GUE MINJEM UANG KE RENTENIR BUAT NYELAMETIN ANAK GUE. ANAK GUE SELAMAT. TAPI MALAM INI… MEREKA DATANG BAWA NAMA ISTRI GUE.

Suara notifikasi WhatsApp bunyi pelan.

Jam 02.13.

Gue belum tidur.

Sudah tiga malam.

Layar HP gue nyala di atas kasur. Cuma itu satu-satunya cahaya di kamar.

Gue buka pesan.

Nomor nggak dikenal.

“Besok terakhir.”

Cuma itu.

Nggak ada nama.

Nggak ada penjelasan.

Tapi gue tahu.

Dan gue ngerti maksudnya.

Gue taruh HP pelan.

Tatap plafon.

Kipas angin muter pelan. Bunyi geseknya halus tapi ganggu.

Di sebelah gue, Nia tidur.

Nafasnya teratur.

Tenang.

Gue lihat wajahnya.

Gue pengen bangunin.

Pengen cerita semuanya.

Tapi…

Gue nggak bisa.

Karena ini semua…

Salah gue.

Tiga bulan lalu.

Hari itu panas banget.

Gue duduk di ruang tunggu rumah sakit.

Bau antiseptik.

Suara sepatu perawat.

Speaker manggil nomor antrean.

“Nomor 27…”

Gue pegang amplop coklat.

Isinya hasil rontgen.

Nama di situ…

Rafa.

Anak gue.

Umur 5 tahun.

Di sebelah gue, Nia pegang tangan Rafa.

Anak gue diam.

Padahal biasanya dia nggak bisa diam.

“Itu kenapa ya, Bang…” bisik Nia.

Gue nggak jawab.

Karena gue juga takut.

“Mas… masuk.”

Gue berdiri.

Masuk ke ruangan dokter.

Dokter buka hasil rontgen.

Lihat.

Lama.

Terus dia angkat kepala.

“Nanti kita butuh tindakan.”

Jantung gue langsung turun.

“Tindakan apa, Dok?”

“Operasi.”

Sunyi.

Nia langsung nangis.

“Harus ya…”

Dokter angguk.

“Kalau tidak, risikonya besar.”

Gue pegang kursi.

Kuat.

“Biayanya… berapa?”

Dokter nulis angka.

Kasih ke gue.

Gue lihat.

Dan tangan gue langsung gemetar.

Segitu?

Gue duduk.

Kepala kosong.

Gaji gue nggak nyampe setengahnya.

Tabungan nggak ada.

Motor kalau dijual pun…

Masih jauh.

Gue lihat Rafa.

Dia lagi main jari.

Nggak ngerti apa-apa.

Dan di situ…

Gue tahu.

Gue bakal ngelakuin apa aja.

Malamnya, gue di luar rumah.

Duduk di motor.

HP di tangan.

Gue chat satu-satu.

Teman.

Saudara.

Atasan.

“Nanya pinjaman…”

Banyak yang read.

Sedikit yang jawab.

Jawabannya sama.

“Nggak ada.”

“Maaf ya…”

Gue senyum.

Kering.

Jam hampir 12.

Sampai…

Pesan masuk.

Nomor asing.

“Tolong 50 juta bisa.”

Gue langsung tegak.

“Siapa ini?”

Balasan cepat.

“Dari teman.”

Gue ngetik.

“Ketemu?”

Alamat dikirim.

Tanpa basa-basi.

Pinggir kota.

Sepi.

Tapi gue nggak peduli.

Besoknya.

Ruko tua.

Cat pudar.

Pintu setengah terbuka.

Gue masuk.

Satu meja.

Satu orang.

Pakai kemeja hitam.

Tatapannya tajam.

“Duduk.”

Gue duduk.

“Nanya berapa?”

“50 juta.”

“Kapan balikin?”

Gue bingung.

“Sebulan… dua bulan…”

Dia angguk.

“Bisa.”

Cepat.

Terlalu cepat.

Dia geser kertas.

“Baca.”

Gue lihat.

Pinjaman.

Bunga.

Tanggal.

Angkanya bikin dada gue sesak.

Tapi…

Gue nggak punya pilihan.

Gue pegang pulpen.

Tangan gemetar.

Di kepala cuma satu.

Rafa.

Gue tanda tangan.

Dia langsung kasih uang.

Cash.

50 juta.

Gue pegang.

Berat.

Dia bilang pelan.

“Nanti kami yang ingatkan.”

Nada datar.

Tapi dingin.

Gue keluar.

Dan gue tahu…

Gue baru saja masuk ke sesuatu yang nggak gampang keluar.

Operasi berhasil.

Rafa selamat.

Itu cukup.

Buat sementara.

Nia peluk gue.

“Terima kasih ya…”

Gue cuma senyum.

Gue bohong.

“Pinjam teman.”

Dia percaya.

Dan itu bikin gue makin sesak.

Minggu pertama.

Aman.

Minggu kedua.

Masih.

Masuk minggu ketiga…

HP gue bunyi.

Nomor itu.

“Sudah siap?”

Gue jawab.

“Belum… kasih waktu.”

Balasan.

“3 hari.”

Jantung gue langsung kencang.

Gue kerja lembur.

Cari tambahan.

Pinjam sana-sini.

Nggak cukup.

Hari ketiga…

Mereka datang.

Jam 9 malam.

“Tok.”

Gue buka.

Orang yang sama.

Senyum tipis.

“Waktunya.”

Gue gugup.

“Belum ada…”

Dia angguk.

Masuk.

Lihat rumah.

Lihat Nia.

Lihat Rafa.

“Anaknya… sehat?”

Gue langsung ngerti.

Itu ancaman.

Gue cepat bilang.

“Saya bayar.”

Dia keluar.

Sebelum pergi…

“Jangan sampai kami datang lagi.”

Pintu ditutup.

Gue duduk.

Lemes.

Nia tanya.

“Siapa itu?”

“Teman.”

Dia curiga.

Tapi diam.

Sejak malam itu…

Gue hidup dalam takut.

Sampai malam ini.

Pesan itu.

“Besok terakhir.”

Gue buka laci.

Sisa uang.

Nggak sampai setengah.

Gue pegang kepala.

“Gimana…”

Tiba-tiba…

Suara motor.

Berhenti.

Jam 02.47.

Langkah kaki.

Mendekat.

Pelan.

Ketukan.

“Tok… tok…”

Lebih pelan.

Lebih dingin.

Gue berdiri.

Buka pintu.

Pelan.

Tiga orang.

Yang depan…

Bawa kertas.

Dia kasih ke gue.

“Kalau nggak bisa bayar…”

Dia berhenti.

Tatap gue.

“…ini jalan lain.”

Gue lihat.

Tangan gue langsung gemetar.

Isinya…

Nama istri gue.

Dan di bawahnya…

Satu kalimat.

“Bisa kerja buat kami.”

Dunia gue langsung gelap.

Gue baca lagi kertas itu.

Nama: Nia.

Di bawahnya:

“Bisa kerja buat kami.”

Tangan gue dingin.

“Ini maksudnya apa?” suara gue serak.

Orang di depan itu santai.

“Gampang.”

Dia masuk tanpa nunggu izin.

Dua orang di belakang ikut.

Ruang tamu langsung sempit.

Dia duduk.

Kayak biasa.

Kayak ini rumah dia.

“Lu nggak sanggup bayar,” katanya.

Gue diam.

Dia lanjut.

“Berarti lu ganti cara bayar.”

Gue pegang kertas itu lebih kuat.

“Kenapa istri gue?”

Dia senyum tipis.

“Karena lu punya dua pilihan.”

Sunyi.

Dia angkat dua jari.

“Satu… lu kerja buat kami.”

Dia turunin satu jari.

“Kedua… istri lu.”

Darah gue langsung naik.

“Gue aja.”

Cepat.

Tanpa mikir.

Dia langsung geleng.

“Lu sudah telat.”

Jantung gue langsung turun.

“Hah?”

Dia condong ke depan.

“Nawar itu dari awal.”

Sunyi.

Dua detik.

Tiga detik.

Gue nahan napas.

Dia lanjut pelan.

“Sekarang… kami butuh yang lebih ‘meyakinkan’.”

Gue maju satu langkah.

“Gue bilang gue aja.”

Nada gue mulai naik.

Dua orang di belakang langsung tegang.

Dia tetap tenang.

“Lu emosi.”

Dia lihat gue.

“Tapi lu nggak ngerti posisi lu.”

Gue pegang meja.

Kuat.

“Gue ngerti satu hal.”

Gue tahan suara gue supaya nggak pecah.

“Jangan pernah sentuh istri gue.”

Sunyi.

Dia lihat gue lama.

Terus…

Dia ketawa kecil.

Pelan.

“Berani juga.”

Dia berdiri.

Dekat.

Dekat banget.

“Lu mau jaga keluarga lu?”

Gue angguk.

“Iya.”

Dia kasih satu map.

Tipis.

“Baca.”

Gue buka.

Isinya…

Data.

Foto.

Alamat.

Nomor HP.

Semua tentang keluarga gue.

Lengkap.

Sampai sekolah Rafa.

Jantung gue langsung jatuh.

Dia bisik pelan.

“Sekarang… lu masih bisa bilang jangan?”

Sunyi.

Gue nggak bisa jawab.

Dia mundur.

“Besok pagi.”

Dia lihat jam.

“Jam 9.”

Dia nunjuk map itu.

“Bawa ini.”

Gue diam.

Dia lanjut.

“Dan datang sendiri.”

Dia jalan ke pintu.

Berhenti.

“Nggak usah bawa istri lu.”

Dia nengok sedikit.

“Kita belum sampai situ.”

Pintu ditutup.

Motor menjauh.

Rumah langsung sunyi.

Tapi sekarang…

Sunyinya mencekik.

Nia keluar dari kamar.

Mukanya panik.

“Itu siapa lagi?!”

Gue cepat sembunyiin map itu.

“Teman.”

Dia lihat gue.

“Nggak mungkin.”

Gue nggak jawab.

Dia pegang tangan gue.

Tangannya dingin.

“Jujur sama aku…”

Gue lihat dia.

Mata dia.

Gue mau bilang.

Semua.

Tapi…

Gue cuma bilang.

“Besok aku beresin.”

Dia diam.

Air matanya jatuh.

Gue tahu.

Dia nggak percaya.

Dan itu…

Lebih sakit.

Pagi.

Jam 08.47.

Gue sudah di depan ruko itu.

Map di tangan.

Tangan gue basah.

Keringat.

Gue masuk.

Orang yang sama.

Sudah duduk.

“Niat?”

Gue angguk.

Dia geser kursi.

“Duduk.”

Gue duduk.

Dia ambil map.

Buka.

Lihat.

Terus dia bilang pelan.

“Mulai hari ini… lu kerja buat kami.”

Jantung gue langsung kencang.

“Kerja apa?”

Dia senyum tipis.

“Yang bapak-bapak lain nggak mau lakukan.”

Gue diam.

Dia lanjut.

“Tagih.”

Kata itu…

Jatuh berat.

Hari pertama.

Gue pegang daftar.

Nama.

Alamat.

Nominal.

Persis kayak yang dulu bapak-bapak itu pegang ke gue.

Sekarang…

Gue di posisi mereka.

Motor gue jalan pelan.

Masuk gang kecil.

Alamat pertama.

Rumah sederhana.

Pintu kayu.

Gue ketuk.

“Tok.”

Seorang ibu buka.

Mukanya langsung berubah.

“Maaf, Pak… saya belum…”

Gue berhenti.

Dia kira gue datang buat nagih.

Gue lihat anak kecil di belakangnya.

Sama kayak Rafa.

Dada gue langsung sesak.

“Bu…”

Suara gue pelan.

“Saya bukan mau nagih.”

Dia bingung.

“Hah?”

Gue lihat kertas.

Nama dia.

Nominal 8 juta.

Gue tarik napas.

“Saya cuma mau bilang… utangnya berhenti di sini.”

Sunyi.

Dia nggak ngerti.

“Maksudnya?”

Gue robek kertas itu.

Di depan dia.

Dia langsung nangis.

Tutup mulut.

“Ya Allah…”

Gue balik.

Cepat.

Karena kalau gue lama…

Gue bisa berubah pikiran.

Hari kedua.

Sama.

Gue datangi satu-satu.

Gue hapus.

Gue berhentiin.

Gue bohong ke mereka.

Gue bilang…

“Sudah lunas.”

Padahal…

Belum.

Hari ketiga.

Masih.

Gue lakukan terus.

Nama di daftar makin sedikit.

Tapi…

Risikonya makin besar.

Malamnya.

Mereka panggil gue.

Ruko itu lagi.

Dia duduk.

Buka buku.

“Kenapa setoran kecil?”

Gue diam.

Dia lihat gue.

“Lu kerja atau main-main?”

Gue jawab pelan.

“Orangnya nggak ada.”

Dia senyum.

“Nggak ada… atau lu hapus?”

Jantung gue langsung berhenti.

Sunyi.

Dua detik.

Tiga detik.

Dia tutup buku.

Pelan.

“Gue kasih lu kesempatan.”

Gue diam.

Dia lanjut.

“Besok… bawa satu orang.”

Gue mengerut.

“Siapa?”

Dia senyum.

“Yang bisa bayar.”

Sunyi.

Gue langsung ngerti.

Dia mau…

Korban.

Gue pulang.

Kepala gue penuh.

Nia duduk di ruang tamu.

Nunggu.

“Kamu dari mana?”

Gue nggak jawab.

Dia berdiri.

Dekat.

“Kamu berubah.”

Gue diam.

Dia lanjut.

“Kamu kerja apa sekarang?”

Gue lihat dia.

Dan untuk pertama kalinya…

Gue hampir cerita.

Tapi…

Gue cuma bilang.

“Biar aku yang tanggung.”

Dia nangis.

“Ini bukan cuma kamu…”

Gue nggak jawab.

Karena gue tahu.

Kalau gue jujur…

Dia bakal ikut masuk.

Dan gue nggak mau itu.

Malam itu…

Gue nggak tidur.

Gue duduk.

Lihat daftar.

Nama-nama itu.

Dan satu nama…

Yang belum gue sentuh.

Nama gue sendiri.

Gue tarik napas.

Pelan.

“Kalau harus satu orang…”

Gue pegang kertas itu.

Tangan gue gemetar.

“Gue aja.”

Pagi.

Jam 09.00.

Gue datang.

Sendiri.

Tanpa bawa siapa-siapa.

Dia sudah duduk.

“Nah… mana orangnya?”

Gue taruh kertas.

Pelan.

Di meja.

Dia lihat.

Diam.

Baca.

Terus dia angkat kepala.

“Ini apa?”

Gue jawab.

“Nama yang bisa bayar.”

Sunyi.

Dia lihat lagi.

Nama di kertas itu…

Nama gue.

Dia ketawa kecil.

Pelan.

“Lu bercanda?”

Gue geleng.

“Nggak.”

Dia condong ke depan.

“Lu pikir ini lucu?”

Gue tatap dia.

“Kalau harus satu orang… gue aja.”

Sunyi.

Dua orang di belakang langsung maju sedikit.

Tegang.

Dia lihat gue lama.

Lama banget.

Terus dia tanya pelan.

“Kenapa?”

Gue jawab.

“Karena ini salah gue.”

Sunyi.

Gue lanjut.

“Bukan mereka.”

Gue ingat semua orang yang gue datangi.

Semua yang ketakutan.

Gue ingat Rafa.

Nia.

Gue tarik napas.

“Kalau harus bayar… gue bayar.”

Dia diam.

Beberapa detik.

Terus dia duduk kembali.

Santai.

“Nggak semua orang berani kayak gini.”

Gue diam.

Dia lanjut.

“Tapi masalahnya…”

Dia lihat gue.

“…lu nggak punya apa-apa.”

Sunyi.

Gue angguk.

“Iya.”

Dia senyum tipis.

“Jadi lu mau bayar pakai apa?”

Gue diam.

Beberapa detik.

Terus gue jawab pelan.

“Kerja.”

Dia mengangkat alis.

“Lu sudah kerja.”

Gue geleng.

“Bukan itu.”

Sunyi.

Dia mulai tertarik.

“Maksudnya?”

Gue lihat dia.

Dalam.

“Gue bantu lu beresin semua data.”

Dia diam.

Gue lanjut.

“Yang sudah lunas… kita tutup.”

“Yang nggak mampu… kita cari jalan lain.”

“Tanpa ancaman.”

Sunyi.

Dua orang di belakang saling lihat.

Dia ketawa kecil.

“Lu mau ubah sistem gue?”

Gue jawab pelan.

