|

Kisah Rumah Tangga: Aku Mengira Istriku Menyembunyikan Selingkuhan

TERNYATA YANG AKU TEMUKAN DI TELEPON ITU… JAUH LEBIH MENGEJUTKAN.

Awalnya aku tidak terlalu memikirkannya.

Kupikir mungkin dia hanya tidak ingin suara televisi mengganggu percakapannya.

Atau mungkin karena di dapur sinyal lebih bagus.

Tapi lama-lama aku mulai sadar… itu selalu terjadi.

Setiap.

Satu.

Telepon.

Bunyi nada deringnya baru terdengar satu detik…

istriku sudah berdiri dari sofa.

Cepat sekali.

Seolah dia sudah tahu siapa yang menelpon bahkan sebelum melihat layar.

“Sebentar ya,” katanya singkat.

Lalu dia berjalan ke dapur.

Kadang pintunya ditutup.

Kadang tidak.

Tapi suaranya selalu diturunkan sangat pelan.

Aku pernah mencoba memperhatikan dari ruang tamu.

Televisi tetap menyala di depanku.

Tapi pikiranku sudah tidak lagi di acara yang sedang diputar.

Mataku sesekali melirik ke arah dapur.

Dari sana hanya terdengar suara sendok mengenai gelas.

Atau suara air keran yang dibuka.

Seperti dia sengaja membuat suara lain untuk menutupi percakapannya.

Beberapa menit kemudian dia kembali.

Ekspresinya selalu sama.

Sedikit kaku.

Sedikit terburu-buru.

“Siapa yang telpon?” tanyaku suatu kali.

Dia langsung duduk di sebelahku.

“Oh… cuma teman lama,” jawabnya cepat.

“Teman mana?”

“Ya… teman lama saja.”

Jawabannya selalu seperti itu.

Tidak pernah jelas.

Tidak pernah lengkap.

Awalnya aku mencoba tidak memikirkan apa-apa.

Aku percaya padanya.

Kami sudah menikah hampir lima tahun.

Selama itu juga aku tidak pernah punya alasan untuk curiga.

Sampai suatu malam.

Malam itu hujan turun cukup deras.

Atap rumah berbunyi pelan terkena air.

Televisi sudah dimatikan.

Kami sudah masuk kamar.

Istriku terlihat lelah sekali.

Dia bahkan tidak sempat memainkan handphonenya seperti biasa.

Beberapa menit setelah berbaring, napasnya mulai terdengar pelan dan teratur.

Dia tertidur.

Lampu kamar sudah dimatikan.

Hanya ada cahaya kecil dari layar handphone yang tergeletak di meja samping tempat tidur.

Layar itu menyala sebentar.

Lalu mati lagi.

Aku memandanginya beberapa detik.

Pikiranku mulai penuh dengan pertanyaan yang selama ini selalu kutahan.

Kenapa setiap telepon dia selalu pergi ke dapur?

Kenapa dia tidak pernah menjawab pertanyaanku dengan jelas?

Dan kenapa setiap selesai menelpon… wajahnya selalu terlihat berbeda?

Aku menoleh ke arahnya.

Dia benar-benar sudah tertidur.

Napasnya pelan.

Tenang.

Tanganku perlahan bergerak ke arah meja kecil di samping tempat tidur.

Jantungku mulai berdebar.

Aku tahu aku seharusnya tidak melakukan ini.

Tapi rasa penasaran itu… sudah terlalu lama menggangguku.

Aku mengambil handphone itu.

Layarnya langsung menyala.

Dan saat aku membuka salah satu percakapan di dalamnya…

tubuhku langsung terasa dingin.

Karena nama yang muncul di layar itu…

adalah seseorang yang sangat aku kenal.

PART 2

Tanganku masih memegang handphone itu.

Layar kecil itu menerangi sebagian wajahku di kamar yang gelap.

Nama kontak itu masih terpampang jelas di atas percakapan.

Dan semakin lama aku menatapnya…

dadaku semakin terasa sesak.

Karena nama itu bukan orang asing.

Aku mengenalnya dengan sangat baik.

Aku menelan ludah.

Jari-jariku terasa kaku saat mencoba membuka percakapan itu.

Beberapa pesan terakhir langsung muncul di layar.

Percakapannya tidak panjang.

Tapi cukup untuk membuat pikiranku mulai kacau.

Pesan terakhir yang dikirim orang itu hanya satu kalimat.

“Besok aku telpon lagi seperti biasa.”

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Seperti biasa.

Kalimat itu membuat kepalaku terasa penuh.

Seperti biasa berarti ini bukan pertama kali.

Berarti selama ini memang sudah sering terjadi.

Aku menggulir layar sedikit ke atas.

Ada beberapa panggilan tidak terjawab.

Ada juga panggilan berdurasi beberapa menit.

Semua dari nomor yang sama.

Dadaku terasa semakin berat.

Aku menoleh ke arah istriku yang masih tertidur di sebelahku.

Napasnya tetap tenang.

Seolah tidak ada apa pun yang sedang terjadi.

Aku kembali menatap layar handphone itu.

Di bagian atas percakapan, ada satu pesan lama yang membuat jantungku tiba-tiba berdegup lebih keras.

Pesan itu dari istriku.

Pesannya singkat.

“Jangan telpon malam ini. Dia ada di rumah.”

Tanganku langsung terasa dingin.

Aku membaca kalimat itu sekali lagi.

Lalu sekali lagi.

“Dia ada di rumah.”

Yang dimaksud dia…

pasti aku.

Aku menatap istriku lagi.

Untuk pertama kalinya malam itu, aku benar-benar merasa seperti orang asing di rumahku sendiri.

Tapi sesuatu yang lain tiba-tiba menarik perhatianku.

Di bagian atas layar ada ikon kecil.

Tanda bahwa ada panggilan yang dijadwalkan.

Aku membukanya perlahan.

Dan saat aku melihat jam yang tertera di sana…

jantungku seperti berhenti berdetak.

Karena panggilan berikutnya dari nomor itu…

dijadwalkan malam ini.

Beberapa menit lagi.

Di kamar yang gelap itu, aku hanya bisa menatap layar handphone yang masih menyala.

Menunggu.

Dan entah kenapa…

aku merasa panggilan itu akan mengubah semuanya.

PART 3

Layar handphone itu masih menyala di tanganku.

Jam di pojok kanan atas menunjukkan pukul 22:47.

Sementara di jadwal panggilan itu tertulis 23:00.

Artinya…

hanya tinggal beberapa menit lagi.

Aku duduk di tepi tempat tidur.

Tanganku terasa dingin memegang handphone itu.

Di sebelahku, istriku masih tertidur.

Napasnya teratur.

Tenang.

Seolah tidak ada apa pun yang akan terjadi malam ini.

Padahal di dalam kepalaku…

semuanya sudah seperti badai.

Aku kembali melihat percakapan itu.

Pesan terakhir dari istriku masih terbayang jelas di pikiranku.

“Jangan telpon malam ini. Dia ada di rumah.”

Dia.

Yang dimaksud pasti aku.

Berarti selama ini…

setiap kali aku ada di rumah…

mereka memang sengaja tidak menelpon.

Dadaku terasa semakin sesak.

Aku menatap wajah istriku yang tertidur.

Lampu kamar memang mati, tapi cahaya dari layar handphone cukup membuat wajahnya terlihat samar.

Wajah yang sudah lima tahun hidup bersamaku.

Wajah yang selama ini aku percaya sepenuhnya.

Tiba-tiba handphone itu bergetar pelan di tanganku.

Getarannya membuat jantungku langsung berdegup keras.

Panggilan masuk.

Dari nomor yang sama.

Layar handphone menyala terang di kamar yang gelap.

Nama kontak itu kembali muncul di layar.

Tanganku langsung terasa kaku.

Aku menoleh ke arah istriku.

Dia masih tertidur.

Aku kembali melihat layar handphone itu.

Panggilan masih terus bergetar.

Aku menelan ludah.

Di kepalaku hanya ada satu pertanyaan.

Apa yang sebenarnya akan terjadi kalau aku menjawab panggilan ini?

Tanganku perlahan bergerak ke layar.

Jempolku berhenti tepat di atas tombol hijau.

Beberapa detik aku hanya menatapnya.

Lalu akhirnya…

aku menekan tombol itu.

Panggilan langsung tersambung.

Kamar kembali sunyi.

Hanya terdengar suara napas pelan dari ujung sana.

Beberapa detik tidak ada yang berbicara.

Sampai akhirnya suara seorang pria terdengar pelan dari handphone itu.

“Hallo…”

Suara itu berhenti sebentar.

Lalu dia berkata lagi.

“Kenapa lama sekali angkatnya?”

Aku tidak menjawab.

Di ujung sana pria itu kembali bicara.

“Dia sudah tidur?”

Dadaku langsung terasa seperti dihantam sesuatu.

Karena pria itu…

berbicara seolah dia tahu persis keadaan di rumah ini.

Aku menelan ludah.

Lalu akhirnya aku berkata pelan,

“Siapa ini?”

Beberapa detik tidak ada suara.

Hening.

Sangat hening.

Lalu pria itu tertawa kecil.

Dan kalimat berikutnya yang keluar dari mulutnya…

membuat darahku langsung terasa dingin.

“Jadi akhirnya kamu juga tahu.”

PART 4

Kamar itu tiba-tiba terasa sangat sunyi.

Handphone masih menempel di telingaku.

Di ujung sana, pria itu baru saja tertawa kecil.

Tawa yang aneh.

Bukan seperti orang yang sedang bercanda.

Lebih seperti orang yang sudah lama menunggu sesuatu terjadi.

Aku menggenggam handphone itu lebih erat.

“Jadi akhirnya kamu juga tahu.”

Kalimat itu masih terngiang di kepalaku.

Dadaku terasa semakin berat.

“Siapa kamu?” tanyaku pelan.

Beberapa detik tidak ada jawaban.

Hanya suara napas dari ujung telepon.

Lalu pria itu berbicara lagi.

“Harusnya memang kamu yang menjawab telepon ini.”

Aku mengernyit.

“Apa maksudmu?”

Pria itu tidak langsung menjawab.

Seolah dia sedang mempertimbangkan sesuatu.

Lalu dia bertanya,

“Istrimu ada di dekatmu?”

Aku menoleh perlahan ke arah tempat tidur.

Istriku masih tertidur.

Posisinya tidak berubah sejak tadi.

Rambutnya sedikit menutupi wajahnya.

Aku kembali ke handphone.

“Dia tidur.”

Beberapa detik hening lagi.

Lalu pria itu menghela napas pelan.

“Berarti memang sudah waktunya kamu tahu.”

Jantungku berdegup lebih keras.

“Apa yang harus aku tahu?”

Di ujung sana pria itu tidak langsung menjawab.

Seperti orang yang sedang mencari kata-kata yang tepat.

Lalu dia berkata pelan,

“Aku sudah menelpon rumah ini selama hampir dua bulan.”

Dua bulan.

Kalimat itu membuat kepalaku langsung penuh.

Dua bulan berarti…

selama ini memang sudah sering terjadi.

Pria itu melanjutkan,

“Setiap kali aku menelpon, yang mengangkat selalu istrimu.”

Aku menatap istriku lagi.

Dadaku terasa semakin sesak.

“Tapi dia selalu bilang hal yang sama.”

Aku menelan ludah.

“Apa?”

Beberapa detik tidak ada jawaban.

Lalu pria itu berkata pelan,

“Dia selalu bilang… kamu belum siap mendengar ini.”

Kalimat itu membuat bulu kudukku langsung meremang.

Belum siap mendengar apa?

Aku mencoba menenangkan napas.

“Siapa kamu sebenarnya?” tanyaku lagi.

Pria itu terdiam beberapa detik.

Lalu dia berkata sesuatu yang membuat jantungku langsung berdegup tidak karuan.

“Aku bukan orang asing untuk keluarga kalian.”

Tanganku langsung terasa dingin.

“Apa maksudmu?”

Beberapa detik sunyi.

Lalu pria itu berkata pelan,

“Coba lihat laci bawah lemari di kamar kalian.”

Aku langsung menoleh ke arah lemari di sudut kamar.

Laci bawahnya sedikit terbuka.

Aku tidak ingat pernah membukanya malam ini.

Suara pria itu kembali terdengar dari handphone.

“Ada sesuatu di dalam sana.”

Dadaku terasa semakin sesak.

“Apa?”

Pria itu menjawab pelan,

“Sesuatu yang selama ini tidak pernah ingin istrimu tunjukkan kepadamu.”

Aku menatap laci itu beberapa detik.

Tanganku mulai terasa gemetar.

Perlahan aku berdiri dari tempat tidur.

Lalu berjalan ke arah lemari.

Handphone masih menempel di telingaku.

Setiap langkah terasa sangat berat.

Saat aku sampai di depan lemari…

aku menarik napas dalam-dalam.

Lalu perlahan membuka laci itu.

Dan saat aku melihat apa yang ada di dalamnya…

lututku langsung terasa lemas.

PART 5

Tanganku masih memegang gagang laci itu.

Perlahan aku menariknya lebih lebar.

Kayu laci itu menggesek pelan.

Suara kecilnya terdengar jelas di kamar yang sunyi.

Di dalamnya hanya ada beberapa benda.

Sebuah map cokelat tua.

Beberapa kertas yang dilipat.

Dan satu amplop putih.

Dadaku mulai terasa tidak enak.

Aku mengambil map cokelat itu terlebih dahulu.

Tanganku terasa dingin saat membukanya.

Di dalamnya ada beberapa dokumen.

Awalnya aku tidak mengerti apa itu.

Sampai mataku berhenti di satu lembar kertas.

Di bagian atasnya tertulis sesuatu yang membuat napasku langsung terasa berat.

“AKTA KELAHIRAN.”

Aku mengernyit.

Di bawah tulisan itu ada nama.

Nama yang sangat aku kenal.

Namaku sendiri.

Tanganku mulai gemetar.

Aku membaca bagian di bawahnya.

Nama ayah.

Nama ibu.

Lalu mataku berhenti di satu bagian yang membuat kepalaku seperti berhenti bekerja.

Di sana tertulis:

Status anak: diadopsi.

Aku menelan ludah.

Dadaku terasa kosong.

Aku membaca kalimat itu sekali lagi.

Seolah otakku menolak mempercayainya.

Di belakangku, suara pria di telepon masih terdengar pelan.

“Kamu sudah menemukannya?”

Aku tidak langsung menjawab.

Mataku masih terpaku pada kertas itu.

Di rumah ini…

selama ini…

tidak pernah ada yang mengatakan hal seperti ini kepadaku.

Aku akhirnya berkata pelan,

“Apa ini?”

Suara di ujung telepon menghela napas panjang.

“Jadi benar… mereka tidak pernah memberitahumu.”

Dadaku mulai berdegup semakin keras.

“Siapa kamu?” tanyaku lagi.

Kali ini suaraku lebih keras.

Pria itu terdiam beberapa detik.

Lalu dia berkata pelan,

“Aku sudah mencoba memberitahumu lewat istrimu.”

Aku langsung menoleh ke arah tempat tidur.

Istriku masih tertidur.

Atau mungkin…

berpura-pura tertidur.

Aku kembali ke telepon.

“Kenapa lewat dia?”

Suara pria itu terdengar lebih pelan sekarang.

Seperti seseorang yang sedang menahan sesuatu.

“Karena kalau aku langsung menelponmu… kamu mungkin tidak akan percaya.”

Aku mengepalkan tanganku.

“Percaya apa?”

Beberapa detik sunyi.

Lalu pria itu berkata pelan,

“Percaya bahwa aku adalah orang yang selama ini kamu cari.”

Dadaku langsung terasa sesak.

“Apa maksudmu?”

Pria itu berhenti sebentar.

Lalu kalimat berikutnya keluar dari mulutnya dengan sangat tenang.

Kalimat yang membuat seluruh tubuhku terasa dingin.

“Karena aku…”

dia berhenti sejenak.

“…ayah kandungmu.”

Handphone di tanganku langsung terasa berat.

Aku berdiri kaku di depan lemari.

Tidak bisa bergerak.

Tidak bisa berpikir.

Sementara di belakangku…

istriku tiba-tiba bergerak pelan di atas tempat tidur.

PART 6 (TERAKHIR)

Aku masih berdiri di depan lemari.

Kertas akta kelahiran itu masih di tanganku.

Tanganku gemetar.

Di ujung telepon, pria itu tidak berkata apa-apa lagi.

Seolah dia sedang menunggu reaksiku.

Sementara di belakangku…

kasur berderit pelan.

Aku menoleh.

Istriku sudah duduk di atas tempat tidur.

Rambutnya sedikit berantakan.

Matanya langsung melihat ke arahku.

Lalu ke arah handphone di tanganku.

Dan akhirnya ke arah dokumen yang masih kupegang.

Wajahnya langsung berubah.

Seperti seseorang yang tahu semuanya sudah terbongkar.

“…kamu sudah menemukannya ya?” katanya pelan.

Suara di telepon masih tersambung.

Aku menatapnya beberapa detik.

Lalu akhirnya aku bertanya,

“Ini apa?”

Aku mengangkat kertas itu sedikit.

Istriku menunduk.

Beberapa detik dia tidak berkata apa-apa.

Lalu dia menarik napas panjang.

“Aku sebenarnya sudah mau memberitahumu,” katanya pelan.

“Dua bulan lalu… dia mulai menelpon.”

Aku kembali melihat handphone di tanganku.

“Dia bilang dia ayah kandungmu.”

Dadaku kembali terasa sesak.

“Kenapa kamu tidak langsung bilang ke aku?” tanyaku.

Istriku menatapku dengan mata yang terlihat sangat ragu.

“Karena aku tahu kamu sangat mencintai orang tuamu,” katanya.

“Dan aku takut… kalau kamu tahu semua ini dengan cara yang salah.”

Aku terdiam.

Suara hujan di luar rumah masih terdengar pelan.

Atap rumah berbunyi ritmis.

Aku kembali melihat dokumen di tanganku.

Selama ini aku selalu percaya satu hal.

Bahwa hidupku sederhana.

Bahwa keluargaku jelas.

Bahwa semua yang aku tahu tentang diriku… adalah kebenaran.

Tapi malam itu…

semuanya berubah.

Suara pria di telepon akhirnya terdengar lagi.

Pelan sekali.

“Sekarang kamu sudah tahu.”

Aku menutup mata sebentar.

Lalu bertanya,

“Kenapa baru sekarang?”

Di ujung sana pria itu terdiam beberapa detik.

Lalu dia menjawab dengan suara yang lebih berat.

“Karena selama ini aku tidak tahu di mana kamu.”

Aku membuka mata.

Dadaku terasa aneh.

Bukan hanya marah.

Bukan hanya bingung.

Tapi juga… kosong.

Aku menoleh ke arah istriku.

Dia masih duduk di tempat tidur.

Menatapku dengan wajah yang penuh kekhawatiran.

Aku kembali ke telepon.

Lalu akhirnya aku berkata pelan,

“Aku butuh waktu.”

Di ujung sana pria itu tidak membantah.

Dia hanya menjawab singkat.

“Aku akan menunggu.”

Panggilan itu akhirnya terputus.

Kamar kembali sunyi.

Hanya ada suara hujan di luar rumah.

Aku berdiri di tengah kamar…

memegang sebuah kertas yang baru saja mengubah seluruh hidupku.

Dan untuk pertama kalinya malam itu…

aku benar-benar tidak tahu harus mempercayai siapa.

TAMAT

Kalau kamu ada di posisi tokoh di cerita ini…

apa yang akan kamu lakukan setelah mengetahui rahasia sebesar itu?

Similar Posts