| |

Pengakuan Seorang Dokter: Saya Pernah Menolak Menyentuh Pasien Miskin

SAYA PERNAH MENGUSIR SEORANG IBU YANG MENANGIS DI DEPAN RUANG PRAKTEK SAYA.

DAN SAYA PIKIR HIDUP SAYA AKAN SELALU MENANG.

⸻⸻⸻⸻⸻⸻⸻⸻

Nama saya dulu sering disebut dengan nada kagum.

“Dokter Arman itu mahal, tapi tangannya dingin. Banyak yang sembuh.”

Klinik saya ada di pinggir jalan besar. Gedung dua lantai. Cat putih bersih. Kaca depan mengilap.

Parkiran penuh hampir setiap hari.

Mobil SUV pasien berjejer. Kadang sampai ke pinggir jalan.

Di dalam, AC dingin. Kursi tunggu empuk. TV layar besar memutar berita.

Di meja resepsionis ada tulisan kecil:

KONSULTASI: 700 RIBU.

Kalau pasien protes, resepsionis tinggal menunjuk papan itu.

“Sudah tertera, Pak.”

Saya memang sengaja membuat tarif itu.

Biar orang tahu kelas saya.

Saya lulusan luar negeri. Spesialis penyakit dalam. Sertifikat saya memenuhi satu dinding.

Pasien kaya suka itu.

Pasien miskin… biasanya cuma berdiri ragu di pintu.

Dan saya tidak suka pasien ragu.

⸻⸻⸻⸻⸻⸻⸻⸻

Suatu sore, lebih dari dua puluh tahun lalu, kejadian itu terjadi.

Langit sudah mulai gelap. Hujan baru berhenti. Bau tanah basah masuk lewat pintu kaca yang terbuka.

Saya baru saja selesai memeriksa pasien terakhir.

Perut saya lapar. Saya ingin pulang.

Tiba-tiba pintu terbuka lagi.

Seorang perempuan masuk.

Bajunya basah. Kerudungnya lusuh.

Di gendongannya ada anak laki-laki kecil. Mungkin umur lima tahun.

Tubuh anak itu lemas.

Perempuan itu berjalan cepat ke meja resepsionis.

“Dok… dokternya masih ada?”

Resepsionis melirik jam.

“Jam praktek sudah selesai, Bu.”

Perempuan itu menunduk sebentar.

Lalu dia mendekat ke pintu ruang praktek saya.

Dia mengetuk pelan.

Tok.

Tok.

Tok.

Saya sebenarnya sudah berdiri untuk pulang.

Tapi saya buka juga pintunya.

Perempuan itu langsung bicara cepat.

“Dok… tolong lihat anak saya sebentar saja… dia demam tinggi dari tadi siang… dia mulai menggigil…”

Saya melirik anak itu.

Matanya setengah tertutup.

Nafasnya cepat.

Saya tahu itu serius.

Tapi saya juga melihat sesuatu yang lain.

Sandal perempuan itu.

Putus di bagian depan.

Celananya basah lumpur.

Saya langsung tahu.

Pasien seperti ini biasanya tidak bisa bayar.

“Sudah daftar?” saya tanya.

Dia menggeleng.

“Uangnya belum cukup, Dok… tapi saya bisa bayar nanti… saya janji…”

Saya menghela nafas panjang.

Pasien terakhir tadi baru saja membayar tiga juta untuk serangkaian pemeriksaan.

Saya lelah.

Saya tidak mau repot.

“Kalau belum daftar, saya tidak bisa periksa.”

Perempuan itu menatap saya.

Matanya merah.

“Dok… cuma lihat sebentar saja… saya takut dia kenapa-kenapa…”

Saya menunjuk meja resepsionis.

“Prosedurnya lewat situ.”

Resepsionis ikut bicara.

“Minimal biaya konsultasi dulu, Bu.”

Perempuan itu membuka tas kain kecilnya.

Dia mengeluarkan uang.

Lembaran kusut.

Sepuluh ribuan.

Dua puluh ribuan.

Dia hitung cepat di meja.

“Seratus… dua ratus… tiga ratus…”

Tangannya gemetar.

Dia berhenti di angka tiga ratus lima puluh ribu.

Dia menatap saya lagi.

“Dok… saya bayar setengah dulu…”

Saya menggeleng.

“Tidak bisa.”

Anak kecil itu tiba-tiba batuk keras.

Tubuhnya kejang kecil.

Perempuan itu panik.

“Dok tolong…!”

Saya mulai kesal.

“Bu, ini klinik. Ada aturan.”

Perempuan itu berdiri diam beberapa detik.

Matanya kosong.

Lalu dia menggendong anaknya lebih erat.

Dia berbalik menuju pintu.

Anaknya masih menggigil di pelukannya.

Saat melewati pintu, dia berkata pelan.

“Semoga dokter tidak pernah merasakan jadi orang yang tidak punya.”

Pintu kaca menutup.

Suara hujan mulai turun lagi di luar.

Saya pulang.

Saya makan malam.

Saya tidur.

Hidup saya terus berjalan.

⸻⸻⸻⸻⸻⸻⸻⸻

Tahun demi tahun.

Klinik saya semakin besar.

Saya membuka cabang.

Saya membeli rumah baru.

Mobil baru.

Liburan ke luar negeri.

Saya bahkan sering diundang seminar sebagai pembicara.

Semua orang menyebut saya sukses.

Sampai akhirnya… usia saya melewati 70 tahun.

Tangan saya mulai bergetar.

Saya berhenti praktek.

Klinik saya dijual.

Rumah besar terasa terlalu sepi.

Anak-anak saya tinggal di luar kota.

Kadang mereka hanya video call sebentar.

“Papa sehat?”

Saya selalu jawab, “Sehat.”

Padahal tidak selalu begitu.

⸻⸻⸻⸻⸻⸻⸻⸻

Suatu malam, dada saya terasa seperti diremas dari dalam.

Nafas saya pendek.

Keringat dingin.

Saya mencoba berdiri.

Lutut saya lemas.

Saya meraih HP di meja.

Saya memesan ambulans.

Perjalanan ke rumah sakit terasa panjang sekali.

Lampu jalan lewat seperti garis.

Sirine memekakkan telinga.

Saya dibawa ke IGD.

Lampu putih terang menyilaukan.

Perawat berlari.

“Tekanan turun!”

“Siapkan monitor!”

Saya setengah sadar.

Di atas saya, seorang dokter muda berdiri.

Wajahnya tenang.

Kacamata tipis.

Dia membaca nama saya di gelang pasien.

Lalu dia berhenti.

Matanya berubah.

Dia menatap saya lebih lama.

Lalu dia bertanya pelan.

“Dokter Arman…?”

Saya mengangguk lemah.

Dokter muda itu tidak bicara beberapa detik.

Kemudian dia berkata sesuatu yang membuat darah saya terasa membeku.

“Sepertinya kita pernah bertemu.”

Saya menatapnya bingung.

Dia mendekat sedikit.

Dan kalimat berikutnya membuat dunia saya runtuh.

“Dulu… saya anak kecil yang digendong ibu saya… yang dokter tolak malam itu.”

⸻⸻⸻⸻⸻⸻⸻⸻

PART 2

Saya menatap wajah dokter muda itu.

Lampu putih IGD terasa menyilaukan.

Jantung saya berdetak tidak teratur di monitor.

Bip… bip… bip…

Saya mencoba mengingat.

Tapi wajahnya asing.

“Maaf…” suara saya serak.

“Saya tidak ingat.”

Dokter muda itu tidak terlihat tersinggung.

Dia hanya menarik kursi kecil di samping tempat tidur.

Lalu duduk.

Matanya tetap tenang.

“Waktu itu saya umur lima tahun,” katanya pelan.

“Demam saya tinggi sekali.”

Saya menelan ludah.

Gambar samar mulai muncul di kepala saya.

Hujan.

Seorang perempuan.

Anak kecil digendong.

Sandal putus.

Dokter muda itu melanjutkan.

“Ibu saya bawa saya ke klinik dokter.”

Suara kipas ventilasi di langit-langit berdengung pelan.

Seorang perawat lewat membawa nampan alat medis.

Saya hampir tidak mendengarnya.

Saya hanya fokus pada kalimat berikutnya.

“Tapi dokter tidak mau memeriksa saya.”

Tangan saya terasa dingin.

Saya mencoba bicara.

“Anak itu… kamu?”

Dia mengangguk.

“Ya.”

Ruangan terasa semakin sunyi.

Monitor jantung saya berbunyi lebih cepat.

Bip… bip… bip…

Dokter muda itu berdiri.

Dia mengambil stetoskop.

Lalu mulai memeriksa dada saya dengan tenang.

Seperti dokter profesional pada umumnya.

Tidak ada nada marah.

Tidak ada nada sindiran.

Hanya suara normal.

“Nafas dalam, Pak.”

Saya menuruti.

Dada saya masih terasa berat.

Setelah selesai memeriksa, dia menuliskan sesuatu di tablet.

Perawat mendekat.

“Dok, hasil EKG sudah keluar.”

Dia melihat layar.

Alisnya sedikit mengernyit.

“Siapkan obat pengencer darah. Sekarang.”

Perawat mengangguk cepat dan pergi.

Saya masih menatapnya.

Ada satu pertanyaan yang sejak tadi menekan dada saya.

“Waktu itu…” suara saya hampir berbisik.

“Setelah keluar dari klinik… apa yang terjadi?”

Dokter muda itu berhenti menulis.

Dia menatap saya lagi.

Beberapa detik dia diam.

Lalu dia berkata pelan.

“Ibu saya tidak pulang.”

Jantung saya seperti jatuh.

Dia melanjutkan.

“Kami lari ke puskesmas yang jaraknya hampir dua kilometer.”

Saya menutup mata sebentar.

Saya bisa membayangkannya.

Hujan.

Seorang ibu berlari.

Menggendong anak yang demam tinggi.

“Dokter jaga di sana langsung periksa saya,” katanya.

“Demam berdarah.”

Saya membuka mata lagi.

Dia tersenyum kecil.

“Kalau terlambat sedikit saja… mungkin saya tidak ada di sini.”

Seorang perawat datang membawa suntikan.

“Dok, obatnya.”

Dokter muda itu mengangguk.

Dia mengambil suntikan itu.

Tangannya stabil.

Profesional.

Dia memasukkan obat ke infus saya.

Dingin menjalar ke lengan.

Saya menatap wajahnya.

Pertanyaan yang paling saya takutkan akhirnya keluar juga.

“Kamu… marah sama saya?”

Dokter muda itu tidak langsung menjawab.

Dia menarik kursi lagi.

Duduk di samping tempat tidur saya.

Lalu dia berkata pelan.

“Ibu saya tidak pernah marah.”

Saya terdiam.

Dia melanjutkan.

“Malam itu, waktu saya sudah agak sadar… ibu saya bilang sesuatu.”

Dia menirukan suara lembut.

“‘Nak… kalau kamu besar nanti, jadilah dokter.’”

Saya menatapnya.

Dia tersenyum tipis.

“‘Tapi jangan jadi dokter yang seperti tadi.’”

Kalimat itu seperti palu menghantam kepala saya.

Saya menutup wajah dengan tangan.

Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun…

Saya menangis di depan pasien.

“Maaf…” suara saya pecah.

“Maafkan saya…”

Dokter muda itu tidak terlihat marah.

Dia hanya menepuk pelan sisi tempat tidur saya.

“Tenang saja, Pak.”

Dia menunjuk monitor jantung.

“Kalau Bapak terlalu emosional, jantungnya ikut panik.”

Saya tertawa kecil di antara tangis.

Ironis sekali.

Dokter yang dulu menolak pasien…

sekarang ditenangkan oleh pasien yang pernah dia tolak.

Beberapa menit kemudian obat mulai bekerja.

Nafas saya lebih lega.

Dada saya tidak terlalu berat.

Perawat kembali memeriksa tekanan darah.

“Sudah stabil, Dok.”

Dokter muda itu mengangguk.

Lalu dia berdiri.

Sebelum pergi, dia berhenti di samping tempat tidur saya.

“Pak Arman.”

Saya menatapnya.

Dia tersenyum hangat.

Tidak ada dendam.

“Saya jadi dokter karena malam itu.”

Saya terdiam.

Dia menunjuk jas dokternya.

“Kalau waktu itu dokter langsung menolong saya… mungkin hidup saya akan berbeda.”

Dia tertawa kecil.

“Jadi… aneh memang.”

“Kesombongan dokter dulu… malah membuat saya jadi dokter sekarang.”

Saya tidak bisa berkata apa-apa.

Beberapa jam kemudian saya dipindahkan ke ruang rawat.

Kondisi saya stabil.

Serangan jantungnya tidak separah yang ditakutkan.

Sore hari…

Dokter muda itu datang lagi.

Tapi kali ini tidak sendirian.

Di belakangnya berdiri seorang perempuan tua.

Kerudungnya sederhana.

Wajahnya penuh keriput.

Tapi mata itu…

Saya langsung mengenalinya.

Perempuan yang berdiri di depan ruang praktek saya lebih dari dua puluh tahun lalu.

Perempuan itu tersenyum pelan.

“Saya ingat dokter.”

Suara saya hilang.

Saya tidak tahu harus berkata apa.

Perempuan itu mendekat.

Lalu berkata lembut.

“Terima kasih.”

Saya menatapnya bingung.

Air mata saya jatuh lagi.

“Terima kasih karena dulu menolak kami.”

Dia menunjuk anaknya yang sekarang berdiri sebagai dokter.

“Kalau tidak… mungkin dia tidak akan berdiri di sini sekarang.”

Dokter muda itu tersenyum ke arah ibunya.

Saya menatap mereka berdua.

Dada saya terasa ringan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun.

Hari itu saya akhirnya mengerti satu hal yang sangat terlambat saya sadari.

Kadang…

karma tidak datang untuk menghancurkan kita.

Kadang karma datang…

untuk memberi kesempatan memperbaiki diri.

⸻⸻⸻⸻⸻⸻⸻⸻

Cerita ini mungkin hanya kisah sederhana.

Tapi sering kali kehidupan nyata tidak jauh berbeda.

Menurutmu, apakah karma benar-benar ada dalam kehidupan?

Ceritakan pendapatmu di kolom komentar.

Similar Posts