“Kalau nggak… semua bakal hancur.”

Sunyi.

Kalimat itu…

Kena.

Dia diam.

Lama.

Terus dia bilang pelan.

“Lu tahu… bapak lu dulu juga ngomong gitu?”

Jantung gue langsung berhenti.

“Hah?”

Dia lihat gue.

“Dia juga mau keluar.”

Sunyi.

“Makanya dia mati.”

Dunia gue langsung gelap.

Gue nggak langsung gerak.

Kata itu muter di kepala gue.

“Makanya dia mati.”

Tangan gue dingin.

“Lu… maksudnya apa?”

Suara gue pelan.

Tapi pecah.

Dia lihat gue.

Datar.

“Bapak lu bukan mati biasa.”

Dunia gue langsung runtuh.

“Dia berhenti kerja.”

Dia lanjut.

“Nolak sistem.”

Sunyi.

“Dan dia tahu… konsekuensinya.”

Gue mundur satu langkah.

Nafas gue berat.

Semua potongan…

Masuk.

Bapak jarang pulang.

Bapak capek.

Bapak diam.

Bapak…

Keluar.

Dan bayar dengan nyawa.

Gue pegang meja.

Kuat.

“Lu yang bunuh?”

Dia diam.

Beberapa detik.

Terus dia bilang pelan.

“Kami cuma… biarin.”

Sunyi.

Itu lebih sakit.

Gue tutup mata sebentar.

Tarik napas.

Pelan.

Terus gue buka lagi.

Lihat dia.

“Berarti sekarang… giliran gue ya?”

Sunyi.

Dia lihat gue.

Lama.

Terus…

Dia senyum.

Tipis.

“Tergantung.”

“Tergantung apa?”

Dia jawab.

“Tergantung lu beneran beda… atau cuma ngomong.”

Sunyi.

Gue maju.

Satu langkah.

“Kasih gue waktu.”

Dia diam.

Gue lanjut.

“Sebulan.”

“Gue beresin semua.”

“Tanpa rusak satu orang pun.”

Sunyi.

Dia lihat gue.

Dalam.

Terus…

Dia angguk.

“Sebulan.”

Gue tahan napas.

Dia lanjut.

“Kalau gagal…”

Dia berhenti.

“…lu tahu sendiri.”

Gue angguk.

“Iya.”

Hari-hari berikutnya…

Gue kerja.

Bukan nagih.

Tapi beresin.

Gue cari satu-satu.

Gue bantu mereka jual barang.

Gue cari kerja tambahan buat mereka.

Gue nego.

Gue potong bunga.

Gue paksa sistem itu berubah.

Pelan.

Satu nama.

Dua nama.

Sepuluh nama.

Semua mulai lunas.

Tanpa ancaman.

Tanpa teror.

Tanpa takut.

Sebulan.

Gue balik.

Ruko itu.

Dia sudah duduk.

“Nah?”

Gue taruh buku.

Dia buka.

Lihat.

Kosong.

Sunyi.

Dia tutup.

Pelan.

Terus dia lihat gue.

Lama.

Terus…

Dia berdiri.

Jalan ke gue.

Dekat.

Gue tahan napas.

Dia berhenti.

Dan…

Dia tepuk bahu gue.

“Lu beda.”

Gue diam.

Dia lanjut.

“Dan gue capek cara lama.”

Sunyi.

Dua orang di belakang kaget.

Dia bilang pelan.

“Mulai sekarang… kita ubah.”

Dunia gue langsung… lega.

Beberapa bulan kemudian.

Gue buka usaha kecil.

Nia bantu.

Rafa sudah sehat.

Ketawa lagi.

Rumah itu…

Hidup lagi.

Suatu sore…

Gue duduk di depan rumah.

Ngopi.

Lihat Rafa lari-lari.

Nia di samping gue.

“Sekarang kamu kerja apa sih sebenarnya?”

Gue senyum.

Pelan.

“Kerja yang dulu hampir bikin gue kehilangan kalian.”

Dia lihat gue.

Gue lanjut.

“Tapi sekarang… beda.”

Dia senyum.

Genggam tangan gue.

Dan untuk pertama kalinya…

Gue nggak takut lagi.

Karena kali ini…

Gue keluar.

Dan gue nggak sendirian.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *