Cerita Mudik Lebaran: Istri Rela Gadai Cincin Nikah Demi Pulang Kampung

Aku ini tipe lelaki yang hidupnya sederhana. Dari dulu prinsipku cuma satu: kalau ada uang kita jalan, kalau tidak ada ya tidak usah dipaksakan. Hidup tidak perlu dibuat lebih susah dari yang sudah ada. Prinsip itu yang selalu aku pegang sejak masih bujang, bahkan setelah menikah pun aku masih percaya hidup harus dijalani apa adanya. Tapi setelah menikah dengan Tari, aku mulai sadar tidak semua orang melihat hidup dengan cara yang sama.

Tari tidak pernah melihat sesuatu dari “ada atau tidak ada”. Dia melihat dari satu pertanyaan yang berbeda: penting… atau tidak penting. Kalau menurut dia penting, dia akan mencari cara supaya itu tetap terjadi.

Contohnya tahun lalu.

Ramadan baru masuk minggu kedua. Udara di kontrakan kami panas sekali. Kipas angin tua di pojok kamar berderit setiap berputar, krek… krek… krek… Aku duduk di lantai sambil menghitung uang di atas karpet tipis. Beberapa lembar lima puluh ribuan. Beberapa dua puluh ribuan. Aku hitung lagi. Tidak berubah.

“Istriku,” kataku.

Dia sedang melipat baju di kasur.

“Iya?”

“Tahun ini kita tidak usah mudik.”

Tangannya berhenti sebentar. Lalu melipat lagi seperti biasa.

“Kenapa?”

Aku geser uang itu ke arahnya.

“Ini tabungan kita.”

Dia menatap sebentar, lalu kembali melipat baju.

“Ongkos bus mahal. Belum nanti di kampung pasti keluar uang. Lebaran juga. Kita lagi seret. Kalau memang tidak ada uang… ya tidak usah dipaksakan.”

Itu prinsip hidupku.

Tari tidak langsung menjawab. Dia hanya mengangguk kecil.

“Iya,” katanya pelan.

Topik selesai.

Setidaknya menurutku.

Malam itu kami sahur seperti biasa. Nasi hangat, telur dadar tipis, sambal sisa kemarin. Di luar kontrakan suara motor lewat gang kecil, dan dari jauh terdengar toa masjid membaca ayat pendek sebelum subuh. Semua terasa normal.

Sampai keesokan harinya.

Aku pulang kerja agak sore. Langit Jakarta kelabu, gerimis kecil turun sejak siang. Saat membuka pintu kontrakan, aku melihat Tari duduk di kursi plastik dekat jendela. Di tangannya ada plastik kecil. Matanya agak merah.

“Kamu kenapa?” tanyaku.

Dia cepat menggeleng.

“Nggak apa-apa.”

Aku duduk di depannya.

Baru saat itu aku melihat uang di atas meja.

Banyak.

Lebih banyak dari yang semalam aku hitung.

Aku menatapnya lama.

“Ini uang dari mana?”

Tari tidak langsung menjawab. Dia mengusap hidungnya sebentar, lalu berkata pelan,

“Aku jual perhiasan.”

Aku langsung diam.

Perhiasan itu bukan sembarang perhiasan. Itu gelang emas kecil yang diberikan ibunya sehari sebelum kami menikah. Aku masih ingat ibunya berkata waktu itu, “Ini bukan mahal. Tapi ini tanda kalau kamu sudah punya rumah sendiri sekarang.”

Dan sekarang gelang itu sudah tidak ada.

“Kenapa harus sampai dijual?” tanyaku.

Tari menunduk.

“Supaya kita bisa mudik.”

Aku menarik napas panjang.

“Tidak mudik juga tidak apa-apa.”

Dia mengangkat kepala. Matanya masih merah.

Lalu dia mengatakan satu kalimat yang sampai sekarang masih aku ingat jelas.

“Bagiku, pulang ke orang tua itu penting.”

Aku tidak bisa membantah.

Akhirnya kami mudik.

Perjalanan panjang dengan bus ekonomi malam. Kursinya sempit, AC kadang dingin kadang mati. Bau solar masuk dari jendela sepanjang jalan. Tapi Tari terlihat bahagia. Dia menatap jalanan di luar jendela sepanjang malam.

Saat kami sampai di kampung pagi-pagi, udara masih dingin. Kabut tipis menutup sawah. Ibunya memeluk Tari lama sekali.

Dan saat itu aku berpikir… mungkin istriku benar. Mungkin memang ada hal-hal yang lebih penting dari logika.

Aku kira cerita mudik itu selesai di situ.

Sampai tiga hari setelah kami kembali ke kota.

Sore itu aku sedang mencari charger ponsel di dalam tas kerja Tari.

Dan di antara lipatan dompetnya… aku menemukan sesuatu.

Sebuah struk pegadaian.

Tanggalnya sehari sebelum kami mudik.

Aku membaca bagian barang yang digadaikan.

Dadaku langsung terasa dingin.

Bukan gelang emas.

Di sana tertulis:

CINCIN.

Aku menatap tanggal di struk itu sekali lagi.

Dan saat itulah aku menyadari sesuatu yang jauh lebih aneh.

Tanggal itu…

sama persis dengan tanggal kematian suami pertama Tari.

Aku membaca tanggal di struk itu dua kali.

Lalu tiga kali.

Tetap sama.

Tanganku masih memegang kertas kecil dari pegadaian itu ketika sesuatu mulai terasa tidak enak di dadaku. Bukan karena cincin itu digadaikan. Uang memang kadang memaksa orang melakukan hal yang tidak ingin dilakukan. Tapi yang membuat pikiranku berhenti di satu titik adalah… tanggal itu.

Tanggal yang tertulis di struk itu sama dengan tanggal kematian suami pertama Tari.

Masalahnya… Tari tidak pernah benar-benar menceritakan tentang itu.

Yang aku tahu hanya satu hal: dia pernah menikah.

Itu saja.

Cerita itu muncul singkat sekali dulu, bahkan sebelum kami menikah. Waktu itu kami sedang duduk di warung kopi kecil dekat tempat kerjaku. Dia bilang pelan kalau dulu dia pernah menikah, tapi suaminya meninggal tidak lama setelah akad.

Aku ingat aku hanya menjawab, “Oh.”

Tidak lebih dari itu.

Karena bagiku masa lalu orang bukan sesuatu yang perlu dibongkar terlalu dalam. Kalau dia tidak ingin bercerita, aku tidak akan memaksa.

Dan setelah hari itu… kami tidak pernah membicarakan Rudi lagi.

Ya.

Itu nama suaminya.

Rudi.

Aku tahu namanya dari undangan pernikahan lama yang pernah dia tunjukkan sekali, sekilas, sebelum kami menikah.

Tapi setelah itu, seolah nama itu menghilang dari hidup kami.

Sekarang aku berdiri di ruang kontrakan kecil kami, memegang struk pegadaian yang menyebut kata “cincin”.

Dan entah kenapa, pikiranku langsung kembali ke satu hal.

Cincin nikah kami.

Aku menoleh ke arah kamar.

Tari sedang di dapur kecil, memotong bawang di atas talenan plastik. Suara pisau mengenai papan kayu terdengar pelan dari sana.

Tak.

Tak.

Tak.

Suaranya biasa saja.

Tapi tiba-tiba terasa seperti terlalu keras.

Aku melipat struk itu pelan dan memasukkannya kembali ke dalam dompetnya.

Aku tidak langsung menanyakan apa-apa.

Bukan karena tidak ingin tahu.

Tapi karena aku tahu satu hal tentang Tari: kalau dia belum siap bercerita, dia akan diam sekeras apa pun orang mencoba membuka mulutnya.

Aku keluar ke dapur.

Dia tidak menoleh.

“Udah pulang?” katanya.

“Iya.”

Dia masih memotong bawang.

“Capek?”

“Lumayan.”

Aku berdiri beberapa detik di dekat pintu dapur.

“Tar.”

Dia berhenti memotong.

“Iya?”

Aku menatap punggungnya.

“Kamu kemarin bilang jual gelang.”

Dia mengangguk kecil.

“Iya.”

“Yang dari ibumu.”

“Iya.”

Aku menarik napas pelan.

“Tapi di dompetmu ada struk pegadaian.”

Tangannya langsung berhenti.

Pisau di tangannya tidak bergerak lagi.

Beberapa detik dapur itu benar-benar sunyi.

Lalu dia berkata pelan tanpa menoleh,

“Kamu buka dompetku?”

“Aku cari charger.”

Dia masih diam.

Aku melanjutkan pelan,

“Di struk itu tertulis cincin.”

Sekarang bahunya terlihat tegang.

“Aku cuma mau tahu satu hal.”

Aku berhenti sebentar.

“Cincin apa yang kamu gadaikan?”

Pisau di tangannya perlahan diletakkan di meja.

Dia menutup mata sebentar.

Lalu akhirnya menoleh ke arahku.

Matanya merah.

Seperti orang yang sudah lama menahan sesuatu.

“Cincin kita.”

Kalimat itu keluar pelan sekali.

Aku tidak langsung menjawab.

Aku hanya menatap tangannya.

Jari manisnya kosong.

Baru sekarang aku sadar.

Sejak tadi dia memang tidak memakai cincin itu.

“Kamu kenapa tidak bilang dari awal?” tanyaku.

Dia menunduk.

“Karena kamu pasti marah.”

“Aku tidak marah.”

Dia mengangkat kepala.

“Kamu pasti merasa aneh.”

Aku tidak membantah.

Karena memang terasa aneh.

Bukan karena cincin itu digadaikan.

Tapi karena satu hal yang sejak tadi terus berputar di kepalaku.

Aku bertanya pelan,

“Tar.”

“Iya?”

“Kenapa kamu menggadaikan cincin itu… tepat di tanggal itu?”

Dia langsung diam.

Aku bisa melihat perubahan kecil di wajahnya.

Seperti seseorang yang baru saja tersandung sesuatu yang tidak dia sangka.

“Apa maksud kamu?”

Aku mengeluarkan struk itu dari sakuku.

Menaruhnya di meja dapur.

“Tanggal ini.”

Dia menatap struk itu beberapa detik.

Lalu wajahnya perlahan berubah.

Aku bisa melihat sesuatu di matanya.

Bukan marah.

Bukan takut.

Lebih seperti… kaget.

“Kenapa kamu pilih hari itu?” tanyaku.

Dia tidak menjawab.

Tangannya perlahan memegang ujung meja dapur.

Lalu dia berkata sangat pelan,

“Aku tidak pilih tanggal itu.”

Aku mengerutkan dahi.

“Maksudnya?”

Dia menelan ludah.

“Pegadaian yang menentukan.”

Aku menatapnya lama.

“Tar.”

“Iya.”

“Kalau itu cuma kebetulan…”

Aku berhenti sebentar.

“…kenapa kamu terlihat seperti orang yang baru sadar sesuatu?”

Tari tidak langsung menjawab.

Dia hanya menatap struk itu lama sekali.

Sampai akhirnya dia berkata pelan,

“Aku tidak sadar… sampai kamu bilang.”

Aku masih berdiri di dapur ketika dia mengambil kursi dan duduk perlahan.

Matanya masih tertuju pada struk itu.

Lalu dia berkata sesuatu yang membuat perutku terasa kosong.

“Aku tidak pernah ingat tanggal dia meninggal.”

Aku menatapnya.

“Serius?”

Dia mengangguk pelan.

“Selama ini aku berusaha melupakan semuanya.”

Dapur itu kembali sunyi.

Tak ada suara apa pun.

Sampai akhirnya aku bertanya satu hal yang seharusnya kutanyakan sejak dulu.

“Tar.”

“Iya?”

“Rudi sebenarnya meninggal karena apa?”

Tari tidak langsung menjawab.

Dia hanya menatap meja dapur.

Lama sekali.

Lalu akhirnya berkata pelan,

“Katanya… jatuh.”

Aku mengerutkan dahi.

“Katanya?”

Dia mengangguk.

“Waktu aku datang ke kamar… dia sudah di lantai.”

Aku langsung menatapnya.

“Kamu yang menemukan dia?”

Tari mengangkat wajahnya.

Matanya terlihat sangat aneh sekarang.

Seperti seseorang yang baru saja membuka pintu ingatan yang sudah lama dikunci.

Lalu dia berkata pelan,

“Bukan.”

Aku menunggu.

Beberapa detik terasa sangat panjang.

Dan akhirnya dia menyelesaikan kalimat itu.

