| |

ABANG KANDUNGKU SENDIRI YANG MELAKUKANNYA. DIA BANGUN TEMBOK BUAT NUTUP JALAN KE RUMAHKU. DAN DIA SENYUM WAKTU NGELIAT AKU NGGAK BISA MASUK.

Pagi itu panasnya aneh.

Belum jam sembilan, tapi udara di gang sudah pengap. Aspal di depan rumah seperti menguap. Bau semen basah campur debu halus menusuk hidung.

Aku berhenti di ujung gang.

Motor ku matikan.

Sunyi.

Biasanya ada suara ibu-ibu nyapu, anak kecil nangis, atau tukang sayur teriak. Tapi pagi itu… kosong.

Cuma ada satu suara.

“Cetak… cetak… cetak…”

Sekop kena semen.

Aku melangkah pelan.

Sepatu ku menggesek kerikil.

Dan di ujung gang, tepat di depan rumahku…

Tembok itu berdiri.

Tinggi.

Masih basah.

Belum kering sempurna.

Warna abu-abu muda, dengan bekas tangan tukang yang belum sempat dirapikan.

Menutup seluruh jalan masuk.

Aku berdiri.

Diam.

Beberapa detik.

Aku pikir aku salah lihat.

Aku kedip.

Tetap sama.

Aku maju dua langkah.

Tanganku menyentuh permukaannya.

Dingin.

Basah.

Nyata.

“Bang…”

Suaraku kecil.

Nggak ada jawaban.

Aku lihat ke kanan.

Di bawah terpal biru, ada tumpukan semen.

Di kiri, ember besar, airnya masih keruh.

Dan di depan tembok itu…

Abangku berdiri.

Pakai kaos putih yang sudah kotor kena semen.

Celana pendek.

Sendal jepit.

Dia pegang rokok.

Dan dia lagi senyum.

Bukan senyum biasa.

Senyum tipis.

Dingin.

Seolah ini semua… bukan masalah besar.

“Bang… ini apa?”

Aku tanya pelan.

Dia hembuskan asap rokok.

Matanya ke arahku, tapi seperti nggak benar-benar lihat aku.

“Udah gue tutup.”

Aku nggak ngerti.

“Opo maksudnya… ditutup?”

Dia nunjuk tembok itu pakai dagunya.

“Ya itu.”

Dadaku mulai panas.

“Bang… itu jalan ke rumahku.”

Dia ketawa kecil.

“Dulu.”

Aku menelan ludah.

“Sekarang bukan.”

Suara kipas dari rumah tetangga berderit.

Pelan.

Gang tetap sepi.

“Bang… jangan bercanda.”

Aku coba ketawa.

Nggak keluar.

Dia buang rokok ke tanah.

Injak.

“Gue nggak bercanda.”

Tanganku mulai gemetar.

Aku lihat ke atas tembok.

Nggak ada celah.

Nggak ada pintu.

Nggak ada jalan.

“Bang… ini tanah siapa?”

Dia langsung jawab.

“Tanah gue.”

Aku geleng.

“Nggak… ini jalan dari dulu.”

Dia nyengir.

“Dari dulu… bukan berarti selamanya.”

Aku tarik napas panjang.

Panas.

Sesak.

“Bang… rumahku di belakang.”

Dia angkat bahu.

“Ya… itu urusan lo.”

Aku mundur satu langkah.

Nggak percaya.

“Bang… ibu…”

Dia potong.

“Ibu udah nggak ada.”

Kalimat itu jatuh seperti batu.

Keras.

Dingin.

Aku diam.

Beberapa detik.

Suara motor lewat di ujung gang, tapi pelan, seperti jauh.

“Bang… jangan kayak gini.”

Aku bicara lebih pelan.

Lebih dalam.

“Gue nggak punya jalan lain.”

Dia mendekat satu langkah.

Dekat sekali.

Aku bisa lihat keringat di pelipisnya.

Dan matanya…

Kosong.

“Lo punya.”

Dia nunjuk ke belakang.

“Puter sana.”

Aku menoleh.

Belakangku cuma gang sempit, berkelok, dan kalau diputar…

Jaraknya hampir satu kilometer.

Lewat tanah orang.

Lewat jalan yang bahkan motor susah masuk.

“Bang… itu bukan jalan.”

Dia ketawa.

“Sekarang itu jalan lo.”

Aku menelan ludah.

“Kenapa, Bang?”

Pertanyaan itu keluar pelan.

Dia diam.

Nggak jawab.

Cuma lihat aku.

Lama.

Angin panas lewat.

Terpal biru bergerak sedikit.

Suara plastik berisik.

Aku ulang.

“Kenapa?”

Dia tarik napas.

“Lo inget waktu bapak meninggal?”

Dadaku langsung berat.

“Iya…”

“Lo inget siapa yang jaga ibu?”

Aku diam.

“Iya…”

“Lo inget siapa yang bayar semua utang bapak?”

Tanganku mengepal.

“Bang… kita bahas itu baik-baik.”

Dia geleng.

“Udah selesai bahasnya.”

Dia tunjuk tembok itu lagi.

“Ini jawabannya.”

Aku menatapnya.

Lama.

“Bang… ini rumah kita.”

Dia langsung jawab.

“Rumah lo.”

Aku bingung.

“Bang…”

Dia potong lagi.

“Lo yang tinggal di sana. Gue nggak.”

Kalimat itu… aneh.

Ada sesuatu.

Aku belum bisa nangkap.

Tapi ada yang ganjil.

Seperti ada potongan cerita yang hilang.

Aku lihat ke arah tembok lagi.

Di bagian bawah, dekat tanah…

Ada sesuatu.

Bekas kayu.

Seperti dulu pernah ada pagar kecil.

Pintu samping.

