DIA SELALU NGOMONG “TUHAN ITU BAIK.” SAMPAI SUATU HARI, DIA DATANG KE RUMAH GUE… DAN MINTA BANTUAN BUAT SESUATU YANG NGGAK PERNAH GUE BAYANGIN.
Aku kenal dia sudah lama.
Namanya Maria Claudia Sitomuhanan.
Di tongkrongan, kami punya panggilan khusus buat dia.
“Anak Om Jes.”
Bukan tanpa alasan.
Setiap hari Minggu? Sudah pasti ibadah.
Kadang bukan cuma Minggu.
Selasa ikut persekutuan.
Kamis ikut doa malam.
Kalau lagi niat, sehari bisa dua kali ibadah.
Pernah sekali aku tanya, setengah bercanda:
“Lu kerja apa ibadah, sih?”
Dia cuma senyum.
Pelan. Tenang.
Kayak orang yang nggak pernah punya masalah.
“Kalau bisa dua-duanya, kenapa nggak?”
Jawaban dia selalu begitu.
Nggak pernah kasar.
Nggak pernah ngegas.
Bahkan waktu motornya diserempet orang di jalan,
dia cuma turun, lihat spionnya patah,
terus bilang,
“nggak apa-apa, hati-hati ya lain kali.”
Orang yang nyerempet malah bingung sendiri.
Di Instagram?
Jangan ditanya.
Caption foto dia selalu ada ayat.
Foto kopi — ada ayat.
Foto hujan — ada ayat.
Foto sepatu baru — tetap ada ayat.
“Puji Tuhan untuk berkat hari ini.”
“Segala sesuatu indah pada waktunya.”
Aku pernah iseng komen:
“Lu beli gorengan juga pakai ayat nggak?”
Dia balas pakai emoji senyum.
Nggak pernah marah.
Makanya kami semua sepakat.
Dia ini… terlalu baik.
Sampai kadang terasa nggak manusiawi.
Dan justru itu yang bikin kami… nggak pernah curiga.
Sampai satu hari… semuanya berubah.
—
Sore itu hujan baru berhenti.
Aspal depan rumah masih basah.
Air masih netes dari ujung genteng.
Aku lagi duduk di teras, scroll HP, nunggu adzan Maghrib.
Notifikasi WhatsApp masuk.
Nama pengirim: Maria.
Jarang dia chat duluan.
“Lu di rumah?”
“Di. Kenapa?”
Typing…
Lama.
“Hari ini bisa ketemu nggak?”
Aku langsung ngerasa ada yang aneh.
Biasanya dia santai.
Ini… kayak orang yang lagi nahan sesuatu.
“Bisa. Sini aja.”
Centang dua.
Lama nggak dibalas.
Baru lima menit kemudian:
“Oke. Gue ke sana.”
—
Setengah jam kemudian dia datang.
Jas hujannya masih basah.
Rambutnya agak lepek.
Tapi bukan itu yang bikin aku kaget.
Matanya.
Sembab.
Kayak habis nangis.
Dia duduk di kursi plastik teras.
Aku kasih air minum.
Dia pegang gelasnya…
tapi nggak diminum.
Tangannya sedikit gemetar.
“Lu kenapa?”
Dia tarik napas panjang.
“Gue mau cerita sesuatu.”
Suasana langsung berubah.
Sunyi.
Cuma suara kipas dari dalam rumah,
dan anak-anak main di ujung gang.
“Gue… lagi pacaran.”
Aku angkat alis.
“Ya bagus lah.”
“Udah hampir setahun.”
Aku mulai mikir.
Selama ini dia nggak pernah cerita.
“Kenapa baru sekarang?”
Dia nunduk.
“Karena… gue tahu lu bakal kaget.”
Aku ketawa kecil.
“Lu pacaran sama siapa emang? Presiden?”
Dia nggak ketawa.
Dia cuma angkat kepala.
Tatap aku.
“Namanya Muhammad Fahri Setiawan.”
—
Aku diam.
Bukan karena masalah beda.
Tapi karena… ini Maria.
Orang yang hidupnya ibadah, ayat, doa.
“Lu serius?”
Dia ngangguk.
“Orang rumah tahu?”
Dia langsung geleng.
“Jangan sampai tahu.”
Nada suaranya berubah.
Ini bukan cerita biasa.
Ini masalah.