“Orang pertama yang melihat Rudi di lantai… bukan aku.”

Aku merasakan sesuatu di dadaku menegang.

“Lalu siapa?”

Tari menatapku.

Lalu berkata pelan,

“Ayahku.”

Dapur kontrakan kami tiba-tiba terasa lebih sempit.

Aku masih berdiri di depan meja dapur. Tari duduk di kursi plastik, tangannya menggenggam ujung meja seperti orang yang sedang menahan sesuatu agar tidak jatuh.

“Ayahmu?” tanyaku pelan.

Tari mengangguk.

“Iya.”

Aku menarik kursi di depannya dan duduk perlahan.

“Ceritakan dari awal.”

Dia tidak langsung bicara. Matanya masih tertuju pada struk pegadaian yang tergeletak di meja.

Beberapa detik terasa sangat panjang.

Lalu dia berkata pelan,

“Malam itu aku tidak ada di rumah.”

Aku mengerutkan dahi.

“Maksudnya?”

“Aku keluar.”

“Ke mana?”

Dia menggeleng kecil.

“Aku tidak ingat jelas.”

Aku menatapnya.

“Kamu tidak ingat?”

Dia mengangkat bahu sedikit.

“Malam itu semuanya seperti kabur di kepalaku.”

Aku tidak langsung menjawab.

Bukan karena aku tidak percaya.

Tapi karena cara dia mengatakan itu terasa aneh. Seperti seseorang yang memang benar-benar tidak ingin membuka pintu ingatan itu.

Aku bertanya lagi,

“Lalu siapa yang pertama menemukan Rudi?”

“Ayah.”

“Dia cerita?”

Tari mengangguk.

“Dia bilang waktu itu dia lewat depan kamar Rudi. Lampunya masih nyala.”

Aku menunggu.

“Dia masuk ke kamar… dan melihat Rudi sudah di lantai.”

“Masih hidup?”

Tari diam sebentar.

Lalu menjawab,

“Ayah bilang waktu itu dia tidak tahu.”

Aku menatapnya lama.

“Ayahmu tidak langsung memanggil kamu?”

Dia menggeleng.

“Aku baru tahu setelah semuanya selesai.”

“Setelah semuanya selesai?”

Tari menelan ludah.

“Setelah orang-orang datang.”

“Orang-orang?”

“Polisi. Tetangga. Keluarga.”

Aku bersandar sedikit di kursi.

“Dan kamu baru tahu waktu itu?”

“Iya.”

Dapur kembali sunyi.

Suara motor lewat di gang depan kontrakan terdengar dari jauh.

Aku masih mencoba menyusun potongan cerita itu di kepalaku.

“Tar.”

“Iya?”

“Kamu benar-benar tidak tahu apa yang terjadi malam itu?”

Dia menatapku.

Matanya terlihat lelah.

“Kalau aku tahu… aku pasti sudah cerita dari dulu.”

Aku mengangguk pelan.

Masuk akal.

Tapi ada sesuatu yang masih mengganjal di pikiranku.

“Kalau kamu tidak ada di rumah malam itu…”

Aku berhenti sebentar.

“…kamu di mana?”

Tari tidak langsung menjawab.

Dia menatap meja dapur beberapa detik.

Lalu berkata pelan,

“Aku jalan.”

“Ke mana?”

“Keliling kampung.”

“Sendirian?”

Dia mengangguk.

“Kenapa?”

Dia menarik napas panjang.

“Karena kami habis bertengkar.”

Aku langsung menatapnya.

“Bertengkar?”

“Iya.”

Tentang apa?”

Tari menggeleng pelan.

“Aku tidak mau mengingatnya.”

Aku tidak memaksa.

Tapi justru kalimat itu membuat rasa penasaran di kepalaku semakin besar.

Aku berdiri dari kursi.

“Tar.”

Dia menatapku.

“Besok aku mau ke kampungmu.”

Dia terlihat kaget.

“Ngapain?”

“Aku mau tanya orang-orang di sana.”

Wajahnya langsung berubah.

“Tidak perlu.”

“Kenapa?”

“Karena semuanya sudah selesai.”

Aku menggeleng.

“Belum buatku.”

Dia menatapku lama.

Seperti sedang mencoba membaca pikiranku.

“Apa yang sebenarnya kamu cari?” tanyanya pelan.

Aku tidak langsung menjawab.

Aku hanya menunjuk struk pegadaian di meja.

“Tanggal itu.”

Dia menatapnya lagi.

“Aku tidak percaya itu cuma kebetulan.”

Tari menghela napas panjang.

“Kadang memang ada kebetulan dalam hidup.”

Aku mengangguk pelan.

“Mungkin.”

Aku mengambil jaket dari gantungan di dekat pintu.

Dia langsung berdiri.

“Mau ke mana?”

“Keluar sebentar.”

“Jam segini?”

“Iya.”

Dia terlihat gelisah sekarang.

“Mau ke mana?”

Aku menatapnya.

“Aku cuma ingin memastikan sesuatu.”

“Apa?”

Aku membuka pintu kontrakan.

Udara malam masuk ke dalam ruangan.

Lalu aku berkata pelan,

“Aku ingin tahu siapa yang pertama kali cerita kalau Rudi jatuh.”

Tari tidak menjawab.

Aku keluar dari kontrakan dan menutup pintu di belakangku.

Gang kecil di depan rumah kami sudah sepi.

Lampu jalan kuning menyala redup.

Aku berjalan beberapa meter sebelum berhenti.

Ada satu hal yang sejak tadi mengganggu pikiranku.

Aku mengeluarkan ponsel.

Lalu mencari sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Berita lama.

Tentang kematian Rudi.

Butuh beberapa menit sebelum akhirnya aku menemukannya.

Sebuah artikel pendek dari koran lokal.

Judulnya sederhana.

“PRIA DITEMUKAN MENINGGAL DI RUMAHNYA.”

Aku membaca cepat isi beritanya.

Dan saat membaca bagian terakhir…

dadaku langsung terasa dingin.

Karena di sana tertulis satu kalimat yang berbeda dari cerita Tari.

Rudi tidak ditemukan oleh ayahnya.

Di berita itu tertulis:

Rudi pertama kali ditemukan oleh tetang

Aku membaca kalimat itu beberapa kali.

Tetap sama.

“Rudi pertama kali ditemukan oleh tetangga.”

Aku menatap layar ponsel lama sekali. Angin malam di gang kecil depan kontrakan terasa dingin di kulit. Tapi yang membuat dadaku tidak enak bukan udara malam itu.

Melainkan satu hal sederhana.

Cerita Tari barusan tidak sama dengan berita ini.

Di berita itu jelas tertulis: tetangga yang pertama kali menemukan Rudi.

Bukan ayahnya.

Aku mengunci layar ponsel dan memasukkannya kembali ke saku.

Pikiranku mulai dipenuhi banyak pertanyaan.

Kenapa ceritanya berbeda?

Apakah Tari salah ingat?

Atau… dia memang tidak pernah tahu cerita yang sebenarnya?

Aku berdiri di ujung gang beberapa menit sebelum akhirnya memutuskan kembali ke kontrakan.

Lampu ruang tengah masih menyala ketika aku membuka pintu.

Tari duduk di kursi plastik yang sama seperti tadi. Dia belum mengganti posisi. Seperti orang yang menunggu sesuatu sejak aku keluar.

“Kamu lama,” katanya pelan.

Aku tidak langsung menjawab.

Aku duduk di depannya.

“Kamu bilang ayahmu yang menemukan Rudi.”

Dia mengangguk.

“Iya.”

“Yakin?”

Dia menatapku aneh.

“Kenapa?”

Aku mengeluarkan ponsel dan membuka artikel yang tadi kubaca.

Lalu aku geser ponsel itu ke arahnya.

“Di berita ini tertulis tetangga yang menemukan dia.”

Tari membaca layar itu perlahan.

Aku bisa melihat matanya bergerak mengikuti setiap kalimat.

Lalu wajahnya berubah.

“Aku… tidak pernah baca berita ini.”

Aku menatapnya.

“Jadi kamu tahu cerita itu dari siapa?”

“Dari ayah.”

Jawabannya keluar cepat.

Aku bersandar di kursi.

“Berarti salah satu dari mereka tidak berkata jujur.”

Tari langsung menggeleng.

“Ayahku tidak mungkin bohong.”

“Kenapa tidak mungkin?”

Dia menatapku tajam.

“Karena tidak ada alasan.”

Aku tidak langsung menjawab.

Kadang orang tidak butuh alasan besar untuk menutupi sesuatu.

Kadang cukup satu alasan kecil: takut.

Aku mengambil ponselku kembali.

“Tar.”

“Iya.”

“Di kampungmu siapa tetangga yang paling dekat rumah Rudi?”

Dia terlihat ragu.

“Kamu serius mau ke sana?”

Aku mengangguk.

Dia menatapku lama sekali.

Lalu akhirnya berkata pelan,

“Ada satu orang.”

“Siapa?”

“Pak Hadi.”

“Rumahnya dekat?”

“Tepat di sebelah.”

Aku mengangguk kecil.

“Besok aku ke sana.”

Tari langsung berdiri.

“Jangan.”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

“Karena itu tidak akan mengubah apa-apa.”

“Buatku mungkin iya.”

Dia menelan ludah.

“Junaidi… masa lalu tidak selalu perlu dibongkar.”

Aku berdiri dari kursi.

“Kalau masa lalu itu masih mempengaruhi hidup kita… menurutku perlu.”

Kami berdua diam beberapa detik.

Lalu Tari berkata pelan,

“Ayah tidak suka orang membicarakan Rudi.”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

Dia menggeleng.

“Aku tidak tahu.”

Tapi cara dia mengatakan itu membuatku merasa dia sebenarnya tahu lebih banyak dari yang dia katakan.

Malam itu kami tidur tanpa banyak bicara.

Tapi aku hampir tidak tidur sama sekali.

Pikiranku terus memutar satu hal.

Kenapa cerita tentang malam itu berbeda-beda?

Dan kenapa Tari terlihat begitu takut ketika aku bilang akan kembali ke kampungnya?

Keesokan paginya kami berangkat.

Bus ekonomi yang sama seperti waktu mudik. Kursinya tetap sempit, jendelanya tetap bergetar setiap kali melewati jalan rusak.

Sepanjang perjalanan Tari lebih banyak diam.

Sesekali dia melihat keluar jendela.

Aku tahu dia sedang memikirkan sesuatu.

Mungkin berharap aku berubah pikiran.

Tapi aku tidak berubah.

Kami sampai di kampungnya menjelang sore.

Udara desa selalu terasa berbeda dengan kota. Lebih lembab. Lebih pelan.

Rumah orang tua Tari tidak banyak berubah sejak terakhir kali kami datang.

Halaman kecil. Pohon mangga di depan rumah.

Ibunya langsung menyambut kami dengan pelukan hangat.

“Aduh… kenapa tidak bilang dulu kalau mau datang?”

Aku hanya tersenyum kecil.

“Lagi kangen kampung.”

Ayahnya keluar dari dalam rumah beberapa menit kemudian.

Wajahnya terlihat sedikit kaget melihat kami.

“Kalian tiba-tiba sekali.”

Aku menyalami tangannya.

“Iya Pak.”

Kami masuk ke ruang tamu.

Beberapa menit pertama diisi dengan obrolan biasa.

Tentang kerjaan.

Tentang perjalanan.

Tentang Jakarta.

Sampai akhirnya aku berkata pelan,

“Pak.”

Ayah Tari menoleh.

“Iya?”

“Aku tadi membaca sesuatu tentang Rudi.”

Ruangan langsung terasa sunyi.

Ibunya berhenti menuang teh.

Tari langsung menatapku.

Aku melanjutkan,

“Di berita lama tertulis tetangga yang menemukan dia.”

Ayah Tari tidak langsung menjawab.

Dia hanya menatapku beberapa detik.

Lalu berkata datar,

“Memang tetangga yang memanggil orang-orang.”

Aku mengerutkan dahi.

“Berarti bukan Bapak yang pertama melihat dia?”

Ayah Tari mengambil cangkir tehnya perlahan.

Tangannya terlihat sedikit kaku.

Lalu dia berkata pelan,

“Aku juga melihat dia malam itu.”

Aku menatapnya.

“Malam itu?”

Dia mengangguk.

“Iya.”

Aku menunggu.

Tapi dia tidak melanjutkan.

“Pak,” kataku pelan.

“Apa yang sebenarnya terjadi malam itu?”

Ayah Tari menatapku lama.

Sangat lama.

Lalu dia berkata sesuatu yang membuat seluruh ruangan terasa dingin.

“Seharusnya kamu tidak menanyakan itu.”

Kalimat ayah Tari menggantung di ruang tamu kecil itu.

Aku bisa merasakan perubahan suasana di ruangan. Ibunya langsung kembali sibuk di dapur seperti orang yang pura-pura tidak mendengar apa-apa. Tari menatapku dengan wajah tegang, seolah berharap aku berhenti di situ.

Tapi aku tidak bisa.

Aku sudah terlalu jauh masuk ke cerita ini.

“Kenapa tidak boleh?” tanyaku pelan.

Ayah Tari tidak langsung menjawab. Dia hanya mengangkat cangkir teh ke bibirnya, meminum sedikit, lalu meletakkannya kembali di meja.

“Karena tidak ada gunanya lagi,” katanya datar.

Aku menatapnya.

“Buat saya mungkin ada.”

Dia menatapku lama sekali, seolah mencoba membaca sesuatu di wajahku.

“Kamu sudah menikah dengan Tari,” katanya akhirnya. “Kalian sudah punya hidup sendiri. Tidak perlu membawa-bawa masa lalu lagi.”

Aku mengangguk pelan.

“Masalahnya masa lalu itu tidak pernah benar-benar hilang.”

Ayah Tari tidak menjawab.

Aku melanjutkan,

“Kalau memang semuanya sederhana, kenapa cerita tentang malam itu berbeda-beda?”

Tari langsung menyela.

“Junaidi, sudah.”

Aku menoleh padanya.

“Aku cuma bertanya.”

Dia menggeleng pelan.

“Tidak semua pertanyaan perlu jawaban.”

Aku kembali menatap ayahnya.

“Pak, saya hanya ingin tahu satu hal.”

Dia tidak terlihat tertarik, tapi tetap mendengarkan.

“Apakah Bapak benar-benar orang pertama yang melihat Rudi malam itu?”

Beberapa detik ruangan itu benar-benar sunyi.

Ayah Tari tidak langsung menjawab.

Dia menatap meja.

Lalu berkata pelan,

“Aku masuk ke kamarnya malam itu.”

Aku menunggu.

“Dia sudah di lantai.”

“Masih hidup?” tanyaku.

Ayah Tari tidak langsung menjawab.

Tangannya menggenggam cangkir teh lebih erat.

“Aku tidak tahu.”

Aku menatapnya tajam.

“Tidak tahu… atau tidak mau tahu?”

Tari langsung berdiri dari kursinya.

“Cukup!”

Suara kursinya bergeser keras di lantai.

“Kenapa kamu terus menekan ayahku?” katanya.

Aku menatapnya.

“Karena cerita ini tidak masuk akal.”

Dia terlihat marah sekarang.

“Kamu tidak kenal Rudi. Kamu tidak tahu seperti apa hidup waktu itu.”

“Makanya aku bertanya.”

Tari menggeleng keras.

“Kamu datang ke sini cuma untuk menggali luka lama.”

Aku menarik napas pelan.

“Aku datang ke sini karena cincin itu.”

Kalimat itu membuat Tari langsung diam.

Ayahnya perlahan mengangkat kepala.

“Cincin?”

Aku mengeluarkan struk pegadaian dari saku jaketku dan menaruhnya di meja.

“Tari menggadaikan cincin nikah kami.”

Ayah Tari menatap struk itu sebentar.

“Lalu?”

“Aku baru tahu sesuatu.”

Aku menunjuk tanggal di kertas itu.

“Tanggal ini sama dengan tanggal Rudi meninggal.”

Ibunya yang di dapur berhenti bergerak.

Ruangan itu tiba-tiba terasa lebih berat.

Ayah Tari menatap tanggal itu beberapa detik.

Lalu berkata pelan,

“Itu hanya kebetulan.”

Aku menggeleng.

“Mungkin.”

Aku berhenti sebentar.

“Tapi saya merasa ada sesuatu yang tidak pernah selesai dari malam itu.”

Tari menatapku dengan mata berkaca-kaca.

“Kamu tidak perlu tahu semuanya.”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

Dia tidak menjawab.

Ayahnya akhirnya berbicara lagi.

“Apa yang sebenarnya kamu cari, Junaidi?”

Aku menatapnya lurus.

“Kebenaran.”

Ayah Tari tertawa kecil.

Bukan tawa yang senang.

Lebih seperti tawa orang yang sudah terlalu lama memikirkan sesuatu.

“Kebenaran tidak selalu membuat hidup lebih baik,” katanya.

“Mungkin tidak.”

“Tapi setidaknya membuat semuanya jelas.”

Ayah Tari terdiam beberapa detik.

Lalu dia berkata pelan,

“Malam itu memang tidak sesederhana yang orang kira.”

Dadaku langsung menegang.

“Bapak tahu sesuatu.”

Dia tidak langsung menjawab.

Aku bisa melihat sesuatu di wajahnya.

Ragu.

Takut.

Atau mungkin… menyesal.

Akhirnya dia berkata pelan,

“Rudi tidak jatuh sendiri.”

Tari langsung menatap ayahnya.

“Pak…”

Suara itu keluar seperti bisikan.

Aku tidak bergerak.

“Kalau dia tidak jatuh sendiri…”

Aku berhenti sebentar.

“…siapa yang mendorongnya?”

Ayah Tari menatapku.

Lalu perlahan memalingkan wajahnya ke arah Tari.

Ruangan itu tiba-tiba terasa sangat sunyi.

Tari berdiri di tengah ruang tamu dengan wajah pucat.

Matanya membesar seperti seseorang yang baru saja mendengar sesuatu yang seharusnya tidak diucapkan.

Ayahnya berkata sangat pelan.

“Seharusnya kamu tidak memaksaku menceritakan ini.”

Aku menatap Tari.

Dia menggeleng pelan.

“Pak… jangan.”

Tapi ayahnya sudah membuka mulutnya lagi.

Dan kalimat berikutnya membuat udara di ruangan itu terasa seperti berhenti.

“Orang yang terakhir bertengkar dengan Rudi malam itu…”

Dia berhenti sebentar.

“…adalah kamu.”

Ruangan itu langsung sunyi.

Kalimat ayah Tari seperti jatuh di tengah ruang tamu dan tidak ada yang berani menyentuhnya.

“Orang yang terakhir bertengkar dengan Rudi malam itu… adalah kamu.”

Tari berdiri kaku.

Wajahnya pucat. Tangannya perlahan menggenggam ujung kursi di dekatnya seperti orang yang sedang menahan keseimbangan.

“Pak…” suaranya keluar sangat pelan.

Ayahnya tidak menatapnya lagi. Dia hanya menatap meja di depan kami.

Aku merasakan sesuatu di dadaku mengeras.

“Tar,” kataku pelan.

Dia tidak menoleh.

“Benar begitu?”

Dia menggeleng kecil.

“Aku… aku tidak ingat.”

Ayahnya menarik napas panjang.

“Kamu pulang malam itu sambil menangis.”

Tari langsung menatapnya.

“Ayah tidak pernah cerita itu.”

“Karena kamu tidak pernah bertanya.”

Aku berdiri perlahan dari kursi.

“Pak, apa yang sebenarnya terjadi malam itu?”

Ayah Tari terlihat ragu.

Tapi akhirnya dia berkata pelan,

“Aku mendengar kalian bertengkar.”

Aku menunggu.

“Keras sekali.”

“Di mana?” tanyaku.

“Di kamar Rudi.”

Tari menutup matanya.

Seperti seseorang yang mencoba menghindari sesuatu yang sedang muncul di kepalanya.

“Ayah masuk?”

Ayahnya menggeleng.

“Tidak langsung.”

“Kenapa?”

Dia menatapku.

“Karena itu urusan kalian.”

Aku bisa merasakan sesuatu yang tidak enak di perutku.

“Lalu?”

Ayah Tari melanjutkan,

“Beberapa menit kemudian aku dengar sesuatu jatuh.”

Aku menahan napas.

“Aku masuk ke kamar.”

“Dan?”

“Rudi sudah di lantai.”

Ruangan kembali sunyi.

Aku bertanya pelan,

“Tari ada di sana?”

Ayah Tari menggeleng.

“Tidak.”

Aku langsung menoleh ke arah Tari.

Dia berdiri mematung di dekat kursi.

“Tar,” kataku pelan.

“Kamu pergi setelah itu?”

Dia tidak menjawab.

Tangannya mulai gemetar sekarang.

“Aku… tidak ingat,” katanya pelan.

Aku menatapnya lama.

“Kamu benar-benar tidak ingat… atau kamu mencoba melupakan?”

Tari menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Aku tidak tahu.”

Ibunya keluar dari dapur.

“Sudah cukup,” katanya pelan.

Tapi aku tidak bisa berhenti sekarang.

“Pak,” kataku.

Ayah Tari menatapku.

“Waktu Bapak masuk kamar… Rudi masih hidup?”

Pertanyaan itu menggantung beberapa detik.

Ayah Tari tidak langsung menjawab.

Dia hanya menatap lantai.

Aku bisa melihat rahangnya menegang.

“Pak,” ulangku.

Dia akhirnya berkata pelan,

“Dia masih bernapas.”

Tari langsung mengangkat wajahnya.

Matanya merah.

“Ayah…”

Ayahnya menatapnya sekarang.

Tatapannya berat.

“Kamu tidak pernah tahu itu.”

Aku merasakan sesuatu di tengkukku merinding.

“Kalau dia masih hidup…”

Aku berhenti sebentar.

“…kenapa dia meninggal?”

Ruangan itu menjadi sangat sunyi.

Ibunya berdiri di dekat pintu dapur tanpa bergerak.

Tari menatap ayahnya dengan wajah penuh ketakutan.

Aku menunggu.

Ayah Tari akhirnya berkata pelan,

“Aku pikir dia akan bangun.”

Aku mengerutkan dahi.

“Maksud Bapak?”

“Aku keluar dari kamar.”

Dadaku langsung terasa tidak enak.

“Kamu meninggalkan dia?”

Ayah Tari tidak menjawab langsung.

Beberapa detik terasa sangat panjang.

Lalu dia berkata,

“Aku pikir dia hanya pingsan.”

Tari langsung menangis.

“Ayah…”

Tapi aku tidak bisa mengalihkan pikiranku dari satu hal.

“Berapa lama Bapak meninggalkan dia?”

Ayah Tari menutup matanya sebentar.

“Beberapa menit.”

“Lalu?”

“Aku kembali.”

“Dan?”

Dia menatapku.

Matanya terlihat sangat lelah sekarang.

“Dia sudah tidak bergerak.”

Ruangan itu terasa semakin berat.

Aku mencoba menyusun semuanya di kepalaku.

Tari bertengkar dengan Rudi.

Rudi jatuh.

Ayahnya masuk kamar.

Rudi masih hidup.

Tapi beberapa menit kemudian dia sudah mati.

Aku menatap Tari lagi.

“Tar.”

Dia mengangkat wajahnya.

“Kamu mendorong dia?”

Dia menggeleng keras.

“Aku tidak ingat.”

Aku tidak tahu apakah dia benar-benar tidak ingat… atau hanya tidak ingin mengingat.

Aku kembali menatap ayahnya.

“Pak.”

“Iya.”

“Ada satu hal yang masih tidak masuk akal.”

Dia menunggu.

“Kalau Bapak menemukan dia… kenapa tetangga yang melaporkan ke polisi?”

Ayah Tari tidak langsung menjawab.

Wajahnya berubah sedikit.

Lalu dia berkata pelan,

“Karena aku tidak memanggil siapa pun malam itu.”

Aku merasakan sesuatu di dadaku menegang.

“Kenapa?”

Dia menatapku lama.

Lalu berkata pelan,

“Karena aku pikir… kalau orang-orang datang… semuanya akan menjadi lebih buruk.”

Aku menatapnya.

“Lebih buruk bagaimana?”

Ayah Tari tidak langsung menjawab.

Tapi sebelum dia sempat mengatakan apa pun…

suara seseorang terdengar dari depan rumah.

“Pak!”

Kami semua menoleh.

Seorang lelaki tua berdiri di depan pintu.

Tari langsung terlihat kaget.

“Pak Hadi?”

Lelaki itu masuk perlahan ke ruang tamu.

Dia menatapku sebentar.

Lalu menatap ayah Tari.

“Ada yang ingin saya bicarakan.”

Ayah Tari terlihat tidak nyaman.

“Tentang apa?”

Pak Hadi menarik napas pelan.

“Tentang malam Rudi meninggal.”

Aku langsung merasakan sesuatu di dadaku mengeras.

Karena Pak Hadi berkata satu kalimat yang membuat cerita malam itu berubah lagi.

“Saya orang pertama yang menemukan dia.”

“Saya orang pertama yang menemukan dia.”

Kalimat Pak Hadi membuat seluruh ruangan kembali sunyi.

Ayah Tari langsung menoleh ke arahnya. Wajahnya terlihat tegang sekarang, jauh berbeda dari tadi.

“Pak Hadi…” katanya pelan.

Pak Hadi masuk beberapa langkah ke dalam rumah. Usianya mungkin sudah lewat enam puluh. Rambutnya putih semua, tapi matanya masih tajam.

“Saya sebenarnya tidak ingin membicarakan ini lagi,” katanya pelan. “Tapi kalau kalian sudah mulai membuka cerita itu… sebaiknya semuanya jelas sekalian.”

Aku berdiri dari kursi.

“Pak,” kataku.

Dia menoleh ke arahku.

“Bapak benar orang yang pertama menemukan Rudi?”

Pak Hadi mengangguk.

“Iya.”

Aku menunggu.

“Waktu itu sudah lewat tengah malam,” katanya. “Saya keluar rumah karena dengar suara sesuatu jatuh dari rumah ini.”

Dia menunjuk lantai.

“Suara keras.”

Ayah Tari langsung memotong.

“Itu sudah lama sekali, Pak Hadi.”

Pak Hadi menatapnya.

“Justru karena sudah lama, saya tidak pernah bicara.”

Aku bisa merasakan ketegangan di ruangan itu semakin terasa.

Tari berdiri di dekat kursi dengan wajah pucat.

“Pak Hadi,” kataku pelan. “Apa yang Bapak lihat malam itu?”

Pak Hadi menarik napas panjang.

“Saya masuk lewat pintu depan.”

Aku menunggu.

“Lampu ruang tamu mati.”

“Lalu?” tanyaku.

“Lampu kamar Rudi masih menyala.”

Ayah Tari terlihat tidak nyaman sekarang.

Pak Hadi melanjutkan,

“Saya masuk ke kamar.”

“Tari ada di sana?” tanyaku.

Pak Hadi menggeleng.

“Tidak.”

Aku menoleh ke arah Tari sebentar.

Dia masih berdiri mematung.

“Rudi sudah di lantai,” lanjut Pak Hadi.

“Masih hidup?” tanyaku cepat.

Pak Hadi menatapku beberapa detik sebelum menjawab.

“Iya.”

Ruangan itu terasa seperti berhenti bernapas.

Ayah Tari menatapnya tajam.

“Pak Hadi…”

Tapi Pak Hadi melanjutkan,

“Dia masih bernapas waktu itu.”

Aku merasakan tengkukku merinding.

“Bapak yakin?”

Pak Hadi mengangguk pelan.

“Saya bahkan mencoba membangunkan dia.”

Aku menelan ludah.

“Lalu kenapa dia meninggal?”

Pak Hadi tidak langsung menjawab.

Dia menatap ayah Tari sebentar.

Lalu kembali menatapku.

“Karena waktu saya kembali beberapa menit kemudian… dia sudah tidak bernapas.”

Aku mengerutkan dahi.

“Kembali?”

Pak Hadi mengangguk.

“Saya keluar sebentar untuk memanggil orang.”

“Siapa?”

“Bapaknya Tari.”

Ruangan itu langsung sunyi lagi.

Aku menoleh perlahan ke arah ayah Tari.

Dia tidak bergerak.

“Pak Hadi memanggil Bapak?” tanyaku.

Pak Hadi mengangguk.

“Iya.”

Aku menatap ayah Tari.

“Tapi Bapak tadi bilang Bapak yang menemukan dia.”

Ayah Tari tidak menjawab.

Pak Hadi melanjutkan pelan,

“Waktu saya kembali ke kamar… bapaknya Tari sudah di dalam.”

Dadaku mulai terasa berat.

“Sendirian?”

Pak Hadi mengangguk.

“Iya.”

Aku menoleh ke arah ayah Tari lagi.

“Pak.”

Dia akhirnya mengangkat kepala.

“Iya?”

“Apa yang terjadi setelah Pak Hadi pergi?”

Ayah Tari tidak langsung menjawab.

Tari tiba-tiba berkata,

“Jangan.”

Suara itu keluar seperti bisikan.

Aku menatapnya.

“Tar…”

Dia menggeleng.

“Sudah cukup.”

Tapi aku tahu cerita ini belum selesai.

Aku kembali menatap ayahnya.

“Pak.”

Dia menutup matanya sebentar.

Lalu berkata pelan,

“Waktu Pak Hadi keluar… aku masuk ke kamar.”

Aku menunggu.

“Rudi masih di lantai.”

“Masih bernapas?” tanyaku.

Dia tidak langsung menjawab.

Beberapa detik terasa sangat panjang.

Akhirnya dia berkata,

“Iya.”

Tari langsung menangis lagi.

“Ayah…”

Ayahnya menatap lantai.

“Aku pikir dia hanya pingsan.”

Pak Hadi menggeleng pelan.

“Bukan begitu yang saya lihat.”

Ayah Tari langsung menoleh.

“Maksud Bapak?”

Pak Hadi menatapnya tajam.

“Waktu saya masuk kamar pertama kali… Rudi mencoba bangun.”

Ruangan itu langsung terasa dingin.

Aku merasakan sesuatu di perutku seperti jatuh.

“Dia mencoba bangun?” tanyaku pelan.

Pak Hadi mengangguk.

“Iya.”

Aku menatap ayah Tari.

“Berarti dia benar-benar masih sadar.”

Ayah Tari tidak menjawab.

Pak Hadi melanjutkan,

“Makanya saya keluar untuk memanggil bapaknya Tari.”

Aku menelan ludah.

“Tapi waktu Bapak kembali…”

Pak Hadi menyelesaikan kalimatku.

“…dia sudah mati.”

Aku menatap ayah Tari lagi.

Sekarang semua mata di ruangan itu tertuju padanya.

“Pak,” kataku pelan.

Dia tidak menatapku.

“Satu hal masih belum jelas.”

Dia tetap diam.

“Apa yang terjadi di kamar itu… ketika hanya Bapak dan Rudi yang ada di sana?”

Ayah Tari perlahan mengangkat wajahnya.

Matanya terlihat sangat lelah.

Seperti orang yang sudah menyimpan sesuatu terlalu lama.

Lalu dia berkata pelan,

“Seharusnya malam itu berhenti di situ.”

Aku merasakan sesuatu di dadaku menegang.

“Tapi tidak berhenti, kan?”

Dia menatapku.

Dan kalimat berikutnya membuat seluruh cerita terasa jauh lebih berat.

“Rudi berbicara padaku malam itu.”

“Rudi berbicara padaku malam itu.”

Kalimat ayah Tari membuat ruangan kembali sunyi.

Tidak ada yang bergerak.

Tari masih berdiri di dekat kursi dengan mata merah. Ibunya memegang ujung pintu dapur seperti orang yang ingin masuk kembali ke dapur tapi tidak sanggup meninggalkan ruangan.

Pak Hadi berdiri di dekat pintu.

Dan aku menatap ayah Tari.

“Dia sadar?” tanyaku pelan.

Ayah Tari mengangguk kecil.

“Iya.”

Aku menunggu dia melanjutkan.

“Waktu Pak Hadi keluar… aku masuk ke kamar.”

Dia berhenti sebentar.

“Rudi masih di lantai.”

“Dia melihat Bapak?” tanyaku.

“Iya.”

Suara ayah Tari semakin pelan sekarang.

“Dia mencoba bangun… tapi tidak kuat.”

Aku merasakan sesuatu di tengkukku merinding.

“Dia bilang sesuatu?”

Ayah Tari menatap meja.

“Iya.”

“Apa?”

Dia tidak langsung menjawab.

Beberapa detik terasa sangat panjang.

Akhirnya dia berkata pelan,

“Dia menyebut nama Tari.”

Tari langsung menutup wajahnya dengan tangan.

Ayahnya melanjutkan,

“Dia bilang… ‘Tari di mana?’ ”

Aku menelan ludah.

“Lalu?”

“Aku bilang kamu sudah pergi.”

Tari menangis pelan sekarang.

“Ayah…”

Ayahnya tidak menatapnya.

Dia masih menatap meja.

“Rudi mencoba bicara lagi.”

“Apa yang dia bilang?” tanyaku.

Ayah Tari menarik napas panjang.

“Dia bilang sesuatu yang membuatku sadar… semuanya sudah terlambat.”

Dadaku menegang.

“Apa?”

Ayah Tari mengangkat wajahnya perlahan.

Matanya terlihat sangat lelah.

“Dia bilang… Tari yang mendorongnya.”

Ruangan itu langsung terasa berat.

Aku menoleh ke arah Tari.

Dia masih menangis.

“Aku tidak ingat…” katanya pelan.

Pak Hadi menghela napas panjang.

“Waktu saya masuk pertama kali, memang terlihat seperti habis bertengkar.”

Aku kembali menatap ayah Tari.

“Setelah dia mengatakan itu… apa yang Bapak lakukan?”

Ayah Tari tidak langsung menjawab.

Tangannya menggenggam cangkir teh lebih erat.

“Aku menyuruh dia diam.”

Aku mengerutkan dahi.

“Maksud Bapak?”

“Dia mencoba bangun… mencoba bicara lagi.”

“Lalu?”

“Aku bilang dia harus diam dulu.”

“Kenapa?”

Ayah Tari menatapku.

“Karena aku tahu kalau orang-orang datang… semuanya akan menjadi buruk.”

Aku merasakan sesuatu di perutku mengeras.

“Buruk bagaimana?”

Dia tidak menjawab.

Aku bertanya lagi,

“Pak… waktu itu dia masih hidup.”

“Iya.”

“Kenapa Bapak tidak memanggil orang?”

Ruangan itu kembali sunyi.

Tari menatap ayahnya dengan wajah penuh air mata.

“Ayah…”

Ayahnya akhirnya berkata pelan,

“Karena aku tahu kalau dia hidup… dia akan menghancurkan kalian semua.”

Aku mengerutkan dahi.

“Maksud Bapak?”

Ayah Tari tidak langsung menjawab.

Pak Hadi menatapnya tajam.

“Apa yang sebenarnya dia maksud malam itu?”

Ayah Tari menutup matanya sebentar.

Lalu berkata pelan,

“Rudi tahu sesuatu tentang keluarga kami.”

Dadaku terasa dingin.

“Apa?”

Ayah Tari tidak menjawab.

Tapi Pak Hadi tiba-tiba berkata,

“Dia pernah cerita itu ke saya.”

Semua orang langsung menoleh ke arah Pak Hadi.

“Apa maksud Bapak?” tanyaku.

Pak Hadi menatap ayah Tari sebentar.

Seperti meminta izin.

Ayah Tari tidak mengatakan apa-apa.

Pak Hadi akhirnya berkata pelan,

“Rudi bilang dia menikahi Tari bukan karena cinta.”

Tari langsung mengangkat wajahnya.

“Apa?”

Pak Hadi melanjutkan,

“Dia bilang dia menikahi Tari karena dia tahu sesuatu tentang keluarga ini.”

Aku merasakan sesuatu di dadaku menegang.

“Sesuatu seperti apa?”

Pak Hadi menarik napas panjang.

“Rahasia.”

Aku menoleh ke arah ayah Tari.

“Rahasia apa?”

Ayah Tari menatapku lama.

Sangat lama.

Lalu berkata pelan,

“Rahasia yang bisa membuat keluarga kami hancur.”

Ruangan itu terasa semakin dingin.

Aku bertanya lagi,

“Apakah itu sebabnya Bapak tidak menolong Rudi malam itu?”

Ayah Tari tidak langsung menjawab.

Beberapa detik terasa sangat panjang.

Akhirnya dia berkata sangat pelan,

“Aku hanya menunggu.”

Dadaku langsung terasa berat.

“Menunggu apa?”

Dia menatapku.

Matanya terlihat kosong sekarang.

Dan kalimat berikutnya membuat seluruh ruangan terasa membeku.

“Aku menunggu dia berhenti bernapas.”

“Aku menunggu dia berhenti bernapas.”

Kalimat itu seperti jatuh di tengah ruang tamu dan membuat semuanya berhenti bergerak.

Tidak ada yang bicara.

Ibunya Tari menutup mulutnya dengan tangan. Pak Hadi berdiri kaku di dekat pintu. Tari sendiri terlihat seperti kehilangan keseimbangan, tangannya memegang sandaran kursi.

Aku menatap ayahnya.

“Maksud Bapak… Bapak tahu dia masih hidup?”

Ayah Tari tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap lantai.

“Iya,” katanya akhirnya.

Suara itu pelan sekali.

Dadaku terasa berat.

“Dan Bapak tidak menolongnya?”

Tari langsung menangis keras.

“Ayah… kenapa?”

Ayahnya tetap tidak menatap siapa pun.

“Karena kalau dia hidup… hidup kalian semua akan hancur.”

Aku mengerutkan dahi.

“Hancur bagaimana?”

Ayah Tari mengangkat wajahnya perlahan.

Matanya terlihat sangat lelah sekarang, seperti orang yang sudah lama memikul sesuatu sendirian.

“Rudi tahu rahasia keluarga kami.”

Pak Hadi menghela napas panjang.

“Saya sudah bilang ke kamu waktu itu, Pak,” katanya.

“Tapi kamu tidak mau dengar.”

Aku menatap mereka berdua.

“Rahasia apa?”

Ayah Tari tidak menjawab.

Tapi Pak Hadi berkata pelan,

“Warisan.”

Aku mengerutkan dahi.

“Warisan?”

Pak Hadi mengangguk.

“Tanah keluarga mereka.”

Aku menoleh ke arah ayah Tari.

Dia tidak membantah.

Pak Hadi melanjutkan,

“Tanah yang sekarang jadi kebun kelapa sawit di belakang desa.”

Aku masih tidak mengerti.

“Lalu?”

Pak Hadi menatapku.

“Tanah itu sebenarnya bukan milik keluarga mereka.”

Ruangan kembali sunyi.

Aku menatap ayah Tari.

“Benar begitu?”

Dia tidak menjawab.

Pak Hadi berkata lagi,

“Tanah itu dulu milik keluarga Rudi.”

Tari langsung mengangkat kepala.

“Apa?”

Pak Hadi mengangguk pelan.

“Iya.”

Aku merasakan sesuatu di dadaku menegang.

“Jadi Rudi tahu tanah itu milik keluarganya?”

Pak Hadi mengangguk.

“Dia baru tahu beberapa bulan sebelum menikah.”

Aku menatap ayah Tari lagi.

“Dan Bapak tahu dia tahu?”

Ayah Tari akhirnya berkata pelan,

“Iya.”

“Lalu kenapa dia tetap menikahi Tari?”

Pak Hadi menjawab,

“Karena dia ingin tanah itu kembali.”

Aku menarik napas pelan.

“Dengan menikahi Tari?”

Pak Hadi mengangguk.

“Dia pikir kalau sudah jadi bagian keluarga… semuanya akan lebih mudah.”

Aku menoleh ke arah Tari.

Wajahnya benar-benar kosong sekarang.

“Aku tidak pernah tahu itu,” katanya pelan.

Pak Hadi menghela napas panjang.

“Mungkin dia memang tidak pernah bilang ke kamu.”

Aku kembali menatap ayah Tari.

“Jadi malam itu…”

Aku berhenti sebentar.

“Dia mengatakan sesuatu tentang tanah itu?”

Ayah Tari mengangguk kecil.

“Dia bilang semuanya akan berubah.”

Dadaku terasa semakin dingin.

“Berubah bagaimana?”

Ayah Tari menatapku.

“Dia bilang dia akan membuka semuanya.”

Tari menutup wajahnya lagi.

“Ayah…”

Aku menelan ludah.

“Jadi Bapak membiarkan dia mati… karena takut rahasia itu terbongkar?”

Ayah Tari tidak menjawab.

Tapi diamnya sudah cukup menjadi jawaban.

Ruangan itu terasa sangat berat sekarang.

Aku mencoba menyusun semua potongan cerita itu di kepalaku.

Tari bertengkar dengan Rudi.

Rudi jatuh.

Rudi masih hidup.

Ayah Tari masuk kamar.

Rudi bicara tentang rahasia tanah keluarga.

Dan ayahnya… menunggu.

Menunggu sampai napas itu berhenti.

Aku menatap Tari.

Dia terlihat hancur sekarang.

“Aku tidak pernah tahu apa-apa,” katanya sambil menangis.

Pak Hadi berkata pelan,

“Mungkin itu yang membuat semuanya semakin buruk.”

Aku mengerutkan dahi.

“Maksud Bapak?”

Pak Hadi menatapku.

“Karena sebenarnya… kamu juga ada di rumah itu malam itu.”

Ruangan itu langsung terasa membeku.

Aku menatapnya.

“Apa?”

Pak Hadi mengangguk.

“Iya.”

Tari langsung menoleh ke arahku.

“Junaidi…?”

Aku menggeleng.

“Itu tidak mungkin.”

Pak Hadi menatapku dengan tenang.

“Saya melihat kamu keluar dari rumah ini malam itu.”

Dadaku langsung terasa seperti jatuh.

“Aku tidak pernah ke sini malam itu.”

Pak Hadi menggeleng pelan.

“Saya ingat wajahmu.”

Aku merasakan sesuatu di kepalaku berdenyut.

Potongan-potongan ingatan kecil mulai muncul.

Samar.

Kabur.

Seperti mimpi lama yang hampir terlupakan.

Pak Hadi berkata pelan,

“Kamu datang sebelum Tari.”

Aku menatapnya dengan napas berat.

“Tidak…”

Tapi tepat saat aku mengatakan itu…

sebuah ingatan kecil muncul di kepalaku.

Aku berdiri di depan rumah ini.

Lampu kamar Rudi menyala.

Dan aku mengetuk pintu.
“Aku tidak pernah ke sini malam itu.”

Kalimat itu keluar dari mulutku… tapi bahkan aku sendiri tidak yakin lagi dengan kata-kata itu.

Pak Hadi masih menatapku dengan tenang.

“Saya ingat wajahmu,” katanya pelan.

Ruangan terasa semakin sempit. Tari menatapku dengan mata penuh kebingungan. Ibunya berdiri di dekat dapur tanpa berkata apa-apa. Ayah Tari sendiri masih duduk di kursi dengan wajah yang terlihat semakin lelah.

“Aku tidak pernah datang,” kataku lagi.

Tapi kata-kata itu terasa semakin kosong.

Karena potongan-potongan ingatan kecil mulai muncul di kepalaku.

Samar.

Kabur.

Seperti bayangan yang selama ini terkunci di sudut pikiranku.

Pak Hadi berkata lagi,

“Kamu datang sebelum Tari.”

Tari langsung menatapku.

“Junaidi…?”

Aku menggeleng pelan.

“Tidak…”

Tapi ingatan itu terus muncul.

Aku berdiri di depan rumah ini.

Lampu kamar Rudi menyala.

Udara malam dingin.

Dan aku mengetuk pintu.

Tok.

Tok.

Tok.

Dadaku langsung terasa sesak.

Aku menutup mata sebentar.

Potongan ingatan lain muncul.

Pintu terbuka.

Rudi berdiri di sana.

Wajahnya terlihat tidak senang melihatku.

“Apa kamu mau?” katanya waktu itu.

Aku menelan ludah sekarang.

Ruangan terasa berputar.

“Aku… aku cuma mau bicara,” jawabku dalam ingatan itu.

Rudi tertawa pendek.

“Kita tidak punya apa-apa untuk dibicarakan.”

Aku berdiri di ruang tamu sekarang, tapi pikiranku masih berada di malam itu.

Aku berkata pelan,

“Aku datang malam itu.”

Semua orang langsung menatapku.

Tari terlihat paling kaget.

“Kamu… ingat?”

Aku mengangguk kecil.

“Sedikit.”

Aku menarik kursi dan duduk perlahan.

“Kenapa kamu datang?” tanya Tari.

Aku menatap lantai.

“Karena aku ingin dia menceraikanmu.”

Ruangan itu kembali sunyi.

Tari menatapku seperti baru mengenal siapa aku.

“Kamu… apa?”

Aku mengangkat kepala.

“Waktu itu aku sudah tahu kamu tidak bahagia.”

Tari menggeleng.

“Kamu tidak pernah bilang.”

“Aku tidak mau menambah masalah.”

Aku kembali melihat potongan ingatan itu.

Aku berdiri di ruang tamu rumah ini.

Rudi berdiri di depan pintu kamar.

“Aku tidak akan menceraikan dia,” katanya dingin.

Aku ingat kata-kataku waktu itu.

“Kalau kamu benar-benar peduli sama dia… kamu akan melepaskan dia.”

Rudi mendekat.

Sangat dekat.

“Kamu mencintai dia?”

Aku tidak menjawab.

Dia tersenyum sinis.

“Kamu datang terlalu terlambat.”

Aku merasakan tengkukku merinding.

Aku berkata pelan di ruang tamu sekarang,

“Kami bertengkar malam itu.”

Pak Hadi mengangguk kecil.

“Saya dengar suara kalian.”

Aku menelan ludah.

“Dia bilang sesuatu tentang Tari.”

Tari menatapku.

“Apa?”

Aku ragu sebentar.

Tapi akhirnya aku berkata,

“Dia bilang dia menikahimu bukan karena cinta.”

Tari langsung menutup mulutnya dengan tangan.

Pak Hadi berkata pelan,

“Itu yang juga dia ceritakan ke saya.”

Aku melanjutkan,

“Dia bilang dia menikahimu karena tanah keluarga.”

Ayah Tari langsung menutup matanya.

Aku merasakan kemarahan yang dulu kurasakan malam itu muncul lagi di dadaku.

“Aku bilang dia tidak berhak memperlakukan kamu seperti itu.”

Tari masih menatapku dengan mata berkaca-kaca.

“Lalu apa yang terjadi?” tanyanya.

Aku menutup mata sebentar.

Ingatan itu mulai semakin jelas sekarang.

Aku berdiri di depan Rudi.

Kami hampir berkelahi.

Lalu pintu rumah terbuka.

Ayah Tari masuk.

“Apa yang kalian lakukan?” katanya keras.

Aku mundur sedikit.

Rudi juga mundur.

Ayah Tari menatapku tajam.

“Kamu pulang.”

Aku mengangguk.

Aku keluar rumah.

Aku ingat suara pintu tertutup di belakangku.

Aku berdiri di halaman beberapa detik.

Lalu aku naik motor.

Aku pergi.

Aku membuka mata lagi.

“Itu yang aku ingat,” kataku pelan.

Ruangan itu sunyi lagi.

Tari berkata pelan,

“Berarti setelah kamu pergi… aku datang.”

Aku mengangguk kecil.

Pak Hadi berkata,

“Itu yang saya lihat.”

Aku menatapnya.

“Bapak melihat Tari datang?”

Pak Hadi mengangguk.

“Iya.”

Tari menelan ludah.

“Berarti…”

Dia tidak menyelesaikan kalimatnya.

Tapi kami semua tahu apa yang dia pikirkan.

Dia datang.

Dia bertengkar dengan Rudi.

Dia mendorongnya.

Rudi jatuh.

Ayahnya masuk.

Rudi masih hidup.

Dan ayahnya menunggu.

Aku menatap ayah Tari.

“Pak.”

Dia mengangkat kepala.

“Iya?”

“Ada satu hal yang masih belum jelas.”

Dia menunggu.

“Waktu saya keluar rumah malam itu…”

Aku berhenti sebentar.

“…Rudi masih hidup.”

Ayah Tari mengangguk kecil.

“Iya.”

Aku menatapnya lurus.

“Kalau begitu… kenapa Bapak tidak menolongnya?”

Ruangan itu kembali sunyi.

Beberapa detik terasa sangat panjang.

Ayah Tari akhirnya berkata pelan,

“Karena dia mengatakan sesuatu sebelum dia mati.”

Dadaku langsung terasa dingin.

“Apa?”

Ayah Tari menatapku lama.

Lalu berkata sangat pelan,

“Dia mengatakan nama kamu.”
“Dia mengatakan nama kamu.”

Kalimat ayah Tari membuat seluruh ruangan terasa membeku.

Aku menatapnya tanpa berkedip.

“Nama saya?”

Ayah Tari mengangguk pelan.

“Iya.”

Aku merasakan sesuatu di dadaku menegang.

“Kenapa dia menyebut nama saya?”

Ayah Tari tidak langsung menjawab.

Dia menatap meja beberapa detik sebelum akhirnya berkata,

“Dia bilang kamu tahu semuanya.”

Aku mengerutkan dahi.

“Semua apa?”

Ayah Tari menatapku.

“Tanah itu.”

Aku menggeleng.

“Saya baru tahu soal tanah itu hari ini.”

Pak Hadi tiba-tiba berkata pelan,

“Mungkin bukan itu yang dia maksud.”

Semua orang menoleh ke arah Pak Hadi.

“Maksud Bapak?” tanyaku.

Pak Hadi menatapku lama.

“Rudi pernah bilang ada satu orang yang datang menemuinya sebelum kamu.”

Dadaku langsung terasa dingin.

“Sebelum saya?”

Pak Hadi mengangguk.

“Iya.”

Aku menatap ayah Tari.

“Bapak?”

Ayah Tari tidak menjawab.

Tapi wajahnya berubah sedikit.

Pak Hadi melanjutkan,

“Rudi bilang orang itu tahu sesuatu tentang pernikahan mereka.”

Aku merasakan pikiranku mulai berputar.

“Siapa orang itu?”

Pak Hadi tidak langsung menjawab.

Dia menatap ayah Tari sebentar.

Seperti menunggu sesuatu.

Ayah Tari akhirnya berkata pelan,

“Itu tidak penting lagi.”

Aku langsung berdiri dari kursi.

“Buat saya penting.”

Ruangan itu kembali tegang.

Aku menatapnya.

“Pak, Rudi menyebut nama saya sebelum dia mati.”

Ayah Tari tidak menjawab.

Aku melanjutkan,

“Berarti dia percaya saya tahu sesuatu.”

Tari menatapku dengan wajah penuh kebingungan.

“Kamu tahu sesuatu?”

Aku menggeleng.

“Aku bahkan tidak tahu kenapa dia menyebut namaku.”

Pak Hadi menarik napas panjang.

“Waktu saya kembali ke kamar…”

Semua orang langsung menoleh ke arahnya.

“Saya mendengar dia bicara.”

Dadaku terasa menegang.

“Apa yang dia katakan?”

Pak Hadi menjawab pelan,

“Dia bilang… ‘Junaidi tahu.’ ”

Aku merasakan sesuatu di tengkukku merinding.

“Apa yang saya tahu?”

Pak Hadi menggeleng.

“Itu yang saya juga tidak mengerti.”

Aku menatap ayah Tari lagi.

“Pak.”

Dia mengangkat kepala.

“Apakah Bapak tahu kenapa dia menyebut nama saya?”

Ayah Tari tidak langsung menjawab.

Dia hanya menatapku lama sekali.

Akhirnya dia berkata pelan,

“Aku pikir dia salah.”

“Salah?”

“Iya.”

“Kenapa Bapak pikir begitu?”

Ayah Tari menatap Pak Hadi sebentar.

Lalu kembali menatapku.

“Karena sebenarnya… bukan kamu yang dia maksud.”

Aku mengerutkan dahi.

“Maksud Bapak?”

Ayah Tari menarik napas panjang.

“Dia tidak mengatakan ‘Junaidi tahu.’ ”

Dadaku langsung terasa dingin.

“Lalu apa?”

Ruangan itu kembali sunyi.

Ayah Tari akhirnya berkata pelan,

“Dia mengatakan… ‘Junaidi juga tahu.’ ”

Aku merasakan jantungku berdetak lebih keras.

“Juga?”

Ayah Tari mengangguk.

“Iya.”

Aku menatapnya.

“Berarti ada orang lain yang tahu.”

Pak Hadi berkata pelan,

“Rudi menyebut dua nama malam itu.”

Dadaku langsung terasa berat.

“Dua nama?”

Pak Hadi mengangguk.

“Iya.”

Aku menelan ludah.

“Nama siapa lagi?”

Pak Hadi menatap ayah Tari.

Tapi sebelum dia sempat menjawab…

Tari berkata pelan dari belakangku.

“Nama ayah.”

Semua orang langsung menoleh ke arahnya.

Wajah Tari terlihat pucat sekarang.

“Aku ingat sesuatu.”

Aku menatapnya.

“Apa?”

Tari menelan ludah.

“Malam itu… sebelum aku pergi dari kamar…”

Dadaku menegang.

“Kamu melihat ayahmu?”

Tari menggeleng.

“Bukan.”

“Lalu?”

Dia menatap ayahnya.

Lalu berkata pelan,

“Aku mendengar Rudi mengatakan sesuatu.”

“Apa?”

Tari menutup matanya sebentar.

Seperti mencoba menarik sesuatu dari ingatannya.

Lalu dia berkata pelan,

“Dia bilang… ‘Ayahmu juga tahu.’ ”

Ruangan itu terasa semakin dingin.

Aku menatap ayah Tari.

“Pak…”

Dia tidak menatap siapa pun.

Tangannya menggenggam ujung meja.

Aku berkata pelan,

“Rudi tahu Bapak menyembunyikan sesuatu.”

Ayah Tari tidak menjawab.

Aku melanjutkan,

“Dan dia tahu saya juga tahu sesuatu.”

Pak Hadi menatapku.

“Sekarang pertanyaannya… apa yang sebenarnya kamu tahu malam itu?”

Aku menggeleng pelan.

“Aku tidak tahu.”

Tapi tepat saat aku mengatakan itu…

sebuah ingatan kecil muncul di kepalaku.

Samar.

Kabur.

Seperti bayangan lama yang tiba-tiba muncul kembali.

Aku berdiri di halaman rumah ini malam itu.

Rudi berdiri di depan pintu.

Dia berkata sesuatu sebelum aku pergi.

Kalimat yang dulu tidak terlalu kupikirkan.

Tapi sekarang terasa sangat berbeda.

Aku mengangkat kepala perlahan.

“Dia pernah mengatakan sesuatu pada saya.”

Semua orang langsung menatapku.

“Apa?” tanya Tari.

Aku menelan ludah.

“Dia bilang… aku seharusnya tidak terlalu percaya pada keluargamu.”

Ruangan itu kembali sunyi.

Aku menatap ayah Tari.

“Pak.”

Dia akhirnya mengangkat wajahnya.

“Rudi sebenarnya tahu apa tentang keluarga ini?”

Ayah Tari menatapku lama.

Lalu berkata pelan,

“Dia tahu bagaimana tanah itu benar-benar menjadi milik kami.”

Dadaku langsung terasa dingin.

“Bagaimana?”

Ayah Tari menatapku.

Dan kalimat berikutnya membuat semua orang di ruangan itu terdiam.

“Tanah itu kami ambil dari keluarga Rudi.”

“Tanah itu kami ambil dari keluarga Rudi.”

Kalimat ayah Tari jatuh begitu saja di ruang tamu, tapi rasanya seperti sesuatu yang jauh lebih berat dari sekadar kata-kata.

Tidak ada yang bicara.

Pak Hadi menunduk pelan. Ibunya Tari menutup wajahnya dengan tangan. Tari sendiri berdiri mematung di dekat kursi, seperti seseorang yang baru saja mendengar sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan.

Aku menatap ayahnya.

“Ambil… bagaimana maksud Bapak?”

Ayah Tari tidak langsung menjawab.

Dia terlihat seperti orang yang sudah terlalu lama menyimpan sesuatu sendirian.

“Dulu tanah itu milik keluarga Rudi,” katanya akhirnya.

Aku menunggu.

“Tapi keluarga mereka terlilit utang.”

“Utang ke siapa?” tanyaku.

Ayah Tari menatapku.

“Ke keluarga kami.”

Ruangan itu kembali sunyi.

Pak Hadi berkata pelan,

“Waktu itu bapaknya Rudi sakit keras. Mereka butuh uang cepat.”

Ayah Tari mengangguk kecil.

“Ayah Rudi meminjam uang ke ayahku.”

Aku mengerutkan dahi.

“Lalu?”

“Ayahku meminta jaminan.”

“Tanah itu?”

Ayah Tari mengangguk.

“Iya.”

Aku menelan ludah.

“Berarti mereka gagal membayar utangnya?”

Ayah Tari tidak menjawab langsung.

Pak Hadi yang menjawab pelan,

“Mereka sebenarnya hampir bisa membayar.”

Aku menoleh ke arah Pak Hadi.

“Hampir?”

Pak Hadi mengangguk.

“Ayah Rudi sudah mengumpulkan sebagian besar uangnya.”

Aku merasakan sesuatu di dadaku menegang.

“Lalu kenapa tanah itu tetap berpindah tangan?”

Pak Hadi menatap ayah Tari sebentar.

Lalu berkata pelan,

“Karena tenggat waktunya dimajukan.”

Ruangan itu kembali sunyi.

Aku menatap ayah Tari.

“Bapak tahu itu?”

Dia tidak membantah.

“Ayahku yang melakukan itu,” katanya pelan.

“Kenapa?”

Ayah Tari menatap meja.

“Karena tanah itu akan sangat berharga di masa depan.”

Aku mengerti sekarang.

Tanah itu bukan sekadar tanah biasa.

Itu tanah yang sekarang menjadi kebun sawit terbesar di desa ini.

Aku berkata pelan,

“Jadi keluarga Rudi kehilangan tanah mereka… karena permainan itu.”

Ayah Tari mengangguk kecil.

Pak Hadi menambahkan,

“Waktu itu Rudi masih kecil.”

Aku menatapnya.

“Berarti dia baru tahu setelah dewasa.”

Pak Hadi mengangguk.

“Iya.”

Tari masih berdiri tanpa bicara.

Aku menoleh ke arahnya.

“Tar… kamu tidak pernah tahu ini?”

Dia menggeleng perlahan.

“Ayah tidak pernah cerita.”

Ayahnya berkata pelan,

“Aku tidak ingin kamu memikirkan itu.”

Tari menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Tapi Rudi tahu.”

Ayah Tari mengangguk.

“Dia tahu semuanya.”

Aku menatapnya.

“Dan dia menikahi Tari karena itu.”

“Awalnya aku juga tidak tahu niatnya,” kata ayah Tari.

“Tapi setelah beberapa bulan… dia mulai bicara.”

“Tentang tanah itu?”

Ayah Tari mengangguk.

“Dia bilang tanah itu seharusnya kembali ke keluarganya.”

Aku menatapnya tajam.

“Dan Bapak takut dia benar-benar bisa mengambilnya kembali.”

Ayah Tari tidak menjawab.

Pak Hadi berkata pelan,

“Rudi sudah mulai mencari dokumen lama.”

Aku mengerutkan dahi.

“Dokumen apa?”

“Surat utang asli.”

Dadaku terasa semakin dingin.

“Berarti kalau dia menemukan itu…”

Pak Hadi mengangguk.

“Tanah itu bisa kembali ke keluarganya.”

Ruangan itu terasa semakin berat.

Aku berkata pelan,

“Dan malam itu… dia mengatakan semua ini pada Bapak.”

Ayah Tari mengangguk.

“Iya.”

Aku menatapnya.

“Makanya Bapak tidak menolongnya.”

Dia tidak menjawab.

Tapi diamnya sudah cukup.

Tari tiba-tiba berkata dengan suara gemetar,

“Berarti… kalau aku tidak mendorong dia malam itu…”

Ayahnya menatapnya.

“Kemungkinan besar dia tetap hidup.”

Tari mulai menangis lagi.

Aku menatap ayah Tari.

“Pak.”

Dia mengangkat kepala.

“Satu hal masih belum jelas.”

“Apa?”

“Kalau Rudi sudah tahu semuanya… kenapa dia menyebut nama saya sebelum mati?”

Ayah Tari tidak langsung menjawab.

Pak Hadi menatapku.

“Mungkin karena dia pikir kamu sudah tahu semuanya juga.”

Aku menggeleng.

“Aku bahkan tidak tahu tentang tanah ini.”

Pak Hadi berkata pelan,

“Rudi mungkin berpikir kamu tahu karena kamu datang malam itu.”

Aku menatapnya.

“Tapi saya hanya datang untuk Tari.”

Pak Hadi mengangguk.

“Itu yang kamu pikir.”

Aku mengerutkan dahi.

“Maksud Bapak?”

Pak Hadi menatapku lama.

Lalu berkata pelan,

“Karena sebenarnya… kamu bukan orang pertama yang datang menemui Rudi malam itu.”

Dadaku langsung terasa dingin.

“Bukan saya?”

Pak Hadi menggeleng.

“Ada satu orang lagi.”

Ruangan itu langsung terasa sunyi.

Aku menatapnya.

“Siapa?”

Pak Hadi tidak langsung menjawab.

Dia menatap ayah Tari.

Seperti menunggu sesuatu.

Ayah Tari akhirnya berkata pelan,

“Dia datang sebelum kamu.”

Aku menelan ludah.

“Siapa orang itu?”

Ayah Tari menatapku lama.

Sangat lama.

Lalu berkata pelan,

“Orang yang pertama kali tahu Rudi sedang mencari dokumen tanah itu.”

Dadaku terasa menegang.

“Siapa?”

Ayah Tari menatapku.

Dan kalimat berikutnya membuat pikiranku langsung kosong.

“Itu ibunya Tari.”

Ruangan itu langsung terasa sunyi.

Aku menoleh perlahan ke arah dapur.

Ibunya Tari masih berdiri di sana, tangannya memegang ujung meja dapur seperti orang yang sedang menahan tubuhnya agar tidak jatuh.

“Bu…?” suaraku keluar pelan.

Tari juga menoleh.

“Bu, apa maksud ayah?”

Ibunya tidak langsung menjawab.

Dia hanya menatap lantai beberapa detik.

Lalu berjalan pelan ke ruang tamu dan duduk di kursi.

Aku bisa melihat tangannya gemetar.

“Seharusnya ini tidak pernah dibicarakan lagi,” katanya pelan.

Tapi semuanya sudah terlalu jauh.

Pak Hadi berkata,

“Sekarang semuanya sudah terbuka.”

Ibunya Tari menarik napas panjang.

“Aku memang datang malam itu.”

Tari langsung menatapnya.

“Ibu datang ke rumah Rudi?”

Ibunya mengangguk kecil.

“Iya.”

Aku menelan ludah.

“Kenapa?”

Ibunya Tari menatapku sebentar.

“Karena aku tahu dia sedang mencari dokumen tanah itu.”

Aku menunggu dia melanjutkan.

“Dia datang ke rumah beberapa hari sebelumnya.”

“Rudi?” tanyaku.

Ibunya mengangguk.

“Dia bertanya tentang dokumen lama milik ayahnya.”

Aku merasakan sesuatu di dadaku menegang.

“Dokumen utang itu?”

“Iya.”

Pak Hadi menghela napas pelan.

“Saya pernah bilang ke kamu waktu itu, Bu.”

Ibunya Tari mengangguk kecil.

“Aku tahu.”

Aku bertanya lagi,

“Jadi malam itu Ibu datang untuk apa?”

Ibunya menatap tangannya.

“Aku ingin bicara dengannya.”

“Tentang tanah itu?”

“Iya.”

Tari berkata dengan suara gemetar,

“Ibu tidak pernah cerita itu.”

Ibunya menatapnya.

“Aku tidak ingin kamu tahu.”

Aku menunggu.

“Waktu aku datang… dia sudah marah.”

“Kepada Ibu?”

Ibunya mengangguk.

“Dia bilang semua ini penipuan.”

Aku mengerutkan dahi.

“Lalu?”

“Dia bilang dia akan membuka semuanya.”

Ruangan itu kembali sunyi.

Aku berkata pelan,

“Apakah kalian bertengkar?”

Ibunya Tari tidak langsung menjawab.

Tapi Pak Hadi berkata,

“Saya mendengar suara mereka.”

Ibunya mengangguk kecil.

“Iya, kami bertengkar.”

Tari menatapnya.

“Setelah itu apa yang terjadi?”

Ibunya menutup matanya sebentar.

“Dia menyuruhku keluar.”

Aku menunggu.

“Aku keluar dari rumah itu.”

“Tapi dia masih hidup waktu itu?” tanyaku.

Ibunya Tari mengangguk.

“Dia masih berdiri.”

Dadaku terasa semakin berat.

“Berarti setelah Ibu pergi…”

Aku berhenti sebentar.

“…saya datang.”

Pak Hadi mengangguk.

“Benar.”

Aku mencoba menyusun semua kejadian di kepalaku.

Ibu Tari datang lebih dulu.

Mereka bertengkar.

Lalu dia pergi.

Setelah itu aku datang.

Aku dan Rudi bertengkar.

Lalu aku pergi.

Setelah itu Tari datang.

Mereka bertengkar.

Tari mendorongnya.

Rudi jatuh.

Ayah Tari masuk.

Rudi masih hidup.

Dan dia menunggu.

Aku menatap semua orang di ruangan itu.

Tidak ada yang berbicara.

Aku berkata pelan,

“Berarti malam itu… ada empat orang yang datang ke rumah Rudi.”

Pak Hadi mengangguk.

“Iya.”

Aku menarik napas panjang.

“Dan semuanya pergi… meninggalkan dia di lantai.”

Ruangan itu terasa sangat berat sekarang.

Tari menatap ibunya.

“Kenapa ibu tidak pernah cerita semua ini?”

Ibunya menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Karena kalau kamu tahu… kamu tidak akan bisa hidup tenang.”

Aku menatap mereka berdua.

“Ada satu hal yang masih belum jelas.”

Pak Hadi menatapku.

“Apa?”

Aku menoleh ke arah ibunya Tari.

“Ibu datang lebih dulu.”

“Iya.”

“Saya datang setelah itu.”

“Iya.”

“Tari datang setelah saya.”

Ibunya mengangguk.

“Iya.”

Aku menatap ayah Tari.

“Dan Bapak datang terakhir.”

Dia mengangguk kecil.

Aku menarik napas pelan.

“Berarti semua orang di rumah ini punya bagian dari malam itu.”

Tidak ada yang membantah.

Aku berkata lagi,

“Rudi tidak mati karena satu orang.”

Tari menatapku.

Matanya penuh air mata.

Aku melanjutkan pelan,

“Dia mati karena semua orang yang datang malam itu.”

Ruangan kembali sunyi.

Pak Hadi berkata pelan,

“Mungkin itu sebabnya cerita ini tidak pernah selesai.”

Aku menatapnya.

“Maksud Bapak?”

Pak Hadi menghela napas panjang.

“Karena semua orang menyimpan bagian mereka sendiri.”

Aku melihat Tari.

Dia terlihat benar-benar hancur sekarang.

“Aku bahkan tidak ingat semuanya,” katanya.

Aku menatap semua orang di ruangan itu.

Lalu berkata pelan,

“Malam itu… Rudi tidak mati karena satu orang.”

Aku berhenti sebentar.

“Dia mati karena empat orang… yang masing-masing datang membawa rahasia mereka sendiri.”

Ruangan itu terasa seperti kehilangan udara.

Tidak ada yang bicara.

Sampai akhirnya Pak Hadi berkata sesuatu yang membuat cerita ini belum benar-benar selesai.

“Ada satu orang lagi yang tahu semua ini.”

Aku menatapnya.

“Siapa?”

Pak Hadi menatapku.

Lalu berkata pelan,

“Orang yang menulis laporan kematian Rudi.”

Dadaku langsung terasa dingin.

“Polisi?”

Pak Hadi menggeleng.

“Bukan.”

Aku mengerutkan dahi.

“Lalu siapa?”

Pak Hadi menatapku lama.

Dan kalimat berikutnya membuat semua orang di ruangan itu kembali terdiam.

“Itu dokter yang memeriksa tubuh Rudi.”

Kalimat Pak Hadi membuat semua orang di ruangan itu kembali diam.

Aku menatapnya.

“Dokter?”

Pak Hadi mengangguk pelan.

“Iya.”

Aku mengerutkan dahi.

“Kenapa dokter itu tahu semuanya?”

Pak Hadi menatap ayah Tari sebentar sebelum menjawab.

“Karena waktu dia datang malam itu… semuanya sudah terlalu jelas.”

Dadaku terasa menegang.

“Terlalu jelas bagaimana?”

Pak Hadi menarik napas panjang.

“Tubuh Rudi masih hangat.”

Aku menelan ludah.

“Berarti kematiannya baru saja terjadi.”

Pak Hadi mengangguk.

“Tapi ada sesuatu yang aneh.”

“Apa?” tanyaku.

Pak Hadi menatapku.

“Dokter itu bilang luka di kepala Rudi tidak cukup parah untuk langsung membunuhnya.”

Ruangan itu kembali sunyi.

Aku menoleh perlahan ke arah Tari.

Dia terlihat seperti baru saja mendengar sesuatu yang benar-benar tidak pernah dia bayangkan.

“Apa maksudnya?” tanyanya pelan.

Pak Hadi berkata,

“Artinya… kemungkinan besar Rudi tidak mati karena benturan itu.”

Dadaku terasa semakin dingin.

Aku menatap ayah Tari.

“Pak.”

Dia tidak menatapku.

“Kalau benturan itu tidak membunuhnya…”

Aku berhenti sebentar.

“…berarti dia masih punya kesempatan untuk hidup.”

Tidak ada yang menjawab.

Aku melanjutkan,

“Kalau dia segera dibawa ke rumah sakit… mungkin dia masih bisa diselamatkan.”

Tari mulai menangis lagi.

“Ayah…”

Ayahnya menutup matanya.

Seperti orang yang tidak sanggup mendengar kalimat itu.

Pak Hadi berkata pelan,

“Itu yang juga dikatakan dokter malam itu.”

Aku menatapnya.

“Dokter itu bilang apa lagi?”

Pak Hadi menjawab,

“Dia bilang kalau Rudi tidak dibiarkan terlalu lama… dia mungkin masih hidup.”

Ruangan terasa semakin berat.

Aku berkata pelan,

“Berarti semua orang yang datang malam itu…”

Aku berhenti sebentar.

“…punya kesempatan untuk menolongnya.”

Tidak ada yang membantah.

Aku menatap Tari.

Dia menggeleng sambil menangis.

“Aku tidak tahu dia masih hidup.”

Aku menatap ibunya.

“Ibu juga tidak tahu.”

Ibunya Tari mengangguk pelan.

“Aku benar-benar tidak tahu.”

Aku menoleh ke arahku sendiri dalam pikiranku.

Aku datang malam itu.

Aku bertengkar.

Aku pergi.

Aku tidak pernah kembali.

Aku menatap ayah Tari.

“Tapi Bapak tahu.”

Ruangan itu kembali sunyi.

Ayah Tari perlahan membuka matanya.

“Iya.”

Suara itu sangat pelan.

Aku berkata lagi,

“Dan Bapak memilih menunggu.”

Ayah Tari menatapku.

Matanya terlihat benar-benar lelah sekarang.

“Waktu itu aku hanya berpikir tentang satu hal.”

“Apa?”

“Kalau dia hidup… semuanya akan hancur.”

Aku menghela napas panjang.

“Sekarang semuanya tetap hancur.”

Tidak ada yang menjawab.

Pak Hadi berkata pelan,

“Dokter itu juga tahu semuanya tidak beres.”

Aku menoleh ke arahnya.

“Maksud Bapak?”

Pak Hadi melanjutkan,

“Dia bertanya kenapa Rudi tidak langsung dibawa ke rumah sakit.”

Aku menelan ludah.

“Lalu?”

Pak Hadi menatap ayah Tari.

“Ayahnya Tari mengatakan dia baru saja menemukan Rudi.”

Aku langsung mengerti.

Ayah Tari berbohong malam itu.

Pak Hadi berkata lagi,

“Dokter itu sebenarnya curiga.”

Aku bertanya,

“Kenapa dia tidak melaporkan semuanya?”

Pak Hadi menghela napas.

“Karena tidak ada bukti.”

Aku mengangguk pelan.

Semua orang yang ada di rumah malam itu sudah sepakat dengan cerita yang sama.

Rudi jatuh.

Kecelakaan.

Selesai.

Aku menatap Pak Hadi.

“Dokter itu masih hidup?”

Pak Hadi mengangguk.

“Iya.”

Dadaku langsung terasa dingin.

“Dia masih tinggal di desa ini?”

Pak Hadi menggeleng.

“Tidak.”

“Di mana?”

Pak Hadi menatapku.

Lalu berkata pelan,

“Di kota tempat kamu tinggal sekarang.”

Aku merasakan sesuatu di kepalaku berhenti.

“Jakarta?”

Pak Hadi mengangguk.

“Iya.”

Ruangan itu kembali sunyi.

Aku mencoba memahami kebetulan yang terasa terlalu aneh itu.

“Pak Hadi…”

“Iya?”

“Bapak tahu nama dokter itu?”

Pak Hadi menjawab pelan,

“Tentu.”

Aku menelan ludah.

“Siapa?”

Pak Hadi menatapku lama.

Seperti memastikan sesuatu.

Lalu dia berkata pelan,

“Dokter Surya.”

Dadaku langsung terasa seperti dipukul sesuatu.

Karena nama itu tidak asing bagiku.

Sangat tidak asing.

Tari menatapku.

“Kamu kenal?”

Aku menatapnya.

Lalu berkata pelan,

“Dia dokter yang memeriksa ayahku dua bulan lalu.”

Ruangan itu terasa seperti kehilangan udara.

Pak Hadi menatapku.

“Ayahmu sakit?”

Aku mengangguk pelan.

“Stroke.”

Aku mencoba mengingat sesuatu.

Sesuatu yang dulu terasa tidak penting.

Tapi sekarang terasa sangat berbeda.

Waktu itu dokter Surya pernah mengatakan satu kalimat aneh padaku.

Kalimat yang sekarang tiba-tiba muncul kembali di kepalaku.

Aku berdiri perlahan dari kursi.

Tari menatapku.

“Ada apa?”

Aku menelan ludah.

“Waktu itu dia bertanya sesuatu padaku.”

“Apa?”

Aku berkata pelan,

“Dia bertanya… apakah aku mengenal seseorang bernama Rudi.”

Ruangan itu kembali membeku.

Pak Hadi berkata pelan,

“Berarti dia ingat kamu.”

Aku menatapnya.

“Tapi aku bahkan tidak tahu dia pernah ada di rumah ini.”

Pak Hadi mengangguk kecil.

“Sekarang kamu tahu.”

Aku menatap semua orang di ruangan itu.

Lalu berkata pelan,

“Berarti masih ada satu orang yang tahu semua yang sebenarnya terjadi malam itu.”

Pak Hadi berkata,

“Iya.”

Aku menelan ludah.

“Dokter Surya.”

Ruangan itu kembali sunyi.

Sampai akhirnya Tari berkata sesuatu yang membuat cerita ini kembali terasa belum selesai.

“Ayah.”

Ayahnya menatapnya.

“Iya?”

Tari berkata pelan,

“Kalau dokter itu tahu semuanya…”

Dia berhenti sebentar.

“…kenapa dia tidak pernah mengatakan apa-apa?”

Tidak ada yang menjawab.

Sampai akhirnya Pak Hadi berkata pelan,

“Mungkin karena dia juga menyimpan sesuatu dari malam itu.”

Dadaku langsung terasa dingin.

Aku menatapnya.

“Menyimpan apa?”

Pak Hadi menatapku lama.

Dan kalimat berikutnya membuat semua orang kembali terdiam.

“Dokter Surya datang lebih cepat dari yang kalian kira malam itu.”

Kalimat Pak Hadi menggantung di ruang tamu seperti sesuatu yang belum selesai.

Aku menatapnya.

“Lebih cepat bagaimana?”

Pak Hadi menarik napas pelan.

“Dia datang sebelum polisi.”

Aku mengangguk.

“Itu normal.”

Pak Hadi menggeleng.

“Bukan itu maksud saya.”

Dadaku mulai terasa tidak enak.

“Lalu?”

Pak Hadi menatapku lama sebelum menjawab.

“Dia datang sebelum saya kembali ke rumah ini.”

Ruangan itu langsung sunyi.

Aku mencoba memahami kalimat itu.

“Tunggu.”

Aku menatap Pak Hadi.

“Bapak bilang tadi Bapak keluar rumah untuk memanggil ayah Tari.”

Pak Hadi mengangguk.

“Iya.”

“Berarti saat Bapak kembali… ayah Tari sudah ada di kamar.”

“Iya.”

Aku menelan ludah.

“Dan dokter Surya sudah ada di sana?”

Pak Hadi mengangguk pelan.

“Iya.”

Aku menatap ayah Tari.

“Pak… Bapak memanggil dokter itu?”

Ayah Tari tidak langsung menjawab.

Tapi ibunya Tari berkata pelan,

“Dia yang memanggilnya.”

Aku langsung menoleh.

“Ibu tahu?”

Ibunya mengangguk kecil.

“Ayahmu menelpon dokter Surya sebelum orang lain datang.”

Aku menatap ayah Tari lagi.

“Pak.”

Dia akhirnya mengangkat kepala.

“Iya.”

“Kenapa Bapak memanggil dokter sebelum polisi?”

Ayah Tari menatapku lama.

Sangat lama.

Lalu berkata pelan,

“Karena aku ingin tahu satu hal.”

“Apa?”

“Apakah dia masih bisa diselamatkan.”

Dadaku terasa menegang.

“Dan dokter Surya bilang apa?”

Ayah Tari tidak menjawab.

Pak Hadi yang berkata pelan,

“Dia bilang masih ada kemungkinan.”

Ruangan itu langsung terasa lebih berat.

Aku menatap ayah Tari.

“Berarti dokter itu tahu Rudi masih hidup.”

Ayah Tari mengangguk kecil.

“Iya.”

Aku menelan ludah.

“Lalu kenapa Rudi tetap mati?”

Ayah Tari tidak langsung menjawab.

Beberapa detik terasa sangat panjang.

Akhirnya dia berkata pelan,

“Karena Rudi meminta sesuatu sebelum dia mati.”

Aku mengerutkan dahi.

“Apa?”

Ayah Tari menatapku.

“Dia meminta dokter itu pergi.”

Ruangan itu langsung sunyi lagi.

Aku hampir tidak percaya dengan apa yang kudengar.

“Dia meminta dokter pergi?”

Ayah Tari mengangguk.

“Iya.”

Pak Hadi berkata pelan,

“Dia tidak mau dibawa ke rumah sakit.”

Aku menggeleng.

“Itu tidak masuk akal.”

Pak Hadi menatapku.

“Dia tahu kalau dia selamat… semuanya akan berubah.”

Aku menelan ludah.

“Maksudnya?”

Pak Hadi berkata,

“Kalau dia hidup… semua orang di rumah ini harus menjelaskan apa yang terjadi.”

Aku menatap Tari.

Dia masih menangis pelan.

Pak Hadi melanjutkan,

“Dan kalau itu terjadi… tanah itu pasti kembali ke keluarganya.”

Aku menatap ayah Tari.

“Jadi Rudi memilih mati?”

Ayah Tari menggeleng pelan.

“Bukan memilih mati.”

“Lalu?”

Dia menatapku.

“Dia hanya tidak ingin hidup dengan cara itu.”

Ruangan kembali sunyi.

Aku mencoba membayangkan situasi malam itu.

Rudi di lantai.

Masih bernapas.

Dokter datang.

Masih ada kesempatan.

Tapi dia menolak.

Aku berkata pelan,

“Dia mengatakan sesuatu lagi sebelum mati?”

Ayah Tari mengangguk.

“Iya.”

“Apa?”

Ayah Tari menatapku.

Dan berkata sangat pelan,

“Dia bilang semuanya akan kembali pada waktunya.”

Aku merasakan sesuatu di dadaku menegang.

“Semua apa?”

Ayah Tari menggeleng.

“Dia tidak menjelaskan.”

Ruangan itu terasa semakin berat sekarang.

Aku menatap semua orang di ruangan itu.

Ibunya Tari yang datang pertama.

Aku yang datang kedua.

Tari yang datang ketiga.

Ayahnya yang datang terakhir.

Semua orang meninggalkan Rudi di lantai.

Semua orang menyimpan bagian cerita mereka sendiri.

Aku menarik napas panjang.

“Mungkin ini yang dia maksud.”

Semua orang menatapku.

Aku berkata pelan,

“Semua yang terjadi malam itu akhirnya kembali juga.”

Tari menatapku dengan mata merah.

“Maksud kamu?”

Aku menatap ayahnya.

“Rahasia tanah itu.”

Aku menatap ibunya.

“Pertengkaran malam itu.”

Aku menatap Tari.

“Dorongan yang membuatnya jatuh.”

Lalu aku menatap tanganku sendiri.

“Dan kunjunganku malam itu.”

Ruangan itu sunyi.

Aku berkata pelan,

“Rudi tidak mati karena satu orang.”

Aku berhenti sebentar.

“Dia mati karena semua orang yang datang malam itu… memilih sesuatu.”

Pak Hadi mengangguk pelan.

“Marah.”

Aku menatap Tari.

“Panik.”

Aku menatap ibunya.

“Takut.”

Aku menatap ayahnya.

“Dan diam.”

Ruangan terasa sangat sunyi.

Lalu aku berkata pelan,

“Mungkin itu sebabnya cerita ini tidak pernah benar-benar selesai.”

Tari bertanya pelan,

“Kenapa?”

Aku menatapnya.

Lalu berkata pelan,

“Karena setiap orang di ruangan ini membawa satu bagian dari kematian itu.”

Tidak ada yang menjawab.

Hanya suara kipas angin tua di ruang tamu yang berderit pelan.

Krek…

Krek…

Krek…

Dan untuk pertama kalinya sejak semua cerita ini terbuka…

tidak ada lagi yang perlu disembunyikan.

Karena akhirnya kami semua tahu satu hal.

Rudi tidak mati karena satu orang.

Dia mati karena satu keluarga…

yang terlalu lama menyimpan rahasia mereka sendiri.

============================================================================================================

Tiga bulan setelah semua itu terbuka… aku kembali ke desa itu sendirian.

Tari tidak ikut.

Sejak malam semua rahasia itu terbongkar, dia tidak pernah mau lagi kembali ke rumah orang tuanya. Hubungannya dengan ayahnya berubah. Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada kata-kata keras. Hanya jarak yang tiba-tiba muncul di antara mereka.

Aku tidak menyalahkannya.

Ada beberapa luka yang memang tidak bisa dijahit kembali.

Aku datang ke desa itu pagi-pagi sekali. Kabut masih turun di atas sawah. Jalan tanah menuju kebun kelapa sawit masih basah oleh embun.

Itu tanah yang dulu menjadi sumber semua masalah.

Tanah yang membuat Rudi menikahi Tari.

Tanah yang membuat ayahnya memilih diam malam itu.

Tanah yang membuat satu keluarga menyimpan rahasia bertahun-tahun.

Aku berdiri lama di tepi kebun itu.

Angin pagi bergerak pelan di antara pohon-pohon sawit.

Tidak ada yang istimewa di sana.

Hanya tanah.

Tapi tanah itu pernah membuat seorang lelaki mati di lantai kamarnya.

Aku hampir kembali ke motor ketika seseorang memanggilku dari belakang.

“Mas Junaidi?”

Aku menoleh.

Seorang lelaki tua berdiri di jalan kecil di belakangku. Aku tidak mengenalnya.

“Mas yang dari Jakarta, kan?” katanya.

Aku mengangguk.

“Iya.”

Dia berjalan mendekat.

“Saya dulu bekerja dengan bapaknya Rudi,” katanya pelan.

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Dia menunjuk kebun di depan kami.

“Tanah itu… dulu milik keluarga kami juga.”

Aku menatapnya.

Dia tersenyum kecil.

“Rudi pernah bilang sesuatu sebelum dia meninggal.”

Dadaku langsung terasa dingin.

“Bapak kenal Rudi?”

Lelaki tua itu mengangguk.

“Iya.”

Aku menelan ludah.

“Apa yang dia bilang?”

Lelaki itu menatap kebun sawit di depan kami.

Lalu berkata pelan,

“Dia bilang… tidak apa-apa kalau tanah itu diambil.”

Aku mengerutkan dahi.

“Tidak apa-apa?”

Lelaki itu mengangguk.

“Iya.”

Aku menunggu.

Lalu dia melanjutkan kalimat itu.

“Karena suatu hari nanti… kebenaran akan membuat semua orang melihat tanah itu dengan cara yang berbeda.”

Aku berdiri diam.

Angin pagi kembali bergerak di antara pohon-pohon sawit.

Lelaki tua itu kemudian berkata satu kalimat terakhir sebelum pergi.

Kalimat yang sampai sekarang masih sering teringat di kepalaku.

“Kadang tanah bukan yang paling berharga.”

Dia menatapku.

“Yang paling berat itu… hidup dengan cerita yang tertanam di dalamnya.”

Lelaki itu berjalan pergi.

Aku berdiri lama di sana.

Menatap kebun sawit yang sekarang terlihat sangat biasa.

Dan untuk pertama kalinya aku benar-benar mengerti sesuatu yang dulu dikatakan Rudi sebelum dia mati.

Beberapa hal memang akan kembali…

bukan sebagai balas dendam.

Tapi sebagai kebenaran yang akhirnya muncul ke permukaan.

============================================================================================================

👉 Menurut kalian…
siapa yang sebenarnya paling bersalah dalam kematian Rudi?

Tari

Ayah Tari

Junaidi

Semua orang

Aku penasaran kalian pilih yang mana.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *