AKU DATANG KE PERNIKAHAN MANTANKU… DAN DIA BISIK DI TELINGAKU DI DEPAN PELAMINAN: “YANG AKU NIKAHI TADI PAGI ITU KAMU… BUKAN DIA.”
Kipas angin di pojok gedung muter pelan. Bunyinya ngik… ngik… kayak udah capek dari pagi tapi ga dikasih istirahat.
Aku duduk di kursi baris ketiga, tangan dingin, tapi telapak basah. Di pangkuanku ada tas kertas cokelat. Isinya satu album foto. Tebal. Berat.
Tujuh tahun hubungan yang harusnya selesai… hari ini.
—
Orang-orang di sekelilingku sibuk sendiri.
Ibu-ibu salaman sambil senyum lebar, bapak-bapak ngobrol soal parkiran, anak kecil lari-larian di karpet merah sampai hampir jatuh.
Semua terlihat normal.
Terlalu normal… untuk sesuatu yang sebentar lagi bakal hancur.
—
Di depan, pelaminan dihias bunga putih. Lampu kuning terang banget sampai bikin mata perih.
Musik organ pelan mengalun. Lagu cinta yang harusnya bikin bahagia… tapi di kepalaku malah terasa salah.
Aku genggam tas itu lebih erat.
Sudutnya sedikit penyok.
Seperti sesuatu yang dipaksa tetap utuh… padahal dari dalam sudah retak.
—
“Udah lama nunggu?”
Suara Dina bikin aku nengok.
Dia berdiri sambil pegang HT, rambutnya diikat asal, pelipisnya basah keringat.
“Baru kok,” jawabku.
Dia duduk di sebelahku, ngelirik tas di pangkuanku.
“Itu buat Arga?”
Aku angguk pelan.
Dina nyengir tipis.
“Lu emang beda. Orang lain kalau jadi lu, blok semua, hilang. Ini malah datang bawa kenangan.”
Aku senyum sedikit.
“Harus ditutup.”
“Yakin nutupnya kayak gini?”
Aku ga jawab.
HT di tangannya tiba-tiba bunyi. Dia langsung berdiri.
“Pengantin udah siap masuk. Gue dulu.”
Aku cuma angguk.
—
Suara musik berubah.
Lebih pelan. Lebih sakral.
Orang-orang mulai berdiri. Sebagian langsung ngeluarin HP.
Aku ikut nengok.
Pintu belakang kebuka.
Arga muncul.
Jas hitam. Rambut rapi. Langkahnya pelan.
Wajahnya…
Masih sama.
Cuma ada yang beda.
Dia ga keliatan bahagia.
Di sampingnya, pengantin wanita berjalan.
Cantik. Rapi. Senyumnya tipis.
Terlalu tipis.
Tanganku makin dingin.
—
Aku inget pertama kali Arga ngajak aku ke nikahan temannya.
Dia waktu itu bilang, “Nanti kalau kita nikah, gue maunya sederhana aja.”
Aku ketawa.
“Yang penting sama siapa.”
Dia jawab cepat, “Sama lu lah.”
Aku waktu itu percaya.
—
Sekarang aku berdiri di antara tamu lain.
Dan dia nikah… sama orang lain.
—
Prosesi berjalan.
Tamu mulai antre buat salaman.
Aku masih diam di tempat.
Tas di tanganku terasa makin berat.
Seolah tiap langkah yang belum kuambil… nambah beban.
Aku tarik napas.
Berdiri.
Langkah pertama terasa ringan.
Langkah kedua mulai berat.
Langkah ketiga… rasanya pengen balik.
Tapi aku tetap jalan.
—
Sampai akhirnya aku berdiri di depan pelaminan.
Dekat.
Sangat dekat.
Arga ngeliat aku.
Matanya langsung berubah.
Bukan kaget.
Lebih ke… ketahuan.
Pengantin wanita di sampingnya ikut nengok.
Tatapannya cepat. Menilai.
Lalu dia senyum lagi.
Seolah ga ada apa-apa.
—
Aku angkat tas itu.
“Selamat ya.”
Suaraku stabil.
Aneh, padahal jantungku kayak mau lompat keluar.
Arga nerima tas itu pelan.
Tangannya nyentuh tanganku.
Dingin.
Dia senyum.
“Terima kasih.”
Formal.
Seperti aku cuma tamu.
—
Aku hampir balik.
Hampir selesai.
Tapi tangannya masih nahan tanganku.
Sedikit.
Cukup buat bikin aku berhenti.
Dia mendekat.
Seolah cuma mau bilang sesuatu biasa.
Tapi bibirnya hampir nyentuh telingaku.
Dan dia bisik.
“Maaf.”
Aku diam.
Detik itu terasa lama.
Lalu dia lanjut.
“Yang di KUA tadi pagi… itu kamu. Bukan dia.”
—
Dunia langsung sunyi.
Suara musik hilang.
Suara orang hilang.
Yang ada cuma detak jantungku sendiri.
Cepat. Keras.
Aku nengok ke dia.
“Lo… apa?”
Tapi dia sudah kembali tegak.
Senyum lagi.
Seolah ga ada apa-apa.
Pengantin wanita di sampingnya…
Masih senyum.
Dan entah kenapa—
Dia keliatan… tau.
—
Kakiku lemes.
Aku turun dari pelaminan tanpa sadar.
Langkahku ga jelas.
Aku cuma pengen keluar.
Keluar dari ruangan itu.
Udara panas langsung nyambut begitu aku keluar gedung.
Suara motor lewat gang depan kedengaran keras.
Aku berhenti di pinggir jalan.
Tanganku gemetar.
Aku buka HP.
Chat terakhir dari Arga.
“Jaga diri ya.”
Tiga bulan lalu.
Aku ga pernah bales.
Aku pikir itu penutup.
—
Ternyata bukan.
—
Flashback datang.
Dua minggu sebelum dia hilang.
Kamar kosku.
Lampu redup.
Arga duduk di lantai.
“Aku ga bisa nolak.”
Aku berdiri di depannya.
“Kamu ga mau nolak.”
Dia ngangkat kepala.
“Beda.”
Aku ketawa.
“Beda di mana?”
Dia diam.
Lalu pelan, “Kalau aku nolak, keluarga aku hancur.”
Aku jawab cepat.
“Kalau kamu terima, aku yang hancur.”
Dia nutup muka.
Tangannya gemetar.
“Kasih aku waktu.”
Aku langsung jawab.
“Tujuh tahun kurang?”
Dia ga jawab.
—
Seminggu setelah itu.
Dia hilang.
Aku berhenti ngejar.
Capek.
—
Dan hari ini…
Dia nikah.
—
Pintu gedung kebuka.
Seseorang keluar.
Pengantin wanita itu.
Dia jalan ke arahku.
Langkahnya tenang.
Ga panik.
Ga marah.
Aku berdiri tegak.
Refleks.
Dia berhenti di depanku.
“Nama kamu Maya, kan?”
Aku kaget.
“Iya.”
Dia angguk.
“Aku tahu.”
Dia nengok sebentar ke dalam gedung.
Lalu balik lagi ke aku.
“Dia bilang ke kamu?”
Aku diam.
Itu sudah cukup jadi jawaban.
Dia tarik napas.
“Bagus.”
Aku bingung.
“Bagus?”
Dia ketawa kecil.
“Aku capek pura-pura.”
—
Aku menatap dia.
Lebih jelas sekarang.
Matanya lelah.
“Atau kamu pikir aku senang nikah kayak gini?” katanya.
Aku ga jawab.
Dia melipat tangan.
“Keluarga dia maksa. Keluarga aku juga.”
Dia mendekat sedikit.
“Lucunya… kita berdua sama-sama korban.”
—
Aku mulai merasa… ada yang lebih besar dari ini.
“Apa maksud kamu?” tanyaku.
Dia menatapku.
Dalam.
“Dia nikah siri sama kamu, kan?”
Jantungku berhenti.
Aku ga pernah cerita ke siapa-siapa.
Aku pelan-pelan mengangguk.
Dia tersenyum tipis.
“Aku juga tahu.”
—
Angin lewat.
Bawa bau gorengan dari ujung jalan.
Semua terasa aneh.
Ga masuk akal.
“Terus ini semua apa?” tanyaku.
Dia menoleh ke dalam gedung.
Suara musik masih jalan.
Orang-orang masih tertawa.
Seolah dunia normal.
“Ini sandiwara.”
Aku menatap dia.
Dia balik menatapku.
“Aku sama Arga… kerja sama.”
—
Kata-kata itu jatuh pelan.
Tapi rasanya seperti sesuatu di dalam kepalaku pecah.
“Kerja sama buat apa?”
Dia diam sebentar.
Lalu bilang pelan.
“Buat keluar.”
Keluar dari apa?
Aku belum sempat tanya.
Dari dalam gedung, suara Dina terdengar.
“Mbak! Dicari!”
Pengantin wanita itu menoleh.
Lalu kembali ke aku.
“Kamu jangan pulang.”
Suaranya tegas sekarang.
“Kalau kamu pulang… semua ini sia-sia.”
Aku menahan napas.
“Apa yang bakal terjadi?”
Dia menatapku lama.
Lalu berkata pelan.
“Kalau kamu berani… kamu bakal tahu kenapa Arga pilih kamu dari awal.”
—
Dia balik badan.
Masuk lagi ke dalam gedung.
Meninggalkan aku sendirian.
Dengan satu kenyataan yang baru saja merobek semuanya:
Pernikahan ini… bukan pernikahan.
Aku masih berdiri di pinggir jalan.
Kepalaku penuh suara.
“Ini sandiwara.”
“Kita kerja sama.”
“Jangan pulang.”
Kalimat-kalimat itu muter terus.
Tanganku masih gemetar. HP di genggaman terasa berat. Notifikasi masuk—grup keluarga, promo, entah apa—aku ga peduli.
Yang ada cuma satu pertanyaan:
Ini semua… buat apa?
—
Pintu gedung kebuka lagi.
Dina keluar sambil nyari-nyari.
Begitu liat aku, dia langsung jalan cepat.
“May! Lu ke mana sih? Dicariin!”
Aku masih diam.
“Dicari siapa?” tanyaku pelan.
Dina berhenti di depanku.
“Pengantin cewek. Sama Arga juga.”
Jantungku langsung naik lagi.
“Ngapain?”
Dina ngelirik aku aneh.
“Gue juga ga tau. Tapi mereka serius banget nyarinya.”
Aku nengok ke dalam gedung.
Lampu masih terang.
Musik masih jalan.
Seolah ga ada yang aneh.
Padahal semuanya… udah ga normal.
—
“Aku masuk,” kataku.
Dina ngangguk.
“Gue temenin.”
Kami masuk lagi ke dalam.
Suara langsung nyerbu.
Orang-orang ketawa, piring beradu, suara anak kecil nangis.
Aku jalan pelan.
Mata otomatis nyari pelaminan.
Arga masih di sana.
Tapi kali ini… dia ga lagi fokus ke tamu.
Matanya nyari.
Dan begitu ketemu aku—
Dia langsung turun dari pelaminan.
—
Langkahnya cepat.
Ga peduli sama tamu.
Beberapa orang bahkan nengok.
“Maya,” katanya pelan, begitu sampai di depanku.
Aku menahan napas.
“Apa maksud lo tadi?”
Dia ga langsung jawab.
Dia cuma bilang, “Ikut aku.”
Aku diam.
Dina langsung nyeletuk, “Ini apaan sih?”
Arga nengok ke Dina.
“Gue jelasin nanti.”
Nada suaranya beda.
Lebih tegas.
Lebih… serius.
—
Aku akhirnya ikut.
Kami jalan ke belakang gedung.
Lorong sempit.
Lantai keramik dingin.
Suara musik dari depan masih kedengeran, tapi samar.
Di ujung lorong, ada ruangan kecil.
Pintu setengah kebuka.
Pengantin wanita itu sudah di dalam.
Duduk.
Ga lagi senyum.
—
Aku masuk.
Pintu ditutup.
Sunyi.
—
“Duduk,” kata dia.
Aku tetap berdiri.
“Gue ga mau duduk sebelum lo jelasin semuanya.”
Arga menghela napas.
Lalu dia berdiri di depanku.
Dekat.
“Maya… gue minta lo denger dulu.”
“Gue udah denger cukup,” potongku cepat.
“Tadi lo bilang yang di KUA itu gue. Maksud lo apa?”
Dia diam sebentar.
Lalu pelan, “Itu bener.”
Aku ketawa.
Pendek.
“Bercanda lo?”
“Enggak.”
—
Ruangan itu tiba-tiba terasa sempit.
“Lo sadar ga sih lo ngomong apa?”
Aku mulai naik nada.
“Lo nikah di sana, di depan orang banyak, sama dia—”
Aku nunjuk ke perempuan di belakangnya.
“Tapi lo bilang yang sah itu gue?”
—
Pengantin wanita itu berdiri.
Pelan.
“Namaku Nara.”
Aku nengok.
Dia lanjut, “Dan dia ga bohong.”
—
Aku menatap mereka berdua.
Satu per satu.
“Jelasin sekarang.”
—
Arga akhirnya duduk di kursi.
Tangannya digesek ke wajah.
“Pagi tadi… sebelum ke sini…”
Dia berhenti.
Narik napas.
“Gue ke KUA sama lo.”
—
Otakku berhenti.
Flashback langsung nyamber.
Pagi tadi.
Aku bangun telat.
Kepalaku pusing.
Ada beberapa missed call.
Satu dari nomor yang ga dikenal.
Aku ga angkat.
Aku pikir spam.
—
Aku langsung ke kamar mandi.
Siap-siap.
Berangkat ke gedung.
—
Aku pelan-pelan nengok ke Arga.
“Maksud lo…?”
Dia ngangkat kepala.
“Nomor itu dari gue.”
—
Jantungku jatuh.
“Gue udah di depan kosan lo pagi tadi.”
Suaranya pelan.
“Gue tunggu hampir satu jam.”
—
Tanganku langsung lemas.
“Kenapa lo ga bilang dari awal?”
“Gue udah coba.”
Dia langsung jawab.
“Semua chat gue ga pernah lo bales.”
Aku diam.
Itu bener.
Aku yang nutup semua.
—
Nara nyela pelan.
“Rencananya… dia mau nikah resmi sama kamu dulu. Di KUA.”
Aku nengok ke dia.
Dia lanjut.
“Baru ke sini… buat jalani pernikahan yang dipaksa keluarga.”
—
“Kenapa?” tanyaku.
Suara ku hampir ga keluar.
Arga menjawab.
“Karena kalau gue nolak, mereka bakal hancurin usaha bokap gue.”
—
Aku terdiam.
Dia lanjut.
“Semua aset… atas nama keluarga besar.”
“Gue ga punya apa-apa.”
—
Aku inget.
Beberapa bulan terakhir dia sering cerita soal usaha keluarganya.
Masalah.
Tekanan.
Aku pikir itu biasa.
Ternyata bukan.
—
“Dan gue ga mau lo kena,” katanya.
Aku langsung ketawa kecil.
“Lucu.”
Dia kaget.
“Lucu banget.”
Aku menatap dia.
“Jadi solusi lo… nikah diam-diam sama gue?”
—
Dia diam.
—
Nara melangkah maju.
“Dan aku bagian dari rencana itu.”
—
Aku nengok cepat.
“Lo?”
Dia angguk.
“Keluarga aku juga maksa nikah ini.”
“Kalau aku nolak, mereka bakal cabut semua yang aku punya.”
—
Ruangan itu sunyi lagi.
Tiga orang.
Satu rahasia yang baru setengah kebuka.
—
“Jadi kalian kerja sama… buat pura-pura nikah?” tanyaku.
Nara menggeleng.
“Bukan pura-pura.”
Dia menatapku.
“Secara hukum keluarga… kami nikah.”
Dia berhenti sebentar.
“Secara agama… dia sudah menikah sama kamu.”
—
Kalimat itu jatuh pelan.
Tapi rasanya berat banget.
—
Aku mundur satu langkah.
Tanganku menyentuh dinding.
Dingin.
“Gila.”
Aku bisik.
—
Arga berdiri.
“Maya, gue tau ini salah.”
“Tapi ini satu-satunya cara.”
—
Aku langsung potong.
“Cara buat apa?”
—
Dia menatapku.
Dalam.
“Buat keluar dari mereka.”
—
Aku menahan napas.
“Keluar gimana?”
—
Nara dan Arga saling pandang.
Seperti ada sesuatu yang belum mereka bilang.
—
Nara akhirnya ngomong.
“Besok… kita kabur.”
—
Aku langsung kaku.
“Apaan?”
—
Arga mendekat satu langkah.
“Semua dokumen sudah siap.”
“Kita bakal ngumumin semuanya.”
—
“Semuanya?” tanyaku.
—
Nara mengangguk.
“Termasuk alasan kenapa pernikahan ini dipaksa.”
—
Aku menatap mereka.
Satu per satu.
“Dan gue di mana di semua ini?”
—
Arga ga langsung jawab.
Dia cuma bilang pelan.
“Lo… alasan gue.”
—
Ruangan itu langsung terasa makin sempit.
Dan untuk pertama kalinya…
Aku sadar—
Aku bukan cuma tamu di pernikahan ini.
Aku bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar.
—
“Tapi kalau lo nolak bantu…” kata Nara pelan.
Aku nengok.
Dia menatapku lurus.
“Mereka bakal menang.”
—
Aku menelan ludah.
“Apa yang bakal terjadi?”
—
Arga menjawab.
“Semua yang kita lindungi… hilang.”
—
Aku belum sempat tanya lebih jauh.
Tiba-tiba—
Pintu diketuk keras.
BRAK.
“Arga! Keluar sekarang!”
Suara laki-laki.
Tua.
Keras.
—
Wajah Arga langsung berubah.
Nara juga.
—
“Bokap gue,” bisik Arga.
—
Pintu diketuk lagi.
Lebih keras.
“Jangan bikin malu keluarga!”
—
Aku berdiri kaku.
Di antara mereka.
Di antara dua dunia.
Dan sekarang—
Semua mulai kebuka.
Pintu diketuk lagi.
Lebih keras.
BRAK.
“Arga! Buka pintunya sekarang!”
Suara itu berat. Tegas. Ga sabaran.
Arga langsung berdiri tegak. Rahangnya kencang.
Nara mundur setengah langkah.
Aku… masih di tempat.
Ga siap.
—
“Gimana?” bisikku.
Arga ga jawab.
Dia cuma ngeliat pintu.
Detik itu panjang banget.
Ketukan berhenti.
Tapi itu justru lebih bikin tegang.
—
Klik.
Handle pintu turun.
Pintu kebuka sedikit.
Seorang pria masuk.
Umur sekitar 50-an.
Baju batik mahal. Jam tangan besar. Tatapannya… dingin.
Langsung ke Arga.
“Kamu ngapain di sini?”
Arga berdiri di depan kami.
Seolah nutupin.
“Lagi istirahat sebentar, Pak.”
Pria itu ga jawab.
Matanya geser.
Ke aku.
Berhenti.
Lama.
—
“Ini siapa?”
Suasana langsung beku.
Aku menelan ludah.
Belum sempat jawab—
Nara maju.
“Teman saya, Om.”
Nada suaranya halus. Tapi cepat.
Pria itu nengok ke Nara.
“Teman?”
“Iya.”
—
Dia melangkah masuk.
Pintu ditutup dari dalam.
Sekarang kami berempat.
Ruangannya langsung terasa sempit.
—
“Teman yang bawa masalah?” katanya pelan.
Matanya masih ke aku.
Aku bisa ngerasain… dia curiga.
Bukan sekadar curiga.
Dia tahu.
—
Arga langsung ngomong.
“Dia cuma tamu, Pak.”
Pria itu ketawa kecil.
Pendek.
“Tamu yang kamu bisikin di pelaminan?”
—
Jantungku langsung berhenti.
Nara juga kaku.
Arga diam.