“Kenapa bisa…?”
Dia ngerti maksudku.
“Gue kenal dia di kantor.”
Dia mulai cerita.
Pelan. Terpotong-potong.
“Dia nggak banyak ngomong… tapi selalu ada.”
“Waktu gue sakit, dia yang anter.”
“Waktu gue lembur, dia yang nunggu.”
Matanya mulai basah lagi.
“Dia… baik banget.”
Aku tarik napas.
“Iya… tapi lu tahu ini bakal ribet, kan?”
“Tahu.”
Cepat. Tegas.
“Makanya gue nggak pernah cerita.”
Aku diam sebentar.
“Kenapa lu cerita ke gue? Bukan ke teman yang lain?”
Dia menggeleng pelan.
“Semua teman gue kenal keluarga gue, bro.”
“Satu orang tahu… besoknya bokap gue sudah tahu.”
“Cuma lu yang aman.”
Aku nggak bisa jawab apa-apa.
Angin sore masuk.
Bawa bau tanah basah.
“Dia tahu lu…?”
“Tahu.”
“Terus?”
Dia diam.
Lama.
“Dia bilang nggak masalah.”
Aku refleks ketawa kecil.
“Di awal doang biasanya gitu.”
Dia langsung tatap aku tajam.
“Dia beda.”
Aku langsung diam.
“Dia nggak pernah maksa gue berubah.”
“Dia nggak pernah bahas agama.”
“Dia cuma… ada.”
Aku mulai ngerti.
Ini sudah dalam.
“Terus sekarang kenapa cerita?”
Dia genggam gelas lebih kuat.
“Karena… gue nggak tahu harus gimana.”
Dan kalimat berikutnya…
langsung bikin dadaku sesak.
“Gue… hamil.”
—
Semua suara tiba-tiba terasa jauh.
“Udah berapa lama?”
Dia menghela napas.
“Gue tahu dari tiga minggu lalu.”
“Baru sekarang berani cerita.”
Aku diam.
Tiga minggu dia nahan ini sendirian.
“Dia tahu?”
Dia ngangguk.
“Reaksi dia?”
“Dia mau tanggung jawab.”
Aku sedikit lega.
“Tapi…”
Suaranya kecil.
“Dia minta gue ikut dia.”
Aku langsung paham maksudnya.
“Lu…?”
Dia langsung geleng.
“Aku nggak bisa.”
Air matanya jatuh.
“Aku nggak bisa ninggalin semuanya…”
Aku diam.
Ini sudah bukan soal cinta.
Ini soal hidup.
“Terus dia?”
“Dia tetap mau tanggung jawab.”
Aku kaget.
“Serius?”
Dia ngangguk.
“Tapi…”
Dia berhenti sebentar.
“…dia nggak mau nikah.”
—
Aku langsung tegak.
“Kenapa?”
Dia jawab pelan.
“Kalau gue tetap di agama gue… dia nggak mau nikah.”
Sunyi.
Berat.
“Jadi pilihan lu cuma dua?”
Dia mengangguk.
“Ninggalin semuanya… atau… ngebesarin anak ini sendiri.”
Tangisnya akhirnya pecah.
“Gue nggak tahu harus ke siapa…”
Adzan Maghrib mulai terdengar.
Aku cuma bisa diam.
Dia berdiri.
Ambil helm.
“Gue pulang.”
“Lu masih ketemu dia?”
Dia berhenti.
“Besok.”
“Di mana?”
“Rumah sakit.”
Aku langsung maju.
“Ngapain?”
Dia menoleh.
Matanya kosong.
Bukan takut.
Bukan ragu.
Tapi… capek.
Capek yang sudah tiga minggu dia tahan sendirian.
Dan kalimat terakhir itu…
bikin gue langsung dingin.
“Besok… semuanya selesai.”
Besoknya… gue nggak bisa tenang.
Sejak dia bilang “semuanya selesai”…
kepala gue nggak berhenti mikir.
Jam 8 pagi, gue sudah di depan rumah sakit.
Bukan karena dia minta ditemenin.
Tapi karena… gue nggak yakin dia harus jalanin ini sendirian.
—
Ruang tunggu rumah sakit itu dingin.
Bau obat.
Suara langkah kaki.
Perawat bolak-balik.
Dan di salah satu kursi pojok…
Maria duduk sendirian.
Pakai jaket.
Kepalanya sedikit nunduk.
Tangannya saling menggenggam.
Kayak orang yang lagi nahan sesuatu…
biar nggak pecah.
Gue pelan-pelan mendekat.
“Maria.”
Dia kaget sedikit.
Angkat kepala.
Dan begitu lihat gue…
wajahnya langsung berubah.
Bukan marah.
Bukan kaget.
Tapi… lega.
“Lu… ngapain ke sini?”
Gue duduk di sebelahnya.
“Nemenin.”
Dia langsung geleng.
“Nggak usah, bro…”
Suaranya kecil.
“Ini urusan gue.”
Gue diam sebentar.
Terus bilang pelan:
“Iya. Tapi lu nggak harus sendirian.”
—
Dia nggak jawab.
Cuma nunduk lagi.
Tangannya makin kuat saling menggenggam.
“Dia mana?”
Pertanyaan itu keluar begitu aja.
Maria diam.
Beberapa detik.
Lalu jawab:
“Di dalam.”
“Ngapain?”
“Ngurus administrasi.”
Gue langsung nengok ke arah loket.
Dan di situ…
gue lihat dia.
Seorang laki-laki berdiri di depan meja administrasi.
Kemeja rapi.
Celana hitam.
Posturnya tenang.
Nggak keliatan panik.
Nggak keliatan takut.
Kalau orang lihat sekilas…
nggak akan nyangka dia lagi ada di situ untuk hal seperti ini.
“Itu dia?” gue tanya pelan.
Maria cuma ngangguk.
—
Beberapa menit kemudian, dia jalan ke arah kami.
Langkahnya santai.
Terukur.
Dia berhenti di depan Maria.
Lalu lihat gue.
Sebentar.
“Temannya?”
Maria langsung jawab cepat.
“Iya.”
Dia ngangguk.
Lalu duduk di kursi sebelah.
Dekat. Tapi terasa jauh.
“Sudah diurus,” katanya singkat.
Nggak ada emosi.
Nggak ada nada ragu.
Kayak orang yang lagi ngurus sesuatu yang… biasa.
Gue langsung ngerasa nggak enak.
“Mas yakin?”
Dia nengok ke gue.
Tatapannya datar.
“Ini keputusan kami.”
Jawabannya cepat.
Terlalu cepat.
—
Maria langsung nunduk lagi.
Tangannya gemetar.
Gue lihat itu jelas.
Tapi dia… nggak lihat.
Atau mungkin… pura-pura nggak lihat.
“Lu yakin, Maria?”
Gue sengaja nanya langsung.
Dia diem.
Lama.
Terus jawab pelan:
“Ini yang terbaik.”
Tapi suaranya…
nggak kedengeran kayak orang yang yakin.
—
Tiba-tiba laki-laki itu ngomong lagi.
“Kalau ini nggak dilakukan sekarang… nanti makin susah.”
Nada suaranya tetap tenang.
Terlalu tenang.
“Dan kita sudah sepakat.”
Gue langsung nengok ke Maria.
“Sepakat?”
Maria nggak langsung jawab.
Itu aja sudah cukup buat gue ngerti.
—
“Mas,” gue tahan emosi,
“ini bukan cuma soal gampang atau susah.”
Dia langsung potong.
“Ini soal masa depan.”
Cepat.
Tegas.
“Kalau dia ikut saya, semua selesai baik-baik.”
Sunyi.
“Kalau tidak…”
Dia nggak lanjutin.
Tapi semua orang di situ ngerti maksudnya.
—
Maria tiba-tiba berdiri.
“Udah.”
Suaranya pelan… tapi tegas.
“Jangan dibahas lagi.”
Dia lihat gue.
Matanya merah.
“Gue sudah mutusin.”
Kalimat itu jatuh… berat.
—
Perawat keluar dari ruangan.
“Maria Claudia?”
Kami bertiga langsung nengok.
“Silakan masuk.”
—
Maria ambil tasnya.
Tangannya gemetar.
Dia jalan satu langkah.
Berhenti.
Noleh ke gue.
Lama.
Dan di mata itu…
gue akhirnya lihat sesuatu yang dari tadi dia tahan.
Takut.
Bukan ragu.
Tapi takut.
Takut sama keputusan yang dia sendiri ambil.
—
“Maria.”
Gue panggil pelan.
Dia diam.
Nggak gerak.
“Kalau lu jalan sekarang…”
gue tahan napas sebentar,
“…lu nggak bisa balik lagi.”
Sunyi.
Semua suara di rumah sakit itu…
tiba-tiba terasa hilang.
—
Laki-laki itu berdiri.
“Nggak usah dipersulit.”
Nada suaranya mulai berubah.
“Ini sudah keputusan dia.”
—
Maria masih berdiri di tempat.
Nggak maju.
Nggak mundur.
Cuma diam.
Dan detik itu…
terasa lama banget.
—
Sampai akhirnya…
dia pelan-pelan…
mundur satu langkah.
—
Laki-laki itu langsung kaku.
“Apa maksudnya?”
Suaranya berubah.
Untuk pertama kalinya… ada emosi.
—
Maria nggak jawab.
Air matanya jatuh lagi.
Satu.
Dua.
Dia cuma bilang pelan:
“Aku… nggak bisa.”
—
Sunyi.
Berat.
Dan kalimat berikutnya…
bikin suasana langsung berubah total.
Dia lihat laki-laki itu.
Dalam.
Dan bilang:
“Kalau kamu nggak mau nikah karena aku tetap di keyakinanku…”
napasnya gemetar,
“…aku yang akan pergi.”
—
Laki-laki itu langsung berdiri.
“Kamu pikir gampang?”
Nada suaranya naik.
“Ini bukan soal kamu saja!”
—
Maria nggak mundur lagi.
Justru kali ini…
dia berdiri lebih tegak.
Dan untuk pertama kalinya sejak kemarin…
suaranya terdengar kuat.
“Ini memang bukan cuma soal aku.”
Dia pegang perutnya pelan.
“Ini juga soal anak ini.”
—
Gue langsung diam.
Dan di detik itu…
gue sadar.
Keputusan dia…
sudah berubah.
—
Perawat masih berdiri di depan pintu.
Nunggu.
Bingung.
“Jadi… masuk atau tidak?”
—
Maria lihat pintu itu.
Lama.
Sangat lama.
—
Lalu dia menggeleng pelan.
“Tidak.”
—
Dan dari belakang gue…
gue dengar laki-laki itu bilang sesuatu.
Pelan.
Tapi cukup jelas untuk bikin gue merinding.
“Kalau kamu keluar dari sini…”
dia berhenti sebentar,
“…jangan pernah cari saya lagi.”
—
Maria nggak jawab.
Dia cuma jalan…
melewati pintu itu.
Keluar.
—
Dan saat dia lewat di depan gue…
dia bilang pelan:
“Bro…”
gue nengok,
“…tolong temenin gue ke rumah.”
—
Di luar rumah sakit…
hujan mulai turun lagi.
Pelan.
Dingin.
Dan gue tahu…
ini belum selesai.
Bahkan…
ini baru mulai. 🔥
Perjalanan pulang… sunyi.
Nggak ada yang ngomong.
Hujan turun pelan.
Wiper mobil bunyi teratur.
Maria duduk di sebelah gue.
Natap ke depan.
Tangannya masih gemetar.
Tapi kali ini… bukan karena ragu.
Lebih ke…
habis perang.
—
“Lu yakin?”
Akhirnya gue nanya.
Dia nggak langsung jawab.
Beberapa detik.
Lalu pelan:
“Gue nggak tahu ini benar atau nggak…”
Dia tarik napas.
“Tapi gue tahu… gue nggak sanggup kalau harus hidup dengan itu seumur hidup.”
Gue ngerti maksudnya.
Dan jujur…
gue nggak punya jawaban buat itu.
—
Sampai di depan rumahnya.
Rumah sederhana.
Catnya mulai pudar.
Lampu teras nyala.
Tapi pintunya… terbuka.
Gue langsung ngerasa nggak enak.
“Lu cerita ke orang rumah?”
Maria langsung geleng cepat.
“Nggak.”
—
Baru satu langkah dia turun dari mobil…
suara dari dalam rumah langsung keluar.
“MARIA!”
Suara laki-laki.
Keras. Tegas.
Bapaknya.
Maria langsung kaku.
Gue bisa lihat dari samping…
napasnya berubah.
—
Seorang pria keluar dari dalam rumah.
Umur sekitar 50-an.
Kaos oblong.
Wajah tegang.
Matanya langsung ke Maria.
Tajam.
“Kamu dari mana?”
Maria nggak jawab.
“DARI MANA?!”
Nada suaranya naik.
Tetangga mulai ada yang nengok.
—
Gue turun dari mobil.
Niatnya mau bantu nenangin.
“Om, saya—”
“INI URUSAN KELUARGA SAYA.”
Langsung dipotong.
Keras.
Gue langsung diem.
—
Ibunya keluar dari dalam.
Wajahnya panik.
“Udah, jangan di luar… masuk dulu…”
Tapi bapaknya nggak bergerak.
Tatapannya masih ke Maria.
“Kamu pikir Bapak nggak tahu?”
Kalimat itu… langsung bikin suasana beda.
Maria langsung angkat kepala.
“Pa…”
Suaranya kecil.
—
Bapaknya ketawa kecil.
Tapi bukan ketawa senang.
Ketawa… yang sakit.
“Kamu kira kamu bisa sembunyi terus?”
Maria mundur setengah langkah.
Tangannya mulai gemetar lagi.
—
“Siapa dia?”
Sunyi.
“NAMA DIA SIAPA?!”
Suara itu… pecah.
Tetangga makin banyak yang ngelirik.
—
Maria akhirnya jawab.
Pelan.
“Hafri…”
“SIAPA?!”
“Muhammad Fahri Setiawan…”
—
Sunyi.
Dan detik berikutnya…
tamparan itu terdengar jelas.
PLAK.
Maria langsung goyang.
Gue refleks maju.
“OM!”
Ibunya langsung teriak.
“JANGAN!”
—
“INI YANG KAMU LAKUKAN DI BELAKANG KAMI?!”
Bapaknya sudah nggak bisa nahan.
Suaranya gemetar… tapi bukan karena lemah.
Karena marah.
—
Maria nggak nangis.
Dia cuma pegang pipinya.
Pelan.
Dan untuk pertama kalinya…
dia ngomong tanpa nunduk.
“Iya.”
—
Gue langsung merinding.
—
Bapaknya kayak nggak percaya.
“Iya…?”
Dia mendekat.
Lebih dekat.
“DAN KAMU NGAPAIN HARI INI?”
Pertanyaan itu… lebih berat dari sebelumnya.
Maria diam.
—
Ibunya mulai nangis.
“Maria… jawab… kamu ke mana tadi…?”
—
Maria tarik napas.
Dalam.
Lama.
Lalu bilang:
“Tadi aku ke rumah sakit.”
—
Sunyi.
Hening total.
—
Ibunya langsung lemas.
Pegang pintu.
“Rumah sakit…?”
Suaranya hampir nggak keluar.
—
Bapaknya nggak ngomong.
Cuma lihat.
Tatap.
Dan semua orang di situ tahu…
dia sudah mulai ngerti.
—
“Kamu… sakit?”
Ibunya nanya.
Masih berharap.
Masih denial.
—
Maria geleng pelan.
Air matanya jatuh lagi.
—
Dan kalimat berikutnya…
jatuh pelan.
Tapi efeknya…
lebih keras dari tamparan tadi.
“Aku… hamil.”
—
Ibunya langsung jatuh duduk.
Nangis.
Bukan nangis biasa.
Tapi nangis yang… hancur.
—
“Ya Tuhan…”
—
Bapaknya mundur satu langkah.
Kayak kehilangan keseimbangan.
Tangannya gemetar.
Tapi dia masih berdiri.
Masih berusaha kuat.
—
“Sudah berapa lama?”
Suaranya sekarang… pelan.
Tapi justru itu yang bikin lebih takut.
—
“Sebulan lebih…”
—
Bapaknya langsung ketawa kecil lagi.
Tapi kali ini…
lebih kosong.
“Bagus…”
Dia angguk pelan.
“Bagus sekali.”
—
Gue bisa lihat…
ini bukan lagi marah biasa.
Ini sudah… kecewa yang dalam banget.
—
“Dan kamu… mau apa sekarang?”
Maria diam.
Beberapa detik.
Lalu jawab:
“Aku mau tanggung jawab.”
—
“Caranya?”
—
Sunyi.
—
“Aku akan jaga anak ini.”
—
Ibunya langsung nangis lebih keras.
“Jaga…?”
“Terus nama keluarga kita?!”
—
Bapaknya langsung angkat tangan.
Ibunya diam.
—
Dia lihat Maria.
Lama.
Dalam.
“Dia mau nikah?”
—
Maria diam.
Itu saja… sudah jadi jawaban.
—
Bapaknya langsung menghela napas panjang.
Panjang banget.
Kayak buang semua harapan terakhir.
—
“Jadi kamu pilih… dia?”
—
Maria geleng.
“Aku pilih… anak ini.”
—
Sunyi.
Berat.
—
Dan kalimat bapaknya berikutnya…
bikin gue langsung ngerti…
ini bakal jadi lebih parah.
“Kalau kamu keluar dari jalan ini…”
dia berhenti sebentar,
“…jangan bawa nama saya lagi.”
—
Ibunya langsung teriak.
“PA?!”
—
Tapi dia nggak peduli.
Tatapannya tetap ke Maria.
—
“Pilih sekarang.”
—
Gue langsung tegang.
Ini… bukan lagi drama.
Ini sudah ultimatum.
—
Maria berdiri diam.
Di antara pintu rumah…
dan jalan.
Di antara keluarga…
dan masa depan yang nggak jelas.
—
Hujan masih turun.
Pelan.
Tapi dinginnya… mulai terasa.
—
Dan di detik itu…
Maria melakukan sesuatu…
yang bikin gue sadar…
semuanya benar-benar berubah.
—
Dia melangkah.
Pelan.
Satu langkah.
—
Bukan ke dalam rumah.
—
Tapi… ke arah gue.
—
“Bro…”
Suaranya gemetar.
“Tolong…”
—
Gue langsung ngerti.
—
Dan dari belakang…
gue dengar ibunya teriak histeris.
“MARIA JANGAN!!!”
—
Tapi Maria nggak berhenti.
—
Dan sebelum dia masuk ke mobil…
dia bilang satu kalimat…
yang bikin suasana langsung hancur total.
—
“Aku nggak mau hidup dalam kebohongan lagi.”
—
Pintu mobil tertutup.
Dan di kaca spion…
gue lihat bapaknya berdiri diam.
Nggak ngejar.
Nggak teriak lagi.
—
Cuma berdiri.
Dan itu… justru lebih ngeri.
—
Gue nyalain mobil.
Pelan.
—
Dan saat mobil mulai jalan…
Maria tiba-tiba ngomong.
Pelan banget.
—
“Bro…”
gue nengok sedikit,
“…kayaknya ini belum selesai.”
—
Gue langsung ngerasa dingin.
“Kenapa?”
—
Dia lihat ke depan.
Kosong.
—
Dan kalimat berikutnya…
bikin gue sadar…
masalah ini jauh lebih besar dari yang gue kira.
—
“Dia tadi… sempat bilang sesuatu.”
—
Gue diam.
Nunggu.
—
“Aku nggak tahu dia serius atau nggak…”
—
Hujan makin deras.
—
“Tapi dia bilang…”
napasnya mulai berat,
“…kalau aku keluar dari rumah sakit itu…”
—
dia berhenti sebentar,
—
“…aku bakal nyesel seumur hidup.”
—
Gue langsung genggam setir lebih kuat.
—
Dan entah kenapa…
gue punya firasat buruk.
—
ini belum selesai. 🔥
Malam itu… Maria nggak pulang.
Dia ikut gue.
Bukan karena dia mau.
Tapi karena… dia sudah nggak punya tempat untuk balik.
—
Rumah gue kecil.
Ruang tamu, kipas tua, lampu kuning redup.
Dia duduk di ujung sofa.
Masih pakai jaket.
Masih diam.
—
“Lu mau makan?”
Dia geleng.
“Minum?”
Geleng lagi.
—
Gue akhirnya duduk di depan dia.
“Lu boleh nangis, loh.”
Dia malah senyum kecil.
Aneh.
Capek.
“Gue sudah nangis dari kemarin, bro…”
Suaranya pelan.
“…sekarang sudah nggak keluar lagi.”
—
Sunyi.
Cuma suara kipas yang bunyi “tek… tek… tek…”
—
Tiba-tiba HP Maria bunyi.
Notifikasi masuk.
Nama yang muncul…
Fahri.
—
Maria langsung kaku.
Tangannya pelan ambil HP.
Tapi dia nggak langsung buka.
Kayak takut.
—
“Angkat,” gue bilang pelan.
Dia tarik napas.
Lalu… buka chatnya.
—
Pesan pertama:
“Kamu di mana?”
Pesan kedua langsung nyusul:
“Kita belum selesai.”
—
Gue langsung ngerasa nggak enak.
Nada kalimatnya…
nggak kayak tadi pagi.
—
Maria ngetik.
Pelan.
“Aku lagi di rumah teman.”
Centang dua.
Langsung dibaca.
—
Balasan datang cepat.
Terlalu cepat.
“Teman yang di rumah sakit tadi?”
—
Gue langsung nengok ke Maria.
Maria juga nengok ke gue.
Pelan.
—
“Dia tahu lu…” gue bisik.
Maria langsung geleng.
“Gue nggak pernah bilang…”
—
HP-nya bunyi lagi.
“Kamu pikir saya nggak tahu kamu ke mana?”
—
Dingin.
Bener-bener dingin.
—
Maria mulai panik.
Jarinya gemetar.
“Dia… tahu gimana?”
—
Gue langsung ambil HP gue.
Cek sekitar.
Refleks.
Nggak ada apa-apa.
Tapi perasaan gue… sudah nggak enak.
—
Pesan masuk lagi.
“Kamu keluar dari rumah sakit tanpa ngomong apa-apa.”
“Dan sekarang kamu lari.”
—
Maria langsung ngetik cepat:
“Aku nggak lari.”
—
Balasan:
“Kamu lari dari tanggung jawab.”
—
Gue langsung kesel.
“Ini orang ngomong tanggung jawab tapi dia sendiri—”
Maria angkat tangan.
Nyuruh gue diam.
—
Dia fokus ke HP.
Kayak lagi berhadapan langsung sama dia.
—
Pesan berikutnya masuk.
Lebih panjang.
—
“Saya sudah siapkan semuanya hari ini.”
“Saya sudah bayar.”
“Saya sudah ambil risiko.”
“Dan kamu batalkan begitu saja.”
—
Nada pesannya…
berubah.
—
Bukan lagi lembut.
Bukan lagi “baik banget” yang dia ceritakan kemarin.
—
Ini… dingin.
Menekan.
—
Maria ngetik pelan:
“Ini tubuh aku.”
“Ini keputusan aku.”
—
Beberapa detik…
nggak ada balasan.
—
Tapi justru itu…
yang bikin lebih tegang.
—
Lalu…
HP-nya bunyi lagi.
—
“Baik.”
—
Cuma satu kata.
—
Gue langsung ngerasa…
ini nggak beres.
—
Dan benar.
Pesan berikutnya langsung masuk.
—
“Kalau begitu, saya juga punya keputusan.”
—
Maria langsung diam.
Nggak ngetik.
Nggak gerak.
—
Pesan terakhir…
muncul pelan di layar.
—
“Mulai sekarang, kamu tanggung semuanya sendiri.”
—
Sunyi.
—
Gue lihat Maria.
Dia nggak nangis.
Nggak marah.
—
Cuma… kosong.
—
Tapi belum selesai.
—
HP-nya bunyi lagi.
Kali ini… bukan chat.
—
Telepon.
—
Nama yang muncul tetap sama.
Fahri.
—
Maria ragu.
Beberapa detik.
—
Lalu… dia angkat.
—
“Halo…”
Suaranya kecil.
—
Gue nggak dengar suara di seberang.
Tapi gue bisa lihat dari wajah Maria…
ada sesuatu yang berubah.
—
“Jangan… gitu.”
Dia langsung ngomong.
Cepat.
—
Gue langsung tegang.
—
“Jangan bawa-bawa orang tua aku…”
—
Jantung gue langsung turun.
—
Beberapa detik.
Maria cuma diam.
Dengerin.
—
Lalu…
wajahnya berubah.
Pucat.
—
“Lu tahu dari mana alamat rumah aku?”
—
Gue langsung berdiri.
—
Sunyi.
—
Maria cuma dengerin.
Nggak ngomong.
—
Dan kalimat terakhir dari telepon itu…
walaupun gue nggak dengar langsung…
gue tahu dari ekspresi Maria…
itu buruk.
—
Sangat buruk.
—
Telepon ditutup.
—
Maria langsung duduk.
Lemah.
—
“Dia bilang apa?”
Gue tanya.
—
Maria nggak langsung jawab.
Dia cuma lihat ke depan.
Kosong.
—
Beberapa detik.
—
Lalu…
dia ngomong pelan.
—
“Dia tahu rumah gue…”
—
Gue langsung merinding.
—
“Dan…?”
—
Maria menelan ludah.
—
“Dia bilang… kalau gue nggak balik…”
—
napasnya mulai berat,
—
“…dia yang akan datang.”
—
Sunyi.
—
Gue langsung lihat ke pintu rumah.
Refleks.
—
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini mulai…
gue ngerasa…
ini bukan cuma soal hubungan.
—
Ini sudah mulai… bahaya.
—
Di luar…
hujan masih turun.
—
Tapi entah kenapa…
malam itu terasa lebih dingin dari biasanya.
—
Dan gue punya firasat…
—
dia benar-benar akan datang. 🔥
Dia buka sesuatu di HP-nya.
Lalu dia tunjukkan ke Maria.
“Kalau kamu pilih jalan ini…”
“…kamu siap tanggung ini juga?”
Maria lihat layar itu.
Dan detik itu…
wajahnya langsung berubah.
Pucat.
Lebih pucat dari tadi di rumah sakit.
Tangannya gemetar.
“Lu… dapat itu dari mana…?”
Gue langsung mendekat.
Dan begitu gue lihat…
gue langsung ngerti.
—
Itu foto.
Maria.
Di dalam kamar.
Di atas kasur.
Dengan Fahri.
—
Sunyi.
Bener-bener sunyi.
—
Fahri ngomong pelan:
“Kalau ini sampai ke keluarga kamu…”
“…atau ke gereja kamu…”
dia berhenti sebentar,
“…kamu tahu apa yang terjadi.”
—
Gue langsung maju.
“Lu ancam dia?”
—
Fahri nengok ke gue.
Tenang.
“Bukan ancaman.”
—
Dia balik ke Maria.
—
“Ini konsekuensi.”
—
Maria nangis.
Akhirnya pecah.
Bukan nangis pelan lagi.
Tapi nangis yang… hancur.
—
“Kenapa kamu gini…?”
—
Fahri diam sebentar.
Lalu jawab:
“Karena kamu yang mulai ini.”
—
Kalimat itu… kejam.
—
Maria jatuh duduk.
Nangis.
Tangannya nutup wajah.
—
Dan di situ…
gue lihat sesuatu yang dari tadi gue nggak lihat.
—
Bukan takut.
—
Tapi… sadar.
—
Sadar kalau selama ini…
dia salah orang.
—
“Udah.”
Suaranya pelan.
Tapi kali ini…
berbeda.
—
Dia berdiri.
Masih nangis.
Tapi matanya…
tegas.
—
“Sebarin aja.”
—
Sunyi.
—
Gue langsung nengok ke dia.
—
Fahri juga diam.
—
“Sebarin,” Maria ulangi.
“Kalau itu yang bikin kamu tenang… lakuin.”
—
Air matanya masih jatuh.
Tapi dia nggak mundur.
—
“Aku capek takut.”
—
Kalimat itu…
langsung ngebunuh suasana.
—
Sunyi total.
—
Fahri lihat dia.
Lama.
—
Dan untuk pertama kalinya…
gue lihat dia kehilangan sesuatu.
—
Kontrol.
—
Beberapa detik…
nggak ada yang ngomong.
—
Lalu dia tarik napas.
Masukkan HP-nya ke saku.
—
“Baik.”
—
Cuma itu.
—
Dia balik badan.
Jalan ke pintu.
—
Berhenti sebentar.
Tanpa nengok.
—
“Semoga kamu kuat.”
—
Pintu kebuka.
Hujan masih turun.
—
Dan dia pergi.
—
Sunyi.
—
Maria berdiri di tengah ruangan.
Masih nangis.
Tapi nggak goyah.
—
Gue pelan-pelan bilang:
“Lu yakin?”
—
Dia angguk.
—
Lama.
—
“Gue mungkin kehilangan semuanya…”
—
dia tarik napas,
—
“…tapi gue nggak mau kehilangan diri gue sendiri.”
—
Di luar…
hujan masih turun.
—
Tapi entah kenapa…
malam itu terasa lebih ringan.
—
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini mulai…
—
gue lihat Maria…
bukan sebagai orang paling suci.
—
Tapi sebagai orang…
yang akhirnya berani jujur.