Yang sekarang… hilang.

Tertutup semen.

Tanganku menyentuh bagian itu.

Kasar.

Masih lembek.

“Bang… ini dulunya pintu.”

Dia diam.

Nggak jawab.

Aku angkat kepala.

Tatap dia.

“Kenapa ditutup?”

Dia senyum lagi.

Lebih lebar.

“Biar nggak ada yang keluar masuk.”

Kalimat itu bikin bulu kudukku berdiri.

“Siapa yang keluar masuk?”

Dia menatapku.

Lama.

“Lo.”

Aku mundur satu langkah.

Jantungku mulai cepat.

“Bang… gue tinggal di situ.”

Dia angguk.

“Iya.”

“Tapi gue bukan orang luar.”

Dia ketawa kecil.

“Kadang… yang paling dekat itu justru paling jauh.”

Aku nggak ngerti.

Tapi perutku mulai nggak enak.

Seperti ada sesuatu yang selama ini… aku nggak tahu.

Dari dalam rumah tetangga, terdengar suara TV.

Sinetron.

Orang lagi marah-marah.

Ironis.

Aku di sini… juga lagi marah.

Tapi lebih ke bingung.

“Bang… kita ngomong baik-baik.”

Aku mendekat lagi.

“Kalau ada masalah… kita selesain.”

Dia diam.

Beberapa detik.

Lalu dia bilang pelan.

“Udah gue selesain.”

Dia tepuk tembok itu.

“Ini.”

Aku tarik napas dalam.

Panasnya makin terasa.

Keringat di punggung.

“Bang… gue nggak bisa masuk rumah.”

Dia angkat bahu.

“Bukan urusan gue.”

Kalimat itu… terlalu dingin.

Terlalu jauh dari abang yang aku kenal.

Abang yang dulu ngajarin aku naik sepeda.

Yang dulu bela aku waktu aku berantem di sekolah.

Yang dulu…

Selalu di depan.

Sekarang…

Dia berdiri di depan.

Tapi sebagai tembok.

“Bang… lo berubah.”

Aku bilang pelan.

Dia langsung jawab.

“Lo juga.”

Aku kaget.

“Gue?”

Dia mendekat lagi.

Lebih dekat dari tadi.

“Lo pikir gue nggak tahu?”

Dadaku langsung berdebar.

“Tahu apa?”

Dia senyum.

Tapi kali ini…

Ada sesuatu.

Bukan dingin lagi.

Lebih ke… puas.

“Udah… nanti aja.”

Dia mundur.

Ambil ember.

Seolah pembicaraan selesai.

Aku berdiri.

Bingung.

Marah.

Takut.

Semua campur.

“Bang!”

Aku teriak.

Dia berhenti.

Nggak menoleh.

“Gue tanya terakhir…”

Suaraku serak.

“Ini serius?”

Dia diam.

Beberapa detik.

Lalu…

Dia jawab tanpa menoleh.

“Serius.”

Sunyi lagi.

Aku lihat tembok itu.

Tinggi.

Kokoh.

Menutup semuanya.

Bukan cuma jalan.

Tapi juga…

Sesuatunya.

Aku ambil HP.

Tanganku masih gemetar.

Aku buka WhatsApp.

Chat ibu masih ada.

Terakhir…

“Jangan bertengkar sama abangmu.”

Dadaku sesak.

Aku scroll ke atas.

Ada foto lama.

Rumah itu.

Masih terbuka.

Masih ada pagar.

Masih ada jalan.

Sekarang…

Semua hilang.

Aku kunci layar.

Masukkan HP ke saku.

Aku lihat abangku lagi.

Dia sudah mulai nyampur semen.

Seolah aku nggak ada.

Seolah rumah itu…

Bukan urusannya lagi.

Dan di saat itu…

Aku sadar satu hal.

Ini bukan soal jalan.

Bukan soal tanah.

Ada sesuatu yang lebih besar.

Yang selama ini…

Disembunyikan.

Dan aku…

Baru mulai menyadarinya.

Aku nggak langsung pulang.

Aku muter.

Lewat gang belakang yang dibilang abang tadi.

Jalan tanah.

Becek di beberapa bagian.

Ada bekas jejak motor yang nyaris jatuh.

Aku dorong motor pelan.

Mesin mati.

Cuma suara sandal orang lewat, suara ayam, dan napas sendiri yang berat.

Panasnya masih nempel.

Tapi sekarang… rasanya beda.

Lebih sesak.

Lebih sempit.

Seperti aku dipaksa masuk ke jalur yang bukan milikku.

Setelah hampir dua puluh menit muter…

Aku sampai di belakang rumahku.

Pintu kayu itu masih ada.

Catnya sudah mengelupas.

Engselnya berderit waktu aku dorong.

“Creeeek…”

Bau rumah langsung nyambut.

Bau kayu, minyak kayu putih, dan sedikit apek.

Sepi.

Aku masuk pelan.

Langkahku pelan di atas ubin dingin.

Ruang tamu masih sama.

Kipas angin tua di pojok.

Lemari kaca berisi piring-piring ibu.

Dan foto itu.

Foto keluarga.

Aku, abang, ibu.

Bapak nggak ada.

Seperti biasa.

Aku berdiri di depan foto itu.

Tatap lama.

Dulu… kita kelihatan biasa aja.

Nggak kaya.

Nggak miskin banget juga.

Tapi sekarang…

Rasanya semua yang di foto itu… sudah nggak ada.

Aku duduk di kursi kayu.

Kursinya bunyi pelan.

“Tek…”

Tanganku masih gemetar.

Aku ambil HP.

Buka WhatsApp lagi.

Chat ibu.

Scroll.

Scroll lagi.

Berhenti di satu chat.

Tanggalnya… tiga bulan sebelum ibu meninggal.

