggal satu yang belum selesai.”

Aku mengangkat kepala.

Pak Hadi menatapku.

“Bukan hutangnya.”

Jantungku berdegup.

“Terus?”

Dia menunjuk ke dadaku.

“Itu.”

Aku menunduk.

Tanganku pelan menyentuh dada.

Sesak.

Belum hilang.

Dan aku tau…

Ini belum selesai.

Malam turun pelan.

Lampu ruang tamu menyala redup.

Aku duduk sendiri.

Buku itu di pangkuan.

Surat Ayah di samping.

Semua sudah jelas.

Semua sudah kebuka.

Tapi…

Kenapa rasanya makin berat?

Kipas angin berderit pelan.

Ck… ck… ck…

Aku menatap foto di dinding.

Aku. Ayah. Ibu.

Tanganku gemetar.

“Aku capek, Yah…”

Suara aku pelan.

Kosong.

Nggak ada yang jawab.

Aku bangkit.

Ambil buku itu.

Kubuka lagi.

Halaman terakhir.

Total.

“8.500.000.”

Aku tarik napas.

Besok.

Aku akan selesaikan.

Semua.

Bukan cuma hutangnya.

Tapi juga…

Yang selama ini aku tahan.

Pagi.

Udara dingin.

Aku berdiri di halaman.

Arman sudah di sana.

Seperti biasa.

Diam.

“Kita selesain hari ini.”

Dia mengangguk.

Nggak banyak tanya.

Kami jalan.

Dari satu rumah ke rumah lain.

Satu per satu.

Orang-orang membuka pintu.

Kaget.

Bingung.

Ada yang senyum.

Ada yang diam.

Aku nggak pakai masker.

Nggak sembunyi.

“Ini, Pak… Bu… saya lunasin.”

Tanganku masih gemetar.

Tapi aku tetap berdiri.

Tatap mereka.

Satu per satu.

Dan untuk pertama kalinya…

Aku nggak merasa malu.

Aku merasa…

Lega.

Sampai rumah terakhir.

Nama terakhir.

Di buku.

Aku berhenti.

Menatap pintu itu.

Rumahku sendiri.

Aku mengernyit.

“Ini…”

Arman berdiri di sampingku.

“Yang terakhir.”

“Siapa?”

Dia menatapku.

“Kamu.”

Jantungku langsung berhenti.

“Apa?”

Dia menghela napas.

“Semua yang kamu bayarkan… semua yang kamu tahan…”

Dia menunjuk ke dadaku.

“Itu hutang kamu ke diri sendiri.”

Aku terdiam.

Sunyi.

Angin pagi lewat pelan.

Aku menutup mata.

Air mata jatuh lagi.

Aku selama ini…

Nggak pernah memaafkan diriku sendiri.

Aku selalu merasa…

Semua ini salahku.

Aku buka mata.

Pelan.

“Gimana cara lunasinnya?”

Suara aku kecil.

Arman tersenyum tipis.

“Berhenti nyalahin diri sendiri.”

Sesederhana itu.

Tapi…

Berat.

Banget.

Aku menatap rumah itu.

Rumah yang aku tinggalkan.

Rumah yang aku benci.

Rumah yang aku rindukan.

Aku tarik napas panjang.

Lalu…

Aku masuk.

Siang itu.
Rumah kembali hidup.
Pintu terbuka.
Jendela dibuka.
Angin masuk.
Bau lembap pelan hilang.
Aku berdiri di ruang tamu.
Dengan satu map di tangan.
Isi semuanya.
Catatan.
Bukti.
Lunas.
Pak Darto masuk.
“Gimana, Neng?”
Aku tersenyum.
Untuk pertama kalinya.
“Udah, Pak.”
Dia mengangguk.
Matanya sedikit berkaca.
“Alhamdulillah…”
Arman berdiri di pintu.
Seperti biasa.
Nggak masuk.
Aku mendekat.
“Kamu nggak mau masuk?”
Dia menggeleng.
“Udah cukup sampai sini.”
Aku menatapnya.
Lama.
“Terima kasih.”
Dia tersenyum kecil.
“Bukan buat aku.”
Aku mengangguk.
Aku tahu.
Aku balik ke dalam.
Ambil sesuatu.
Buku itu.
Aku kembali ke pintu.
Aku sodorkan ke dia.
“Ini… buat kamu.”
Dia mengernyit.
“Buat apa?”
“Ayah nulis ini… tapi kamu yang bantu nyelesain.”
Dia diam.
Lalu… pelan menerima.
Tangannya sedikit gemetar.
“Simpen.”
Aku tersenyum.
“Biar kita nggak lupa… kita pernah sekuat ini.”
Dia tertawa kecil.
Pelan.
Untuk pertama kalinya.

Beberapa hari kemudian.
Rumah itu berubah.
Lebih bersih.
Lebih terang.
Suara sapu tiap pagi kembali.
Tetangga mulai lewat.
Menyapa.
Pelan-pelan.
“Neng Rani…”
Aku menoleh.
Bu Siti.
Dia tersenyum.
“Udah lama ya…”
Aku tersenyum balik.
“Iya, Bu.”
Nggak canggung lagi.
Nggak berat lagi.

Malam.
Aku duduk di teras.
Sendirian.
Langit gelap.
Angin dingin.
Aku pegang surat Ayah.
Terakhir kali.
Aku baca lagi.
Pelan.
Lalu…
Aku lipat.
Aku simpan.
Tanganku nggak gemetar lagi.
Dadaku… ringan.
Aku lihat ke depan.
Halaman rumah.
Tenang.
Untuk pertama kalinya…
Aku nggak ingin lari.
Aku nggak ingin sembunyi.
Aku ingin tinggal.
Memperbaiki.
Menjalani.
Pelan-pelan.
Dari awal.

“Yah…”
Aku tersenyum kecil.
“Udah selesai.”
Angin malam lewat.
Pelan.
Seolah…
Membawa sesuatu pergi.
Dan menyisakan…
Rasa lega yang selama ini aku cari.
Akhirnya.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *