AKU MASIH 17 TAHUN DAN DIA WANITA DEWASA YANG SELALU MENUNGGUKU DI DALAM MOBIL ABU-ABU ITU.SUATU MALAM, DIA BERBISIK: “AKU GAK BOLEH JATUH CINTA SAMA KAMU.

Namaku Raka.
Kelas 11.
Dan sejak hari itu… pulang sekolah bukan lagi soal pulang.
Tapi soal dia.
Namanya Maya. Aku tahu dari gantungan kecil di kunci mobilnya. Huruf M perak. Sudah tergores, seperti sudah terlalu lama digenggam.
Pertama kali aku masuk ke mobilnya, hujan turun deras. Seragamku basah. Tanganku gemetar karena dingin.
Dia menyodorkan handuk kecil.
“Pakai ini dulu.”
Aku ragu menyentuhnya.
Handuk itu hangat.
“Aku gak mau joknya basah,” katanya setengah bercanda.
Mobilnya wangi. Bukan wangi parfum. Tapi wangi yang tenang. Seperti tempat yang aman.
Sejak itu, setiap hujan… aku berharap hujan tidak cepat berhenti.
Hari-hari berikutnya, kakiku tidak lagi menuju parkiran motor.
Langsung ke mobil abu-abu itu.
Kadang dia sudah menunggu.
Kadang aku yang menunggu.
Dan setiap kali mobil itu muncul di ujung jalan, jantungku selalu berdetak lebih cepat.
Suatu sore aku keluar lebih cepat. Lapangan masih ramai. Matahari belum turun.
Mobilnya belum ada.
Sepuluh menit.
Lima belas menit.
Dadaku terasa kosong. Seolah ada sesuatu yang hilang… padahal aku tidak pernah memilikinya.
Lalu mobil itu muncul.
Berhenti tepat di depanku.
“Kamu nunggu aku?” tanyanya.
“Enggak,” jawabku cepat.
Dia tertawa pelan.
Hari itu kami tidak langsung jalan. Mesin masih mati.
Dia melihat luka kecil di buku jariku.
Tanpa bertanya, dia meraih tanganku. Menempelkan plester dengan hati-hati. Sentuhannya terlalu lama.
Untuk sesaat, aku merasa seperti sesuatu yang rapuh di tangannya.
“Kamu selalu ceroboh,” bisiknya.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku… aku tidak ingin pulang.
Semua berubah ketika aku mengatakan satu kalimat yang seharusnya tidak pernah keluar.
“Aku suka sama Kak Maya.”
Sunyi.
Dia tidak marah.
Tidak tertawa.
Hanya menatapku dengan sesuatu di matanya yang bukan bahagia.
“Kamu gak tahu kamu bilang apa,” katanya pelan.
“Tahu.”
Tangannya dingin saat kugenggam.
Dia tidak menariknya.
Lampu jalan menyala satu per satu.
Dan malam itu, aku merasa dunia hanya berisi kami berdua.
Aku salah.
Beberapa hari kemudian, dia menghilang.
Tidak ada mobil abu-abu.
Tidak ada pesan.
Sampai suatu sore, sebuah mobil berhenti di seberang sekolah.
Bukan dia.
Seorang pria turun. Usianya sekitar empat puluh. Wajahnya tenang, terlalu tenang.
“Kamu Raka?” tanyanya.
Aku tidak menjawab.
Dia membuka pintu mobil.
“Masuk.”
Di kursi belakang ada handuk biru kecil itu.
Aku masuk.
Mobil berjalan.
“Dia gak bisa ketemu kamu lagi,” katanya.
“Mana Kak Maya?”
Dia diam sebentar. Lalu berkata pelan, “Dia istriku.”
Darahku terasa dingin.
Dia menyerahkan sebuah foto. Maya berdiri di sampingnya, mengenakan gaun putih. Tersenyum.
Tanganku gemetar.
“Ini sudah terlalu jauh,” katanya.
Lalu dia mengeluarkan satu foto lagi.
Seorang anak laki-laki berdiri di depan mobil abu-abu itu. Tersenyum. Wajahnya… sangat mirip denganku.
“Itu anak kami,” katanya pelan.
“Dia meninggal dua tahun lalu.”
Dunia terasa retak.
“Dia lihat kamu pertama kali… dan dia pikir dia bermimpi.”
Aku tidak ingin mendengar lanjutannya.
Tapi dia tetap bicara.
“Dia tahu kamu siapa.”
Napas ku berhenti.
“Siapa aku?”
Dia menyerahkan kartu identitas lama.
Nama ayahku.
Di bawahnya—foto Maya.
Status: istri.
Dunia seperti runtuh tanpa suara.
Malam itu aku tahu kebenaran yang lebih menyakitkan.
Maya pernah menikah dengan ayahku.
Sebelum ibuku.
Dan ketika aku lahir, ayahku mengatakan bayinya meninggal.
Maya mempercayainya.
Dia melihat tubuh bayi lain.
Bukan aku.
Aku dibawa pergi.
Dibesarkan oleh perempuan yang kupanggil Ibu.
Perempuan yang mencintaiku.
Tapi bukan yang melahirkanku.
Maya percaya aku mati.
Sampai dua tahun lalu, anaknya—Arga—meninggal dalam kecelakaan mobil.
Dan saat melihatku keluar dari gerbang sekolah, jantungnya mengenaliku sebelum pikirannya menolak.
Dia mendekatiku bukan sebagai wanita.
Tapi sebagai ibu yang kehilangan anaknya dua kali.
Dan aku terlalu bodoh untuk menyadarinya.
Malam ketika semua rahasia terbuka, Ayah datang.
Tidak berteriak.
Tidak panik.
Terlalu tenang.
“Ayah lindungi kamu,” katanya.
Tapi tangannya menggenggamku terlalu kuat untuk disebut lembut.
Pria yang mengaku suami Maya berdiri di sisi lain.
Dua versi kebenaran.
Dua orang dewasa.
Dan aku di tengah.
Aku bertanya tentang Arga.
Tentang kecelakaan.
Tentang asuransi atas namaku.
Tentang kenapa namaku dihapus dari sistem.
Jawaban datang setengah-setengah.
Alasan datang terlambat.
Semua mengaku takut kehilangan.
Tapi tidak satu pun bertanya apa yang kuinginkan.
Sampai akhirnya aku berkata pelan:
“Aku capek.”
Sunyi.
“Aku capek jadi rahasia.”
Ayah terdiam.
Maya menangis.
Dan untuk pertama kalinya, aku melihat mereka bukan sebagai orang dewasa yang kuat.
Tapi sebagai manusia yang ketakutan.
Pistol yang sempat terangkat malam itu akhirnya jatuh ke aspal.
Bukan karena polisi.
Bukan karena ancaman.
Tapi karena tidak ada lagi yang bisa dipertahankan.
Beberapa minggu kemudian.
Rumah terasa lebih besar.
Lebih kosong.
Kamar ku tetap rapi.
Seragam masih tergantung.
Ayah duduk sendirian di ruang tamu. Ponselnya terbuka.
Chat terakhir dariku:
“Aku gak mau jadi rahasia lagi.”
“Jangan cari aku.”
Tidak ada alamat.
Tidak ada lokasi.
Maya tidak lagi datang ke sekolah.
Mobil abu-abu itu sudah tidak ada.
Dia duduk di bangku taman yang sama.
Menggenggam gantungan huruf M perak.
Tidak menangis.
Hanya diam.
Berbulan-bulan berlalu.
Sampai suatu sore, sebuah amplop tiba di rumah.
Tanpa nama pengirim.
Di dalamnya hanya ada satu foto.
Bangku taman itu.
Ayah dan Maya duduk dengan jarak di antara mereka.
Di sudut foto, ada bayangan samar.
Seperti diambil dari balik pohon.
Tidak ada pesan panjang.
Hanya satu kalimat di belakang foto.
Tulisan tangan yang Ayah kenal.
“Aku baik-baik saja.”
Tangan Ayah gemetar.
Maya menutup matanya sebentar.
Untuk pertama kalinya, mereka tidak lagi saling menyalahkan.
Karena mereka tahu satu hal.
Aku tidak hilang.
Aku hanya memilih jarak.
Di kota lain.
Seorang anak laki-laki berdiri di halte bus.
Tas kecil di punggung.
Di tangannya, kamera kecil.
Di saku jaketnya, gantungan huruf M perak.
Namanya bukan lagi Raka.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya…
tidak ada satu pun orang yang tahu siapa dia.
Dan kali ini—
itu pilihannya sendiri.
— TAMAT —