—
Pria itu mendekat.
Pelan.
Setiap langkahnya berat.
“Saya lihat semuanya.”
—
Sunyi.
—
“Apa yang kamu sembunyikan, Ga?”
Nada suaranya tetap pelan.
Tapi justru itu yang bikin lebih ngeri.
—
Arga akhirnya angkat kepala.
Tatap balik.
“Ga ada yang saya sembunyikan.”
—
Plak.
Tamparan itu cepat.
Keras.
Suara kulit kena kulit langsung mantul di dinding.
Aku refleks maju.
“Pak—”
Arga langsung nahan aku dengan tangan.
“Jangan.”
—
Wajahnya merah.
Tapi dia ga mundur.
—
Pria itu menghela napas panjang.
Seolah kecewa.
“Kamu pikir saya bodoh?”
—
Dia nengok ke Nara.
“Kamu juga.”
—
Nara menunduk sedikit.
Tapi ga sepenuhnya.
—
“Pernikahan ini bukan main-main,” lanjut pria itu.
“Ini soal keluarga. Soal nama.”
—
Aku akhirnya ngomong.
“Kalau soal nama… kenapa dipaksa?”
—
Semua langsung nengok ke aku.
Hening.
Aku sadar… aku baru saja masuk terlalu jauh.
—
Pria itu mendekat ke aku.
Sangat dekat.
“Kamu tahu apa tentang keluarga kami?”
—
Aku ga mundur.
“Cukup buat tahu… ini bukan tentang bahagia.”
—
Dia menatapku lama.
Lalu… senyum.
Tipis.
“Berani.”
—
Dia mundur sedikit.
“Nara.”
—
Nara menatap.
“Iya, Om.”
—
“Kamu tahu kesepakatan kita.”
—
Nara diam.
—
“Kalau pernikahan ini gagal…”
Dia berhenti.
Menatap Arga.
“Semuanya selesai.”
—
Aku merinding.
“Kesepakatan apa?” tanyaku.
—
Ga ada yang langsung jawab.
—
Pria itu akhirnya bilang pelan.
“Utang.”
—
Kata itu jatuh.
Sederhana.
Tapi berat.
—
“Bokap kamu,” katanya ke Arga.
“Punya utang besar.”
—
Aku nengok ke Arga.
Dia ga bantah.
—
“Dan keluarga Nara… yang nutup.”
—
Nara menutup mata sebentar.
Seolah itu hal yang dia hafal.
—
“Sebagai gantinya…” lanjut pria itu.
“Kalian nikah.”
—
Aku langsung paham.
Perutku mual.
—
“Jadi ini… jual beli?” tanyaku pelan.
—
Pria itu langsung jawab.
“Ini solusi.”
—
Arga langsung maju.
“Ini paksaan.”
—
“Ini tanggung jawab!” bentak pria itu.
—
Sunyi lagi.
—
Aku nengok ke Nara.
“Lo setuju?”
—
Nara membuka mata.
Menatapku.
“Enggak.”
—
Jawaban itu pelan.
Tapi jelas.
—
“Makanya…” dia lanjut.
“Kita buat rencana.”
—
Pria itu menyipitkan mata.
“Rencana?”
—
Arga langsung ngomong.
“Kita udah cukup nurut.”
—
Suasana berubah.
Tegang.
—
Pria itu ketawa kecil.
“Kalian pikir bisa keluar semudah itu?”
—
Nara maju satu langkah.
“Kita ga minta izin.”
—
Aku ngerasa sesuatu… mau pecah.
—
Pria itu langsung mendekat ke Nara.
“Jangan lupa… semua yang kamu punya—”
—
“Bukan punya saya,” potong Nara cepat.
“Dari awal juga bukan.”
—
Arga sekarang berdiri di samping Nara.
Sejajar.
Untuk pertama kalinya…
Mereka keliatan satu tim.
—
Dan aku…
Di depan mereka.
Masih belum sepenuhnya ngerti.
—
“Dan kamu,” kata pria itu, menunjuk aku.
“Jangan ikut campur.”
—
Aku menatap dia.
“Udah terlanjur.”
—
Hening.
—
Pria itu menghela napas.
Lalu senyum lagi.
Tapi kali ini…
Dingin.
—
“Baik.”
—
Dia melangkah ke pintu.
Buka.
—
Sebelum keluar, dia berhenti.
Noleh.
“Besok pagi… kalian tetap jalan sesuai rencana.”
—
Dia menatap Arga.
“Kalau tidak…”
—
Dia ga lanjut.
Tapi kami semua ngerti.
—
Pintu ditutup.
Keras.
—
Ruangan kembali sunyi.
Tapi sekarang…
Lebih berat.
—
Aku langsung nengok ke Arga.
“Utang?”
—
Arga duduk.
Tangannya gemetar.
“Ratusan juta.”
—
Aku terdiam.
—
Nara menambahkan pelan.
“Lebih.”
—
Aku ketawa kecil.
Ga percaya.
“Dan lo pikir nikah… nyelesain itu?”
—
Arga ngangkat kepala.
“Buat mereka, iya.”
—
Aku duduk.
Akhirnya.
Kakiku ga kuat lagi.
—
“Terus rencana lo apa?” tanyaku.
—
Nara menjawab.
“Kita bongkar semuanya.”
—
“Gimana caranya?” tanyaku.
—
Dia menatapku.
“Bukti.”
—
Aku langsung nengok.
“Bukti apa?”
—
Arga membuka tas yang tadi aku kasih.
Album foto itu.
—
Dia buka.
Halaman demi halaman.
Foto-foto lama.
Tawa.
Perjalanan.
Kenangan.
—
Lalu berhenti.
Di halaman terakhir.
—
Ada sesuatu yang aku ga pernah lihat sebelumnya.
Satu amplop.
Diselipkan di dalam.
—
Aku kaget.
“Itu apa?”
—
Arga menatapku.
“Ini yang gue tunggu.”
—
Tanganku langsung dingin lagi.
—
“Apa itu?” tanyaku pelan.
—
Dia membuka amplop itu.
Pelan.
Hati-hati.
—
Dan saat isi di dalamnya mulai terlihat—
Aku langsung sadar.
Semua ini…
Jauh lebih besar dari yang aku kira.
Amplop itu terbuka pelan.
Suara kertasnya halus, tapi di kepalaku terdengar keras.
Aku menahan napas.
Arga menarik isi di dalamnya.
Beberapa lembar dokumen.
Bukan foto.
Bukan surat cinta.
Dokumen resmi.
—
Tanganku refleks maju.
“Boleh lihat?”
Arga langsung ngasih.
Aku ambil.
Kertasnya dingin.
Di bagian atas… ada kop.
Aku baca cepat.
Lalu pelan.
Lalu berhenti.
—
“Perjanjian… utang-piutang?”
Suaraku hampir ga keluar.
—
Nara mendekat.
“Iya.”
—
Aku lanjut baca.
Nama perusahaan keluarga Arga.
Nama keluarga Nara.
Jumlah.
Angkanya… bikin perutku mual.
—
“Tapi…” aku mengerutkan dahi.
“Ini aneh.”
—
Arga langsung nengok.
“Aneh gimana?”
—
Aku nunjuk satu bagian.
“Tanggalnya.”
—
Mereka berdua mendekat.
Aku nunjuk lagi.
“Ini dibuat… tiga tahun lalu.”
—
Sunyi.
—
“Tiga tahun lalu… usaha bokap lo belum jatuh, kan?” tanyaku ke Arga.
—
Arga langsung diam.
Mukanya berubah.
—
Nara juga langsung tegang.
—
“Jawab,” kataku.
—
Arga menggeleng pelan.
“Belum.”
—
Aku langsung angkat kertas itu.
“Berarti ini bukan solusi.”
Aku menatap mereka.
“Ini jebakan.”
—
Ruangan langsung terasa makin dingin.
—
“Kenapa baru sekarang dipakai?” tanyaku.
—
Nara pelan-pelan duduk.
Seolah kakinya tiba-tiba lemas.
“Karena… mereka nunggu.”
—
“Nunggu apa?”
—
Dia menatap kosong.
“Nunggu posisi kita lemah.”
—
Aku langsung paham.
Pelan.
Tapi pasti.
—
“Mereka sengaja.”
—
Arga langsung berdiri.
Langkahnya mundur sedikit.
“Enggak mungkin…”
—
Aku langsung potong.
“Mungkin.”
Aku nunjuk dokumen itu.
“Kalau ini dibuat tiga tahun lalu… berarti dari awal ini bukan soal nolong.”
—
Aku menatap Arga.
“Tapi soal ngikat.”
—
Sunyi.
—
Nara nutup muka.
Tangannya gemetar.
“Aku… aku baru sadar sekarang…”
—
Arga langsung jalan mondar-mandir.
Cepat.
Panik.
“Berarti selama ini—”
—
“Lo lagi disiapin,” potongku.
—
Dia berhenti.
Nengok ke aku.
—
“Disiapin buat ga punya pilihan.”
—
Kalimat itu jatuh.
Dan langsung… kena.
—
Aku lanjut.
“Dan sekarang mereka paksa nikah… biar semuanya legal.”
—
Nara mengangguk pelan.
Air matanya akhirnya jatuh.
“Kalau kita nikah… semua aset gabung…”
—
Arga langsung nyambung.
“Dan utangnya jadi tanggung jawab bersama.”
—
Aku menghela napas.
“Dan mereka pegang semuanya.”
—
Sunyi.
—
Untuk pertama kalinya…
Semua jelas.
—
“Jadi rencana kalian…” kataku pelan.
“Kabur?”
—
Arga menggeleng.
“Awalnya.”
—
“Sekarang?” tanyaku.
—
Dia menatapku.
Lebih tenang.
Lebih fokus.
“Kita lawan.”
—
Aku langsung diam.
—
Nara mengangkat kepala.
Air matanya masih ada.
Tapi matanya sekarang beda.
“Dengan bukti ini… kita bisa buka semuanya.”
—
Aku mengerutkan dahi.
“Ga cukup.”
—
Mereka berdua nengok ke aku.
—
“Ini cuma bukti kalau mereka punya perjanjian.”
Aku lanjut.
“Bukan bukti kalau mereka manipulasi.”
—
Arga langsung mikir.
Cepat.
—
Nara tiba-tiba berdiri.
Seolah ingat sesuatu.
“HP Om…”
—
Aku nengok.
“Maksudnya?”
—
Dia menatap kami.
“Semua komunikasi… ada di sana.”
—
Arga langsung paham.
“Di ruang VIP.”
—
Aku menelan ludah.
“Lo mau ambil?”
—
Nara mengangguk.
“Iya.”
—
Aku langsung ketawa kecil.
“Ini udah kayak film.”
—
Arga menatapku.
“Ini hidup kita.”
—
Sunyi.
—
Dari luar, suara musik makin keras.
Acara masih jalan.
Orang-orang masih bahagia.
Tanpa tahu… di belakang sini…
Semuanya lagi runtuh.
—
Aku menarik napas.
Panjang.
—
“Gue ikut.”
—
Arga langsung nengok.
“Kamu yakin?”
—
Aku menatap dia.
“Udah terlalu jauh.”
—
Nara mengangguk.
“Cepat.”
—
Kami bertiga keluar dari ruangan.
Lorong terasa lebih panjang sekarang.
Langkah kami cepat.
Suara sandal di lantai keramik terdengar jelas.
—
Kami sampai di dekat ruang VIP.
Pintu tertutup.
—
Arga mengintip.
Pelan.
—
“Sepi.”
—
Nara langsung buka pintu.
Kami masuk.
—
Ruangan lebih rapi.
AC dingin.
Di meja… ada satu HP.
—
“Dia tinggalin,” bisik Nara.
—
Jantungku makin kencang.
—
Arga langsung ambil.
Buka.
—
“Kunci,” katanya.
—
Nara maju.
Coba beberapa pola.
—
Klik.
Kebuka.
—
Kami langsung saling pandang.
—
“Cepat,” kataku.
—
Nara buka chat.
Satu per satu.
—
Lalu berhenti.
—
“Ini.”
—
Dia nunjuk layar.
—
Aku mendekat.
—
Chat antara pria itu…
Dan seseorang.
—
Isi pesannya bikin darahku dingin.
—
“Pastikan anak itu ga punya pilihan.”
“Kalau perlu… tekan sampai dia nikah.”
“Aset mereka harus masuk.”
—
Aku langsung mundur.
—
Arga langsung ngegenggam HP itu kuat.
—
Nara menutup mulutnya.
Air matanya jatuh lagi.
—
“Jadi ini…” bisikku.
—
Arga menatap lurus.
“Bukan soal utang.”
—
Nara lanjut pelan.
“Ini perampasan.”
—
Sunyi.
—
Untuk pertama kalinya…
Semua potongan nyambung.
—
Arga menatap kami berdua.
“Besok… kita buka semua ini.”
—
Aku menahan napas.
“Di depan semua orang?”
—
Dia mengangguk.
“Iya.”
—
Nara menatapku.
“Dan kamu harus ada.”
—
Aku diam.
—
“Kenapa?” tanyaku.
—
Arga menjawab pelan.
“Karena kebenaran… ga boleh setengah.”
—
Aku menatap dia lama.
—
Lalu mengangguk.
—
Di luar, suara tepuk tangan terdengar.
Acara hampir selesai.
—
Aku menatap pintu.
—
Besok…
Semua bakal berubah.
—
Dan untuk pertama kalinya…
Aku ga takut.
—
Tapi aku belum tahu—
Besok pagi…
Siapa yang benar-benar akan jatuh.
Pagi datang terlalu cepat.
Langit masih abu-abu. Jalanan depan gedung sepi. Sisa-sisa bunga kemarin masih berserakan di pinggir.
Aku berdiri di depan gerbang.
Tangan dingin.
HP di genggaman.
Chat dari Arga masuk.
“Aku di dalam.”
—
Aku tarik napas.
Lalu masuk.
—
Di dalam… suasananya beda.
Ga ada musik.
Ga ada tawa.
Yang ada cuma suara kursi digeser dan bisik-bisik.
Keluarga besar sudah kumpul.
Wajah-wajah tegang.
—
Arga berdiri di depan.
Masih pakai kemeja putih.
Ga pakai jas lagi.
Di sampingnya… Nara.
Ga pakai kebaya pengantin.
Cuma baju sederhana.
Untuk pertama kalinya…
Mereka keliatan seperti diri mereka sendiri.
—
Begitu aku masuk—
Semua mata langsung ke aku.
—
Aku berhenti.
Tapi Arga langsung melangkah ke arahku.
Tangannya menggenggam tanganku.
Kuat.
—
“Terima kasih udah datang,” bisiknya.
—
Aku cuma angguk.
—
Dia tarik aku ke depan.
Ke tengah ruangan.
—
“Ini Maya.”
Suaranya lantang.
Semua langsung ribut.
—
“Siapa itu?”
“Ngapain dia di sini?”
“Ini yang kemarin?”
—
Pria itu berdiri.
Bokapnya.
Tatapannya tajam.
“Kamu mau bikin apa lagi?”
—
Arga ga mundur.
Dia malah maju satu langkah.
“Ngomong jujur.”
—
Sunyi.
—
“Pernikahan kemarin…”
Dia berhenti.
Menatap semua orang.
“Bukan karena cinta.”
—
Bisik-bisik langsung makin keras.
—
“Ini karena tekanan.”
—
“Diam kamu!” bentak bapaknya.
—
Tapi Arga lanjut.
“Dan saya ga akan lanjutkan.”
—
Ruangan langsung panas.
—
“Kamu pikir kamu bisa keluar gitu aja?” suara bapaknya naik.
—
Arga ngangkat HP.
Yang semalam.
“Dengan ini… bisa.”
—
Semua langsung diam.
—
Nara maju.
“Silakan dilihat.”
—
Arga memutar layar.
Menunjukkan chat.
Satu per satu.
—
Kalimat-kalimat itu dibaca keras.
“Pastikan dia ga punya pilihan.”
“Tekan sampai nikah.”
“Aset harus masuk.”
—
Sunyi.
Berat.
—
Beberapa orang mulai saling pandang.
Ada yang kaget.
Ada yang langsung menunduk.
—
Bapaknya Arga tetap diam.
Tapi rahangnya kencang.
—
“Ini manipulasi,” katanya akhirnya.
—
Aku langsung maju.
“Kalau manipulasi… kenapa takut dibuka?”
—
Semua nengok ke aku.
—
Aku menatap dia lurus.
“Ini bukan soal utang.”
“Ini soal ngambil hidup orang lain.”
—
Sunyi lagi.
—
Nara sekarang berdiri di sampingku.
“Dan saya ga mau jadi bagian dari itu.”
—
Dia membuka cincin di jarinya.
Pelan.
—
Lalu meletakkannya di meja.
Suara kecil.
Tapi semua dengar.
—
“Saya batalkan.”
—
Ruangan langsung pecah.
—
“Kurang ajar!”
“Kamu ga tahu diri!”
“Ini keluarga besar!”
—
Tapi Nara ga mundur.
—
Arga menggenggam tanganku lebih kuat.
—
“Dan satu lagi,” katanya.
—
Semua kembali diam.
—
Dia menatap semua orang.
Satu per satu.
—
“Saya sudah menikah.”
—
Ruangan langsung hening.
—
“Dengan Maya.”
—
Seolah waktu berhenti.
—
Aku bisa dengar napasku sendiri.
—
Bapaknya Arga melangkah maju.
Pelan.
“Maksud kamu?”
—
Arga menatap lurus.
“Secara agama… kami sudah sah.”
—
Beberapa orang langsung ribut lagi.
—
“Tunjukkan bukti!” teriak seseorang.
—
Arga mengeluarkan satu map.
Dari tasnya.
—
Dokumen.
Foto.
—
Termasuk…
Satu foto kecil.
Aku dan dia.
Di depan KUA.
Pagi itu.
—
Aku kaget.
Aku bahkan ga sadar…
Foto itu diambil.
—
“Ini semua sah,” katanya.
—
Sunyi.
—
Untuk pertama kalinya…
Semua orang ga punya bantahan.
—
Bapaknya Arga mundur satu langkah.
Mukanya berubah.
Bukan marah lagi.
Tapi… kalah.
—
“Kalau kamu keluar…” katanya pelan.
“Kamu ga punya apa-apa.”
—
Arga mengangguk.
“Iya.”
—
Dia menggenggam tanganku.
Lebih erat.
“Tapi saya punya hidup saya.”
—
Sunyi.
—
Nara tersenyum kecil.
Akhirnya.
Beneran senyum.
—
“Dan saya juga.”
—
Dia menatap keluarganya.
“Semua yang kalian kasih… silakan ambil.”
—
Dia berbalik.
—
Kami bertiga jalan ke arah pintu.
—
Ga ada yang nahan.
—
Ga ada yang bisa.
—
Begitu keluar—
Udara terasa beda.
Lebih ringan.
—
Aku berhenti.
Nengok ke Arga.
—
“Jadi…” kataku pelan.
—
Dia menatapku.
—
“Ini beneran?”
—
Dia senyum.
Bukan senyum formal.
Bukan senyum terpaksa.
Senyum yang aku kenal.
—
“Dari awal… gue ga pernah ninggalin lo.”
—
Tanganku masih di tangannya.
Hangat sekarang.
—
Aku tarik napas panjang.
Untuk pertama kalinya…
Rasanya masuk.
—
Nara berdiri di samping kami.
Menatap jalan.
—
“Rencana selanjutnya?” tanyaku.
—
Dia ketawa kecil.
“Mulai ulang.”
—
Aku nengok ke Arga.
—
Dia mengangguk.
—
Dan untuk pertama kalinya…
Semua jelas.
Ga ada lagi yang disembunyikan.
—
Di belakang kami…
Pintu gedung itu tertutup.
Pelan.
—
Di depan…
Jalan panjang.
Terbuka.
—
Dan kali ini…
Kami jalan tanpa dipaksa.
—
Akhirnya.