“Kalau abangmu marah, jangan dilawan. Dia lagi capek.”

Aku menghela napas.

Capek?

Capek sampai nutup jalan?

Nggak masuk akal.

Aku bangkit.

Langsung ke kamar ibu.

Pintu masih setengah terbuka.

Aku dorong.

Pelan.

Di dalam… masih rapi.

Kasur tipis.

Bantal yang sudah agak kempes.

Dan lemari kecil di pojok.

Aku jalan ke sana.

Buka lemari.

Ada baju-baju ibu.

Dilipat rapi.

Seperti masih ditunggu dipakai lagi.

Tanganku menyibak pelan.

Satu per satu.

Sampai…

Aku lihat amplop coklat.

Terselip di bawah tumpukan baju.

Aku tarik.

Berat.

Ada isinya.

Jantungku langsung cepat.

Tanganku dingin.

Aku duduk di kasur.

Buka amplop itu.

Pelan.

Di dalamnya…

Beberapa lembar kertas.

Dan satu foto lama.

Aku ambil fotonya dulu.

Foto lama.

Sudah agak pudar.

Di situ…

Aku kecil.

Abang masih remaja.

Ibu berdiri di tengah.

Dan di belakang…

Ada seseorang.

Laki-laki.

Aku nggak ingat siapa.

Aku kerutkan kening.

“Ini siapa…”

Aku balik fotonya.

Di belakangnya ada tulisan tangan ibu.

“Jangan sampai mereka tahu.”

Dadaku langsung sesak.

Tanganku gemetar.

Aku cepat buka kertasnya.

Kertas pertama.

Surat.

Tulisan tangan ibu.

Aku baca.

Pelan.

“…maafkan ibu…”

Aku berhenti.

Napas tertahan.

Aku lanjut.

“…selama ini ibu sembunyikan…”

Mataku mulai panas.

“…tanah rumah ini sebenarnya bukan sepenuhnya milik kita…”

Aku langsung tegak.

Jantungku berdetak kencang.

“…ada hak orang lain yang belum pernah kita selesaikan…”

Tanganku gemetar makin parah.

Aku lanjut baca.

“…abangmu tahu lebih dulu…”

Aku berhenti lagi.

Kepalaku seperti dipukul.

Abang… tahu?

Dari dulu?

Aku lanjut.

“…dia janji akan menjaga semuanya sampai waktunya tepat…”

Aku tutup mulut.

Napas mulai nggak teratur.

“…tapi ibu takut… kalau kamu tahu dengan cara yang salah…”

Aku diam.

Sunyi.

Cuma suara kipas dari ruang tamu.

Berderit pelan.

Aku balik ke kertas berikutnya.

Fotokopi sertifikat tanah.

Aku lihat nama.

Bukan nama bapak.

Bukan nama ibu.

Nama orang lain.

Nama yang sama dengan tulisan di belakang foto tadi.

Tanganku jatuh ke kasur.

Lemas.

“Ini… apa…”

Semua mulai masuk.

Pelan.

Seperti puzzle.

Abang bilang “tanah gue.”

Bukan karena dia serakah.

Tapi…

Karena…

Aku belum selesai mikir.

Tiba-tiba—

“Duk!”

Suara keras dari depan rumah.

Aku langsung berdiri.

Jantungku lompat.

Langkah cepat ke ruang tamu.

“Duk! Duk!”

Ada yang gedor pintu depan.

Keras.

Aku lari ke sana.

Buka pintu.

Dan di depan…

Abangku berdiri.

Napasnya sedikit terengah.

Matanya langsung ke arahku.

Lalu…

Turun ke amplop di tanganku.

Wajahnya berubah.

Senyumnya hilang.

“Lo udah buka ya…”

Suaranya pelan.

Tapi berat.

Aku diam.

Nggak bisa bohong.

Dia masuk.

Tanpa izin.

Langkahnya cepat.

Langsung ke tengah rumah.

“Harusnya lo nggak lihat itu sekarang.”

Aku akhirnya bicara.

“Ini apa, Bang?”

Suaraku pecah.

Dia diam.

Beberapa detik.

Lalu dia bilang pelan.

“Masalah lama.”

Aku geleng.

“Masalah apa sampai lo nutup jalan ke rumah gue?”

Dia menatapku.

Lama.

Lalu dia bilang sesuatu yang bikin dadaku seperti jatuh.

“Karena… kalau nggak gue tutup…”

Dia tarik napas.

“…mereka bakal datang duluan.”

Aku membeku.

“Mereka… siapa?”

Dia nggak langsung jawab.

Matanya ke arah luar.

Seolah memastikan sesuatu.

Lalu dia mendekat.

Pelan.

Suaranya turun.

“Orang yang punya hak atas tanah ini.”

Tanganku mengepal.

“Bang… kita bisa ngomong.”

Dia geleng.

“Udah telat.”

Kalimat itu dingin.

Final.

Aku mundur satu langkah.

“Telat gimana?”

Dia nggak jawab.

Cuma jalan ke pintu.

Buka sedikit.

Lihat keluar.

Gang masih sepi.

Tapi entah kenapa…

Aku ikut merasa ada sesuatu yang akan datang.

Sesuatu yang…

Nggak bisa kita hindari lagi.

Abang menutup pintu.

Pelan.

Lalu dia bilang tanpa menatapku—

“Mereka udah tahu rumah ini masih ada yang nempatin.”

Jantungku langsung berhenti sesaat.

Aku menelan ludah.

“Terus?”

Dia menoleh.

Tatap aku lurus.

Dan kali ini…

Nggak ada senyum sama sekali.

“Mereka lagi jalan ke sini.”

Suara itu datang duluan.

Bukan orangnya.

Tapi mesinnya.

