Cerita Mudik Lebaran: Istri Saya Dituduh Malas di Depan Keluarga, Saya Hanya Diam
Suara piring beradu dari dapur belakang nggak berhenti.
Kering. Nyaring. Nempel di telinga.
Rumah emak gue penuh. Ruang tamu sesak. Karpet digelar, tapi tetap kurang. Sepupu duduk selonjoran, anak kecil lari-larian sambil pegang toples kue.
Bau opor ayam masih nyisa. Campur minyak goreng, bawang, dan keringat orang-orang habis makan.
Kipas angin muter pelan di atas.
Berdecit.
Kayak ikut capek.
Gue duduk di pojokan. Punggung nempel tembok. Gelas teh manis di tangan, tapi nggak gue minum.
Pahit di mulut.
Padahal manis.
Istri gue, Rani, berdiri di dekat pintu dapur.
Nggak masuk.
Cuma berdiri.
Tangannya nyilang di depan perut.
Kayak lagi nahan sesuatu biar nggak pecah.
Dari dalam dapur, suara tante-tante gue jelas banget.
“Udah makan, ayo langsung cuci piring.”
“Iya, nanti numpuk.”
Ketawa kecil.
Lalu—
“Istri baru, masa nggak bantu-bantu sih?”
Gue langsung nengok.
Rani masih di situ.
Diam.
Matanya ke lantai.
Gue bangkit. Jalan ke arah dia.
Langkah gue berat. Kayak ada yang nahan.
“Ran…” suara gue pelan.
Dia nengok.
Tatapannya datar.
Tapi nggak nyaman.
“Bantu bentar aja. Biar nggak jadi omongan.”
Dia diem.
Natap gue.
“Di rumah kita, kamu kan tahu. Ada yang ngerjain.”
“Iya… tapi ini bukan di rumah kita.”
“Terus?”
“Ya… menyesuaikan aja.”
Dia nggak jawab.
Cuma tarik napas pelan.
Dari dapur, suara piring makin keras.
Kayak sengaja.
Tiba-tiba Tante Rika keluar.
Tangannya basah. Dilap pakai kain.
Matanya langsung ke Rani.
Pelan.
“Nggak bantu, Nak?”
Rani diam sebentar.
Lalu jawab.
“Di rumah sendiri aja saya pakai pembantu buat cuci piring.”
Sunyi.
Bener-bener sunyi.
Sampai suara sendal di teras berhenti.
Rani lanjut.
Pelan. Tapi jelas.
“Di rumah emak saya juga pakai pembantu. Masa di sini saya yang cuci piring?”
Ada yang batuk kecil.
Ada yang bisik.
Tante Rika senyum.
Tipis banget.
“Oh… gitu ya. Berarti di sini harus nyesuaiin dong, Nak. Kita nggak pakai pembantu.”
Rani nggak jawab.
Dia nengok ke gue.
Nunggu.
Semua mata ke gue.
Sepupu gue, Dika, nyenggol bahu gue.
“Ngomong, Jun. Istri lu tuh.”
Gue buka mulut.
Kosong.
Nggak ada suara.
Di kepala gue cuma satu:
Rani juga nggak salah.
Di rumah, semua ada yang ngerjain.
Gue sendiri nggak pernah nyuci piring.
Kenapa sekarang gue nyuruh dia?
Tapi…
Ini rumah emak gue.
Dan semua orang di sini…
Beda.
Tiba-tiba suara emak gue dari dalam dapur.
“Nggak apa-apa kalau belum biasa. Tapi kalau di sini ya bantu-bantu. Biar ringan.”
Nada lembut.
Tapi justru makin berat.
Rani nunduk.
Tangannya makin kencang nyilang.
Jemarinya gemetar.
Halus.
Tapi kelihatan.
Dika bisik lagi.
“Lu diem aja? Serius?”
Gue tarik napas.
“Ran…”
Dia langsung motong.
“Aku nggak mau.”
Pelan.
Tapi tegas.
Beberapa orang saling pandang.
Ada yang geleng.
Ada yang senyum miring.
Tante Rika masuk lagi ke dapur.
Suaranya dikerasin.
“Ya udah, biar yang biasa aja yang kerja. Yang lain kan ‘beda’.”
Kata “beda” itu ditarik panjang.
Disambut ketawa kecil.
Perut gue langsung mual.
Rani jalan menjauh.
Lewat depan gue.
Tanpa lihat gue.
Dia duduk di kursi plastik dekat jendela.
Ngelihat keluar.
Anak-anak masih main.
Seolah nggak ada apa-apa.
Gue berdiri di tengah ruang tamu.
Semua orang balik ngobrol.
Tapi gue tahu.
Topiknya sekarang…
Gue.
Atau lebih tepatnya…
Istri gue.
—
Beberapa menit kemudian, gue duduk di sebelah Rani.
“Ran… ini cuma soal bantu bentar.”
Dia nggak nengok.
“Bukan soal piringnya.”
“Terus?”
“Cara mereka lihat aku.”
Gue diem.
Dia lanjut.
Masih lihat keluar.
“Kamu denger kan tadi?”
Gue nggak jawab.
Karena gue denger.
Semua.
“Kalau aku masuk dapur sekarang, itu bukan bantu. Itu… ngalah.”
“Ngalah aja dulu. Biar nggak ribut.”
Dia akhirnya nengok.
Matanya merah.
Nahan.
“Kamu di pihak siapa?”
Pertanyaan itu nusuk.
Gue beku.
Dari dapur—
Sunyi.
Lalu suara sendok jatuh.
“Udah, biarin aja. Emang nggak biasa kerja.”
Pelan.
Tapi kena.
Rani berdiri.
Gue ikut.
“Ran, jangan…”
Dia jalan cepat ke kamar depan.
Pintu ditutup.
Agak keras.
Beberapa kepala nengok.
Gue berdiri di situ.
Di antara keluarga gue.
Dan istri gue…
Di balik pintu.
Dika datang lagi.
“Parah sih. Bini lu nggak ngerti adat.”
Gue nengok.
“Adat atau kebiasaan?”
Dia ketawa kecil.
“Sama aja.”
Gue nggak jawab.
Tangan gue dingin.
HP gue getar.
WhatsApp.
Dari Rani.
Gue buka.
“Aku nggak kuat di sini.”
Jantung gue langsung jatuh.
Gue nengok ke pintu kamar.
Masih tertutup.
Dan saat itu juga—
Dari dalam, terdengar suara keras.
Kayak kaca pecah.
Gue langsung lari.
Pegang gagang pintu.
Dan dari celah bawah—
Air merembes keluar.
Pelan.
Tapi makin banyak.
Air itu bukan bening.
Gue langsung sadar saat telapak kaki gue kena genangan di lantai. Lengket. Hangat. Bau logam tipis naik ke hidung. Jantung gue berdegup kencang, nggak sinkron sama napas. “Ran!” gue dobrak pintu. Sekali. Nggak kebuka. Kedua kali, lebih keras. Kayu berderak.
Pintu akhirnya kebuka setengah.
Dan yang pertama gue lihat—
Bukan Rani.
Tapi pecahan kaca cermin di lantai, berserakan, basah oleh cairan merah yang pelan-pelan merambat ke arah gue.
Gue masuk.
Kaki gue hampir terpeleset.
“Rani?!”
Dia ada di pojok kamar. Duduk di lantai. Punggung nempel lemari. Tangan kirinya gemetar, sementara tangan kanannya menggenggam sesuatu.
Pisau dapur.
Ujungnya merah.
Tapi bukan itu yang bikin gue beku.
Tangannya sendiri.
Ada sayatan tipis di pergelangan, tapi darahnya nggak sebanyak yang gue kira. Terlalu sedikit untuk genangan sebesar ini.
Gue langsung nengok ke arah lain.
Kasur.
Seprai putihnya—
Merah.
Dan di atasnya—
Seseorang terbaring.
Tubuh kecil.
Anak.
Gue maju satu langkah.
Otak gue kayak berhenti.
“Itu… siapa?” suara gue serak.
Rani nggak jawab.
Matanya kosong.
Nggak nangis.
Nggak panik.
Cuma… kosong.
“Ran… itu siapa?!” suara gue naik.
Dia akhirnya ngomong.
Pelan.
“Hari ini… mereka semua sibuk nge-judge aku.”
Gue nggak ngerti.
“Terus?”
Dia senyum.
Tipis.
Nggak wajar.
“Nggak ada yang sadar… ada yang masuk kamar ini.”
Darah gue langsung dingin.
Langkah kaki di luar mulai kedengeran. Ada yang manggil nama gue. Tapi suara itu jauh, kayak ketelen tembok.
Gue dekati kasur.
Pelan.
Setiap langkah berat.
Dan saat gue sampai di samping kasur—
Gue kenal wajah itu.
Anak kecil.
Sepupu gue.
Anaknya Dika.
Umur lima tahun.
Matanya terpejam.
Dada nggak naik turun.
Dan di lehernya—
Ada bekas.
Tipis.
Tapi jelas.
Gue mundur.
Refleks.
“Nggak… nggak mungkin…”
Gue nengok ke Rani.
Dia masih duduk di situ.
Masih pegang pisau.
“Ran… ini apa?”
Dia akhirnya nangis.
Tapi bukan tangis histeris.
Pelan.
Air matanya jatuh satu-satu.
“Aku cuma… mau sendiri bentar.”
Suara langkah di luar makin dekat.
Pintu didorong.
Dika masuk.
“Jun, tadi suara—”
Kalimatnya berhenti.
Matanya langsung ke kasur.
Ke anaknya.
Sunyi.
Bener-bener sunyi.
Waktu kayak berhenti.
“Rafa…?”
Suaranya pecah.
Dia lari ke kasur.
Guncang tubuh anak itu.
“Nak… bangun… Nak!”
Nggak ada respon.
Dia nengok ke gue.
Matanya berubah.
Dari panik—
Ke sesuatu yang lebih gelap.
“Apa yang terjadi?!”
Gue buka mulut.
Kosong.
Nggak ada kata.
Tangan gue gemetar.
Gue nengok ke Rani.
Dia juga nengok ke gue.
Tatapan yang tadi kosong—
Sekarang beda.
Kayak… minta tolong.
Atau…
Minta gue diam.
Dan di detik itu—
Semua potongan mulai nyambung di kepala gue.
Air di lantai bukan cuma dari satu arah.
Pecahan kaca bukan dari jatuh biasa.
Dan pisau itu…
Terlalu bersih di bagian tertentu.
Seolah—
Baru dipegang.
Bukan dipakai.
Gue pelan-pelan mundur.
Napas gue makin berat.
“Dik…”
Suara gue hampir nggak keluar.
“Ada yang masuk kamar ini.”
Dika langsung nengok.
“Siapa?!”
Gue diem.
Karena di kepala gue—
Muncul satu wajah.
Yang dari tadi…
Nggak kelihatan di ruang tamu.
Tante Rika.
Dan sebelum gue sempat ngomong—
Dari belakang, suara emak gue terdengar.
Pelan.
Tapi bikin bulu kuduk gue berdiri.
“Barusan Rika keluar dari kamar ini, Jun…”
Semua langsung nengok ke arah pintu.
Kosong.
Nggak ada siapa-siapa.
Dan dari ujung lorong—
Terdengar suara pintu belakang…
Kebuka.
Dika langsung berdiri.
Kursi plastik di belakangnya jatuh keras.
Tangannya gemetar, tapi matanya tajam ke arah gue. “Lu bilang siapa tadi?” napasnya berat, dadanya naik turun cepat.
Gue belum sempat jawab.
Suara emak gue masih di belakang. “Barusan Rika keluar dari kamar ini, Jun…”
Semua orang mulai ngumpul di depan pintu. Tante-tante yang tadi di dapur sekarang berdiri kaku. Ada yang nutup mulut. Ada yang langsung nangis pelan.
Dika nengok ke arah lorong.
Kosong.
Dia langsung lari keluar kamar.
“Rikaaaa!”
Suara langkahnya berat, menghantam lantai.
Gue masih di dalam kamar.
Masih berdiri.
Masih berusaha nyusun semua yang barusan kejadian.
Rani pelan-pelan nurunin pisau dari tangannya.
Tangannya gemetar.
Gue dekat.
Pelan.
“Ran… lihat aku.”
Dia nengok.
Matanya merah, tapi sekarang ada sesuatu yang beda.
Takut.
Bukan takut ketahuan.
Tapi takut… sesuatu yang lain.
“Aku nggak nyentuh anak itu…” suaranya pecah.
Gue diem.
Gue lihat lagi pisau di tangannya.
Lalu ke kasur.
Lalu ke lantai.
Genangan darahnya nggak masuk akal kalau cuma dari satu luka kecil di leher.
Dan luka di leher itu—
Nggak dalam.
Lebih kayak… bekas tekanan.
Bukan sayatan.
Gue makin dingin.
“Ran… kamu masuk kamar ini, anak itu udah di situ?”
Dia langsung angguk cepat.
“Iya… dia udah tiduran… aku kira dia tidur… aku bahkan nggak sadar awalnya…”
“Terus kaca itu?”
Dia nengok ke cermin yang pecah.
“Aku kaget… aku lihat darah… aku mundur… kesenggol… jatuh…”
Masuk akal.
Tapi belum cukup.
Dari luar, suara ribut makin keras.
Teriakan Dika, orang-orang lari ke belakang rumah.
Ada suara pagar kebuka.
Ada yang nyuruh tutup gerbang.
Gue tarik napas panjang.
Otak gue mulai nyambung satu per satu.
“Tadi sebelum kamu masuk kamar… kamu lihat siapa?”
Rani mikir.
Beberapa detik.
Lalu—
“Tante Rika.”
Jantung gue langsung ngebut lagi.
“Ngapain dia?”
“Keluar dari kamar ini.”
Gue merem sebentar.
Pas banget.
Sama kayak yang emak gue bilang.
Tapi—
Ada yang ganjil.
“Dia panik?”
Rani geleng.
“Enggak.”
“Cepat?”
“Enggak juga…”
Dia berhenti.
Narik napas.
“Dia… senyum.”
Gue langsung buka mata.
“Senyum?”
Rani angguk pelan.
“Kayak biasa aja.”
Darah gue serasa ditarik turun.
Di luar, suara makin kacau.
Ada yang teriak, “Nggak ada di belakang!”
Ada yang jawab, “Coba ke depan!”
Langkah kaki bolak-balik.
Tapi tiba-tiba—
Suara itu berhenti.
Kayak semua orang barengan sadar sesuatu.
Sunyi.
Aneh.
Dika muncul lagi di pintu kamar.
Napasnya lebih berat dari tadi.
Mukanya pucat.
“Kunci motor Rika… masih ada di meja.”
Gue langsung nengok.
“Artinya dia belum pergi jauh.”
Dika masuk pelan.
Matanya langsung ke Rani.
Ke pisau di tangannya.
Ke darah di lantai.
Ke anaknya.
Dan gue bisa lihat—
Dia lagi nahan sesuatu.
Antara percaya.
Atau hancur.
“Polisi…” suara emak gue dari belakang.
“Kita harus telepon polisi.”
Dika langsung nengok ke gue.
Tatapannya beda sekarang.
Lebih dingin.
“Belum.”
Semua orang kaget.
“Dik—” gue mulai.
Dia potong.
“Belum.”
Dia maju satu langkah ke arah gue.
“Kalau polisi datang sekarang…”
Dia nengok ke Rani.
“…yang pertama mereka lihat siapa?”
Gue langsung paham.
Rani.
Pisau.
Darah.
Di kamar.
Sendirian.
Semuanya ngarah ke dia.
“Lu mau istri lu langsung jadi tersangka?” suara Dika pelan, tapi tajam.
Gue diem.
Ini bukan cuma soal benar atau salah lagi.
Ini soal… siapa yang pertama kali disalahin.
Dan di rumah ini—
Semua orang udah punya jawaban mereka sendiri.
Gue nengok ke Rani.
Dia pucat.
Tangannya dingin waktu gue pegang.
“Jun…” suaranya hampir nggak kedengeran.
Gue harus mutusin.
Sekarang.
Di antara keluarga gue…
Atau istri gue.
Dan sebelum gue sempat buka mulut—
Dari arah ruang tamu—
Terdengar suara HP berbunyi.
Keras.
Berulang.
Nggak ada yang angkat.
Sampai akhirnya sepupu gue teriak.
“Ini HP-nya Rika!”
Semua langsung nengok.
“Bunyi dari mana?!”
“Dari… dalam lemari!”
Jantung gue berhenti.
Lemari.
Di ruang tamu.
Yang dari tadi—
Nggak ada yang buka.
Dan tiba-tiba—
Suara itu berhenti sendiri.
Klik.
Sunyi lagi.
Gue dan Dika saling pandang.
Tanpa ngomong.
Tapi sama-sama ngerti.
Rika…
Belum keluar rumah ini.
Dika langsung jalan cepat ke ruang tamu.
Langkahnya berat, hampir lari. Gue nyusul di belakang, dada gue sesak, napas pendek-pendek. Orang-orang otomatis minggir, bikin jalan terbuka ke arah lemari besar di pojok ruang tamu—lemari kayu tua yang biasa dipakai nyimpen bantal tambahan.
Sunyi.
Nggak ada yang berani ngomong.
Cuma suara kipas angin yang masih berdecit di atas.
Dika berhenti tepat di depan lemari.
Tangannya mau pegang gagang.
Tapi berhenti di tengah jalan.
Gemetar.
“Kalau dia di dalam…” suaranya serak.
Nggak ada yang jawab.
Gue maju satu langkah.
“Gue buka.”
Tangan gue nyentuh gagang.
Dingin.
Perlahan gue tarik.
Engselnya bunyi pelan… krek…
Pintu kebuka sedikit.
Bau langsung keluar.
Apek.
Campur… sesuatu yang amis.
Gue buka lebih lebar.
Dan—
Kosong.
Cuma tumpukan bantal dan selimut.
Nggak ada siapa-siapa.
Beberapa orang langsung buang napas.
Ada yang hampir nangis lega.
Tapi—
HP itu masih bunyi tadi.
Dan sekarang…
Nggak ada.
Dika langsung nyemplungin tangan ke dalam tumpukan bantal.
Ngacak-ngacak.
“Mana?! Tadi bunyi di sini!”
Gue ikut bantu.
Angkat satu per satu.
Sampai akhirnya—
Ketemu.
HP Rika.
Nyelip di antara dua bantal.
Masih hangat.
Layar mati.
Padahal barusan bunyi.
Dika langsung ambil.
Nyalain.
Nggak bisa.
“Baterainya habis…” gumamnya.
Gue langsung sadar sesuatu.
“Kalau barusan bunyi… berarti tadi masih hidup.”
Dika nengok ke gue.
Tatapannya tajam.
“Artinya?”
Gue pelan.
“Ada yang matiin.”
Sunyi lagi.
Lebih berat.
Lebih dingin.
Beberapa orang mulai mundur pelan dari lemari.
Kayak tiba-tiba ruang itu jadi sempit.
“Jangan-jangan…” salah satu sepupu gue bisik.
“Nggak usah ngomong sembarangan!” bentak emak gue.
Tapi suaranya juga gemetar.
Gue nengok ke arah kamar.
Pintu masih kebuka.
Di dalam sana—
Rani.
Dan anak itu.
Semuanya masih sama.
Tapi sekarang satu hal berubah:
Kita tahu…
Pelakunya belum pergi.
Dika tiba-tiba jalan cepat ke arah pintu utama.
Langsung dikunci.
“Kunci semua pintu!” teriaknya.
Orang-orang langsung panik.
Ada yang lari ke dapur.
Ada yang ke pintu belakang.
Suara geser kunci.
Suara baut ditarik.
Rumah itu sekarang—
Tertutup.
Dan entah kenapa…
Gue ngerasa itu keputusan yang salah.
Karena kalau pelakunya di dalam…
Berarti sekarang—
Kita semua terjebak bareng dia.
Gue nengok ke arah semua orang.
Satu per satu.
Muka-muka yang gue kenal dari kecil.
Tapi sekarang—
Nggak ada yang terasa aman.
“Semua kumpul di sini!” kata Dika.
“Jangan ada yang sendiri!”
Mereka nurut.
Pelan-pelan ngumpul di ruang tamu.
Lingkaran.
Gue berdiri di tengah.
Rani belum keluar dari kamar.
Gue nengok ke sana.
Harusnya gue di samping dia.
Tapi kaki gue…
Nggak gerak.
Dika mulai ngomong.
“Dengerin. Kita nggak tahu siapa yang lakuin ini.”
Dia tarik napas.
“Tapi yang jelas… orang itu masih di rumah ini.”
Semua orang saling pandang.
Ada yang mulai nangis.
Ada yang baca doa pelan.
“Jadi sekarang…” lanjut Dika, “…kita cari bareng-bareng.”
Gue langsung potong.
“Jangan.”
Semua nengok ke gue.
“Kalau kita nyebar… itu malah bahaya.”
Dika nyipit.
“Terus?”
“Yang paling aman… kita pastiin dulu siapa aja yang ada di rumah ini.”
Hening.
Masuk akal.
Dika pelan-pelan angguk.
“Hitung.”
Satu per satu nama disebut.
Satu per satu jawab.
Suara mereka kecil.
Takut.
Sampai—
Semua selesai.
Dan gue langsung sadar sesuatu.
Jumlahnya…
Nggak cocok.
“Kurang satu…” gue bisik.
Dika langsung nengok.
“Siapa?”
Gue telan ludah.
“Nenek…”
Semua langsung beku.
Nenek gue.
Yang dari tadi—
Nggak kelihatan sejak makan siang.
“Dia di kamar belakang…” kata emak gue cepat.
Tapi nadanya nggak yakin.
Gue dan Dika langsung saling pandang.
Tanpa ngomong.
Langsung jalan ke arah lorong belakang.
Langkah pelan.
Lantai dingin.
Lampu lorong redup.
Pintu kamar nenek tertutup.
Dari dalam—
Nggak ada suara.
Dika pegang gagang.
Pelan.
Gue berdiri di sampingnya.
Jantung gue kencang banget.
“Siap?” bisik dia.
Gue angguk.
Dia putar gagang.
Pintu kebuka.
Pelan.
Dan yang pertama gue lihat—
Bukan nenek gue.
Tapi…
Tante Rika.
Duduk di samping ranjang.
Tenang.
Senyum.
Sementara di atas ranjang—
Nenek gue terbaring diam.
Dan di tangan Rika—
Ada sesuatu.
Tali.
Masih kencang di genggamannya.
Dika langsung nyelonong masuk.
Nggak mikir.
Nggak nunggu.
Langsung hantam pintu sampai kebuka lebar. “RIKA!” suaranya pecah, campur marah sama panik. Gue nyusul di belakang, napas gue berat, kepala gue kayak penuh tekanan.
Tante Rika nggak kaget.
Dia cuma nengok pelan.
Senyumnya masih ada.
Tenang.
Nggak berubah sedikit pun.
“Kenapa teriak-teriak sih…” katanya ringan, kayak lagi ditanya hal sepele.
Gue langsung nengok ke nenek.
Tubuhnya kaku.
Matanya setengah terbuka.
Mulutnya sedikit terbuka, tapi nggak ada suara.
Lehernya—
Ada bekas.
Sama.
Kayak yang di anak itu.
Dada gue langsung sesak.
“Rika… lu apain nenek?!” suara Dika bergetar.
Rika cuma miringin kepala sedikit.
“Aku lagi bantu dia tidur.”
Sunyi.
Kalimat itu jatuh pelan…
Tapi efeknya kayak ditarik pakai pisau.
Dika langsung maju, narik bahu Rika.
“Kau gila?!”
Rika nggak ngelawan.
Dia berdiri pelan.
Tali di tangannya jatuh ke lantai.
Gue refleks nengok ke tali itu.
Masih ada bekas tarikan.
Kencang.
Baru dipakai.
“Kenapa?” tanya Rika.
Nadanya polos.
Bukan defensif.
Bukan panik.
Polos.
Seolah dia bener-bener nggak ngerti.
Dika langsung dorong dia ke tembok.
“Anak gue mati! Sekarang nenek juga! Lu pikir ini apa?!”
Rika tetap tenang.
Matanya pindah ke gue.
Natap lurus.
“Jun… kamu kan ngerti.”
Gue beku.
“Ngerti apa?” suara gue pelan.
Dia jalan satu langkah ke arah gue.
Pelan.
Langkahnya ringan.
Nggak ada rasa bersalah.
“Nggak semua orang cocok hidup di satu rumah.”
Kalimat itu bikin udara di kamar langsung berubah.
Gue langsung mundur setengah langkah.
“Apa maksud lu?”
Dia senyum lagi.
Lebih lebar.
“Tadi di dapur… rame banget ya.”
Gue langsung ingat.
Suara piring.
Bisikan.
Sindiran.
“Capek dengernya.”
Suara Rika tetap tenang.
“Tapi kalian semua… diem aja.”
Dika langsung motong.
“Jangan ngalor-ngidul! Lu bunuh mereka?!”
Rika nengok ke dia.
Pelan.
“Aku cuma bikin… sunyi.”
Dika langsung mau mukul.
Gue tahan.
“Jangan!” gue tarik tangannya.
“Kalau lu pukul dia sekarang, kita nggak tahu apa-apa!”
Dika napasnya berat.
Tangannya masih gemetar.
Tapi dia tahan.
Gue nengok ke Rika.
“Anak itu… kenapa?”
Rika diem sebentar.
Kayak mikir.
“Atas-bawah dia lari terus. Berisik. Masuk kamar. Aku lagi di situ.”
Gue langsung kebayang.
Anak kecil itu.
Masuk kamar.
Sendirian.
“Terus?”
Rika ngangkat bahu sedikit.
“Dia lihat aku. Aku lihat dia.”
Sunyi.
“Terus aku tutup mulutnya.”
Jantung gue langsung berhenti satu detik.
“Dia berontak. Aku pegang lehernya. Biar cepat.”
Nada suaranya…
Datar.
Tanpa emosi.
Dika langsung jatuh lutut.
Tangannya nutup muka.
Suara tangisnya keluar.
Patah.
Gue ngerasa perut gue dipelintir.
“Kenapa nenek?” suara gue hampir nggak keluar.
Rika nengok ke arah ranjang.
“Dia bangun.”
Gue merinding.
“Dia lihat aku.”
Sunyi.
“Kalau dia teriak… rame lagi.”
Gue nggak bisa napas.
Semua masuk akal.
Dan itu justru yang bikin makin ngeri.
Nggak ada rencana besar.
Nggak ada dendam lama.
Cuma…
Karena dia nggak suka ribut.
Dari luar, suara orang-orang mulai deket lagi.
Mereka pasti nyusul.
Kalau mereka lihat ini—
Semuanya bakal meledak.
Gue nengok ke Dika.
Dia masih di lantai.
Hancur.
Gue nengok ke Rika.
Masih berdiri.
Tenang.
Tiba-tiba—
Dia ngomong lagi.
Pelan.
“Tapi…”
Gue langsung nengok.
“Aku nggak sendiri.”
Jantung gue langsung nabrak dada.
“Apa?”
Rika senyum.
Kali ini beda.
Lebih dingin.
Lebih dalam.
“Yang ngajarin aku… justru dari kalian.”
Gue beku.
Dika pelan-pelan ngangkat kepala.
Matanya merah.
“Siapa…?”
Rika angkat tangan.
Nunjuk.
Bukan ke gue.
Bukan ke Dika.
Tapi—
Ke arah pintu.
Gue dan Dika langsung nengok bareng.
Dan di sana—
Berdiri Rani.
Pucat.
Diam.
Tangannya gemetar.
Matanya langsung ke Rika.
Dan Rika pelan-pelan bilang—
“Dia yang pertama bilang… orang yang ‘beda’ itu harus disesuaikan.”
Ruang itu langsung membeku.
Nggak ada yang bergerak.
Nggak ada yang berani tarik napas terlalu dalam.
Rani berdiri di ambang pintu. Pucat. Bibirnya gemetar. Matanya pindah dari Rika ke gue, lalu ke tubuh nenek di atas ranjang.
“Aku… nggak pernah…” suaranya pecah, pelan, hampir nggak keluar.
Rika ketawa kecil.
Pendek.
Dingin.
“Kamu bilang sendiri tadi. ‘Yang beda harus menyesuaikan.’” dia ulang pelan, seolah nikmatin tiap kata. “Aku cuma bantu… supaya semuanya jadi lebih tenang.”
Gue maju satu langkah.
“Jangan dipelintir.” suara gue tegas, tapi dada gue bergetar. “Itu bukan maksud dia.”
Rika miringkan kepala.
“Nggak?” senyumnya naik sedikit. “Tapi semua orang di rumah ini setuju, kan?”
Sunyi.
Dan itu yang bikin gue makin ngeri.
Karena nggak ada yang langsung nolak.
Dika bangkit pelan dari lantai. Wajahnya basah air mata, tapi matanya sekarang… kosong.
Lebih bahaya dari marah.
“Lu…” suaranya serak. “Lu bunuh anak gue.”
Rika nengok.
Tenang.
“Iya.”
Nggak ada pembelaan.
Nggak ada alasan panjang.
Cuma satu kata.
Dan itu justru bikin semuanya runtuh.
Dika langsung nyosor lagi.
Kali ini lebih cepat.
Gue telat nahan.
Tangan Dika nyekik leher Rika, ngebanting dia ke tembok. Suara benturan keras. Rika nggak teriak. Cuma napasnya ketahan.
“Balikin anak gue!” Dika teriak, suara pecah total.
Gue tarik bahunya kuat-kuat.
“Dik! Lepas! LEPAS!”
Butuh beberapa detik sebelum dia akhirnya lepasin.
Rika jatuh setengah duduk di lantai.
Batuk pelan.
Tapi…
Dia masih senyum.
Gue langsung sadar.
Ada yang salah.
Orang normal bakal panik.
Ini enggak.
“Jun…” suara Rani di belakang gue.
Gue nengok.
Dia gemetar.
“Aku tadi lihat…” dia berhenti, napasnya nggak stabil.
“Apa?” gue dorong pelan.
Dia nunjuk ke arah lorong.
“Sebelum aku masuk kamar… bukan cuma Rika yang keluar.”
Jantung gue langsung ngebut lagi.
“Maksud kamu?”
“Ada orang lain.”
Sunyi.
Semua mata langsung ke Rani.
“Siapa?” suara gue makin pelan.
Dia ngelus lengannya sendiri, kayak kedinginan.
“Gue kira tadi cuma perasaan… tapi sekarang…”
Dia nengok ke gue.
Matanya bener-bener takut.
“Kayaknya itu… emak kamu.”
Dunia gue langsung berhenti.
“Nggak mungkin.” gue spontan.
“Dia dari tadi di dapur—”
Kalimat gue berhenti sendiri.
Karena gue ingat.
Ada momen kosong.
Beberapa menit.
Di mana emak gue nggak kedengeran.
Gue pelan-pelan nengok ke arah pintu.
Dan di sana—
Emak gue berdiri.
Nggak masuk.
Nggak juga pergi.
Cuma berdiri.
Dengerin.
Matanya ke Rani.
Tajam.
“Nanti aja kalau mau fitnah,” katanya pelan.
Tapi suaranya…
Nggak selembut biasanya.
Gue ngerasa dingin.
“Mak…” suara gue pelan.
Dia nengok ke gue.
Wajahnya normal.
Terlalu normal.
“Dari tadi aku di dapur,” lanjutnya. “Kamu sendiri yang lihat.”
Gue diem.
Karena…
Gue nggak benar-benar lihat.
Gue cuma… asumsi.
Rika tiba-tiba ketawa lagi.
Lebih pelan.
Lebih menyeret.
“Makanya jangan cuma lihat yang kelihatan, Jun…”
Semua langsung nengok ke dia.
Dia berdiri pelan.
Tangannya nyapu debu di bajunya.
“Di rumah ini…” dia lihat satu per satu wajah kita, “…banyak yang pura-pura.”
Jantung gue makin kencang.
“Termasuk…” dia berhenti sebentar.
Matanya ke emak gue.
“…yang paling kelihatan baik.”
Sunyi.
Tegang.
Berat.
Emak gue jalan masuk pelan.
Langkahnya tenang.
Nggak terburu.
Nggak panik.
Dia berhenti di tengah kamar.
Lihat Rika.
Lihat nenek.
Lalu—
Dia ngomong.
“Sudah cukup.”
Nada suaranya berubah.
Lebih dalam.
Lebih dingin.
Gue langsung merinding.
“Kalau kamu mau buka semuanya sekarang…” lanjutnya, “…kamu juga siap dengan akibatnya, kan?”
Rika senyum.
Lebih lebar dari sebelumnya.
“Dari dulu aku nunggu ini.”
Dika bingung.
Gue juga.
“Mak… maksudnya apa?” suara gue pelan.
Emak gue nengok ke gue.
Tatapannya—
Nggak pernah gue lihat sebelumnya.
“Yang kamu lihat hari ini…” dia tarik napas pelan, “…cuma sisa dari yang dulu.”
Kepala gue langsung penuh.
“Dulu… apa?”
Dia nggak jawab.
Rika yang jawab.
Pelan.
Santai.
“Yang dulu itu… bukan aku yang mulai.”
Jantung gue serasa jatuh.
“Terus siapa?” gue hampir bisik.
Rika dan emak gue—
Saling lihat.
Dan untuk pertama kalinya—
Senyum mereka…
Mirip.
Emak gue nggak langsung jawab.
Dia cuma berdiri di tengah kamar, tatapannya pindah dari Rika ke tubuh nenek di ranjang, lalu ke gue. Heningnya tebal, kayak nahan sesuatu yang dari tadi pengen keluar. “Tutup pintunya,” katanya pelan. Nggak ada yang bantah. Gue jalan mundur, nutup pintu kamar. Bunyi klik kecil itu terasa keras banget di telinga.
Dika berdiri kaku di samping gue. Tangannya masih gemetar. Rani di ambang pintu, nggak berani masuk, tapi juga nggak sanggup pergi. Sementara Rika… berdiri santai, seolah ini semua cuma obrolan keluarga biasa.
Emak gue akhirnya ngomong.
“Bukan dia yang mulai.”
Kalimatnya jatuh pelan.
Tapi langsung nusuk.
“Terus siapa?” suara gue kering.
Emak gue nengok ke gue.
Matanya capek.
Bukan capek hari ini.
Kayak capek yang udah lama banget dipendem.
“Dulu… sebelum kamu nikah,” dia berhenti sebentar, “rumah ini pernah sepi.”
Gue langsung bingung.
Sepi?
“Sepi karena apa?” tanya gue.
Rika yang jawab.
“Karena ada yang mati.”
Sunyi.
Jantung gue langsung kencang.
“Apa maksud lo?” Dika maju setengah langkah.
Rika senyum tipis.
“Nggak ada yang cerita ya ke kamu?” matanya ke gue.
Gue nengok ke emak.
Dia nggak nolak.
Nggak juga langsung jawab.
Itu cukup buat bikin gue ngerti—
Ini beneran.
“Siapa yang mati?” suara gue makin pelan.
Emak gue narik napas.
Panjang.
“Adik kamu.”
Dunia gue langsung berhenti.
Gue bengong.
Kosong.
“Gue… nggak punya adik.”
Kalimat itu keluar otomatis.
Refleks.
Emak gue nutup mata sebentar.
“Dulu… kamu punya.”
Darah gue langsung dingin.
Semua suara kayak hilang.
Gue cuma denger detak jantung sendiri.
“Kapan…?” gue hampir bisik.
“Nggak lama setelah kamu kerja di luar kota,” jawab emak gue.
Gue coba ingat.
Nggak ada.
Bener-bener nggak ada.
“Kenapa gue nggak tahu?”
Sunyi lagi.
Dan kali ini—
Nggak ada yang mau jawab.
Sampai akhirnya…
Rika ngomong.
“Karena lebih gampang pura-pura nggak pernah ada.”
Gue langsung nengok ke dia.
Matanya tajam.
Nggak main-main.
“Dia mati di kamar ini juga,” lanjut Rika pelan.
Gue langsung nengok ke sekitar.
Kamar yang sama.
Kasur yang hampir sama.
Lemari yang sama.
Udara gue tiba-tiba berat.
“Gimana matinya?” tanya Dika.
Rika nggak langsung jawab.
Dia jalan pelan ke arah ranjang.
Lihat nenek.
Lalu—
Duduk di pinggirnya.
“Dia nangis terus,” katanya.
“Rewel. Berisik.”
Gue langsung merinding.
Kalimat itu…
Sama.
Kayak yang tadi dia bilang tentang anak Dika.
Gue nengok ke emak.
Wajahnya berubah.
“Kamu jangan…” suara emak gue pelan.
Tapi Rika lanjut.
“Dan waktu itu…” dia nengok ke emak gue, “…ada yang nggak tahan.”
Sunyi.
Gue ngerasa jantung gue mau keluar.
“Mak…?” suara gue hampir pecah.
Emak gue diem.
Tangannya mengepal.
Rika senyum.
“Dia juga cuma pengen… sunyi.”
Kalimat itu jatuh pelan.
Dan langsung bikin semua potongan di kepala gue…
Nyambung.
Gue mundur satu langkah.
Nggak percaya.
“Nggak…” gue geleng pelan. “Nggak mungkin…”
Rani di belakang gue langsung nutup mulut.
Dika bengong.
“Mak…” suara gue gemetar. “Itu bener?”
Emak gue akhirnya buka mata.
Pelan.
Air matanya jatuh.
Satu.
Dua.
Tapi suaranya…
Tetap stabil.
“Dia nggak sengaja…”
Kalimat itu nggak selesai.
Tapi cukup.
Gue langsung hancur.
Jadi selama ini—
Bukan cuma Rika.
Bukan cuma hari ini.
Ini udah pernah terjadi.
Di rumah ini.
Di kamar ini.
Dan ditutup.
Dikubur.
Dilupain.
Rika berdiri lagi.
Pelan.
“Nah…” dia lihat ke gue, “…aku cuma lanjutin yang udah pernah dimulai.”
Dika langsung teriak.
“Lu gila!”
Tapi suaranya nggak sekuat tadi.
Lebih ke…
Takut.
Gue nggak bisa ngomong.
Nggak bisa mikir.
Semua berubah.
Semua yang gue percaya tentang rumah ini…
Keluarga gue…
Langsung runtuh.
Dan di tengah semua itu—
Rani pelan-pelan ngomong.
“Ada yang aneh…”
Semua nengok ke dia.
“Apa?” gue tanya.
Dia nunjuk ke arah nenek.
“Tadi… waktu aku masuk pertama kali…”
Dia berhenti.
Narik napas.
“Lehernya belum ada bekas.”
Sunyi.
Semua langsung nengok ke nenek.
Ke lehernya.
Bekas itu jelas.
Baru.
Dingin langsung naik ke punggung gue.
Gue nengok ke Rika.
Dia senyum.
Tapi—
Kali ini…
Bukan ke gue.
Dia nengok ke emak gue.
Dan emak gue…
Nggak nolak.
Nggak kaget.
Cuma berdiri.
Diam.
Seolah—
Udah tahu.
Dan di detik itu—
Gue sadar satu hal yang jauh lebih ngeri.
Kalau Rika nggak sendiri…
Dan ini bukan pertama kalinya…
Berarti—
Yang sebenarnya berbahaya di rumah ini…
Bukan cuma dia.
Dada gue serasa ditekan dari dalam.
Semua orang di kamar itu diam, tapi kepala gue berisik. Potongan-potongan yang tadi cuma aneh sekarang mulai nyambung. Leher nenek. Waktu. Posisi Rika. Dan satu hal yang Rani bilang—bekas itu belum ada saat dia pertama masuk.
Gue nengok pelan ke emak gue.
Dia masih berdiri di situ.
Tenang.
Terlalu tenang.
“Mak…” suara gue hampir nggak keluar. “Tadi… sebelum kita ke sini… emak ke mana?”
Semua mata langsung ke dia.
Rani nahan napas.
Dika pelan-pelan berdiri lagi.
Rika… cuma nonton.
Emak gue nggak langsung jawab.
Dia lihat gue lama.
Lalu jalan satu langkah ke arah ranjang.
Pelan.
“Ngurus dapur,” jawabnya singkat.
Gue geleng.
“Nggak.”
Dia berhenti.
“Gue cari tadi. Emak nggak ada di dapur.”
Sunyi.
Kalimat itu gantung di udara.
Rani langsung nambahin, suaranya gemetar. “Aku juga lihat… ada yang keluar dari kamar ini sebelum aku masuk.”
Emak gue nengok ke dia.
Tatapannya berubah.
Lebih tajam.
“Kamu yakin lihat dengan jelas?” tanyanya pelan.
Rani nggak langsung jawab.
Tapi dia nggak mundur.
“Iya.”
Gue maju satu langkah.
“Mak… jawab jujur.”
Hening.
Lama.
Sampai akhirnya—
Emak gue narik napas.
Panjang.
Dan untuk pertama kalinya sejak tadi—
Bahunya turun.
Seolah dia capek.
Beneran capek.
“Dia bangun,” katanya pelan.
Gue langsung merinding.
Siapa?
Nenek.
“Dia lihat aku,” lanjutnya.
Suara itu…
Nggak lagi lembut.
Lebih dalam.
Lebih berat.
Gue nggak berani potong.
“Dia lihat… dan dia ngerti.”
“Ngerti apa?” tanya gue cepat.
Emak gue nengok ke gue.
Matanya merah.
“Kalau yang dulu… bukan kecelakaan.”
Jantung gue langsung berhenti.
Ruang itu mendadak sempit.
Gue nggak bisa napas penuh.
“Mak…” suara gue pecah. “Jadi… yang adik gue—”
Dia nutup mata sebentar.
Lalu angguk.
Pelan.
Satu kali.
Dunia gue langsung runtuh lagi.
Dika mundur setengah langkah.
“Ya Allah…” bisiknya.
Rani nutup mulut.
Air matanya jatuh.
Rika?
Dia justru senyum.
Bangga.
Kayak akhirnya ada yang ngomong jujur.
“Dia mau teriak,” lanjut emak gue, suaranya hampir berbisik. “Kalau dia teriak… semuanya kebuka.”
Gue langsung tahu arah kalimatnya.
“Jadi emak—”
“AKU CUMA MAU SEMUA TETAP TENANG!”
Tiba-tiba suara emak gue naik.
Keras.
Ngegetarin ruangan.
Semua kaget.
Gue beku.
Belum pernah gue dengar dia teriak kayak gitu.
“Dari dulu!” lanjutnya, napasnya berat. “Rumah ini… cuma bisa jalan kalau nggak ribut!”
Air matanya jatuh deras sekarang.
“Tiap hari aku denger omongan, bisikan, sindiran… capek, Jun… capek…”
Gue mundur.
Pelan.
Karena yang berdiri di depan gue sekarang—
Bukan emak yang gue kenal.
“Tadi di dapur…” dia lanjut, suaranya turun lagi, “…aku dengar lagi.”
Gue langsung ingat.
Sindiran ke Rani.
Kata “beda”.
Ketawa kecil.
“Dan aku tahu…” dia lihat satu per satu wajah kita, “…ini nggak akan berhenti.”
Sunyi.
“Jadi aku hentikan.”
Kalimat itu pelan.
Tapi lebih dingin dari apapun.
Gue nengok ke nenek.
Ke bekas di lehernya.
Semua jelas sekarang.
Rika bukan satu-satunya.
Dia cuma…
Cermin.
Dari sesuatu yang lebih lama ada di rumah ini.
Dika tiba-tiba ketawa kecil.
Aneh.
Patah.
“Jadi…” dia geleng pelan, “…keluarga ini dari dulu emang udah gila ya.”
Nggak ada yang jawab.
Karena nggak ada yang bisa bantah.
Rani mundur satu langkah.
Dekat ke gue.
Tangannya nyari tangan gue.
Dingin.
Gue genggam.
Kencang.
Dan di tengah semua itu—
Rika maju satu langkah.
Pelan.
“Nah…” katanya santai, “…sekarang udah jujur semua.”
Gue nengok ke dia.
“Apa lagi yang lo mau?”
Dia senyum.
Lebih lebar.
“Sekarang tinggal…” dia berhenti sebentar.
Matanya ke semua orang.
“…kita tentuin siapa lagi yang bikin ribut.”
Jantung gue langsung nabrak.
Dika langsung sadar.
“Lu jangan macam-macam lagi—”
Tapi Rika udah jalan.
Pelan.
Menyusuri ruangan.
Matanya berhenti…
Di Rani.
Gue langsung narik Rani ke belakang gue.
Refleks.
“Nggak.”
Suara gue tegas.
Rika berhenti.
Masih senyum.
“Dia yang mulai tadi.”
Gue geleng.
“Udah cukup.”
Sunyi.
Tegang.
Berat.
Dan di detik itu—
Dari luar rumah—
Terdengar suara keras.
GEDORAN.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Semua langsung nengok ke arah pintu depan.
“Buka! Polisi!”
Jantung gue langsung jatuh.
Nggak ada yang bergerak.
Sampai suara itu datang lagi.
Lebih keras.
“POLISI! BUKA PINTU!”
Gue nengok ke emak gue.
Ke Rika.
Ke Dika.
Ke Rani.
Semua saling lihat.
Karena satu hal langsung jelas—
Kalau pintu itu dibuka sekarang…
Semua yang kita tutup selama ini—
Akan hancur.
Dan untuk pertama kalinya—
Gue nggak tahu…
Harus milih yang mana.
Gedoran itu makin keras.
Kayu pintu depan bergetar tiap hantaman. “POLISI! BUKA!” Suara berat dari luar memantul masuk ke dalam rumah, nabrak dinding, nyampe ke kamar belakang. Semua orang diam. Nggak ada yang gerak. Napas aja ditahan.
Gue nengok ke Dika.
Matanya merah, tapi sekarang tajam.
Keputusan harus diambil.
Sekarang.
Kalau pintu dibuka—
Semuanya selesai.
Kalau nggak—
Kita semua jadi tersangka.
Atau lebih parah.
“Jun…” bisik Rani di belakang gue.
Tangannya makin kencang megang gue.
Dingin.
Gemetar.
Gue tarik napas.
Panjang.
Lalu gue jalan keluar kamar.
Langkah gue berat.
Tiap injakan bunyi di lantai terasa terlalu keras.
Semua orang ngikutin gue dengan tatapan.
Gue sampai di ruang tamu.
Pintu depan masih digedor.
“Buka! Ini terakhir kami peringatkan!”
Gue pegang gagang pintu.
Dingin.
Persis kayak tadi di lemari.
Gue nengok ke belakang sekali lagi.
Emak gue berdiri di lorong.
Rika di sampingnya.
Dika di pintu kamar.
Rani di belakang gue.
Semua nunggu.
Gue putar kunci.
Klik.
Pintu gue buka.
Dan dua orang polisi langsung masuk.
Cepat.
Tatapan mereka langsung muter ke seluruh ruangan.
“Semua tetap di tempat!” salah satu dari mereka teriak.
Rumah langsung jadi lebih sempit.
Lebih dingin.
“Laporan warga. Ada suara ribut dan dugaan kekerasan,” kata polisi yang lebih tua. Matanya berhenti di lantai… ke arah jejak darah yang samar sampai ke lorong.
Dia langsung nengok ke gue.
“Itu apa?”
Gue buka mulut.
Tapi belum sempat jawab—
Dari belakang, suara emak gue masuk.
“Anak kecil jatuh, Pak.”
Semua langsung nengok ke dia.
Nada suaranya stabil.
Tenang.
Terlalu cepat.
Polisi itu nyipit.
“Jatuh sampai berdarah seperti ini?”
Sunyi.
Gue bisa ngerasa jantung gue berdetak sampai ke leher.
Kalau gue salah jawab—
Selesai.
“Dia lari-larian, Pak,” lanjut emak gue. “Kena kaca.”
Masuk akal.
Sekilas.
Polisi itu belum puas.
Dia jalan pelan ke arah lorong.
Ngikutin jejak darah.
Gue langsung gerak.
Refleks.
“Pak—”
“Diam dulu.” tegas.
Gue berhenti.
Nggak bisa maksa.
Polisi kedua mulai nyebar pandangan ke orang-orang.
“Siapa yang luka?”
Nggak ada yang jawab.
Semua diam.
Terlalu diam.
Dan itu justru mencurigakan.
“Pak, kami harus cek,” katanya.
Polisi pertama udah sampai di depan kamar.
Pintu kebuka.
Dia berdiri di sana.
Beberapa detik.
Nggak masuk.
Nggak juga mundur.
Sunyi.
Semua nahan napas.
Gue lihat dari jauh—
Bahunya kaku.
Lalu pelan…
Dia masuk.
Beberapa detik kemudian—
Suara napasnya berubah.
Lebih berat.
“Panggil ambulans,” katanya pelan ke temannya.
Jantung gue langsung jatuh.
Polisi kedua langsung ambil HT.
“Unit, butuh ambulans di lokasi…”
Semua orang mulai panik.
Ada yang nangis.
Ada yang mundur.
Dika langsung maju.
“Tolong… anak saya…”
Suaranya pecah lagi.
Polisi kedua nengok ke dia.
“Anak siapa?”
Dika nggak sempat jawab.
Karena dari dalam kamar—
Polisi pertama keluar lagi.
Wajahnya berubah.
Serius.
Lebih gelap.
“Dua korban.”
Kalimat itu jatuh kayak palu.
Semua orang langsung hancur.
Tangisan pecah.
Emak gue diam.
Rika…
Masih senyum.
Polisi itu langsung lihat satu per satu.
Naluri dia jalan.
Dia tahu ini bukan kecelakaan biasa.
“Siapa yang terakhir di kamar itu?” tanya dia tegas.
Sunyi.
Nggak ada yang jawab.
Gue nengok ke Rani.
Dia pucat.
Tangan gue makin dingin.
Kalau gue diam—
Rani bisa kena.
Kalau gue jujur—
Semua terbongkar.
Dan sebelum gue sempat mutusin—
Rika maju satu langkah.
Tenang.
“Aku.”
Semua langsung nengok.
Polisi itu fokus ke dia.
“Kamu di dalam?”
Rika angguk.
“Iya.”
“Ngapain?”
Dia senyum.
Tipis.
“Mau nenangin.”
Polisi itu nyipit.
“Dengan cara apa?”
Rika nggak jawab.
Cuma lihat ke gue.
Lama.
Kayak lagi nunggu.
Dan di detik itu—
Gue sadar sesuatu yang bikin gue makin dingin.
Dia bukan cuma ngaku.
Dia lagi…
Narik gue masuk.
Kalau gue ikut—
Dia nggak sendiri.
Kalau gue diam—
Dia bisa ubah cerita.
Polisi itu mulai jalan ke arah Rika.
Pelan.
“Tolong ikut kami ke depan.”
Rika nurut.
Lewat di depan gue.
Dekat banget.
Dan saat dia lewat—
Dia bisik.
Pelan.
Cuma gue yang denger.
“Kamu juga tahu rasanya pengen sunyi, kan…”
Langkah gue langsung kaku.
Darah gue serasa berhenti.
Karena di kepala gue—
Kata-kata itu…
Nggak sepenuhnya salah.
Dan itu…
Yang paling gue takutin.
Rika berhenti tepat sebelum keluar dari lorong.
Polisi di depannya sudah setengah berbalik, siap menggiring dia ke ruang tamu. Tapi Rika nggak lanjut jalan. Dia malah nengok ke belakang. Ke gue.
Tatapannya dalam.
Tenang.
Seolah semua ini… memang harus terjadi.
“Pak,” katanya pelan ke polisi, “sebelum saya ikut… saya mau ngomong satu hal.”
Polisi itu berhenti.
Noleh sedikit.
“Apa?”
Rika nggak langsung jawab.
Dia lihat ke semua orang di ruangan itu.
Satu per satu.
Dika.
Rani.
Gue.
Dan terakhir—
Emak gue.
Senyumnya muncul lagi.
“Kalian pikir ini selesai kalau saya yang dibawa?”
Sunyi.
Kalimat itu bikin udara langsung berat.
Polisi itu mulai curiga.
“Apa maksud kamu?”
Rika tarik napas kecil.
Lalu ngomong.
“Yang di kamar itu… bukan cuma karena saya.”
Gue langsung ngerasa dada gue ditekan lagi.
“Jelaskan,” kata polisi.
Rika angkat tangan pelan.
Nunjuk.
Ke arah emak gue.
“Dia juga.”
Semua langsung pecah.
“EH JANGAN NGACO!” teriak salah satu tante.
“Fitnah!” yang lain nyusul.
Tapi suara mereka tenggelam.
Karena semua mata sekarang—
Ke emak gue.
Dan yang bikin semuanya makin hancur—
Dia nggak langsung nolak.
Gue maju.
“Mak… ngomong.”
Suara gue gemetar.
Dia lihat gue.
Lama.
Lalu…
Dia duduk pelan di kursi dekat dinding.
Kayak orang yang baru kehilangan tenaga.
Polisi langsung siaga.
“Bu, kami butuh penjelasan.”
Emak gue tarik napas.
Dalam.
Dan akhirnya—
Dia ngomong.
“Yang anak itu… bukan saya.”
Semua langsung nengok ke Rika.
Rika cuma senyum.
“Yang nenek…” lanjut emak gue.
Suara dia makin pelan.
“…iya.”
Tangisan langsung pecah lagi.
Kali ini lebih keras.
Lebih liar.
Gue berdiri kaku.
Nggak bisa ngapa-ngapain.
Polisi langsung maju.
“Bu, mohon berdiri.”
Emak gue nurut.
Pelan.
Nggak melawan.
Tapi sebelum dia jalan—
Dia nengok ke gue.
Matanya merah.
Penuh sesuatu yang nggak bisa gue jelasin.
“Maaf,” katanya.
Satu kata.
Tapi rasanya kayak ditusuk.
Gue nggak bisa jawab.
Nggak bisa gerak.
Polisi mulai menggiring dua-duanya.
Rika di depan.
Emak gue di belakang.
Dika jatuh duduk lagi.
Nangis.
Habis.
Rani di samping gue.
Masih pegang tangan gue.
Tapi sekarang—
Gue nggak ngerasa apa-apa.
Kosong.
Dan saat mereka lewat di depan gue—
Rika berhenti lagi.
Sekilas.
Dia nengok ke gue.
Terakhir.
“Sekarang rumahnya bakal sunyi.”
Senyumnya tipis.
Lalu dia jalan lagi.
Keluar.
Pintu depan kebuka.
Cahaya dari luar masuk.
Terang.
Tapi nggak hangat.
Suara orang-orang di luar mulai ramai.
Tetangga.
Ambulans.
Polisi.
Semua campur.
Rumah itu yang tadi penuh—
Sekarang terasa kosong.
Aneh.
Dingin.
Gue berdiri di tengah ruang tamu.
Ngelihat semuanya.
Satu per satu.
Piring di dapur.
Karpet di lantai.
Kipas angin yang masih muter.
Berdecit.
Persis kayak tadi.
Cuma bedanya—
Sekarang…
Nggak ada suara lagi.
Nggak ada bisikan.
Nggak ada sindiran.
Nggak ada ketawa kecil.
Sunyi.
Persis seperti yang mereka mau.
Rani pelan-pelan narik tangan gue.
“Jun…”
Gue nengok ke dia.
Matanya merah.
Tapi hidup.
Dia masih di sini.
Gue masih di sini.
Tapi…
Semua yang gue anggap rumah—
Udah nggak ada.
Dan di tengah sunyi itu—
Tiba-tiba gue sadar satu hal.
Kalau semua ini—
Nggak dimulai hari ini.
Nggak juga berakhir hari ini.
Karena yang paling bahaya bukan cuma mereka yang ketangkep…
Tapi kebiasaan diam.
Yang bikin semuanya bisa terjadi.
Dan mungkin…
Masih akan terjadi lagi.
Di tempat lain.
Di keluarga lain.
Dengan alasan yang sama:
Biar tetap tenang.
Beberapa hari setelah kejadian itu…
Rumah emak gue kosong.
Bener-bener kosong.
Karpet masih di tempat yang sama. Kipas angin masih muter pelan. Bau dapur udah hilang, diganti bau debu yang nggak pernah ada sebelumnya.
Gue berdiri di ruang tamu.
Sendirian.
Rani di luar, lagi ngobrol sama tetangga yang masih penasaran. Polisi udah selesai garis polisi. Ambulans udah lama pergi.
Tapi…
Sunyinya masih tinggal.
Dan anehnya—
Sunyi ini…
Nggak bikin gue lega.
Gue jalan pelan ke arah dapur.
Lihat wastafel.
Tumpukan piring udah nggak ada.
Bersih.
Licin.
Rapi.
Gue sentuh salah satu piring.
Dingin.
Refleks gue ambil.
Lalu gue taruh lagi.
Pelan.
Tanpa suara.
Gue berhenti.
Kening gue mengernyit.
Kenapa gue… sengaja pelan?
Gue langsung buang napas.
“Nggak… jangan aneh-aneh.”
Gue balik badan.
Jalan ke ruang tamu lagi.
Tapi langkah gue otomatis pelan.
Nggak ada bunyi.
Nggak ada gesekan.
Kayak…
Gue lagi berusaha menjaga sesuatu.
Atau…
Menghindari sesuatu.
HP gue getar.
Pesan masuk.
Dari nomor nggak dikenal.
Gue buka.
Isinya cuma satu kalimat:
“Udah lebih tenang, kan?”
Jantung gue langsung berhenti satu detik.
Gue bengong.
Nomor itu…
Nggak ada nama.
Nggak ada foto.
Kosong.
Tapi kalimatnya—
Gue kenal.
Gue langsung nengok ke arah pintu depan.
Kosong.
Nggak ada siapa-siapa.
Gue ketik balik.
“Siapa ini?”
Centang satu.
Nggak masuk.
Sinyal gue full.
Tapi pesan gue…
Nggak terkirim.
Gue telan ludah.
Pelan.
Lalu—
Dari arah dapur—
Terdengar suara kecil.
“Krek…”
Kayak piring bergeser.
Gue langsung nengok.
Jantung gue ngebut.
“Nggak mungkin…”
Gue jalan pelan ke dapur.
Semakin dekat—
Semakin jelas.
Ada suara.
Halus.
Kayak ada yang lagi nyusun sesuatu.
Gue sampai di ambang pintu dapur.
Kosong.
Nggak ada siapa-siapa.
Tapi—
Di atas meja—
Piring yang tadi gue pegang…
Sekarang pindah posisi.
Lebih rapi.
Lebih lurus.
Lebih… sempurna.
Tangan gue langsung dingin.
Gue mundur satu langkah.
Pelan.
Dan di detik itu—
Suara Rani dari luar masuk.
“Jun! Udah selesai belum?”
Gue nengok ke arah pintu depan.
Gue mau jawab.
Tapi—
Suara gue nggak keluar.
Karena di kepala gue—
Tiba-tiba muncul satu pikiran.
Pelan.
Tapi jelas.
“Kalau semuanya rapi… nggak ada yang ribut…”
Napas gue berhenti.
Gue langsung sadar.
Kalimat itu…
Bukan cuma dari Rika.
Bukan cuma dari emak.
Sekarang…
Ada di kepala gue.
Gue nengok lagi ke dapur.
Ke piring-piring yang tersusun rapi.
Ke ruangan yang sunyi.
Dan untuk pertama kalinya—
Gue nggak ngerasa takut.
Gue ngerasa…
Tenang.
Terlalu tenang.
Di luar, Rani manggil lagi.
“Jun?!”
Gue tarik napas.
Lalu jawab.
Pelan.
“Iya… sebentar.”
Gue nengok sekali lagi ke dapur.
Lalu tangan gue—
Tanpa sadar—
Mulai merapikan satu piring yang sedikit miring.
Pelan.
Tanpa suara.
Dan di situ…
Gue nggak sadar lagi…
Gue lagi jadi siapa.
—
Tamat.
Atau…
Baru mulai?
Jadi sekeluarga sakit jiwa ya?