SEMUA ORANG BILANG HIDUP ITU SOAL SABAR. TAPI NGGAK ADA YANG PERNAH NGASIH TAU… KALAU TERNYATA YANG NGEREM HIDUP GUE SELAMA INI… BUKAN TUHAN.
—
Nama gue Reno.
Kalau lo lihat hidup gue sekarang, mungkin lo bakal bilang, “lumayan juga.”
Kerja tetap.
Istri baik.
Anak satu, tiap malam minta digendong sambil nonton kartun.
Rumah kecil, tapi cukup.
Motor masih cicilan.
Nggak mewah, tapi jalan.
Kayak lampu hijau yang akhirnya nyala.
—
Tapi gue pernah lama banget di lampu merah.
Dan waktu itu…
rasanya bukan cuma berhenti.
Rasanya kayak ditahan.
—
Dulu, pas lulus SMA…
Teman-teman satu kelas gue sibuk foto pakai almamater.
Ada yang masuk kampus negeri.
Ada yang pindah kota.
Ada yang upload story, caption panjang, bangga.
Grup WhatsApp rame.
“Bro gue keterima!”
“Gue udah daftar kost!”
“Gue udah ospek!”
—
Gue?
Cuma baca.
Scroll.
Terus tutup HP.
—
Di rumah, kipas angin bunyi “krek… krek…”
Siang panas.
Gue tiduran di lantai.
Liat plafon.
Catnya udah mulai ngelupas.
—
Dari dapur, suara wajan.
Minyak panas.
Bau bawang goreng.
Ibu gue masak.
Hidup tetap jalan.
Cuma gue yang kayak diem di tempat.
—
Gue anak bungsu.
Dua kakak gue masih kuliah.
Ibu gue single parent.
Bapak gue… hilang.
Nggak jelas.
—
“Ren… sabar ya.”
Ibu gue ngomong sambil ngelap tangan.
“Abang sama kakak lo masih butuh biaya. Nanti giliran lo.”
—
Gue cuma angguk.
Mau nolak juga percuma.
—
Awalnya gue pikir… ya udah.
Satu tahun.
—
Ternyata jadi dua tahun.
—
Dua tahun itu lama.
Banget.
—
Rutinitas gue berantakan.
Begadang.
Main HP.
Scroll nggak jelas.
Kadang nonton video motivasi, tapi habis itu kosong lagi.
—
Tidur siang.
Bangun sore.
Denger suara anak sekolah pulang.
Seragam mereka masih rapi.
Gue cuma duduk di teras.
Pakai kaos lama.
—
Tetangga mulai nanya.
“Reno nggak kuliah?”
“Kerja di mana sekarang?”
“Lagi santai ya?”
—
Senyum gue makin tipis.
—
Sampai satu malam…
Kakak gue pulang.
Bawa tas.
Capek.
Duduk di ruang tamu.
—
Dia lempar satu map ke meja.
“Ini lo baca.”
—
Gue buka.
Brosur kampus.
Biaya.
Jurusan.
Cara daftar.
—
“Gue udah tanya-tanya,” katanya.
“Kalau lo mau, tahun depan lo bisa masuk.”
—
Gue lihat dia.
Matanya merah.
Tangannya kasar.
—
“Bang… duitnya dari mana?”
—
Dia ketawa kecil.
“Lo pikir gue kerja buat apa?”
—
Ada yang ganjil.
Tapi gue diem.
—
Sejak malam itu, gue mulai cari kerja.
Apa aja.
—
Akhirnya gue diterima di bengkel kecil.
Lantai oli.
Bau bensin.
Tangan gue tiap hari hitam.
—
Gaji kecil.
Tapi cukup buat bantu dikit.
—
Di situ gue ketemu orang-orang yang hidupnya lebih berat.
Ada yang tidur di bengkel.
Ada yang nggak punya rumah.
—
Pelan-pelan…
Gue mulai nerima hidup gue.
—
Tapi satu hal nggak pernah ilang dari pikiran gue.
Kakak gue.
—
Setiap bulan, dia selalu kirim uang.
Lebih dari cukup.
Padahal dia bilang kerja biasa.
—
“Bang kerja di mana sih?”
—
“Ya kerja lah.”
—
Jawabannya selalu sama.
Pendek.
—
Suatu malam…
Hujan deras.
Gue pulang dari bengkel.
Baju basah.
Sendal bunyi “cek… cek…”
—
Lampu rumah redup.
—
Ibu gue duduk di meja makan.
Sendirian.
—
Di depannya ada amplop.
—
“Ren… sini.”
—
Gue duduk.
Dia dorong amplop itu ke gue.
—
“Ini dari abang lo.”
—
Gue buka.
Uang.
Banyak.
Banget.
—
Lebih dari biasanya.
—
Ada kertas kecil di dalamnya.
Tulisan tangan.
—
“Buat Reno daftar tahun ini.”
—
Tangan gue langsung dingin.
—
“Ibu… ini kebanyakan…”
—
Ibu gue nggak jawab.
—
“Ibu… abang kerja apa sih?”
—
Dia diam.
Lama.
—
Terus bilang pelan…
“Jangan tanya.”
—
Jantung gue langsung nggak enak.
—
Kenapa jangan tanya?
—
Sejak itu gue mulai merhatiin.
—
Kakak gue jarang pulang.
Kalau pulang… selalu malam.
Kadang subuh.
—
Bajunya beda.
Bukan kayak orang kantor.
Lebih kasar.
—
Tangannya sering luka.
—
“Ini kenapa?”
“Kejedot aja.”
—
Selalu gitu.
—
Sampai satu hari…
Gue lagi di bengkel.
HP gue bunyi.
—
Nomor nggak dikenal.
—
“Ini Reno?”
“Iya.”
“Datang ke rumah sakit sekarang.”
—
“Siapa ini?”
—
“Abang lo kecelakaan.”
—
Dunia gue langsung kayak direm.
—
Gue lari.
Nggak mikir.
—
Sampai rumah sakit…
Bau obat.
Lampu putih.
Suara langkah cepat.
—
Ibu gue duduk sendiri.
—
Matanya kosong.
—
“Bu…”
—
Dia langsung peluk gue.
—
“Ren… abang lo…”
—
Gue masuk.
—
Kakak gue di ranjang.
Badan penuh luka.
Perban di mana-mana.
—
Alat bunyi “tit… tit…”
—
Gue pegang tangannya.
Dingin.
—
“Bang…”
—
Matanya buka pelan.
—
“Ren…”
—
Suaranya serak.
—
“Bang… lo kenapa?”
—
Dia nggak jawab.
—
Dia cuma bilang…
“Lo harus kuliah tahun ini.”
—
“Bang… gue nggak peduli kuliah, gue mau lo sembuh dulu.”
—
Dia senyum tipis.
—
“Gue udah lama ngerem hidup lo…”
—
Gue bengong.
—
“Maksud lo apa?”
—
Dia lihat gue.
Lama.
—
“Yang bikin lo nggak bisa kuliah… bukan cuma keadaan.”
—
Jantung gue langsung keras.
—
“Terus apa?”
—
Dia genggam tangan gue.
—
“Gue.”
—
Semua suara kayak hilang.
—
“Bang… lo ngomong apa sih…”
—
“Maaf, Ren…”
—
Tiba-tiba alat bunyi lebih cepat.
Perawat masuk.
Dokter masuk.
—
“Keluar dulu!”
—
Gue ditarik keluar.
—
Pintu ditutup.
—
Gue berdiri.
Tangan gue gemetar.
—
Di kepala gue cuma satu kalimat muter…
“Yang ngerem hidup gue… bukan Tuhan.”
—
Tapi…
kakak gue sendiri.
—
Dan malam itu…
gue baru sadar…
selama ini gue bukan cuma ditahan sama keadaan.
—
Ada sesuatu yang sengaja disembunyikan dari gue.
Dan sekarang…
itu mulai kebuka.
—
Pintu ruang ICU masih ketutup.
Lampunya merah.
Gue berdiri di depan.
Nggak duduk.
Nggak bergerak.
—
“Ibu…”
—
Suara gue kecil.
—
“Ibu… maksud abang tadi apa?”
—
Ibu gue nggak langsung jawab.
Dia cuma pegang tangan gue.
Dingin.
—
“Ren… ada hal yang selama ini ibu sama abang lo… simpan.”
—
Jantung gue langsung turun.
—
“Apa, Bu…”
—
Ibu gue narik napas panjang.
—
“Dulu… waktu lo lulus SMA…”
—
“Iya…”
—
“Ada orang datang ke rumah.”
—
Gue langsung inget.
Samar-samar.
Orang pakai kemeja.
Bawa map.
—
“Beasiswa.”
—
Gue langsung diam.
—
“…gue keterima?”
—
Ibu gue pelan-pelan ngangguk.
—
Dunia gue langsung kosong.
—
“Terus… kenapa gue nggak pernah tau?”
—
Ibu gue nutup mata.
—
“Karena abang lo… nolak.”
—
“…apa?”
—
“Dia bilang… biar dia aja yang kerja. Biar lo nanti kuliah dengan biaya sendiri. Biar lo ngerti rasanya berjuang.”
—
Gue mundur satu langkah.
—
“Jadi… selama ini…”
—
“Abang lo yang tahan semua.”
—
Kepala gue langsung panas.
—
“Dia yang tahan hidup gue, Bu!”
—
Suara gue naik.
Orang-orang mulai lihat.
—
“Dia yang bikin gue dua tahun kayak orang nggak guna!”
—
Ibu gue nangis.
—
“Dia juga nanggung semuanya sendirian, Ren…”
—
Gue diem.
—
“Tiap bulan dia kerja lebih dari satu kerjaan.”
—
“Kerja apa, Bu…?”
—
Ibu gue nggak jawab.
—
Tapi kali ini…
gue nggak mau berhenti.
—
Gue harus tau.
—
Karena sekarang…
ini bukan cuma soal masa lalu.
—
Ini soal…
abang gue lagi sekarat.
—
Dan gue bahkan nggak tau dia siapa selama ini.
Gue keluar rumah sakit.
Hujan masih turun.
—
Gue langsung ambil HP.
Cari kontak terakhir yang nelepon gue tadi.
—
Gue telepon balik.
—
“Halo.”
—
“Ini siapa? Lo yang tadi telepon gue kan?”
—
“Iya.”
—
“Lo kenal abang gue?”
—
Hening sebentar.
—
“Kenal.”
—
“Dia kerja apa?”
—
Lama.
—
“…lo siap tau?”
—
Gue langsung jawab.
—
“Gue lebih nggak siap kalau gue nggak tau.”
—
Orang itu ketawa kecil.
Pahit.
—
“Abang lo… kerja di tempat yang lo nggak bakal bangga.”
—
Jantung gue makin kenceng.
—
“Ngomong aja!”
—
“…dia jadi penagih utang.”
—
Gue langsung diem.
—
“Debt collector.”
—
Hujan makin deras.
—
“Dan bukan yang biasa…”
—
“Maksudnya?”
—
“Yang turun ke jalan. Yang berantem. Yang narik motor orang.”
—
Tangan gue gemetar.
—
“Kenapa dia mau kerja begitu…?”
—
“Karena bayarannya gede. Cepet.”
—
Gue langsung duduk di trotoar.
—
“…semua itu buat gue?”
—
“Buat lo. Buat keluarga lo.”
—
Suara di telepon itu jadi pelan.
—
“Abang lo pernah bilang…”
—
“Apa?”
—
“Kalau lo harus kuliah tanpa ngerasa dikasih.”
—
Air mata gue jatuh.
—
Hujan nutupin semuanya.
—
Tiba-tiba gue inget semua luka di tangan dia.
Semua pulang malam.
Semua jawaban pendek.
—
Bukan karena dia nggak mau cerita.
—
Tapi karena dia…
ngelindungin gue.
—
Dan gue…
malah marah.
—
Gue berdiri.
—
Satu hal yang jelas sekarang.
—
Gue nggak bisa cuma nangis.
—
Gue harus balikin semuanya.
—
Sebelum…
terlambat.
Gue balik ke rumah sakit.
Langsung ke ICU.
—
Dokter keluar.
—
“Dok… abang saya gimana?”
—
Dia lihat gue.
—
“Masih kritis.”
—
“…peluangnya?”
—
Dokter diam sebentar.
—
“Kita usahain.”
—
Jawaban paling jujur.
Dan paling nyakitin.
—
Gue masuk.
—
Abang gue masih di situ.
Nggak bergerak.
—
Gue duduk.
Pegang tangannya.
—
“Bang…”
—
Suara gue gemetar.
—
“Lo pikir lo bisa ngerem hidup gue terus?”
—
Air mata jatuh.
—
“Sekarang giliran gue.”
—
Gue tarik napas.
—
“Gue bakal kuliah.”
—
“Gue bakal kerja.”
—
“Gue bakal urus ibu.”
—
“Lo istirahat aja.”
—
Tangan gue makin kenceng pegang dia.
—
“Tapi lo harus bangun.”
—
“Karena… gue belum sempet bales semuanya.”
—
Alat di sebelah bunyi pelan.
“tit… tit…”
—
Gue duduk lama.
Nggak peduli waktu.
—
Sampai akhirnya…
jari dia gerak dikit.
—
Gue langsung bangun.
—
“Bang?”
—
Pelan…
matanya kebuka.
—
“…Ren…”
—
Gue langsung ketawa sambil nangis.
—
“Jangan mati dulu, bang…”
—
Dia senyum tipis.
—
“Belum sempet liat lo pake jas kampus…”
—
Dan di situ…
untuk pertama kalinya…
—
gue ngerasa…
lampu merah gue…
bener-bener mau berubah.
—
Hijau.
—
Bukan karena ditahan lagi.
—
Tapi karena…
gue akhirnya jalan.
Tiga tahun kemudian.
—
Gue berdiri.
Pakai jas almamater.
—
Di depan kampus.
—
Foto-foto.
Orang tua bangga.
—
Ibu gue nangis.
—
Di samping gue…
abang gue.
—
Masih ada bekas luka di tangannya.
—
Tapi sekarang…
dia kerja di tempat yang lebih bersih.
—
Nggak lagi di jalan.
—
Gue lihat dia.
—
“Bang…”
—
“Hmm?”
—
“Dulu… kenapa sih lo harus sampai segitunya?”
—
Dia ketawa kecil.
—
“Karena gue takut…”
—
“Takut apa?”
—
“Kalau lo langsung jalan… lo nggak bakal ngerti rasanya berhenti.”
—
Gue diem.
—
Dia lanjut.
—
“Dan orang yang nggak pernah berhenti…”
—
“…nggak bakal tau cara ngehargain jalan.”
—
Gue senyum.
—
“Cara lo kacau sih, bang.”
—
Dia ketawa.
—
“Tapi berhasil kan?”
—
Gue tarik napas.
Lihat ke depan.
—
“Berhasil.”
—
Dulu gue kira…
yang ngerem hidup gue itu Tuhan.
—
Ternyata bukan.
—
Terus gue kira…
abang gue.
—
Ternyata juga bukan.
—
Yang ngerem hidup gue selama ini…
—
adalah gue sendiri…
yang belum siap jalan.
—
Dan sekarang…
—
gue udah siap.
—
Lampunya udah hijau.
—
Dan kali ini…
gue nggak bakal diem lagi.