AKU DATANG KE PERNIKAHAN MANTANKU… DAN DIA BISIK DI TELINGAKU DI DEPAN PELAMINAN: “YANG AKU NIKAHI TADI PAGI ITU KAMU… BUKAN DIA.”
Kipas angin di pojok gedung muter pelan. Bunyinya ngik… ngik… kayak udah capek dari pagi tapi ga dikasih istirahat. Aku duduk di kursi baris ketiga, tangan dingin, tapi telapak basah. Di pangkuanku ada tas kertas cokelat. Isinya satu album foto. Tebal. Berat. Tujuh tahun hubungan yang harusnya selesai… hari ini. — Orang-orang di sekelilingku sibuk…