“Brmmm…”

Pelan.

Masuk ke gang.

Nggak ngebut.

Nggak buru-buru.

Tapi pasti.

Aku dan abang saling lihat.

Nggak ada yang bicara.

Cuma napas yang mulai berat.

“Berapa orang?” aku tanya pelan.

Abang nggak langsung jawab.

Dia geser gorden sedikit.

Ngintip.

Matanya menyipit.

“Tiga motor.”

Dadaku makin kencang.

“Bang… kita bisa jelasin.”

Dia ketawa kecil.

Pendek.

Pahit.

“Lo pikir mereka datang buat denger penjelasan?”

Suara motor makin dekat.

Sekarang jelas.

Satu berhenti.

Lalu satu lagi.

Dan satu lagi.

“Ck…”

Suara standar motor turun.

Langkah kaki.

Sendal gesek tanah.

“Tok… tok… tok…”

Pintu depan diketuk.

Nggak keras.

Tapi bikin jantung lompat.

Aku lihat abang.

Dia berdiri tegak.

Tangan di samping.

Tenang.

Aneh.

Terlalu tenang.

“Bang…”

Aku bisik.

Dia angkat tangan sedikit.

Isyarat diam.

“Tok… tok…”

Ketukan lagi.

Lebih keras.

“Permisi…”

Suara laki-laki.

Berat.

Dewasa.

Bukan orang sembarangan.

Abang jalan ke pintu.

Buka.

Pelan.

Cahaya dari luar masuk.

Siluet tiga orang berdiri.

Dua pakai jaket.

Satu pakai kemeja rapi.

Yang tengah maju sedikit.

Umurnya sekitar lima puluhan.

Rambutnya sudah tipis.

Tapi matanya tajam.

“Selamat siang.”

Suaranya datar.

Abang jawab.

“Siang.”

Mereka saling tatap.

Lama.

Aku berdiri di belakang.

Pegang amplop itu erat.

Tanganku dingin.

“Kami sudah cari rumah ini lama.”

Orang itu bicara pelan.

Matanya geser ke dalam.

Ke arahku.

Ke arah rumah.

Ke arah semua.

Abang nggak jawab.

Cuma berdiri di pintu.

Seperti tembok kedua.

“Kami dengar… sekarang masih ditempati.”

Dia lanjut.

Abang angguk sedikit.

“Iya.”

Orang itu tarik napas.

“Bagus.”

Aku kaget.

Bagus?

Maksudnya apa?

Dia melangkah satu langkah ke depan.

“Biar sekalian kita selesaikan.”

Abang langsung potong.

“Di luar aja.”

Nada suaranya berubah.

Lebih tegas.

Orang itu senyum tipis.

“Kenapa? Takut?”

Abang balas senyum.

Tapi matanya dingin.

“Cuma nggak perlu masuk.”

Beberapa detik hening.

Lalu orang itu angkat tangan.

Dua orang di belakangnya mundur sedikit.

Dia sendiri tetap di depan.

“Baik.”

Dia lihat abang.

Lalu… lihat aku.

Lebih lama.

“Yang di dalam itu… adiknya?”

Aku menelan ludah.

Abang jawab cepat.

“Iya.”

Orang itu mengangguk pelan.

“Berarti… yang belum tahu.”

Dadaku langsung jatuh.

Aku maju satu langkah.

“Maaf, Pak… ini sebenarnya ada apa?”

Orang itu menatapku.

Dalam.

Seperti menilai.

“Nama kamu siapa?”

Aku jawab.

“Rian.”

Dia angguk.

“Rian… kamu tahu rumah ini berdiri di atas tanah siapa?”

Aku diam.

Mulutku kering.

“Pak… kami tinggal di sini dari kecil.”

Dia senyum.

Tipis.

“Banyak orang tinggal di tanah orang lain.”

Kalimat itu… menusuk.

Aku genggam amplop.

“Ini…”

Aku angkat sedikit.

“Ini punya ibu saya.”

Matanya langsung ke amplop.

Lebih tajam.

“Kamu sudah baca?”

Aku mengangguk pelan.

Dia menghela napas.

Seperti akhirnya sampai di titik yang ditunggu.

“Bagus.”

Aku makin bingung.

“Pak… maksudnya apa semua ini?”

Dia melirik abang.

“Dia belum jelasin?”

Abang diam.

Nggak jawab.

Orang itu tertawa kecil.

“Seperti biasa.”

Kalimat itu aneh.

Seperti mereka… sudah saling kenal lama.

Aku lihat abang.

“Bang… lo kenal mereka?”

Abang akhirnya bicara.

Pelan.

“Iya.”

Dadaku makin sesak.

“Sejak kapan?”

Dia nggak jawab.

Orang itu yang jawab.

“Sejak sebelum kamu lahir.”

Aku membeku.

Semua suara di sekitarku seperti hilang.

“Pak… jangan bercanda.”

Suaraku gemetar.

Dia geleng.

“Kami tidak pernah bercanda soal ini.”

Dia melangkah mendekat.

Sekarang jaraknya cuma satu meter dari pintu.

“Dulu… ibu kamu datang ke rumah saya.”

Aku langsung angkat kepala.

Jantungku berdetak keras.

“Dia minta izin.”

Tanganku makin dingin.

“Izin apa?”

Dia menatapku lurus.

“Izin tinggal.”

Aku mundur setengah langkah.

“Di tanah saya.”

Dunia seperti berhenti.

Aku lihat abang.

Dia diam.

Matanya turun.

Nggak berani lihat aku.

“Bang…”

Suaraku hampir nggak keluar.

“Ini benar?”

Dia tetap diam.

Orang itu lanjut.

“Ibu kamu janji… akan mengurus semuanya.”

Dia tarik napas.

“Tapi sampai dia meninggal… tidak pernah selesai.”

Aku langsung potong.

“Pak… kami nggak tahu.”

Dia angguk.

“Saya tahu.”

Dia lihat abang.

“Tapi dia tahu.”

Aku langsung menoleh.

Tatap abang.

“Bang…”

Dia akhirnya angkat kepala.

Matanya… merah.

Tapi bukan karena nangis.

Lebih ke… lelah.

“Gue mau bilang.”

Suaranya pelan.

“Berkali-kali.”

Aku menatapnya.

“Terus kenapa nggak bilang?!”

Suaraku naik.

Pecah.

Dia menutup mata sebentar.

“Karena ibu minta jangan.”

Kalimat itu menghantam.

Aku diam.

Beberapa detik.

Nggak bisa jawab.

Orang itu masuk satu langkah.

Kakinya sekarang di dalam rumah.

Abang nggak tahan.

“Pak… saya bilang di luar.”

Nada suaranya tegas.

Orang itu berhenti.

Angkat tangan sedikit.

“Baik.”

Dia mundur lagi.

“Sekarang saya bicara langsung saja.”

Dia lihat aku.

“Rian… rumah ini bukan milik kalian.”

Dadaku seperti kosong.

“Tanah ini milik keluarga saya.”

Aku menggigit bibir.

“Terus… kami harus bagaimana?”

Dia diam sebentar.

Lalu jawab.

“Kosongkan.”

Satu kata.

Tapi beratnya…

Seperti runtuh semua.

Aku langsung geleng.

“Nggak bisa, Pak.”

Dia angkat alis.

“Kenapa?”

Aku menunjuk ke dalam.

“Ini satu-satunya rumah kami.”

Dia mengangguk pelan.

“Dulu juga satu-satunya tanah kami.”

Sunyi.

Angin masuk dari pintu.

Bawa debu halus.

Abang maju sedikit.

“Pak… kasih waktu.”

Orang itu menatapnya.

“Berapa lama lagi?”

Abang diam.

Nggak langsung jawab.

Aku lihat dia.

Baru kali ini…

Aku lihat dia benar-benar terpojok.

“Gue lagi cari cara.”

Dia bilang pelan.

Orang itu tertawa kecil.

“Cara apa?”

Abang menatapnya.

“Kita bayar.”

Aku kaget.

“Bang?!”

Orang itu langsung senyum.

Lebih lebar.

“Dengan apa?”

Pertanyaan itu… tajam.

Menusuk langsung.

Abang diam.

Beberapa detik.

Lalu dia bilang—

“Dengan bagian gue.”

Aku langsung menoleh.

“Bagian apa?!”

Dia nggak lihat aku.

Cuma fokus ke orang itu.

“Tanah depan.”

Orang itu menyipitkan mata.

Seperti tertarik.

“Yang kamu tutup itu?”

Abang angguk.

Aku langsung sadar.

Tembok itu.

Bukan buat aku.

Bukan buat ngusir aku.

Tapi…

Untuk memisahkan.

Untuk…

Dijual.

Dadaku langsung panas.

“Bang… lo mau jual jalan itu?!”

Dia tetap diam.

Orang itu tersenyum puas.

“Sekarang kita mulai mengerti.”

Dia melangkah mundur.

“Baik. Saya kasih waktu.”

Aku langsung angkat kepala.

Harapan kecil muncul.

“Berapa lama, Pak?”

Dia lihat aku.

Lalu jawab pelan—

“Tiga hari.”

Aku membeku.

“Tiga hari?”

Dia angguk.

“Kalau tidak selesai…”

Dia berhenti.

Tatap rumah ini.

Pelan.

“…kami yang akan selesaikan.”

Dia berbalik.

Jalan ke motor.

Dua orang di belakangnya ikut.

Mesin dinyalakan.

Satu per satu.

“Brmmm…”

Sebelum pergi…

Dia sempat lihat aku sekali lagi.

Lalu pergi.

Suara motor menjauh.

Gang kembali sepi.

Aku berdiri.

Diam.

Nggak bergerak.

Tiga hari.

Cuma tiga hari.

Aku menoleh pelan ke abang.

Tanganku masih gemetar.

“Bang…”

Suaraku serak.

“Bagian lo itu…”

Aku berhenti.

Nelan ludah.

“Cukup nggak buat nutup semua ini?”

Abang nggak langsung jawab.

Dia lihat tembok.

Lalu lihat rumah.

Lalu…

Tatap aku.

Dan untuk pertama kalinya…

Aku lihat ketakutan di matanya.

“Nggak.”

Aku duduk di lantai.

Punggungku nempel ke tembok ruang tamu.

Dingin.

Tapi kepalaku panas.

Tiga hari.

Di kepalaku cuma muter itu.

Tiga hari.

Abang berdiri di dekat pintu.

Diam.

Nggak ngerokok.

Nggak ngomong.

Cuma berdiri.

Seperti orang yang lagi nunggu sesuatu yang dia tahu… bakal buruk.

Kipas angin di pojok masih bunyi.

“krek… krek… krek…”

Gang di luar mulai ramai lagi.

Suara anak kecil.

Suara ibu-ibu.

Seolah dunia… normal.

Padahal di dalam rumah ini…

Semua udah nggak normal.

“Bang…”

Suaraku pelan.

“Kenapa lo nggak bilang dari dulu?”

Dia nggak langsung jawab.

Beberapa detik.

Baru dia duduk.

Di kursi kayu itu.

Yang bunyinya selalu sama.

“tek…”

Dia garuk kepala.

Pelan.

“Ibu minta.”

Jawaban itu lagi.

Aku ketawa kecil.

Kering.

“Semua gara-gara ‘ibu minta’.”

Dia diam.

Nggak bela diri.

Nggak marah.

Itu yang bikin makin sakit.

“Bang… ini bukan masalah kecil.”

Suaraku naik.

“Ini rumah kita!”

Dia angkat kepala.

Tatap aku.

“Ini rumah lo.”

Aku langsung diam.

Kalimat itu… sama seperti tadi pagi.

Sekarang…

Baru mulai masuk.

“Bang… maksud lo apa?”

Dia tarik napas panjang.

Lalu dia berdiri.

Jalan ke lemari kaca.

Buka.

Ambil sesuatu.

Map biru.

Kusut.

Dia lempar ke meja.

“Buka.”

Tanganku ragu.

Tapi aku ambil.

Buka.

Di dalamnya…

Surat.

Akte.

Fotokopi KTP.

Dan satu lembar kertas yang langsung bikin dadaku berhenti.

Surat hibah.

Nama penerima:

Aku.

Bukan kami.

Bukan keluarga.

Cuma aku.

Tanganku gemetar.

“Ini…”

Suaraku hilang.

Abang duduk lagi.

Pelan.

“Itu dari ibu.”

Aku lihat dia.

“Sejak kapan?”

Dia jawab.

“Sejak lo nikah.”

Aku langsung menatapnya.

“Kenapa gue nggak tahu?!”

Dia ketawa kecil.

“Karena lo nggak pernah nanya.”

Aku langsung bangkit.

Emosi naik.

“Bang ini bukan hal kecil yang bisa ditunggu gue nanya!”

Dia tiba-tiba ikut berdiri.

Lebih tinggi.

Lebih keras.

“Gue juga nggak mau nerima itu!”

Sunyi.

Aku kaget.

Dia lanjut.

Suaranya pecah.

“Gue anak pertama.”

Tangannya mengepal.

“Gue yang dari dulu ngurus semuanya.”

Matanya merah.

“Tapi ibu… kasih rumah ke lo.”

Dadaku langsung kosong.

Aku nggak pernah tahu.

Nggak pernah ngerasa.

“Bang… gue nggak minta…”

Dia langsung potong.

“Gue tahu!”

Suaranya keras.

Lalu turun lagi.

Pelan.

“Makanya gue diam.”

Aku berdiri.

Nggak bisa gerak.

Dia jalan pelan.

Muter sedikit.

Seperti nyari kata.

“Waktu ibu sakit…”

Dia mulai.

“Dia panggil gue.”

Aku menelan ludah.

“Dia kasih tahu semua.”

Aku ingat.

Hari itu.

Aku nggak ada.

Aku lagi kerja.

Abang yang jagain.

“Dia bilang…”

Suara abang makin pelan.

“…rumah ini buat lo.”

Aku lihat map itu lagi.

Tanganku makin dingin.

“Terus lo…?”

Dia ketawa kecil.

“Gue bilang… ya udah.”

Aku kaget.

“Segampang itu?”

Dia menggeleng.

“Nggak segampang itu.”

Dia duduk lagi.

“Di hari yang sama… dia juga bilang…”

Dia berhenti.

Tatap aku.

“…tanah ini bukan milik kita.”

Aku langsung menutup mata.

Semua mulai nyambung.

“Dan dia minta…”

Abang lanjut.

“…jangan sampai lo tahu sebelum semuanya beres.”

Aku membuka mata pelan.

“Kenapa?”

Dia menatapku.

Lama.

Lalu jawab—

“Karena kalau lo tahu…”

Dia menarik napas.

“…lo bakal pergi.”

Kalimat itu menghantam.

Aku mundur sedikit.

“Pergi?”

Dia angguk.

“Ibu tahu lo.”

Sunyi.

Aku nggak bisa menyangkal.

Kalau aku tahu dari dulu…

Mungkin aku memang sudah cari tempat lain.

Mungkin aku sudah ninggalin rumah ini.

“Terus lo…?”

Suaraku kecil.

Dia menatap lantai.

“Gue janji beresin semuanya.”

Aku langsung tanya.

“Kenapa nggak beres sampai sekarang?!”

Dia diam.

Lama.

Kipas angin tetap bunyi.

“krek… krek…”

Akhirnya dia jawab.

“Karena orang itu…”

Dia lihat ke arah pintu.

“…nggak pernah mau nerima.”

Aku kaget.

“Maksudnya?”

Dia berdiri lagi.

Ambil satu kertas dari map.

Lempar ke aku.

Aku lihat.

Surat penawaran.

Beberapa kali.

Tanggal berbeda.

Nominal berbeda.

Semua ditolak.

Aku angkat kepala.

“Bang… lo udah coba?”

Dia angguk.

“Dari ibu masih hidup.”

Dadaku makin berat.

“Terus kenapa sekarang dia mau?”

Abang tersenyum tipis.

Pahit.

“Karena sekarang… dia tahu kita kepepet.”

Aku diam.

Semua jelas.

Tembok itu.

Bukan buat ngusir aku.

Tapi buat memisahkan bagian yang bisa dijual.

Supaya ada uang.

Supaya rumah ini tetap ada.

Aku duduk lagi.

Pelan.

“Bang…”

Suaraku lirih.

“Kenapa lo kelihatan kayak musuh tadi?”

Dia ketawa kecil.

Capek.

“Kalau gue kelihatan lemah…”

Dia lihat aku.

“…dia bakal hancurin kita dari awal.”

Aku langsung paham.

Semua sikapnya tadi…

Sengaja.

Semua dinginnya…

Buat lindungi.

Dadaku panas.

Tapi bukan marah lagi.

Lebih ke… nyesel.

“Bang… gue salah.”

Dia geleng.

“Nggak ada yang salah.”

Sunyi lagi.

Beberapa detik.

Aku angkat kepala.

“Terus sekarang gimana?”

Dia diam.

Lalu jawab—

“Gue jual bagian depan.”

Aku langsung geleng.

“Terus jalan ke rumah?”

Dia lihat aku.

“Nanti gue bukain lagi.”

Aku ketawa kecil.

“Kalau dia mau?”

Dia diam.

Itu jawabannya.

Aku berdiri.

Langkah pelan.

Ke arah tembok.

Sentuh.

Masih dingin.

Masih keras.

Tapi sekarang…

Aku tahu kenapa dia ada.

“Bang…”

Aku menoleh.

“Kalau bagian lo nggak cukup…”

Dia langsung jawab.

“Nggak cukup.”

Sunyi.

Aku tarik napas panjang.

Dalam.

Lalu aku bilang pelan—

“Jual aja semuanya.”

Dia langsung menatapku.

Kaget.

“Rumah ini.”

Aku lanjut.

Suaraku gemetar.

“Tapi kita tetap bareng.”

Dia diam.

Matanya berubah.

“Gue nggak peduli rumah.”

Aku lanjut.

“Gue cuma nggak mau kehilangan abang gue.”

Sunyi.

Lama.

Kipas angin tetap bunyi.

“krek… krek…”

Abang menatapku.

Lama.

Matanya mulai basah.

Tapi dia tahan.

Seperti biasa.

“Gue pikir…”

Dia bicara pelan.

“…lo bakal benci gue.”

Aku geleng.

Pelan.

“Gue hampir.”

Aku senyum tipis.

“Untung belum.”

Dia ketawa kecil.

Akhirnya.

Suara itu…

Balik lagi.

Di saat itu—

HP abang bergetar.

“bzzzt…”

Dia ambil.

Lihat layar.

Wajahnya langsung berubah.

Kaku.

“Siapa?” aku tanya.

Dia nggak langsung jawab.

Beberapa detik.

Lalu dia kasih HP itu ke aku.

Di layar…

Ada pesan masuk.

Dari nomor yang tadi.

Isinya cuma satu kalimat.

“Besok siang kita datang bawa notaris. Siapkan keputusan kalian.”

Aku menelan ludah.

Besok.

Bukan tiga hari lagi.

Aku angkat kepala.

Tatap abang.

“Bang…”

Suaraku pelan.

“Kayaknya… kita nggak punya waktu lagi.”

Pagi itu lebih sepi dari kemarin.

Nggak ada tukang sayur.

Nggak ada suara anak sekolah.

Cuma suara kipas di dalam rumah dan detak jam dinding.

“Tik… tik… tik…”

Aku duduk di ruang tamu.

Map biru di pangkuan.

Abang di depan pintu.

Berdiri.

Seperti kemarin.

Tapi kali ini…

Nggak ada tembok di antara kita.

Nggak ada jarak.

Jam menunjukkan hampir jam sebelas.

Belum siang.

Tapi rasanya sudah terlalu lama nunggu.

“Bang…”

Aku buka suara.

Pelan.

“Lo yakin?”

Dia nggak menoleh.

“Iya.”

“Semua?”

Dia tarik napas.

“Iya.”

Sunyi lagi.

Aku lihat sekeliling rumah.

Dinding yang mulai kusam.

Foto ibu.

Kursi kayu.

Semua.

Hari ini… mungkin terakhir.

Tiba-tiba—

“Brmmm…”

Suara motor.

Datang lagi.

Lebih dari kemarin.

Aku berdiri.

Jantung langsung cepat.

Abang buka pintu.

Tanpa ragu.

Di luar…

Orang itu datang lagi.

Dengan dua orang yang sama.

Ditambah satu lagi.

Pria pakai kemeja rapi, bawa tas hitam.

Notaris.

Mereka turun.

Langkah pelan.

Tapi pasti.

“Siang.”

Orang itu menyapa.

Datar.

Abang jawab.

“Siang.”

Aku berdiri di belakangnya.

Kali ini… nggak gemetar seperti kemarin.

Masih takut.

Tapi lebih jelas.

Lebih siap.

“Jadi… sudah diputuskan?”

Orang itu langsung ke inti.

Abang menoleh ke aku sebentar.

Aku angguk.

Pelan.

Dia maju satu langkah.

“Sudah.”

Orang itu tersenyum tipis.

“Bagus.”

Dia memberi isyarat ke notaris.

Tas dibuka.

Berkas dikeluarkan.

Kertas tebal.

Stempel.

Pulpen.

Semua terasa resmi.

Berat.

“Silakan.”

Notaris itu bicara sopan.

“Nanti tinggal tanda tangan saja.”

Aku menelan ludah.

Abang maju.

Tangannya hampir mengambil pulpen—

“Pak.”

Suaraku keluar.

Semua langsung berhenti.

Orang itu menoleh.

“Ya?”

Aku maju.

Pelan.

Pegang map biru itu.

“Boleh saya bicara dulu?”

Dia menyipitkan mata.

Tapi mengangguk.

“Silakan.”

Aku buka map.

Ambil surat hibah.

Tunjukkan.

“Ini rumah atas nama saya.”

Aku bilang pelan.

Tapi jelas.

Orang itu melihat sekilas.

“Ya. Kami tahu.”

Aku lanjut.

“Tapi tanahnya… bukan.”

Dia mengangguk.

“Betul.”

Aku tarik napas.

Dalam.

“Berarti… yang Bapak kejar bukan rumahnya.”

Dia diam.

Nggak jawab.

Aku lanjut.

“Tapi tanahnya.”

Dia tersenyum tipis.

“Ya.”

Aku angguk.

Pelan.

Lalu aku bilang—

“Kalau saya nggak tinggal di sini lagi… gimana?”

Sunyi.

Abang langsung menoleh.

Kaget.

“Rian—”

Aku angkat tangan.

