ISTRi SAYA HAMPIR MENINGGALKAN SAYA GARA-GARA SEBUAH LAGU KARAOKE.

BUKAN KARENA SELINGKUH.
TAPI KARENA SATU NOMOR TELEPON.
Malam itu hotel di Bandung penuh suara tawa. Reuni SMA. Dua puluh tahun nggak ketemu.
Parkiran depan hotel bau asap rokok dan sate dari pedagang kaki lima. Angin dingin nabrak muka. Grup WhatsApp “SMA 2005 Gila Lagi” rame banget.
“Bro, lanjut karaoke!”
Saya sebenarnya mau balik kamar. Badan capek. Besok pagi harus meeting klien.
Tapi mereka narik tangan.
“Sekali ini aja. Masa reunion nggak karaoke.”
Itu pertama kali saya masuk tempat karaoke model begitu.
Lorongnya remang. Karpet tebal. Bau parfum manis campur rokok.
Begitu pintu dibuka, lampu warna-warni muter di langit-langit. Sofa empuk bentuk U. Layar besar di depan.
Dan mereka.
Empat perempuan berdiri sambil senyum.
Rambut panjang. Makeup rapi. Gaun ketat. Wangi parfumnya nyengat halus.
“Selamat malam, Kak.”
Saya kaku.
Teman-teman saya langsung cair.
“Wah lengkap malam ini!”
Saya duduk paling ujung. Pegang mic tapi nggak nyanyi. Telapak tangan dingin.
Salah satu dari mereka duduk agak jauh dari saya. Senyumnya lembut. Nggak agresif.
“Mas pertama kali ya?” katanya pelan.
Saya cuma angguk.
Dia ketawa kecil. “Tenang aja, santai kok.”
Lagu pertama dipilih teman saya. Dangdut remix. Mereka nyanyi teriak-teriak.
Dia akhirnya duduk lebih dekat. Nggak nempel. Tapi cukup bikin saya sadar jaraknya cuma sejengkal.
“Mas pilih lagu apa?”
Saya asal pencet. Lagu lama. Chrisye.
Suara saya jelek. Teman-teman ketawa.
Dia tepuk tangan pelan. “Bagus kok.”
Kalimat sederhana. Tapi entah kenapa bikin saya merasa dihargai.
Waktu berjalan cepat. Minuman datang. Tawa makin keras.
Saya tetap jaga jarak. Duduk tegak. Mic saya pegang sendiri.
Dia cuma sesekali bisik, “Mas nadanya turun sedikit.”
Sikapnya manis. Terlalu manis.
Di sela lagu, teman saya bisik di telinga.
“Bro, nanti pulang kasih tips ya.”
“Tips apaan?”
“Ya kalau ditemenin nyanyi gini, kasih uang lah.”
Jantung saya turun.
Saya nggak bawa cash banyak. Semua bayar pakai kartu.
Saya menoleh ke dia. Dia masih senyum. Seolah nggak ada beban.
Lagu terakhir selesai. Waktu habis.
Teman-teman saya satu per satu nyelipin uang ke tangan masing-masing pemandu.
Saya berdiri canggung.
Saya dekati dia.
“Maaf ya… saya nggak bawa uang cash.”
Dia tetap senyum. “Oh nggak apa-apa kok, Mas.”
Saya tambah nggak enak.
“Kalau saya transfer boleh?”
Bodohnya saya.
Dia diam sebentar. Lalu angguk.
“Boleh. Nanti saya kirim nomor rekening.”
Kami tukar nomor.
Cepat. Tanpa pikir panjang.
Begitu keluar ruangan, udara malam terasa lebih dingin.
Di lift hotel, saya buka WhatsApp.
Namanya sudah muncul. Foto profilnya pakai hijab. Senyum kalem.
Saya kirim pesan duluan.
“Maaf tadi ya. Boleh kirim nomor rekeningnya?”
Centang dua biru cepat.
Dia kirim nomor rekening.
Saya transfer.
Saya kirim bukti transfer.
“Sudah ya.”
Dia balas, “Makasih banyak Mas. Hati-hati di hotel.”
Hanya itu.
Saya pikir selesai.
Besok pagi saya check-out. Pulang ke Jakarta.
Di tol Cipularang, HP saya bunyi.
Notif WhatsApp.
Dari dia.
“Mas sudah sampai?”
Saya balas singkat. “Sudah.”
Dia kirim emoji senyum.
Saya anggap basa-basi.
Malamnya dia kirim lagi.
“Mas orangnya pendiam ya ternyata.”
Saya balas sopan. Singkat. Nggak lebih.
Saya pikir cuma obrolan ringan.
Tapi chat itu tidak berhenti.
Setiap hari.
Pagi.
Siang.
Malam.
Awalnya ringan.
“Mas lagi apa?”
“Kerja di mana?”
“Anaknya berapa?”
Saya mulai merasa aneh.
Dia tahu saya sudah menikah.
Saya sengaja cerita di awal. Biar jelas.
Tapi dia tetap kirim pesan.
Suatu malam, dia kirim foto.
Bukan foto vulgar.
Cuma selfie di kamar. Rambut terurai. Senyum tipis.
Caption-nya pendek.
“Lagi ingat suara Mas waktu nyanyi.”
Jari saya berhenti di layar.
Ada sesuatu yang mulai terasa tidak beres.
Saya belum sadar, nomor telepon yang saya tukar malam itu… ternyata bukan cuma soal tips.
Dan semuanya benar-benar berubah ketika satu notifikasi muncul di HP saya, tepat saat istri saya sedang memegang ponsel itu.
lanjut part 2 ada di kolom komentar.
Part 2 :
Notifikasi itu muncul tepat saat tangan istri saya menggenggam HP saya di meja makan. Getarannya pendek, tapi cukup membuat layar menyala. Nama dia muncul jelas di atas preview pesan. Foto profil berhijab itu seperti menatap lurus ke arah kami berdua.
Istri saya tidak langsung bicara. Dia cuma menatap layar beberapa detik lebih lama dari biasanya. Alisnya turun sedikit. Nafasnya pelan tapi terdengar. Lalu dia buka pesan itu. “Mas, aku kangen suara kamu malam itu.”
Jantung saya seperti jatuh ke lantai keramik. Bunyi sendok istri saya berhenti di tengah udara. Anak saya di ruang tamu masih nonton kartun, suaranya kontras dengan sunyinya meja makan. “Kangen?” istri saya membaca pelan. Tidak tinggi. Tidak marah. Justru itu yang bikin saya lebih takut.
Saya langsung berdiri. “Itu cuma teman karaoke. Waktu reuni.” Dia tidak lihat saya. Scroll ke atas. Chat-chat sebelumnya terbuka. Pertanyaan-pertanyaan ringan. Emoji senyum. Foto selfie itu. Jempolnya bergerak pelan tapi pasti.
“Kamu transfer uang ke dia?” tanyanya datar. Saya menelan ludah. “Cuma tips. Semua juga begitu.” Dia akhirnya menoleh. Tatapannya bukan marah. Tapi seperti orang yang sedang menghitung sesuatu di kepalanya. Menghitung kepercayaan. Menghitung kemungkinan.
“Minta nomor rekening itu perlu tukar nomor pribadi?” suaranya masih tenang. Terlalu tenang. Saya tidak bisa jawab cepat. Karena memang tidak ada alasan yang terdengar masuk akal. HP itu masih di tangannya ketika notifikasi kedua masuk. Getaran lagi. Nama yang sama.
Kali ini bukan teks. Sebuah foto. Istri saya otomatis membukanya. Bukan foto vulgar. Tapi foto saya.
Saya. Di ruangan karaoke itu. Sedang duduk. Mic di tangan. Dia duduk di samping saya. Jarak kami terlihat lebih dekat dari yang saya ingat. Tangannya terlihat menyentuh lengan saya.
Sudut pengambilannya dari belakang. Seperti diambil diam-diam. Darah saya terasa dingin. “Itu siapa yang foto?” istri saya bertanya pelan. Saya benar-benar tidak tahu.
Teman-teman saya terlalu mabuk untuk peduli. Dan saya tidak pernah merasa ada yang memotret. Pesan berikutnya masuk sebelum saya sempat menjawab. “Mas jangan pura-pura lupa ya.”
Jari istri saya berhenti di layar. Dia tidak menangis. Tidak teriak. Dia cuma meletakkan HP itu pelan di meja. Lalu berdiri. “Saya butuh udara,” katanya singkat. Pintu teras dibuka. Angin malam masuk. Tirai bergerak pelan.
Saya ambil HP itu. Tangan saya gemetar. Chat masuk lagi. “Mas cerita belum ke istrinya?” Saya balas cepat. “Kamu mau apa?” Centang dua biru. Dia sedang online.
Balasannya masuk dalam hitungan detik. “Saya cuma nggak mau dilupain.” Lalu satu pesan lagi. “Saya punya lebih dari itu.” Saya menatap layar. Lebih dari itu apa?
Video. Sebuah file video terkirim. Durasi 01:12. Saya tidak langsung buka. Jantung saya berdetak di telinga sendiri. Saya dengar langkah istri saya di teras. Pelan. Seperti orang yang sedang menenangkan diri.
HP saya bergetar lagi. “Tenang Mas. Kalau Mas baik sama saya, semua aman.” Kata “aman” itu seperti ancaman yang dibungkus senyum. Saya akhirnya buka video itu.
Rekaman dari sudut berbeda. Lebih dekat. Saya sedang bernyanyi. Dia berdiri di depan saya. Di detik ke-40, teman saya mendorong bahu saya sambil bercanda. Tubuh saya condong. Wajah saya sangat dekat dengan wajah dia. Terlihat seperti hampir berciuman.
Padahal saya ingat jelas tidak pernah menyentuhnya. Tapi kamera tidak peduli ingatan. Yang terlihat hanya jarak yang terlalu dekat. Lampu remang. Musik keras. Video itu bisa menghancurkan pernikahan saya hanya dalam satu kirim.
Pesan masuk lagi. “Mas tahu nggak, yang suruh saya dekati Mas malam itu siapa?” Saya membeku. Bukan kebetulan? Bukan cuma pemandu karaoke yang terlalu ramah?
Titik-titik mengetik muncul. Lalu kalimat itu muncul perlahan. “Yang pesan saya itu… teman Mas sendiri.” Saya merasa lantai seperti miring. Teman? Siapa? Untuk apa?
Belum sempat saya balas, pintu teras terbuka. Istri saya masuk. Wajahnya pucat tapi matanya sudah berbeda. Lebih keras. “Barusan ada nomor tak dikenal telepon saya,” katanya.
Saya menoleh cepat. “Perempuan. Dia bilang kalau saya mau tahu kebenaran tentang suami saya, besok sore datang sendiri ke Bandung.” Suara istri saya tidak bergetar. “Dan dia kirim saya potongan video yang sama.”
Dunia saya berhenti satu detik. Saya menatap HP saya. Lalu menatap istri saya. Satu nomor telepon dari malam karaoke itu. Sekarang bukan cuma mengincar saya.
Tapi menarik istri saya masuk ke dalam permainan ini. Dan saya baru sadar… mungkin sejak awal, targetnya memang bukan uang tips. Tapi sesuatu yang jauh lebih besar.
Kita lanjut Part Selanjutnya?
Saya langsung merebut kunci mobil dari meja sebelum istri saya sempat berkata apa-apa lagi. Dia tidak menahan saya. Itu justru lebih menakutkan. Wajahnya tenang, terlalu tenang, seperti orang yang sudah mengambil keputusan tapi belum mau memberi tahu. “Kita ke Bandung sekarang,” katanya singkat. Bukan tanya. Perintah. Saya menatap jam di dinding. Hampir tengah malam. Anak kami sudah tidur. Rumah terasa lebih dingin dari biasanya.
Perjalanan di tol terasa lebih panjang dari biasanya. Lampu-lampu jalan berderet seperti saksi bisu. Istri saya duduk di samping, memegang HP-nya sendiri. Tidak menangis. Tidak marah. Sesekali layar ponselnya menyala, memperlihatkan chat dari nomor tak dikenal itu. Dia tidak menyembunyikan apa pun dari saya. Itu yang membuat dada saya makin sesak. Kepercayaan yang masih dia berikan justru terasa seperti beban.
Sekitar pukul tiga pagi kami sampai di Bandung. Hotel tempat reuni itu masih berdiri sama seperti malam itu. Parkiran sepi. Angin dingin menusuk jaket tipis saya. Istri saya turun lebih dulu. Langkahnya cepat. Seolah dia yang ingin menghadapi semua ini, bukan saya. Resepsionis shift malam terlihat kaget melihat kami datang tanpa reservasi.
“Kami cuma mau tanya sesuatu,” kata istri saya datar. Dia membuka galeri, menunjukkan potongan video itu. “Ini diambil di ruangan mana?” Resepsionis ragu. Menoleh ke CCTV di belakangnya. Lalu memanggil supervisor. Seorang pria berkemeja putih datang dengan wajah mengantuk.
Dia melihat video itu lama. Terlalu lama. Lalu berkata pelan, “Itu bukan dari CCTV hotel, Bu.” Saya langsung menoleh. “Maksudnya?” Supervisor itu menunjuk sudut frame di video. “Sudutnya rendah. Seperti kamera yang diletakkan di meja, bukan kamera plafon.”
Keringat dingin mulai turun di punggung saya. Artinya seseorang sengaja merekam dari dalam ruangan. Bukan sistem hotel. Bukan kebetulan. Istri saya menggenggam HP lebih erat. “Siapa yang bisa pasang kamera begitu?” tanyanya.
Supervisor itu terlihat ragu sebelum menjawab. “Biasanya… tamu sendiri.” Kalimat itu jatuh seperti batu. Saya langsung teringat wajah teman-teman saya malam itu. Tawa mereka. Candaan mereka. Salah satu dari mereka yang paling keras memaksa saya ikut karaoke. Raka.
Nama itu muncul begitu saja di kepala saya. Raka yang duduk paling dekat dengan meja. Raka yang sempat hilang ke toilet cukup lama. Raka yang paling duluan menyebut soal “tips”.
HP istri saya tiba-tiba bergetar lagi. Pesan masuk. Dia tidak menunggu. Langsung membuka. “Sudah sampai ya?” tulis nomor itu. “Bagus. Jangan cari-cari ke hotel. Nggak akan ketemu.” Istri saya mengangkat wajahnya pelan ke arah saya. “Dia tahu kita di sini.”
Jantung saya seperti diremas. “Balas,” kata istri saya singkat. Saya mengetik dengan tangan gemetar. “Kamu maunya apa?” Balasan datang cepat. “Besok jam 4 sore. Kafe Dago atas. Datang berdua. Atau video full saya kirim ke semua kontak kantor Mas.”
Nafas saya tercekat. Kontak kantor. Artinya dia sudah masuk lebih dalam. Saya tidak pernah kasih informasi kantor. Tidak pernah cerita detail pekerjaan. Bagaimana dia tahu?
Sebelum saya sempat berpikir, pesan berikutnya masuk. Sebuah screenshot. Daftar kontak WhatsApp saya. Ada nama atasan saya. Ada klien besar yang sedang saya kejar. Bahkan ada foto anak saya yang saya pakai sebagai wallpaper.
Istri saya duduk perlahan di kursi lobby hotel. Wajahnya pucat. Tapi bukan karena cemburu. Karena sadar ini bukan lagi soal perasaan. Ini pemerasan. “Kamu pernah cerita soal kerjaan ke dia?” tanyanya pelan. Saya menggeleng cepat. “Tidak pernah.”
Tiba-tiba saya teringat sesuatu yang lebih mengerikan. Malam itu, saat saya pergi ke toilet sebentar, HP saya tertinggal di meja. Tidak terkunci. Raka sempat duduk paling dekat dengan HP saya. Dia yang paling sering bercanda memegang barang orang.
Saya menoleh ke istri saya. “Aku rasa aku tahu siapa yang terlibat.” Dia menatap saya tajam. “Siapa?” Sebelum saya menjawab, HP saya sendiri bergetar.
Nomor baru. Tanpa foto profil. Hanya satu pesan. “Jangan salahkan orang lain dulu, Bro.”
Saya membeku. Kata “Bro” itu tidak dipakai perempuan itu selama ini. Itu gaya bahasa laki-laki. Pesan berikutnya masuk. “Kalau mau pernikahan lo aman, ikut aja aturan mainnya.”
Istri saya membaca pesan itu di layar saya. Dia tidak bicara. Hanya menarik nafas panjang. Lalu berbisik, “Jadi dari awal… ini bukan cuma dia.”
Saya menatap layar, titik-titik mengetik muncul lagi. “Dan satu hal lagi,” tulis nomor itu. “Istri lo kenal gue.”
Darah saya seperti berhenti mengalir. Istri saya perlahan mengangkat wajahnya. Tatapannya berubah. Bukan ke saya. Tapi ke sesuatu di masa lalu yang baru saja tersambung.
HP kembali bergetar.
Sebuah foto terkirim.
Foto lama. Foto pernikahan kami.
Dan di sudut belakang foto itu… berdiri Raka.
Tersenyum.
Kita lanjut Part Selanjutnya?
Saya tidak langsung menjawab pesan itu. Tangan saya justru terasa mati rasa. Istri saya masih duduk di kursi lobby hotel, menatap foto pernikahan kami yang baru saja dikirim. Raka berdiri di sudut belakang. Senyumnya biasa saja. Tapi sekarang terlihat seperti orang yang tahu sesuatu yang kami tidak tahu.
“Kenal dia?” saya bertanya pelan.
Istri saya tidak langsung menjawab. Dia memperbesar foto itu. Jarinya berhenti tepat di wajah Raka. Nafasnya berubah. Lebih berat.
“Dia dulu sering ke rumah waktu kita masih pacaran,” katanya akhirnya. “Kamu yang ajak.”
Saya mengingat keras. Raka memang sering nongkrong. Tapi tidak pernah terlihat aneh. Tidak pernah terlalu dekat dengan istri saya. Setidaknya itu yang saya pikirkan.
HP saya bergetar lagi.
“Besok jam 4. Jangan bawa siapa-siapa. Jangan sok pintar.”
Saya balas satu kalimat pendek. “Kalau nggak datang?”
Balasannya cuma satu kata.
“Coba.”
Saya tahu itu bukan tantangan kosong.
Kami tidak tidur malam itu. Pagi datang terlalu cepat. Bandung terlihat cerah, seolah tidak ada apa-apa. Ironis. Istri saya duduk di tepi ranjang hotel, memegang secangkir kopi yang tidak disentuh. “Kalau ini jebakan?” tanyanya pelan.
“Saya yang hadapi,” jawab saya cepat.
Dia menoleh. “Kita yang hadapi.”
Jam 4 sore datang lebih cepat dari yang saya harapkan. Kafe di Dago atas cukup ramai. Musik akustik pelan. Bau kopi dan kayu basah bercampur udara pegunungan. Kami datang berdua. Duduk di meja paling pojok, menghadap pintu masuk.
Setiap orang yang masuk membuat jantung saya melonjak.
Lima belas menit.
Dua puluh menit.
Lalu pintu terbuka.
Raka masuk.
Sendirian.
Pakai kemeja hitam. Senyum tipis seperti biasa. Seolah ini cuma pertemuan teman lama. Dia duduk tanpa diminta. Tidak terlihat gugup sedikit pun.
“Lama nggak ketemu,” katanya santai.
Saya tidak menjawab basa-basi itu. “Kenapa?”
Raka menyandarkan punggung. Menatap istri saya sebentar. Lalu kembali ke saya. “Karena lo terlalu gampang percaya.”
“Video itu lo yang ambil?”
Dia tersenyum kecil. “Bukan gue yang pegang kameranya.”
Kalimat itu menggantung. Istri saya langsung menyela. “Terus siapa?”
Raka tidak langsung jawab. Dia mengambil HP dari sakunya. Meletakkannya di meja. Layar menyala. Terlihat chat yang sama. Dengan perempuan itu.
“Gue cuma kenalin,” katanya pelan.
Dunia saya seperti retak pelan-pelan.
“Kenalin untuk apa?”
“Untuk ngetes lo.”
“Ngetes apa?”
Raka tertawa kecil. Bukan tawa senang. Lebih seperti orang yang merasa menang. “Lo pikir semua ini soal duit?”
Saya ingin memukulnya. Tapi tangan saya tertahan di meja. Istri saya lebih dulu bicara. “Jadi ini cuma permainan?”
Raka menatapnya lebih lama dari yang saya suka. “Buat lo mungkin permainan. Buat gue… ini balas.”
Balas.
Satu kata itu membuat dada saya sesak.
“Balas apa?” suara saya mulai pecah.
Raka mencondongkan badan sedikit. Suaranya lebih pelan. “Lo inget proyek kantor lima tahun lalu? Yang bikin gue dipecat?”
Saya terdiam.
Saya ingat proyek itu. Audit internal. Ada dana hilang. Bukti mengarah ke Raka. Saya yang menyerahkan laporan ke atasan. Dia dipecat seminggu kemudian.
“Itu bukan gue,” katanya sekarang. Tatapannya tidak lagi santai. “Tapi lo nggak pernah tanya versi gue.”
Saya menelan ludah. “Buktinya jelas waktu itu.”
“Bukti bisa diatur.”
Angin sore masuk lewat jendela kaca. Musik akustik di panggung terasa jauh sekali. Saya menatap Raka. Mencari kebohongan di wajahnya.
Dia melanjutkan, “Gue kehilangan kerja. Rumah gue dijual. Istri gue pergi. Dan lo? Naik jabatan.”
Saya merasa mual.
“Tapi ini bukan cara—” saya mulai bicara.
“Ini cara yang lo ngerti,” potongnya cepat. “Takut kehilangan.”
HP istri saya tiba-tiba bergetar lagi.
Nomor perempuan itu.
Sebuah pesan masuk.
“Saya sudah sampai.”
Saya langsung melihat ke sekeliling.
Raka tersenyum tipis.
Pintu kafe kembali terbuka.
Perempuan itu masuk.
Tanpa hijab kali ini.
Wajahnya lebih muda dari yang saya kira. Dan ketika dia melepas masker yang sejak tadi menutup setengah wajahnya…
Istri saya berdiri mendadak.
Wajahnya pucat.
“Lina?”
Suara istri saya hampir tidak terdengar.
Perempuan itu berhenti beberapa langkah dari meja kami.
Matanya tidak lagi lembut seperti di foto profil.
Dan saat dia bicara, suaranya membuat darah saya benar-benar dingin.
“Kak… lama ya kita nggak ketemu.”
Saya menoleh cepat ke istri saya.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai…
Saya sadar mungkin saya bukan satu-satunya yang menyimpan masa lalu.
Kita lanjut Part Selanjutnya?
Istri saya tidak langsung duduk lagi. Tangannya gemetar di sisi tubuhnya, tapi suaranya justru stabil. “Kamu ngapain di sini, Lina?” Nada itu bukan marah. Lebih seperti orang yang takut mendengar jawabannya sendiri.
Perempuan itu menarik kursi tanpa diminta. Duduk tepat di seberang kami. Wajahnya kini tanpa senyum manis. Lebih dingin. Lebih tegas. “Harusnya aku yang tanya, Kak. Kenapa pura-pura nggak kenal?”
Saya menoleh ke istri saya. “Kalian kenal dari mana?”
Istri saya menarik napas panjang. “Dia… adik tingkatku waktu kuliah.” Kalimat itu pendek. Terlalu pendek untuk menjelaskan tatapan di antara mereka.
Raka menyandarkan punggung, puas melihat situasi berbalik. “Dunia kecil ya.”
Lina tidak melihat saya. Tatapannya terkunci pada istri saya. “Waktu itu Kakak janji bakal bantu aku.”
“Bantu apa?” suara saya mulai meninggi.
Istri saya menutup mata sebentar. “Beasiswa.”
Kafe tetap ramai. Orang-orang tertawa. Musik tetap berjalan. Tapi meja kami terasa seperti ruang interogasi.
Lina melanjutkan, “Aku lolos seleksi awal. Tapi tiba-tiba namaku dicoret. Katanya ada rekomendasi yang ditarik.”
Saya melihat wajah istri saya berubah. “Aku nggak pernah tarik rekomendasi siapa pun.”
“Tapi tanda tangan itu pakai nama Kakak.”
Kalimat itu membuat saya ikut membeku.
Raka menyela pelan, “Mirip kan ceritanya? Bukti bisa diatur.”
Saya merasa seperti melihat pola yang sama, berulang. Proyek kantor saya. Beasiswa Lina. Semua pakai skema yang sama.
“Jadi kamu dekati saya untuk balas dendam ke istri saya?” saya menatap Lina tajam.
Dia akhirnya menoleh ke saya. “Awalnya iya.”
Jujur. Tanpa ragu.
Istri saya menelan ludah. “Lina, aku nggak pernah hancurin hidup kamu.”
“Yang hancur itu bukan cuma hidupku,” Lina membalas pelan. “Ayahku sakit waktu itu. Aku satu-satunya harapan. Beasiswa itu segalanya.”
Saya bisa lihat luka lama di matanya. Tapi ada sesuatu yang tidak pas. Terlalu terstruktur. Terlalu rapi.
Saya menoleh ke Raka. “Jadi kalian kerja sama?”
Raka tersenyum tipis. “Gue cuma kasih panggung.”
Lina melanjutkan, “Waktu ketemu Mas di karaoke, aku pikir ini kebetulan. Tapi ternyata Tuhan baik. Ternyata suami dari orang yang pernah hancurin hidupku… orangnya gampang.”
Kalimat terakhir itu menusuk. Istri saya menoleh ke saya sekilas. Bukan marah. Tapi kecewa pada situasi.
Saya memaksa tenang. “Kalau cuma mau balas dendam, kenapa nggak langsung kirim videonya? Kenapa ajak ketemu?”
Lina terdiam sepersekian detik.
Itu cukup buat saya sadar.
“Karena ini belum selesai,” kata saya pelan.
Raka berhenti tersenyum.
Saya condong ke depan. “Kalian butuh sesuatu.”
Hening.
Lina akhirnya berkata, “Ada satu file lama di kantor Mas. Audit lima tahun lalu.”
Jantung saya kembali menghantam dada.
“File itu bisa buka siapa sebenarnya yang manipulasi laporan,” lanjutnya. “Dan itu bukan Raka.”
Saya menatap Raka. Untuk pertama kalinya wajahnya tidak sepenuhnya tenang.
“Kamu mau saya ambil file itu?” saya bertanya.
“Bukan ambil,” kata Lina. “Salin.”
Istri saya langsung menyela, “Itu ilegal.”
Raka menatapnya dingin. “Sama seperti tanda tangan beasiswa yang dipalsukan.”
Saya melihat semuanya mulai menyambung. Seseorang yang sama mungkin bermain di dua sisi. Proyek kantor. Beasiswa. Bukti palsu. Tanda tangan palsu.
“Tapi kalau kami bantu, video itu dihapus?” saya bertanya.
Lina mengangguk pelan. “Semua dihapus. Kami cuma mau kebenaran.”
Saya menatap mata Lina. Ada emosi di sana. Tapi juga ada ketakutan. Seolah dia juga tidak sepenuhnya mengendalikan permainan ini.
Tiba-tiba HP Raka bergetar.
Dia melihat layar. Wajahnya berubah. Sangat cepat. Hampir tidak terlihat. Tapi saya menangkapnya.
“Kenapa?” saya tanya.
Raka berdiri tiba-tiba. “Kita pergi sekarang.”
“Pergi ke mana?” Lina terlihat kaget.
Sebelum dia menjawab, ponsel saya sendiri bergetar.
Nomor tak dikenal.
Saya angkat.
Tidak ada suara. Hanya napas berat.
Lalu satu kalimat pelan.
“Jangan percaya mereka.”
Suara itu bukan suara Lina.
Bukan suara Raka.
Dan yang membuat darah saya benar-benar membeku…
Saya mengenali suara itu.
Itu suara atasan saya di kantor.
Telepon terputus.
Saya perlahan menurunkan ponsel.
Raka menatap saya tajam. “Siapa?”
Saya tidak langsung menjawab.
Karena di detik itu saya sadar…
Permainan ini bukan dimulai oleh Raka.
Bukan oleh Lina.
Dan mungkin… bukan juga soal balas dendam pribadi.
Seseorang yang punya akses ke proyek kantor.
Yang bisa memalsukan tanda tangan beasiswa.
Yang tahu nomor istri saya.
Dan sekarang memperingatkan saya.
Istri saya berbisik pelan, “Jadi selama ini… kita semua cuma pion?”
Dan sebelum saya sempat merespon…
Lampu kafe tiba-tiba padam.
Gelap total.
Suara kursi bergeser.
Teriakan kecil dari meja lain.
Dan di tengah kekacauan itu, saya merasakan satu tangan menarik keras lengan saya dari belakang.
Kita lanjut Part Selanjutnya?
Tangan itu menarik saya keras ke arah pintu darurat. Gelap masih menyelimuti kafe. Suara orang-orang panik bercampur bunyi kursi jatuh. Saya hampir kehilangan keseimbangan sebelum cahaya darurat merah menyala redup di lorong samping.
“Jangan lawan!” suara itu berbisik di telinga saya.
Saya kenal suara itu.
Atasan saya.
Pak Arman.
Saya menoleh cepat. Wajahnya setengah tertutup bayangan. Nafasnya cepat. Bukan seperti orang yang sedang menolong. Lebih seperti orang yang sedang takut ketahuan.
“Bapak?” suara saya nyaris tak keluar.
Dari belakang terdengar suara istri saya memanggil nama saya. Disusul suara Raka berteriak sesuatu yang tidak jelas.
Pak Arman menarik saya masuk ke lorong servis. Bau lembab dan cat tua menusuk. Pintu besi ditutup pelan. Suara dari dalam kafe meredam.
“Dengar saya baik-baik,” katanya cepat. “Kamu jangan serahkan file itu ke siapa pun.”
“File apa?” saya sengaja bertanya.
Dia menatap saya tajam. “Jangan bodoh. Audit lima tahun lalu. Kamu masih simpan aksesnya.”
Darah saya langsung terasa panas. “Jadi benar Bapak tahu soal ini.”
Dia diam sepersekian detik.
Itu cukup.
“Raka nggak salah waktu itu,” katanya akhirnya. “Tapi dia juga nggak sepenuhnya bersih.”
Kalimat itu setengah. Seperti semua orang di permainan ini.
“Yang manipulasi laporan itu siapa?” saya menekan.
Pak Arman menghela napas berat. “Sistem.”
Saya hampir tertawa. “Sistem nggak bisa kirim video pemerasan.”
Dia mendekat. Suaranya turun. “Ada dana besar yang dialihkan. Bukan cuma satu proyek. Kalau file itu terbuka, bukan cuma saya yang jatuh.”
Bukan cuma saya.
Berarti dia termasuk di dalamnya.
Langkah kaki terdengar di ujung lorong. Istri saya muncul. Wajahnya tegang tapi utuh. Dia melihat Pak Arman, lalu saya.
“Dia yang telepon tadi,” saya bilang pelan.
Istri saya menatap Pak Arman tanpa rasa takut. “Jadi semua ini untuk nutupin jejak Bapak?”
Pak Arman terlihat lelah tiba-tiba. “Kalian nggak ngerti seberapa besar ini.”
Dari arah pintu utama terdengar suara sirene polisi samar. Seseorang pasti sudah lapor saat listrik mati.
Raka muncul di belakang istri saya. Wajahnya tidak lagi santai. Lina berdiri beberapa langkah di belakangnya, terlihat ragu.
Raka menatap Pak Arman. “Akhirnya keluar juga.”
Jadi mereka tahu.
Saya melihat satu hal yang selama ini tidak saya sadari. Raka tidak terlihat seperti dalang. Dia terlihat seperti orang yang ingin membongkar sesuatu, tapi pakai cara kotor.
“Video itu dari siapa?” saya tanya cepat.
Lina menjawab pelan, “Orang kantor Mas yang kasih akses rekaman dari sistem keamanan gedung sebelah karaoke. Dia dibayar.”
Semua kembali ke satu lingkaran.
Pak Arman menatap saya. “Kalau kamu buka file itu, kamu juga kena. Tanda tangan persetujuan terakhir ada nama kamu.”
Saya terdiam.
Lima tahun lalu, saya memang menandatangani laporan akhir. Saya percaya pada ringkasan yang diberikan atasan. Saya tidak periksa detail aliran dana.
Kalau file asli terbuka, tanda tangan saya tetap ada.
Saya bukan pelaku utama.
Tapi saya bukan sepenuhnya bersih.
Istri saya menoleh ke saya. Tidak marah. Tidak panik. “Kamu tahu nggak waktu itu?”
Saya menatap matanya. “Saya nggak tahu uangnya dialihkan. Tapi saya tahu ada yang janggal. Dan saya pilih percaya atasan.”
Itu pengakuan paling jujur yang bisa saya beri.
Sunyi beberapa detik.
Sirene semakin dekat.
Pak Arman berbisik cepat, “Kamu masih bisa selamat. Hapus akses file itu. Bilang semua ini fitnah. Video itu hilang. Masalah selesai.”
Masalah selesai.
Saya melihat istri saya. Saya hampir kehilangan dia karena satu lagu karaoke. Karena satu nomor telepon. Karena kebodohan kecil.
Sekarang pilihannya lebih besar.
Selamat sendiri.
Atau bersih bersama risiko.
Raka menatap saya. Untuk pertama kalinya tidak ada kebencian di matanya. Hanya menunggu.
Lina menggenggam tasnya kuat-kuat. Seperti hidupnya tergantung pada jawaban saya.
Saya menarik napas panjang.
Lalu saya mengeluarkan ponsel.
Bukan untuk menghapus apa pun.
Saya membuka email kantor.
Mencari folder arsip lama.
Pak Arman menyadari apa yang saya lakukan. “Kamu jangan nekat.”
Saya berhenti sejenak.
Menatap tanda tangan digital saya di dokumen itu.
Lima tahun lalu saya takut kehilangan jabatan.
Hari ini saya hampir kehilangan keluarga.
Saya menekan tombol forward.
Mengirim seluruh file audit itu ke alamat resmi divisi investigasi internal.
Terkirim.
Pak Arman menutup mata sesaat.
Lampu utama kafe menyala kembali.
Polisi masuk dari pintu depan.
Saya menggenggam tangan istri saya.
Entah apa yang akan terjadi besok.
Entah karier saya selamat atau tidak.
Tapi untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai…
Saya tidak lagi merasa sedang diseret permainan orang lain.
Dan di tengah suara langkah aparat mendekat…
Pak Arman berkata pelan satu kalimat terakhir.
“Kamu kira ini cuma soal satu proyek?”
Saya menoleh.
Tatapannya tidak lagi memohon.
Tapi mengingatkan.
Dan saya sadar…
Mungkin yang baru saja saya buka bukan akhir.
Tapi awal sesuatu yang jauh lebih besar.
Kita lanjut Part Selanjutnya?
Tiga bulan setelah malam di Dago itu, hidup saya tidak kembali normal. Tapi juga tidak hancur.
Pak Arman resmi dinonaktifkan. Investigasi internal berjalan diam-diam. Nama saya ikut disebut dalam berita perusahaan. Bukan sebagai pelaku utama. Tapi sebagai penandatangan laporan yang lalai. Jabatan saya turun satu tingkat. Gaji dipotong. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada pahlawan.
Raka dipanggil sebagai saksi. Beberapa aliran dana memang bukan perintahnya. Tapi dia juga terbukti menerima “imbalan diam” setelah tahu ada manipulasi. Dia tidak sepenuhnya bersih. Tidak sepenuhnya salah. Seperti kebanyakan orang di dunia nyata.
Lina mencabut laporan pemerasan. Dia mengaku di hadapan penyidik bahwa video itu bagian dari rencana menekan saya agar file audit dibuka. Dia tidak menyangka masalahnya sebesar itu. Wajahnya waktu terakhir saya lihat di ruang pemeriksaan bukan lagi penuh dendam. Lebih seperti orang yang lelah membawa marah terlalu lama.
Rumah saya?
Sunyi beberapa minggu pertama.
Istri saya tidak banyak bicara. Bukan karena marah. Tapi karena memproses. Setiap malam kami tidur berdampingan dengan jarak tipis yang terasa seperti jurang.
Sampai suatu malam, dia bertanya pelan di ruang tamu, “Kalau waktu bisa diulang, kamu tetap tanda tangan laporan itu?”
Saya lama menjawab.
“Kalau saya jujur… mungkin tetap. Karena waktu itu saya takut kehilangan posisi. Dan saya pikir saya cuma roda kecil.”
Dia menatap saya lama. “Sekarang?”
“Saya lebih takut kehilangan kamu.”
Kalimat itu tidak dramatis. Tidak ada musik latar. Tapi saya lihat matanya berkaca.
Beberapa hari kemudian, tanpa banyak kata, dia memindahkan kembali bantalnya lebih dekat ke sisi saya.
Itu saja.
Tidak ada pidato panjang tentang memaafkan.
Tidak ada adegan menangis sambil berpelukan.
Hanya pilihan kecil yang diulang setiap hari.
Nomor Lina sudah lama saya hapus. Chat itu hilang. Tapi saya tidak pura-pura lupa. Saya simpan pelajarannya.
Suatu sore, anak kami minta saya nyanyi. Tugas sekolah tentang hobi orang tua. Dia bilang, “Papa kan bisa nyanyi waktu karaoke.”
Saya dan istri saling pandang.
Lagu yang keluar dari speaker ruang tamu adalah lagu lama. Chrisye. Lagu yang sama yang dulu saya nyanyikan dengan canggung.
Kali ini suara saya tetap fals di beberapa bagian. Anak saya tertawa. Istri saya geleng-geleng kepala.
Tapi ketika saya melihat ke arahnya, dia tersenyum. Senyum yang tidak terpaksa. Tidak sinis. Senyum yang memilih percaya lagi.
Setelah lagu selesai, saya duduk di sampingnya.
“Takut nggak?” saya tanya pelan.
“Takut,” jawabnya jujur. “Tapi saya lebih takut hidup sama orang yang lari dari kesalahan.”
Saya genggam tangannya.
Tidak ada lagi sirene. Tidak ada pesan ancaman. Tidak ada nomor tak dikenal.
Karier saya mungkin tidak akan setinggi dulu.
Nama saya mungkin tidak sebersih yang saya kira lima tahun lalu.
Tapi rumah ini terasa lebih jujur.
Kadang saya masih ingat malam karaoke itu. Lampu remang. Wangi parfum. Suara tawa.
Semua berawal dari satu lagu.
Dan satu nomor telepon.
Sekarang kalau ada reuni, saya tetap datang.
Tapi pulang lebih cepat.
Dan saya pastikan, sebelum tidur, ponsel saya diletakkan di meja…
Dengan layar menghadap ke atas.
Tanpa rahasia.
Tamat.