Isyarat sebentar.

Orang itu menatapku.

Lebih serius sekarang.

“Maksud kamu?”

Aku menelan ludah.

“Rumah ini saya kosongkan.”

Abang langsung maju.

“Lo jangan—”

Aku lihat dia.

“Bang. Dengerin dulu.”

Dia diam.

Terpaksa.

Aku balik ke orang itu.

“Kalau kami keluar… rumah ini kosong… Bapak tetap butuh beli?”

Orang itu berpikir.

Sebentar.

Lalu jawab.

“Kami butuh tanahnya bersih.”

Aku angguk.

“Berarti… selama kami pergi… Bapak nggak bisa ganggu?”

Dia menyipitkan mata.

“Pergi ke mana?”

Aku jawab jujur.

“Ke tempat lain.”

Sunyi.

Notaris berhenti menulis.

Dua orang di belakang ikut memperhatikan.

Aku lanjut.

“Kasih kami waktu. Bukan tiga hari.”

Aku tarik napas.

“Satu bulan.”

Abang langsung geleng.

Pelan.

Seperti nggak percaya aku berani ngomong itu.

Orang itu diam.

Lama.

Angin masuk dari luar.

Bawa bau panas siang.

Akhirnya dia bicara.

“Kenapa saya harus percaya?”

Aku genggam map itu.

Lebih kuat.

“Karena selama ini… kami nggak pernah lari.”

Dia menatapku.

Dalam.

Aku lanjut.

“Dan kami nggak akan lari sekarang.”

Sunyi lagi.

Beberapa detik.

Yang terasa lama banget.

Lalu…

Dia tertawa kecil.

Bukan mengejek.

Lebih ke… heran.

“Kamu beda.”

Dia bilang pelan.

Aku diam.

Nggak jawab.

Dia lihat abang.

“Tidak seperti kakakmu.”

Abang nggak bereaksi.

Cuma diam.

Orang itu kembali ke aku.

“Satu bulan.”

Aku langsung angkat kepala.

Harapan muncul.

“Tapi…”

Dadaku langsung tegang lagi.

“…kalau satu bulan tidak ada penyelesaian…”

Dia berhenti.

Tatap lurus.

“…kami ambil tanpa bicara lagi.”

Aku mengangguk.

Cepat.

“Iya, Pak.”

Dia menutup mapnya.

Isyarat ke notaris.

“Batal dulu.”

Notaris langsung rapikan berkas.

Masukkan ke tas.

Aku menoleh ke abang.

Matanya masih nggak percaya.

“Lo yakin?”

Dia bisik.

Aku angguk.

“Iya.”

Orang itu berbalik.

Jalan ke motor.

Sebelum naik…

Dia sempat bilang—

“Jangan sia-siakan kesempatan ini.”

Lalu mereka pergi.

Suara motor menjauh.

Gang kembali sunyi.

Aku berdiri.

Napas masih berat.

Tapi…

Ada rasa lega.

Sedikit.

Abang duduk.

Pelan.

Seperti kakinya lemas.

“Lo gila.”

Dia bilang.

Tapi nadanya… nggak marah.

Aku duduk di sampingnya.

“Lebih baik gila… daripada kehilangan semuanya.”

Dia diam.

Lalu ketawa kecil.

Akhirnya.

“Gue kira hari ini selesai.”

Aku lihat dia.

“Belum.”

Aku senyum tipis.

“Baru mulai.”

SATU BULAN KEMUDIAN

Gang itu masih sama.

Tapi tembok itu…

Sudah nggak ada.

Diganti pagar sederhana.

Ada pintu kecil di tengah.

Aku dorong.

“Creeeek…”

Masuk.

Halaman depan sudah beda.

Lebih rapi.

Lebih lega.

Abang lagi duduk di teras.

Minum kopi.

“Telat.”

Dia bilang santai.

Aku angkat plastik.

“Bawa gorengan.”

Dia langsung berdiri.

“Masuk.”

Aku ketawa kecil.

Aku duduk di sampingnya.

Kami makan.

Diam.

Tapi kali ini…

Diam yang enak.

“Bang…”

Aku buka suara.

“Udah beres semua?”

Dia angguk.

“Udah.”

Aku menoleh.

“Gimana caranya?”

Dia senyum tipis.

“Nego.”

Aku ketawa kecil.

“Segampang itu?”

Dia geleng.

“Nggak.”

Dia minum kopi.

Lalu lanjut.

“Gue jual sebagian tanah depan.”

Aku diam.

Dengerin.

“Ditambah tabungan.”

Aku angguk.

“Ditambah… bantuan.”

Aku menoleh.

“Dari siapa?”

Dia senyum.

“Keluarga.”

Aku kaget.

“Keluarga?”

Dia angguk.

“Yang dulu kita kira… nggak ada.”

Aku terdiam.

Tiba-tiba…

Semua terasa ringan.

Nggak ada lagi tekanan.

Nggak ada lagi ketakutan.

Aku lihat rumah.

Masih sama.

Tapi rasanya…

Berbeda.

Lebih hangat.

Lebih hidup.

“Bang…”

Aku bilang pelan.

“Makasih.”

Dia nggak langsung jawab.

Cuma bilang—

“Gue juga hampir salah.”

Aku senyum.

“Kita berdua hampir.”

Dia ketawa.

Pelan.

Angin sore lewat.

Bawa suara anak-anak.

Dan untuk pertama kalinya sejak lama…

Rumah ini terasa utuh lagi.

Bukan karena temboknya hilang.

Tapi karena…

Kami nggak lagi berdiri di sisi yang berbeda.

Dan di situ…

Aku sadar satu hal.

Kadang yang harus diselamatkan bukan rumahnya.

Tapi orang di dalamnya.

Akhirnya… selesai.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *